Cinta Yang Tepat

Kang Abik mengisi ceramah di Bristol Inggris
Kang Abik, Bristol

Seperti di KIBAR Gathering sebelum-sebelumnya, tamu pembicara/ustadz yang diundang biasanya melakukan safari ceramah dari satu komunitas pengajian ke komunitas pengajian lainnya yang tersebar di beberapa kota di Inggris Raya.

Begitupun KSG kali ini. Ustadz Habiburrahman El Shirazy berceramah di pengajian Al Hijrah kami di Kota Bristol, setelah sehari sebelumnya memberikan ceramah di Kota Manchester.

ceramah Kang Abik di Inggris
Kang Abik bersama Ibu-Ibu Alhijrah Inggris

Pada Majelis Taklim yang beranggotakan keluar muslim Indonesia yang tinggal di Kota Bristol dan sekitarnya ini, Ustadz  Habiburrahman El Shirazy yang biasa disapa Kang Abik ini mengangkat tema tentang cinta yang tepat.

Kepada siapakah dan seperti apakah cinta yang tepat itu?

Dalam ceramah yang berdurasi satu jam tersebut banyak point yang disampaikan oleh Kang Abik. Namun secara garis besarnya ialah, bahwa: cinta yang tepat, cinta yang benar bisa mengangkat derajat kita di akhirat kelak.

Anas bin Malik

Karena ibunya Anas sangat menginginkan anaknya dekat dengan Rasulullah, maka semenjak kecil Anas dititipkan/diasuh/tinggal bersama Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memperlakukan Anas seperti anaknya sendiri. Kedekatan ini sampai-sampai Anas bergelar khadimnya (asistennya) Rasulullah.

Anas bin Malik adalah sahabat nabi yang memiliki keistimewaan didoakan oleh Rasulullah SAW, “Ya Allah, panjangkan umurnya, banyakkan hartanya dan anaknya.” Anas bin Malik adalah sahabat nabi yang paling terakhir meninggal.

Karena Anas tinggal bersama Rasulullah maka Anas bin Malik  termasuk sahabat nabi yang banyak meriwayatkan hadits. Diantaranya hadits berikut ini: “Sesungguhnya engkau kelak akan berkumpul/bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Dibawah redaksi itu ada komentar Anas, “Aku sangat menyukai hadits ini. Aku mencintai Rasulullah, aku mencintai Abu Bakar, aku mencintai Umar. Meskipun aku belum bisa beramal seperti mereka. Tetapi dengan cintaku kepada mereka aku berharap kelak diakhirat, aku akan berkumpul bersama mereka.

Masya Allah, betapa tawadhunya beliau. Sahabat nabi yang tingkat keshalehannya sedemikian rupa, berucap demikian. Bagaimana dengan kita? amalan kita? selama ini, siapa orang yang kita cintai? idolakan? sudah kah kita menemukan orang yang tepat untuk dicintai?

Kesimpulan, bahwa cinta yang benar (seperti cinta Anas bin Malik kepada Rasulullah SAW) cinta itu bisa mengangkat derajat seseorang di akhirat. 

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita telah mencintai sosok yang tepat? seseorang yang akan mengangkat derajat kita di akhirat kelak?

Point lainnya dalam ceramah ini ialah:

  • Diceritakan bagaimana umat manusia meminta syafaat kepada para nabi, dan  siapakah nabi yang bisa memberikan syafaat itu? Serta doa Rasulullah apakah yang disimpan hingga akhir jaman?
  • Sebagai bentuk mencintai sosok yang tepat ialah mencintai seluruh Nabi dan Rasul Allah. Mulai dari nabi Adam, Ibrahim hingga Isa dan Muhammad yang selaras dengan rukun iman keempat.
  • Walaupun Imam Syafi’i termasuk orang shaleh dan berilmu tinggi, tapi beliau sangat  tawadhu, “Aku mencintai orang-orang yang shaleh dan aku bukan bagian dari mereka,” Kenapa? “Karena, semoga dengan cintaku kepada mereka kelak aku dapatkan syafaat dari mereka.”
  • Tak hanya manusia yang mencintai Rasulullah, tapi juga batu-batu dan pepohonan serta benda lainnya seperti kisah batang pohon kurma yang menangis. Mendengar bagian cerita ini saya menjadi haru dan berpikir dalam. Jika sebatang kurma itu bisa mencintai Rasul sedemikan rupa, lalu saya bagaimana? Sungguh saya merasa amat sangat jauh, jauh.

Semuanya kajian ini bisa dilihat di youtube berikut ini.

Sahabat nabi ingin meng-qisas Rasulullah SAW

Satu kisah lainnya yang dipaparkan Kang Abik adalah tentang seorang sahabat nabi yang ingin meng-qisas Rasulullah. Qisas = membalas sesuatu dengan setimpal. Cubit dengan cubit, pukul dengan pukul. CMIIW.

Peristiwa ini menjelang Rasulullah wafat dan Rasulullah merasakan hal ini. Kemudian beliau pergi ke mesjid dan menyampaikan kata maaf jika selama ini beliau punya salah dan khilaf. Dan sekiranya jika ada yang ingin melakukan qisas, Rasulullah akan menerimanya. diluar dugaan, tiba-tiba yang mengangkat tangan.

Sahabat Nabi: “Wahai Rasulullah, dulu, waktu perang badar, ketika itu engkau merapikan barisan. Aku agak maju ke depan, engkau memukul perutku. Aku ingin qisas.”

Tentunya permintaan SN tersebut membuat gerah semua yang hadir terutama Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar maju dan menawarkan diri sebagai penganti qisas nabi. Tapi SN tersebut menolaknya. Karena Rasulullah yang melakukannya, maka Rasulullah yang harus menerima qisasnya. Umar pun maju. Lagi-lagi ditolak SN tersebut. Bahkan Ali siap melakukannya qisas dua kali lipat dari yang pernah diterima SN tersebut, tapi tetap ditolak. Rasulullah yang melakukannya, maka Rasulullah yang harus menerimanya.

Rasulullah menengahi dan beliau siap untuk diqisas dengan ikhlas.

SN: “Wahai Rasulullah, dulu engkau memukulku menggunakan tongkat. Aku ingin aku melakukan hal yang sama.”

Lagi-lagi jamaah yang hadir greget dan geram. Kok ya tega-teganya. Rasulullah siap dan mengatakan tongkat tersebut ada di rumahnya. Beliau menyuruh Ali, menantunya, untuk mengambil tongkat tersebut. Setelah didapat, Ali menyerahkan tongkat tersebut.

Ternyata, tidak cukup sampai di situ, SN tadi masih ada permintaan lainnya.

SN: “Wahai Rasulullah, dulu, waktu engkau memukul aku, aku telanjang dada. Tidak ada penghalang selembar kain pun. Sekarang, aku ingin melakukan hal yang sama.

Astagfirullahh… Ya Salammm… apa tidak cukupkah ia membuat Rasulullah bersusah hati. Demikian pula jamaah yang hadir di sana.  Semuanya makin geram.

Kemudian Rasulullah bersiap melepaskan jubahnya agar bertelanjang dada untuk memenuhi permintaan SN yang akan melakukan hukum qisas ini pada dirinya. Begitu Rasulullah membukanya, sahabat nabi ini bukannya memukul perut Rasulullah, tapi memeluk Rasulullah SAW seraya berkata,

“Wahai Rasulullah, manalah mungkin aku memukulmu. Aku melakukan hal ini tak lain agar kulitku bersentuhan dengan kulitmu. Aku berharap kulitku yang telah bersentuhan dengan kulitmu kelak tidak akan kena api neraka.”
Masya Allah… begitu besar kecintaannya ia kepada Rasulullah SAW

Kisah Bilal dan suara sendalnya di surga

Masih ada kisah cinta lainnya dalam ceramah Kang Abik kali ini. Tentang sahabat nabi bernama Bilal. Kisah haru ini cukup panjang, selengkapnya nanti saya sertakan video youtubenya.

Kang Abik memang pandai berkisah dengan penuturan yang lembut, runut, mampu mencipta haru tapi sesekali ada candanya juga, sehingga pendengar tidak dibuat jenuh hingga akhir ceramah.

Sesi terakhir ceramah bersama adalah sesi tanya jawab/interaksi. Dari sekian banyak pertanyaan, satu diantaranya ialah:
Betapa beruntungnya orang-orang yang hidup di masa Rasulullah. Jika saja kita hidup dimasa itu, mungkin tingkat keimanan kita bisa lebih tinggi dibandingkan dengan umat yang hidup di jaman ini yang penuh godaan/tantangan hidup. Jadi bagaimana dengan kita-kita ini yang hidup di jaman sekarang?

Kang Abik menjelaskan:
Suatu ketika Rasulullah SAW berkumpul bersama para sahabatnya. Kemudian beliau berucap.

Rasulullah: “Wahai Abu Bakar, aku rindu kepada saudara-saudaraku.”

Abu Bakar: “Bukankah kami-kami ini adalah saudara-saudaramu?”

Rasulullah: Kalian adalah sahabat-sahabatku. Tapi bukan saudara-saudaraku.  Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman padaku dan mereka mencintaiku.  

Masya Allah.. Seorang Rasul Allah, kekasih Allah, Muhammad Rasulullah SWA merindukan saudara-saudaranya. Siapa mereka? Bisa jadi kita salah satunya? Aamiin Ya Allah Ya Rabbal Alaminn.

Jika tiket menuju surga itu telah tersedia untuk kita, maka janganlah disia-siakan.

Kesempurnaan hanya milik Allah, kesalahan ada pada diri saya. Jika penulisan narasi ada kesalahan saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya lakukan hal ini tak lain ingin berbagi hasil ceramah yang saya datangi di pengajian Al Hijrah Bristol, Inggris, minggu lalu.

Selengkapnya, anda bisa saksikan video ceramah Kang Abik yang saya rekam bersama Majelis Taklim Al Hijrah Bristol, Inggris, berikut ini:

komentar Anda