Tentang Menghormati Orang Yang Tidak Berpuasa

Lewat tengah hari, henpon Si Sulung berbunyi. Setelah bincang-bincang sebentar, ia naik ke kamarnya. Selang beberapa waktu ia kembali turun dengan pakaian rapi plus menyandang tas di bahu.

Saya: Loh, mau kemana, neng?
Dia: Pamit, mam. Mau ketemuan teman SMA di town.
Saya: Puasa gini? panas pulak? Masih minat jalan-jalan?
Dia : Ya gak papalah. Emang kenapa?
Saya: Yakin bisa ngehemat tenaga? kita puasa 19 jam loh, nak. Janjiannya dimana?
Dian: Di Coffe Shop.
Saya: Coffe shop?
Dia: Iya, kenapa?
Saya: Kan teteh puasa.
Dia: Lah iya, terus kenapa?
Saya: Awas batal loh.
Dia: Ya gak lah! Emang teteh anak kecil apa?

Oh, well, baiklah. Ia pun ngeloyor pergi ke city center untuk bertemu dengan dua orang teman SMAnya untuk melepas kangen setelah setahun ini terpisah kota karena ketiganya meneruskan kuliah di kota yang berbeda.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam (tapi matahari masih menampakkan sinarnya, tentu). Saya khawatir. 36 menit lagi waktunya berbuka puasa. Saya menghubunginya. Sayang, HPnya gak diangkat. HPnya mati, mungkin. Atau mungkin juga tak terdengar olehnya. Baiklah, semoga ia cepat kembali.

Sepuluh menit jelang waktunya berbuka, ia mengetuk pintu. Hampir saya memarahinya. Kenapa main selama itu. Tapi ia keburu memberi penjelasan. Ia harus berjalan kaki dari city center menuju rumah. Mana jalannya menanjak pula. Ia memerlukan waktu sekitar 40 menit untuk berjalan kaki. Akibat jadwal bus terakhir itu pukul 8. Padahal ia sudah mengantongi tiket bus Pulang Pergi. Oh, anakku…

“Cape?” tanyaku.
“Ngak, biasa aja,” jawabnya.
“Ya sudah, duduk manis semuanya!” saya menyiapkan makanan berbuka puasa, sementara itu ia mengeluarkan kantong kertas. Oalah, ia mengelurkan setangkup cheese sandwich, sepotong carrot cake, sepotong lemon cake dan dua buah scone ukuran jumbo.
“Eh? dari mana semua ini?”

boston tea party worcester

Ia pun bercerita, saking asiknya kongkow-kongkow, mereka chit-chat sampai tutup coffe shop. Karena coffe shop ini memproduksi cake, bread, sandwich dsb tiap hari, tanpa bahan pengawet, maka makanan yang diproduksi hari itu tidak layak dijual esok hari. Selain untuk menjaga kualitas juga sih.

Nah, karena sayang untuk membuang makanan, maka semua pengunjung coffe shop itu ditawari produk harian mereka. Termasuk anakku itu. Walhasil ia membawa makanan-makanan yang disebutkan di atas tadi.

“Trus, selama kalian kongkow-kongkow, teteh ngak makan-minum apapun?” tanya saya.
“Ya, gak lah, kan puasa. Gimana sih?”
“Gak kabita (tergiur – sunda)?”
Dia berdecak, “Ah, gak ngaruh!” ujarnya nyantei.
“Temen-temenmu itu tahu bahwa kamu puasa?”
“Tau.”
“Trus?”
“Trus, apanya?”
“Ya trus gimana?
“Ya gak gimana-gimana. Mereka ya mereka. Makan minum sepuas hati mereka. Teteh ya teteh, teuteup berpuasa.”
Oh, Good!

Tak lama, azan pun berkumandang. Teh hangat dan es campur membuka puasanya. Disambung menu super sedehana, ayam serundeng dan sambal terasi botolan. Sepotong kecil carrot cake, secuil lemon cake, serta setengah cheese sandwich menutup rangakaian buka puasanya. Ya Alloh… nikmat benar buka puasa hari ini, ujarnya. Alhamdulillah..

*cerita puasa hari pertama

Bahwa memberikan keleluasan bagi orang tidak berpuasa itu bukan perkara sulit. Kalau kita yakin dengan jalan kita, Allah mudahkan segalanya.

**Worcester 19062015.01.00. Jelang sahur hari kedua**

26 thoughts on “Tentang Menghormati Orang Yang Tidak Berpuasa

  1. di taiwan durasi puasa lbh pnjg drpd indo… tryta msh ada yg lbh pnjg lg…. smgt teh… smkn lama wktu berpuasa smkn byk pula pahalanya…. emg teteh disana krj pa kuliah… slm knl teh

  2. Kalau mempersilahkan teman kita yg gk Puasa makan didepan kita , kita dosa gk ??
    Ap setidaknya kita mengajak untuk berpuasa , istilahnya mengajak kebaikan gitu ,,,

    Mohon penjelasannya ya ??

    1. Klo teman kita Muslim dan tidak sedang berhalangan (haid) Trus dia ga puasa, kita mah ga dosa.

      Karena setiap kita mendapat pahala dan dosa atas perbuatan kita masing”.

      Jika kita bisa mengajaknyaberpuasa, itu bagus bgt, insya Allah kita dapat pahala, Karena saling mengingat kan dalam Hal kebenaran dan kesabaran (Surat wal Asri/An nashr)

      Nah, klo teman kitanya non Muslim, lain perkara.

      Wallahuallam bishawab
      *cmiiw

komentar Anda