Cerita Dibalik Dapur Wisma Nusantara, London

Ini sisa cerita Lebaran kemarin. Sebetulnya saya ingin menuliskannya setelah mosting ini dan ini, tapi karena sok sibuk, maka barulah kesampaian menuliskannya sekarang.

Di setiap acara kumpul-kumpul masyarakat Indonesia yang diselenggarakan atas undangan KBRI London, pastinya disertai jamuan makan. Apapun itu acaranya. Termasuk pada perayaan Idul Fitri kemarin.

Ketika lebih dari 70% tetamu yang hadir meninggalkan Wisma Nusantara, halaman belakang kediaman Pak Dubes ini mulai lengang. Terlihat berbelas orang duduk-duduk di gazebo, di bangku bawah pohon, selebihnya berdiri dan masih terlibat obrolan santai. Termasuk Pak Dubes dan beberapa warga lainnya.

Sementara itu, Bu Lastri Thayeb menghampiri tenda prasmanan. Saya yang tidak jauh dari sana menghampiri beliau.
“Bagaimana bu? Cape ya kalau mengadakan event besar seperti ini,” sapa saya pada beliau yang terlihat lelah.
“Ya, begitulah. Walaupun cape tapi senang. Karena bisa menjamu tamu,” ujar Bu Dubes.

“Kira-kira, tamu yang hadir hari ini berapa orang, ya bu?” tanya saya.
“Saya perkirakan seribu orang lebih,” ujar Bu Dubes nan ramah
“Wah, menyediakan jamuan makan sebanyak itu bagaimana caranya bu? Terus, bikin rendangnya brapa kilo tuh kira-kira?”
Aih.. kepo deh 😀
Abis ya penasaran aja, saya pengen tahu proses behind the scenes kitchennya tuh seperti apa. Selama ini kan kita cuman datang n makan doang tanpa tau kesibukan dibalik mempersiapkan semua makanan tersebut. 😛

“Sebelumnya kami memprediksi tamu yang bakal hadir sekitar 700-750 orang. Untuk lebih amannnya, saya membeli daging sapi sebanyak 87 kg. Karena ditakutkan tetamu yang datang lebih dari prediksi kami. Dan benar saja,” jelas Bu Dubes

“Oh, mungkin karena lebaran kali ini bertepatan dengan dimulainya musim liburan sekolah, ya bu?” ujar saya, Bu Dubes mengiyakan.
“Namun demikian, saya bersyukur karena makanan yang disediakan cukup. Tadi sempet keteteran kehabisan nasi, sih. Tapi langsung tertangani. So, mostly semuanya cukup. Ibu lihat kan? Rendangnya masih tersisa sebanyak itu?” Bu Dubes menunjuk panci di depan kami.

Sebelum acara makan dimulai

Ya, saya liat di panci besar itu masih tersisa rendang yang jumlahnya lumayan banyak. Kira-kira seperlima panci lah.

“Prinsip saya, lebih baik lebih daripada kurang. Maka selama ini, setiap ada kegiatan seperti ini alhamdulillah selalu ada lebih. Toh, tidak mubazir. Karena saya persilakan makanan lebih ini untuk dibawa pulang masyarakat terutama mahasiswa.”

“Wah, saya boleh take away juga dong, bu.” 😀 Noraakkkkk 😛
“Ya boleh dong!”
Spontan saya menyambar, ketika Bu Dubes mempersilakan take away.
Secepat kilat juga Bu Dubes menjawab. Obrolan serius pun bubar sebentar. Seketika Bu Dubes bergerak maju dan memanggil nama seorang ibu.
“Tolong bungkuskan rendangnya buat ini ya?” ujar beliau pada ibu tersebut.
Makasih ujar saya.

Duh! malu-maluin aja ya? hahahaha…
Biarin ah 😛

Kembali ke laptop! obrolan bersama Bu Dubes yang ramah.
“Ngomong-ngomong, masak rendang sebanyak 87 kilo itu bagaimana caranya, bu?” saya penasaran.
“Itu masaknya dua hari berturut-turut,”
Hah, dua hari berturut-turut?

“Jadi itu masaknya 20 kilo.. 20 kilo… sampai benar-benar rata bumbunya dan pas rasanya juga pas penampilannya. Untuk tahun ini rendangnya dibikin nyemek-nyemek biar ada bumbunya.

“Ibu asli Padang kah?”
Duh! pertanyaan macam apa sih ini? hahaha..
Emang dengan menyajikan jamuan rendang berarti orang Padang?
Ye.. Orang Jawa juga kalau lebaran bikin rendang juga kalee.. 😀
Ya, itu sih pertanyaan selingan, biar lebih akrab mengenal Ibu Dubes kita.

Eh, Bu Dubesnya malah balik nanya. Ah, ibu :)
“Ayo tebak, saya asli mana?”

“Padang ya, bu?”
Bu Dubes menggeleng.
“Palembang?”
Bu Dubes menggeleng lagi.
“Aceh?”
Menggeleng juga.
“Hmmm.. pokoknya orang Sumatra, ya?”
Hadeuh.. jawaban saya masih salah juga. Bu Dubes masih menggelengkan kepala juga.

Nyerah ah, bu 😉

“Saya orang Madura,” jawab Bu Dubes dengan senyum menggembang.
“Oh… Madura…,” ulang saya.

Kembali ke laptop obrolan bersama Bu Lastri yang baik hati.

“Trus, masak rendang sebanyak itu dikerjain berapa orang bu?” tanya saya.
“Sendiri.”
Hah? sendiri?
Kayaknya yang masak udah gak ada minat makan rendang di hari Lebaran, kali ya? Soalnya udah keburu enek. Enek ngerjainnya 😀
Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Karunianya kepada bapak/ibu ini yang memasak rendang untuk semua tetamu yang hadir di acara halal bihalal kemarin itu. Aamiin YRA.

“Jadi saya punya 4 staf,” lanjut Bu Dubes. Satu orang ngerjain rendang, dua orang ngerjain dua menu lainnya, satu orang ngurusin semua kue lebaran. Nah, kalau kue lebaran dikerjainnya nyicil seminggu sebelum hari Lebaran.

Kreasi kue lebaran dari dapur Wisma Nusantara

“Ada menu yang dipesan dari luar, gak bu?” tanya saya.
“Gak ada, sajian menu lainnya dikerjakan oleh ibu-ibu Dharma Wanita. Seperti opor ayam dikerjakan oleh 4 orang ibu, sambel goreng ati dikerjakan oleh 3 orang ibu. Sebelumnya kami rapat membahas hal ini. Ayamnya dipotong berapa, detail bumbunya dan lain sebagainya.

Hmm… sekarang kita jadi tahu kan? seperti apa kesibukan dan kerepotan dibalik dapur KBRI London itu. So, kalau misal dalam acara besar seperti ini adalah kekurangan dari pihak tuan rumah. Misal, nasi tekor. Tenang ya mas bro/mba sis. Pada akhirnya nasinya kan datang juga 😉

Satu lagi nih, kalo lagi ada event seperti ini jangan ambil/minta makanan melebihi kemampuan perut kita untuk memakannya. Saya suka sedih ngeliat sisa-sisa makanan di piring alas. Rendangnya masih utuh, opor ayamnya masih nyisa, lontongnya kebanyakan.

Dan begitu, pluk! makanan-makanan itu masuk tempat sampah. Sakitnya tuh di sini.
*nunjuk dada kiri, ala Cita Citata :)

Ingat mas bro, mba sis, di negara lain masih banyak orang yang kelaparan serta gak bisa makan enak seperti kita. Juga perlu diingat, saat kamu mau membuang makanan itu, ingat, itu masaknya penuh perjuangan loh. Maka hargailah hasil kerja mereka dengan tidak membuangnya ke tempat sampah.

Disela obrolan, di-interrupt oleh tetamu yang berpamitan pulang kepada Bu Dubes. Baiklah, sementara itu…
“Bentar ya bu,” saya mlipir ke meja prasmanan yang tengah diberesin, “Bisa minta kerupuknya bu,” ujar saya diantara kumpulan ibu-ibu dan mba-mba mahasiswa yang tengah oprasi plastik di sana. Hahahaa…

*Oprasi plastik tuh, kebiasan kami, ibu-ibu, kalau abis acara begini-begini, pengajian, kumpulan, atau apapun itu, ada makanan lebih dan dipersilakan untuk take away, maka sediakan saja bungkus plastik, pasti mereka proaktif oprasi plastik aka mewadahi makanan-makanan tersebut untuk di take away 😀

“Silakan bu,” ini plastiknya ujar yang lain.
Sayapun ngebungkus kerupuk sampai dua plastik. Noraaakkkkk 😀
Biarain, kata Bu Dubes juga Silaken 😛
Tapi bener loh ini serius, krupuk yang tersisa masih banyak tau.

Eh, tetamu yang pamitan dengan Bu Dubes udah berlalu. Balik lagi lah saya.

“Jadi bu, untuk event besar seperti ini berapa kali dalam setahun kah?”
Interview diteruskan dengan tangan saya yang bau minyak goreng dari krupuk itu. Duh Hp saya jadi berminyak deh.
“Tiga kali ya? Idul fitri, Idul adha dan perayaan 17 agustusan. Nah, beberapa kali di tahun-tahun kemarin, halal bihalal bertepatan dengan perayaan 17 agustus, pesta rakyat, dan kami biasa memasak untuk 2.500-3000 porsi. Seperti untuk tahun lalu itu kami bikin rawon komplit untuk 2.500 porsi,” lanjut Bu Dubes.

“Ada sisa bu?”
Hayahh… pertayaannya menjurus kemana nih 😀
Bukan, saya bukan nyesel karena waktu itu tidak take away 😀

“Ada, selalu ada lebih.”
“Oprasi plastik dong ya, bu?”
“Iya, terutama untuk para mahasiswa. Pastinya mereka kangen makanan-makanan seperti itu. Ya lumayanlah buat makan di rumah. Begitu lapar tinggal diangetin aja.”
Begitulah Bu Lastri menutup obrolan kami.

Hari bergerak senja, saya pun pamit pulang, karena seterusnya akan ke Kota Cambridge.

“Pamit, pa,” ujar saya pada Pa Dubes, “Liat nih pa, dioleh-olehi ini sama Bu Lastry,” saya mengangkat plastik putih, 😀
Itu plastik ala kadarnya. Plastik bekas bungkus krupuk. Isinya sebungkus besar rendang, sayur godok (makasih ibu yang udah ngebungkusin 😉 ) dan dua bungkus besar krupuk.

Pak Dubes pun tersenyum sambil mengangkat kedua telapak tangannya.

“Pamit, pa,” ujar saya pada Pa Atase Pendidikan.
“Ya, silakan bu,” beliau mengangkat kedua telapak tangannya, “Ditunggu CJnya.”

Ibu Lastry Thayeb
Formasi lengkap foto ini adalah Pa Dubes beserta keluarga dan staff, ustadz NH dan pejabat BI, maaf ya di crop 😀
Waktu wawancara itu, cuman sekali jepret berfoto bersama Bu Dubes dan ternyata kualitas gambarnya kurang bagus :(

10 thoughts on “Cerita Dibalik Dapur Wisma Nusantara, London

  1. Pingback: my blog
    1. Salam kenal juga Raisa, ayo maen ke london 😉
      Makasih udah mampir ke sini.
      Komunitas blogger bandung ya? ikutan gabung dong..
      Boleh minta linknya ya?

  2. Saya kangen bgt sama suasana disana..
    andai dlu Ibu Boss yg dlu membawa saya kerja di rumahnya ngasih balik pasport saya dan ngasih kesempatan untuk nyari majikan untuk kerja di london..
    mngkn saya skrg bisa ngumpul2 ma tmn2 yg lain ngerayain 17an di sana…
    tapi semua’a hnya semu…

  3. Luar biasa yak ibu-ibu KBRI atau konsulat di mana aja. apalagi membayangkan ibuk dubes ini masak rendang 87 kg (gubraks) dengan hanya 4 staf saja.
    Membaca tulisan teteh ini, berarti di tempat kami belum ada apa-apanya, Teh. walapun ibu konsulnya sama baiknya kayak ibu Dubes di Inggris 😀
    Saluuuuut
    Bai de weeee…. aku juga punya cerita soal operasi plastik teteh, malah sering kali ini mah kami mahasiswa melakukan operasi plastik pada makanan sisa d dapur konsulat, wkwkwk….
    Aku mau menulis juga aaaah tentang cerita bungkug membungkus makanan ini, bhahahaa…

    1. EQ, diralat dong ah! Bukan makanan sisa di dapur konsulat. Tapi, makanan lebih gitu 😉

      Kayaknya udah pada lumrah deh, klo anak student mendapat perhatian lebih saat oprasi plastik. Di sini jg klo usai acara pengajian atau acara makan apapun itu, langsung deh, “Ayo, student… ini plastiknya.” 😉

komentar Anda