Tulisan Perjalanan Majalah Paras, Pesona Wales

Wales adalah Negara Bagian Inggris yang memiliki banyak objek wisata nan amat beragam. Wisata alam, wisata sejarah dan budaya, wisata bangunan tua dan masih banyak lagi. Agar keragaman pesona wisata yang terkandung di wilayah seluas 21 ribu km persegi ini terjelajah sempurna, maka tak cukup hanya sekali – dua kali kunjungan saja.

Ini perjalanan saya ke Wales untuk kesekian kalinya. Jika kunjungan pertama tertarik pada Lembah Valley yang eksotik. Kunjungan kedua tertarik akan bangunan sejarah dan kastil-kastilnya. Kunjungan ketiga tertarik Pontcysyllte Aqueduct, alias jembatan airnya. Maka kunjungan keempat ini saya tertarik akan air terjunnya.

Just Pack and Go

Waktu itu Lebaran kedua, si bapak masih ada cuti tersisa. Ketika sarapan, tiba-tiba muncul tanya: “Mau kemana kita hari ini?” Begitulah kami, terkadang muncul ide travel secara spontan.

Target, wisata alam yang tak jauh dari tempat kami tinggal. Setelah browsing dan berunding dengan teman-teman yang akan ikut berwisata bersama. Maka jatuhlah pilihan pada Brecon Beacon National Park. Dengan tujuan utama mengunjungi empat air terjun yang ada di dalamnya.

Setelah rencana matang dan menyiapkan perbekalan serta mencatat post code pada satnav, mobil pun meninggalkan Kota Worcester. Dengan perkiraan waktu tempuh kurang dari dua jam. Sedangkan dua keluarga/dua mobil lainnya berangkat dari Kota Bristol.

Kami janjian di titik henti yang telah ditentukan. Sesuai dengan yang tertera di website Brecon Beacon National Park. Ternyata, kami tiba lebih dahulu. Setelah menunggu beberapa saat, yang ditunggu tak kunjung tiba. Maka, kami, saya, suami beserta dua bujang cilik memutuskan untuk memasuki Taman Nasional tersebut.

Begitu memasuki Taman Nasional Brecon Beacon (TNBB), nyep..  hening, sunyi, dingin terasa. Meski hari itu matahari bersinar terang, namun udara TNBB begitu sejuk. Akibat rimbunnya pepohonan yang memayungi kami.  Sinar mentari tak diberi ruang untuk memasukinya.

Namun, sesekali, ada dedaunan terhampar di tanah yang berkilau keemasan. Itulah dedaunan yang terkena jatuhan sinar mentari yang berhasil menelusup payung pohon yang amat rindang. Indah sekali.

Kami menapakai jalan bebatuan yang lebarnya sekira satu setengah meter. Di sebelah kiri jalan datar tersebut menjulang dinding bebatuan. Plus pepohonan yang lebat dan tinggi pula. Sedang di  sebelah kanan jalan berbatas jurang rendah/lembah yang cukup curam menuju sungai nan elok.

Dikatakan elok, karena sungai berair bening itu bentuknya unik berkelok-kelok tajam dengan apitan bebatuan besar di kiri-kanan lekukan sungainya. Beberapa sisi sungai tersebut berdinding batu yang tinggi. Eksotik sekali. Ada beberapa lekukan sungai yang dalam. Menjorok ke dinding sungai yang gelap, terkesan angker. Seperti menyimpan misteri.

Kicauan burung yang beraneka rupa dan suara, sungai nan elok, airnya nan bening, suasana nan senyap, udara nan segar, bebatuan masiv, pepohonan tinggi dan rimbun, dinding bantuan alam yang gagah, sesekali terdapat gua kecil, membuat langkah kami terhenti-henti. Demi merasakan detail indah KuasaNYA.

Sekitar satu jam langkah perlahan, tak juga terlihat tanda-tanda air terjun di depan sana. Padahal kami sudah membayangkan keindahan air terjun itu sedari tadi. Seperti yang terdapat di papan informasi di muka pintu masuk TNBB tadi.

Bagaimana ini? Tak ada kabar dari dua keluarga lainnya. Karena begitu memasuki kawasan TNBB sinyal ponsel langsung lenyap. Sehingga kami tak bisa bertukar kabar. Akhirnya kami memutuskan untuk berputar balik, kembali ke pintu masuk tadi. Dengan niat menunggu mereka di gerbang masuk TNBB dan untuk mendapatkan sinyal ponsel.

Ditengah gontai perjalanan balik, perut kami mulai keroncongan. Maklumlah sedari pagi baru terisi ketupat sayur.  Akhirnya kami menemukan tempat membuka bekal makan siang di spot yang tepat.  Viewnya indah. Di pinggiran sungai, di sana terdapat sebuah batu besar nan datar yang cukup luas. Saya tertakjub pada batu yang telah mengkilat dimakan waktu. Batu itu bak karpet alam yang disediakan untuk kami yang ingin menikmati indahnya pingiran sungai itu.

Kami membuka bekal makan. Menunya sederhana dan biasa, namun romansanya sungguh luar biasa. Makan dalam keheningan alam. Dimana di hadapan mata tersaji keindahan sungai yang eksotik lengkap dengan aliran airnya yang bening dan tenang. Hingga dasar sungai, lumut-lumut, bebatuan serta ikan-ikan yang tengah berenang terlihat jelas.

Sengaja kami makan sedikit sekali. Karena masih ada sesi makan siang bersama yang lainnya. Setelah cukup menganjal perut dan merekam keindahan alam dalam ingat, segera kami bergegas, tanpa meninggalkan sampah. Malu rasanya jika meninggalkan sampah. Karena sedari gerbang masuk TNBB tak secuil sampahpun kami temukan di sana.

Tiba di muka TNBB, sinyal kembali kuat. Ternyata, benar saja, dua keluarga lainnya terpencar. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya semuanya berkumpul. Meski benar post code menunjuk di titik pintu masuk TNBB, namun ada jalan lain yang lebih pendek menuju air terjun yang kami maksud. Begitu menurut petugas tourist information centre yang berada di sana. Ketiga mobil pun melaju mengitari separuh kawasan TNBB.

Saatnya Makan, Main, Shalat, Bertadabur Alam

Sekira dua puluh menit, tibalah kami di sebuah area parkir plus lapangan piknik yang luas. Hanya ada dua mobil terparkir di sana. Hmm, mungkin bukan akhir pekan. Pantas saja sepi. Kami segera membuka perbekalan makan siang dan bertukar menu di meja piknik yang tersedia di sana.

Sementara itu, bocah-bocah berlarian ke sana kemari sambil menyeprotkan air lewat water gun-nya.  Dimana airnya didapat dari sungai yang berada di tepi area piknik tersebut. Cukup lama kami menghabiskan waktu di sana. Setelah puas, segera kami mengambil air wudhu di sungai jernih yang amat sangat dingin itu. Hingga kaki kami memerah nyaris beku.

Karpet dan sejadah digelar. Kami ber-shaf. Iqomat diperdengarkan. Takbir, lafaz-lafaz, rukuk, sujud, hening, senyap. Hanya suara serangga, desir angin serta gemericik sungai sajalah yang memecah sunyi. Sendu sekali. Rasanya, saat itu, hanya kami, Tuhan dan Alam.

Usai dzuhur dan Ashar yang disatukan, semua barang dimasukan bagasi. Barulah perjalanan menuju empat air terjun kami mulai. Tiga keluarga, dua belas orang. Ayah, bunda dan anak-anak. Riuh sekali perjalanan kami menapaki jalanan bebatuan, sempit, dipeluk alam yang sunyi dan pepohonan lebat. Riuh itupun kemudian tak terdengar lagi setelah lelah datang.

Swing.. swing…

Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun pertama. Segera kami merapat, penuh antusias. Di tepi air terjun tersebut terdapat swing atau gelayutan/ayunan yang terbuat dari seutas tambang nan kuat dengan dudukannya dari kayu melintang.      Kehadiran swing itu menarik perhatian kami. Beberapa dari kami mencobanya. Lumayan ekstrem. Letaknya tinggi, ketika terayun jauh, sejajarlah badan kita di tengah sungai yang curam, beraliran deras dengan bebatuannya yang tajam. Namun demikian, saya menikmati ayunan alam tersebut. Ngeri-ngeri sedap. Semakin terayun jauh, semakin ngeri sedap. Jika tak ingat waktu dan yang lain menunggu, rasanya ingin berlama-lama berayun-ayun liar di swing tersebut.

Lepas dari air terjun pertama, perjalanan dilanjutkan, kembali didekap alam. Jalan yang kami lalui cukup sempit. Sesekali melewati jembatan kecil, di bawahnya mengalir air yang sepertinya dari mata air menuju sungai besar. Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun kedua yang letaknya lagi-lagi di lembah. Segera kami menuruni jalanan yang curam bebatuan penuh antusias. Karena jalanan licin, kami harus berhati-hati  terutama anak-anak.

Setibanya di area air terjun semua langsung melebur. Ayah bunda ada yang duduk-duduk di bebatuan besar di tepian air terjun, sekedar melepas lelah, menikmati polah para bocah yang bermain air sesuka hati. Ada pula yang ikut bermain air bersama anak-anaknya.

Sesekali diantara kami terpeleset. Akibat bebatuan dasar sungai/air terjun yang licin berlumut. Pecah tawa seketika. Sorak ledek pun menggema. Ruih dan hangat sekali suasana air terjun yang hanya milik kami ber-12 sore itu.

Hari kian merambat senja. Mau tak mau, kami harus menyudahi petualangan alam bebas di salah satu sudut alam Wales itu. Terpaksa dua air terjun yang sedianya akan kami singgahi di depan sana harus digagalkan. Tak hanya karena waktu, tapi juga karena tenaga. Biarlah lain kesempatan kami bertandang lagi ke sini. Ke wisata alam yang masih perawan dan sepertinya akan terus perawan. Asri alami. Tanpa tangan-tangan usil yang berniat merusaknya, mengotorinya, mengubahnya.    Benarlah, empat kali mengunjungi setiap sudut wisata di Wales belum cukup sudah.

tulisan perjalanan majalah Paras

Jalan-jalan kami ini telah dimuat di Majalah Paras, Edisi akhir Juli 2015, Rubrik Pesona Wisata.

2 thoughts on “Tulisan Perjalanan Majalah Paras, Pesona Wales

komentar Anda