Orang Inggris Jualan Tempe

Hasil obrolan saya dengan William di sini, selanjutnya saya buat video CJnya. Sebetulnya, saya mewawancara beliau lumayan panjang. Cuman, karena terbentur jatah durasi, jadinya banyak dipotong.

Surprisenya, video CJ saya ini dimuat dua kali di NET TV. Satu di NET 5 (tayangan NET TV jam 5 subuh) dan tayanan NET 10 (jam 10 pagi). Keduanya tayang di hari yang sama. Senin, 21 Sept 2015.

Dan seperti inilah videonya:

*Tayang di N5, N10, N24, 21092015

Diantara wawancara panjang yang dipotong itu, William menjelaskan mengapa warungnya diberi nama Warung Tempeh. Bukan Warung Tempe.

Kata William, kalau ditulis “TEMPE” jatohnya di mulut orang Inggris jadinya “TEMP”. Anehkan?…

Makanya, ia menuliskannya Warung Tempeh. Supaya si “tempeh” keluar dari mulutnya orang Inggris jadi “Tempe” 😀

Satu lagi obrolan seru saya dengan William adalah ketika ia dapati telapak jempol saya berwarna biru bekas tinta.

Ketika diawal obrolan saya bilang, saya baru saja dari KBRI terus ke sini. William langsung bilang,
“Oh, pantesan, telapak jempolmu keliatan biru. Udah cap jempol ya?”
Lah, dianya tau….
Bener-bener deh, Will.
Abis itu dia cerita tentang Pemilu di Indonesia dengan pencelupan kelingking ke tinta biru dan bersambung ke obrolan lainnya lagi.

Ia tanya, “Kamu aslinya mana?”
“Bandung,” jawab saya.
“Wah, Bandung?!”

Seterusnya dengan seru dan antusias beliau menceritakan pengalamannya ketika tinggal di Bandung. Obrolan seru itu bergulir pada masa ia melamar kerja di TBI (The British Institute) dan mengajar di sana.

Hei! Sebentar! Ketika Will menyebut TBI, memori saya ikut terlempar ke masa itu. Sama-sama masa 90’an. Selain tempat kerja saya dekat TBI, saya pernah daftar belajar bahasa Inggris di sana, saya juga punya pengalaman lainnya terkaitTBI yang saat itu masih menempati gedung di jalan Riau.

Waktu itu, ulang tahun TBI kalau gak salah. Trus diadakan panggung hiburan dan bazaar makanan. Waktu itu kami buka stand jualan. Wuih… lakunya minta ampun, sampai diutnya di kresekin, hahaha….
Satu hal lagi, di panggung itu ada Mang Saswi. Kalian kenal Mang Saswi “INI TALK SHOW” gak? 😀
Dia seniman Bandung sejati loh. Aksi panggungnya gilak, seru, heboh dan keren.
Ah, kenangan itu!
Mas Will sih, ngebahas soal TBI. Memori saya jadi jauh terlempar ke masa muda deh 😀

Jl. Riau awal tahun 90’an kala itu masih lengang. Sekarang? wah, jangan tanya! Gila muacet! Penuh berjejal sama Factory outlet n wiskul n jadi tempat jajahannya para wisatawan dari Jakarta, iya ga? 😉

Liburan kemaren, saya udah gak ada napsu lagi buat wisata belanja di Bandung. Mendingan lari ke Garut, Banten, Bali n kemping di Burangrang 😀
Begitupun Will. Saat rangkaian kegiatannya terakhir kali ke Indonesia, ia memilih Ciwidey daripada ngabisin waktu di Bandung yang super macet itu.

Satu lagi obrolan saya dengan produser tempe ini, yaitu tentang tempe mendoan.
“Kenapa ngak jualan tempe mendoan?” tanya saya.

Tentunya kita tahu, tempe mendoan adalah salah satu olahan tempe yang banyak disukai orang Indonesia. William membenarkan. Tapi, buat orang Inggris sendiri, sejenis tempe mendoan itu lebih ke snack alias makanan cemilan. Bukan menu yang tepat untuk lauknya makan siang. Ehm.. bener juga sih.

Kalau kita kan bisa makan tempe mendoan pake nasi doang. Iya gak?
Tapi kalau buat orang Inggris, gak bisa. Orang Inggris tuh lebih senang menu makanannya lebih nyemek-nyemek. Maka dari itu, William menyajikan menu kari tempe kuning dan tempe jinten. Dan menu olahan tempe berbumbu rempah tersebut disukai para pelanggannya. Terbukti dua kuali olahan tempe tersebut ludes terjual pada jam 2 siang.

Sukses selalu ya, Mas Will! (Y)