Kesejahteraan Domestic Worker di Inggris

Jika ke London, kami tak pernah membawa mobil hingga ke dalam kota London. Kecuali jika ada acara di Wisma Nusantara, kediamannya Pak Dubes. Tentu saja karena alasan sulitnya mencari tempat parkir di pusat kota dan mahal pula tarifnya.

Maka dari itu, jika ada urusan ke London sering kali kami memarkirkan mobil di pinggiran Kota London, seterusnya barulah menggunakan kereta. Biasanya di sekitar Wembley gitu deh.

“Eh, Wembley! Itu sih dekat IIC,” ujar teman ODOJ saya. “Daripada parkir di sana, udah, numpang parkir aja di IIC. Pulang jalan-jalan nanti kan bisa ngaso ngopi-ngopi dulu di sini,” lanjut beliau.

Asikkkk…. makasih ummi… emang kalau milik takan kemana 😉

Setingan Google Map pun langsung menuju IIC alias Indonesian Islamic Centre. Seterusnya, dari sana kami menggunakan bus menuju pusat Kota London. Kesana kemari kesana kemari, sekitar jam 8 saya ditelfon Ummi Fadilah, teman ODOJku itu.
“Udah nyampe mana nih?” tanya beliau.

Kebetulan beberapa menit lagi kami tiba di stasiun terakhir.
“Kalo gitu, ummi jemput ya…,”
Wah, milik… milik….
Hari itu saya berlimpah rejeki.

Setelah turun dari kereta saya clingukan, berbarengan dengan itu dari kejauhan ada ibu-ibu paruh baya bergamis dan berkerudung hitam. Ini kayaknya nih, pikir saya sambil senyum.

“Ummi Fadilah!” sapa saya, beliau mengiyakan lalu kami cipika-cipiki penyambutan sambil terus obrol-obrol menuju mobil.
Hehehe… inilah kali pertama kami kopdar setelah sekian lama tertaut di WA grup ODOJ2 cabang UK.

Memasuki mobil.
Wah, sesosok wanita tangguh di belakang kemudi.
Namanya Ibu Ana. Biarpun udah sepuh upss…. senior maksudnya 😀 beliau pengemudi ulung, sering mengetir ke luar kota 😉 keren ya?

Beliau biasa disapa Yu Ana.
Ah, buat saya rasanya kurang tepat memanggil Yu atau Mba dalam Bahasa Plembang.
Saya lebih tepat memanggilnya bunda.
Bayangin, disaat saya masih orok. diawal tahun 70’an, beliau udah jadi penghuni London. Bisa ngira-ngira kan usia beliau berapa 😀
“Saya hijrah ke London turut suami yang berprofesi pengajar, sekaligus juga artis,” lanjutnya.
Sebetulnya sih, ini bukan kali pertama saya ketemu beliau. Beberapa kali saya jajan pempek buatan beliau. Rasanya beuhh… uenak. Ya, disetiap banyak kesempatan kumpul-kumpul WNI di London, beliau sering buka stand pempek.

Setibanya di IIC.
Makasih tumpangannya, Bunda Ana.
Memasuki ruang IIC tetabuh rebana menggema.
Wah, rasanya seperti penyambutan kepala daerah ke sebuah desa. Hahahah..

Ini Inggris loh dan itu musik rebana loh 😀

Oi.. oi.. ada apa nih.
Oh, rupanya saudara-saudara kita sedang berlatih rebana.
Adalah Annisa Rebana. Merupakan kumpulan para domestic worker (saya kurang suka menyebutnya TKW 😉 ) yang tengah berlatih rebana.

kegiatan TKW di London

Lebih lanjut, Ummi Fadilah selaku yang dituakan aka ketua grup Annisa Rebana ini menjelaskan. Salah satu cara untuk mengisi waktu luangnya, para Domestic Worker (DW) ini mengisinya dengan berkegiatan qasidahan/rebanaan.

Awalnya sih iseng-iseng, lama-lama diseriuskan. Bahkan kini sering menerima tawaran tampil di berbagai acara. Entah itu acara keagamaan, acara kumpul-kumpul orang Indonesia, bahkan pernah pula diundang sebuah komunitas pengajian orang Pakistan.
Wah, keren juga ya?

Siapa yang nyangka coba? Rebanaan/Qasidahan yang diangap jadul/kuno/ketinggalan jaman di tanah kelahirannya sendiri, Indonesia, malah teuteup eksis di negara orang, Inggris pula. Eropa gituloh, bukan Timur Tengah.
Hidup rebana! 😀

Ummi Fadillah yang kesehariannya mengajar Quran di London Fatwa Council ini menjelaskan lebih lanjut bahwa Annisa Rebana ini mau rekaman.
Wah, rekaman! (Y)
Ngak ngerti gimana teknis detailnya. Konon katanya take vocal di UK, edar di Indonesia.

Setelah berlatih, sesi istirahat dan makan-makan pun mulailah.
Saya bertanya, “Diantara ibu-ibu, mbak-mbak di sini, siapa yang paling senior?”
Majulah Ibu Kartini. Pas banget ya namanya, seperti ibu kita kartini ikon emansipasi perempuan Indonesia. Ia menuturkan, selama berkarir 20 tahun, nyaris tak ada duka bekerja sebagai TKW di UK. 

“Saya sering jalan-jalan liburan ke luar negeri dengan majikan berserta keluarganya dengan privat jet,” tutur beliau yang sangat kalem penuturannya.
Wow! pesawat jet pribadi bu? Saya mah baru mampu beli tiket Emirats kelas ekonomi pulak 😀
Oiya, kalem-kalem begini juga, Bu Kartini ini lead vocal-nya Annisa Rebana 😉

Obrolan kamipun berlanjut. Menurut Mba Nuriya, beruntung banget ia dan rekan-rekannya bisa bekerja sebagai DW di Inggris. Karena semua aturannya jelas, hukumnya jelas, pengaturan haknya jelas. Jam kerjanya sama dengan jam kantoran. Weekend libur. Jika tidak mendapatkan hak semestinya mereka bisa menuntut majikannya ke ranah hukum. Misalnya tidak mendapatkan upah seharusnya, mengalami kekerasan dan lain sebagainya. Ada sebuah kasus pelanggaran hak yang tidak semestinya diterima oleh DW kita. Lalu maju ke ranah hukum, iapun memenangkan perkara tersebut.  Akhirnya ia menerima konpensasi yang lumayan besar.

Bocoran dari salah seorang DW, konon katanya mereka bisa mengantongi £500 per minggu. Wow, mayan banget kan. Setara berapa coba? itung aja ndiri! kalkulator di rumah rusak nih. 😛

Hmm… £500 seminggu? apa saya daftar jadi DW juga gitu ya?
*Cari tahu gimana caranya 😀

Total penghasilan, kenyamanan kerja, weekend libur, weekend bisa mengisi dengan kegiatan keagamaan, mengisi hobi, shopping, jalan-jalan, apa gak sejahtera tuh saudara-saudara kita ini? 😉

“Ayo… ayo mba Rosi disambi makan ngobrolnya,” ujar Ummi Fadillah dan Bunda Ana yang merupakan duo ketua/pimpinan grup Annisa Rebana ini.

“Iya, mangga… mangga….”
Tuh kan, Sundanya keluarga lagi. 😀
Orang disuruh makan mie goreng dkknya, malah mangga. Ngak ada mangga keleus…. 😀
*Mangga dalam Bahasa Sunda artinya silakan, ayo, mari 😀

Tapi ternyata, mangga saya disambit eh disambut jawab oleh beberapa rekan DW kita.

“Eh.. geuning orang sunda!” 😀
“Timana?”
“Bandung, Cianjur, Sukabumi, bla.. bla.. bla…. ,”
Bahasa ibupun keluarlah sudah 😀
Derrr… ah 😛

Setelah malam makin larut, Pa Djamal selaku Pengurus IIC yang memberikan tempat untuk berkreasi para DW untuk berlatih rebana di IIC ini  memberikan wejangan terkait kiprah Annisa Rebana yang konon katanya mau rekaman ini. Oiya, selain pengurus IIC, Pak Djamal ini juga orang KBRI London.

Setelah itu, acara kumpul-kumpul seminggu sekali itupun bubar jalan. Jika mereka hanya hitungan belasan menit hingga puluhan menit tiba di rumahnya masing-masing, maka saya dan suami setidaknya makan waktu 2 jam untuk bisa tiba di rumah.

Meski hari itu lelah karena padatnya acara dari pagi hingga malam, namun saya senang mendengar cerita-cerita suka duka mereka menjadi DW alias TKW di negeri yang sangat memperhatikan tiap tetes keringat para pencari kerja di negeri ini.

Mau tau bagaimana mereka berlatih rebana? cekidot.. 😉

 

20 thoughts on “Kesejahteraan Domestic Worker di Inggris

    1. Kurang paham saya, tp layaknya kerjaan DW ya kayak kerjaan Emak2 tiap hari, Bebenah rumah, seputar nyuci, nyetrika dll paling plus antar jemput anak sekolah :)

  1. semoga selalu terlindungi para DW disana dan dibelahan dunia manapun. Senangnya bisa mendengar kisah suka, mungkin mereka tidak menceritakan kisah duka, karena mungkin mereka pandai bersyukur,,, keren lah pokoknya ^_^

    1. Bisa jadi, kisah duka seperti jauh dari keluarga pun bisa terobati dengan mudahnya akses internet dan kecangihan gadget yang mereka miliki. Makasih udah mampir mas Ari.

  2. Ditempatku ,rebana sekarang dianggap kurang laku dan terasa asing ditelinga. Ah budaya memang begitu ada pasang surut . Budaya lokal dianggap aneh tetapi justru laku dinegara orang. Aku tergiur nih pengen kesana, cari rupiah di Indonesia terasa ngos-ngosan. Berat sekali. :)

    1. Makanya itu dia, ketika sy tiba di IIC, denger suara rebana tuh serasa terlempar 40 tahun yg lalu. Saat sy kecil. Masa kecil sy sempat kenal beginian. Org sunda bilangnya tagoni. Deuh…. memori 😀

komentar Anda