Lima Hari Bersama Mama | Five Days With Mum

A portrait of my mum from the 1960s,
A portrait of my mother from the 1960s, when she was still young.

Keluar dari RS langsung menuju rumah. Udah sangat lelah, jajanan pinggir jalan menggodaku untuk menghentikan roda mobil. Baiklah, merapat.. Pempek, martabak keju, martabak telur, mantap!

Nyampe rumah disambut adik-adik dan bapak. Apdet kondisi terkini mamah sambil bongkar koper dan berbagi oleh-oleh. Ini adalah moment paling seru ketika mudik. Sayang, ada yang kurang, mamah. 

Aku pisahkan oleh-oleh untuk beliau. Sedihnya, beberapa barang dan makanan yang kubeli tak tersentuh tangan mama hingga akhir khayatnya 😭

Lewat dini hari, aku mencoba memejamkan mata. Tapi otak ini terlalu sibuk. Mataku terpejam, tapi pikiranku berlarian. Hingga akhirnya jam 3 baru tertidur. Azan awal jam 4 lebih berkumandang. Aku terbangun. Ini yang tak bisa kudapatkan di Inggris. Badan ingin bangun tapi mata terlalu berat untuk dibuka. Yang kudengar bapak siap-siap ke masjid. Begitulah beliau.

Sedari azan awal ia terbiasa bangun. Mandi, berpakaian terbaik, kopiah, bikin minuman hangat dan bersiap ke masjid sebelum azan berkumandang bahkan.

Azan berkumandang, aku terbangun. Ini salah satu hal yang paling aku rindukan saat di rumah mamah. Suara azan terdengar jelas karena jarak rumah dan masjid hanya selemparan batu. 

Bapak sudah ke masjid, tinggal aku sendiri. Ada yang kurang. Biasanya mamah duduk di sofa samping kasur sambil mengaji menunggu waktu subuh, atau subuhan dulu baru mengaji. Subuh itu tak kudengar lagi suaranya. 

Usai sarapan, kami berkumpul, membahas banyak hal. Hari ini bagian aku jaga di RS. Sebetulnya kemarin aku janji pada mamah mau balik lagi malam itu sekalian menemani adikku. Tapi aku terlalu lelah dan beberes hingga terlalu larut. Alasan lainnya, kakak beradik ini harus aplusan jaga mamah, jadi harus fit.

Pagi itu aku jaga mamah. Kita cerita banyak. Apdet banyak cerita, dariku dan dari mamah. Kondisi kesehatan mamah lebih ke sesak napas dan posisi tidur yang kurang nyaman. Sehingga beliau harus bolak-balik posisi badan kiri kanan bergantian. Adapun tindakan medis berupa nebu/uap, oksigen dan obat-obatan. Seharian itu adalah momen aku dan mamah, berdua saja. Sekalian beristirahat di RS yang senyap, jet lag pula. Jam besuk ada saudara datang, ini jadi ajang silaturahmi.
“Nu jagana orang Inggris, euy!” haha
(yang jaganya orang inggris nih!).

Sorenya ganti shift.

Kangen!

Waktu hampir dini hari, adik kami mengabarkan sesuatu. Rasanya beda, sepertinya kalian harus pada ke sini, deh, lirihnya. Terutama bapak. “Mamah kangen bapak,” katanya.

Kebetulan kami masih berkumpul dan memutuskan untuk merapat ke TKP. 8 seater mobil, full. Bapak, anak-anak, mantu dan cucu. Sementara itu saudara lainnya yasinan bersama-sama dari rumahnya masing-masing.

Ada rasa yang aneh di hati, tapi kami harus tetap tenang. Agar bapak tidak panik.
“Ada apa ini? Kenapa besuk jam segini? Mamah gak kenapa-napa, kan?”
“Gak, gak kenapa-napa. Cuman mau antarkan minyak kayu putih dan pempers ini,” ujar kami.

Sampai di parkiran, aku dan bapak turun sementara yang lain tetap di mobil sambil kuberi kode agar tetap yasinan (membaca surat Yasin).

Dalam sepi aku dan bapak lewati lorong rumah sakit. Senyap, tak ada orang yang lewat, hanya kami berdua. Kita lewati satpam penjaga. Jelaskan maksud tujuan. Kayu putih dan pempers hanyalah kambing hitam agar ada alasan.

Tiba di ruangan mamah terjaga. Ia kaget gembira melihat separuh jiwanya. Begitupun dengan bapakku. Rindu yang selama ini tertahan dilepaskan. Bapak mengelus rambut mamah. Mengelus tangannya, juga kakinya. Mamah mengelus manja. Meleleh rasa hatiku.

“Gimana,” aku berbisik pada adikku.
“Tadi mah asa menghawatirkan,” ia ingin menjelaskan sesuatu, tapi sepertinya tak bisa. Tapi aku paham, karena rasa itu aku rasakan pula ketika aku jaga mamah. Kita tahu sama tahu ada rasa yang beda. Tapi tidak dengan bapak.

Rasa itu selalu kuhalau. Ku buang jauh-jauh. Dalam bahasa sunda “kila-kila”.

Kami sekeluarga tetap berpikiran positif dan berharap besok mamah pulang.
“Kumaha mah?” tanya bapak ceria.
“Masih ada engap (sesak) sedikit,” ujar mamah pelan.
“Sing sabar. panan besok juga pulang kan ya?” tanya bapak.
“Iya, kayaknya mah sih,”
“Ya atuh, reugreug kalau gitu mah,”
*reugreug – tenang hati.

Disela mereka ngobrol tak henti tangan bapak terus mengelus mamah. Lebih dari setengah abad mereka habiskan waktu bersama. Dalam suka dan duka. Dalan senang dan sedih. Dalam kondisi ekonomi terpuruk dan menanjak. Dalam sehat dan sakit. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya mereka. Mamah yang bawel, bapak yang diam. Mamah yang detail, bapak yang serabutan. Mamah yang makannya pilihan, bapak yang makannya apa aja. 

Pendek kata, mereka bukan pasangan yang sempurna, tapi saling melengkapi, saling menyangangi, tak bisa dipisahkan. Misal ketika kami gathering dan mengharuskan menginap di luar kota, meski bapak ingin, tapi kalau mamah gak mau/gak bisa, mamah lebih baik stay di rumah.

Mamah pernah cerita dulu. Bapak suami siaga. Mamah lima kali melahirkan, bapak selalu jaga malam, memastikan mamah tidur cukup selama masa menyusui dan mengurus bayi.. Makanan selalu ada saat tengah malam. Lain kesempatan akan aku cerita hal ini.

“Jadi kumaha? Bapak nginep di RS malam ini, gak?” tanya bapak.
“Jangan ah, kasihan bapak, nanti bapak tidurnya bagaimana?” jawab mamah pelan.

Di ruangan itu ada satu sofa panjang, dimana akan dipakai adikku ketika ia tidur. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah sofa bed yang bisa diluruskan.

“Oh, yaudah atuh, panan besok juga mamah pulang, kan, ya?” bapak menyakinkan mamah.
“Iya, mudah-mudahan.

Dalam keheningan malam itu bapak memeluk mamah dan mencium keningnya. Nyes.. hatiku tambah meleleh. Akankah ada pertemuan lainnya bagi mereka? Akankah ada belaian kasih dan ucapan sayang diantara mereka? Pergerakan kehidupan milik Allah. 

Malam itu mereka berpisah. Mamah tampak senang dan tenang. Begitupun bapak.

“Aman ya, Pop?” bisikku pada si bungsu, ia mengangguk, tapi aku gak tahu apa yang ada di hatinya.

Langkah kami memecah sunyi di tengah koridor sebuah rumah sakit di Jalan Kopo Bandung. Rumah Sakit yang mengimpan trauma untuk bapakku. Lain kesempatan akan aku cerita hal ini, insyaallah.

Tiba di parkiran, kami masuk mobil. Ipar, dua adik dan dua ponakan memberikan kode seolah bertanya, apakah semuanya baik-baik saja? Aku menganguk. Mobil melaju pulang di jalanan kopo yang lenggang. Sebuah pemandangan yang tak akan kamu jumpai saat pagi, siang, sore, hingga malam dibawah jam 9.

Malam itu kami tidur larut.

Senin, hari ketiga. 

Kami harap ini hari terakhir mamah di RS. Sedari pagi aku wara-wiri mengerjakan banyak hal. Pulangnya kembali ke RS. Dokter visit. Zonk! Ternyata mamah belum bisa pulang hari ini. Mamah sedih, aku juga.

“Ya.. kirain teh boleh pulang hari ini,” ucap mamah.
“Nanti besok besok dievaluasi lagi, ya?” dokter memberikan harapan.

Jam jenguk kerabat dekat datang, membawa rantang 4 susun berisi lauk-pauk beserta nasinya full.
“Masya Allah, mah Tasqin, banyak aman?” ujarku.
“Ini mah buat yang jaga,” ucap beliau.
Lah, ini mah cukup sekeluarga! 

“Nah buat nenek mah ini,” ia berikan kerang buah ukuran besar.
Mamah penasaran sama isinya.
“Mamah mau buah naga?” tanyaku.
“Ah gak suka,” jawabnya.
“Pear?”
“Gak suka,”
“Belimbing?”
“Gak suka,”

Pertanyaan terakhir ini pasti ia bakal nyamber secepat kilat.
“Duren?” tanyaku.
“Tah eta!”
Hahaha.. Pada ketawa kita. Tentu saja itu hanya pertanyaan jebakan dan tak bisa kami laksanakan haha..
Melihat mamah tertawa ceria aku yakin besok mamah pulang.

Aku buka salah satu rantang.
“Apa itu?” tanya mamah.
“Wow.. udang krispi,” jawabku, “mamah mau makan sama ini, ya?”
“Sok nyobaan,” jawabnya semangat.

Satu, dua kuberikan padanya. Tambah nasi, ia makin lahap. Padahal selama di tiga hari ini nafsu makannya gak bagus. Mungkin karena makanan RS flat gak berbumbu kuat. Paling hanya garam. 

“Nambah lagi mah?” tanyaku.
Oya mengangguk. Lagi dan lagi. Makan minta udang krispinya digado (tanpa nasi).

Aneh, padahal kemarin-kemarin gak mau makan karena alasannya gak kuat ngunyah yang keras-keras.
“Nenek nanti mau dibawain apa lagi?” tanya kerabat kami.
“Nenek mah pengen sate,”
Lah!
Bukannya dinasehati, malah dikomporin.
“Iya nanti dibeliin sate Damri,” kata kerabat kami, “Nanti saya suruh si kakak sina ke ujung berung beliin sate,” ujar besan mantu penuh semangat.

Obrolan jam jenguk itu begitu hangat. Mamah makan banyak dengan menu yang tak biasa. Siapa sangka ia sedang sakit jantung dan pneumonia. Semuanya tampak baik-baik  saja.

Satu lagi dokter visit masuk. Ia ditembak mamah.
“Dok, saya boleh makan sate?” ujarnya lantang.
Kami pada ketawa. Dokter sedikit bingung.
“Boleh, kalau cuman satu mah. Kalau belinya banyak harus bagi-bagi sama kami,”
Jawaban dokter disambut tawa.
“Masa satu, kalau lima gimana?”

Lah, si mamah ngeyel. Kan, gak kayak orang sakit kan?
“Euh.. dua la yah,” jawab dokter kayak yang lagi tawar-menawar barang.
Mamah cukup puas dengan jawaban Pak dokter yang manis dan selera humornya tinggi itu.
“Wah.. bantalnya bagus ya?” ucap dokter sambil memeriksa mamah.

“Nenek, saya pulang dulu ya. Ini buat beli sate atau duren nanti kalau nenek udah sembuh,” kerabat kami mengepalkan amplop padanya..
“Mih, nitip amplopnya,” ucap mamah selepas kerabat kami pergi.
“Siap boss!”

Selain sate, kere raweuy adalah makanan yang mamah idamkan sejak kemarin. Percaya gak? Pagi sebelum jaga, aku ubek2 pasar nyari itu kere raweuy. Makanan apaan sih itu? Kere adalah daging yang dibumbui dan dikeringkan. Tapi dagingnya yang berlemak dan disisit manual, bukan yang digiling.. Emang selera makan ibuku di atas rata-rata orang kebanyakan meski usianya sudah 81.

Beliau gak pernah berpantang makanan. Ikan asin, babat, jeroan, sate berlemak, duren dll semuanya dilahap.

Hari beranjak sore, aku ganti shiff.

Malam Tiba, Kangen Kembali

Malam itu kami berkumpul bersama, seperti biasa. Mereview hari ini dan merencanakan esok hari. Karena dalam setiap harinya ada saja kejutan-kejutan yang terjadi sehingga plan A, B, C bahkan D kami miliki. 

Alhamdulillahnya, aku merasa bersyukur banget punya keluarga yang solid, guyub. Mamah pasti bangga di “alam sana”. Mamah bapak memang tinggal berdua, tapi anak keempat rumahnya berseberangan, anak ketiga rumahnya berdampingan. Malah terhubung dengan konekting door ruang tamu dan garasi adikku. 

Si bungsu memang agak jauh, tapi kapanpun diperlukan tinggal di calling, pasti langsung merapat. Sedangkan aku, si cikal aya (anak sulung yang ada), jauh di negeri orang. Tapi aku pastikan tiap tahun pulang. Bahkan ada masa pulang ke indo dua kali dalam setahun. Prinsipku, selama masih ada orang tua, wajib pulang! Karena itu adalah momen berharga bagi kamu juga bagi orang tuaku. Aku ingin berikan memori baik untuk orang tuaku.

Saat ngumpul malam itu telfon berdering.”
Wa, ada yang kangen nih?” ujar ponakanku di seberang sana.
“Siapa, teh?” tanyaku.
“Ini nenek kangen opung, ceunah,”

Wah.. baru juga kemarin dielus-elus heuheu..
Begitulah mereka, begitulah kami. Love language kami memang seperti itu.

Oiya, aku baru sadar sekarang ini kan jam tidur mereka berdua. Sebelum tidur mereka suka saling elus. Waktu mamah sehat, bapak yang dielus mamah. Bahkan sering bilang,
“Cangkel, ngusapan wae si bapak!” haha..
Saat mamah sakit, bapak yang balik ngusapan=ngelus, sampai mamah tertidur dan merasa nyaman.

“Bilangin bentar gitu teh, opungnya masih di masjid, bentar lagi juga pulang,” jelasku.

Mamah tahu betul jam-jam kegiatan bapak. Tak lama, bapak pulang. Udah kayak anak remaja yang pacaran dan saling kangen. Sementara anak-anak dan cucu-cucunya kayak besti-bestinya mereka gitu.

“Pa.. pa.. Cepet.. Aya nu kangen yeuh!” ujar kami penuh antusias berlari ke teras rumah.
Mereka bertegur sapa mesra dan hangat sekali.
“Si bapak meni kasep,” ujar mamah.
“Uhuy!” anak – cucu menimpali.
Semetara bapak senyum-seyum ganjen hahaha..

“Bapak, mamah meni kangen,” ucapnya lewat layar hp.
Kami meleleh tapi malah
sorak sorey dan cie..cie.. in keduanya.

Tapi tahu, gak? Saat aku ngetik ini aku nangis, senangis-nangisnya. Masih kebayang wajah itu. Wajah penuh harap. Ah! Seadainya kami bisa menangkap sinyal itu.

“Kumaha atuh, bapak kadinya ayeuna?” jawab bapak penuh cinta.
(gimana dong? Bapak kesana sekarang?)
“Ulah ah, karunya (kasian),”jawab mamah pelan, “udah malam,” lanjutnya.
“Yaudah, usapan lewat layar hp weh, ya?” ujar kami saling sahut menyemangati keduanya.

Uhuy! Penonton rame berkomentar. Sementara itu bapak ngelus-ngelus hp aku yang menampakan wajah mamah full. Ia iseng, idungnya mamah di puter-puter haha..

“Ulah kitu atuh ngusapanna, pa,” ujar kami.
(jangan gitu dong ngelusnya pa). Dia tahu apa yang biasa dia lakukan untuk istrinya. Kurasa candanya untuk menghilangkan rasa sedihnya. Biasa mereka bersentuh kulit. Kali ini hanya bisa mengelus hayar hp saja. Duh, air mataku netes lagi nih! 😭

“Cium atuh.. Cium atuh..,” kami mengompori mereka.
“Muacchh.. ,” aku sodorkan layar hpku pada mulut bapak.Sementara itu Hp Febi di RS sana ditempelkan di kening mamah.
Awwh.. sweet banget sih mereka.

Cukup lama mereka berinteraksi.

“Udah ya, nenek istirahat dulu,” kata Febi.
“Iya, lagian besok juga mungkin pulang, ini udah hari ke-3 kan,”bapak menyemangati. “Besok juga kita ketemu, sok, dug, bobo?” bapak beri kata perpisahan.
Sweet!

Bapak lepas kopiah, baju koko dan sarungnya dan masuk kamar lalu rebahan. Sementara aku, adik-adik, ipar dan dua keponakan masih ngumpul di ruang tamu.Selang beberapa jam. Kembali telfon masuk dari Febi.

“Ya, gimana teh? Nenek aman?” tanyaku curiga.
“Ini dokter mau bicara katanya, wa,”
Dokter? Kenapa ya? Belum juga aku bertanya, tetiba hpnya dimatikan.

Kami di ruang tamu jadi penasaran. Apa yang terjadi?

Tak lama masuk pesan WA, isinya kurang lebih harus ada keluarga yang datang besok pagi, ada masalah dengan ginjal mamah. Suasana jadi was-was. Tak lama berselang, kembali telfon berbunyi, kali ini suster ingin bicara. Kami berbicara banyak hal. Malam itu juga kami yang ada di ruang tamu itu seketika merubah set planning. Sungguh dinamis dari hari ke harinya. Dari jam ke jam nya. Febi pulang, ganti aplusan, hire tetangga yang biasa jaga mamah.

Malam itu kami deep talk, se deep deep nya. Ini kali pertama kami ngobrol/diskusi/curhat. Banyak insight yang didapat.

Bersambung…

=======

English version

Five Days with Mum

Leaving the hospital, we headed straight home. I was exhausted, and the street‑food stalls were far too tempting to ignore. Alright then, pull over. Pempek, cheese martabak, egg martabak, perfect!

Arriving home, I was greeted by my siblings and dad. We updated each other on mum’s condition while unpacking the suitcase and sharing gifts. This is always the most exciting moment when I come home. But something was missing, mum 🙁

I separated the gifts meant for her. The sad part is that some of the things I bought never made it to her hands before the end of her life.

Past midnight, I tried to sleep, but my mind was too busy. My eyes were closed, but my thoughts were running everywhere. I finally fell asleep around 3 a.m. The early dawn azan sounded at 4 something. I woke up. This is something I can never get in England. My body wanted to get up, but my eyes were too heavy to open. I heard dad getting ready for the mosque, that’s just how he is.

From the early azan, he always wakes up. Bathes, puts on his best clothes, his kopiah, makes a warm drink, and gets ready to go to the mosque even before the azan begins.

When the azan echoed, I woke up. This is one of the things I miss most when I’m at mum’s house, the azan sounding so clearly because the mosque is only a stone’s throw away.

Dad had already gone to the mosque, leaving me alone. Something was missing. Usually, mum would sit on the sofa next to the bed, reciting Qur’an while waiting for dawn prayer, or she’d pray first then recite. That morning, I didn’t hear her voice anymore.

After breakfast, we gathered and discussed many things. Today was my turn to stay with mum at the hospital. I had promised her the night before that I’d come back to accompany my sister, but I was too tired and ended up tidying the house until late. Besides, we siblings had to take turns caring for mum, we needed to stay fit.

That morning, I stayed with mum. We talked a lot, updates from me, updates from her. Her main issues were shortness of breath and discomfort when lying down. She had to keep switching positions from left to right. The medical treatments included nebuliser, oxygen, and medication. The whole day was just me and mum, quiet hospital, jet lag, and rest. During visiting hours, relatives came. It turned into a little family gathering.

“Nu jagana orang Inggris, euy!” 

(“The one looking after her is from England, eh?”)

In the evening, shift change.

Near midnight, my sister messaged. Something felt different.
“You all should come, especially dad,” she whispered. “Mum misses dad.”

We were still gathered, so we decided to go. An 8‑seater car, full. Dad, me and sisters, in‑laws, grandchildren. Meanwhile, other relatives recited Yasin from their homes. There was a strange feeling in my chest, but we had to stay calm so dad wouldn’t panic.

“What’s going on? Why are we visiting at this hour? Mum’s okay, right?” asked dad.
“She’s fine. We’re just bringing eucalyptus oil and pads,” we said.

At the car park, dad and I got out while the others stayed inside, continuing to recite Yasin.

In the quiet of the night, dad and I walked through the hospital corridor. Silent, no one around, just the two of us. We passed the security guard and explained our “reason”. The eucalyptus oil and pads were just an excuse.

Entering mum’s room, she was awake. She was startled and happy to see her other half. Dad too. The longing they’d held back was released. Dad stroked her hair, her hands, her feet. Mum stroked him back, gently. My heart melted.

“How is she?” I whispered to my sister.
“Earlier… it felt worrying,” she said, trying to explain but unable to.
I understood.I felt it too when I stayed with mum. We both sensed something different. But not dad.

I kept pushing the feeling away “kila‑kila”, as Sundanese people say. We stayed positive and hoped mum would go home the next day.

“How are you, mah?” dad asked cheerfully.
“Still a bit breathless,” mum replied softly.
“They said you’re going home tomorrow?”

“Yes, I think so.”
“Alright then, that makes my heart calm.”

“Reugreug.” — peaceful heart.

As they chatted, dad never stopped stroking her. More than half a century they’d spent together, through joy and sorrow, hardship and ease, sickness and health. 

Mum the talkative one, dad the quiet one. Mum the detail‑oriented one, dad the scatter‑brained one. Mum the picky eater, dad the “eat anything” type. They weren’t a perfect couple, but they completed each other. They couldn’t be separated.

Mum once told me dad was always a “suami siaga” — a standby husband. Through five births, he stayed up at night ensuring she slept enough while breastfeeding and caring for the babies. Food was always ready at midnight. I’ll tell that story another time.

“So how? Should I stay overnight at the hospital?” dad asked.
“No, you don’t have to. Where will you sleep?” mum replied softly.

There was a long sofa in the room actually, but my sister used it to sleep. Later I learned it was actually a sofa bed.

“Oh alright then, you’re going home tomorrow anyway,” dad reassured her.
“Yes, hopefully.”

In the quiet of that night, dad hugged mum and kissed her forehead. My heart melted again. Would there be another meeting for them? Another gentle touch? Another loving word? Life moves only by Allah’s will.

That night, they parted. Mum looked happy and calm. So did dad.

“You okay, sis?” I whispered to my youngest sibling. He nodded, though I didn’t know what was in his heart.

Our footsteps broke the silence of the hospital corridor on Jalan Kopo, a hospital that holds trauma for dad. I’ll tell that story another time, inshaAllah.

At the car park, we got in. My in‑law, siblings, and nephews looked at me, asking silently if everything was okay. I nodded. The car drove through the quiet Kopo road, a sight you’ll never see in the morning, afternoon, or evening before 9 p.m.

We slept late that night.

Monday — Day Three

We hoped it would be the last day and mum could go home, as she had in previous hospital stays. I ran errands all morning, then returned to the hospital. Doctor’s visit. Sadly, mum couldn’t go home yet. She was sad, and so was I.

“I thought I could go home today,” mum said.
“We’ll evaluate again tomorrow,” the doctor reassured.

During visiting hours, a close relative arrived with a four‑tier food carrier filled with dishes and rice.

“Masya Allah, mah Tasqin, that’s a lot!” I said.
“This is for the carers,” she replied.
Honestly, it was enough for the whole family.

“For grandma, this one,” she handed over a huge fruit shell. Mum was curious.
“Do you want dragon fruit?” I asked.
“Don’t like it.”
“Pear?”
“Don’t like it.”
“Starfruit?”
“Don’t like it.”

The last question. I knew she’d react instantly.
“Durian?”
“Oh yeah!”
We burst out laughing.

Seeing mum laugh so brightly made me confident she’d go home tomorrow.

I opened one of the food tiers.
“What’s that?” mum asked.
“Wow… crispy prawns,” I said.
“Do you want to eat this?”
“Let me try,” she said eagerly.

One, two pieces, then rice, she ate more and more. For three days, her appetite had been poor. Hospital food is bland. 

“Want more?” I asked.
She nodded. Again and again. She even ate the crispy prawns on their own. Strange, she hadn’t wanted anything hard to chew before.

“What should we bring for grandma next?” our relative asked.
“Grandma wants satay,” mum said.
What?” 😀

Instead of advising her, they encouraged her. “Alright, we’ll get Damri satay.”

The visiting hour was warm and lively. Mum ate a lot, unusual for someone with heart disease and pneumonia. Everything seemed fine.

Another doctor came in. Mum shot her question immediately:
“Doctor, can I eat satay?” she asked loudly.

We laughed. The doctor looked confused.
“You can, if it’s just one. If you buy a lot, you have to share with us,” he joked.

We laughed again.
“One? What if it’s five?” mum insisted.
Honestly, she didn’t look like a sick person at all.

“Alright… two then,” the doctor said, as if bargaining at a market.

Mum was satisfied with the doctor’s humour.

“Your pillows are nice, where do you get those?” the doctor said while examining her.

Our relative handed mum an envelope.
“This is for satay or durian when you’re better.”
Mum looked so happy and positively will be back home soon.

“Mih, keep the envelope,” mum said to me.
“Yes, boss!”

Besides satay, mum had been craving kere raweuy since yesterday. Believe it or not, I searched the market that morning for it. Kere is seasoned dried meat, fatty, hand‑shredded, not minced. My mum’s tastebuds were extraordinary even at 81.

She never avoided any food, salted fish, tripe, offal, fatty satay, durian, she ate everything.

Evening came, shift changed.

A Different Kind of Night

That night, we gathered as usual. Reviewing the day and planning tomorrow. Every day brought surprises, so we always had plans A, B, C, even D.

Alhamdulillah, I’m so grateful for my solid, close‑knit family. Mum must be proud “over there”. Mum and dad lived together, but my fourth sibling lived across the street, my third sibling lived next door, connected by a door between the living room and garage.

The youngest lived a bit further, but whenever needed, he’d come immediately. And me, the eldest, far away in another country. But I make sure to come home every year. Sometimes twice a year. My principle: as long as my parents are alive, I must come home. These moments are precious, for me and for them. I want to give my parents good memories.

During our gathering, the phone rang.

“Wa, someone’s missing opung/grand dad,” my niece said.
“Who?” I asked.
“Nenek/grandma of course.”
How sweet. They had just seen each other yesterday. That’s how they are, that’s how we are. Our love language is like that.

“Tell her grandpa’s still at the mosque. He’ll be home soon,” I said.

Mum knew dad’s schedule by heart. Not long after, dad came home, like a teenager in love, missing his partner. Meanwhile, the children and grandchildren acted like their best friends.

“Pa, pa, quick! Someone’s missing you!” we shouted excitedly, running to the terrace.

They greeted each other warmly.
“Dad looks handsome,” mum said.
“Uhuy!” The kids and grandkids cheered. Dad smiled shyly.

“I miss you,” she said through the phone screen to my dad.
We all teased them. But as I type this, I’m crying, really crying! I can still picture her face. A face full of longing. If only we had caught the signal.

“How then? Should dad go there now?” dad asked lovingly.
“No, you don’t have to. It’s late,” mum replied softly.
“Alright then, just stroke through the phone, ok?” we encouraged them.

Dad stroked the phone screen showing mum’s face. He playfully twisted her nose on the screen.
“Don’t stroke like that, dad,” we said.
He knew exactly how he usually stroked her in person. I think he was joking to hide his sadness. They were used to touching skin. Now he could only stroke a phone screen. My tears fell again.

“Kiss her, kiss her,” we urged.
“Muachh…”
I held my phone to dad’s lips while my niece held her phone to mum’s forehead.

So sweet.

They talked for quite a while.

“Alright, nek, time to take a rest now,” my niece said.
“Yes, tomorrow you might go home, it’s day three already,” dad encouraged. “We’ll meet tomorrow. See you tomorrow, bye, love you..”

Dad removed his kopiah, koko shirt, and sarong, then lay down. Meanwhile, we stayed chatting in the living room.

***

Hours later, the phone rang again.

“How is grandma?” I asked.
“The doctor wants to talk,” my niece said.
Doctor? Why? Before I could ask, the call ended. We grew anxious.

A WhatsApp message came, a family member needed to come tomorrow morning. There was an issue with mum’s kidney.

The atmosphere changed. Another call, this time from a nurse. We talked about many things. That night, we changed all our plans again. Everything was so dynamic, day by day, hour by hour. My niece went home, shift changed, we hired a neighbour who used to help care for mum.

That night, we had a deep talk, the deepest ever. Our first real heart‑to‑heart. So many insights.

To be continued…

 

Ketika Hati Berkata, PULANG! | When the Heart Says: GO HOME!

Me and my mum, years ago when I was 50
Me and my mum, years ago when I was 50

Lama gak nulis, kangen banget. Lama juga aku gak apdet sosial media (Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube) setelah apdetan terakhir klip “berpulang” nya mamah.

Adapun apdetan sebelumnya: trip ke Antalya, York and London. Tak lama setelah itu mendapat kabar mamah masuk RS. Penyebabnya karena beliau terjatuh.

Ini bukan pertama kalinya beliau terjatuh, mungkin karena keseimbangan tubuh beliau. Mamah dan bapak tinggal berdua, tapi ada yang jaga. Saat kejadian yang jaga lagi gak ada. Setelah itu mamah masuk RS dan dirawat. Aku telfon beliau, bertanya kondisinya.

“Kumaha, mah. Mamah pengen Osi (sebutan kecilku) pulang?” tanyaku.
“Iya, pulang atuh.”

Dari suara yang kutangkap sepertinya beliau baik-baik saja, hanya keluhkan pahanya yang sakit.  Tapi entah kenapa, hati ini berkata “PULANG!”

Sebetulnya kami (aku dan suami) udah punya tiket pulang untuk bulan September. Artinya, Juni pulang, September pulang juga. Kebayang waktu, tenaga dan biaya yang double. Belum lagi jatah cuti yang makin habis. Tapi rasaku tetap berkata, “PULANG!”

Besoknya, aku ngomong sama manager, acc!. Malamnya langsung booked tiket dibantu suami (as usual). Besoknya, adik ngabarin.
“Teh, mamah udah pulang. Kalau teteh gak pulang juga gak apa-apa. Toh, September jadi pulang kan? Mamah aman!”

Result dari RS, kemungkinan retak tulang. Harus kontrol tgl 8 Juli ke RS yang lebih besar untuk tindakan lebih lanjut. Mungkin operasi atau apalah itu. Baiklah, mamah pulang… Ehm.. aku bimbang. Besoknya, aku bilang ke manager and kolega. Gimana nih, batalin cuti bisa gak?  Kupikir ulang, cuti udah di acc, temen-teman aman. Sementara beberapa minggu kedepan banyak teman bergantian ambil cuti hingga peak season Agustus, summer holiday.

Aku tanya suami dan anakku, gimana nih, cancelled? Setelah di cek, Ya ampun.. Ternyata tiketnya non refundable dan gak bisa diganti tanggal pula. Sumpah, ini gak biasanya. Biasanya suamiku sangat teliti saat booking tiket dan bayar biaya ekstra agar bisa ganti tanggal. Entah kenapa yang ini enggak.

Saat bimbang, hati tetap berkata, PULANG! Semua persiapan singkat. Ada waktu seminggu. Itupun tiap hari aku kerja utama dan ada kerjaan part time lainnya. Sepulang kerja aku nyicil beli oleh-oleh ini dan itu, ritual rutin setiap mudik. Sebelumnya, aku tanya mamah.

“Mah, mau dibawain apa dari Inggris?”
Ah, gak usah bawa apa-apa, atahna weh (mentahnnya saja aka uang) 😀”
Joke klasik yang sering terlontar di antara kami.
“Palingan coklat weh,” ceunah
Harr… haha

Lalu kutanya bapak, “Bapak hoyong dicandakeun naon?”
“Ah gak usah,”
“Naon atuh, kaos?” paksaku, karena beliau jarang banget punya permintaan kepada anak-anaknya.
“Eta weh atuh baju koko, buat ke mesjid,”
“Atuh baju koko mah gak ada di Inggris,”
“Ya udah atuh, beli di sini weh, nanti,”
“Kaos weh nya pa?” paksaku.
“Nya atuh. Tapi gak usah maksain kalau gak ada waktu mah. Ku pulangna ge bapak mamah mah atoh pisan. (Ok, tapi jangan memaksakan, dengan pulangnya kamu, sudah bikin bapak mamah bahagia).
Obrolan di WA itu pun berakhir.

Sepulang kerja aku ke supermarket beli banyak oleh-oleh coklat. Setelah keluar supermarket, masuk WA dari bapak.
“Kata mamah, pengen coklat yang di kaleng,” ceunah.
hm.. coklat apa ya? Aku berpikir keras. Aku pernah beliin beliau coklat apa ya? Di kaleng? Seingatku bukan di kaleng tapi Celebration/Heroes/Quality street gitu deh.

Besoknya, sepulang kerja, aku ke supermarket lagi. Aku ubek supermarket” di LB. Gak nemu apa yang dimaksud mamah. Akhirnya aku beli coklat lindl , coklat kesukaanku, kuharap mamah juga suka. Selain itu, aku beli dua box coklat, rasa campur-campur. Satu lagi, mamahku suka banget kacang pistasio. Aku beli banyak. Ya, namanya juga keluarga besar. Bungkus… 

Pulangnya, aku nyicil packing koper.
“Gimana kondisi mamah?” tanyaku pada adik.
“Tidurnya kurang nyaman. Posisi tidurnya harus tinggi. Kiri kanannya harus diganjel bantal juga.”
Hm.. hal itu membuatku berpikir, gimana caranya agar beliau nyaman? 

Aku punya bantal yang bentuknya unik. Kayak “V” atau “U” beli dari ikea beberapa tahun lalu. Kupikir itu akan nyaman buat beliau. Sebetulnya saat liburan Agustus tahun lalu  udah coba cari di IKEA Indonesia (Padalarang-Bandung) tapi gak nemu. Nyari di olshop Indonesiapun gak nemu. Adanya yang besar. Seperti bantal ibu hamil yang ukurannya setengah kasur. Busyet… Tapi kayaknya bantal itu nyaman juga buat mamah. Akhirnya aku minta pesankan ke keponakanku. Bungkus.. 

Sementara itu, aku tetap akan membelikan mamah bantal di ikea. Pulang kerja, cus.. Rencana beli 1, jadinya 4.
“Gimana ini bawanya?” suamiku terheran-heran.
Prinsipku, beli aja dulu, kebawa apa enggak, gimana nanti 😀
sofar ini unusual things yang aku bawa ke Indonesia. Semua ini demi apa cobak?!
Demi kenyamanan mamah saat beliau tidur. 

Gak hanya itu, aku bawa pula sarung bantal, sprei/selimut, handuk putih yang tebal dan nyerap air, sampai throw cantik dan lembut. Semuanya buat ibuku. Satu yang gak bisa kubawa, kasur” 😀

Pulangnya, aku packing lagi. Sayangnya cuman muat 2 bantal.  Jatah bagasi 23 kg. So far baru 17 kilo. Wah? Bulky sih. Tapi ringan.

Besoknya, pulang kerja balik lagi ke MK. Beli beberapa kaos dan barang lainnya. Pulangnya packing lagi. Koper Full sudah! Tapi masih 20 kiloan. Bawa apa lagi ya?  Bentar! Di kulkas ada mature cheese cheddar, butter, telur, terigu, komplit! Malam itu juga aku bikin kue keju aka kastengel dua resep. Kelar tengan malam!  Berasa mau lebaran. Dapurku wangi kue tengah malam. Btw, kastengel ini kesukaan mamah banget. 

Tenang sudah, flightnya besok.

TERBANG. BISMILAH!

Penerbagan Jumat, suamiku sengaja ambil cuti. Ini kali pertama aku pakai Cathay Pasifik, untuk menghindari jalur Timteng yang masih bikin was-was suamiku, padahal tiketnya lebih mahal loh, tapi okey lah.

Penerbangannya 12 jam lebih, bikin panas pantat! Kalau jalur timteng kan dibagi dua jaraknya. 12 jam lebih itu bisa nonton film full 4 judul, 4 kali makanan/cemilan. Makan, tidur, nonton, pipis – makan, tidur, nonton, pipis, gitu aja terus berulang sampai 12 jam. Nyampe Hongkong, stop over 2 jam, lanjut Jakarta. Hp setting flight mode.

Saat landing, buka HP, banyak messages masuk. Mamah masuk RS lagi. Keluhannya bukan karena soal tulang yang retak itu, tapi sesak napas. Bandara Soeta – Bandung sekitar 3 jam. Nyampe Bandung lepas isya. Tadinya aku pengen pijat dulu di tempat spa langganan, lalu makan malam, ke rumah, istirahat, mandi, lalu ke RS. Tapi rencana berubah. 

Tiba di pool bus Primajasa Batununggal aku dijemput adik ipar dan ponakan langsung ke RS. Gak sabar ketemu mamah tercinta. Satu koper bagasi, satu koper cabin, tas tentengan masuk ke bagasi mobil. 

Mobil memasuki area parkir RS di kawasan kopo. Wah, rumah sakit ini banyak berubah. Rasanya lebih luas. Lebih modern, banyak cafenya. Saat memasuki bagian dalam RS, eh, rasanya sama seperti dulu, puluhan tahun lalu. Koridornya, ruang-ruang rawatnya, taman-taman kecil depan kamar-kamar rawatnya.

Memasuki ruangan mamah ada rasa gimana gitu. Nyaris 20 tahun aku di Inggris. Tiap mudik selalu kujumpai mamah dalam suasana gembira, tawa dan canda. Tapi kali ini beda. Hawanya gloomy, sedih.

Kucium tangannya. Berbalas cerita kita. Gimana kabarnya mamah, apa yang dirasa? Gimana kabarnya aku, sama siapa ke Indo? Sendiri? suami dan anak-anak gimana kabarnya, jam berapa dari Inggris, jam berapa tadi nyampe?

“Mah, Osi ada oleh-oleh buat mamah, tapi masih di mobil, ujarku,”
“Ih, panan mamah bilang gak usah riweuh bawa oleh-oleh, asal eta weh,”
“Eta naon kata aku dan adikku sambil ketawa”
Atahna? Hahaha.. Semua yang ada di kamar itu untuk saling pandang dan saling paham.
“Ya udah, atahna..” kataku bersemangat.

Candaan ini bikin hatiku senang dan tenang, artinya mamah baik-baik aja. Gen tukang heureuy dan ngabodor ini mamah turunkan pada anak-anak dan cucu-cucunya, eh, malah menantunya juga.

“Ya.. aku gak punya uang, kumaha atuh?” kataku.
Mamah menatap tak percaya. Sementara itu aku keluarkan lembaran uang berwarna ungu.
“Ih, duit naon ieu?”  mamah mengernyitkan dahi.
“Duduitan,” timpat cucunya
“Duit teu payu nu kitumah,” sambut adikku.
“Kumaha atuh?” beliau lirik tumpukan uang bergambar Raja Charles tersebut.
“Duit monopoli eta mah?” timpal yang lain.
“Ya, piceun weh atuh,” lanjut mamah disambut tawa yang lain.
Aish.. bisa jang meuli motor sakieu teh. Motor tilas.. hahaha

“Mamah pengen berapa?” tanyaku.
Belaiu menyembut sejumlah angka.
“Kumaha lamun dikali dua,“ saranku.
Beliau tersenyum mengiyakan.
“Kumaha lamun dikali dua deui?”
Tambah tersenyum ia.
Yaudah, besok nya.. Etapi, GMC (Money Changer) besok kan tutup. Kieu weh.. Aku berbisik pada iparku.

“Mah, aya oleh-oleh buat mamah, tapi di mobil. Osi ambil dulu ya?”
“Engke ka dieu deui moal?”  seolah ia tak mau ditinggal.
“Iya atuh, da tadi rusuh saking pengen cepet-cepet ketemu mamah,”
“Ya sok atuh,”

Di tempat parkir.
“Sok buka itu kopernya. Di koper besar ada 2 bantal. Di koper kecil ada coklat, kastengel dan pistachio,”
“Ulah kacang mah. Engke weh mun udah pulang ke rumah. Ini terlalu banyak.”
Oiya, sebelumnya aku tf ke iparku dan tarik tunai di lobi RS.

Kembali kami masuk kamar mamah.
“Yeu mah…,”
“Wah…,” ia kibas-kibas uang berwarna biru itu.
“Seger mah?” tanyaku.
“Seger?” ulang yang lain di ruang ini.
“Seger….,” timpal mamah berbinar disambut tawa yang lain.

Moment kecil kayak gini tuh bikin aku senang bukan main. Alhamdulillah. Sungguh tak terlihat kesakitan dalam diri mamah. Saat itu benakku berkata, mamah hanya perlu istirahat beberapa hari di RS saja. 

“Rin, simpen di dompet,” pinta mamah pada adikku.
“Siap bos!” 

“Nah ini coklat pesanan mamah,” aku buka boxnya.
“Kela, emang boleh?” tanya adikku.
“Iya, emang boleh?” mamah yang awalnya antusias jadi ragu.
“Emang mamah sakitnya apa?” tanyaku.
“Jantung dan ada sedikit batuk,”
“Ah, biarin lah. Asal jangan bilang ke dokter dan suster,” ujarku.
Yang lain sepakat sambil ketawa-ketawa. Umur 81, 56, 53, 51 dan 20. Ibu, anak, mantu dan cucu yang pada bandel kayak anak SMA yang sedang melanggar peraturan sekolah hahaha…

“Ya.. coklatnya meleleh,” aku lap lumeran coklat di bibir dan dagu mamah.
Ini coklat Inggris, perlu hawa dingin. Agar sensasi gigitan tengahnya lebih terasa saat padat, ujarku.
“Iya, ini mah malah jadi kaya kue klepon!” ger.. kembali kami tertawa bersama.

“Cik, nyoba!” adikku, ipar dan keponakanku riweuh.
Belum lagi riweuh pada makan kue keju aka kastengel buatanku yang kres dan kejunya ngeju banget. Ya pastilah.. Kejunya cheddar extra mature merk cathedral, butternya premium pula, dan tentunya dibuat dengan penuh cinta kasih, dibawa melalui banyak benua, puluhan negara, mengudara dan memakan waktu perjalanan selama dua hari dua malam. 

“Udah ah, buat nanti lagi,” ujar beliau.
“Nah yang ini bantal,”  aku tunjukan dua bantal yang gepeng karena vakumnya bagus, kemasan aslinya Ikea Milton Keynes.
“Bantal?” ia terheran.
Kuceritakan sejarah bantal tersebut.

Hari kian malam, puas rasanya nge-treat mamah sedemikian rupa. Tadinya aku pengen nginep di RS nemenin adikku dan mamah agar bisa cerita banyak melepas kangen. Tapi lelah ini tak tertahankan. Aku sudah lusuh pula. 2 hari 2 malam perjalanan.

Keluar rumah dari LB hari Jumat jam 9 pagi, ini masih di RS hari Sabtu jam 10 malam. Berapa jam tuh? Lebih dari 2 hari ya? Belum lagi masih harus ke rumah. Rencananya pengen makan/jajan street food. Karena jujur. Aku lapar banget.

Ceritanya bersambung ya…

English version

When the Heart Says: GO HOME!

It had been a while since I last wrote. I missed it.

I’d also been quiet on social media (Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube) , ever since that last update: the clip of mum’s past away.

Before that, my feed was all sunshine: trips to Antalya, York, and London. Happy days travelling with hubby and family. Not long after, the news arrived: mum had been admitted to hospital. She’d fallen.

It wasn’t her first fall. Her balance hasn’t been great these past few months. Mum and dad live together, though they do have someone who helps look after mum. The carer wasn’t around when it happened. Mum was taken to hospital and admitted. I called her straight away.

“How are you, mum? Do you want me to come home?” I asked.
“Yes, come home,” she said softly.
From her voice, she sounded fairly alright, just a bit of pain in her thigh. But for some reason, my heart kept saying, “GO HOME!”

We actually already had tickets booked for September. Meaning: June home, September home again. Time, energy, cost, doubled. And my annual leave would be eaten up. But my heart insisted, “GO HOME!”

The next day, I asked my manager and colleagues, would it be okay if I went home? Would work be alright? We were short‑staffed. Qadarullah, everyone supported me. Approval granted. That night, my husband booked the ticket (as usual).

The next morning, my sister messaged:
“Sis, mum’s already home. If you don’t come, it’s okay. You’re coming in September anyway. She’s fine!”

The hospital results showed a possible fracture. She needed to return on 8 July to a bigger hospital for further treatment, maybe surgery.
Alright then, mum was home.

But I was torn. The next day at work, I asked my manager and colleagues again, could I cancel my leave? I thought about it: leave already approved, colleagues sorted, and in the coming weeks many people would be taking turns going on holiday. Peak season in August.

I asked hubby and daughter, should I cancel? After checking, oh dear. The ticket was non‑refundable and couldn’t be changed. Honestly, this never happens. My husband is usually meticulous, always pays extra for flexible dates. But somehow, not this time.

While I was torn, my heart kept saying: GO HOME!  

Everything had to be prepared quickly. I had one week. And every day I was working my main job plus my part‑time job. After work, I bought gifts, the usual ritual before going home.

I asked mum:
“Mah, what do you want from England?”
“Ah, don’t bring anything. Just the money,” she joked, our classic family line.
“Maybe just chocolate,” she added.
Okey dokey!

Then I asked dad:
“What do you want?”
“Ah, nothing.”
“What about a T‑shirt?” I insisted, he rarely asks for anything.
“Just a koko shirt for the mosque.”
“There’s no koko shirt in England!”
“Then buy it here later.”
“T‑shirt then?”
“Alright. But don’t force yourself. You coming home already makes us happy.”
That ended our WhatsApp chat.

After work, I bought loads of chocolate. Then dad messaged:
“Mum wants chocolate in a tin.”
The next day, after work, I bought Lindt, my favourite one, hoping mum would like it. I also bought two boxes of assorted chocolates. And pistachios, mum’s favourite. Big family, big bundle.

At home, I started packing clothes and gifts.
“How’s mum?” I asked my sister.
“She’s uncomfortable sleeping. She needs her body elevated, and pillows on both sides.”
That made me think, how could she be more comfortable?

I had a uniquely shaped pillow, like a V or U, from IKEA years ago. I thought it would help her. I’d even looked for it in IKEA Indonesia last year but couldn’t find it. Online shops only had giant pregnancy pillows the size of half a bed. They looked comfortable too, so I asked my niece to order one. Sorted.

Meanwhile, I still planned to buy mum another pillow from IKEA. After work, I went off. I planned to buy one, but ended up with four.

“How are you going to carry these?” my husband said, baffled.
My principle: buy first, figure out later.
Haha. Truly the most unusual thing I’ve ever brought home. All for mum’s comfort.

Not just that. I brought pillowcases, other pillowcases, cotton sheets, thick white towels, and a soft throw. All for mum. Packing again. Only two pillows fit. Baggage allowance 23 kg, so far only 17 kg. Bulky, but light.

The next day, after work, I went back to Milton Keynes. Bought T‑shirts and other things. Packed again. Suitcase full, around 20 kg. 

What else? Oh!  In the fridge they are Mature cheddar, butter, eggs, flour, complete. That night, I baked two batches of cheese cookies (kastengel). Finished near midnight. It felt like Eid. My kitchen smelled of cheese at midnight. Mum loves kastengel alot.

All set. Flight tomorrow.

FLYING. BISMILLAH.

Friday flight. My husband took leave. First time flying Cathay Pacific, avoiding Middle East routes. Hong Kong stopover, then Jakarta. Phone on flight mode.

Upon landing, messages flooded in. Mum was back in hospital. This time, shortness of breath. Soekarno‑Hatta to Bandung is about three hours. I arrived after Isya. I’d planned to get a massage, have dinner, go home, rest, shower, then visit mum. But plans changed.

My brother‑in‑law and nephew picked me up and took me straight to the hospital. I couldn’t wait to see mum. One big suitcase, one cabin bag, one tote, all loaded into the car.

The hospital had changed, bigger, more modern, more cafés. But inside, it still felt like years ago, the corridors, the wards, the little gardens.

Entering mum’s room felt different. For nearly 20 years I’ve lived in England. Every time I come home, I see mum cheerful, laughing. But this time felt gloomy. I kissed her hand. We exchanged stories. She asked about my journey, my husband, and the kids.

“Mah, I brought gifts for you, but they’re still in the car,” I said.
“I told you not to bother bringing gifts. Just that one thing…”
“That one thing?” my sister and I laughed.
Meant Money! lol.

“Alright then, “atahna”  meant money, I said excitedly.
I pulled out the purple notes.
“What money is this?” mum frowned.
“Play money,” my niece joked.
“That money won’t work here,” my sister said.
That’s Monopoly money,” someone added.
“Throw it away then,” mum said, laughing.
Aish… you could buy a second‑hand motorbike with that. A used one… hahaha.

“How much do you want?” I asked.
She mentioned a number.
“What if we double it?”
She smiled.
What if we double it again?”
She smiled even more.
Alright then, tomorrow. But GMC (money changer) would be closed. So I whispered to my brother‑in‑law.

“Mah, I’ve got gifts for you, but they’re in the car. I’ll get them, okay?”
“Will you come back here?” she asked, not wanting me to leave.
Yes, I rushed earlier because I couldn’t wait to see you.”
“Alright then.”

At the car:
“Open the suitcase. In the big one there are two pillows. In the small one, chocolates, kastengel, pistachios.”
“No nuts. Save them for when she’s home. Too much.”

I’d already transferred money and withdrawn cash at the hospital lobby.
We returned to mum’s room.
“Here, mah…”
“Wah…” she fanned the blue notes dramatically.
“Refreshing, mah?” I teased.
“Refreshing…” she said, eyes bright.

These tiny moments — they make everything worth it.
“Rin, put it in my wallet,” mum said.
“Yes, boss!”

“Here’s the chocolate you asked for,” I opened the box.
“Wait, is it allowed?” my sister asked.
“Is it allowed?” mum echoed.
“What exactly is mum’s illness?” I asked.
“Heart issues and a bit of a cough.”
“Ah, never mind. Just don’t tell the doctor,” I said.
We laughed like rebellious teenagers breaking school rules.

The chocolate melted. “This tastes like klepon!” mum said.
We burst out laughing.

Then the kastengel, crispy, cheesy, rich. Of course, Cathedral cheddar, premium butter, and love carried across continents.

I showed her the pillows.
“Pillows?” she said, surprised.
I told her the whole story.

Night grew late. I wanted to stay overnight, but I was exhausted. Two days and two nights of travel. I still had to go home. And honestly. I was starving.

To be continued…

 

Gak Espek, 99,9% Penumpang Pesawat dari Inggris Adalah Jamaah Umroh!

Sebelum membaca artikel ini disarankan untuk membaca part satunya di rosimeilani.com di link berikut ini (klik aja).

Sebelumnya saya sudah ceritakan persiapan awal umroh semi mandiri. Kenapa semi mandiri? Karena dari UK semuanya di-arrange sendiri. Setibanya di Jeddah semuanya dihandle oleh travel agent langgananku.

Oiya kilas balik dikit, sebetulnya rencana umroh ini saat ramadan tahun lalu. Karena telah terjadi tragedi batin yang perlu healing 😀dan alasan lainnya ada sisa cuci beberapa hari yang harus diambil daripada hangus. Jadi pada saat itu aku ingin melarikan diri. Melarikan diri dari hati yang hancur berkeping wkwkkk.. (sekarang bisa ketawa, waktu itu berderai air mata) anjay… 😀

Setelah kuutarakan niatku, suami setuju. Akhirnya cari info travel umroh dari Inggris. Browsing sana-sini, kok rasanya gak yakin, apalagi model iklan online yang gak tau based kantornya dimana. Pernah kami jabanin ke tkp di Milton Keynes. Kok ga ketemu gedung yang dimaksud.

Kemudian kami ke Luton. FYI Luton adalah salah satu kota di Inggris yang populasi muslimnya terbanyak selain birmingham. Yang mau kepoin, artikel/ youtube/ video tentang dua kota ini bisa kalian cari di rosimeilani.com, instagram aku @rosimeilani.rosmel atau youtube aku Rosi Meilani.

Balik ke cerita, masuklah kami ke salah satu travel agent yang ada di burry park. Obrol-obrol, deal £800 per orang. Kurang lebih 18 jutaan lah. Tapi cuman buat tiket dan hotel. Beda dengan travel dari Indo yang plus makan sehari 3 kali, transport kesana-kemari, mutawwif, bimbingan, kajian bersama ustad dll.
Hmm.. gimana ya..
Ya udah deh gak apa-apa. Nanti kita hire and booking yang lain sebagainya itu.

Ketika mau deal kami kasih tahu pasporku Indonesia.
YA.. ga bisa, katanya. Waktunya mepet banget. Visa Indonesia beresnya sekitar semingguan, sementara saat itu jelang seminggu lebaran juga kalau ga salah. Intinya BATAL!

Aku sedih.. Hati hancur berkeping, mau nyari obat spiritual tapi Allah belum kasih ijin, jadinya kami healing ke Maroko. Mengejar Lebaran disana. Ceritanya akan aku share lain kesempatan, InsyaAllah.

Balik ke cerita umroh yang kemarin itu. Semuanya udah deal. Tiket pesawat udah dapat. Pembayaran ke travel agent di Bandung, beres. Tektek bengek done. Tinggal ciou…

Nginep sehari di hotel dekat Airport

Seperti yang kuceritakan di artikel sebelumnya, hanya opsi itu yang bisa kami ambil. Penerbangan dari Gatwick. Lokasinya lumayan jauh dari rumah kami. Kalau penerbangan dari Luton atau Heathrow biasanya kami pakai taxi. Gatwick lebih jauh lagi. Kalau pakai taxi £120 atau sekitar 2,7 jt IDR (sekali jalan) kalau PP kali 2 aja. 

Kami putuskan bawa mobil sendiri. Efeknya kami harus bayar parkir harian di Airport yang juga sama mahalnya. Akhirnya, opsi ketiga kami ambil. Cari hotel di dekat bandara.
Visual vidoenya ini,klik aja!
Disana kita bayar parkir (included). Nemulah £150. Lumayan kan? Dapat hotel dan parkir. Setidaknya kami bisa istirahat dulu sebelum flight. Hotelnya bagus, parkiran luas dan aman karena memang yang parkir disini mereka yang mau pada flight, videonya ada di IG aku @rosimeliani.rosmel berikut ini klik linknya (klik aja)

Penerbangan Asing, Miqot dan Ganti Ihram dimana?

Ketika manasik dan tanya jawab dengan ustad saya melakukannya secara online. Pertanyaannya ialah: Dimana batas miqot kami dan kapan suami saya mulai mengenakan kain ihrom? Berbeda dengan jemaah dari Indo yang selalu diumumkan pilot saat memasuki tempat miqot, buat kami belum tahu. 

Dengan pertimbangan penerbangan asing (dari Inggris), kemungkinan besar pilot tidak akan memberitahukan hal tsb dan mungkin juga para pramugari merasa aneh ketika suami saya memakai kain ihrom, jadi opsinya adalah, ada beberapa, A, B dan C.

Sesudah menginap semalam di hotel, besoknya kami pakai shuttle bus ke bandara. Busnya besar dan bagus, meskipun penumpangnya 1-2 bus tetap jalan sesuai jadwal, setiap setengah jam. Saat itu hanya kami berdua. Visualnya klik ini 

Tiba di bandara, menunggu agak lama, kami sempatkan makan dulu. Rasa excited melakukan perjalanan ini bersama suamiku tercinta.  Ada rasa awal perjalanan spiritual yang akan menyenangkan. Link visualnya disini umroh mandiri dari inggris

Check-in nya cepat, karena kami Premium, membawa cabin 7 kg masing-masing dan hand bag yang gak begitu gede. Selanjutnya boarding.
Sumpah! Gak nyangka! Saat boarding memasuki jam sholat, mostly para penumpang pada pergi ke pojokan ruang. Lah mau ngapain. Ada yang sendiri-sendiri. Ada yang sekeluarga, ada yang berkelompok. Mengelar kain/sajadah. Masya Allah.. Mereka sholat. Banyak diantara mereka yang langsung memakai kain ihrom. Oh…

Aku sama suami celingukan. “Apa aku pakai ihrom sekarang juga ya?” tanya suamiku.
Antara iya apa engak, iya apa enggak, eh keburu announcement dipersilakan masuk pesawat. Oyaudah, naik…

Pesawat Riuh
Memasuki pesawat riuh. Apa yang bikin riuh? Ternyata banyak penumpang yang pergi berkelompok. Ada keluarga kecil, ada keluarga besar. Bahkan yang sebelahku pergi ber-13 orang. Ibu, bapak, anak, mantu, cucu. Tujuannya kemana? Sama! Semua jemaah umroh. Masyaallah! Pembagian tempat duduk salah satu yang bikin riuh haha.. Kan di tiket udah ada nomor seat masing-masing, tapi ada yang pengen dekat siapa dengan siapa, jadi udah kayak tour RT pake bus gitu heuheu.

Semua udah duduk manis. Pesawat mengudara dengan mulus. Setelah pesawat mengudara dengan tenang dan sabuk pengaman dilepas bebas, penumpang kembali riuh tapi tidak terlalu. Gak hanya berbahasa Inggris, sebagian berbahasa pakistan, mungkin juga bangladesh, terutama yang generasi tuanya.

Bungkusan kecil di estafetkan. Dari beberapa itu bungkusnya aku apal banget.  ehmm.. Lidl! Ada yang bagi-bagi croissant seperti kesukaanku dll. Ada yang bagi-bagi crips dan makanan lainnya. Kan, jadi tambah persis tour RT ke pangandaran pake bus sewaan hahah..

Belakangang aku tahu karena penerbangan budget ini gak termasuk meal. Baiklah…
“Mau, sis?” penumpang sebelahku nawarin.
Tidak, terima kasih, kataku. 

Tak lama tercium aroma mie instan, ternyata, trolley makanan menghampiri.
“Mau pesan sesuatu?” tanya seorang pramugari.
Ada apa aja kataku? Ternyata eh ternyata, mereka cuman modal makanan instan, plus termos panas. Mie cup, pasta instant, minuman instan dan sejenis instan lainnya.
“Pesen yuk!” tanya suamiku.
Walaupun gak lapar-lapar amat, “OK!” jawabku.
Aku pasta, dia noodle, sama minuman yang semuanya instan itu.

Asli, perlu nunggu lama untuk menyantap mie dan pasta yang cuman diseduh air termos itu. Sempat mau minta tolong pramugarinya untuk masukan dalam microwave tapi dianya riweuh, gak jadi deh!
Pesannya, kalau pakai budget airlines gini jangan ngarep dapat makan enak.

Pantesan si bro n sis itu pada bekel makanan sendiri. Itu udah bener sih. Tadinya sempet kupikir, idih kayak emak-emak RT mau tour ke pangandaran, tapi itu udah bener sih 😀

Di lur ekspektasi, Announcement itu!
Sesudah kondisi kondusif, satu-persatu brother ke toilet pada ganti kain ihram. Lirik-lirikan sama suami, “Apa aku ganti sekarang?” tanyanya.

Hmm.. karena kita juga gak tahu ini udah memasuki batas miqat belum. Nanti ajalah toh, toiletnya penuh, orang keluar masuk. Kita tunggu agak lenggang. Tunggu punya tunggu kok gak berenti-berenti orang pada ganti ihram. Bahkan penumpang seberangku yang kupikir non muslim juga udah pakai ihram. Perempuan sebelahnya pun masuk pesawat tidak berkerudung, saat itu beliau sudah memakai baju muslim dengan dengan sangat rapi. MasyaAllah!

“Ayo pap, buruan ganti!” kata aku teh.
Tak lama, pilot memberi tahu, kurang-lebih narasinya, “Anda memasuki kawasan untuk miqat,”

Wah, gak espek sih! Kami mengucapkan niat berumroh dalam hati. Eh penumpang lain ada yang berniat umrohnya dengan suara agak dikeraskan. Oh, itu yang rombongan-rombongan itu kemungkinan besarnya. Masya Allah.. Pengalaman yang sangat mengesankan.

Penumpang yang ketika masuk dengan berbagai jenis pakaian berbeda. Saat itu sudah berubah putih, bagi brothers nya, dan pakaian muslim rapi semua sisternya.

umroh dari inggris

 

Pemandangan turun dari pesawat

Yang mau lihat visualnya seperti apa, bisa intp di IG aku @rosimeilani.rosmel khususnya link ini.

Pesawat mendarat dengan mulus. Satu persatu penumpang menuruni tangga pesawat. MasyaAllah.. Vibenya.. Kita udah kayak rombongan jamaah umroh dalam satu keluarga besar. Padahal saat naik pesawat kita tidak saling kenal. Ketika kita turun, kita jadi tahu, kita satu keimanan, kita satu tujuan, Baitulah!

Ceritanya masih panjang dan akan terus bersambung. Pantengin terus tulisanku di rosimeilani.com semoga aku istiqomah rajin nulis untuk berbagi cerita dan memberi manfaat kepada orang lain, silakan tulis komen di bawah kalau ada pertaanyan atau apapun itu.

Umroh Dari Inggris, Umroh Mandiri? Pake Travel Indonesia?

umroh mandiri dari inggris
umroh mandiri dari inggris gabung travel indonesia9

Umroh Dari Inggris, Umroh Mandiri? Pake Travel Indonesia?

Dulu ketika Mama Mertuaku berhaji beliau bilang,
“Saat thawaf wada, mamah panggil semua orang tercinta agar bisa melakukan apa yang mamah lakukan, tawaf. Baik haji ataupun umroh dulu. Suami, anak, mantu, cucu, semuanya di “kum” keun.”

Selang beberapa tahun, doa itupun diijabahi. Tahun 2016 aku ke tanah suci. Inginnya bersama suami, tapi beliau belum siap. Berdalih inilah itulah, kerjaanlah, sibuklah. Hikmahnya bisa mengajak bapak sebagai mahramku. Undangan ini tak pernah beliau bayangkan sebelumnya.

Saya posisi di Inggris, bapak posisi di Bandung. Akhirnya saya pilih trip bolak-balik.
London – Transit Timteng, Indonesia.
Indonesia – Jeddah.
Jeddah – Indonesia.
Indonesia – Transit Timteng – London.
Mayan juga ya? Padahal kalau saya langsung umroh, hitungannya setengah perjalanan ke Indonesia. Tapi karena ini pengalaman pertama bapak naik pesawat jadi saya ingin memastikan bapak merasa aman dan nyaman.

Kami memilih travel umroh yang terpercaya, based di Bandung. Jadi saya bisa mendelegasikan adik untuk urus semua dokumentasi, pembayaran dan segala printilannya.

Penerbangan dari London tiba di Bandung, selang beberapa hari, Manasik di hotel bintang 5. Selang beberapa hari, perjalanan umroh pun dimulai. Total sembilan hari. 4 hari Madinah, 4 hari Mekah. Perjalanan spiritual yang menjejakan kesan mendalam. 

Sama halnya seperti MaMerku, saat tawaf wada (tawaf perpisahan), aku mohon pada Allah kiranya aku dipanggil kembali, pun suami, anak, cucu, mantu, keturunanku, di “kum” keun termasuk semua keluarga besar agar bisa ke Baitullah.

Selang 9 tahun Allah mengijabahi. Kali ini aku sama suami, akhirnya! Sebagai hadiah ulang tahun dariku untuknya, alhamdulillah. 

umroh dari inggris

Sebenernya ini ide dadakan. Aku memilih travel umrah yang sama. Gegara advert travel tsb lewat di beranda sosmedku. Hmm.. boleh juga kataku.

Aku colek ownernya yang kebetulan kenal baik. Masih ada slot kah? Masih keburu kah? Soalnya waktunya mepet banget. Saya liat advertnya Oktober. Keberangkatannya November. Teknisnya gimana? Itungannya gimana? Karena kami keberangkatan dari Inggris treatment dan biayanya tentunya beda dengan keberangkatan jemaah dari Bandung.

Singkat cerita DEAL!
saya confirm ke suami,
”Jadi say..” 

Ini link videonya, klik aja linknya, the best b’day present ever I’ve gave to him

Wah banyak PR yang harus dikerjakan nih.
Apa dulu yang harus di kerjakan?

Pertama, Apply Visa
Caranya?

Sebetulnya kita bisa apply visa online sendiri. Tapi karena kami pergi bersama rombongan jamaah dari Bandung, ya sudah, Travel umroh tersebut yang arrange semuanya. Passport difoto, dikirimkan. Done! 

Next, apalagi?
Syarat apply visa adalah melampirkan sertifikat vaksin.
Ok!

Selanjutnya, nyarii slot vaksin di apotek terdekat.
FYI suntik vaksin di Inggris bisa di NHS/GP alias klinik/RS/Puskesmas Inggris.
Bisa juga di farmacy kalau di Indo mah, apotek gitulah.

Kami perlunya secepat mungkin, tapi kami gak bisa ujug-ujug datang gitu aja alias walk in. Dulu waktu umroh pertama di Indonesia, aku langsung datang aja, gak usah pake appointment. Tapi antrinya Ya Allah.. Lama banget. Pake nomor antrian sampe ratusan. Yang vaksin gak hanya orang lokal, tapi juga dari luar kota Bandung. Bisa dijadikan tolak ukur segitu banyaknya calon jamaah umroh di Indonesia. Itu pengalamanku dulu, entah sekarang.

Balik ke Inggris, di NHS gak bisa dalam waktu dekat. Satu-satunya cara yang cepat adalah farmacy/ apotik. Tetep.. Itu pun harus appointment.

Saya cari slot di apotek terdekat dalam waktu yang paling dekat. Gak nemu. Harus nunggu beberapa hari bahkan minggu. Saya lebarkan radius pencarian. Hore, akhirnya nemu. Tapi jauh di kota sebelah. Jam kerja pula, ya sutra la ya.. Jadwalnya buat besok hari.

Vaksin apa? Katanya kalau dari Indonesia vaksin meningitis dan folio. Kalau dari UK?

Nah ini, aku kurang yakin. Akhirnya aku nanya besan angkat (besan angkat? ah panjanglah ceritanya, nanti aja ini mah diceritakan lain kesempatan).

Jadi, wajibnya mah cuman miningitis aja. Tapi beliau waktu itu plus vaksin flu juga ada optional vaksin lainnya. 

Tapi kan wajibnya mah meningitis yes?
Iyes. ya udah yang itu aja.
Soalnya vaksin di sini mahal, haha..

Oiya tarif vaksin di tiap tempat juga beda-beda. Entah karena tingkat urgensinya, entah jenis vaksinnya, entah karena swasta atau negerinya. Entahlah.
Singkat kata, vaksin! Hasilnya hari itu juga via email.

Persyaratan Visa done!
Next?
Apply Cuti, maklum kaum gajian
Si Papih mah gak masalah, asal kerjaan beres, kapanpun bisa holiday. Aku bilang manager mau umroh, langsung acc kok.

Next?
Apply Tiket Pesawat
Nah ini agak tricky.
Keribetan umroh mandiri dan gabung sama travel Indonesia salah satunya ini karena kita harus nge-pas-kan waktunya. Maskapai apa? Terbangnya dari mana? 

London punya empat airport. Beda maskapai penerbangan, beda keberangkatannya, beda waktunya pula. Setelah dipilih dan mencocokan jam kedatangan di Jeddah, akhirnya kami pilih penerbangan Wizz, terbang dari Gatwick, budget ticket aka murmer. Tapi karena yang memungkinkan yang ini, ya sudah la yah.. 

Next, Kain Ihram
Semua keperluan dan perlengkapan umroh sudah diatur oleh travel. Kecuali kain Ihram untuk suami karena kami memasuki area miqat yang berbeda. Ya sudah kami beli di Amazon. Done!

Next, Apalagi?
Hmm..
Kayaknya itu aja sih, tinggal nunggu visa beres. Karena hotel plus makan 3x sehari, transport selama makah madinah dan lain sebagainya sudah termasuk peket biaya umroh.

Jadi, kami bayar berapa?
Kami bayar paket umrah minus biaya-biaya yang kami keluarkan.


 Buat kamu yang mau lihat visualnya seperti apa? Bisa mampir ke Instagram aku @rosimeilani.rosmel, dan ini salah satu video umroh kemarin, klik linknya

Bersambung ke artikel berikut ini,