Category Archives: cerita biasa

Ketika Hati Berkata, PULANG! | When the Heart Says: GO HOME!

Me and my mum, years ago when I was 50
Me and my mum, years ago when I was 50

Lama gak nulis, kangen banget. Lama juga aku gak apdet sosial media (Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube) setelah apdetan terakhir klip “berpulang” nya mamah.

Adapun apdetan sebelumnya: trip ke Antalya, York and London. Tak lama setelah itu mendapat kabar mamah masuk RS. Penyebabnya karena beliau terjatuh.

Ini bukan pertama kalinya beliau terjatuh, mungkin karena keseimbangan tubuh beliau. Mamah dan bapak tinggal berdua, tapi ada yang jaga. Saat kejadian yang jaga lagi gak ada. Setelah itu mamah masuk RS dan dirawat. Aku telfon beliau, bertanya kondisinya.

“Kumaha, mah. Mamah pengen Osi (sebutan kecilku) pulang?” tanyaku.
“Iya, pulang atuh.”

Dari suara yang kutangkap sepertinya beliau baik-baik saja, hanya keluhkan pahanya yang sakit.  Tapi entah kenapa, hati ini berkata “PULANG!”

Sebetulnya kami (aku dan suami) udah punya tiket pulang untuk bulan September. Artinya, Juni pulang, September pulang juga. Kebayang waktu, tenaga dan biaya yang double. Belum lagi jatah cuti yang makin habis. Tapi rasaku tetap berkata, “PULANG!”

Besoknya, aku ngomong sama manager, acc!. Malamnya langsung booked tiket dibantu suami (as usual). Besoknya, adik ngabarin.
“Teh, mamah udah pulang. Kalau teteh gak pulang juga gak apa-apa. Toh, September jadi pulang kan? Mamah aman!”

Result dari RS, kemungkinan retak tulang. Harus kontrol tgl 8 Juli ke RS yang lebih besar untuk tindakan lebih lanjut. Mungkin operasi atau apalah itu. Baiklah, mamah pulang… Ehm.. aku bimbang. Besoknya, aku bilang ke manager and kolega. Gimana nih, batalin cuti bisa gak?  Kupikir ulang, cuti udah di acc, temen-teman aman. Sementara beberapa minggu kedepan banyak teman bergantian ambil cuti hingga peak season Agustus, summer holiday.

Aku tanya suami dan anakku, gimana nih, cancelled? Setelah di cek, Ya ampun.. Ternyata tiketnya non refundable dan gak bisa diganti tanggal pula. Sumpah, ini gak biasanya. Biasanya suamiku sangat teliti saat booking tiket dan bayar biaya ekstra agar bisa ganti tanggal. Entah kenapa yang ini enggak.

Saat bimbang, hati tetap berkata, PULANG! Semua persiapan singkat. Ada waktu seminggu. Itupun tiap hari aku kerja utama dan ada kerjaan part time lainnya. Sepulang kerja aku nyicil beli oleh-oleh ini dan itu, ritual rutin setiap mudik. Sebelumnya, aku tanya mamah.

“Mah, mau dibawain apa dari Inggris?”
Ah, gak usah bawa apa-apa, atahna weh (mentahnnya saja aka uang) 😀”
Joke klasik yang sering terlontar di antara kami.
“Palingan coklat weh,” ceunah
Harr… haha

Lalu kutanya bapak, “Bapak hoyong dicandakeun naon?”
“Ah gak usah,”
“Naon atuh, kaos?” paksaku, karena beliau jarang banget punya permintaan kepada anak-anaknya.
“Eta weh atuh baju koko, buat ke mesjid,”
“Atuh baju koko mah gak ada di Inggris,”
“Ya udah atuh, beli di sini weh, nanti,”
“Kaos weh nya pa?” paksaku.
“Nya atuh. Tapi gak usah maksain kalau gak ada waktu mah. Ku pulangna ge bapak mamah mah atoh pisan. (Ok, tapi jangan memaksakan, dengan pulangnya kamu, sudah bikin bapak mamah bahagia).
Obrolan di WA itu pun berakhir.

Sepulang kerja aku ke supermarket beli banyak oleh-oleh coklat. Setelah keluar supermarket, masuk WA dari bapak.
“Kata mamah, pengen coklat yang di kaleng,” ceunah.
hm.. coklat apa ya? Aku berpikir keras. Aku pernah beliin beliau coklat apa ya? Di kaleng? Seingatku bukan di kaleng tapi Celebration/Heroes/Quality street gitu deh.

Besoknya, sepulang kerja, aku ke supermarket lagi. Aku ubek supermarket” di LB. Gak nemu apa yang dimaksud mamah. Akhirnya aku beli coklat lindl , coklat kesukaanku, kuharap mamah juga suka. Selain itu, aku beli dua box coklat, rasa campur-campur. Satu lagi, mamahku suka banget kacang pistasio. Aku beli banyak. Ya, namanya juga keluarga besar. Bungkus… 

Pulangnya, aku nyicil packing koper.
“Gimana kondisi mamah?” tanyaku pada adik.
“Tidurnya kurang nyaman. Posisi tidurnya harus tinggi. Kiri kanannya harus diganjel bantal juga.”
Hm.. hal itu membuatku berpikir, gimana caranya agar beliau nyaman? 

Aku punya bantal yang bentuknya unik. Kayak “V” atau “U” beli dari ikea beberapa tahun lalu. Kupikir itu akan nyaman buat beliau. Sebetulnya saat liburan Agustus tahun lalu  udah coba cari di IKEA Indonesia (Padalarang-Bandung) tapi gak nemu. Nyari di olshop Indonesiapun gak nemu. Adanya yang besar. Seperti bantal ibu hamil yang ukurannya setengah kasur. Busyet… Tapi kayaknya bantal itu nyaman juga buat mamah. Akhirnya aku minta pesankan ke keponakanku. Bungkus.. 

Sementara itu, aku tetap akan membelikan mamah bantal di ikea. Pulang kerja, cus.. Rencana beli 1, jadinya 4.
“Gimana ini bawanya?” suamiku terheran-heran.
Prinsipku, beli aja dulu, kebawa apa enggak, gimana nanti 😀
sofar ini unusual things yang aku bawa ke Indonesia. Semua ini demi apa cobak?!
Demi kenyamanan mamah saat beliau tidur. 

Gak hanya itu, aku bawa pula sarung bantal, sprei/selimut, handuk putih yang tebal dan nyerap air, sampai throw cantik dan lembut. Semuanya buat ibuku. Satu yang gak bisa kubawa, kasur” 😀

Pulangnya, aku packing lagi. Sayangnya cuman muat 2 bantal.  Jatah bagasi 23 kg. So far baru 17 kilo. Wah? Bulky sih. Tapi ringan.

Besoknya, pulang kerja balik lagi ke MK. Beli beberapa kaos dan barang lainnya. Pulangnya packing lagi. Koper Full sudah! Tapi masih 20 kiloan. Bawa apa lagi ya?  Bentar! Di kulkas ada mature cheese cheddar, butter, telur, terigu, komplit! Malam itu juga aku bikin kue keju aka kastengel dua resep. Kelar tengan malam!  Berasa mau lebaran. Dapurku wangi kue tengah malam. Btw, kastengel ini kesukaan mamah banget. 

Tenang sudah, flightnya besok.

TERBANG. BISMILAH!

Penerbagan Jumat, suamiku sengaja ambil cuti. Ini kali pertama aku pakai Cathay Pasifik, untuk menghindari jalur Timteng yang masih bikin was-was suamiku, padahal tiketnya lebih mahal loh, tapi okey lah.

Penerbangannya 12 jam lebih, bikin panas pantat! Kalau jalur timteng kan dibagi dua jaraknya. 12 jam lebih itu bisa nonton film full 4 judul, 4 kali makanan/cemilan. Makan, tidur, nonton, pipis – makan, tidur, nonton, pipis, gitu aja terus berulang sampai 12 jam. Nyampe Hongkong, stop over 2 jam, lanjut Jakarta. Hp setting flight mode.

Saat landing, buka HP, banyak messages masuk. Mamah masuk RS lagi. Keluhannya bukan karena soal tulang yang retak itu, tapi sesak napas. Bandara Soeta – Bandung sekitar 3 jam. Nyampe Bandung lepas isya. Tadinya aku pengen pijat dulu di tempat spa langganan, lalu makan malam, ke rumah, istirahat, mandi, lalu ke RS. Tapi rencana berubah. 

Tiba di pool bus Primajasa Batununggal aku dijemput adik ipar dan ponakan langsung ke RS. Gak sabar ketemu mamah tercinta. Satu koper bagasi, satu koper cabin, tas tentengan masuk ke bagasi mobil. 

Mobil memasuki area parkir RS di kawasan kopo. Wah, rumah sakit ini banyak berubah. Rasanya lebih luas. Lebih modern, banyak cafenya. Saat memasuki bagian dalam RS, eh, rasanya sama seperti dulu, puluhan tahun lalu. Koridornya, ruang-ruang rawatnya, taman-taman kecil depan kamar-kamar rawatnya.

Memasuki ruangan mamah ada rasa gimana gitu. Nyaris 20 tahun aku di Inggris. Tiap mudik selalu kujumpai mamah dalam suasana gembira, tawa dan canda. Tapi kali ini beda. Hawanya gloomy, sedih.

Kucium tangannya. Berbalas cerita kita. Gimana kabarnya mamah, apa yang dirasa? Gimana kabarnya aku, sama siapa ke Indo? Sendiri? suami dan anak-anak gimana kabarnya, jam berapa dari Inggris, jam berapa tadi nyampe?

“Mah, Osi ada oleh-oleh buat mamah, tapi masih di mobil, ujarku,”
“Ih, panan mamah bilang gak usah riweuh bawa oleh-oleh, asal eta weh,”
“Eta naon kata aku dan adikku sambil ketawa”
Atahna? Hahaha.. Semua yang ada di kamar itu untuk saling pandang dan saling paham.
“Ya udah, atahna..” kataku bersemangat.

Candaan ini bikin hatiku senang dan tenang, artinya mamah baik-baik aja. Gen tukang heureuy dan ngabodor ini mamah turunkan pada anak-anak dan cucu-cucunya, eh, malah menantunya juga.

“Ya.. aku gak punya uang, kumaha atuh?” kataku.
Mamah menatap tak percaya. Sementara itu aku keluarkan lembaran uang berwarna ungu.
“Ih, duit naon ieu?”  mamah mengernyitkan dahi.
“Duduitan,” timpat cucunya
“Duit teu payu nu kitumah,” sambut adikku.
“Kumaha atuh?” beliau lirik tumpukan uang bergambar Raja Charles tersebut.
“Duit monopoli eta mah?” timpal yang lain.
“Ya, piceun weh atuh,” lanjut mamah disambut tawa yang lain.
Aish.. bisa jang meuli motor sakieu teh. Motor tilas.. hahaha

“Mamah pengen berapa?” tanyaku.
Belaiu menyembut sejumlah angka.
“Kumaha lamun dikali dua,“ saranku.
Beliau tersenyum mengiyakan.
“Kumaha lamun dikali dua deui?”
Tambah tersenyum ia.
Yaudah, besok nya.. Etapi, GMC (Money Changer) besok kan tutup. Kieu weh.. Aku berbisik pada iparku.

“Mah, aya oleh-oleh buat mamah, tapi di mobil. Osi ambil dulu ya?”
“Engke ka dieu deui moal?”  seolah ia tak mau ditinggal.
“Iya atuh, da tadi rusuh saking pengen cepet-cepet ketemu mamah,”
“Ya sok atuh,”

Di tempat parkir.
“Sok buka itu kopernya. Di koper besar ada 2 bantal. Di koper kecil ada coklat, kastengel dan pistachio,”
“Ulah kacang mah. Engke weh mun udah pulang ke rumah. Ini terlalu banyak.”
Oiya, sebelumnya aku tf ke iparku dan tarik tunai di lobi RS.

Kembali kami masuk kamar mamah.
“Yeu mah…,”
“Wah…,” ia kibas-kibas uang berwarna biru itu.
“Seger mah?” tanyaku.
“Seger?” ulang yang lain di ruang ini.
“Seger….,” timpal mamah berbinar disambut tawa yang lain.

Moment kecil kayak gini tuh bikin aku senang bukan main. Alhamdulillah. Sungguh tak terlihat kesakitan dalam diri mamah. Saat itu benakku berkata, mamah hanya perlu istirahat beberapa hari di RS saja. 

“Rin, simpen di dompet,” pinta mamah pada adikku.
“Siap bos!” 

“Nah ini coklat pesanan mamah,” aku buka boxnya.
“Kela, emang boleh?” tanya adikku.
“Iya, emang boleh?” mamah yang awalnya antusias jadi ragu.
“Emang mamah sakitnya apa?” tanyaku.
“Jantung dan ada sedikit batuk,”
“Ah, biarin lah. Asal jangan bilang ke dokter dan suster,” ujarku.
Yang lain sepakat sambil ketawa-ketawa. Umur 81, 56, 53, 51 dan 20. Ibu, anak, mantu dan cucu yang pada bandel kayak anak SMA yang sedang melanggar peraturan sekolah hahaha…

“Ya.. coklatnya meleleh,” aku lap lumeran coklat di bibir dan dagu mamah.
Ini coklat Inggris, perlu hawa dingin. Agar sensasi gigitan tengahnya lebih terasa saat padat, ujarku.
“Iya, ini mah malah jadi kaya kue klepon!” ger.. kembali kami tertawa bersama.

“Cik, nyoba!” adikku, ipar dan keponakanku riweuh.
Belum lagi riweuh pada makan kue keju aka kastengel buatanku yang kres dan kejunya ngeju banget. Ya pastilah.. Kejunya cheddar extra mature merk cathedral, butternya premium pula, dan tentunya dibuat dengan penuh cinta kasih, dibawa melalui banyak benua, puluhan negara, mengudara dan memakan waktu perjalanan selama dua hari dua malam. 

“Udah ah, buat nanti lagi,” ujar beliau.
“Nah yang ini bantal,”  aku tunjukan dua bantal yang gepeng karena vakumnya bagus, kemasan aslinya Ikea Milton Keynes.
“Bantal?” ia terheran.
Kuceritakan sejarah bantal tersebut.

Hari kian malam, puas rasanya nge-treat mamah sedemikian rupa. Tadinya aku pengen nginep di RS nemenin adikku dan mamah agar bisa cerita banyak melepas kangen. Tapi lelah ini tak tertahankan. Aku sudah lusuh pula. 2 hari 2 malam perjalanan.

Keluar rumah dari LB hari Jumat jam 9 pagi, ini masih di RS hari Sabtu jam 10 malam. Berapa jam tuh? Lebih dari 2 hari ya? Belum lagi masih harus ke rumah. Rencananya pengen makan/jajan street food. Karena jujur. Aku lapar banget.

Bersambung : PART 2 Lima Hari Bersama Mama | Five Days With Mum

English version

When the Heart Says: GO HOME!

It had been a while since I last wrote. I missed it.

I’d also been quiet on social media (Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube) , ever since that last update: the clip of mum’s past away.

Before that, my feed was all sunshine: trips to Antalya, York, and London. Happy days travelling with hubby and family. Not long after, the news arrived: mum had been admitted to hospital. She’d fallen.

It wasn’t her first fall. Her balance hasn’t been great these past few months. Mum and dad live together, though they do have someone who helps look after mum. The carer wasn’t around when it happened. Mum was taken to hospital and admitted. I called her straight away.

“How are you, mum? Do you want me to come home?” I asked.
“Yes, come home,” she said softly.
From her voice, she sounded fairly alright, just a bit of pain in her thigh. But for some reason, my heart kept saying, “GO HOME!”

We actually already had tickets booked for September. Meaning: June home, September home again. Time, energy, cost, doubled. And my annual leave would be eaten up. But my heart insisted, “GO HOME!”

The next day, I asked my manager and colleagues, would it be okay if I went home? Would work be alright? We were short‑staffed. Qadarullah, everyone supported me. Approval granted. That night, my husband booked the ticket (as usual).

The next morning, my sister messaged:
“Sis, mum’s already home. If you don’t come, it’s okay. You’re coming in September anyway. She’s fine!”

The hospital results showed a possible fracture. She needed to return on 8 July to a bigger hospital for further treatment, maybe surgery.
Alright then, mum was home.

But I was torn. The next day at work, I asked my manager and colleagues again, could I cancel my leave? I thought about it: leave already approved, colleagues sorted, and in the coming weeks many people would be taking turns going on holiday. Peak season in August.

I asked hubby and daughter, should I cancel? After checking, oh dear. The ticket was non‑refundable and couldn’t be changed. Honestly, this never happens. My husband is usually meticulous, always pays extra for flexible dates. But somehow, not this time.

While I was torn, my heart kept saying: GO HOME!  

Everything had to be prepared quickly. I had one week. And every day I was working my main job plus my part‑time job. After work, I bought gifts, the usual ritual before going home.

I asked mum:
“Mah, what do you want from England?”
“Ah, don’t bring anything. Just the money,” she joked, our classic family line.
“Maybe just chocolate,” she added.
Okey dokey!

Then I asked dad:
“What do you want?”
“Ah, nothing.”
“What about a T‑shirt?” I insisted, he rarely asks for anything.
“Just a koko shirt for the mosque.”
“There’s no koko shirt in England!”
“Then buy it here later.”
“T‑shirt then?”
“Alright. But don’t force yourself. You coming home already makes us happy.”
That ended our WhatsApp chat.

After work, I bought loads of chocolate. Then dad messaged:
“Mum wants chocolate in a tin.”
The next day, after work, I bought Lindt, my favourite one, hoping mum would like it. I also bought two boxes of assorted chocolates. And pistachios, mum’s favourite. Big family, big bundle.

At home, I started packing clothes and gifts.
“How’s mum?” I asked my sister.
“She’s uncomfortable sleeping. She needs her body elevated, and pillows on both sides.”
That made me think, how could she be more comfortable?

I had a uniquely shaped pillow, like a V or U, from IKEA years ago. I thought it would help her. I’d even looked for it in IKEA Indonesia last year but couldn’t find it. Online shops only had giant pregnancy pillows the size of half a bed. They looked comfortable too, so I asked my niece to order one. Sorted.

Meanwhile, I still planned to buy mum another pillow from IKEA. After work, I went off. I planned to buy one, but ended up with four.

“How are you going to carry these?” my husband said, baffled.
My principle: buy first, figure out later.
Haha. Truly the most unusual thing I’ve ever brought home. All for mum’s comfort.

Not just that. I brought pillowcases, other pillowcases, cotton sheets, thick white towels, and a soft throw. All for mum. Packing again. Only two pillows fit. Baggage allowance 23 kg, so far only 17 kg. Bulky, but light.

The next day, after work, I went back to Milton Keynes. Bought T‑shirts and other things. Packed again. Suitcase full, around 20 kg. 

What else? Oh!  In the fridge they are Mature cheddar, butter, eggs, flour, complete. That night, I baked two batches of cheese cookies (kastengel). Finished near midnight. It felt like Eid. My kitchen smelled of cheese at midnight. Mum loves kastengel alot.

All set. Flight tomorrow.

FLYING. BISMILLAH.

Friday flight. My husband took leave. First time flying Cathay Pacific, avoiding Middle East routes. Hong Kong stopover, then Jakarta. Phone on flight mode.

Upon landing, messages flooded in. Mum was back in hospital. This time, shortness of breath. Soekarno‑Hatta to Bandung is about three hours. I arrived after Isya. I’d planned to get a massage, have dinner, go home, rest, shower, then visit mum. But plans changed.

My brother‑in‑law and nephew picked me up and took me straight to the hospital. I couldn’t wait to see mum. One big suitcase, one cabin bag, one tote, all loaded into the car.

The hospital had changed, bigger, more modern, more cafés. But inside, it still felt like years ago, the corridors, the wards, the little gardens.

Entering mum’s room felt different. For nearly 20 years I’ve lived in England. Every time I come home, I see mum cheerful, laughing. But this time felt gloomy. I kissed her hand. We exchanged stories. She asked about my journey, my husband, and the kids.

“Mah, I brought gifts for you, but they’re still in the car,” I said.
“I told you not to bother bringing gifts. Just that one thing…”
“That one thing?” my sister and I laughed.
Meant Money! lol.

“Alright then, “atahna”  meant money, I said excitedly.
I pulled out the purple notes.
“What money is this?” mum frowned.
“Play money,” my niece joked.
“That money won’t work here,” my sister said.
That’s Monopoly money,” someone added.
“Throw it away then,” mum said, laughing.
Aish… you could buy a second‑hand motorbike with that. A used one… hahaha.

“How much do you want?” I asked.
She mentioned a number.
“What if we double it?”
She smiled.
What if we double it again?”
She smiled even more.
Alright then, tomorrow. But GMC (money changer) would be closed. So I whispered to my brother‑in‑law.

“Mah, I’ve got gifts for you, but they’re in the car. I’ll get them, okay?”
“Will you come back here?” she asked, not wanting me to leave.
Yes, I rushed earlier because I couldn’t wait to see you.”
“Alright then.”

At the car:
“Open the suitcase. In the big one there are two pillows. In the small one, chocolates, kastengel, pistachios.”
“No nuts. Save them for when she’s home. Too much.”

I’d already transferred money and withdrawn cash at the hospital lobby.
We returned to mum’s room.
“Here, mah…”
“Wah…” she fanned the blue notes dramatically.
“Refreshing, mah?” I teased.
“Refreshing…” she said, eyes bright.

These tiny moments — they make everything worth it.
“Rin, put it in my wallet,” mum said.
“Yes, boss!”

“Here’s the chocolate you asked for,” I opened the box.
“Wait, is it allowed?” my sister asked.
“Is it allowed?” mum echoed.
“What exactly is mum’s illness?” I asked.
“Heart issues and a bit of a cough.”
“Ah, never mind. Just don’t tell the doctor,” I said.
We laughed like rebellious teenagers breaking school rules.

The chocolate melted. “This tastes like klepon!” mum said.
We burst out laughing.

Then the kastengel, crispy, cheesy, rich. Of course, Cathedral cheddar, premium butter, and love carried across continents.

I showed her the pillows.
“Pillows?” she said, surprised.
I told her the whole story.

Night grew late. I wanted to stay overnight, but I was exhausted. Two days and two nights of travel. I still had to go home. And honestly. I was starving.

PART 2 Lima Hari Bersama Mama | Five Days With Mum

 

Haruskah #KABURAJADULU ?

Ya Allah, webku udah bulukan banget! terakhir posting Agustus 2022 tentang modus penipuan kerja di luar negeri #kaburajadulu

Sejak jadi kaum gajian, kesempatan untuk nulis makin tipis. Senin-Jumat kerja keras bagai kuda. Sabtu-Minggu waktunya menghibur diri dengan santuy-santuy, blanja-blanji, jalan”, jajan”. Ya, kapan lagi nyenengin diri, yakan?

Nah, beberapa waktu lalu di Indo lagi rame hastag #kaburajadulu
Saya dikontak sama media tempat saya dulu sering kirim artikel kesana.
“Ayok, kirim-kirim lagi dong!”
Hmm.. baiklah!
Jadilah artikel ini.

Sebetulnya banyak hal yang ingin saya sampaikan tentang hastag #kaburajadulu tapi namanya juga artikel, terbatas jumlah karakter. Maka di website rosimeilani.com ini marilah kita obrol-obrol seputar bekerja di luar negeri (mumpung ada waktu nih, sambil ngabuburit juga).

BANYAK BANGET ORANG INDONESIA YANG TINGGAL DI INGGRIS!

Sebelum ngomongin hastag #kaburajadulu untuk diketahui banyak banget orang Indonesia yang sukses di luar negeri, mungkin jutaan. Untuk diketahui, di Inggris aja, makin kesini makin banyak orang Indonesianya. Tentunya dengan berbagai profesi dan berbagai latar belakang cerita yang mengawali mereka berkarir di Inggris.

Sebetulnya di channel Youtube Rosi Meilani saya sudah banyak mewawancarai mereka. Mulai dari profesi tenaga ahli, Engineer, Dokter, Dosen, Chef, Pengusaha restoran, atlet, Seniman, Pekerja Domestic dan masih banyak lagi profesi-profesi lainnya. Selengkapnya kalian bisa lihat di sini: Kisah sukses para perantau Indonesia di Inggris

Awal mula hastag #kaburajadulu saya kurang paham gimana asal muasalnya, karena saya baca berita Indonesia hanya sekilas-sekilan, cuman kalau mau membahas kabur ajah dulu, sepengalaman kami (saya, teman-teman di Inggris, circle kami), rata-rata mereka ke Inggris bukan karena kabur aja dulu. Tapi kami merencanakannya dengan banyak persiapan, banyak perhitungan dan banyak bekal ilmu yang di dapat.

Sepertinya contohnya kisah Pak Dono, Orang Indonesia yang jadi dosen di Manchester. Pak Wayan tenaga ahli pesawat terbang di Isle of Wight. Mas Budi, orang Indonesia yang masuk Masterchef Inggris dan masih banyak kisah lainnya di Channel Youtube Rosi Meilani. Mereka tak segan memberikan tips bagaimana caranya bisa awal mula bisa bekerja di Inggris.

Balik ke alinea di atas, bahwa kami pindah ke Inggris dengan persiapan, perhitungan dan pengalaman, tidak hanya bagi kami yang sudah pernah bekerja di Indonesia. Pun, bagi anak muda yang kini sukses berkarir di Inggris. Silakan cari di youtube saya dengan narasumber: Ario, Joseph, Rafka dll. Bahkan banyak anak muda Indonesia yang sejak SMA, kuliah, hingga mendapat pekerjaan yang bagus di Inggris.

Artinya mereka mempersiapkannya sedemikian rupa. Jadi, dengan hastag kabur aja dulu, saya pribadi kurang setuju. Ibarat kata mau perang, kita harus punya amunisi. Apa yang kita punya sebelum kita bertempur. Ilmu, pengalaman, kesiapan, mental dan fisik dan masih banyak lagi. Karena petarung kerja di Inggris atau luar negeri pada umumnya tak hanya dari Indonesia. Tapi juga dari negara-negara lainnya.

Untuk diketahui sekarang di Inggris banyak sektor pekerjaan yang diisi oleh orang-orang Asia lainnya. Sebut saja diantaranya: India, Pakistan, Bangladesh, Thailand, filipina dan negara asia lainnya. Insyaallah nanti kalau ada waktu saya akan sharing cerita tentang persaingan pekerja non skil pemetik buah di Inggris yang ngemodal puluhan juta, pulang tanpa hasil. Gara-gara ulah agen abal-abal. Mereka terlantar di Inggris. Kalah bersaing  dengan para pemetik buah dari negara Nepal, Myanmar dan para pekerja dari negara lainnya yang memiliki fisik lebih besar, lebih kuat (mental dan fisik).

Untuk postingan pertama cukup dulu ya? Nanti kita nyambung lagi, mau jalan dulu, mumpung Inggris cuaca bagus. Alhamdulilah 14 dracel nih cuy.

Kalau saya belum apdet lanjutan ceritanya, masuk aja di youtube saya ya?
Masuk ke playlistnya. Banyak pilihan topik konten disana. Ada kisah sukses para diaspora indonesia di Inggris/luar negeri. Tips kerja di Inggris/luar negeri. Restoran Indonesa di Inggris/luar negeri. Atau kisah keluarga saya juga ada disana. Sok mangga dikepoan

Yuk mariii…

 

Ini Dia Pria Inggris, Guru Gamelan yang Fasih Berbahasa Jawa Itu

Minggu lalu, sebuah gelaran bertema Indonesia Regal Heritage digelar di salah satu kampus Oxford yang terkenal itu. Atas undangan ketua penyelenggara dari Gapura Ltd, Ibu Beth dan undangan dari President PPI Oxford, Sandoko Kosen merapatlah saya ke TKP di hari Jumat.

Worcester-Oxford ditempuh 1,5 jam dalam cuaca yang cukup bersahabat. Tiba di TKP kami langsung memasuki  ruang MBI Al Jaber Auditorium, Corpus Christi College, Oxford.

Acara demi acara berlangsung cepat, dimulai Pembukaan oleh Ketua Penyelenggara Acara, Ibu Beth lalu disambung Transforming Indonesian Craftsmanship from Traditional to Contemporary by Benny Adrianto. Dilanjut Translating Indonesian Fashion and Heritage into Modern Fashion by Ghea Panggabean. Kemudian The Art of Indonesian Flavor by Petty Elliott dan ditutup The Exotic Sound of Saluang by Otti Jamalus sebelum akhirnya kami nikmati makan siang.

Acara makan siang, kami menempati dinning hall yang ada di campus tersebut. Tau dong, dinning hallnya Campus Oxford seperti apa? Yap, seperti dinning hallnya di film Harry Potter.

Dinning Hall kampus oxford

Untuk mengetahui segala sesuatu tentang Oxford yang telah saya lipu bisa diintip di serba-serbi Oxford berikut ini.

Usai makan siang, kami kembali ke ruang MBI Al Jaber Auditorium. Hmm,  ada satu tanya tentang nama ruangan ini karena cukup menarik bagi saya. Nanti saya cari tahu deh. Kembali kami duduk manis dan menyimak presentasi dari Pa Sonny Tjahya dari Rumah Pesona Kain Ike Bakrie tentang kain ikat Geringsing.

Disela itu, mata saya menemukan sesuatu yang menarik di pojokan ruang. Sesosok bule, berpakain jawa, berblangkon, duduk bersila di depan perangkat gamelan. Eh, itu Pak Parto kah? Bisik-bisik.. ternyata betul. Beliau adalah guru gamelan yang sudah berkecimpung dengan gamelan lebih dari 20 tahun lamanya.

Beberapa waktu lalu, saya cuman bisa lihat liputannya di video BBC Indonesia yang durasinya sangat pendek namun viral itu. Setelah makin viral, saya pernah tonton lagi wawancara beliau bersama Mba Endang dan Mas Susilo di laman Facebook live. Betapa orangnya asik diajak ngobrol.

Acara berlanjut presentasi Era Soekamto dari Iwan Tirta Private Collection yang diakhiri pagelaran busana yang “wah” banget. Lebih “wah” lagi karena iringan musiknya bukan iringan musik modern, bukan dari CD pula. Melainkan live gamelan.  Dimana Happy Salma ikut berlenggak-lenggok bersama peragawati lainnya.

Di acara puncak, kami terpukau penampilan sendra tari Matah Ati  kreasi seniman besar ibu Atilah Soeryadjaya. Sendra tari lebih hidup dan berjiwa tak lepas dari iringan live gamelan dari tangan Pak Peter n crew tentunya. Pertunjukan haru seru ditutup aplaus yang sangat meriah luar biasa.

Usai pertunjukkan, saya hampiri Pak Pete untuk sekadar obrol-obrol sebentar. Beliau menyambut ramah ajakan saya dengan bahasa jawanya yang sangat kental, waduh… kamus mana kamusss….. (bukan kamus inggris, kamu jawa) 😀
Kurang lebih beliau bilang, bentar ya, saya ganti baju dulu. Anda dari mana? namanya siapa dan bla bla bla dalam bahasa jawa (terjemahan ngira-ngira) 😀

Saya jawab, ngak usah ganti baju dulu pa, biar keliatan jawanya, hehehe..
Lagi-lagi beliau menimpali guyonan dengan bahasa jawa (kamus…. ) 😛

Singkat kata, setelah Pak Pete terhenti-henti karena sapa-sapa dengan yang lain akhirnya kami bisa duduk manis di depan pelataran gedung pertunjukkan.
Ah, hangattt…. tumben-tumbenan hari itu matahari bersinar terang. Alhamdulillah.

Disela obrol-obrol kerap kali Pa Pete menjawabnya dalam bahasa jawa, meski saya tak paham tapi saya menikmatinya 😀
Jadi serasa ngobol sama mbah-mbah di Solo 😀
Pendek kata, Pa Pete ini orangnya nyenengin, asik diajak ngobrol ngaler ngidul 🙂
Asli, Pa Pete ini ramah banget orangnya.

Usai wawancara obrolan berlanjut santai. Dan ternyata permisah.. rumah bapaknya Pak Pete gak jauh dari kampung saya. Saya di Worcester bapane Pa Pete di Hereford. Yo wis pa, klo sampeyan sowan ke rumah bapane mampir wuster ngih pa? 😉

Bule yang cinta indonesia

Dan liputan saya itupun tayang di NET TV program berita NET12 kemarin. Berikut ini youtubenya. Eh, maap ya.. mimin IT NET typo, mustinya Peter Smith 😉

Nah, kalau yang ini, versi uncut-nya.

Karena Allah Memampukan Orang Yang Terpanggil

Setiap kali ada teman dan kerabat pergi ke tanah suci, setiap kali itu pula rinduku menuju rumah Allah membuncah. Kapan giliranku?

Setiap kali kudengar kalimat Talbiyah, setiap kali itu pula hatiku bergetar. Kapan giliranku.

Setiap kali musim haji tiba, setiap kali pula hatiku berbisik. Kapan aku bisa merasakan duduk bersimpuh memohon doa dan segala pinta pada Robbiku Yang Maha Agung di Padang Arafah.

Hasrat yang amat sangat itu, rindu yang membuncah itu, keinginan yang tak tertahankan itu kusimpan dalam hati dan kusampaikan pada Robbiku di ujung sholat, diselip doa.

“Rabb, ijinkan aku menapaki tanah harammu. Ijinkan aku melaksanakan rukun islam yang kelima. Jikapun jalan itu masih jauh, umrohpun tak apa YA Rabb. Ijinkan aku pergi bersama keluargaku ke sana. Ke rumahMU Ya Allah. Tapi Rabb, untuk saat ini, aku hanya punya niat, hanya punya keinginan, hanya mimpi, harapan dan cita-cita. Meski rasanya tak mungkin, tapi aku yakin Ya Rabb. Engkau Maha Pemberi. Maha Kaya. Maha Kasih. Maha Penyayang dan ke-Maha-an lainnya ada padaMU. Maka dari itu Ya Rabb, aku yakin benar suatu saat masa itu bakal sampai. Meski entah kapan dan bagaimana cara dan jalannya.”

Waktu itu, aku tak tahu jika pintu itu KAU bukakan. KAU pertemukan aku dengan seseorang, dua orang, tiga orang, dengan hoby baru, melalui sebuah media. Aku menjalaninya dengan suka hati. Kupikir, KAU beri aku kegiatan baru ini hanya sebagai pengisi waktu luang semata. Tapi rupanya KAU punya rencana lain. KAU buka jalan atas segala doa, mimpi dan harapanku.

Satu per satu hobiku berbuah manis. Tak hanya pengalaman, ilmu, pertemanan, networking, silaturahim tapi juga rupiah. 1-2, 3-4, 5-6 semuanya kukumpulkan perlahan. Dan angka-angka itu kian bertambah. Alhamdulillah.

Tak harus menunggu lama (menurut hitunganku). Tak terlalu bersusah payah pula (menurutku) penjemput rezeki itu. Jika semisal harus pergi jam 4 subuh ke London demi mencari bahan liputan itu bukan sebuah perjuangan besar buatku. Karena menurutku itu adalah rangkaian ibadah. Sebuah proses. Begitupun ketika lelah tetapi harus tetap senyum manis di depan kamera, tetap kujalani. Karena aku yakin di sana ada berkah.

1-2, 3-4, 5-6, 7-8 … seterusnya. Kupikir, ini hanya cukup untukku. Tapi KAU beri lebih. 30-40-50 dan seterusya. Ternyata KAU beri kesempatan padaku mengajak lelaki yang membesarkanku, bapak.

Ia yang dulu sering memboncengku dengan motor vespanya. Ia yang dulu sering mengajakku meliput dan memoto kegiatan kantornya. Kadang kupikir, apa yang kulakukan ini, nyaris 11-12 seperti yang dilakukannya dulu. Senang jalan, senang moto, suka meliput, suka silaturahim, suka belajar sesuatu yang baru. Hanya beda waktu, beda media, beda kepentingan. Jika mediaku NET_CJ maka bapakku sebagai HUMAS PEMDA Bandung aka kantornya Kang Emil lebih ke kegiatan Pemerintahan Kota Bandung dengan koran lokalnya.

Anyway, apapun itu, terima kasih Ya Rabb, telah KAU perkenankan aku melakukan perjalanan ini dengan lelaki yang dulu sering memboncengku dengan motor vespanya, insyaAllah.

Terima kasih Ya Rabb telah KAU tebalkan imanku. Semoga nanti, dengan ijinMU dengan kehendakMU, dengan RidhoMU, rukun islam ke-5 bisa kutunaikan bersama keluargaku. Aamiin Ya Rabbalalamin.

Karena “ENGKAU memampukan orang yang terpanggil”

Kisah inspiratif umroh

“Allah Tidak Memanggil Orang Mampu, Tetapi Allah Memampukan Orang Yang Terpanggil”

Hatur nuhun MAZQ, semoga perjalanan kita dimudahkanNYA. Aammin YRA.

Makasih NETMEDIATAMA, Anda adalah media penyambung jalanku ke Tanah Haram.

Sertakan doa dalam setiap harap dan keinginan kita. Karena Allah Maha Mendengar, Maha Pemberi, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan ke-MAHA-an lainnya.