Sensasi Tinggal di Rumah Bangsawan Inggris di Abad-18

Sebetulnya, ini bukan kali pertama saya berkunjung ke Bath, sebuah kota dekat Bristol. Dulu, klo gak salah, tahun 2008 pertama kali kami piknik ke kota ini diantar seorang kawan yang kini sudah almarhum (semoga Allah berikan tempat terbaik untuknya).

Nah, beberapa waktu, bersama genk grudukan aka teman-teman diaspora dan anak student yang siap jinjing tas saat mendengar kata “piknik” pergilah kami ke sini. Seperti biasa, piknik grudukan ini janjian ngumpul di TKP. 3 mobil, plus ada yang pake kereta. Namanya juga pergi dari rumah masing-masing plus dengan kerompongan masing-masing, walhasil nyampe di TKP pun bertahap dan eike yang duluan nyampe bo, padahal dari luar kota gituloh. Anyway, setelah ngumpul, piknik pun dibuka dengan gelar tikar (kain dink) 😀 BBQ’an, makan siang, obrol-obrol sambil bejemur (hayah! sok bule) 😀

Karena bawa bocah-bocah yang gak bisa diem, kepaksa acara duduk santei bubarrr… lipat kain, beberes barang, pindah lapak deh.. ngangon bocah di taman yang super luar, maen di playground pula. Sementara bocah yang diangon 4 orang yang ngangon 10 orang dewasa, nyantei sambil nikmatin es krim di bawah pohon rindang, saiikkkk….

20170507_151344
(pasukan minus yg main di playground)

Sementara itu, biarkan mereka anteng di sana, me and my partner in crime cabut, gak jauh dari situ, biasa.. nyari bahan dong ah. Jalan kaki sekitar 10 menit’an nyampelah kami ke Royal Crescent. Apakah itu?

Royal Crescent, Bath

Jadi, di abad ke 18 awal dibangunlah sebuah komplek kediaman elit. Pada waktu itu, hanya bangsawan, orang ternama, orang terpandang dan orang kaya sajalah yang mampu tinggal di sini (ya sekarang juga sih, cuman orkay, pk bgt, yg mampu tinggal di sini). Harga rumah di sini awalan T, bukan lagi M. Namanya juga kawasan elit gituloh.

Royal Crescent terdiri dari 30 rumah dengan tipe terrace house. Berjejer seragam berarsitektur georgian. Royal Crescent merupakan bangunan bergaya arsitektur Georgian terbesar di UK, maka tak heran jika masuk dalam Listed Building Grade I alias bangunan sejarah yang lindungi negara Grade I.

Tiap rumah terdiri dari 4 lain, plus base floor untuk para budak (belian) pada waktu itu loh ya.. abad 18 awal gituloh. Jadi basement ini untuk kamar para pekerja, dapur dan utility room dll.

Sekarang, satu rumah (4 lantai) itu bisa jadi berapa pintu. Maksudnya dibagi  jadi beberapa apartemen.  Karena tiap lantainya juga cukup luas. Tak hanya menjadi hunian pribadi saja, sekarang di Royal Crescent ini ada yang berubah fungsi menjadi hotel, spa, kantor dan lainnya. Khusus Royal Crescent nomor 1 dijadikan museum oleh pemerintah daerah setempat. Tak lain agar warga umum dan wisatawan dalam dan luar negeri mengetahui dan merasakan kehidupan di jaman itu. Karena semua furniture yang ada di sini diset seperti aslinya.

Kalau mau lihat seperti apa isi Royal Cresent no.1 klik aja link berikut ini.

Akses tangga yang ada di rumah elit ini ada dua. Tangga dari arah depan dengan model lurus, ukurannya lebar dan berkarpet empuk. Namanya juga untuk tuan nyonya dan para tamu. Nah akses tangga satunya lagi ialah tangga samping yang modelnya spiral, ukurannya sempit, nikung banget, curam pula, memang diset untuk para budak/pegawai kali ya.

Nah, saat saya harus melewati tangga tersebut untuk menuju dapur yang ada di basement, GEDUBRAK! terjadilah kecelakaan. Antara malu dan sakit, mana suasana hening  pula.
“Are you okey?” tanya pengunjung bule lainnya. Masa kujawab gak okey, ya okeyin aja deh. Walaupun ngejoprak agak lama di sana 😀

Dengan tertatih, saya keluar museum. Di koling-koling itu pasukan genk kemana.. gak ada yang nyaut. Pada anteng maen prosotan apa pada ketiduran bejemur gitu ya? Sementara my partner in crime entah kemana karena doi juga punya projek sendiri di seputaran saya. Akhirnya, beberapa saat kemudian semua aprokan dan kembali buka lapak di taman depan Royal Crescent ini.

Bath, Royal Crescent
Abaikan kaos kaki putih di depan kami, karena abis ngurut pergelangan kaki saya yang mulai membengkak 😀

Ya sudah, lupakan kaki bengkak, mari kita lanjut kembali piknik, mumpung matahari panass… padahal udah jam 7 ini. Kembali buka perbekalan n BBQ lain, anggap aja makan malam 😀

Bath itu dekat dengan Bristol, jadi kalau melancong ke Bath jangan lupa mampir ke Bristol? Ada objek wisata apa saja di Bristol? Banyak! Salah satunya kamu bisa ke sini:

Pelabuhan Bristol Jadi Objek Wisata Andalan 

Resensi Buku Jelajah Inggris

Inggris selalu menjadi salah satu pilihan para pelancong untuk dikunjungi. Tidak hanya karena mercusuar gaya hidup internasional, tetapi juga karena kaya akan budaya. Tidak heran banyak penulis lahir dari negeri Ratu Elizabeth ini. Seperti Arthur Conan Doyle yang terkenal dengan tokoh detektifnya, Sherlock Holmes.

Tokoh detektif Sherlock Holmes lebih terkenal ketimbang penulis novelnya. Ada 56 cerpen dan 4 novel yang fenomenal, kesemuanya telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa dan tersebar ke seluruh dunia. Selain itu Sherlock Holmes telah dijadikan dalam film, mulai klasik hingga yang modern dan juga dijadikan serial. Karena, fenomenalnya Sherlock Holmes pula, maka dibuatlah museum Sherlock Holmes.

Museum Sherlock Holmes adalah kantor atau rumah Sherlock dan temanya Dr. Watson yang dipakai dalam film klasiknya. Letaknya hanya berjarak satu blok dengan Museum Madame Tussaud, tepatnya di Baker Street No. 211b. Di depan pintu museum ada pegawai museum yang memakai seragam polisi. Sebelum masuk ke museum, harus membeli tiket dulu di toko suvenir sebelah museum.

Buku Jelajah Inggris
Resensi Jelajah Inggris dimuat di Koran Radar Sampit,16 Agustus 2015

Selengkapnya silakan baca di sini.

Desa Liliput

Ada yang pernah dengan kata “liliput ?
Ehm, sepertinya hanya angkatan empatlima saya ke atas yang pernah dengar kata ini.
Jadi, kalau masa kecil kamu pernah dengar kata liliput. Tandanya kamu udah tua! 😛

Pertama kali saya mendengar kata liliput dari mamah saya. Dulu, duluuu… banget, waktu saya kecil. Waktu itu mamah sering mendongengkan tentang liliput dan negri raksasa. Saking seringnya mamah bercerita tentang negri raksasa dan liliputnya, hingga tertanam di daya khayal saya. Bahwa negri raksasa itu ada. Bahwa liliput alias manusia bentuk mini itu ada. Dalam pikiran saya waktu itu, manusia liliput itu seukuran jari-jari manusia.

Ehhmm.. daya imajinasi seperti inilah yang kayaknya masih nempel di otak saya yang kadang suka bikin cernak fantasi. Seperti yang pernah dimuat di bobo berikut ini. 😀

*****

Time Flies.

Pada awal 2010, tepatnya, pas, persis, di tanggal 1 Januari. Saya dan keluarga nonton film berjudul Gulliver’s Travels. Saya inget banget moment ini. Soalnya memorable banget. Alias dongkol banget.

Ceritanya waktu itu, dalam rangka celebrate something, bapaknya anak-anak ngajak nonton. Biasalah, si bapak ini serba teknologi, sampe-sampe pesen tiket pun via inet.
“Ayo, anak-anak, mau film apa? Mau nonton yang jam berapa? dimana?” kata si bapak.

Kalau tanya dimana, ya gak ada pilihan lagi. Pastinya cuman di VUE Cinema. Satu-satunya bioskop yang ada di kota kami 😛 Cian ya? 😀

Mungkin maksud di bapak mau ngajak nonton ke luar kota? 😀 Ah, ga usah lah. Masa untuk nonton film yang sama harus ke luar kota.

Waktu itu film Gulliver’s Travels baru aja keluar. Udah gitu, yang mainnya Jack Black. Pas banget. Si Jack Black ini kan aktor idolanya si bungsu. Gara-gara akting sebelumnya di film School of Rock yang bikin ia suka. Hingga ditonton berkali-kali. Dan, bahkan, sountrack lagu film ini kami masukan dalam lagu pilihan peneman road trip kami lintas England-Scotland. Seru deh, nyanyi-nyanyi bareng lagu ini.

Balik lagi ke soal film Gulliver. Saya pikir, karena film ini baru keluar, maka kami pesan tiket online plus milih tempat duduk sendiri, VIP pulak.

Dan ternyata pemirsah! di kota Worcester saat itu sepi sodarah-sodarah. Termasuk suasana Vue tersebut. Dan kamipun baru sadar. Ya ea lah. Ini kan tanggal 1 Januari. Ini bukan Indonesia. Ini Inggris. Dimana mereka masih pada nyungsep akibat hangover. Sisa mabok semalam. Milih jam tayang siang pula. Walhasil itu kursi bioskop kosong melompong. Ya.. hanya bisa dihitung jari gitu deh. Nyesel bingits pilih korsi VIP 😛
Ah, dasar!

Tapi, asik juga, sih. Jadi serasa bioskop pribadi. Film dimulai dan kami menikmatinya.

Adalah Gulliver. Seorang OB di sebuat perusahaan media cetak. Ia mendapat tantangan untuk membuat sebuah artikel. Dengan modal kopas sana-sini artikel tersebut diacungi jempol oleh bosnya. Hingga akhirnya ia melakukan sebuah ekpedisi. Maka dari itu film ini diberi judul Gulliver’s Travel. Nasib sial menimpa si Gulliver, singkat kata, doi terdampar di Negri Liliput.

HEI! ini kan dongeng sebelum tidur yang sering mamah saya ceritakan dulu.

Ebentar.. ebentar.. saya coba mengingat-ngingat kembali masa kecil saya. Seingat saya, waktu saya kecil, saya juga pernah nonton film sejenis ini di TV. Dulu… duluu.. banget.

Eh, dan ternyataa… emang cerita ini diambil dari novelnya Jonathan Swift yang ditulis pada abad 18. Ya pantesan aja. Artinya Gulliver’s Travel yang dimainkan oleh Jack Black adalah versi kesekian.


Negri liliput
Yang baju merah temannya Gulliver 😀 Foto diambil taun 2010’an deh kayaknya.

Nah, ngomongin soal negri liliput. Mari kita bayangkan dengan seting tempat hasil liputanku ini…. (Gak nyambung dengan prolognya sih) 😛

Mewawancarai Duta Besar RI untuk Inggris (lagi)

Setelah foto-foto dengan teman mayaku yang nginep di rumah beserta gangnya, kami, The Sudayas langsung meluncur ke Nottingham untuk menghadiri Indofest. Rencana awalnya sih kami mau konvoi (heuheu.. 2 mobil doang dibilang konvoi) dengan mobilnya Yu Mala menuju Indofest. Tapi The Bolangers ini mengubah rencana. Mereka travel dulu ke Wolverhampton baru nanti janji ketemuan di Indofest.

Setelah 1,5 jam perjalanan tibalah kami di Nottingham. Waktu menunjukkan kurang dari jam 11. Artinya masih ada waktu beberapa saat sebelum pertandingan badminton dimulai. Jadi ceritanya nih, bapaknya anak-anak mau tanding badminton gitu… Mewakili PPI Bristol. Meski tinggal di Worcester tapi kami tergabung dalam rombongan tagoni komunitas Bristol. Nebeng gitulah. Maklum, di Worcester ini hanya kami orang Indonesianya. Cian ya? 😀

Well, pertandingan badminton dimulai. Si Yayang nyuruh saya mendokumentasikan permainannya.
“Deuh, udah kayak Ahsan aja.” 😀
“Eh.. bukannya gitu. Biar bisa mengamati gerakan sendiri. Terus bla.. bla.. bla…”
“Okedeh kaka…,”
Akhirnya, selama doi tanding, saya nge-shoot di pojokan lapang.

Beres tanding, saya langsung cabut.
“Udah, ya, kaka.. Adik mau ngeliput dulu. Secara, hari makin siang. Takut gak dapat banyak scene n Pa Dubesnya keburu pulang.”
“Baiklah, adik. Pergi sana, gih!”
😛

Sebelum menuju lapangan tempat gelaran Indofest, saya mlipir dulu ke lapangan bola. Eh, tenyata, anak PPI Bristol blom maen. Ya udah, cap cus ke lapangan. Ealah, acara udah berlangsung lama dan berlangsung seru. Pertunjukkan demi pertunjukkan berupa tarian dan nyanyian telah berlangsung. Udah deh saya liput sana-sini. Setelah pentas seni usai, Pa Dubes pun bebas tugas 😀 Secara, beliau ditunjuk menjadi juri. Keren gak tuh, Dubes jadi juri. Jempol deh buat Pak Hamzah Thayeb, Dubes RI untuk Inggris. Jempolll..
*Sttt…. kira-kira, Pa Dubes baca postingan ini gak, ya? 😀

Setelah Pa Dubes meninggalkan kursinya, saya merapat.
“Met siang pa. Saya Rosi.. bla.. bla..bla….”
Belum juga saya menamatkan kalimat, beliau udah nembak.
“Oiya, ini yang mewawancara saya di BIS itu kan? Yang waktu ambil scene itu melawan sinar matahari bla.. bla.. bla….”

Tuing! jangan-jangan, Pak Dubes baca postingan saya ini. Kalau iya. Wah, gaswat 😀

“Bapak, mau sampai jam berapa di sini?”
Lagi-lagi, ini pertanyaan kurang ajar saya 😀
Maksudnya kali aja bapak cuman hadir sebentar seperti di acara BIS itu.

“Saya sampai sore di sini,” jawab beliau sambil melirik jam tangannya.
“Baiklah, pa. Sebaiknya, kita lakukan wawancara dimana, ya, pa?”
Lagi-lagi, pertanyaan yang sama yang saya lontarkan seperti wawancara pertama kali dulu.

“Ayo, kita ke sana!”
Dan kami bertiga pun menuju pinggiran lapang yang sangat luas di Indofest itu. Bertiga?
Iya, bertiga.
Saya, Bapak Dubes dan Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London.

“Sebaiknya di sini saja. Backgroundnya pas banget deh, tuh,” ucap Pak Atdikbud.
Baiklah, saya pun nge-set HP. Siap-siap mewawancara. Sebelumnya saya lemparkan beberapa pertanyaan kepada Pak Dubes. Pandangan mata Pa Dubes pun langsung tertuju ke arah HP saya.

Sementara itu, Pak Atdikbud berdiri di belakang saya. Tetiba beliau melemparkan pertanyaan kepada Pak Dubes.
“Bagaimana menurut Pak Dubes tentang acara ini… bla.. bla.. bla….”
Weiissstttt… mantappppp…
Serasa diasistenin Pak Atdikbud, heuheuheu…
Duh, jangan-jangan, postingan ini dibaca juga sama beliau.
Pisss… Bos…
N Makasih tentunya 😀


I
Dubes RI di Indofestn action, foto taken by Pak Atdikbud. Makasih banyak pa.

“Thank you,” kata saya kepada Pak Dubes seusai diwawancara.
“Terima kasih,” jawab Pak Dubes.
Deuh, malu aku malu, pada semut merah 😀

Nah, setelah misi berhasil, kini waktunya sambil berenang minum air 😛
Dan saya pun mengeluarkan buku saya “Jelajah Inggris” 😀
Modussss…. 😛

“Pak, ijinkan saya memberikan buku ini kepada bapak,” ujar saya mesem-mesem.
Dan Pak Dubes pun tersenyum senang (mungkin, entahlah) 😛
Hanya beliau dan Tuhan yang tahu 🙂
Semoga senyuman beliau tidak diiringi ucapan dalam hati, “Eh, apaan nih si ibuk,” 😀

Pak Dubes langsung membaca Sinopsis di bagian cover belakang buku Jelajah Inggris tersebut dan berkata,
“Wah, sudah lama sekali saya tidak menemukan kata “pelancong”,” beliau berseloroh ramah.
Dan inilah penampakkannya ketika beliau berseloroh tersebut.

Hamzah Thayeb dan buku jelajah inggris

 

“Semoga buku ini ada manfaatnya,” ucap saya, “Eh, saya ngak yakin juga sih, apakah buku ini akan ada manfaatnya untuk bapak.”
Hahaha… saya ketawa sendiri. Secara, ini kan Dubes RI untuk Inggris gituloh.

“Terima kasih atas waktunya,” ucap saya. Kami berjabat tangan, “Selamat ulang tahun ya, pa.”
“Loh, siapa yang ulang tahun?” seloroh Pak Dubes sambil tertawa kecil.
“Udah telat ya, pa,” sambung saya ikut tertawa juga.
Secara, ultah beliau emang minggu yang lalu.

Baiklah, sambil lalu Pak Dubes memasukkan buku Jelajah Inggris ke dalam saku jasnya.
“Eits, bentar pa. Keren nih,” sergah saya. “Ijin foto dulu, ya, pak?” ujar saya.
“Oiya, silakan,” jawab Pa Dubes ramah. “Ebentar, diginiin dulu dong,” lanjut beliau sambil medorong bagian bawah buku, supaya buku Jelajah Inggrisnya lebih jelas terlibat.

Keren deh bapak. Makasih banget pak. Bangga deh punya Dubes kayak Pak Hamzah. Mengerti akan kebutuhan warganya. Butuh promo untuk buku saya ini maksudnya hehehe..

Kapan lagi coba, promo gratisan. Sama Dubes RI untuk Inggris pulak.

Terima kasih bapak. Sukses selalu untuk Pa Dubes.
Terima kasih juga buat Pak Atdikbud. Sukses selalu.

Hamzah Thayeb, Dubes RI untuk Inggris
Buku Jejalah Inggris di dalam saku Dubes RI untuk Inggris

Dan inilah cuplikan hasil wawancara dan liputan tersebut. Tayang di Net10 tanggal 9 Juni 2015.