Ada Bola Made In Indonesia di Old Trafford

Bagi penggemar sepak bola tentunya sudah familiar dengan klub sepak bola asal inggris,  Manchester United.

Setiap club sepak bola di Inggris menamai kandangnya masing-masing. MU menamai kandangnya dengan sebutan Old Trafford yang terletak di Sir Matt Busby Way, Manchester, Inggris. Old trafford berdiri sejak 1910. Wow, sudah lebih dari seabad, ya?

Mau lihat penampakkan stadion sepak bola lainnya di Inggris? Ayo merapat ke sini…

Villa Park, Kandang Aston Villa

Intip juga kandang Birmingham City FC yang diberi nama St Andrew’s berikut ini.

Dengan kapasitas 80.000 penonton, Old Trafford  merupakan stadion terbesar yang dimiliki club di Inggris Raya dan masuk dalam urutan terbesar kedua kategori stadion sepak bola di Inggris.

Karena sering memenangkan pertandingan dari masa ke masa, MU makin terkenal dan makin banyak penggemarnya. Menurut berita yang dilansir BBC serta website resmi  MU, pada tahun 2012 fans MU berjumlah 659 juta orang yang berasal dari berbagai negara di dunia.

Kepopuleran MU menjadikan Old Trafford masuk urutan pertama stadion yang banyak dikunjungi di Eropa. Tak heran, saat cuaca dingin menusuk tulangpun tidak menyurutkan  pengunjung untuk datang ke sini. Seperti yang saya lakukan ketika musim dingin beberapa waktu lalu.

Bola made in Indonesia di Old Trafford 

Selain wisatawan/pengunjung bisa melakukan tur berkeliling stadiun Old Trafford, pengunjungpun bisa membeli cindera mata di sini. Toko suvernir Old trafford bernama Mega Store.

Tidaklah mengherankan dinamakan Mega Store karena areanya luas, jenis dan barang yang dijualnya banyak. Bahkan Mega Store diklaim sebagai toko suvenir terbesar diantara toko suvenir club sepak bola lainnya di  Inggris.

Lebih dari 800 jenis produk dijual di sini. Mulai dari suvenir kecil seperti gantungan kunci, mug, syal hingga jersey, jaket dan sebagainya.

Harga yang ditawarkan sangat bervariasi. Mulai yang termurah sekitar £2 atau sekitar 36.000 rupiah untuk sebuah pensil berlogo MU. Hingga jaket MU seharga nyaris £100 atau sekitar 1,8 juta rupiah.

Dari sekian banyak jenis barang yang dijual, kaos bola mendominasi Mega Store ini. Uniknya kaos-kaos dan jacket ini mayoritas buatan asia. Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya menemukan kaos MU made in Indonesia namun sayangnya, kini saya tidak menemukan lagi jersey MU made in Indonesia. Malah jersey MU didominasi oleh buatan Vietnam. Sungguh disayangkan.

Namun demikian, masih ada satu yang membanggakan. Bahwa, bola sepak berbahan kulit dan berlogo MU ini salah satunya dibuat di Indonesia. Ya, bola made in Indonesia ada di Mega Store Old Trafford. Harganya £15 atau sekitar 270.000 rupiah.

Semoga kedepannya tak hanya bola sepak made in Indonesia saja yang bisa mejeng di sini, tapi juga produk-produk lainnya. Seperti jersey (lagi), jaket , sepatu bola dll 😉
Aamiin YRA.

Mau ngintip seperti apa penampakkan bola made in Indonesia di Old Trafford tersebut? Intip aja video berikut ini!

 


NetSport, NET TV, Net_CJ Rosmel, 20032016

Serunya Cerdas Cermat Ala Oxford

PPI Oxford, london, cambridge

Sabtu kemarin Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford, London dan Cambridge mengadakan acara bertajuk Loxbridge Challence. Adapun challence tersebut serupa pertandingan cerdas-cermat ala TVRI ketika masih berjaya. Sekarang, masih adakah acara seperti itu di Indonesia? 😀

Acara yang digelar di ruang Habakkuk Room Jesus College Universitas Oxford ini tidak hanya sebagai ajang  menguji wawasan tapi juga bertujuan  mempererat persatuan antar para pelajar Indonesia di Inggris. Khususnya antar ketiga lokaliti PPI tersebut, yaitu PPI London, PPI Oxford dan PPI Cambridge.

Meski hanya dimeriahkan tiga lokaliti PPI namun tidak mengurangi keseruan acara yang digelar dari siang hingga sore hari ini.

Gelaran cerdas cermat berlangsung seru, serius tapi santai. Adapun tema yang dilontarkan kepada peserta mencakup beragam tema. Tak hanya science dan teknologi tapi juga pengetahuan seni dan budaya, baik Indonesia maupun dunia.

Serunya lagi, ada pertanyaan seputar musik dalam negeri beserta artisnya. Seperti pertanyaan berikut ini:
“Kapankah tanggal pernikahan Armand Maulana dan Dewi Gita?”
Spontan peserta dan penonton riuh tertawa.
Setelah juru bicara Regu Cambridge mengangkat tangan, langsung iapun bernyanyi ala Armand Maulana, “Sebelas januari bertemu…”
Tepuk tangan dan tawa makin seru.

Pertanyaan dilontarkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Adapun pesertanya terdiri dari empat regu. Dimana satu regu terdiri dari empat orang. 2 regu dari PPI Oxford, 1 regu dari PPI Cambridge dan 1 regu dari PPI London. Mayoritas peserta cerdas cermat ini rata-rata pelajar Indonesia yang tengah mengambil program PhD.

Intip juga kegiatan Perhimpunan Pelajar Indonesia Oxford di artikel berikut ini:

Oxford-Indonesia Forum 2015

Yang menjadikan acara ini seru adalah karena suport dari tim masing-masing yang sengaja datang dari London dan Cambridge serta tentunya tuan rumah, Oxford.

Pertandingan dibagi dalam 4 sesi, masing-masing sesi diberi jarak 15 menit. Dua sesi pertama diakhiri tea time. Di bakbak final melaju PPI Cambridge melawan PPI tuan rumah Oxford. PPI Cambridge digawangi Arief, Rierins, Elly dan Sabrina. Sementara PPI Oxford digawangi Dirgahayu, Najib, Nadine dan Enver.

Perolehan nilai yang ketat membuat babak final ini bertambah greget. Pertanyaan terakhir disambar PPI Oxford dan berhasil menambah nilai akhir 10  point. Total perolehan angka 140 untuk PPI Oxford dan 170 untuk PPI Cambridge.

Dengan demikian PPI cambridge keluar sebagai juara pertama dan berhak mengantongi hadiah sebesar £150. Disusul juara kedua, tuan rumah, PPI Oxford.

Dua sesi diakhiri tea break dan di sesi terakhir diakhiri dengan makan bersama dalam suasana hangat penuh keakraban. Dimana makanan terhidang berupa makanan Indonesia tentunya. Hiburan musik spontas menambah hangat suasana acara makan di salah satu ruangan di Jesus College Universitas Oxford ini hingga malam menjelang.

Satu pemandangan yang khas dari Kota Oxford adalah sepeda! Ya, sepeda! Ngak percaya? Mari merapat…

Asiknya Bersepeda di Oxford

Menurut Presiden PPI Oxford, Rahmat Mulyawan, acara yang baru digelar pertama kali ini akan dijadikan acara rutin tahunan dengan mengundang lebih banyak lagi lokaliti PPI lainnya di Inggris.

Mau tahu seperti apa keseruan cerdas cermat ala mahasiswa Indonesia di Oxford ini? Ini dia tayangannya:

NET10. N53Rosmel.23032016

Suporter Sambut Kemenangan Praveen-Debby di Inggris

Kabar gembira kemenangan tim ganda campuran indonesia di All England 2016 disambut hangat oleh para suporter indonesia yang menonton di Barcleycard Arena Birmingham pada minggu 13 maret 2016.

Pasangan Ganda Campuran Indonesia Praveen Jordan – Debby Susanto berhasil mengalahkan pasangan Ganda Campuran dari Denmark Joachim Fischer Nielsen – Christinna Pedersen dengan perolehan angka 21-12 21-17.

Suka cita yang dirasakan Praveen Jordan – Debby Susanto inipun dirasakan juga para suporter Indonesia yang mayoritas adalah mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Inggris.

Mereka rela menunggu berjam-jam Praveen Jordan – Debby Susanto keluar dari pintu keluar atlet demi mengucapkan selamat sebagai ungkapan kebahagiaan.

Para suporter tersebut tak hanya student yang tinggal di Birmingham tapi juga berdatangan dari kota-kota lainnya seperti dari Kota london, Bristol, Liverpool, bahkan ada pula dari Southampton yang memakan waktu perjalanan 6 jam dengan berkendaraan bus.

PPI UK Suporter All England
Ini dia penampakkan suporter PPI UK yang datang dari berbagai kota di Inggris. Demi All England, apa sih yang enggak 😉

Perjuangan yang dilakukan para suporter ini berbuah manis, hingga sesi foto bersama dan berburu tanda tangan Praveen Jordan – Debby Susanto menjadi keseruan tersendiri.

Selain suporter mahasiswa Indonesia yang studi di Inggris suporter lainnya ialah bapak Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Dr. Rizal Sukma beserta istri dan rombongan dari KBRI London. Kebetulan pula Menteri Keuangan Bambang  Brodjonegoro turut hadir dan memberikan suport kepada tim Indonesia di All England 2016 disela kunjungan kerjanya di Inggris.

Jamuan makan malam dari Pak Dubes untuk kami semua 

Kemenangan  Praveen Jordan – Debby Susanto di All England diapresiasi oleh Duta Besar RI untuk Inggris, Bapak Dr. Rizal Sukma dengan mengajak kami, para atlet, tim pelatih, official, sebagian suporter Indonesia untuk makan malam di sebuah Rumah Makan di kawasan Pecinan Birmingham. Suasana hangat pun tercipta.

Tak sekadar makan malam, acara ini lebih kepada kumpul-kumpul kekeluargaan antara atlet, official, Dubes dan para suporter indonesia yang mayoritas mahasiswa indonesia. Sayangnya yang hadir di sini tidak semua suporter Indonesia yang menyaksikan final All England. Karena banyak suporter yang harus pulang menuju kota asalnya masing-masing.

Obrol-obrol berlangsung hangat diantara kami. Tak lupa sesi berfoto dan meminta tanda tangan atlet menjadi bagian seru di acara ini. Dalam kesempatan yang sama, selaku Kasubid Pelatnas, Ricky Subagja menyampaikan kegembiraannya atas kemenangan yang diraih Praveen Jordan – Debby Susanto.

Acara makan yang memakan waktu cukup lama ini diakhiri sesi foto bareng Pak dubes beserta tim KBRI, para atlet beserta tim pelatih-official, dan suporter yang super heboh. Restoran yang didominasi kamipun tampak riuh. Bahkan hingga acara bubar dan berlanjut di pelataran Resto dengan foto-foto, teuteupp….

Mau tahu keseruan liputannya? cekidot!
Tayang hari ini NET 10

N10. N50Rosmel. 14032016.

*Maaf, terdapat kesalahan narasi yang berakibat kesalahan voice over. Tertulis Indonesia menang atas Swedia, seharusnya menang atas Denmark* Artikel selanjutnya bersambung ya…. Insya Allah

Oxford-Indonesia Forum 2015

Pada Minggu, 25 oktober 2015 diselenggarakan Oxford-Indonesia Forum yang berlangsung di Habakkuk room, Jesus College, University of Oxford. Forum ini diprakarsai oleh PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Oxford. Dihadiri oleh para mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Inggris, Duta Besar Indonesia untuk Inggris Raya dan Irlandia, perwakilan dari pemerintahan Indonesia juga menghadirkan pakar dan akademisi dari Universitas Oxford, diantaranya ialah: Dr. Tim Coles OBE, Project Director and Founder, Operation Wallacea. Prof. Martin Speight, Associate Professor of Agricultural & Forest Entomology, Departement of Zoology, University of Oxford.

Sedangkan perwakilan dari pemerintahan Indonesia menghadirkan Bapak Nurul Ichwan selaku Director, Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) London. Juga menghadirkan Ibu Laksmi Dhewanthi dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang pada kesempatan Forum ini terhubung melalui Google Hangout karena satu dan lain hal berhalangan hadir di Oxford.

Menurut Samuel Leonardo Putra selaku Chairman of Oxford-Indonesia Forum 2015, tujuan penyelenggaraan acara ini adalah untuk membantu pembangunan Indonesia, menjembatani para pakar dan akademisi Oxford dengan pemerintahan Indonesia, serta menjadi forum berbagi ilmu dan pengalaman seputar pembangunan yang smart dan green. Dari Indonesian Student (Oxford) untuk Indonesia. Adapun salah satu misi acara ini adalah untuk memperkuat ikatan hubungan antara Indonesia dengan Universitas Oxford. Samuel berharap, gelaran pertama ini bisa berlanjut di tahun-tahun selanjutnya.

Gelaran ini mengambil tema “Smart Green Development of Indonesia” yang artinya bahwa sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki indonesia harus bersinergi menciptakan pembangunan yang smart dan green.

Menurut ketua PPI Oxford, Rahmat Mulyawan MSc yang tengah mengambil studi PhD di Universitas Oxford, ide pengambilan tema ini adalah: sebagai negara berkembang, Indonesia tengah membangun di segala bidang. Satu hal, Indonesia memiliki potensi yang besar. Yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusianya itu sendiri. Dua modal besar ini harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Bagaikan pedang bermata dua. Kedua modal besar ini bisa bersinergi membawa manfaat seluas-luasnya bagi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia ke depannya. Namun juga bisa menjadi sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik dan benar, tidak smart dan green. Pastilah bencana, malapetaka, musibah dan kerugian lainnya akan dialami bangsa Indonesia. Lihat saja kabut asap yang menjadi isu besar di negeri ini.

Maka, adalah sangat penting pemahaman konsep “smart and green development of Indonesia” ini. Bahwa, pengelolaan sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan teknologi harus bersinergi dalam penerapan pembangunan di Indonesia tanpa merusak Sumber Daya Alam yang kita miliki, tanpa merusak Ekosistem.

Menurut Bapak Nurul Ichwan selaku Director Indonesia Invesment Promotion Centre yang berkantor di London, forum ini merupakan sebuah sarana/media pembekalan untuk mentransfer pengetahuan dan pengalaman dari para ahli/para profesor Oxford yang melakukan riset di Indonesia. Diharapkan kita bisa banyak belajar dari mereka yang nantinya bisa diterapkan di Indonesia. Dalam hal inipun dihadirkan perwakilan dari pemerintah indonesia dan pihak swasta melalui forum teleconference (media google hangouts).

Forum yang berlangsung padat mulai pukul 9 hingga pukul 4 sore ini dibagi dalam beberapa sesi. Semua sesi berlangsung menarik. Termasuk sesi tanya jawab yang dilemparkan oleh para peserta forum yang merupakan para mahasiswa Indonesia dari berbagai kota yang tengah studi di Inggris. Meski 97% peserta yang hadir adalah orang Indonesia yang tentunya faham berbahasa Indonesia, namun forum ini berlangsung dalam Bahasa Inggris. Sungguh, hadir dan menjadi bagian dari forum ini membuka mata dan hati saya, betapa anak-anak bangsa yang kita miliki yang tengah studi di sini merupakan asset-aset bangsa bernilai tinggi. Di pundak mereka nantinya Indonesia akan mereka bawa. Kearah lebih baik tentunya.

Penutup rangkaian kegiatan ini menampilkan pertunjukan tari dan musik yang dipertontonkan oleh PPI Oxford.

Berikut ini laporannya yang tayang di NET 10, NET TV, pada Selasa 27 Oktober 2015.

Kegiatan inipun telah dimuat pula di Koran Pikiran Rakyat Edisi Kamis 5 November 2015, Rubrik Kampus.

mahasiswa indonesia berkuliah di oxford inggris