Tersesat di Scotland, Jadilah Cernak di Bobo

Beberapa tahun lalu saat road trip ke Scotland, kami tersesat. Tepatnya di pusat kota Edinburgh, yang artikel perjalanannya mejeng di sini.

Jadi ceritanya begini, waktu itu parkiran di tengah kota Edinburgh waduh.. susyahnya minta ampyun. Dua kali muter city center gak dapat tempat parkir (maksudnya nyari gedung parkir gitu). Di sini kan gak bisa parkir di pinggir jalan sembarangan. Kalau bandel parkir sembarang siap-siap aja £60 melayang ;).

Ketika itu kami masih suka jalan dengan pasukan komplit. Papi, mami, teteh, dede 😀 Baiklah, akhirnya pasukan dipecah dua 😉 Saya dengan si sulung, papinya dengan si bungsu. Cewek dengan cewek, cowok sama cowok dong ya… haha..

Saya dan si teteh turun duluan, sementara itu pa supir masih kebingungan nyari tempat parkir yang rencananya bersama si dede bakal nyusul kami di tempat yang telah dijanjikan.

Akhirnya, saya jalan duluan bersama si sulung di tengah kota Edinburgh yang kala itu sedang ada festival yang ramenya minta ampyun. Nonton festival, jalan, jajan, poto-poto, berburu suvenir dll. Sementara itu, pasukan cowok dengan acaranya masing-masing.   Diantara waktu itu kami telpon-telponan mau janjian dimana.

Karena sibuk dengan acara masing-masing sedangkan jatah parkir (berbayar, di pinggir jalan) sebentar lagi habis, maka suami memutuskan janjian di tempat parkir saja. Untuk menuju destinasi berikutnya sebelum malam menjelang.

Via telpon Pa Suami memandu dimana letak parkir itu. Karena gak hapal areanya, walhasil kami (saya dan si sulung) malah nyasar kemana-mana, mana waktu parkir habis lagi (padahal udah diperpanjang bayarnya).

Waktu makin mepet, takut kemalaman tiba di kota berikutnya, capek, hujan, nyasar lagi, jatah parkir habis, pa supir cabut, marah-marah ia. Oiya, untung si pa supir ini melek tekno, doi bilang suruh buka App “Find Friend” di smart phone saya. Hayah! Hpnya mati akibat dipake telponan mandu jalan dari tadi. Untunglah HP si kuteh masih bisa dipake, meski lowbat. Akhirnya, tersambunglah kami (dua grup ini) dengan App “Find Friend” tsb. Oh, syukurlah..

Waktu itu hujan gerimis. Duh, Scotland! (boleh intip artikel yang ini :D) kamu emang gitu deh. Bentar panas, bentar hujan. Bentar gelap, bentar terang. Akhirnya, pa supir nyuruh kami nunggu di satu tempat. Yasud, saya dan si kuteh nunggu di pelataran sebuah gedung tua di Kota Edinburgh yang cantik.

Di App tersebut titik merah terus bergerak-gerak menghampiri kami. Ehm.. semakin dekat nih, saya tengok ke arah kanan sesuai titik merah di Smart Phone si kuteh. Dan, tak lama, berkat titik koordinat yang diberikan satelit, memandu pa sopir menghampiri kami. Alhamdulillah… tersesat di kota cantik inipun menjadi kenangan tersendiri buat saya.

Dan ketika saya ingin membuat cerpen anak, saya angkatlah tema ini. Tapi, tentunya ubah seting tempat, ganti penokohan, ganti alur dsb. Cuman idenya saja yang saya ambil.

Jadi, masih bingung nyari ide untuk sebuah cernak? plis deh! ide itu bisa kita dapat di sejuta tempat, sejuta kenangan, sejuta kejadian kita sehari-hari 😉 Seperti ide-ide cernak saya lainnya yang nyaris 90% merupakan pengalaman pribadi.

Dan, cerita beride awal tersesat di Scotland itupun jadilah cernak yang dimuat di Majalah Bobo edisi 6 yang terbit tanggal 19 Mei 2016 berikut ini:

Majalah bobo rosimeilani.com

Buat yang masih bingung nyari ide untuk cerpen anak, bisa diintip pengalaman konyol bapak saya yang berhasil saya buatkan cerpen anaknya berikut ini.

Cerpen Bobo, Muatan Lokal, Edisi 18

Alhamdulillah cerpen saya dimuat lagi di Majalah Bobo (edisi 18), setelah dua cerpen sebelumnya berturut-turut dimuat di sana (edisi 16 &17).

Tema cernak kali ini lain dari biasanya. Yaitu mengangkat tema bermuatan lokal. Jika cerpen Janji Salju lebih ke muatan ke Eropa-eropaan atau Pesta Putri Sherly lebih ke dongeng putri-putrian, maka cernak kali ini lebih ke cerita permainan jaman saya kecil dulu.

Sebenarnya, dari kapan taun saya ingin menuliskan cerpen ini. Cuman dulu saya pikir, apa cerita ini bakal jadi menarik? Setelah maju mundur cantik mood dan lama terlupakan, maka ketika saya ingin membuat cernak, saya semedi mikir sejenak. Ehm… kali ini nulis cernak tema apa ya?..

Setelah buka-buka draft lama yang pada menggantung, akhirnya dipilihlah cernak ini. Judulnya Dirawu kelong. Heuheu.. judulnya gak okey banget, ya?

Cerpen ini bermuatan lokal Jawa Barat. Buat Orang Sunda seangkatan saya, pasti senyum mengerti arti judul ini. Tapi buat non Sunda dan anak kemaren sore atau usianya 20-10 taun di bawah saya, mungkin gak kenal dengan kata ini.

Bersyukur saya lahir, tumbuh dan besar di era non gadget seperti sekarang ini. Sehingga bisa menikmati semua permainan tradisional pada masa itu. Bermain petak umpet salah satunya. Permainan ini memiliki banyak nama, tergantung daerahnya. Kalau di Tatar Sunda, kami menyebutnya ucing sumput. Dari sinilah ide cernak saya ini bermula.

Ketika saya ingin membagikan cerita sebuah permainan jadul ini, saya harus berpikir lebih. Kira-kira, bumbu apa yang sekiranya bisa membuat manis cernak ini. Akhirnya saya eksekusilah cernak ini dengan judul yang agak aneh (menurut saya) dan konflik hilangnya Salma di saat magrib.

Ketika memberi judul “Dirawu Kelong” saya sempet gak PD karena kesannya deso banget. Lalu berpikir, klo Bobo suka konten cernaknya, tak cocok judulnya, pastilah Bobo mengubah judulnya. Ternyata, BOBO memilih judul aslinya.

Dirawu kelong apaan sih? 😀

Jadi, dulu, anak-anak seumuran kami, pantang main di hari menjelang magrib.

Secara ilmiah/agama silaken tanya Mbah Gugel, fenomena alam apa yang terjadi antara perpindahan waktu dari ujung senja ke bibir malam.. tsahhh…

Berat amat, yak, pendalaman materi untuk sebuah cernak, hahaha..

Ketika anak-anak seumuran kami di jaman itu bertanya kepada orang tua kami, biasalah.. untuk memudahkan jawaban, mereka sering kali mengeluarkan kata-kata pemungkas yang kadang ngak masuk akal.
“Bisi dirawu kelong!”kata mereka 😀

Dalam Bahasa Sunda,
dirawu = diambil dari posisi atas (ngarawu beas = menyiduk beras)
kelong = kelelawar
Jadi dirawu kelong artinya diambil/diculik/ditangkap dari posisi atas oleh kelelawar.
Lah, kelewar kan kecil 😀
Itulah ajaibnya orang tua dulu, kadang pinter menciptakan  tokoh myth.
Kelelawar di sini maksudnya kelelawar raksasa yang menyerupai kelelawarnya perempuan hahaha..
Deuh! orang tua jaman dulu tuh ya.. daya imajinasinya tinggi.
Keren tapi, lebih keren dari JK Rowling.
Kenapa mereka dulu ngak bikin novel fantasi ya? 😀

Saya merasa, ketika pertama kali mendengar kata “kelong atau kelong wewe (kelong awewe), saya punya bayangan tersendiri di otak saya.
Itu mahluk duduk di dahan pohon yang besar, bentuknya menyerupai kelelawar raksana dengan tubuh separuh manusia, perempuan, bentuk dan wajahnya menyeramkan. Duduk sambil ucang angge (mengayun-ayunkan kaki). Saat magrib tiba, ia siap merawu (menerkam, menyulik, menangkap kita) Iyyhhh..

Benar-benar hebatlah orang tua dulu menggambarkan myth ini sehingga saya dan teman lainnya pantang main/keluar magrib. Kecuali pergi ke mesjid untuk mengaji (Ini kali pesan moral yang ingin disampaikan orang tua kami dulu)

Balik lagi ke cerpen dirawu kelong ini, tentunya saya tidak menceritakan tentang tokoh si kelong ini. Sayang, majalahnya baru edar, jadi saya blur bacaannya ya… hehehe..
Buat yang penasaran, merapat aja ke lapak koran terdekat, okeh?

Cernak Dirawu kelong

 

Tips, Cernak Bobo Edisi 16

Setelah libur lebaran dapat kabar pemuatan cerpen anak di Majalah Bobo tuh saik banget. Cernak saya kali ini berjudul Face Painting. Seperti halnya cernak saya lainnya, hampir 90% idenya adalah dari kisah pribadi.

Mau tau apa itu Face Painting? klik postingan saya di sebelah ini. 😉

Ketika saya ingin membuat cerpen anak, kadang saya suka ngayal dulu. Kadang sambil liat foto-foto lama. Ehmm… bikin cernak tema apa ya? sambil mikir” gitu biasa muncul deh si ide. Untuk  kali ini, ide cernak saya tentang Face Painting itu tadi.

Sedikit bocoran dan bisikan gaib guru. Katanya Mas Bams, Majalah Bobo suka konflik yang tandem. Halah, apasih? Maksudnya, cernaknya jangan dikasih satu konflik, single, tuntas, beres, udah. Konflik yang single itu kurang seru.

Daripada bingung, saya kasih contoh cernak ini. Berikut sinopsisnya:

Adalah Nayla, ia anak yang pintar menggambar. Dalam sebuah kesempatan bazaar di sekolah ia dan Arida hendak membuka stand. Ide pertama, mereka akan berjualan burger. Mengapa burger? Seting cerita menjurus ke hal tersebut hingga matang. Tapi ternyata ada kendala. Akhirnya mentah lagi.

Plan B. Ide kedua dilontarkan. Yaitu bikin stand tato temporari dengan menggunakan henna.  Ide yang baru dan cukup cerdas kan? Apa itu tato temporari? apa itu henna? gimana cara pakainya? Hal tersebut membuat pembaca cilik tertarik untuk mengetahuinya. Tapi ternyata, plan B ini tidak terlaksana karena adanya kendala.

Plan C. Ide ketiga dilontarkan. Yaitu membuka stand Face Painting. Apa itu Face Painting? Kenapa akhirnya keputusan itu diambil?

Ehm… kayaknya mendingan langsung baca Bobonya aja kali ya? Biar jelas 😉

Intinya tips menulis cernak kali ini adalah: Bikin konflik yang tandem. Jangan yang single. Biar cernak kita jadi lebih seru dan tidak mudah ditebak endingnya.

cerpen anak Bobo

Face Painting, Rosi Meilani, dimuat di Bobo edisi 16, 23 Juli 2015.

 

Tips Nulis Cernak, Bobo, Dramatisasi

Cernak Bobo

Cernak Bobo Edisi 28 Mei 2015

Alhamdulillah pagi ini, lewat FB saya mendapat kiriman foto yang bikin hati senang. Ya, beginilah. Setiap kali karya saya mejeng di Majalah Bobo, Majalah anak yang keren ini, saya baru bisa membacanya jika ada teman yang kirim penampakkan gambarnya.

Ya nasip.. ya nasip… mengapa begini.. baru pertama bercinta sudah menderita. Cukup sekali…  STOP! Lebay ah! Drama banget sih! Lagian itu lagu mana ada yang tau! Secara, pembaca Bobo kan bocah yang masih unyu-unyu. Iya lebay, didramatisasi ah! 😛

Eh, ngomongin soal dramatisasi, cocok banget dengan tema postingan yang ingin saya sampaikan kali ini. Apa itu dramatisasi? menurut buku karangan Tatang Subrata 😀  KBBI daring:
dramatisasi/dra·ma·ti·sa·si/ n 1 penyesuaian cerita untuk pertunjukan sandiwara; pendramaan; 2 hal membuat suatu peristiwa menjadi mengesankan atau mengharukan.

Ide, pesan moral, seting, tokoh, alur dramatisasi

Awal mula ketika akan membuat cernak tentulah harus ada ide awal. Cernak apa nih yang akan kita angkat? Ide itu bertebaran di mana-mana, seperti yang telah saya ulas di sini, contohnya. Nah, untuk kali ini, saya akan mengangkat tema cernak tentang cucu dan nenek.

Jujur, ide awal cernak ini saya dapat ketika anak saya liburan ke tanah air tahun lalu. Dengan modal ide itu, jadilah cernak ini. Tapi, tentunya, ide saja tidak cukup, pesan moral itu penting. Seperti yang telah saya ulas di sini.

Ide sudah ada, pesan moral sudah didapat. Kini waktunya bikin alur cerita, ditambah seting tempat dan tokoh/penokohan.

Cernak berjudul “Dapur Nenek” ini sejujurnya berawal dari curhatan anak saya. Waktu itu dia bilang, “Ma, kondisi dapur nenek, bla.. bla.. bla..
Dari situlah saya mulai membuat cernak ini.

Agar cernak terasa hidup saya harus mendramatisasi kondisi yang ada dengan cara:

  • Saya mengubah tokoh. Anak saya kan udah ABG. So tokoh ini dibuat jadi anak SD. Namanya Amel.
  • Seting tempat, ini udah pas bener. Rumah ibu saya di pinggiran Kota Bandung. Dekat SD, buka warung pula. Yang diubah, UK-Bandung, jadi Bali-Bandung.
  • Alur, dibikin sedramatis mungkin. Tapi tidak lebay dan masuk akal yang penting pesan moral sampai.

Sebagai bocoran, saya kasih sinopsisnya, ya. Selanjutnya pada pegi beli BOBO gih! hehehe..

Adalah Amel, anak SD, liburan ke rumah Nenek. Dapur nenek tidak terawat, karena nenek sibuk di warung miliknya. Amel ada ide merapikan semua itu. Tapi perlu biaya. Nah, di sinilah peran Si Amel menyelesaikan semua permasalahan tersebut.

Kita sedang membuat cernak, jadi usahakan si tokoh anak inilah yang lebih banyak mengambil peran dengan cara dirinya sendiri. Bukan neneknya, ataupun orang dewasa yang ada disekitarnya. Karena pembaca cilik akan lebih senang jika si tokoh anak ini yang berperan. Pengalaman saya dulu, ketika membaca cernak BOBO, sambil membaca, kadang saya memposisikan/membayangkan tokoh itu adalah saya sendiri. Kalo kamu gitu gak, sih 😉

Balik ke bahasan Cernak, bagaimana Si Amel berusaha memecahkan masalah? Si Amel berjualan brownis dengan tujuan, keuntungan dari jualannya itu bisa dipakai untuk mempercantik dapur nenek. Bagaimana ia bersusah payah membuat brownis, menjualnya dan sebagainya dan sebagainya. Di sini lah adegan dramatitasi berperan menghidupkan cerita.

Karena akan sangat gak seru sekali jika penyelesaian masalah dilakukan dengan cara cepat tanpa dramatisasi. Misal, Amel liburan ke rumah nenek. Dapur nenek perlu perbaikan. Amel menelfon Mama. Mama memberikan bantuan. Dapur nenek terlihat bagus lagi. Ya.. mana seruuuu 😀

Bagaimana alur dari pemecahan masalah, klimaks, anti klimaks dan ditutup dengan ending yang baik? Nah, disinilah perlu bumbu-bumbu yang bikin seru cerita. Dramatisasi salah satunya. Lalu ditambah bumbu-bumbu cerita. Lalu ditambah sedikit sentuhan/bantuan para orang dewasa yang ada di sekitarnya. Jangan lupa bikin ending yang bagus, menarik atau bahkan bikin haru.

Sayang, saya belum bisa kasih unjuk naskah mentahnya. Soalnya, kan, Bobonya masih edar. Baru edar hari ini loh, 28 Mei 2015. So, kalo mau baca cerita lengkapnya buruan ke lapak koran terdekat 😀

Gimana, udah terbayang kan, cara mendramatisasi sebuah cernak dari kisah keseharian kita?