Tulisan Perjalanan Majalah Paras, Pesona Wales

Wales adalah Negara Bagian Inggris yang memiliki banyak objek wisata nan amat beragam. Wisata alam, wisata sejarah dan budaya, wisata bangunan tua dan masih banyak lagi. Agar keragaman pesona wisata yang terkandung di wilayah seluas 21 ribu km persegi ini terjelajah sempurna, maka tak cukup hanya sekali – dua kali kunjungan saja.

Ini perjalanan saya ke Wales untuk kesekian kalinya. Jika kunjungan pertama tertarik pada Lembah Valley yang eksotik. Kunjungan kedua tertarik akan bangunan sejarah dan kastil-kastilnya. Kunjungan ketiga tertarik Pontcysyllte Aqueduct, alias jembatan airnya. Maka kunjungan keempat ini saya tertarik akan air terjunnya.

Just Pack and Go

Waktu itu Lebaran kedua, si bapak masih ada cuti tersisa. Ketika sarapan, tiba-tiba muncul tanya: “Mau kemana kita hari ini?” Begitulah kami, terkadang muncul ide travel secara spontan.

Target, wisata alam yang tak jauh dari tempat kami tinggal. Setelah browsing dan berunding dengan teman-teman yang akan ikut berwisata bersama. Maka jatuhlah pilihan pada Brecon Beacon National Park. Dengan tujuan utama mengunjungi empat air terjun yang ada di dalamnya.

Setelah rencana matang dan menyiapkan perbekalan serta mencatat post code pada satnav, mobil pun meninggalkan Kota Worcester. Dengan perkiraan waktu tempuh kurang dari dua jam. Sedangkan dua keluarga/dua mobil lainnya berangkat dari Kota Bristol.

Kami janjian di titik henti yang telah ditentukan. Sesuai dengan yang tertera di website Brecon Beacon National Park. Ternyata, kami tiba lebih dahulu. Setelah menunggu beberapa saat, yang ditunggu tak kunjung tiba. Maka, kami, saya, suami beserta dua bujang cilik memutuskan untuk memasuki Taman Nasional tersebut.

Begitu memasuki Taman Nasional Brecon Beacon (TNBB), nyep..  hening, sunyi, dingin terasa. Meski hari itu matahari bersinar terang, namun udara TNBB begitu sejuk. Akibat rimbunnya pepohonan yang memayungi kami.  Sinar mentari tak diberi ruang untuk memasukinya.

Namun, sesekali, ada dedaunan terhampar di tanah yang berkilau keemasan. Itulah dedaunan yang terkena jatuhan sinar mentari yang berhasil menelusup payung pohon yang amat rindang. Indah sekali.

Kami menapakai jalan bebatuan yang lebarnya sekira satu setengah meter. Di sebelah kiri jalan datar tersebut menjulang dinding bebatuan. Plus pepohonan yang lebat dan tinggi pula. Sedang di  sebelah kanan jalan berbatas jurang rendah/lembah yang cukup curam menuju sungai nan elok.

Dikatakan elok, karena sungai berair bening itu bentuknya unik berkelok-kelok tajam dengan apitan bebatuan besar di kiri-kanan lekukan sungainya. Beberapa sisi sungai tersebut berdinding batu yang tinggi. Eksotik sekali. Ada beberapa lekukan sungai yang dalam. Menjorok ke dinding sungai yang gelap, terkesan angker. Seperti menyimpan misteri.

Kicauan burung yang beraneka rupa dan suara, sungai nan elok, airnya nan bening, suasana nan senyap, udara nan segar, bebatuan masiv, pepohonan tinggi dan rimbun, dinding bantuan alam yang gagah, sesekali terdapat gua kecil, membuat langkah kami terhenti-henti. Demi merasakan detail indah KuasaNYA.

Sekitar satu jam langkah perlahan, tak juga terlihat tanda-tanda air terjun di depan sana. Padahal kami sudah membayangkan keindahan air terjun itu sedari tadi. Seperti yang terdapat di papan informasi di muka pintu masuk TNBB tadi.

Bagaimana ini? Tak ada kabar dari dua keluarga lainnya. Karena begitu memasuki kawasan TNBB sinyal ponsel langsung lenyap. Sehingga kami tak bisa bertukar kabar. Akhirnya kami memutuskan untuk berputar balik, kembali ke pintu masuk tadi. Dengan niat menunggu mereka di gerbang masuk TNBB dan untuk mendapatkan sinyal ponsel.

Ditengah gontai perjalanan balik, perut kami mulai keroncongan. Maklumlah sedari pagi baru terisi ketupat sayur.  Akhirnya kami menemukan tempat membuka bekal makan siang di spot yang tepat.  Viewnya indah. Di pinggiran sungai, di sana terdapat sebuah batu besar nan datar yang cukup luas. Saya tertakjub pada batu yang telah mengkilat dimakan waktu. Batu itu bak karpet alam yang disediakan untuk kami yang ingin menikmati indahnya pingiran sungai itu.

Kami membuka bekal makan. Menunya sederhana dan biasa, namun romansanya sungguh luar biasa. Makan dalam keheningan alam. Dimana di hadapan mata tersaji keindahan sungai yang eksotik lengkap dengan aliran airnya yang bening dan tenang. Hingga dasar sungai, lumut-lumut, bebatuan serta ikan-ikan yang tengah berenang terlihat jelas.

Sengaja kami makan sedikit sekali. Karena masih ada sesi makan siang bersama yang lainnya. Setelah cukup menganjal perut dan merekam keindahan alam dalam ingat, segera kami bergegas, tanpa meninggalkan sampah. Malu rasanya jika meninggalkan sampah. Karena sedari gerbang masuk TNBB tak secuil sampahpun kami temukan di sana.

Tiba di muka TNBB, sinyal kembali kuat. Ternyata, benar saja, dua keluarga lainnya terpencar. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya semuanya berkumpul. Meski benar post code menunjuk di titik pintu masuk TNBB, namun ada jalan lain yang lebih pendek menuju air terjun yang kami maksud. Begitu menurut petugas tourist information centre yang berada di sana. Ketiga mobil pun melaju mengitari separuh kawasan TNBB.

Saatnya Makan, Main, Shalat, Bertadabur Alam

Sekira dua puluh menit, tibalah kami di sebuah area parkir plus lapangan piknik yang luas. Hanya ada dua mobil terparkir di sana. Hmm, mungkin bukan akhir pekan. Pantas saja sepi. Kami segera membuka perbekalan makan siang dan bertukar menu di meja piknik yang tersedia di sana.

Sementara itu, bocah-bocah berlarian ke sana kemari sambil menyeprotkan air lewat water gun-nya.  Dimana airnya didapat dari sungai yang berada di tepi area piknik tersebut. Cukup lama kami menghabiskan waktu di sana. Setelah puas, segera kami mengambil air wudhu di sungai jernih yang amat sangat dingin itu. Hingga kaki kami memerah nyaris beku.

Karpet dan sejadah digelar. Kami ber-shaf. Iqomat diperdengarkan. Takbir, lafaz-lafaz, rukuk, sujud, hening, senyap. Hanya suara serangga, desir angin serta gemericik sungai sajalah yang memecah sunyi. Sendu sekali. Rasanya, saat itu, hanya kami, Tuhan dan Alam.

Usai dzuhur dan Ashar yang disatukan, semua barang dimasukan bagasi. Barulah perjalanan menuju empat air terjun kami mulai. Tiga keluarga, dua belas orang. Ayah, bunda dan anak-anak. Riuh sekali perjalanan kami menapaki jalanan bebatuan, sempit, dipeluk alam yang sunyi dan pepohonan lebat. Riuh itupun kemudian tak terdengar lagi setelah lelah datang.

Swing.. swing…

Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun pertama. Segera kami merapat, penuh antusias. Di tepi air terjun tersebut terdapat swing atau gelayutan/ayunan yang terbuat dari seutas tambang nan kuat dengan dudukannya dari kayu melintang.      Kehadiran swing itu menarik perhatian kami. Beberapa dari kami mencobanya. Lumayan ekstrem. Letaknya tinggi, ketika terayun jauh, sejajarlah badan kita di tengah sungai yang curam, beraliran deras dengan bebatuannya yang tajam. Namun demikian, saya menikmati ayunan alam tersebut. Ngeri-ngeri sedap. Semakin terayun jauh, semakin ngeri sedap. Jika tak ingat waktu dan yang lain menunggu, rasanya ingin berlama-lama berayun-ayun liar di swing tersebut.

Lepas dari air terjun pertama, perjalanan dilanjutkan, kembali didekap alam. Jalan yang kami lalui cukup sempit. Sesekali melewati jembatan kecil, di bawahnya mengalir air yang sepertinya dari mata air menuju sungai besar. Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun kedua yang letaknya lagi-lagi di lembah. Segera kami menuruni jalanan yang curam bebatuan penuh antusias. Karena jalanan licin, kami harus berhati-hati  terutama anak-anak.

Setibanya di area air terjun semua langsung melebur. Ayah bunda ada yang duduk-duduk di bebatuan besar di tepian air terjun, sekedar melepas lelah, menikmati polah para bocah yang bermain air sesuka hati. Ada pula yang ikut bermain air bersama anak-anaknya.

Sesekali diantara kami terpeleset. Akibat bebatuan dasar sungai/air terjun yang licin berlumut. Pecah tawa seketika. Sorak ledek pun menggema. Ruih dan hangat sekali suasana air terjun yang hanya milik kami ber-12 sore itu.

Hari kian merambat senja. Mau tak mau, kami harus menyudahi petualangan alam bebas di salah satu sudut alam Wales itu. Terpaksa dua air terjun yang sedianya akan kami singgahi di depan sana harus digagalkan. Tak hanya karena waktu, tapi juga karena tenaga. Biarlah lain kesempatan kami bertandang lagi ke sini. Ke wisata alam yang masih perawan dan sepertinya akan terus perawan. Asri alami. Tanpa tangan-tangan usil yang berniat merusaknya, mengotorinya, mengubahnya.    Benarlah, empat kali mengunjungi setiap sudut wisata di Wales belum cukup sudah.

tulisan perjalanan majalah Paras

Jalan-jalan kami ini telah dimuat di Majalah Paras, Edisi akhir Juli 2015, Rubrik Pesona Wisata.

Wisata Belanja London

Harrods tampak depan
Harrods

Berbicara wisata belanja London, sering kali dikaitkan dengan Oxford Street dan Harrods. Banyak faktor yang menjadikan Harrods popular di kalangan wisatawan. Diantaranya karena Harrods menyajikan aneka barang branded yang banyak diburu wisatawan berkantong tebal.

Harrods juga sering dikaitkan dengan Dodi Al Fayed dan Putri Diana. Pasangan kasih yang tak mungkin dipersatukan. Hingga berujung tragis di Prancis. Entah untuk menarik pasar ataukah murni penghormatan terakhir dari Harrods. Di lantai dasar gedung berlantai tujuh ini terdapat monumen  Dodi dan Lady Di.

Banyak pengunjung berfoto di monumen bermaterialkan marmer coklat berbaur hitam ini. Foto Dodi dan Lady Di berdampingan dalam frame bulat berwarna kuning keemasan. Sepasang merpati keemasan menaungi keduanya. Senada dengan dinding latar belakang monument tersebut.

Sepasang lilin putih berukuran besar, tiga bucket mawar putih, serta kolam kecil berisi koin keberuntungan berserakan, melengkapi monument. Di depan monument terdapat patung Dodi dan Lady Di yang tengah berdiri. Mirip sedang menari. Mereka berpegangan,   seekor burung berada di atas tangan mereka. Tertulis dibawah patungnya, innocent victims.

Puluhan hingga ratusan barang branded

Bagi wisatawan yang berkantong tebal Harrods adalah surga wisata belanja. Betapa tidak, ratusan barang bermerek ternama bertenger manis di sana. Parfum, tas, sepatu, pakaian, perhiasan, emas, berlian, jam tangan dan sebagainya mengisi 330 gerai toko.

Harga yang dibantrol mulai dari ratusan, ribuan, belasan ribu, hingga puluhan ribu pounsterling. Sebut saja, untuk sebuah tas wanita ada yang dibandrol £15.000 (sekitar 300.000.000,-)

Harrods memiliki section coklat yang menempati bagian khusus. Seperti bagian lainnya, interior section coklat terlihat mewah. Tata lampunya agak remang. Sama halnya lift yang ada di sana. Tidak seperti mall modern yang terang benderang dan serba simple. Interior lift Harrods lebih ke detail, artistik, remang, kuning keemasan.

Harga coklat yang ditawarkan beragam. Mulai dari sepotong coklat seharga £2,75 hingga sekaleng praline seharga £250 (sekitar lima juta). Di sebelah section coklat terdapat section sea food. Sepertinya tak lumrah menempatkan section seafood di sebuah gedung perbelanjaan luxury. Tapi Harrods lain. Tak ada kesan bau amis, ataupun menurunkan selera belanja. Justru banyak wisatawan berfoto di sini. Seafood yang dijual diantaranya caviar, lobster, udang besar, scallop, filet salmon, tuna dan sebagainya.

Bagi pengunjung cilik, Harrods menyediakan section khusus yang membuat bocah-bocah betah berlama-lama di sana. Section souvenir juga ada. Harrods dijalankan 5 ribu karyawan. Mereka berasal dari 50 kewarganegaraan. Mengingat kepemilikkannya, tak heran jika banyak karyawan ganteng berwajah timur tengah yang melayani ramah. Mengucapkan salam kepada pengunjung muslimah yang jumlahnya cukup banyak.

Bagi penghobi wisata belanja pasti betah berlama-lama di bangunan klasik usia lebih dari seabad yang luas area 90.000 m2 ini.

China Town

Selain berbelanja di Harrods yang terkenal dengan keekslusifannya, kita juga bisa berwisata belanja bernuansa Asia. Tepatnya di China Town. Letaknya dekat Piccadily Circus yang juga masuk dalam list destinasi incaran wisatawan. Enam hal untuk mendeskripsikan Piccadilly Circus adalah: ramai wisatawan, musisi jalanan, Shaftesbury Memorial Fountain, lampu neon/billboard iklan, pusat belanja dan pusat hiburan.

Wisatawan yang lelah berbelanja ataupun mencari hiburan biasanya duduk-duduk di tangga Shaftesbury Memorial Fountain. Bisa sambil makan siang, menikmati musik jalanan, ataupun duduk santai menikmati hiruk-pikuk dan kerlap-kerlip billboard iklan produk ternama yang tersemat di gedung-gedung tinggi.

Lima menit berjalan dari Piccadily Circus kearah Timur Laut, tibalah kita di China Town yang juga banyak diagendakan wisatawan. Kebetulan saya datang di hari kedua Imlek, bertepatan liburan sekolah pula. Lalu lalang orang ramai sekali. Nuansa merah, balon-balon, lampion-lampion dan aksesoris imlek lainnya menambah marak suasana. Rasanya seperti di negeri Tiongkok saja.

Saya jumpai panda. Maksudnya orang berkostum panda yang notabene ikon Negara China. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun banyak yang berfoto bersama si panda yang besar nan lucu. Setelah berfoto, mereka melemparkan koin sekedarnya di box yang tersedia

Banyak wisatawan berselfie ria di gapura China Town. Kawasan ini merupakan surga makanan bagi wisatawan pecinta chinesse cuisine. Harga yang ditawarkan relatif murah. Dengan £8.50 (sekitar 170.000 rupiah) anda sudah bisa makan kenyang ala buffet.

Restoran Halal

Untuk Anda yang muslim, jangan khawatir. Saya merekomendasikan Restoran Rasa Sayang yang beralamat di 5 Macclesfield Street. Tertulis, Malaysia-Singaporean Cuisine. Maka tak heran jika cita rasa makanannya sesuai dengan lidah kita.

Begitu memasukinya, saya temukan kesan sempit. Kursinya penuh.  Saya pikir, kami baru bisa duduk setelah pengunjung lain pergi.

“Tunggu,” kata pramusajinya ramah. Tak lama, ia mempersilakan saya menuju lantai bawah.

Tangganya sempit, tapi di luar dugaan, lantai bawah lebih luas dari lantai atas. Harga makanan di restoran berdaya tampung sekitar 80 orang ini relatif murah. Rata-rata per porsinya £7,5 (sekitar 150.000). Ada nasi/mie/bihun goreng, rendang, nasi Hainan, aneka mie dan kwetiau, sate lontong dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak jenis minumannya saya tertarik dengan cincau bandung. Sebagai orang Bandung, rasanya di Bandung sendiri tidak ada jenis minuman seperti itu. Setelah dipesan, datanglah es cincau biasa. Oh, rupanya, bandung itu sebutan untuk evaporated milk yang digodok bersama pandan lalu diberi sirup.

Jika dipukul rata, makan,minum plus pajak, £12 (sekitar 240.000 rupiah). Puas makan, selanjutnya berbelanja di toko groceries. Maklum, Worcester tidak memiliki kawasan seperti ini. Di sini banyak toko yang menjual aneka sayur, buah dan kelontongan khas Asia. Seperti: durian, petai, kangkung, jambu batu dan sebagainya.

Disinipun banyak terdapat toko kue. Dimana dinding toko bermaterialkan kaca lebar tersebut memamerkan kue, roti dan cake yang berpenampilan cantik menarik. Membuat langkah wisatan terhenti. Begitu pun saya. Langkah terhenti ketika sederet cakwe terpajang di sana. Segera saya memasuki tokonya yang ternyata padat. Padat pengunjungnya, padat pula kue-kue yang disajikannya.

Kursi yang tersedia penuh terisi. Terpaksa, pengunjung yang baru datang harus take away. Kue-kue yang dijual di sini cukup familiar di kalangan kita orang Indonesia. Ada cakwe, onde-onde, klepon, aneka roti dan sebagainya. Untuk onde seukuran bola tenis dibandrol £1 (sekitar 20.000,-). Sedangkan cakwe sepanjang 35 centi, dibandrol  £1,5 (sekitar 30.000,-)

Oxford Street

Banyak wisatawan mengagendakan Oxford Street sebagai destinasi wisata belanja. Maka tak heran jika ia berjuluk kawasan belanja terpadat di Eropa. Berjalan diantara hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang di kawasan yang memiliki 300 toko ini menjadi sebuah keseruan tersendiri bagi wisatawan.

Di sepanjang jalan ini akan Anda jumpai toko: DEBENHAM, GAP, H&M, House of Fraser, John Lewis, Mark & Spencer, Next, Zara dan masih banyak lagi toko berkelas lainnya. Jika merasa lelah untuk keluar masuk toko-toko tersebut, Anda bisa masuk ke Selfridges, one-stop shopping ikon Oxford Street.

Selfridges menawarkan banyak barang branded tak ubahnya Harrods. Bedanya, meski menempati bangunan berusia lebih dari seabad, seting interiornya dibuat modern dengan lampu terang-benderang layaknya mall kebanyakan. Berbeda dengan interior Harrods yang klasik dengan tata lampu remang-remang.

Fenwick

Kurang dari setengah mile, hitungan menit, dari Selfridges berjalan kaki ke arah Barat, Anda akan temukan Fenwick. Satu lagi one-stop shopping yang bisa Anda jajal selama berwisata belanja di London.

Bangunan yang terletak di Jalan Bond Street ini juga menawarkan barang-barang bermerek. Sepertinya halnya Selfridges, Fenwick menempati bangunan usia tua klasik namun seting interiornya dimuat modern dengan tata lampu yang terang-menderang.

Apapun pilihan tempat wisata belanja yang akan akan kunjungi selama di London, satu hal yang harus diperhatikan: Anda berhak mengklaim pajak pembelian.

Pengembalian Pajak

Anda adalah wisatawan, tidak diwajibkan membayar pajak. Apa yang harus Anda lakukan untuk mencegah membayar pajak atas barang yang anda beli?

Gampang. Ketika Anda membeli barang di sebuah toko/butik/mall/one-stop shopping, mintalah form isian untuk pengembalian pajak. Ketika di Bandara, sebelum Anda pulang ke tanah air, klaimlah atas barang-barang berpajak yang telah anda beli. Lumayan kan? Lumayan banget.

Suvenir

Banyak toko souvenir yang bisa Anda jumpai selama di London. Entah itu di Harrods, di Pecinan, di Oxford Street, Piccadilly Street dan sebagainya. Namun, tip dari saya adalah, belilah suvenir di sekitar China Town. Karena harganya lebih murah.

Untuk sebuah fridge magnet dibandrol 99p, atau £5 untuk setengah lusin. Kartu pos besar model ekslusif £2 per lima lembar. Kartu pos standar £1 per sepuluh lembar. Barang souvenir lainnya berupa: gunting kuku, mug, kaos, bendera, replika Big Ben, dsb.

Menuju arah pulang, saya mampir ke Jalan Charing Cross 57, tempat Warung Padang London berada. Di sepanjang trotoar jalan ini kita jumpai pedagang suvenir. Sedikit tip, jangan terburu-buru membeli souvenir di sini. Karena untuk barang yang sama, harganya bisa berbeda. Seperti scarf bergambar ikon Inggris, harga per helainya £4. Saya membeli 3 helai seharga £10. Hanya beberapa langkah dari sana saya jumpai harga £2,99 per helai atau £10 per empat helai.

Kendaraan

Bus dan kereta bawah tanah adalah alat transportasi yang paling efektif selama di London. Dari rumah saya berkendara bus lalu turun di Victoria Coach Station, stasiun  terbesar di Inggris. Selanjutnya menggunakan bus nomor C1 menuju Harrods. Lalu menggunakan bus nomor 14 dari Harrods ke Picadilly Circus yang kemudian berjalan kaki ke Cina Town. Pulangnya, kembali ke Victoria Coach Station menggunakan bus nomor C1.

Dari Victoria Coach Station menuju Oxford Street, Selfridges ataupun Fenwick, Anda tinggal bisa menggunakan bus nomor 73. Kemanapun tujuan anda bepergian, gunakan Google map yang siap memberikan info kendaraan (bus dan underground) yang lewat ke kawasan yang akan Anda tuju.

Saya naik turun kendaraan dengan menggunakan kartu Oyster, atau kartu tiket otomatik. Saya tinggal top up £5 saja. Anda pun bisa melakukan hal yang sama. Belilah kartu Oyster selama traveling di London, karena jatuhnya lebih murah dan praktis. Anda tinggal sentuhkan chip kartu oyster di mesin tiket bus.

Hotel

Bagi Anda yang mengagendakan lebih dari sehari berwisata di London, Anda bisa menginap di hotel yang berdekatan dengan destinasi tujuan anda. Jika ingin menginap di hotel sekitar Harrods setidaknya anda harus menganggarkan £250-£350 (sekitar 5-7 juta) per kamar untuk dua orang. Harga tersebut bisa lebih murah bisa pula lebih mahal. Tergantung waktu (low season/high season), lokasi (tengah kota, pinggir kota), jenis kamar (standar, deluxe, family room dll) serta kelas hotel.

 Sale

Inggris memiliki musim sale. Ini berlaku juga di Harrods, toko-toko branded dan one-stop shopping lainnya. Biasanya awal musim panas (sekitar awal Juli), jelang natal dan tahun baru, terutama boxing day (26 Desember). Beruntunglah Anda jika melancong pada musim sale tersebut.

 How to get there

Bagi yang terbang dari Jakarta, silakan pilih maskapai penerbangannya, kelas, waktu dan option lainnya. Kesemua itu sangat mempengaruhi harga tiket, lama penerbangan dan kenyamanan yang Anda dapatkan. Sebagai gambaran, Emirats, kelas ekonomi, low season, bisa dapat tiket seharga £600-an (atau sekitar 12 juta). Setidaknya itu harga terendah.

Dari Bandara Heatrow ataupun Gatwick anda bisa menggunakan, mobil sewaan, taksi, bus maupun kereta, dengan plus minusnya. Taksi menguras kocek, tapi menghemat waktu dan tenaga. Sewa mobil, sulit urusan parkirnya. Kebanyakan wisatawan menggunakan bus dan kereta/underground selama bepergian di London. Selain lebih murah, feel dan atmosfir sebagai wisatawannya lebih terasa.

Jangan lupa gunakan Oyster Card, kartu tiket otomatis, disertai chip, sehingga memudahkan anda dalam berkendara umum. Lebih mudah dan murah. Mengenai transportasi umum bisa diliat di website berikut ini: http://www.tfl.gov.uk/

Inggris tidak termasuk dalam visa Schengen. Jadi jika Anda berniat keliling Eropa, buat jugalah Visa Inggris. Untuk mengetahui cara mendapatkan Visa Inggris bisa kunjungi website berikut ini: https://www.gov.uk/government/publications/apply-for-a-uk-visa-in-indonesia.

Tulisan perjalanan ini telah dimuat di Majalah Female edisi April 2015.

Majalah female
Tulisan perjalananku di Majalah Female

Trauma Penipuan Lewat SMS, berakhir konyol

Bertahun lalu, sebuah SMS masuk ke HP teman saya. Mengabarkan hadiah 50 juta rupiah. Syaratnya, transfer hadiah dilakukan via ATM. Karena tidak memiliki rekening yang disyaratkan, ia meminta tolong saya. Meski riskan, iming-iming rupiah membuat saya mengalah.

Kami hubungi si pengirim SMS. Ia berbicara cepat sekali, menyuruh saya menekan tombol ini-itu, transfer pulsa dan entah apa lagi, saya tak ingat, saking kedernya.

Terakhir, ketika ia meminta nomor pin ATM, saya terhenyak. Jantung berdebar cepat. Wah, penipuan ini! Saya ditampar kesadaran. Ponsel langsung dimatikan lalu keluar dari ATM sambil mengomeli teman, “ini penipuan, tau!”

Selang seminggu, saya ke ATM. Heran, ATM menolak mengeluarkan uang. Lalu saya mengecek saldo. Lutut saya lemas, keringat dingin pun keluar saat melihat saldo yang semula tiga jutaan, menjadi tiga digit saja. Sialan! SMS berhadiah itu ….

Orang Bank bilang, pembobolan rekening lewat internet diluar kuasanya. Ia angkat tangan. Kesal! Geraammm…

Sejak itu, saya trauma dengan apa-apa yang namanya hadiah yang to good to be true.

***

Waktu berselang. Beberapa bulan kemudian, di sebuah siang telefone rumah berdering.

“Ini dengan Ibu Ade?”

“Betul.”

“Bu, saya akan mengirimkan barang, cuma kesulitan menemukan rumah ibu. Posisi saya ada di wartel Z, dekat mesjid M. Tolong ibu beri alamat lengkapnya, ya?” ujar di seberang sana.

Barang? Heran. Saya tidak merasa memesan barang apapun. Mungkin suami saya memberi surprise. Saya menyuruh si kurir untuk menelefon beberapa menit lagi. Segera saya menelefon suami di kantor. Ternyata, dia tidak memesan barang apapun.

Hmm, saya curiga. Modus ini pernah saya dengar. Alih-alih mendapat barang gratisan,  malah rumah kita digasak mereka yang biasanya membawa mobil van.

Telephone berdering lagi, kurir itu mendesak meminta alamat rumah. Saya keukeuh tidak memberitahukannya.

“Pokoknya, saya tidak mau menerima barang yang bukan hak saya!”

“Bu, saya cuma disuruh bos untuk mengirimkan Mini Compo yang telah dibeli, telah dibayar. Ibu tinggal terima saja. Saya sudah berputar-putar dari tadi, pekerjaan saya masih banyak,” omelnya.

Saya emosi, “Kalau begitu, saya harus cek dulu, tokonya apa? alamatnya dimana? pemilik tokonya siapa?”

Sayangnya, ia tidak menjawab dengan jelas siapa nama pemilik toko bosnya itu. Dia cuman bilang Engko dan Enci. Ya sudah, tidak saya ladeni. Apalagi ia malah bersungut-sungut, keukeuh memaksa alamat saya. Telefon pun saya matikan.

***

Lepas isya, seorang anak kos bertanya.

“Teh, apakah ada titipan barang untuk saya?”

“Barang apa ya?”

“Mini Compo.”

“Hah?” perasaan bersalah mendera.

“Mbak ini siapa namanya?” tanya saya yang baru sebulan tinggal di rumah mertua yang memiliki 10 kamar kos.

“Ade,” jawabnya. Saya merasa makin bersalah.

Saya meminta maaf pada gadis itu. Lalu saya ceritakan kejadian tadi siang. Ia menatap kosong.

“Makanya De, lain kali kalau beli barang seperti itu, beri tahu orang rumah (ibu kos, termasuk saya),” saya mencari alasan.

Wajahnya kecut. Pikirnya, tak yakin si kurir mau datang kembali.  Lalu ia berinisiatif untuk mengambilnya sendiri ke toko tsb. Dalam tatap nanar yang hambar ia bertanya,

“Jadi, teteh namanya Ade juga, ya?”

“Bukan.”

Ia melongo.

“Teteh namanya siapa?

“Nama saya Rosi.”

Ia ternganga.

“Suami saya namanya Ade. Jadi, di perumahan tempat kami tinggal dulu, saya dipanggil Bu Ade.”

“?!….” alis gadis itu berkerut. Heran dengan kekonyolan saya.

***

Pesan moral:

  • Waspada boleh, parno jangan! 😀
  • Ingat sama nama anda sendiri 😛
  • Buat yang punya kos-kosan kenalin nama anak-anak kos anda 🙂

Tulisan konyol ini telah dimuat di Majalah Ummi Edisi 9, 2014 dengan judul “Karena Sebuah Nama” yang covernya ustad Reza 😉

ummi senyum simpul

Bisnis Groceries di Inggris

Setelah tahun pertama belajar nulis menghasilkan belasan antologi. Tahun kedua mejengin tulisan di media (koran, majalah anak, majalah wanita, majalah parenting, tabloid) berjenis tulisan Perjalanan, Artikel, Parenting, Kisah ibu-anak, Tulisan Flora.  Kini, satu lagi yang telah dijajal. Mewawancara. Jadilah tulisan ini:

Jual makanan Indonesia di Inggris
Bisnis Groceries di Inggris

 

Tulisan ini telah dimuat di Majalah Potret edisi 60. September 2012.

Sayang, karena bukti terbitnya belum sampai, terpaksa baru bisa menjengin PDFnya dulu.

Buat kamu yang mau baca tulisan selengkapnya, buruan beli majalah Potret edisi terbaru!