Kukenal BNI Sejak Kecil

Jika ditanya bank apa yang pertama kali saya kenal? Pertanyaan ini melemparkan ingatan saya ke masa dulu, dulu sekali. Masa era 80’an. Pada masa itu, mama sering mangajak saya ke satu-satunya bank yang ada di lingkungan kami. Bank BNI 46 namanya.

BNI kami terletak di Jalan Jendral Sudirman Bandung. Dari rumah kami yang letaknya di gang, kami hanya tinggal berjalan kaki. Keluar dari gang, melewati Jalan Cibadak, belok ke kiri sedikit, tak jauh dari sana berdirilah sebuah bank yang dikenal masyarakat setempat. Duh, memori saya benar-benar digiring kembali ke masa kecil nan indah.

Lokasi BNI sangat strategis. Kenapa strategis? Karena dekat dengan pasar Andir. Pasar tempat mama berbelanja kebutuhan dapur dan rumah tangga. Sebagai anak paling besar, perempuan pula, saya sering diajak mama ke pasar. Jadi, BNI ini sering kami lewati. Tentulah kami jadi familiar karenanya.

Ketika bapak mendapat proyek yang lumayan besar, untuk pertama kalinya mama membuka deposito di sana, di BNI 46. Saya akan ceritakan lebih lanjut, bagaimana bapak yang hanya pegawai negeri golongan rendah bisa memiliki deposito di BNI. Terlebih dahulu, ijinkan saya berbagi cerita tentang hal lainnya yang terekam kuat di memori tentang BNI ini.

Memori terkuat di ingatan saya adalah.. BNI = membayar listrik.

Loh? Kok!
Iya, bagi kami, waktu itu, BNI sama dengan bayar listrik, 😀
Jadi, kalau ada tetangga yang bertanya,
“Mau kemana?”
“Ke BNI.”
Itu artinya mau membayar listrik.
Atau sebaliknya. Mau membayar listrik? itu artinya ke BNI.
Keren, ya? punya rekening ataupun tidak, tetap, bilangnya mau ke bank, BNI 46.

Jadi, seingat saya, waktu itu, baru diterapkan pembayaran listrik melalui Bank BNI. Atau, entah mama saya yang baru tahu akan hal itu. Yang jelas, sejak itu, mama dan para warga di lingkungan kami selalu membayar listrik di BNI dan saya sering diajaknya.

Biasanya, sehabis membayar listrik, seterusnya mama suka mengajak saya ke pasar. Sering pula mengajak saya makan bakso dan es campur yang letaknya di depan parkiran BNI Sudirman ini. Bakso dan es campur yang juga langganan para karyawan BNI ini rasanya mantap. Duh, semakin terbayang jelas nuansa serta aroma masa itu.

Itulah ingatan terkuat yang saya miliki akan BNI. Bank pertama yang saya kenal dan di sanalah tempat membayar listrik.

Tempat pembayaran listrik tersebut menempati gedung sebelah kiri BNI yang tersekat gedung berkaca lebar. Kami, para pembayar listrik, duduk berjejer memungungi dinding kaca tersebut. Sering kali saya mencuri pandang kegiatan di dalam bank. Pernah terlintas dalam hati, ketika besar, saya ingin bekerja di bank. Sepertinya mengasyikan, setiap hari bersigungan dengan uang.

Entah prosesnya bagaimana, mungkin karena mama sering ke BNI untuk membayar listrik hingga akhirnya ketika mama memiliki uang lebih, mama membuka rekening di sana. Seterusnya, mama juga menyimpan uangnya di deposito BNI seperti yang saya ceritakan di atas.

Bapak saya adalah pegawai negeri, anaknya lima. Kakak saya meninggal usia tujuh tahun karena sakit. Setelah itu, jadilah saya yang paling besar. Sebagai pegawai negeri golongan rendah dengan lima anak dan seorang istri yang full bekerja mengurus keluarga tentunya bapak harus memiliki konsep perencanaan keuangan yang tepat bagi kehidupan dan pendidikan kami.

Gaji pegawai negeri waktu itu tidaklah seberapa. Oleh karena itu, bapak memanfaatkan hobinya untuk mencari uang tambahan. Dengan perangkat fotografi dan ruang cetak foto milik kakek, bapak menerima pesanan jasa pemotretan. Baik untuk acara pernikahan, sunatan dan perayaan lainnya.

Kegigihan bapak dalam mencari nafkah terus berlanjut, beliau menerima pembuatan pas foto untuk sekolah-sekolah dan instansi-instansi. Pas foto tersebut digunakan untuk arsip dan identitas karyawan/siswa.

Uang hasil sampingan itu dipakai untuk mencukupi kebutuhan harian, membeli perlengkapan dan peralatan usaha, sisanya barulah ditabung sedikit demi sedikit. Ada suatu masa, dimana bapak mendapat orderan besar. Keuntungan dari proyek itu bapak mempercayakannya kepada BNI. Bapak menyuruh mama untuk menitipkan uangnya di deposito BNI 46.

Itulah sepenggal kisah pengalaman saya dan keluarga bersama bank nasional yang berkemampuan global, BNI 46. 

Penggalan kisah pengalaman ini disertakan dalam lomba blogging menyambut ulang tahun BNI yang ke-69.

*****

Kini, deposito BNI hanyalah salah satu dari sembilan jenis simpanan yang dimiliki BNI 46. Kedelapan jenis simpanan lainnya ialah: Taplus, Taplus Anak, Taplus Bisnis, Tapenas, Simpanan Haji, BNI dollar, Giro dan Safe Deposit Box.

Apapun jenis simpanannya, BNI yang telah matang di dunia perbankan selalu memberikan pelayanan terbaik bagi nasabahnya. Sesuai dengan salah satu visi misinya, yaitu: Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pilihan utama.

Tak ingin memberi jarak, BNI mendekatkan diri dengan nasabahnya melalui sosial media berikut ini: facebook, twitter dan website. Hingga kita sebagai nasabah bisa lebih akrab dan lebih dekat berinteraksi.

Jika dilihat dari usia manusia, 69 memasuki masa oma-opa yang senantiasa menganyomi anak cucu dalam dunia perbankan Indonesia. Seperti yang termaktub dalam logonya: Melayani Negeri, Kebangaan Bangsa.

Published by

Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

2 thoughts on “Kukenal BNI Sejak Kecil”

Leave a Reply to vita masli Cancel reply