Kisah Cinta Inspiratif, Gagal Ginjal Stadium 5, Cuci Darah 24 Tahun

Kisah cinta Inspiratif, Gagal Ginjal Stadium 5 alias Gagal Ginjal Kronis (GGK) dibagikan Ibu Isye dan Pak Yanuar sebagai narasumber obrol-obrol saya kali ini.

Menurut Ibu Isye, saat masih lajang ia mengenal Pa Yanuar sebagai pemuda gagah yang nampak sehat-sehat saja. Tapi ketika Bu Isye di Sukabumi pada masa melahirkan anak kedua, ia dapati kabar dari kantor suaminya, bahwa pa Yanuar yang bekerja di Jakarta itu masuk Rumah Sakit dan opname.

Dari Sukabumi Bu Isye meluncur ke Jakarta dan mendapati kenyataan berat. Di Rumah Sakit itu Pa Yanuar divonis gagal ginjal stadium akhir. Rasa campur aduk dalam diri. Limbung dan bingung dirasakan ibu Isye. Karena Pak Yanuar harus cuci darah seumur hidup yang mana kejadian itu hampir seperempat abad yang lalu, ketika BPJS belum ada.

Biaya cuci darah tentulah tidak murah. Diiringi keberanian yang besar memaksa ia bertemu HRD sebuah hotel di Jakarta, tempat suaminya bekerja. Saking kalutnya pintu hotel berkaca itu ia tabrak. Entah saking beningnya itu pintu, entah karena di dalam kepalanya berkecamuk banyak pikiran. Kata Bu Isye, bibirnya jontor akibat menabrak pintu hotel itu.

Singkat kata, hasil nego dengan orang HRD, Pa Yanuar dibiayai perusahaan untuk cuci darah seminggu dua kali, seumur hidup. Bu Isye dan Pa Yanuar sangat berterima kasih atas segala kebaikan yang diberikan perusahaan tersebut. Walaupun sebelumnya Bu Isye “diceramahi” dulu oleh bagian HRD dan dokter perusahaan karena Pa Yanuar tidak rajin memeriksakan diri ke dokter perusahaan.

Untuk diketahui, Pa Yanuar memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi  menahun, selagi belia. Rupanya, hipertensi itulah penyebab Gagal Ginjal Kronis yang diderita Pa Yanuar kini.

Selama masa kerja, Pa Yanuar hidup normal. Bekerja seperti biasa, minus cuci darah seminggu dua kali. Perekonomian lancar. Kehidupan bahagia. Malah keduanya memiliki anak lagi, 2. Anak ke 3 dan anak ke 4.

Hidup sejahtera bekerja di hotel tersebut beberapa aset ia miliki. Rumah, kendaraan, simpanan dan aset lainnya. Hingga di satu masa, hotel tempat Pa Yanuar bekerja terjadi pemutusan hubungan kerja. Bukan karena sakitnya itu, tapi karena satu dan lain hal over management.

Beruntung Pa Yanuar mendapat uang pesangon yang cukup besar. Menurut perhitungan, jika uang tersebut diinvestasikan, pastilah keuntungannya bisa digunakan untuk biaya cuci darah yang saat itu sangat mahal karena belum ada BPJS. Menurut perhitungan pula, selebihnya bisa digunakan untuk kebutuhan hari-hari, biaya sekolah anak-anak dan sebagainya.

Tapi kenyataan berkata lain. Uang yang dimasukan ke investasi tersebut ternyata investasi bodong! Selanjutnya Bu Isye dan Pa Yanuar menjadi hidup dengan sisa tabungan yang ada. Karena kebutuhan hidup terus bergulir, satu persatu aset yang mereka miliki dijual. Rumah, kendaraan dan sebagainya. Saat BPJS mulai ada barulah Pa Yanuar menggunakan layanan kesehatan dari pemerintah tersebut. Meski demikian, biaya hidup lainnya tetap mengandalkan aset dan tabungan yang ada hingga semuanya habis.

Dalam rentang masa itu, ada beberapa kejadian duka di keluarga ini. Anak pertama, putri satu-satunya, anak gadis mereka, meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan. Pastilah duka mendalam dialami keluarga ini.

Ada pula masa dimana Pa Yanuar mengalami sebuah kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan luka parah, lama dirawat di Rumah Sakit yang mana Pa Yanuar mengalami amnesia. Tak ingat keluarga, anak anak dan istrinya pun tak ia kenali. Mirip kisah sinetron saja. Tapi ini nyata.

BUKAN SINETRON!
Anak meninggal, bercerai, divonis GGK, gagal menikah, lalu temukan cinta sejati

Disaat semua aset tak dimiliki, keduanya mengalami masa sulit. Saat rumah sudah tak ada, keluarga ini berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Hingga tiba di sebuah masa, keluarga ini menumpang di apartemen kerabatnya. Pernah pula menjalankan rental PS dan Depot air minum isi ulang milik kerabatnya.

Dalam rentang masa itu, Bu Isye dan Pa Yanuar menjalankan banyak usaha. Pernah berjualan sembako dan warung kopi. Pernah buka kedai sate. Jualan nasi uduk. Pernah mengelola warnet. Bahkan bu Isye pernah juga menjadi baby sitter, mengajar di TPQ. Terakhir ini keduanya berjualan obat-obatan untuk pasien HD dengan cara online.

Yang tak terlupakan, pernah mereka pergi ke Cileungsi Bogor, tanpa tujuan. Hingga akhirnya mereka bisa menempati rumah seorang kerabat. Walaupun jauh dari kondisi rumah-rumah sebelumnya yang pernah mereka tempati. Tapi keluarga ini sangat bersyukur, ada tempat untuk berlindung dan tinggal bersama keluarga tercintanya. Menurut Ibu Isye, saking seringnya mereka berpindah rumah, sudah tak ingat lagi perabotan-perabotan yang ia miliki. Kadang beberapa barang perabotan itu ia tinggalkan di rumah-rumah sebelumnya.

Saat tinggal di Tangerang, meski jauh dari rumah ke RS tempat melakukan cuci darah, 60km, mereka lalui dengan rasa syukur. 60 km Tangerang – Jakarta, Jakarta – Tangerang, seminggu 2 kali dijalani keduanya dengan bersepeda motor berdua, bersama.

Rasa syukur, ketulusan, menerima, ikhlas, berdamai dengan keadaan dan ringan menjalani ketentuan Allah SWT dilakukan oleh Ibu Isye dan Pa Yanuar. Hingga akhirnya menumbuhkan anak-anak yang soleh.

24 tahun sudah sejak vonis itu dilalui bersama dalam suka dan duka, jatuh bangun dan segala macam pekerjaan/usaha dilakukan. Kini Bu Isye dan Pa Yanuar memasuki masa istirahat. Karena alhamdulillah perekonomian keluarga disuport oleh putranya yang berhasil bisnis jual beli mobil.

Kadang duka dan perih perjalanan hidup itu akan menjadi manis untuk diceritakan, pada akhirnya.

Selengkapnya kisah inspiratif ini bisa kalian tonton disini:

Kisah Inspiratif Pasien Gagal Ginjal, Bercerai, Anak Meninggal, Temukan Cinta Sejati

Gejala Gagal Ginjal

Kisah inspiratif pasien gagal ginjal kali ini bersama nara sumber Yayuk. Seorang perempuan tegar yang mengalami masa-masa sulit yang datang beruntun.

Anak semata wayangnya meninggal dunia. Belum habis sedih itu, ia bercerai dengan suaminya. Kejadian bertubi-tubi meninggalkan kesedihan yang dalam. Tapi kehidupan terus berjalan dan harus dijalani.

Yayuk berkerja di sebuah pabrik minuman instan. Hari-harinya ia habiskan untuk bekerja dan bekerja. Diketahui kemudian Yayuk memiliki penyakit asam urat, juga tekanan darah tinggi. Menurut Yayuk mungkin penyakit darah tinggi itu akibat terlalu banyak pikiran, selepas buah hatinya meninggal dunia.

Ketika kerja di pabrik minuman instan itu, Yayuk sering merasa mual dan muntah. Perkiraannya hanya asam lambung atau apalah. Ketika Yayuk memeriksakan diri ke dokter dan melihat kantung mata Yayuk membengkak dokter mengira Yayuk habis menangis. Yayuk bilang bukan. Bukan karena menangis. Sekitar matanya memang sering membengkak. Mungkin dokter punya kecurigaan akan suatu penyakit di diri Yayuk. Akhirnya dokter menyarankan Yayuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Divonis gagal ginjal karena KKN

Divonis gagal ginjal karena kecelakaan kerja

Benar saja, tak lama setelah itu vonis Gagal Ginjal Kronis (GGK) ia terima. Yayuk berhenti bekerja. Seperti pasien GGK lainnya yang harus cuci darah seminggu dua kali, ia lakukan itu.

Awalnya Yayuk merupakan Pasien Umum, namun karena cuci darah ini akan dilakukan seumur hidup maka dokter menyarankan Yayuk untuk menggunakan BPJS. Yayukpun melakukan hal itu.

Betul dengan BPJS Yayuk cuci darah secara gratis. Tapi ia tetap harus mengeluarkan uang untuk sewa kendaraan. Karena tidak ada kendaraan umum dan rumahnya sangat jauh dari RS, berjarak 60km. Sehingga memaksa ia harus mengeluarkan uang antara 400  sampai 600 ribu untuk sewa mobil seharian. Pendanaan sewa mobil dibantu sang kakak. Hingga kemudian kakaknya menikah yang tentunya ia memiliki tanggung jawab baru. Meski sang kakak tidak menyatakan diri berhenti memberikan suport ekonomi namun Yayuk cukup tahu diri. Hingga akhirnya ia melakukan cuci darah sendiri dengan menggunakan sepeda motor dengan jarak 60 km dan waktu tempuh sekitar 3 jam itu.

Keluar Rumah Jam 2 Dini Hari Demi Cuci Darah

Shift cuci darah Yayuk jam 6 pagi. Itu artinya ia harus pergi jam 3 subuh dari rumah dan bangun tidur jam 2 malam. Iya kalau jalanan lancar. Jika ada kendala kerusakan jalan, karena jalannya tidak mulus. Ia harus mengambil jalur lain yang tentunya lebih jauh lagi. Hingga tak jarang ia pergi jam 2 malam demi mendapat jadwal cuci darah jam 6 pagi. Sebuah perjuangan yang berat. Namun Yayuk adalah seorang perempuan yang kuat dan hebat. Ia jalani saja hidupnya dengan nerimo dan legowo.

Termasuk ketika ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Ketika itu motor yang sedang dikendarainya ditabrak mobil. Saat itu ia hendak cuci darah pula. Kecelakaannya sangat parah. Sampai-sampai 7 pen, alas 7 ruas besi ditanam di tanganya.

Meski demikian, pasca kejadian itu ia tetap berjualan. Memproduksi makanan olahan ikan yang ia buat sendiri dan ia kurir sendiri. Kegiatan itu ia lakukan selepas tak lagi disupport kakaknya.

Hal lainnya, sudahlah ia pasien gagal ginjal, gagal menikah pula. Cukup lama Yayuk pacaran dengan seorang pria. Pria itu tahu Yayuk penyintas GGK. Tapi selalu saja bertanya kapan ia sembuh? Yang akhirnya mereka gagal menikah.

Hidup Yayuk tidaklah ringan namun saya melihatnya ia ringan saja menjalankan takdirnya. Dengan rutinitas cuci darah seminggu dua kali. Per cuci darah durasi 5 jam. Produksi makanan olahan berbahan ikan. Mengurirnya sendiri dengan bermotor kemana-mana.

Hingga akhirnya Tuhan mempertemukan dengan seorang pria yang sama-sama menderita gagal ginjal. Disana mereka cinlok. Cinta lokasi. Di Rumah Sakit. Di tempat mereka cuci darah bersama.

Kini, mereka mengikat janji. Sehidup semati. Seproduksi produk olahan rumahan berbahan ikan. Semotor bersama saat mengurir pesanan. Semoga Allah SWT selalu mempersatukan keduanya dalam kesehatan, kebahagiaan dunia dan akhirat.

Obrolan inspiratif bersama Yayuk ini bisa kamu tonton di Channel Youtube Rosi Meilani berikut  ini:

Kisah Cinta Inspiratif Pasien Gagal Ginjal | Gagal Ginjal, Cuci Darah Ditemani Pacar

Di pemikiran orang awam seperti saya, sakit ginjal itu biasanya diderita orang tua. Tapi pada kenyataanya, banyak sekali anak muda yang divonis gagal ginjal. Bahkan banyak dari mereka terkena GGK alias Gagal Ginjal Kronis. Yaitu Gagal Ginjal Stadium Akhir yang mana kebanyakan mengambil keputusan terapi pengobatanya cuci darah.

Adapun cuci darah tersebut dilakukan seumur hidup. Kecuali jika memutuskan untuk pengobatan lainnya. Yaitu Transplantasi alias cangkok ginjal, atau CAPD alias Cuci Perut seperti 2 nara sumber yang pernah saya wawancarai di link bawah ini:

Sembuh Dari Gagal Ginjal Stadium Akhir | Transplantasi Ginjal Gratis

Pasien Gagal Ginjal memutuskan untuk terapi Cuci Perut

Balik lagi ke soal penderita gagal ginjal yang menimpa anak muda, obrol-obrol saya kali ini bersama sepasang anak muda yang bikin saya mesem-mesem membayangkan masa muda saya, yang berpuluh tahun itu, uhuy..

Ketika saya tanya, gimana sih masa pacaran kalian?
“Ya sama aja sih kayak orang pacaran lainnya, bedanya kami seringnya pacaran di rumah sakit,” katanya. Hahaha..

Bayangkan saja, seminggu dua kali cuci darah dengan durasi cuci darah 5 jam. Belum lagi persiapan perginya, pulangnya, serta sehari pasca cuci darah lemas gak bisa ngapa-ngapain. Belum lagi jika ada trouble ini dan itu, deman lah, kurang darahlah, operasilah. Dan masih banyak hal lainnya yang sepertinya Rumah Sakit adalah kosan kedua bagi mereka.

Adalah Atok, seorang mahasiswa yang divonis gagal ginjal sesaat sebelum KKN alias Kuliah Kerja Nyata. Ia merasa badannya baik-baik saja. Semua okey-okey saja. Tak terpikirnya bahwa sebenarnya ginjal dia sudah rusak parah.

Hanya karena syarat KKN harus melampirkan surat keterangan sehat, dari situlah terdeteksi ginjalnya rusak. Ajaibnya, sebelum pemeriksaan itu dilakukan, dokter yang melihat fisiknya Atok sudah berkesimpulan, “Anda tidak sehat, ini,” Hmmm.. Benar saja.

Adalah Catur, seorang mahasiswi. Sama seperti Atok, ia anak kos, sama-sama kuliah di Jogja, sama-sama penerima beasiswa. Bagi Catur “rasa sama” itu membuat ia ada perhatian lebih pada Atok. Terlebih Catur merupakan seksi konseling di komunitas mereka. Bermodal sosial media, ia kontak Atok yang kemudian keduanya sering berkomunikasi.

Suport yang diberikan Catur pada Atok bergulir terus hingga akhirnya ada rasa-rasa gimana gitu.
Jadi gimana-gimana gitu ya om.. tergiang.. ngiang.. ngiang…. HAHAHA.. Tiktokers banget.

Seperti kata pepatah Rusia witing tresno jalaran soko kulino, jadilah mereka pacaran. Kalau katanya Catur, “Boleh juga nih cowok,” heuheu..

Atok dan Catur cerita banyak, seru banget obrolan kami. Sayangnya, karena kepanjangan durasinya, saya banyak potong beberapa bagian. Dari sekian banyak cerita ser, suka duka yang mereka jalani bersama, ada satu masa sehabis cuci darah Atok lemes banget. Walaupun Catur tau dan tentunya semua keluarga pasien cuci darah juga tau, efek setelah cuci darah itu pasti akan ngerasain lemes banget.

Nah tingkat lemes Atok ini sampe ga bisa ngapa-ngapain. Ia hanya tidur pasrah di kasur Rumah Sakit. Sudah tidak bisa diajak ngobrol. Badannya digoyang-goyang Caturpun tak merespon. Catur menangis. Waktu ia berpikir, mungkin sudah saatnya.

Di waktu bersamaan Atok mendengar apa yang Catur katakan dan tahu apa yang Catur lakukan. Tapi ia benar-benar gak bisa ngapa-ngapain saking lemasnya, super lemas.

Ada satu cerita seru lainnya. Kini, menceritakan hal tersebut hitungannya seru. Tapi, pada saat itu, moment ini tuh sedih banget. Super sedih. Tapi dasarnya mereka anaknya santuy banget jadilah kita ngobrolnya sambil haha hihi.

Ada satu moment Atok harus dioperasi tapi mereka tidak ada uang. Bisa Operasi tapi tidak ada uang untuk rawat inap. Jadinya mau gak mau sesudah operasi harus pulang di hari itu juga. Gokil banget gak tuh? Apalagi Rumah Sakit yang mereka pilih sangat jauh dari kosan. Sekitar 1 jam perjalanan. Pake motor pulak.

Mereka boncengan pake motor. Perginya si pasien yang mau operasi bawa motor. Pulangnya si pasien dibonceng. Ya Allah.. semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada keduanya. Serta memberikan keduanya kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kini keduanya sudah menikah dan hidup bahagia. Video lengkapnya bisa kalian tonton di link berikut ini:

Gejala Gagal Ginjal | Pengobatan Gagal Ginjal | Apa itu CAPD

Banyak penyintas gagal ginjal atau penderita gagal ginjal divonis setelah kondisinya parah, hampir semua penyintas gagal ginjal yang saya wawancarai dan tayang di Channel Youtube Rosi Meilani divonis setelah stadium akhir atau stadium final alias stadium 5 atau juga disebut GGK (Gagal Ginjal Kronis).

Seperti kisah penyintas GGK yang satu ini, Ibu Heni namanya. Berawal dari kesibukan yang ia jalani sebagai pemilik sebuah bengkel yang setiap harinya aktif beraktifitas. Bolak balik antara rumah dan bengkelnya yang cukup jauh dengan menyetir mobil sendiri, yang konon katanya sering menahan haus karena malas jika kebelet pipis. Alih-alih harus berhenti di tengah perjalanan Ibu Heni lebih memilih tidak usah minum saja sekalian.

Rutinitas tersebut ia lakukan lama sekali hingga pada suatu saat ia sering merasakan pegal-pegal, sakit pinggang, mudah lelah dan kemudian tekanan darahnyapun cukup tinggi.

Semua gelaja-gejala tersebut ia abaikan. Andalan yang ia lakukan adalah dipijat saja. Oiya Bu Heni inipun sering kali mudah memar di tubuhnya. Akumulasi gejala-gejala tersebut bertambah jadi sering mual yang mana perkiraannya ialah asam lambung atau apalah yang akhirnya memaksakan ia untuk memeriksakan diri ke dokter.

Sesuai perkiraan dokterpun memberikan obat asam lambung dan sejenisnya. Namun ketika Ibu Heni tunjukan memar-memar di tubuhnya dokter menyuruhnya untuk pemeriksaan lebih lanjut. Cek darah ini dan itu yang kemudian hasilnya diluar perkiraan dan mengharuskan ibu Heni rawat inap.

Setelah dirawat beberapa hari ia kembali ke rumah sakit dengan kondisi yang lebih parah dan singkat cerita harus opname lagi dan di moment itulah ia divonis GGK alias Gagal Ginjal Kronis alias stadium akhir.

“BAGAI DUNIA TERBALIK” begitu kata Bu Heni kepada saya. Beberapa jam sebelumnya ia merasa sakit biasa dan semuanya akan sehat lagi. Dan begitu vonis itu ia terima, limbung! entah bagaimana hidupnya ke depan. Mungkin tak lama lagi ia bisa menikmati indahnya dunia ini.

Permohonan maaf kepada teman, sanak saudara ia lakukan. Bahkan pakaian-pakaian dan tas-tas ia bagikan, toh semua itu tidak akan ia bawa jika memang ia harus “pergi”. Takut memberatkan penghisaban, katanya.

Pengetahuannya tentang GGK,  sepertinya usianya tak lama lagi. Tak ada teman, sodara, kerabat yang memiliki penyakit seperti ini. Sehingga ia merasa sendiri dan sangat terpuruk. Informasi tentang gagal itu apapun ia tak tahu. Hingga akhirnya ia mengenal KPCDI yaitu Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia.

Apa itu KPCDI kamu bisa lihat obrolan saya bersama SekJennya Pak Peter Hadi atau Pak Petrus di link berikut ini. Yang mana beliaupun penyintas GGK dan sudah cuci darah bertahun-tahun lamanya.

Kpcdi komunitas pasien cuci darah indonesia

Setelah bergabung di KPCDI wawasannya tentang GGK bertambah setelah bertemu dengan sesama pasien gagal ginjal bernama Pak Sandi. Berbeda dengan Pa Petrus, Pa Sandi ini mengunakan terapi pengobatan Cuci Perut. Apa itu cuci perut? Video obrolan saya dengan Pa Sandi tentang Pengobatan Gagal Ginjal dengan cara cuci perut ada di link Video dibawah ini:

Pengobatan Gagal Ginjal dengan cara CAPD atau Cuci Perut

Akhirnya ibu Heni pun mengikuti jejak Pa Sandi dengan melakukan terapi CAPD atau Cuci Perut hingga sekarang dan hidupnya normal biasa. Seperti apa teknis terapinya dan seperti apa pula obrolan tanda awal gejala penyakit gagal ginjal, penanganan dan sebagainya? Simak video lengkapnya obrolan saya dengan Ibu Heni di bawah ini: