Ngak suka liat wajah sendiri di TV :D

Beberapa hari yang lalu saya kan mosting tentang Net Sport di sini.

Seperti yang saya bilang, waktu ini saya penasaran pengen liat penampakakn video setelah diedit tim NET CJ. Sebagai perbandingan aja gitu… Karena selang beberapa hari setelah tayang tak kunjung nongol juga versi Youtubenya.
Ya sudah… aku rapopo 😀
Walaupun teuteup ngarep.

Kemudian, kemarin itu, ada teman yang ngasih tau ada penampakkanku di NET10. Wah, yang mana ya? Karena belum bisa buka PC, jadi saya belum bisa liat, yang tayang tuh yang mana. Perkiraan saya sih yang Cambridge.

Etaunya, temanku bilang yang di stadion itu.
Hah? yang di stadion?
Perasaan aku kirim video tentang stadion udah tayang keduanya.

Dan setelah saya berkesempatan buka video youtubenya, oh… yang ini…
Hmmm, bukannya yang ini udah tayang di program lain?
Kalau pun iya, gak apa-apa juga sih.
Saya mah seneng-seneng aja 😉

Satu yang kurang seneng tuh, saya gak suka liat wajah sendiri dilayar kaca 😛
Entah kenapa, sebel aja liatnya 😀
Tapi mau ngak mau, oncam itu adalah salah satu bagian dari video CJ yang kita bikin.
Biasanya, option lainnya yang saya lakukan adalah mewawancarai orang lain. Nah, masalahnya, saat pengambilan video ini berlangsung sore hari, beberapa saat sebelum pintu gerbangnya ditutup, jam 8.

Oiya, saat lagi anteng-antengnya ambil Video, kami disamperin Pak Satpam 😀
Saat ia menghampiri, saya bertanya dalam hati.
Wah, kenapa nih?
Jangan-jangan ngak boleh ambil gambar.

Etaunya, doi bilang, “Maaf, sebentar lagi gerbang stadion ini akan ditutup,” ujarnya ramah.
Ohhhhh….
Baiklah.

Eh, jam 8 itu, sore apa malam, sih? 😀
Secara, matahari masih terik banget.
Sore kali ya?..
Soalnya buka puasa jam 9.30

Waktu oncam, kami kesulitan mengatur posisi yang tepat yang didukung pencahayaan yang baik.
Tau dong, kalau oncam ngebelakangin matahari, pastinya gambar kita jadi gelap, ya kan?
Nah, tapi, kalau berlawanan dengan matahari pastinya silau banget ke mata.
Yaudah, jadi kesimpulannya, saya membelakangi samping stadion sekaligus menantang sinar matahari. Dan resikonya, waktu oncam itu saya harus mengernyit dalam sekali (nyureng – sunda).
Beneran, silauuu.. banget. Hal tersebut tentu saja jadi menganggu saat oncam.
Mana gak bawa kaca mata item pulak.

Akhirnya suami bilang, “Nih, pake kacamata ini aja,” doi nyodorin kaca mata minusnya.
Ih, ternyata pusing pakenya. Tapi silaunya gak ketulungan.
Ya udah deh, daripada super nyureng.

Walhasil sambil oncam sambil pusing liat kameranya, hahaha..
Sesekali saya ngomong sambil merem ataupun sedikit melek 😀
Mana take-nya beberapa kali lagi.
Entah nyambung entah tidak, makanya saat oncam saya ngomong terbata-bata, antara pusing liat kamera dan emang gak pinter ngomong aja kali yaaa…
*Sumpeh, saya kalau oncam gini suka blibet 😀

Mangkanya, pas liat video ini, aduh, ngak banget deh 😀

Jadi, ini video CJ ke berapa ya? 15 apa 17 ya?
17 kayaknya 😀

*oncam = on camera aka nampang bin mejeng depan kamera 😉

Cerita Monster, Bobo Edisi 17, 2015

Yipyyyy… cerpenku dimuat lagi di Majalah Bobo yang keren itu. Baru juga kemarin dapat berita bagus tentang pemuatan cerpenku di edisi 16, eh.. sekarang dapat berita bagus lagi. Alhamdulillah.

Cerpen anak di Majalah Bobo kali ini tentang cerita monster. Tips yang ingin saya bagikan kali ini adalah: Carilah tema-tema menarik yang bikin pembaca cilik penasaran.

Monster. Wah, apa tuh? Monster Diona. Kira-kira seperti apa itu bentuknya, ya?

Meski ini cerita tentang monster. Tapi bukan berarti kita ngayal sembarangan. Diperlukan pengetahuan tentang hal ini. Cerita monster sebagai pembuka ilmu. Dan saya harap pembaca cilik mengetahui dan menyukai dunia Flora. Bahwa, iniloh.. di dunia ini ada tumbuhan yang seperti ini.

Ide Cerita

Ide cerita ini seperti kebanyakan cerpen saya lainnya adalah hasil pengalaman pribadi. Dulu si cakep Alba ingin dibelikan Venus Fly Trap. Seperti apakah tanaman aneh itu? Silakan baca tulisan saya tentang tanaman monster itu di sini.

Udah dibuka linknya?
Loh, itu udah dimuat di majalah lain kan?
Iya benar.

Tips, kedua dari saya adalah: Satu tema beberapa karya.

Jadi, jika tulisan di Majalah Soca itu masuk dalam rubrik Flora, maka di Majalah Bobo ini formatnya cerpen. Asik kan? Satu tema jadi dua karya. Atau mungkin bisa jadi tiga karya. Misalnya, suatu saat saya berhasil mengembangbiakkan tanaman ini lalu membuat buku “Panduan pengembangbiakan Venus Fly Trap” 😀

Karena majalahnya baru edar hari ini, jadi saya ngak bisa kasih unjuk penampakkannya secara jelas. Yang penasaran, bisa merapat ke lapak koran/majalah atau toko buku terdekat. Okeh?

Tapi tenang, saya kasih bocoran sinopsisnya, ok?

Adalah tiga ekor lalat yang bersahabat. Satu diantara gak suka makan sayur, sukanya makan daging dan cake,puding serta makanan manis-manis, makanya gendut. Kegendutan itu bikin ia susah bergerak, mudah lelah dan mudah tertidur. Itu terbukti ketika dia terjebak dilahap monster Diona, ia tidak bisa melepaskan diri.

Tips ketiga dari saya: Jangan lupa, sertakan selalu pesan moral dalam setiap cerpen yang kita buat. Pesan moralnya bisa satu bahkan lebih. Dalam cernak ini saya sisipkan beberapa pesan moral. Diantaranya: tentang membaca, dengan membaca jadi banyak tahu. Juga tentang pola makan. Makanan yang sehat.

Kembali ke cerita, ketiganya pergi ke hutan angker dimana konon katanya, setiap lalat yang masuk ke hutan itu tidak pernah kembali. Mengapa hal itu terjadi? ternyata di sana terdapat monster Diona.

Seperti apakah monster tersebut? Hmm… baca aja versi lengkapnya di majalah bobo edisi 17 😉

Inilah penampakkan cerpennya:

Cerpen di majalah bobo

Wah, ilustrasi gambarnya bagus! Saya suka banget ilustrasi gambarnya.

Dan inilah penampakkan Alba ketika masih memelihara Monster Diona di rumah kami, waktu dia masih imut banget 😉

Tanaman Carnivora

 

Cerita Dibalik Dapur Wisma Nusantara, London

Ini sisa cerita Lebaran kemarin. Sebetulnya saya ingin menuliskannya setelah mosting ini dan ini, tapi karena sok sibuk, maka barulah kesampaian menuliskannya sekarang.

Di setiap acara kumpul-kumpul masyarakat Indonesia yang diselenggarakan atas undangan KBRI London, pastinya disertai jamuan makan. Apapun itu acaranya. Termasuk pada perayaan Idul Fitri kemarin.

Ketika lebih dari 70% tetamu yang hadir meninggalkan Wisma Nusantara, halaman belakang kediaman Pak Dubes ini mulai lengang. Terlihat berbelas orang duduk-duduk di gazebo, di bangku bawah pohon, selebihnya berdiri dan masih terlibat obrolan santai. Termasuk Pak Dubes dan beberapa warga lainnya.

Sementara itu, Bu Lastri Thayeb menghampiri tenda prasmanan. Saya yang tidak jauh dari sana menghampiri beliau.
“Bagaimana bu? Cape ya kalau mengadakan event besar seperti ini,” sapa saya pada beliau yang terlihat lelah.
“Ya, begitulah. Walaupun cape tapi senang. Karena bisa menjamu tamu,” ujar Bu Dubes.

“Kira-kira, tamu yang hadir hari ini berapa orang, ya bu?” tanya saya.
“Saya perkirakan seribu orang lebih,” ujar Bu Dubes nan ramah
“Wah, menyediakan jamuan makan sebanyak itu bagaimana caranya bu? Terus, bikin rendangnya brapa kilo tuh kira-kira?”
Aih.. kepo deh 😀
Abis ya penasaran aja, saya pengen tahu proses behind the scenes kitchennya tuh seperti apa. Selama ini kan kita cuman datang n makan doang tanpa tau kesibukan dibalik mempersiapkan semua makanan tersebut. 😛

“Sebelumnya kami memprediksi tamu yang bakal hadir sekitar 700-750 orang. Untuk lebih amannnya, saya membeli daging sapi sebanyak 87 kg. Karena ditakutkan tetamu yang datang lebih dari prediksi kami. Dan benar saja,” jelas Bu Dubes

“Oh, mungkin karena lebaran kali ini bertepatan dengan dimulainya musim liburan sekolah, ya bu?” ujar saya, Bu Dubes mengiyakan.
“Namun demikian, saya bersyukur karena makanan yang disediakan cukup. Tadi sempet keteteran kehabisan nasi, sih. Tapi langsung tertangani. So, mostly semuanya cukup. Ibu lihat kan? Rendangnya masih tersisa sebanyak itu?” Bu Dubes menunjuk panci di depan kami.

Sebelum acara makan dimulai

Ya, saya liat di panci besar itu masih tersisa rendang yang jumlahnya lumayan banyak. Kira-kira seperlima panci lah.

“Prinsip saya, lebih baik lebih daripada kurang. Maka selama ini, setiap ada kegiatan seperti ini alhamdulillah selalu ada lebih. Toh, tidak mubazir. Karena saya persilakan makanan lebih ini untuk dibawa pulang masyarakat terutama mahasiswa.”

“Wah, saya boleh take away juga dong, bu.” 😀 Noraakkkkk 😛
“Ya boleh dong!”
Spontan saya menyambar, ketika Bu Dubes mempersilakan take away.
Secepat kilat juga Bu Dubes menjawab. Obrolan serius pun bubar sebentar. Seketika Bu Dubes bergerak maju dan memanggil nama seorang ibu.
“Tolong bungkuskan rendangnya buat ini ya?” ujar beliau pada ibu tersebut.
Makasih ujar saya.

Duh! malu-maluin aja ya? hahahaha…
Biarin ah 😛

Kembali ke laptop! obrolan bersama Bu Dubes yang ramah.
“Ngomong-ngomong, masak rendang sebanyak 87 kilo itu bagaimana caranya, bu?” saya penasaran.
“Itu masaknya dua hari berturut-turut,”
Hah, dua hari berturut-turut?

“Jadi itu masaknya 20 kilo.. 20 kilo… sampai benar-benar rata bumbunya dan pas rasanya juga pas penampilannya. Untuk tahun ini rendangnya dibikin nyemek-nyemek biar ada bumbunya.

“Ibu asli Padang kah?”
Duh! pertanyaan macam apa sih ini? hahaha..
Emang dengan menyajikan jamuan rendang berarti orang Padang?
Ye.. Orang Jawa juga kalau lebaran bikin rendang juga kalee.. 😀
Ya, itu sih pertanyaan selingan, biar lebih akrab mengenal Ibu Dubes kita.

Eh, Bu Dubesnya malah balik nanya. Ah, ibu 🙂
“Ayo tebak, saya asli mana?”

“Padang ya, bu?”
Bu Dubes menggeleng.
“Palembang?”
Bu Dubes menggeleng lagi.
“Aceh?”
Menggeleng juga.
“Hmmm.. pokoknya orang Sumatra, ya?”
Hadeuh.. jawaban saya masih salah juga. Bu Dubes masih menggelengkan kepala juga.

Nyerah ah, bu 😉

“Saya orang Madura,” jawab Bu Dubes dengan senyum menggembang.
“Oh… Madura…,” ulang saya.

Kembali ke laptop obrolan bersama Bu Lastri yang baik hati.

“Trus, masak rendang sebanyak itu dikerjain berapa orang bu?” tanya saya.
“Sendiri.”
Hah? sendiri?
Kayaknya yang masak udah gak ada minat makan rendang di hari Lebaran, kali ya? Soalnya udah keburu enek. Enek ngerjainnya 😀
Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Karunianya kepada bapak/ibu ini yang memasak rendang untuk semua tetamu yang hadir di acara halal bihalal kemarin itu. Aamiin YRA.

“Jadi saya punya 4 staf,” lanjut Bu Dubes. Satu orang ngerjain rendang, dua orang ngerjain dua menu lainnya, satu orang ngurusin semua kue lebaran. Nah, kalau kue lebaran dikerjainnya nyicil seminggu sebelum hari Lebaran.

Kreasi kue lebaran dari dapur Wisma Nusantara

“Ada menu yang dipesan dari luar, gak bu?” tanya saya.
“Gak ada, sajian menu lainnya dikerjakan oleh ibu-ibu Dharma Wanita. Seperti opor ayam dikerjakan oleh 4 orang ibu, sambel goreng ati dikerjakan oleh 3 orang ibu. Sebelumnya kami rapat membahas hal ini. Ayamnya dipotong berapa, detail bumbunya dan lain sebagainya.

Hmm… sekarang kita jadi tahu kan? seperti apa kesibukan dan kerepotan dibalik dapur KBRI London itu. So, kalau misal dalam acara besar seperti ini adalah kekurangan dari pihak tuan rumah. Misal, nasi tekor. Tenang ya mas bro/mba sis. Pada akhirnya nasinya kan datang juga 😉

Satu lagi nih, kalo lagi ada event seperti ini jangan ambil/minta makanan melebihi kemampuan perut kita untuk memakannya. Saya suka sedih ngeliat sisa-sisa makanan di piring alas. Rendangnya masih utuh, opor ayamnya masih nyisa, lontongnya kebanyakan.

Dan begitu, pluk! makanan-makanan itu masuk tempat sampah. Sakitnya tuh di sini.
*nunjuk dada kiri, ala Cita Citata 🙂

Ingat mas bro, mba sis, di negara lain masih banyak orang yang kelaparan serta gak bisa makan enak seperti kita. Juga perlu diingat, saat kamu mau membuang makanan itu, ingat, itu masaknya penuh perjuangan loh. Maka hargailah hasil kerja mereka dengan tidak membuangnya ke tempat sampah.

Disela obrolan, di-interrupt oleh tetamu yang berpamitan pulang kepada Bu Dubes. Baiklah, sementara itu…
“Bentar ya bu,” saya mlipir ke meja prasmanan yang tengah diberesin, “Bisa minta kerupuknya bu,” ujar saya diantara kumpulan ibu-ibu dan mba-mba mahasiswa yang tengah oprasi plastik di sana. Hahahaa…

*Oprasi plastik tuh, kebiasan kami, ibu-ibu, kalau abis acara begini-begini, pengajian, kumpulan, atau apapun itu, ada makanan lebih dan dipersilakan untuk take away, maka sediakan saja bungkus plastik, pasti mereka proaktif oprasi plastik aka mewadahi makanan-makanan tersebut untuk di take away 😀

“Silakan bu,” ini plastiknya ujar yang lain.
Sayapun ngebungkus kerupuk sampai dua plastik. Noraaakkkkk 😀
Biarain, kata Bu Dubes juga Silaken 😛
Tapi bener loh ini serius, krupuk yang tersisa masih banyak tau.

Eh, tetamu yang pamitan dengan Bu Dubes udah berlalu. Balik lagi lah saya.

“Jadi bu, untuk event besar seperti ini berapa kali dalam setahun kah?”
Interview diteruskan dengan tangan saya yang bau minyak goreng dari krupuk itu. Duh Hp saya jadi berminyak deh.
“Tiga kali ya? Idul fitri, Idul adha dan perayaan 17 agustusan. Nah, beberapa kali di tahun-tahun kemarin, halal bihalal bertepatan dengan perayaan 17 agustus, pesta rakyat, dan kami biasa memasak untuk 2.500-3000 porsi. Seperti untuk tahun lalu itu kami bikin rawon komplit untuk 2.500 porsi,” lanjut Bu Dubes.

“Ada sisa bu?”
Hayahh… pertayaannya menjurus kemana nih 😀
Bukan, saya bukan nyesel karena waktu itu tidak take away 😀

“Ada, selalu ada lebih.”
“Oprasi plastik dong ya, bu?”
“Iya, terutama untuk para mahasiswa. Pastinya mereka kangen makanan-makanan seperti itu. Ya lumayanlah buat makan di rumah. Begitu lapar tinggal diangetin aja.”
Begitulah Bu Lastri menutup obrolan kami.

Hari bergerak senja, saya pun pamit pulang, karena seterusnya akan ke Kota Cambridge.

“Pamit, pa,” ujar saya pada Pa Dubes, “Liat nih pa, dioleh-olehi ini sama Bu Lastry,” saya mengangkat plastik putih, 😀
Itu plastik ala kadarnya. Plastik bekas bungkus krupuk. Isinya sebungkus besar rendang, sayur godok (makasih ibu yang udah ngebungkusin 😉 ) dan dua bungkus besar krupuk.

Pak Dubes pun tersenyum sambil mengangkat kedua telapak tangannya.

“Pamit, pa,” ujar saya pada Pa Atase Pendidikan.
“Ya, silakan bu,” beliau mengangkat kedua telapak tangannya, “Ditunggu CJnya.”

Ibu Lastry Thayeb
Formasi lengkap foto ini adalah Pa Dubes beserta keluarga dan staff, ustadz NH dan pejabat BI, maaf ya di crop 😀
Waktu wawancara itu, cuman sekali jepret berfoto bersama Bu Dubes dan ternyata kualitas gambarnya kurang bagus 🙁

Tips, Cernak Bobo Edisi 16

Setelah libur lebaran dapat kabar pemuatan cerpen anak di Majalah Bobo tuh saik banget. Cernak saya kali ini berjudul Face Painting. Seperti halnya cernak saya lainnya, hampir 90% idenya adalah dari kisah pribadi.

Mau tau apa itu Face Painting? klik postingan saya di sebelah ini. 😉

Ketika saya ingin membuat cerpen anak, kadang saya suka ngayal dulu. Kadang sambil liat foto-foto lama. Ehmm… bikin cernak tema apa ya? sambil mikir” gitu biasa muncul deh si ide. Untuk  kali ini, ide cernak saya tentang Face Painting itu tadi.

Sedikit bocoran dan bisikan gaib guru. Katanya Mas Bams, Majalah Bobo suka konflik yang tandem. Halah, apasih? Maksudnya, cernaknya jangan dikasih satu konflik, single, tuntas, beres, udah. Konflik yang single itu kurang seru.

Daripada bingung, saya kasih contoh cernak ini. Berikut sinopsisnya:

Adalah Nayla, ia anak yang pintar menggambar. Dalam sebuah kesempatan bazaar di sekolah ia dan Arida hendak membuka stand. Ide pertama, mereka akan berjualan burger. Mengapa burger? Seting cerita menjurus ke hal tersebut hingga matang. Tapi ternyata ada kendala. Akhirnya mentah lagi.

Plan B. Ide kedua dilontarkan. Yaitu bikin stand tato temporari dengan menggunakan henna.  Ide yang baru dan cukup cerdas kan? Apa itu tato temporari? apa itu henna? gimana cara pakainya? Hal tersebut membuat pembaca cilik tertarik untuk mengetahuinya. Tapi ternyata, plan B ini tidak terlaksana karena adanya kendala.

Plan C. Ide ketiga dilontarkan. Yaitu membuka stand Face Painting. Apa itu Face Painting? Kenapa akhirnya keputusan itu diambil?

Ehm… kayaknya mendingan langsung baca Bobonya aja kali ya? Biar jelas 😉

Intinya tips menulis cernak kali ini adalah: Bikin konflik yang tandem. Jangan yang single. Biar cernak kita jadi lebih seru dan tidak mudah ditebak endingnya.

cerpen anak Bobo

Face Painting, Rosi Meilani, dimuat di Bobo edisi 16, 23 Juli 2015.