Tersesat di Scotland, Jadilah Cernak di Bobo

Beberapa tahun lalu saat road trip ke Scotland, kami tersesat. Tepatnya di pusat kota Edinburgh, yang artikel perjalanannya mejeng di sini.

Jadi ceritanya begini, waktu itu parkiran di tengah kota Edinburgh waduh.. susyahnya minta ampyun. Dua kali muter city center gak dapat tempat parkir (maksudnya nyari gedung parkir gitu). Di sini kan gak bisa parkir di pinggir jalan sembarangan. Kalau bandel parkir sembarang siap-siap aja £60 melayang ;).

Ketika itu kami masih suka jalan dengan pasukan komplit. Papi, mami, teteh, dede 😀 Baiklah, akhirnya pasukan dipecah dua 😉 Saya dengan si sulung, papinya dengan si bungsu. Cewek dengan cewek, cowok sama cowok dong ya… haha..

Saya dan si teteh turun duluan, sementara itu pa supir masih kebingungan nyari tempat parkir yang rencananya bersama si dede bakal nyusul kami di tempat yang telah dijanjikan.

Akhirnya, saya jalan duluan bersama si sulung di tengah kota Edinburgh yang kala itu sedang ada festival yang ramenya minta ampyun. Nonton festival, jalan, jajan, poto-poto, berburu suvenir dll. Sementara itu, pasukan cowok dengan acaranya masing-masing.   Diantara waktu itu kami telpon-telponan mau janjian dimana.

Karena sibuk dengan acara masing-masing sedangkan jatah parkir (berbayar, di pinggir jalan) sebentar lagi habis, maka suami memutuskan janjian di tempat parkir saja. Untuk menuju destinasi berikutnya sebelum malam menjelang.

Via telpon Pa Suami memandu dimana letak parkir itu. Karena gak hapal areanya, walhasil kami (saya dan si sulung) malah nyasar kemana-mana, mana waktu parkir habis lagi (padahal udah diperpanjang bayarnya).

Waktu makin mepet, takut kemalaman tiba di kota berikutnya, capek, hujan, nyasar lagi, jatah parkir habis, pa supir cabut, marah-marah ia. Oiya, untung si pa supir ini melek tekno, doi bilang suruh buka App “Find Friend” di smart phone saya. Hayah! Hpnya mati akibat dipake telponan mandu jalan dari tadi. Untunglah HP si kuteh masih bisa dipake, meski lowbat. Akhirnya, tersambunglah kami (dua grup ini) dengan App “Find Friend” tsb. Oh, syukurlah..

Waktu itu hujan gerimis. Duh, Scotland! (boleh intip artikel yang ini :D) kamu emang gitu deh. Bentar panas, bentar hujan. Bentar gelap, bentar terang. Akhirnya, pa supir nyuruh kami nunggu di satu tempat. Yasud, saya dan si kuteh nunggu di pelataran sebuah gedung tua di Kota Edinburgh yang cantik.

Di App tersebut titik merah terus bergerak-gerak menghampiri kami. Ehm.. semakin dekat nih, saya tengok ke arah kanan sesuai titik merah di Smart Phone si kuteh. Dan, tak lama, berkat titik koordinat yang diberikan satelit, memandu pa sopir menghampiri kami. Alhamdulillah… tersesat di kota cantik inipun menjadi kenangan tersendiri buat saya.

Dan ketika saya ingin membuat cerpen anak, saya angkatlah tema ini. Tapi, tentunya ubah seting tempat, ganti penokohan, ganti alur dsb. Cuman idenya saja yang saya ambil.

Jadi, masih bingung nyari ide untuk sebuah cernak? plis deh! ide itu bisa kita dapat di sejuta tempat, sejuta kenangan, sejuta kejadian kita sehari-hari 😉 Seperti ide-ide cernak saya lainnya yang nyaris 90% merupakan pengalaman pribadi.

Dan, cerita beride awal tersesat di Scotland itupun jadilah cernak yang dimuat di Majalah Bobo edisi 6 yang terbit tanggal 19 Mei 2016 berikut ini:

Majalah bobo rosimeilani.com

Buat yang masih bingung nyari ide untuk cerpen anak, bisa diintip pengalaman konyol bapak saya yang berhasil saya buatkan cerpen anaknya berikut ini.

Ide Cerpen Anak Dari Bapak, Dimuat di Majalah Bobo

Minggu kemarin, saya dapat info dari seorang teman kalau cerpen anak karya saya dimuat di Majalah Bobo yang keren itu.

Seperti cernak saya lainnya yang berhasil dimuat di koran dan majalah, idenya tak jauh dari pengalaman pribadi. Entah pengalaman saya ataupun pengalaman orang-orang di sekitar saya. Nah, untuk cernak kali ini ide awalnya adalah kejadian yang dialami bapak saya ketika ABG.

Untuk diketahui, bapak saya sekarang usianya sudah kepala 7. Pesan yang ingin saya sampaikan ialah: ide itu bisa datang dari mana saja, dari masa kapan saja, bahkan pada masa tahun 60’an sekalipun 😀

Jadi ceritanya begini, ketika saya mudik dulu, saya ke rumah keluarga bapak di Bandung. Rumah itu penuh kenangan bagi kami. Di setiap sudutnya memiliki kenangan dan cerita tersendiri. Salah satunya ialah sebuah sumur yang terletak di samping rumah nenek-kakek saya itu. Meski di tahun 90’an rumah kakek saya itu sudah dipasang air ledeng, namun keberadaan si sumur tua ini tak tersisihkan hingga kini.

Ketika mudik itu, kami, saya, uwa, bibi dan sodara-sodara lainnya ngumpul bersama sambil cerita-cerita masa lalu. Biasalah, klo mudik memang waktunya kami untuk bernostalgia. Ketika saya melonggokan kepala di jendela samping rumah, saya bilang, “Duh, sumur itu, lawas benar”

Ketika itu, mulailah uwa saya bercerita. “Tau ngak? bapamu dulu pernah (dikira) kecebur sumur itu. Hebohlah kami semua dibuatnya.”

Singkat ceritanya, ketika itu terdengar suara gedubrak di halaman samping rumah. Semua orang mengira bapa tersandung atau apalah-apalah hingga akhirnya (dikira) kecebur sumur. Hebohlah semua orang. Setelah panik dan riweuh berusaha menyelamatkan bapa yang katanya (kemungkin) tenggelam.

Selang beberapa waktu, tiba-tiba si bapa nongol begitu saja. Konon katanya baru pulang dari rumah temannya. Hahaha.. D 😀 kocak banget kan? Si uwa sambil ketawa-tawa menceritakannya, kamipun juga.

Nah, cerita-cerita seperti ini bisa kita kembangkan menjadi sebuah cernak yang kocak. Iya gak? Padahal itu kejadian terjadi setengah abad yang lalu. Taruh saja saat itu bapak saya masih ABG, dimana bapa saya sekarang usianya 71 tahun. Uwow banget kan?

So, buat kami yang masih saja bingung dengan ide untuk sebuah cernak, mungkin hal-hal seperti ini bisa dijadikan bahan masukan. Satu tips yang harus diingat, ubahlah seting waktu dan keadaannya.

Baiklah, setelah dieksekusi, ide tersebut saya kembangkan dengan seting waktu kini, tokohnya pun diubah menjadi tokoh anak-anak. Yaelah, namanya juga cerpen anak.

Ini adalah naskah aslinya, silakan nanti dibandingkan dengan cernaknya yang sudah dimuat di Bobo edisi 12 Mei 2016 kemarin. Jadi kamu bisa lihat, bagian mana yang diedit oleh editor Majalah Bobo.

Kecebur Sumur

(Rosi Meilani)

 

            “Mak, beliin sepatu bola dong, Mak!” rayu Ocid pada Emak yang sedang memasak.    

“Jangan sekarang, Cid. Emak belum punya uang.”

“Gak usah yang baru, Mak. Yang bekas aja. Kebetulan Yana mau ngejual sepatu bolanya. Cuman 30 ribu.”

“Buat Emak 30 ribu itu masih kemahalan, Cid.”

“Nanti Ocid tawar deh,” ujarnya berapi-api.

“Nanti tanya Abah dulu. Kamu kan tahu, Abah baru beli bibit tanaman,” jawab Emak sambil berlalu menuju kamar.

“Ya … Emak. Sudah capek-capek merayu, ujung-ujungnya tanya Abah juga.” Ocid mengerutu sambil berlalu.

Tak lama. Brak! terdengar sesuatu dari kamar Ocid.

“Cid! apaan tuh?” tanya emak yang tengah mengelar sejadah.

Ocid tak menjawab. Selang beberapa menit, Ocid ke kamar emak, tapi emak sedang shalat. Ocidpun berlalu keluar rumah.

Ketika hendak pergi, sandal jepit yang dikenakan Ocid putus. Ocid yang sedang kesal makin kesal saja. Spontan ia menendang bibir sumur yang ada di hadapannya.

“Huu uuhh …,” gerutunya.

Brak! Gejebyurrr … separuh dinding sumur tua itupun roboh.

Bunyi keras itu terdengar ke kamar Emak. Emak mengira, suara itu berasal dari rumah tetangga. Emak pun meneruskan shalatnya.

Usai shalat emak ke kamar Ocid. Tak ada Ocid di sana. Emak perhatikan ada pecahan celengan tanah liat di lantai kamar Ocid. Lalu emak kembali ke dapur.

Tak lama, Abah pulang dari ladang.

“Emak … emak …,” dari arah halaman belakang Abah berteriak-teriak.

Emak bergegas menghampiri Abah yang terdengar genting, lalu bertanya.

“Ada apa, Abah? pake teriak-teriak segala.”

“Lihat, sumur kita roboh separuh! Apa yang terjadi?” pekik Abah.

“Hah? Rubuh? Ya … ampun. Apa yang terjadi?” Emak balik bertanya. “Wah, jangan-jangan …,” Emak gusar dan panik.

Emak bertambah panik saat melihat sandal jepit Ocid mengambang di permukaan sumur. Emak menangis sejadi-jadinya. Hingga menarik perhatian tetangga.

“Ada apa ini, Emak? Ada apa?” Abah tak mengerti.

Sambil menangis hebat, Emak menceritakan kejadian tadi. Dalam waktu bersamaan para tetangga datang menghampiri dan berinisiatif memberikan bantuan.

Mang Tatang, Wa Eman dan Kang Sule berlari mengambil tangga bambu dari rumahnya masing-masing. Lalu tangga-tangga itu disambungkan.

“Siapa yang bersedia masuk?” tanya Mang Tatang.

“Aku, Mang!” jawab Kang Sule sigap. Mang Tatang segera melilitkan tambang ke pinggang Kang Sule.

Semua orang di sana melingkup sumur sambil tertunduk menyaksikan Kang Sule menuruni anak tangga menuju dasar sumur. Mang Tatang mengulurkan tambang perlahan.

Hampir sejam kejadian ini berlangsung. Emak semakin panik. Emak tak henti menangis, lalu berujar,

“Emak ngak tau, kalau sepatu bola itu adalah permintaan terakhir Ocid. Tau gitu, emak pasti mengabulkan permintaannya. Lain kali, apapun permintaan Ocid, emak bakal kasih,” emak sesegukan, kepalanya bersandar ke pundak Abah. Sedangkan  tangan Abah melingkar di pundak Emak.

Dalam waktu bersamaan, pundak Emak dan Abah digelayuti sepasang lengan kurus.

“Ada apaan nih,” ujar orang berlengan kurus itu.

Emak dan Abah kaget. Merinding seram bercampur senang. Dug! jantung Abah dan Emak berdebar. Keduanya menengok kebelakang.

“Ocid?!” Pekik Abah dan Emak.

“Ocid?!” seru yang lainnya.

Mang Tatang kaget, terlepaslah tambang yang ia pegang sedari tadi. Tambangpun tercebur ke sumur.

“Mang, tambangnya lepas … pas … pas … pas …,” teriak Kang Sule dari dalam sumur yang menggema.

Semua yang ada di sana memeluk Ocid erat-erat.

“Ada apa sih?” Ocid bingung sekali.

Emak menceritakanya dugaannya. Ocid pun tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha.. jadi, emak pikir Ocid kecebur sumur? Maaf, Ocid ngak pamit sama Emak. Tadi itu Ocid abis ke rumah Yana. Nih lihat, Ocid beli sendiri sepatu bolanya. Ocid tawar. Jadinya 25 ribu saja. Ocid bayar pake celengan Ocid sendiri,” Ocid memamerkan sepatunya penuh bangga.

Sekali lagi, Emak memeluk Ocid erat-erat. Emak bangga pada Ocid.

“Cid, tadi emak janji, katanya apa aja yang Ocid minta nanti mah bakal dikabulkan,” canda Mang Tatang menyeringai.

“Ah, sekarang mah ngak janji, kan Ocidnya juga udah selamat,” emak tersenyum mengelak dan semua yang ada di sana tertawa,

“Itu Si Sule gimana?” tanya Abah.

Tiba-tiba sule nongol di bibir sumur,

“Eh … gimana ini teh. Saya udah capek-capek nunggu di dalam sumur ngak ada yang ngasih instruksi,” ujarnya kesal.

Semuanya melirik pada Kang Sule dan tertawa bersama.

***

Cerpen anak di majalah bobo

 

Tips Menulis Cerita Anak, Dimuat di Bobo

 

Dari kemaren-kemaren kebanyakan posting tips menulis tulisan pejalanan. Sekali-kali posting genre tulisan yang berbeda ah…

Yang saya rasakan, kalau terlalu lama menulis di satu genre terus-menerus kadang bosan juga. Untuk menyiasatinya, saya suka selingkuh genre. Entah itu menulis resensi ataupun menulis cerpen. Atau nulis apa aja deh. Yang penting bisa ngilangin kejenuhan sama si tulper.

Nah, genre tulisan kedua yang paling saya sukai setelah tulper, adalah cernak a.k.a cerita anak.

Kenapa saya suka nulis cernak? Alasannya banyak. Diantaranya:

Pertama. Karena saya, kamu, kita semua pernah ngejamanin masa kanak-kanak.
Masa kanak-kanak saya sangat indah. Kalau kamu?
Kadang saya ingin kembali ke masa kanak-kanak. Tapi mana mungkin? (membaca saja sulit 😛 Anak 80’an pasti apal sama jargon layanan masyarakat itu) :v :v :v

Kedua, lewat cernak saya bisa berimajinasi tanpa batas. Namanya juga pikiran anak-anak 😉 Saya pernah bikin cernak berjudul Janji Salju, dimuat di Bobo. Kadang, cernak tak perlu pake nalar normal, termasuk hadirnya peri-perian. Tapi ending ceritanya bernilai sebuah moral. Itu yang penting.

Ketiga, dengan menulis cernak, kita bisa jadi lebih bijak. Bisa menyelami pemikiran dan perasaan anak-anak. Karena dengan nulis cernak, kita melebur menjadi anak-anak.

Keempat, menulis cernak tuh bisa sebagai sarana jalan-jalan ke masa lalu.

Bayangkan, umur saya udah kepala 4 (sstt… jangan bilang-bilang yang lain ya…) 😛
Diumur semuda itu 😀 saya suka kangen masa kecil. Maka, cara saya kembali ke masa kecil itu, dengan cara menulis cernak. Banyak ide cernak saya diambil dari masa kecil saya sendiri. Bersyukur Allah memberikan ingatan yang kuat.

Misalnya tentang cernak yang satu ini. Judulnya: Pohon Payung Untuk Sarah. Telah dimuat di Majalah Bobo edisi akhir September 2014.
pohon payung bobo
Waktu ini, saya ingat betul. Sebagai kakak saya biasa main sama adik-adik (ga bisa dibilang ngasuh juga sih, soalnya saya kakak yang nga ngemong 😀 Dulu tapiii… 😉

Nah, ujung dari bermain-main itu adik saya tertabrak becak.
Ehmm.. pokonya ceritanya panjang. Nanti saya kasih bocoran mentahnya.
(maksudnya naskah asli sebelum diedit sama Mba V, si editor yang baik hati. ting! 😉

Balik lagi ke soal tips menulis cerita anak.
Jadi, buat kamu yang mau nyoba-nyoba nulis cerita anak, buruan dieksekusi. Jangan kelamaan mikir. Kamu kan pernah jadi anak-anak. Masa sih ga ada cerita yang seru dimasa kecilmu? Cerita yang sendu-sendu juga boleh. Tapi jangan lebay. Karena editor kurang suka sama cernak yang menampilkan kesedihan melulu. Kasih aura ceria, semangat, manfaat dan ending pesan moral yang baik kepada pembaca cilik kita.

Dan terakhir, berikut ini saya sertakan naskah mentahnya, semoga bermanfaat.

Pohon Payung Untuk Sarah
Oleh: Rosi Meilani

            “Kakak, aku ingin payung-payungan seperti itu,” Sarah menunjuk pada Lea yang menyandarkan sebatang tanaman di bahunya.

Oh, Cyperus alternifolius, ujarku dalam hati. Aku tahu nama latinnya, karena minggu lalu mempelajarinya. Tanaman tersebut sejenis rumput-rumputan. Tapi ukurannya lebih besar dan tinggi. Batangnya saja bisa seukuran kelingking. Malah tingginya ada yang sampai satu meter. Ujung batangnya ditumbuhi belasan daun. Daun-daunnya kurus melengkung ke bawah, mirip sebuah payung.

“Nanti, ya, Sar? Kakak ganti baju dan menyimpan tas dulu,” jawabku yang kala itu dicegat Sarah sepulang sekolah.

“Ya … ka, sekarang aja, Ka. Plis….,” rayuan Sarah membuatku iba.

“Lea, dimana kamu mendapatkan payung-payungan itu?” tanyaku.

“Di rumah kosong, Jalan Pelangi, itu loh. Aku dikasih sama kak Luna,” Lea menyebutkan nama kakaknya

“Ayo, aku tahu tempatnya, kak,” Sarah menarik tanganku. Tak lama, “Tuh, lihat kak!” Sarah menunjuk rumah besar di seberang jalan.

“Tunggu di sini, ya! Jangan ikut menyeberang!” ujarku, Sarah mengangguk.

Jalanan padat oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Sebetulnya aku bisa menyeberang di penyeberangan jalan (zebra cross), tapi jauh. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah lengang, barulah menyeberang.

Kudorong pintu gerbang rumah kosong itu, tapi terkunci. Untunglah rumpun tanaman payung-payungan itu menjulur keluar pagar besinya. Kurogohkan tangan untuk memetiknya. Setelah berhasil, kutunjukkan pada Sarah yang berada di seberang jalan.  Sarah berjingkrak senang.

Karena jalanan sangat ramai,  aku harus menunggunya hingga lengang. Tapi Sarah tak sabar. Di luar dugaanku, kakinya melangkah. Sepertinya ia akan menyeberang jalan.

“Sarah, jangan!” berteriaku. Tapi telat. Dalam waktu yang bersamaan  sebuah becak melintas dengan cepatnya. Dan dalam waktu yang bersamaan pula aku langsung menutup mata.

BRAK! Terdengar suara benturan yang amat kencang. Aku langsung membalikkan badan dan berlari tanpa tujuan hingga masuk ke sebuah gang. Sambil berlari aku bingung. Apa yang telah kulakukan? Aku kaget dan merasa bersalah. Aku takut dimarahi Mama.

Perasaanku gundah. Terbayang Sarah terkapar di tengah jalan, berdarah-darah. Aku takut pulang. Aku takut Mama Papa memarahiku habis-habisan. Hingga akhirnya aku terduduk di sudut teras sebuah rumah kosong.

Aku terduduk lama di sana. Jantungku terus berdebar. Pikiranku bingung. Apakah aku harus pulang? ataukah tetap bersembunyi di sini. Mana aku lapar lagi. Karena sedari pagi belum bertemu nasi. Setelah beberapa lama, dari kejauhan terdengar suara yang kukenal memanggil namaku berulang-ulang.

“Tiara… Tiara…,” ujarnya.

Jantungku makin berdebar. Aku menciutkan badan.

“Kemana ya, anak itu?” lanjutnya, tepat dibalik tembok tempatku bersembunyi.

Aku tak bergeming. Tapi perutku yang kosong berontak. Ia ingin mengeluarkan anginnya. Meski kutahan, tapi ia memaksa juga. Akhirnya, duuttt… suara itu keluar kencang beserta wanginya.

“Nah, loh! Ketahuan!,” ujar tanteku memasang wajah yang lucu. “Ayo pulang!” ujarnya.

“Aku takut pulang, Tan. Takut dimarahi mama,” ujarku bertahan, tapi Tante Silvi menyakinkan bahwa Mama tidak akan marah padaku. Akhirnya, aku pun menuruti bujukkan Tante Sivi.

Selama perjalanan pulang aku terus-terusan membayangkan Mama dengan wajahnya yang marah. Tapi ketakutanku bertolak belakang. Mama menyambutku dengan pelukan.

“Tiara, Mama mengkhawatirkanmu. Kamu dari mana saja? Ayo makan nak! Kamu pasti lapar.”

“Mama ngak marah?” tanyaku heran.

“Kenapa harus marah?”

“Bukannya Sarah…,” aku celingukan ke setiap sudut rumah.

“Sarah ngak apa-apa kok,”  ujar Mama yang menarik kursi makan.

“Hah? Lalu, suara itu?”

“Suara apa?”

“Suara kencang itu? seperti suara tabrakan?”

“Oh itu. Gara-gara si abang becak kaget melihat Sarah bergerak maju. Spontan ia menginjak rem, lalu becaknya oleng dan menabrak pagar rumah orang lain.”

“Jadi?” aku ternganga.

“Jadi, Sarah baik-baik saja,” ujar Mama. “Lain kali, kamu ngak boleh ninggalin Sarah begitu saja, ya? Untung waktu itu Tante Silvi lewat di tempat kejadian. Lalu Sarah diantar pulang,” lanjut Mama.

Ah, akhirnya aku merasa lega. Perasaan bersalahku hilang sudah. “Iya, Ma,” jawabku.

Dalam waktu bersamaan Sarah datang.

“Kakak! Kakak abis dari mana?”

“Maapin kakak, ya, Sarah. Nih!” kuberikan sebatang Cyperus alternifolius yang sedari tadi kupegang.

“Asikkk… Makasih kakak.” Sarah memelukku erat lalu berlengak-lengok menyandarkan sebatang Cyperus alternifolius di bahunya seolah sedang kehujanan.

****

Sampai jumpa di postingan tips menulis cernak berikutnya.. 😉

Tips Menulis, Memilih media

Tips memilih media, gimana? tanya teman saya.

Hmm, baiklah. Ijinkan saya yang sedikit ilmu dan pengalaman ini berbagi.

Setiap yang suka menulis biasanya ada kecenderungan satu tulisan yang paling ia sukai. Misalnya, saya suka menulis segala macam genre tulisan. Cernak, cerpen, resensi, tokoh/profil dll. Tapi saya lebih senang menulis tulisan perjalanan. Apapun jenis tulisan yang kita sukai. Semuanya memiliki chance untuk mejeng di media masa di Indonesia.

Jika ditanya, gimana cara memilih medianya? Saya balikin lagi. Untuk jenis tulisan apa? Untuk koran atau majalah? Mau yang lokal atau nasional?

Untuk tulisan apa?

Rata-rata, semua koran memiliki rubrik opini. Jadi kalau mau menjajal rubrik opini, chancenya sangat luas sekali.

Gimana dengan cerpen, puisi, cerpen anak, tulisan perjalanan, resensi, dll? Biasanya, tulisan bersifat hiburan yang saya sebutkan barusan hanya dapat jatah seminggu sekali. Ibarat kata, pembaca udah disuguhin berita polteksosbud (terutama politik) seminggu 6 hari. Pusing kan? Makanya, redaksi menyajikan berita yang ringan-ringan dan menghibur. Nah, di lahan itulah kamu bisa jajal kemampuan tulisanmu.

Untuk koran atau majalah

Berbeda dengan koran, majalah memiliki sedikit chance untuk penulis luar. Tergantung majalahnya sih. Cuman rata-rata mereka welcome untuk: Tulisan perjalanan, Feature dan cerpen.

Kalau ditanya memilih media mana yang lebih asik? pastinya antara koran dan majalah memiliki plus minusnya. Kita tau, koran terbit tiap hari. Sebanyak itu, sebanyak itu pula tulisan opini yang tayang. Artinya menulis di genre itu lebih banyak kemungkinan dimuatnya. Trus untuk jenis tulisan hiburan seperti tulper, cernak, cerpen, puisi, resensi, chancenya seminggu sekali tayang.

Nah, kalau untuk majalah, rata-tata terbit sebulan sekali. Ada juga sih yang terbit 2 minggu sekali ataupun seminggu sekali. Bisa dibilang, majalah yang terbit mingguan/dua mingguan itu keren. Itu berarti tim redaksinya harus lebih banyak materi untuk menayangkan tulisan. Mana rubriknya kan banyak banget tuh (mudah-mudahan di sini ga ada orang redaksi majalah yang dimaksud) 😀

Ngomongin soal majalah yang terbit mingguan, 2 mingguan dan sebulan sekali, maka bisa disimpulkan 1:2:4. Artinya, kalau kita ngirim ke majalah bulanan, berarti kita harus menunggu 1 bulan 1 tulisan. Kalau kita masuk waiting list urutan 4, itu artinya tulisan kita bakal mejeng 4 bulan yang akan datang.

Kalau di majalah 2 mingguan tulisan kita duduk di urutan 4, itu artinya kita duduk manis nunggu tayang 2 bulan yang akan datang.

Kalau di majalah mingguan, jika tulisan kita duduk di urutan 4, itu artinya kita cuman nunggu kurang sebulan aja. Abis itu senyum-senyum deh tulisannya mejeng manis di sana.
***

Ayo, dipeleh.. dipeleh.. dipeleh…. tulisan kamu mau dimasukin kemana? Jawabannya ada di kamu sendiri. Oiya soal jenis-jenis tulisan n jenis-jenis media ini ada plus minus terkait honornya.  Ah, soal ini mah lain kali aja dibahasnya, biar fokeus 😛

Lokal atau Nasional

Nah, soal tulisan kita dilempar ke media lokal dan nasional, ini juga perlu dipertimbangkan.

Ibarat anak kecil yang sedang meniti tangga, tentulah kita lakukan langkah termudah untuk menguasai medan. Bukan berarti meremehkan kemampuan diri. Tapi cara inilah yang banyak dilakukan orang untuk mengukur kekuatan diri.

Ada sebagian orang yang menjajal koran-koran lokal terlebih dahulu, setelah menguasai medan, barulah PD menjajal koran nasional. Atau, awalnya menjajal majalah yang saingannya tidak terlalu banyak. Setelah PD baru maju ke medan yang lebih berat.

Tapi, yang saya katakan di atas itu bukan sesuatu yang mutlak.

Ibarat kata, kita ingin jadi juara satu. Lalu kita bekerja keras, gigih, pantang menyerah, dll. Ketika hasil akhir hanya jadi juara 2, itu masih memuaskan, kan? Dibanding, sedari awal cuman narget juara harapan doang. Setelah semangat berusaha, nyatanya hanya masuk 10 besar. Rasanya, enak yang mana? juara 2 atau masuk 10 besar doang? Wah analoginya kejauhan ya? hehe..

Jika anda membaca sebuah artikel di sebuah koran/majalah populer lalu terbersit. Hmm, sepertinya saya juga bisa bikin tulisan seperti ini. Maka lalukanlah!

Jadi.. ya gitu deh..
Kalau ditanya gimana cara memilih media yang tepat untuk tulisan kita?
Kembali lagi: jenis tulisannya apa? mau dikirim ke koran apa majalah? mau yang lokal apa nasional? Mau majalah mingguan, 2 mingguan, bulanan? Kita mampunya kemana kira-kira?

Semangat menulis….

keyboard