Sambil Menyelam Minum Air

Udah jadi kebiasaan nih. Kalau misal mau ada acara ke luar kota. Ataupun kemanapun itu, suka kepikiran, ehmm… kira-kira, ada yang bisa dijadiin video CJ nga nih? hihihi.. dasar, ogah rugi.

Dulu-dulu, kalau dalam kondisi yang sama, saya suka mikir, ehm… kira-kira, ada yang bisa dijadiin bahan tulisan gak, ya? hahaha… Masa berubah, minat pun berubah pulak. Entah kenapa, sekarang saya lebih senang bikin Video CJ ketimbang nulis buat media. Mungkin karena prosesnya lebih gampang, kali ya? N honornya ituloh 😛

Nah, saat menghadiri pengajian bulanan di Kota Bristol minggu kemarin itu, saya sambil menyelam minum air. Pengajian kan mulai jam 12, ngaret-ngaret dikit bolehlah… 😉
So, sebelumnya saya mlipir dulu ke pusat kota Bristol kebetulan di sana lagi ada event gede.

Emang sebelum pergi ke pengajian browsing dulu sih, kira-kira.. sambil menyelam minum airnya kemana nih? Sebetulnya di hari itu banyak banget event yang bisa diliput. Namun, mengingat waktu yang mefet, ya cuman bisa ngeliput acara yang bertajuk Bristol Festival of Nature ini.

Di hari minggu nan cerah itu, saya beserta suami dan anak, diantar oleh keluarga Pa Budi yang baik hati menuju TKP Bristol ke TKP. Sementara keluarga Pa Budi kembali ke rumah untuk mempersiapkan hidangan pengajian, saya sekeluarga langsung larut dalam acara.

@Bristol

 

Shoot sana, shoot sini, tak terasa, nyaris sejam. Yu ah… cap cus! Sebenernya gak asik banget menikmati acara grasak-grusuk begini. Tapi apa daya, waktunya mefet banget. Sehingga stand-stand makanan terlewati sudah. Etapi, lagian, kan bentar lagi juga bakal makan siang di pengajian? 😛

Baiklah, perkiraan jatah sejam nyaris habis, kami pun menuju parkiran. Setelah memasukkan kartu parkir di mesin yang tersedia. Tertulis, waktu parkir 1 jam 9 menit. Ealah.. abisnya sih, tadi clingukan mulu sebelum ke tempat parkir. Maklum banyak atraksi menarik n stand-stand yang mencuri mata. Jadi aja, kami harus membayar £3,5 untuk parkir yang hanya lebih 9 menit itu. Padahal kalu sejam pas, cuman £2. Ya sudalah…. 😉 Langsung cabut ke pengajian, yuk!

Dan inilah hasil liputan di Bristol Festival of Nature yang tayang hari ini di NET10, NET TV, Rabu 17 Juni 2015.

 

 

PPI Inggris Tanding Badminton dan Sepak Bola di Nottingham


Tanding sepak bola mahasiswa Indonesia di InggrisTim Sepak Bola PPI Bristol

Dalam rangkaian kegiatan Indofest, pada Minggu 7 Juni 2015, tidak hanya digelar pertunjukkan seni budaya, seperti pagelaran busana karya anak bangsa,  tapi juga digelar pertandingan olah raga. Berupa badminton dan sepak bola. Dengan menempati lokasi yang sama, yaitu di area kampus University Boulevard Lenton, Nottinghamshire.

Kedua pertandingan tersebut berlangsung bersamaan, dimulai pada pukul 11 siang. Rombongan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) perlokaliti kota mulai berdatangan sejak pukul 10 pagi. Banyak diantara mereka datang bersama rombongan dengan menggunakan bus sewaan ataupun dengan kendaraan umum. Ada pula peserta yang datang sehari sebelumnya dan bermalam di Kota Nottingham ini. Seperti rombongan PPI Bristol yang terdiri dari belasan mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang kuliah di University of Bristol dan University of the West of England.

Acara ini bukan hanya sekadar tanding olah raga semata. Tapi lebih dari itu. Diharapkan acara ini mampu merekatkan Persatuan Pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu di Inggris. Agar silaturahin akbar ini berjalan seru maka dikonseplah pertandingan olah raga salah satunya.

Semua Tim PPI per lokaliti kota berlaga sepenuh hati, gigih dan penuh perjuangan dalam pertandingan badminton dan sepak bola ini. Sehingga pertandingan berjalan seru dan alot. Bahkan untuk pertandingan sepak bola itu sendiri berakhir hingga jelang pukul enam sore.

Pertandingan sepak bola Indofest yang ke-12 ini dimenangkan oleh Tim London. Begitupun untuk badminton ganda putra dan ganda campuran, dimenangkan pula oleh PPI London. Selamat!

Melihat antusiasme PPI se Inggris yang semangat bertanding dengan sepenuh hati dan penuh kegigihan, jadi tak sabar menunggu Indofest tahun depan.

Bagaimana serunya pertandingan badminton dan pertandingan sepak bola antara PPI per lokaliti Kota di Inggris ini? Silakan tonton cuplikan kegiatannya berikut ini:

 

 

Desa Liliput

Ada yang pernah dengan kata “liliput ?
Ehm, sepertinya hanya angkatan empatlima saya ke atas yang pernah dengar kata ini.
Jadi, kalau masa kecil kamu pernah dengar kata liliput. Tandanya kamu udah tua! 😛

Pertama kali saya mendengar kata liliput dari mamah saya. Dulu, duluuu… banget, waktu saya kecil. Waktu itu mamah sering mendongengkan tentang liliput dan negri raksasa. Saking seringnya mamah bercerita tentang negri raksasa dan liliputnya, hingga tertanam di daya khayal saya. Bahwa negri raksasa itu ada. Bahwa liliput alias manusia bentuk mini itu ada. Dalam pikiran saya waktu itu, manusia liliput itu seukuran jari-jari manusia.

Ehhmm.. daya imajinasi seperti inilah yang kayaknya masih nempel di otak saya yang kadang suka bikin cernak fantasi. Seperti yang pernah dimuat di bobo berikut ini. 😀

*****

Time Flies.

Pada awal 2010, tepatnya, pas, persis, di tanggal 1 Januari. Saya dan keluarga nonton film berjudul Gulliver’s Travels. Saya inget banget moment ini. Soalnya memorable banget. Alias dongkol banget.

Ceritanya waktu itu, dalam rangka celebrate something, bapaknya anak-anak ngajak nonton. Biasalah, si bapak ini serba teknologi, sampe-sampe pesen tiket pun via inet.
“Ayo, anak-anak, mau film apa? Mau nonton yang jam berapa? dimana?” kata si bapak.

Kalau tanya dimana, ya gak ada pilihan lagi. Pastinya cuman di VUE Cinema. Satu-satunya bioskop yang ada di kota kami 😛 Cian ya? 😀

Mungkin maksud di bapak mau ngajak nonton ke luar kota? 😀 Ah, ga usah lah. Masa untuk nonton film yang sama harus ke luar kota.

Waktu itu film Gulliver’s Travels baru aja keluar. Udah gitu, yang mainnya Jack Black. Pas banget. Si Jack Black ini kan aktor idolanya si bungsu. Gara-gara akting sebelumnya di film School of Rock yang bikin ia suka. Hingga ditonton berkali-kali. Dan, bahkan, sountrack lagu film ini kami masukan dalam lagu pilihan peneman road trip kami lintas England-Scotland. Seru deh, nyanyi-nyanyi bareng lagu ini.

Balik lagi ke soal film Gulliver. Saya pikir, karena film ini baru keluar, maka kami pesan tiket online plus milih tempat duduk sendiri, VIP pulak.

Dan ternyata pemirsah! di kota Worcester saat itu sepi sodarah-sodarah. Termasuk suasana Vue tersebut. Dan kamipun baru sadar. Ya ea lah. Ini kan tanggal 1 Januari. Ini bukan Indonesia. Ini Inggris. Dimana mereka masih pada nyungsep akibat hangover. Sisa mabok semalam. Milih jam tayang siang pula. Walhasil itu kursi bioskop kosong melompong. Ya.. hanya bisa dihitung jari gitu deh. Nyesel bingits pilih korsi VIP 😛
Ah, dasar!

Tapi, asik juga, sih. Jadi serasa bioskop pribadi. Film dimulai dan kami menikmatinya.

Adalah Gulliver. Seorang OB di sebuat perusahaan media cetak. Ia mendapat tantangan untuk membuat sebuah artikel. Dengan modal kopas sana-sini artikel tersebut diacungi jempol oleh bosnya. Hingga akhirnya ia melakukan sebuah ekpedisi. Maka dari itu film ini diberi judul Gulliver’s Travel. Nasib sial menimpa si Gulliver, singkat kata, doi terdampar di Negri Liliput.

HEI! ini kan dongeng sebelum tidur yang sering mamah saya ceritakan dulu.

Ebentar.. ebentar.. saya coba mengingat-ngingat kembali masa kecil saya. Seingat saya, waktu saya kecil, saya juga pernah nonton film sejenis ini di TV. Dulu… duluu.. banget.

Eh, dan ternyataa… emang cerita ini diambil dari novelnya Jonathan Swift yang ditulis pada abad 18. Ya pantesan aja. Artinya Gulliver’s Travel yang dimainkan oleh Jack Black adalah versi kesekian.


Negri liliput
Yang baju merah temannya Gulliver 😀 Foto diambil taun 2010’an deh kayaknya.

Nah, ngomongin soal negri liliput. Mari kita bayangkan dengan seting tempat hasil liputanku ini…. (Gak nyambung dengan prolognya sih) 😛

Mewawancarai Duta Besar RI untuk Inggris (lagi)

Setelah foto-foto dengan teman mayaku yang nginep di rumah beserta gangnya, kami, The Sudayas langsung meluncur ke Nottingham untuk menghadiri Indofest. Rencana awalnya sih kami mau konvoi (heuheu.. 2 mobil doang dibilang konvoi) dengan mobilnya Yu Mala menuju Indofest. Tapi The Bolangers ini mengubah rencana. Mereka travel dulu ke Wolverhampton baru nanti janji ketemuan di Indofest.

Setelah 1,5 jam perjalanan tibalah kami di Nottingham. Waktu menunjukkan kurang dari jam 11. Artinya masih ada waktu beberapa saat sebelum pertandingan badminton dimulai. Jadi ceritanya nih, bapaknya anak-anak mau tanding badminton gitu… Mewakili PPI Bristol. Meski tinggal di Worcester tapi kami tergabung dalam rombongan tagoni komunitas Bristol. Nebeng gitulah. Maklum, di Worcester ini hanya kami orang Indonesianya. Cian ya? 😀

Well, pertandingan badminton dimulai. Si Yayang nyuruh saya mendokumentasikan permainannya.
“Deuh, udah kayak Ahsan aja.” 😀
“Eh.. bukannya gitu. Biar bisa mengamati gerakan sendiri. Terus bla.. bla.. bla…”
“Okedeh kaka…,”
Akhirnya, selama doi tanding, saya nge-shoot di pojokan lapang.

Beres tanding, saya langsung cabut.
“Udah, ya, kaka.. Adik mau ngeliput dulu. Secara, hari makin siang. Takut gak dapat banyak scene n Pa Dubesnya keburu pulang.”
“Baiklah, adik. Pergi sana, gih!”
😛

Sebelum menuju lapangan tempat gelaran Indofest, saya mlipir dulu ke lapangan bola. Eh, tenyata, anak PPI Bristol blom maen. Ya udah, cap cus ke lapangan. Ealah, acara udah berlangsung lama dan berlangsung seru. Pertunjukkan demi pertunjukkan berupa tarian dan nyanyian telah berlangsung. Udah deh saya liput sana-sini. Setelah pentas seni usai, Pa Dubes pun bebas tugas 😀 Secara, beliau ditunjuk menjadi juri. Keren gak tuh, Dubes jadi juri. Jempol deh buat Pak Hamzah Thayeb, Dubes RI untuk Inggris. Jempolll..
*Sttt…. kira-kira, Pa Dubes baca postingan ini gak, ya? 😀

Setelah Pa Dubes meninggalkan kursinya, saya merapat.
“Met siang pa. Saya Rosi.. bla.. bla..bla….”
Belum juga saya menamatkan kalimat, beliau udah nembak.
“Oiya, ini yang mewawancara saya di BIS itu kan? Yang waktu ambil scene itu melawan sinar matahari bla.. bla.. bla….”

Tuing! jangan-jangan, Pak Dubes baca postingan saya ini. Kalau iya. Wah, gaswat 😀

“Bapak, mau sampai jam berapa di sini?”
Lagi-lagi, ini pertanyaan kurang ajar saya 😀
Maksudnya kali aja bapak cuman hadir sebentar seperti di acara BIS itu.

“Saya sampai sore di sini,” jawab beliau sambil melirik jam tangannya.
“Baiklah, pa. Sebaiknya, kita lakukan wawancara dimana, ya, pa?”
Lagi-lagi, pertanyaan yang sama yang saya lontarkan seperti wawancara pertama kali dulu.

“Ayo, kita ke sana!”
Dan kami bertiga pun menuju pinggiran lapang yang sangat luas di Indofest itu. Bertiga?
Iya, bertiga.
Saya, Bapak Dubes dan Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London.

“Sebaiknya di sini saja. Backgroundnya pas banget deh, tuh,” ucap Pak Atdikbud.
Baiklah, saya pun nge-set HP. Siap-siap mewawancara. Sebelumnya saya lemparkan beberapa pertanyaan kepada Pak Dubes. Pandangan mata Pa Dubes pun langsung tertuju ke arah HP saya.

Sementara itu, Pak Atdikbud berdiri di belakang saya. Tetiba beliau melemparkan pertanyaan kepada Pak Dubes.
“Bagaimana menurut Pak Dubes tentang acara ini… bla.. bla.. bla….”
Weiissstttt… mantappppp…
Serasa diasistenin Pak Atdikbud, heuheuheu…
Duh, jangan-jangan, postingan ini dibaca juga sama beliau.
Pisss… Bos…
N Makasih tentunya 😀


I
Dubes RI di Indofestn action, foto taken by Pak Atdikbud. Makasih banyak pa.

“Thank you,” kata saya kepada Pak Dubes seusai diwawancara.
“Terima kasih,” jawab Pak Dubes.
Deuh, malu aku malu, pada semut merah 😀

Nah, setelah misi berhasil, kini waktunya sambil berenang minum air 😛
Dan saya pun mengeluarkan buku saya “Jelajah Inggris” 😀
Modussss…. 😛

“Pak, ijinkan saya memberikan buku ini kepada bapak,” ujar saya mesem-mesem.
Dan Pak Dubes pun tersenyum senang (mungkin, entahlah) 😛
Hanya beliau dan Tuhan yang tahu 🙂
Semoga senyuman beliau tidak diiringi ucapan dalam hati, “Eh, apaan nih si ibuk,” 😀

Pak Dubes langsung membaca Sinopsis di bagian cover belakang buku Jelajah Inggris tersebut dan berkata,
“Wah, sudah lama sekali saya tidak menemukan kata “pelancong”,” beliau berseloroh ramah.
Dan inilah penampakkannya ketika beliau berseloroh tersebut.

Hamzah Thayeb dan buku jelajah inggris

 

“Semoga buku ini ada manfaatnya,” ucap saya, “Eh, saya ngak yakin juga sih, apakah buku ini akan ada manfaatnya untuk bapak.”
Hahaha… saya ketawa sendiri. Secara, ini kan Dubes RI untuk Inggris gituloh.

“Terima kasih atas waktunya,” ucap saya. Kami berjabat tangan, “Selamat ulang tahun ya, pa.”
“Loh, siapa yang ulang tahun?” seloroh Pak Dubes sambil tertawa kecil.
“Udah telat ya, pa,” sambung saya ikut tertawa juga.
Secara, ultah beliau emang minggu yang lalu.

Baiklah, sambil lalu Pak Dubes memasukkan buku Jelajah Inggris ke dalam saku jasnya.
“Eits, bentar pa. Keren nih,” sergah saya. “Ijin foto dulu, ya, pak?” ujar saya.
“Oiya, silakan,” jawab Pa Dubes ramah. “Ebentar, diginiin dulu dong,” lanjut beliau sambil medorong bagian bawah buku, supaya buku Jelajah Inggrisnya lebih jelas terlibat.

Keren deh bapak. Makasih banget pak. Bangga deh punya Dubes kayak Pak Hamzah. Mengerti akan kebutuhan warganya. Butuh promo untuk buku saya ini maksudnya hehehe..

Kapan lagi coba, promo gratisan. Sama Dubes RI untuk Inggris pulak.

Terima kasih bapak. Sukses selalu untuk Pa Dubes.
Terima kasih juga buat Pak Atdikbud. Sukses selalu.

Hamzah Thayeb, Dubes RI untuk Inggris
Buku Jejalah Inggris di dalam saku Dubes RI untuk Inggris

Dan inilah cuplikan hasil wawancara dan liputan tersebut. Tayang di Net10 tanggal 9 Juni 2015.