Category Archives: inggris dan ceritanya

Ketika Hati Berkata, PULANG! | When the Heart Says: GO HOME!

Me and my mum, years ago when I was 50
Me and my mum, years ago when I was 50

Lama gak nulis, kangen banget. Lama juga aku gak apdet sosial media (Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube) setelah apdetan terakhir klip “berpulang” nya mamah.

Adapun apdetan sebelumnya: trip ke Antalya, York and London. Tak lama setelah itu mendapat kabar mamah masuk RS. Penyebabnya karena beliau terjatuh.

Ini bukan pertama kalinya beliau terjatuh, mungkin karena keseimbangan tubuh beliau. Mamah dan bapak tinggal berdua, tapi ada yang jaga. Saat kejadian yang jaga lagi gak ada. Setelah itu mamah masuk RS dan dirawat. Aku telfon beliau, bertanya kondisinya.

“Kumaha, mah. Mamah pengen Osi (sebutan kecilku) pulang?” tanyaku.
“Iya, pulang atuh.”

Dari suara yang kutangkap sepertinya beliau baik-baik saja, hanya keluhkan pahanya yang sakit.  Tapi entah kenapa, hati ini berkata “PULANG!”

Sebetulnya kami (aku dan suami) udah punya tiket pulang untuk bulan September. Artinya, Juni pulang, September pulang juga. Kebayang waktu, tenaga dan biaya yang double. Belum lagi jatah cuti yang makin habis. Tapi rasaku tetap berkata, “PULANG!”

Besoknya, aku ngomong sama manager, acc!. Malamnya langsung booked tiket dibantu suami (as usual). Besoknya, adik ngabarin.
“Teh, mamah udah pulang. Kalau teteh gak pulang juga gak apa-apa. Toh, September jadi pulang kan? Mamah aman!”

Result dari RS, kemungkinan retak tulang. Harus kontrol tgl 8 Juli ke RS yang lebih besar untuk tindakan lebih lanjut. Mungkin operasi atau apalah itu. Baiklah, mamah pulang… Ehm.. aku bimbang. Besoknya, aku bilang ke manager and kolega. Gimana nih, batalin cuti bisa gak?  Kupikir ulang, cuti udah di acc, temen-teman aman. Sementara beberapa minggu kedepan banyak teman bergantian ambil cuti hingga peak season Agustus, summer holiday.

Aku tanya suami dan anakku, gimana nih, cancelled? Setelah di cek, Ya ampun.. Ternyata tiketnya non refundable dan gak bisa diganti tanggal pula. Sumpah, ini gak biasanya. Biasanya suamiku sangat teliti saat booking tiket dan bayar biaya ekstra agar bisa ganti tanggal. Entah kenapa yang ini enggak.

Saat bimbang, hati tetap berkata, PULANG! Semua persiapan singkat. Ada waktu seminggu. Itupun tiap hari aku kerja utama dan ada kerjaan part time lainnya. Sepulang kerja aku nyicil beli oleh-oleh ini dan itu, ritual rutin setiap mudik. Sebelumnya, aku tanya mamah.

“Mah, mau dibawain apa dari Inggris?”
Ah, gak usah bawa apa-apa, atahna weh (mentahnnya saja aka uang) 😀”
Joke klasik yang sering terlontar di antara kami.
“Palingan coklat weh,” ceunah
Harr… haha

Lalu kutanya bapak, “Bapak hoyong dicandakeun naon?”
“Ah gak usah,”
“Naon atuh, kaos?” paksaku, karena beliau jarang banget punya permintaan kepada anak-anaknya.
“Eta weh atuh baju koko, buat ke mesjid,”
“Atuh baju koko mah gak ada di Inggris,”
“Ya udah atuh, beli di sini weh, nanti,”
“Kaos weh nya pa?” paksaku.
“Nya atuh. Tapi gak usah maksain kalau gak ada waktu mah. Ku pulangna ge bapak mamah mah atoh pisan. (Ok, tapi jangan memaksakan, dengan pulangnya kamu, sudah bikin bapak mamah bahagia).
Obrolan di WA itu pun berakhir.

Sepulang kerja aku ke supermarket beli banyak oleh-oleh coklat. Setelah keluar supermarket, masuk WA dari bapak.
“Kata mamah, pengen coklat yang di kaleng,” ceunah.
hm.. coklat apa ya? Aku berpikir keras. Aku pernah beliin beliau coklat apa ya? Di kaleng? Seingatku bukan di kaleng tapi Celebration/Heroes/Quality street gitu deh.

Besoknya, sepulang kerja, aku ke supermarket lagi. Aku ubek supermarket” di LB. Gak nemu apa yang dimaksud mamah. Akhirnya aku beli coklat lindl , coklat kesukaanku, kuharap mamah juga suka. Selain itu, aku beli dua box coklat, rasa campur-campur. Satu lagi, mamahku suka banget kacang pistasio. Aku beli banyak. Ya, namanya juga keluarga besar. Bungkus… 

Pulangnya, aku nyicil packing koper.
“Gimana kondisi mamah?” tanyaku pada adik.
“Tidurnya kurang nyaman. Posisi tidurnya harus tinggi. Kiri kanannya harus diganjel bantal juga.”
Hm.. hal itu membuatku berpikir, gimana caranya agar beliau nyaman? 

Aku punya bantal yang bentuknya unik. Kayak “V” atau “U” beli dari ikea beberapa tahun lalu. Kupikir itu akan nyaman buat beliau. Sebetulnya saat liburan Agustus tahun lalu  udah coba cari di IKEA Indonesia (Padalarang-Bandung) tapi gak nemu. Nyari di olshop Indonesiapun gak nemu. Adanya yang besar. Seperti bantal ibu hamil yang ukurannya setengah kasur. Busyet… Tapi kayaknya bantal itu nyaman juga buat mamah. Akhirnya aku minta pesankan ke keponakanku. Bungkus.. 

Sementara itu, aku tetap akan membelikan mamah bantal di ikea. Pulang kerja, cus.. Rencana beli 1, jadinya 4.
“Gimana ini bawanya?” suamiku terheran-heran.
Prinsipku, beli aja dulu, kebawa apa enggak, gimana nanti 😀
sofar ini unusual things yang aku bawa ke Indonesia. Semua ini demi apa cobak?!
Demi kenyamanan mamah saat beliau tidur. 

Gak hanya itu, aku bawa pula sarung bantal, sprei/selimut, handuk putih yang tebal dan nyerap air, sampai throw cantik dan lembut. Semuanya buat ibuku. Satu yang gak bisa kubawa, kasur” 😀

Pulangnya, aku packing lagi. Sayangnya cuman muat 2 bantal.  Jatah bagasi 23 kg. So far baru 17 kilo. Wah? Bulky sih. Tapi ringan.

Besoknya, pulang kerja balik lagi ke MK. Beli beberapa kaos dan barang lainnya. Pulangnya packing lagi. Koper Full sudah! Tapi masih 20 kiloan. Bawa apa lagi ya?  Bentar! Di kulkas ada mature cheese cheddar, butter, telur, terigu, komplit! Malam itu juga aku bikin kue keju aka kastengel dua resep. Kelar tengan malam!  Berasa mau lebaran. Dapurku wangi kue tengah malam. Btw, kastengel ini kesukaan mamah banget. 

Tenang sudah, flightnya besok.

TERBANG. BISMILAH!

Penerbagan Jumat, suamiku sengaja ambil cuti. Ini kali pertama aku pakai Cathay Pasifik, untuk menghindari jalur Timteng yang masih bikin was-was suamiku, padahal tiketnya lebih mahal loh, tapi okey lah.

Penerbangannya 12 jam lebih, bikin panas pantat! Kalau jalur timteng kan dibagi dua jaraknya. 12 jam lebih itu bisa nonton film full 4 judul, 4 kali makanan/cemilan. Makan, tidur, nonton, pipis – makan, tidur, nonton, pipis, gitu aja terus berulang sampai 12 jam. Nyampe Hongkong, stop over 2 jam, lanjut Jakarta. Hp setting flight mode.

Saat landing, buka HP, banyak messages masuk. Mamah masuk RS lagi. Keluhannya bukan karena soal tulang yang retak itu, tapi sesak napas. Bandara Soeta – Bandung sekitar 3 jam. Nyampe Bandung lepas isya. Tadinya aku pengen pijat dulu di tempat spa langganan, lalu makan malam, ke rumah, istirahat, mandi, lalu ke RS. Tapi rencana berubah. 

Tiba di pool bus Primajasa Batununggal aku dijemput adik ipar dan ponakan langsung ke RS. Gak sabar ketemu mamah tercinta. Satu koper bagasi, satu koper cabin, tas tentengan masuk ke bagasi mobil. 

Mobil memasuki area parkir RS di kawasan kopo. Wah, rumah sakit ini banyak berubah. Rasanya lebih luas. Lebih modern, banyak cafenya. Saat memasuki bagian dalam RS, eh, rasanya sama seperti dulu, puluhan tahun lalu. Koridornya, ruang-ruang rawatnya, taman-taman kecil depan kamar-kamar rawatnya.

Memasuki ruangan mamah ada rasa gimana gitu. Nyaris 20 tahun aku di Inggris. Tiap mudik selalu kujumpai mamah dalam suasana gembira, tawa dan canda. Tapi kali ini beda. Hawanya gloomy, sedih.

Kucium tangannya. Berbalas cerita kita. Gimana kabarnya mamah, apa yang dirasa? Gimana kabarnya aku, sama siapa ke Indo? Sendiri? suami dan anak-anak gimana kabarnya, jam berapa dari Inggris, jam berapa tadi nyampe?

“Mah, Osi ada oleh-oleh buat mamah, tapi masih di mobil, ujarku,”
“Ih, panan mamah bilang gak usah riweuh bawa oleh-oleh, asal eta weh,”
“Eta naon kata aku dan adikku sambil ketawa”
Atahna? Hahaha.. Semua yang ada di kamar itu untuk saling pandang dan saling paham.
“Ya udah, atahna..” kataku bersemangat.

Candaan ini bikin hatiku senang dan tenang, artinya mamah baik-baik aja. Gen tukang heureuy dan ngabodor ini mamah turunkan pada anak-anak dan cucu-cucunya, eh, malah menantunya juga.

“Ya.. aku gak punya uang, kumaha atuh?” kataku.
Mamah menatap tak percaya. Sementara itu aku keluarkan lembaran uang berwarna ungu.
“Ih, duit naon ieu?”  mamah mengernyitkan dahi.
“Duduitan,” timpat cucunya
“Duit teu payu nu kitumah,” sambut adikku.
“Kumaha atuh?” beliau lirik tumpukan uang bergambar Raja Charles tersebut.
“Duit monopoli eta mah?” timpal yang lain.
“Ya, piceun weh atuh,” lanjut mamah disambut tawa yang lain.
Aish.. bisa jang meuli motor sakieu teh. Motor tilas.. hahaha

“Mamah pengen berapa?” tanyaku.
Belaiu menyembut sejumlah angka.
“Kumaha lamun dikali dua,“ saranku.
Beliau tersenyum mengiyakan.
“Kumaha lamun dikali dua deui?”
Tambah tersenyum ia.
Yaudah, besok nya.. Etapi, GMC (Money Changer) besok kan tutup. Kieu weh.. Aku berbisik pada iparku.

“Mah, aya oleh-oleh buat mamah, tapi di mobil. Osi ambil dulu ya?”
“Engke ka dieu deui moal?”  seolah ia tak mau ditinggal.
“Iya atuh, da tadi rusuh saking pengen cepet-cepet ketemu mamah,”
“Ya sok atuh,”

Di tempat parkir.
“Sok buka itu kopernya. Di koper besar ada 2 bantal. Di koper kecil ada coklat, kastengel dan pistachio,”
“Ulah kacang mah. Engke weh mun udah pulang ke rumah. Ini terlalu banyak.”
Oiya, sebelumnya aku tf ke iparku dan tarik tunai di lobi RS.

Kembali kami masuk kamar mamah.
“Yeu mah…,”
“Wah…,” ia kibas-kibas uang berwarna biru itu.
“Seger mah?” tanyaku.
“Seger?” ulang yang lain di ruang ini.
“Seger….,” timpal mamah berbinar disambut tawa yang lain.

Moment kecil kayak gini tuh bikin aku senang bukan main. Alhamdulillah. Sungguh tak terlihat kesakitan dalam diri mamah. Saat itu benakku berkata, mamah hanya perlu istirahat beberapa hari di RS saja. 

“Rin, simpen di dompet,” pinta mamah pada adikku.
“Siap bos!” 

“Nah ini coklat pesanan mamah,” aku buka boxnya.
“Kela, emang boleh?” tanya adikku.
“Iya, emang boleh?” mamah yang awalnya antusias jadi ragu.
“Emang mamah sakitnya apa?” tanyaku.
“Jantung dan ada sedikit batuk,”
“Ah, biarin lah. Asal jangan bilang ke dokter dan suster,” ujarku.
Yang lain sepakat sambil ketawa-ketawa. Umur 81, 56, 53, 51 dan 20. Ibu, anak, mantu dan cucu yang pada bandel kayak anak SMA yang sedang melanggar peraturan sekolah hahaha…

“Ya.. coklatnya meleleh,” aku lap lumeran coklat di bibir dan dagu mamah.
Ini coklat Inggris, perlu hawa dingin. Agar sensasi gigitan tengahnya lebih terasa saat padat, ujarku.
“Iya, ini mah malah jadi kaya kue klepon!” ger.. kembali kami tertawa bersama.

“Cik, nyoba!” adikku, ipar dan keponakanku riweuh.
Belum lagi riweuh pada makan kue keju aka kastengel buatanku yang kres dan kejunya ngeju banget. Ya pastilah.. Kejunya cheddar extra mature merk cathedral, butternya premium pula, dan tentunya dibuat dengan penuh cinta kasih, dibawa melalui banyak benua, puluhan negara, mengudara dan memakan waktu perjalanan selama dua hari dua malam. 

“Udah ah, buat nanti lagi,” ujar beliau.
“Nah yang ini bantal,”  aku tunjukan dua bantal yang gepeng karena vakumnya bagus, kemasan aslinya Ikea Milton Keynes.
“Bantal?” ia terheran.
Kuceritakan sejarah bantal tersebut.

Hari kian malam, puas rasanya nge-treat mamah sedemikian rupa. Tadinya aku pengen nginep di RS nemenin adikku dan mamah agar bisa cerita banyak melepas kangen. Tapi lelah ini tak tertahankan. Aku sudah lusuh pula. 2 hari 2 malam perjalanan.

Keluar rumah dari LB hari Jumat jam 9 pagi, ini masih di RS hari Sabtu jam 10 malam. Berapa jam tuh? Lebih dari 2 hari ya? Belum lagi masih harus ke rumah. Rencananya pengen makan/jajan street food. Karena jujur. Aku lapar banget.

Bersambung : PART 2 Lima Hari Bersama Mama | Five Days With Mum

English version

When the Heart Says: GO HOME!

It had been a while since I last wrote. I missed it.

I’d also been quiet on social media (Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube) , ever since that last update: the clip of mum’s past away.

Before that, my feed was all sunshine: trips to Antalya, York, and London. Happy days travelling with hubby and family. Not long after, the news arrived: mum had been admitted to hospital. She’d fallen.

It wasn’t her first fall. Her balance hasn’t been great these past few months. Mum and dad live together, though they do have someone who helps look after mum. The carer wasn’t around when it happened. Mum was taken to hospital and admitted. I called her straight away.

“How are you, mum? Do you want me to come home?” I asked.
“Yes, come home,” she said softly.
From her voice, she sounded fairly alright, just a bit of pain in her thigh. But for some reason, my heart kept saying, “GO HOME!”

We actually already had tickets booked for September. Meaning: June home, September home again. Time, energy, cost, doubled. And my annual leave would be eaten up. But my heart insisted, “GO HOME!”

The next day, I asked my manager and colleagues, would it be okay if I went home? Would work be alright? We were short‑staffed. Qadarullah, everyone supported me. Approval granted. That night, my husband booked the ticket (as usual).

The next morning, my sister messaged:
“Sis, mum’s already home. If you don’t come, it’s okay. You’re coming in September anyway. She’s fine!”

The hospital results showed a possible fracture. She needed to return on 8 July to a bigger hospital for further treatment, maybe surgery.
Alright then, mum was home.

But I was torn. The next day at work, I asked my manager and colleagues again, could I cancel my leave? I thought about it: leave already approved, colleagues sorted, and in the coming weeks many people would be taking turns going on holiday. Peak season in August.

I asked hubby and daughter, should I cancel? After checking, oh dear. The ticket was non‑refundable and couldn’t be changed. Honestly, this never happens. My husband is usually meticulous, always pays extra for flexible dates. But somehow, not this time.

While I was torn, my heart kept saying: GO HOME!  

Everything had to be prepared quickly. I had one week. And every day I was working my main job plus my part‑time job. After work, I bought gifts, the usual ritual before going home.

I asked mum:
“Mah, what do you want from England?”
“Ah, don’t bring anything. Just the money,” she joked, our classic family line.
“Maybe just chocolate,” she added.
Okey dokey!

Then I asked dad:
“What do you want?”
“Ah, nothing.”
“What about a T‑shirt?” I insisted, he rarely asks for anything.
“Just a koko shirt for the mosque.”
“There’s no koko shirt in England!”
“Then buy it here later.”
“T‑shirt then?”
“Alright. But don’t force yourself. You coming home already makes us happy.”
That ended our WhatsApp chat.

After work, I bought loads of chocolate. Then dad messaged:
“Mum wants chocolate in a tin.”
The next day, after work, I bought Lindt, my favourite one, hoping mum would like it. I also bought two boxes of assorted chocolates. And pistachios, mum’s favourite. Big family, big bundle.

At home, I started packing clothes and gifts.
“How’s mum?” I asked my sister.
“She’s uncomfortable sleeping. She needs her body elevated, and pillows on both sides.”
That made me think, how could she be more comfortable?

I had a uniquely shaped pillow, like a V or U, from IKEA years ago. I thought it would help her. I’d even looked for it in IKEA Indonesia last year but couldn’t find it. Online shops only had giant pregnancy pillows the size of half a bed. They looked comfortable too, so I asked my niece to order one. Sorted.

Meanwhile, I still planned to buy mum another pillow from IKEA. After work, I went off. I planned to buy one, but ended up with four.

“How are you going to carry these?” my husband said, baffled.
My principle: buy first, figure out later.
Haha. Truly the most unusual thing I’ve ever brought home. All for mum’s comfort.

Not just that. I brought pillowcases, other pillowcases, cotton sheets, thick white towels, and a soft throw. All for mum. Packing again. Only two pillows fit. Baggage allowance 23 kg, so far only 17 kg. Bulky, but light.

The next day, after work, I went back to Milton Keynes. Bought T‑shirts and other things. Packed again. Suitcase full, around 20 kg. 

What else? Oh!  In the fridge they are Mature cheddar, butter, eggs, flour, complete. That night, I baked two batches of cheese cookies (kastengel). Finished near midnight. It felt like Eid. My kitchen smelled of cheese at midnight. Mum loves kastengel alot.

All set. Flight tomorrow.

FLYING. BISMILLAH.

Friday flight. My husband took leave. First time flying Cathay Pacific, avoiding Middle East routes. Hong Kong stopover, then Jakarta. Phone on flight mode.

Upon landing, messages flooded in. Mum was back in hospital. This time, shortness of breath. Soekarno‑Hatta to Bandung is about three hours. I arrived after Isya. I’d planned to get a massage, have dinner, go home, rest, shower, then visit mum. But plans changed.

My brother‑in‑law and nephew picked me up and took me straight to the hospital. I couldn’t wait to see mum. One big suitcase, one cabin bag, one tote, all loaded into the car.

The hospital had changed, bigger, more modern, more cafés. But inside, it still felt like years ago, the corridors, the wards, the little gardens.

Entering mum’s room felt different. For nearly 20 years I’ve lived in England. Every time I come home, I see mum cheerful, laughing. But this time felt gloomy. I kissed her hand. We exchanged stories. She asked about my journey, my husband, and the kids.

“Mah, I brought gifts for you, but they’re still in the car,” I said.
“I told you not to bother bringing gifts. Just that one thing…”
“That one thing?” my sister and I laughed.
Meant Money! lol.

“Alright then, “atahna”  meant money, I said excitedly.
I pulled out the purple notes.
“What money is this?” mum frowned.
“Play money,” my niece joked.
“That money won’t work here,” my sister said.
That’s Monopoly money,” someone added.
“Throw it away then,” mum said, laughing.
Aish… you could buy a second‑hand motorbike with that. A used one… hahaha.

“How much do you want?” I asked.
She mentioned a number.
“What if we double it?”
She smiled.
What if we double it again?”
She smiled even more.
Alright then, tomorrow. But GMC (money changer) would be closed. So I whispered to my brother‑in‑law.

“Mah, I’ve got gifts for you, but they’re in the car. I’ll get them, okay?”
“Will you come back here?” she asked, not wanting me to leave.
Yes, I rushed earlier because I couldn’t wait to see you.”
“Alright then.”

At the car:
“Open the suitcase. In the big one there are two pillows. In the small one, chocolates, kastengel, pistachios.”
“No nuts. Save them for when she’s home. Too much.”

I’d already transferred money and withdrawn cash at the hospital lobby.
We returned to mum’s room.
“Here, mah…”
“Wah…” she fanned the blue notes dramatically.
“Refreshing, mah?” I teased.
“Refreshing…” she said, eyes bright.

These tiny moments — they make everything worth it.
“Rin, put it in my wallet,” mum said.
“Yes, boss!”

“Here’s the chocolate you asked for,” I opened the box.
“Wait, is it allowed?” my sister asked.
“Is it allowed?” mum echoed.
“What exactly is mum’s illness?” I asked.
“Heart issues and a bit of a cough.”
“Ah, never mind. Just don’t tell the doctor,” I said.
We laughed like rebellious teenagers breaking school rules.

The chocolate melted. “This tastes like klepon!” mum said.
We burst out laughing.

Then the kastengel, crispy, cheesy, rich. Of course, Cathedral cheddar, premium butter, and love carried across continents.

I showed her the pillows.
“Pillows?” she said, surprised.
I told her the whole story.

Night grew late. I wanted to stay overnight, but I was exhausted. Two days and two nights of travel. I still had to go home. And honestly. I was starving.

PART 2 Lima Hari Bersama Mama | Five Days With Mum

 

Gak Espek, 99,9% Penumpang Pesawat dari Inggris Adalah Jamaah Umroh!

Sebelum membaca artikel ini disarankan untuk membaca part satunya di rosimeilani.com di link berikut ini (klik aja).

Sebelumnya saya sudah ceritakan persiapan awal umroh semi mandiri. Kenapa semi mandiri? Karena dari UK semuanya di-arrange sendiri. Setibanya di Jeddah semuanya dihandle oleh travel agent langgananku.

Oiya kilas balik dikit, sebetulnya rencana umroh ini saat ramadan tahun lalu. Karena telah terjadi tragedi batin yang perlu healing 😀dan alasan lainnya ada sisa cuci beberapa hari yang harus diambil daripada hangus. Jadi pada saat itu aku ingin melarikan diri. Melarikan diri dari hati yang hancur berkeping wkwkkk.. (sekarang bisa ketawa, waktu itu berderai air mata) anjay… 😀

Setelah kuutarakan niatku, suami setuju. Akhirnya cari info travel umroh dari Inggris. Browsing sana-sini, kok rasanya gak yakin, apalagi model iklan online yang gak tau based kantornya dimana. Pernah kami jabanin ke tkp di Milton Keynes. Kok ga ketemu gedung yang dimaksud.

Kemudian kami ke Luton. FYI Luton adalah salah satu kota di Inggris yang populasi muslimnya terbanyak selain birmingham. Yang mau kepoin, artikel/ youtube/ video tentang dua kota ini bisa kalian cari di rosimeilani.com, instagram aku @rosimeilani.rosmel atau youtube aku Rosi Meilani.

Balik ke cerita, masuklah kami ke salah satu travel agent yang ada di burry park. Obrol-obrol, deal £800 per orang. Kurang lebih 18 jutaan lah. Tapi cuman buat tiket dan hotel. Beda dengan travel dari Indo yang plus makan sehari 3 kali, transport kesana-kemari, mutawwif, bimbingan, kajian bersama ustad dll.
Hmm.. gimana ya..
Ya udah deh gak apa-apa. Nanti kita hire and booking yang lain sebagainya itu.

Ketika mau deal kami kasih tahu pasporku Indonesia.
YA.. ga bisa, katanya. Waktunya mepet banget. Visa Indonesia beresnya sekitar semingguan, sementara saat itu jelang seminggu lebaran juga kalau ga salah. Intinya BATAL!

Aku sedih.. Hati hancur berkeping, mau nyari obat spiritual tapi Allah belum kasih ijin, jadinya kami healing ke Maroko. Mengejar Lebaran disana. Ceritanya akan aku share lain kesempatan, InsyaAllah.

Balik ke cerita umroh yang kemarin itu. Semuanya udah deal. Tiket pesawat udah dapat. Pembayaran ke travel agent di Bandung, beres. Tektek bengek done. Tinggal ciou…

Nginep sehari di hotel dekat Airport

Seperti yang kuceritakan di artikel sebelumnya, hanya opsi itu yang bisa kami ambil. Penerbangan dari Gatwick. Lokasinya lumayan jauh dari rumah kami. Kalau penerbangan dari Luton atau Heathrow biasanya kami pakai taxi. Gatwick lebih jauh lagi. Kalau pakai taxi £120 atau sekitar 2,7 jt IDR (sekali jalan) kalau PP kali 2 aja. 

Kami putuskan bawa mobil sendiri. Efeknya kami harus bayar parkir harian di Airport yang juga sama mahalnya. Akhirnya, opsi ketiga kami ambil. Cari hotel di dekat bandara.
Visual vidoenya ini,klik aja!
Disana kita bayar parkir (included). Nemulah £150. Lumayan kan? Dapat hotel dan parkir. Setidaknya kami bisa istirahat dulu sebelum flight. Hotelnya bagus, parkiran luas dan aman karena memang yang parkir disini mereka yang mau pada flight, videonya ada di IG aku @rosimeliani.rosmel berikut ini klik linknya (klik aja)

Penerbangan Asing, Miqot dan Ganti Ihram dimana?

Ketika manasik dan tanya jawab dengan ustad saya melakukannya secara online. Pertanyaannya ialah: Dimana batas miqot kami dan kapan suami saya mulai mengenakan kain ihrom? Berbeda dengan jemaah dari Indo yang selalu diumumkan pilot saat memasuki tempat miqot, buat kami belum tahu. 

Dengan pertimbangan penerbangan asing (dari Inggris), kemungkinan besar pilot tidak akan memberitahukan hal tsb dan mungkin juga para pramugari merasa aneh ketika suami saya memakai kain ihrom, jadi opsinya adalah, ada beberapa, A, B dan C.

Sesudah menginap semalam di hotel, besoknya kami pakai shuttle bus ke bandara. Busnya besar dan bagus, meskipun penumpangnya 1-2 bus tetap jalan sesuai jadwal, setiap setengah jam. Saat itu hanya kami berdua. Visualnya klik ini 

Tiba di bandara, menunggu agak lama, kami sempatkan makan dulu. Rasa excited melakukan perjalanan ini bersama suamiku tercinta.  Ada rasa awal perjalanan spiritual yang akan menyenangkan. Link visualnya disini umroh mandiri dari inggris

Check-in nya cepat, karena kami Premium, membawa cabin 7 kg masing-masing dan hand bag yang gak begitu gede. Selanjutnya boarding.
Sumpah! Gak nyangka! Saat boarding memasuki jam sholat, mostly para penumpang pada pergi ke pojokan ruang. Lah mau ngapain. Ada yang sendiri-sendiri. Ada yang sekeluarga, ada yang berkelompok. Mengelar kain/sajadah. Masya Allah.. Mereka sholat. Banyak diantara mereka yang langsung memakai kain ihrom. Oh…

Aku sama suami celingukan. “Apa aku pakai ihrom sekarang juga ya?” tanya suamiku.
Antara iya apa engak, iya apa enggak, eh keburu announcement dipersilakan masuk pesawat. Oyaudah, naik…

Pesawat Riuh
Memasuki pesawat riuh. Apa yang bikin riuh? Ternyata banyak penumpang yang pergi berkelompok. Ada keluarga kecil, ada keluarga besar. Bahkan yang sebelahku pergi ber-13 orang. Ibu, bapak, anak, mantu, cucu. Tujuannya kemana? Sama! Semua jemaah umroh. Masyaallah! Pembagian tempat duduk salah satu yang bikin riuh haha.. Kan di tiket udah ada nomor seat masing-masing, tapi ada yang pengen dekat siapa dengan siapa, jadi udah kayak tour RT pake bus gitu heuheu.

Semua udah duduk manis. Pesawat mengudara dengan mulus. Setelah pesawat mengudara dengan tenang dan sabuk pengaman dilepas bebas, penumpang kembali riuh tapi tidak terlalu. Gak hanya berbahasa Inggris, sebagian berbahasa pakistan, mungkin juga bangladesh, terutama yang generasi tuanya.

Bungkusan kecil di estafetkan. Dari beberapa itu bungkusnya aku apal banget.  ehmm.. Lidl! Ada yang bagi-bagi croissant seperti kesukaanku dll. Ada yang bagi-bagi crips dan makanan lainnya. Kan, jadi tambah persis tour RT ke pangandaran pake bus sewaan hahah..

Belakangang aku tahu karena penerbangan budget ini gak termasuk meal. Baiklah…
“Mau, sis?” penumpang sebelahku nawarin.
Tidak, terima kasih, kataku. 

Tak lama tercium aroma mie instan, ternyata, trolley makanan menghampiri.
“Mau pesan sesuatu?” tanya seorang pramugari.
Ada apa aja kataku? Ternyata eh ternyata, mereka cuman modal makanan instan, plus termos panas. Mie cup, pasta instant, minuman instan dan sejenis instan lainnya.
“Pesen yuk!” tanya suamiku.
Walaupun gak lapar-lapar amat, “OK!” jawabku.
Aku pasta, dia noodle, sama minuman yang semuanya instan itu.

Asli, perlu nunggu lama untuk menyantap mie dan pasta yang cuman diseduh air termos itu. Sempat mau minta tolong pramugarinya untuk masukan dalam microwave tapi dianya riweuh, gak jadi deh!
Pesannya, kalau pakai budget airlines gini jangan ngarep dapat makan enak.

Pantesan si bro n sis itu pada bekel makanan sendiri. Itu udah bener sih. Tadinya sempet kupikir, idih kayak emak-emak RT mau tour ke pangandaran, tapi itu udah bener sih 😀

Di lur ekspektasi, Announcement itu!
Sesudah kondisi kondusif, satu-persatu brother ke toilet pada ganti kain ihram. Lirik-lirikan sama suami, “Apa aku ganti sekarang?” tanyanya.

Hmm.. karena kita juga gak tahu ini udah memasuki batas miqat belum. Nanti ajalah toh, toiletnya penuh, orang keluar masuk. Kita tunggu agak lenggang. Tunggu punya tunggu kok gak berenti-berenti orang pada ganti ihram. Bahkan penumpang seberangku yang kupikir non muslim juga udah pakai ihram. Perempuan sebelahnya pun masuk pesawat tidak berkerudung, saat itu beliau sudah memakai baju muslim dengan dengan sangat rapi. MasyaAllah!

“Ayo pap, buruan ganti!” kata aku teh.
Tak lama, pilot memberi tahu, kurang-lebih narasinya, “Anda memasuki kawasan untuk miqat,”

Wah, gak espek sih! Kami mengucapkan niat berumroh dalam hati. Eh penumpang lain ada yang berniat umrohnya dengan suara agak dikeraskan. Oh, itu yang rombongan-rombongan itu kemungkinan besarnya. Masya Allah.. Pengalaman yang sangat mengesankan.

Penumpang yang ketika masuk dengan berbagai jenis pakaian berbeda. Saat itu sudah berubah putih, bagi brothers nya, dan pakaian muslim rapi semua sisternya.

umroh dari inggris

 

Pemandangan turun dari pesawat

Yang mau lihat visualnya seperti apa, bisa intp di IG aku @rosimeilani.rosmel khususnya link ini.

Pesawat mendarat dengan mulus. Satu persatu penumpang menuruni tangga pesawat. MasyaAllah.. Vibenya.. Kita udah kayak rombongan jamaah umroh dalam satu keluarga besar. Padahal saat naik pesawat kita tidak saling kenal. Ketika kita turun, kita jadi tahu, kita satu keimanan, kita satu tujuan, Baitulah!

Ceritanya masih panjang dan akan terus bersambung. Pantengin terus tulisanku di rosimeilani.com semoga aku istiqomah rajin nulis untuk berbagi cerita dan memberi manfaat kepada orang lain, silakan tulis komen di bawah kalau ada pertaanyan atau apapun itu.

Umroh Dari Inggris, Umroh Mandiri? Pake Travel Indonesia?

umroh mandiri dari inggris
umroh mandiri dari inggris gabung travel indonesia9

Umroh Dari Inggris, Umroh Mandiri? Pake Travel Indonesia?

Dulu ketika Mama Mertuaku berhaji beliau bilang,
“Saat thawaf wada, mamah panggil semua orang tercinta agar bisa melakukan apa yang mamah lakukan, tawaf. Baik haji ataupun umroh dulu. Suami, anak, mantu, cucu, semuanya di “kum” keun.”

Selang beberapa tahun, doa itupun diijabahi. Tahun 2016 aku ke tanah suci. Inginnya bersama suami, tapi beliau belum siap. Berdalih inilah itulah, kerjaanlah, sibuklah. Hikmahnya bisa mengajak bapak sebagai mahramku. Undangan ini tak pernah beliau bayangkan sebelumnya.

Saya posisi di Inggris, bapak posisi di Bandung. Akhirnya saya pilih trip bolak-balik.
London – Transit Timteng, Indonesia.
Indonesia – Jeddah.
Jeddah – Indonesia.
Indonesia – Transit Timteng – London.
Mayan juga ya? Padahal kalau saya langsung umroh, hitungannya setengah perjalanan ke Indonesia. Tapi karena ini pengalaman pertama bapak naik pesawat jadi saya ingin memastikan bapak merasa aman dan nyaman.

Kami memilih travel umroh yang terpercaya, based di Bandung. Jadi saya bisa mendelegasikan adik untuk urus semua dokumentasi, pembayaran dan segala printilannya.

Penerbangan dari London tiba di Bandung, selang beberapa hari, Manasik di hotel bintang 5. Selang beberapa hari, perjalanan umroh pun dimulai. Total sembilan hari. 4 hari Madinah, 4 hari Mekah. Perjalanan spiritual yang menjejakan kesan mendalam. 

Sama halnya seperti MaMerku, saat tawaf wada (tawaf perpisahan), aku mohon pada Allah kiranya aku dipanggil kembali, pun suami, anak, cucu, mantu, keturunanku, di “kum” keun termasuk semua keluarga besar agar bisa ke Baitullah.

Selang 9 tahun Allah mengijabahi. Kali ini aku sama suami, akhirnya! Sebagai hadiah ulang tahun dariku untuknya, alhamdulillah. 

umroh dari inggris

Sebenernya ini ide dadakan. Aku memilih travel umrah yang sama. Gegara advert travel tsb lewat di beranda sosmedku. Hmm.. boleh juga kataku.

Aku colek ownernya yang kebetulan kenal baik. Masih ada slot kah? Masih keburu kah? Soalnya waktunya mepet banget. Saya liat advertnya Oktober. Keberangkatannya November. Teknisnya gimana? Itungannya gimana? Karena kami keberangkatan dari Inggris treatment dan biayanya tentunya beda dengan keberangkatan jemaah dari Bandung.

Singkat cerita DEAL!
saya confirm ke suami,
”Jadi say..” 

Ini link videonya, klik aja linknya, the best b’day present ever I’ve gave to him

Wah banyak PR yang harus dikerjakan nih.
Apa dulu yang harus di kerjakan?

Pertama, Apply Visa
Caranya?

Sebetulnya kita bisa apply visa online sendiri. Tapi karena kami pergi bersama rombongan jamaah dari Bandung, ya sudah, Travel umroh tersebut yang arrange semuanya. Passport difoto, dikirimkan. Done! 

Next, apalagi?
Syarat apply visa adalah melampirkan sertifikat vaksin.
Ok!

Selanjutnya, nyarii slot vaksin di apotek terdekat.
FYI suntik vaksin di Inggris bisa di NHS/GP alias klinik/RS/Puskesmas Inggris.
Bisa juga di farmacy kalau di Indo mah, apotek gitulah.

Kami perlunya secepat mungkin, tapi kami gak bisa ujug-ujug datang gitu aja alias walk in. Dulu waktu umroh pertama di Indonesia, aku langsung datang aja, gak usah pake appointment. Tapi antrinya Ya Allah.. Lama banget. Pake nomor antrian sampe ratusan. Yang vaksin gak hanya orang lokal, tapi juga dari luar kota Bandung. Bisa dijadikan tolak ukur segitu banyaknya calon jamaah umroh di Indonesia. Itu pengalamanku dulu, entah sekarang.

Balik ke Inggris, di NHS gak bisa dalam waktu dekat. Satu-satunya cara yang cepat adalah farmacy/ apotik. Tetep.. Itu pun harus appointment.

Saya cari slot di apotek terdekat dalam waktu yang paling dekat. Gak nemu. Harus nunggu beberapa hari bahkan minggu. Saya lebarkan radius pencarian. Hore, akhirnya nemu. Tapi jauh di kota sebelah. Jam kerja pula, ya sutra la ya.. Jadwalnya buat besok hari.

Vaksin apa? Katanya kalau dari Indonesia vaksin meningitis dan folio. Kalau dari UK?

Nah ini, aku kurang yakin. Akhirnya aku nanya besan angkat (besan angkat? ah panjanglah ceritanya, nanti aja ini mah diceritakan lain kesempatan).

Jadi, wajibnya mah cuman miningitis aja. Tapi beliau waktu itu plus vaksin flu juga ada optional vaksin lainnya. 

Tapi kan wajibnya mah meningitis yes?
Iyes. ya udah yang itu aja.
Soalnya vaksin di sini mahal, haha..

Oiya tarif vaksin di tiap tempat juga beda-beda. Entah karena tingkat urgensinya, entah jenis vaksinnya, entah karena swasta atau negerinya. Entahlah.
Singkat kata, vaksin! Hasilnya hari itu juga via email.

Persyaratan Visa done!
Next?
Apply Cuti, maklum kaum gajian
Si Papih mah gak masalah, asal kerjaan beres, kapanpun bisa holiday. Aku bilang manager mau umroh, langsung acc kok.

Next?
Apply Tiket Pesawat
Nah ini agak tricky.
Keribetan umroh mandiri dan gabung sama travel Indonesia salah satunya ini karena kita harus nge-pas-kan waktunya. Maskapai apa? Terbangnya dari mana? 

London punya empat airport. Beda maskapai penerbangan, beda keberangkatannya, beda waktunya pula. Setelah dipilih dan mencocokan jam kedatangan di Jeddah, akhirnya kami pilih penerbangan Wizz, terbang dari Gatwick, budget ticket aka murmer. Tapi karena yang memungkinkan yang ini, ya sudah la yah.. 

Next, Kain Ihram
Semua keperluan dan perlengkapan umroh sudah diatur oleh travel. Kecuali kain Ihram untuk suami karena kami memasuki area miqat yang berbeda. Ya sudah kami beli di Amazon. Done!

Next, Apalagi?
Hmm..
Kayaknya itu aja sih, tinggal nunggu visa beres. Karena hotel plus makan 3x sehari, transport selama makah madinah dan lain sebagainya sudah termasuk peket biaya umroh.

Jadi, kami bayar berapa?
Kami bayar paket umrah minus biaya-biaya yang kami keluarkan.


 Buat kamu yang mau lihat visualnya seperti apa? Bisa mampir ke Instagram aku @rosimeilani.rosmel, dan ini salah satu video umroh kemarin, klik linknya

Bersambung ke artikel berikut ini,

 

         

Haruskah #KABURAJADULU ?

Ya Allah, webku udah bulukan banget! terakhir posting Agustus 2022 tentang modus penipuan kerja di luar negeri #kaburajadulu

Sejak jadi kaum gajian, kesempatan untuk nulis makin tipis. Senin-Jumat kerja keras bagai kuda. Sabtu-Minggu waktunya menghibur diri dengan santuy-santuy, blanja-blanji, jalan”, jajan”. Ya, kapan lagi nyenengin diri, yakan?

Nah, beberapa waktu lalu di Indo lagi rame hastag #kaburajadulu
Saya dikontak sama media tempat saya dulu sering kirim artikel kesana.
“Ayok, kirim-kirim lagi dong!”
Hmm.. baiklah!
Jadilah artikel ini.

Sebetulnya banyak hal yang ingin saya sampaikan tentang hastag #kaburajadulu tapi namanya juga artikel, terbatas jumlah karakter. Maka di website rosimeilani.com ini marilah kita obrol-obrol seputar bekerja di luar negeri (mumpung ada waktu nih, sambil ngabuburit juga).

BANYAK BANGET ORANG INDONESIA YANG TINGGAL DI INGGRIS!

Sebelum ngomongin hastag #kaburajadulu untuk diketahui banyak banget orang Indonesia yang sukses di luar negeri, mungkin jutaan. Untuk diketahui, di Inggris aja, makin kesini makin banyak orang Indonesianya. Tentunya dengan berbagai profesi dan berbagai latar belakang cerita yang mengawali mereka berkarir di Inggris.

Sebetulnya di channel Youtube Rosi Meilani saya sudah banyak mewawancarai mereka. Mulai dari profesi tenaga ahli, Engineer, Dokter, Dosen, Chef, Pengusaha restoran, atlet, Seniman, Pekerja Domestic dan masih banyak lagi profesi-profesi lainnya. Selengkapnya kalian bisa lihat di sini: Kisah sukses para perantau Indonesia di Inggris

Awal mula hastag #kaburajadulu saya kurang paham gimana asal muasalnya, karena saya baca berita Indonesia hanya sekilas-sekilan, cuman kalau mau membahas kabur ajah dulu, sepengalaman kami (saya, teman-teman di Inggris, circle kami), rata-rata mereka ke Inggris bukan karena kabur aja dulu. Tapi kami merencanakannya dengan banyak persiapan, banyak perhitungan dan banyak bekal ilmu yang di dapat.

Sepertinya contohnya kisah Pak Dono, Orang Indonesia yang jadi dosen di Manchester. Pak Wayan tenaga ahli pesawat terbang di Isle of Wight. Mas Budi, orang Indonesia yang masuk Masterchef Inggris dan masih banyak kisah lainnya di Channel Youtube Rosi Meilani. Mereka tak segan memberikan tips bagaimana caranya bisa awal mula bisa bekerja di Inggris.

Balik ke alinea di atas, bahwa kami pindah ke Inggris dengan persiapan, perhitungan dan pengalaman, tidak hanya bagi kami yang sudah pernah bekerja di Indonesia. Pun, bagi anak muda yang kini sukses berkarir di Inggris. Silakan cari di youtube saya dengan narasumber: Ario, Joseph, Rafka dll. Bahkan banyak anak muda Indonesia yang sejak SMA, kuliah, hingga mendapat pekerjaan yang bagus di Inggris.

Artinya mereka mempersiapkannya sedemikian rupa. Jadi, dengan hastag kabur aja dulu, saya pribadi kurang setuju. Ibarat kata mau perang, kita harus punya amunisi. Apa yang kita punya sebelum kita bertempur. Ilmu, pengalaman, kesiapan, mental dan fisik dan masih banyak lagi. Karena petarung kerja di Inggris atau luar negeri pada umumnya tak hanya dari Indonesia. Tapi juga dari negara-negara lainnya.

Untuk diketahui sekarang di Inggris banyak sektor pekerjaan yang diisi oleh orang-orang Asia lainnya. Sebut saja diantaranya: India, Pakistan, Bangladesh, Thailand, filipina dan negara asia lainnya. Insyaallah nanti kalau ada waktu saya akan sharing cerita tentang persaingan pekerja non skil pemetik buah di Inggris yang ngemodal puluhan juta, pulang tanpa hasil. Gara-gara ulah agen abal-abal. Mereka terlantar di Inggris. Kalah bersaing  dengan para pemetik buah dari negara Nepal, Myanmar dan para pekerja dari negara lainnya yang memiliki fisik lebih besar, lebih kuat (mental dan fisik).

Untuk postingan pertama cukup dulu ya? Nanti kita nyambung lagi, mau jalan dulu, mumpung Inggris cuaca bagus. Alhamdulilah 14 dracel nih cuy.

Kalau saya belum apdet lanjutan ceritanya, masuk aja di youtube saya ya?
Masuk ke playlistnya. Banyak pilihan topik konten disana. Ada kisah sukses para diaspora indonesia di Inggris/luar negeri. Tips kerja di Inggris/luar negeri. Restoran Indonesa di Inggris/luar negeri. Atau kisah keluarga saya juga ada disana. Sok mangga dikepoan

Yuk mariii…