Serunya Perayaan HUT RI ke 70 di London

 

Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 70 KBRI London mengelar tiga rangkaian acara. Dimulai Minggu, 9 Agustus 2015 berupa lomba olah raga, karaoke, permainan tradisional, dll.

Berlanjut pada Sabtu, 15 Agustus 2015 acara Perayaan HUT RI di Wisma Nusantara, kediaman Dubes RI untuk Inggris Raya dan Irlandia, di London. Acara dimulai pada pukul 11 hingga pukul 5 sore dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.

Sudah dua tahun terakhir ini KBRI London tidak mengundang penyanyi dari tanah air sebagai pengisi panggung hiburan. Namun demikian tidak mengurangi kemeriahan acara. Panggung dan suasana wisma menjadi milik kami bersama, masyarakat Indonesia yang berpartisipasi di dalamnya, Staf KBRI, pihak sponsor (Garuda Indonesia, BI, BNI, Bank Mandiri), PPI London, Duo MC yang heboh dan kocak, Duo artis lokal London Orbar dan Ana, serta pengisi acara lainnya.

Beberapa sajian hiburan yang menarik adalah Aubade cilik yang menyanyikan medley lagu-lagu daerah. Mulai dari lagu “Bunggo Jempa” hingga lagu “Buka Pintu”. Meski mereka berlatih singkat namun penampilannya cukup memuaskan. Mau tahu seperti apa aksi mereka yang keren menggemaskan itu? Berikut ini linknya:

Hiburan menarik lainnya adalah tarian Timor Leste yang dipersembahkan oleh saudara-saudara kita warga Timor Leste yang jauh-jauh datang dari Kota Bristol. Mereka yang tergabung dalam Sanggar Tari DaDili ini menyumbangkan dua tarian. Kedua tarian tersebut tidak dilakukan di atas panggung tapi di bawah panggung. Dimana tarian kedua yang mereka tampilkan melibatkan kami para penonton untuk menari bersama dalam satu lingkaran tarian.

Diiringi iringan musik dan lagu tradisional secara live kami menari penuh keakraban. Bahkan ibu Dubes pun ikut menari bersama. Berikut saya tampilkan cuplikan videonya:

Masih ada sajian menarik lainnya, yaitu tarian jaipong dari Sanggar Tari Lila Bhawa yang menari dengan luwesnya termasuk seorang mbak bule. Usai tarian jaipong pertama, mbak-mbak cantik ini memberikan workshop jaipongan. Setelah penonton paham gerakan demi gerakan untuk tarian jaipong berikutnya, musikpun dimainkan. Dan penonton pun menari bersama, walaupun dengan gaya bebas masing-masing 😀 Termasuk mas MC yang atraktif 😀

Sajian kuliner indonesia yang beraneka ragam (sate, pempek, bakso, es cendol, nasi kapau dll), lomba permainan khas 17’an (tarik tambang, balap karung dll) serta sajian lagu-lagu yang dibawakan Duo Orbar dan Ana menambah ramai suasana. Apalagi saat mereka membawakan lagu dangdut. Wisma pun digoyang dengan hebohnya, seru. Terutama, mas MC yang entah siapa namanya. Nah, kalau mba MC yang juga tak kalah heboh, beliau lebih atraktif ketika pengocokan raffle tiket 😀

Raffle tiket diakhir acara adalah saat yang dinanti-nanti. Dimana bejibun hadiah keren menanti. Semua hadiah doorprize tersebut merupakan sumbangan dari para sponsor yang disebutkan di atas. Dimana hadiah utamanya sangat mengiurkan sekali. Yaitu dua tiket London – Jakarta persembahan dari Garuda Indonesia.

Sedangkan puncak acara dari rangkaian perayaan HUT RI ke 70 yang diselenggarakan KBRI London adalah upacara pengibaran bendera pada tanggal 17 Agustus 2015 mulai pukul 10 pagi yang berlangsung di tempat yang sama, Wisma Nusantara di Bishop Avenue London.

Cerpen Bobo, Muatan Lokal, Edisi 18

Alhamdulillah cerpen saya dimuat lagi di Majalah Bobo (edisi 18), setelah dua cerpen sebelumnya berturut-turut dimuat di sana (edisi 16 &17).

Tema cernak kali ini lain dari biasanya. Yaitu mengangkat tema bermuatan lokal. Jika cerpen Janji Salju lebih ke muatan ke Eropa-eropaan atau Pesta Putri Sherly lebih ke dongeng putri-putrian, maka cernak kali ini lebih ke cerita permainan jaman saya kecil dulu.

Sebenarnya, dari kapan taun saya ingin menuliskan cerpen ini. Cuman dulu saya pikir, apa cerita ini bakal jadi menarik? Setelah maju mundur cantik mood dan lama terlupakan, maka ketika saya ingin membuat cernak, saya semedi mikir sejenak. Ehm… kali ini nulis cernak tema apa ya?..

Setelah buka-buka draft lama yang pada menggantung, akhirnya dipilihlah cernak ini. Judulnya Dirawu kelong. Heuheu.. judulnya gak okey banget, ya?

Cerpen ini bermuatan lokal Jawa Barat. Buat Orang Sunda seangkatan saya, pasti senyum mengerti arti judul ini. Tapi buat non Sunda dan anak kemaren sore atau usianya 20-10 taun di bawah saya, mungkin gak kenal dengan kata ini.

Bersyukur saya lahir, tumbuh dan besar di era non gadget seperti sekarang ini. Sehingga bisa menikmati semua permainan tradisional pada masa itu. Bermain petak umpet salah satunya. Permainan ini memiliki banyak nama, tergantung daerahnya. Kalau di Tatar Sunda, kami menyebutnya ucing sumput. Dari sinilah ide cernak saya ini bermula.

Ketika saya ingin membagikan cerita sebuah permainan jadul ini, saya harus berpikir lebih. Kira-kira, bumbu apa yang sekiranya bisa membuat manis cernak ini. Akhirnya saya eksekusilah cernak ini dengan judul yang agak aneh (menurut saya) dan konflik hilangnya Salma di saat magrib.

Ketika memberi judul “Dirawu Kelong” saya sempet gak PD karena kesannya deso banget. Lalu berpikir, klo Bobo suka konten cernaknya, tak cocok judulnya, pastilah Bobo mengubah judulnya. Ternyata, BOBO memilih judul aslinya.

Dirawu kelong apaan sih? 😀

Jadi, dulu, anak-anak seumuran kami, pantang main di hari menjelang magrib.

Secara ilmiah/agama silaken tanya Mbah Gugel, fenomena alam apa yang terjadi antara perpindahan waktu dari ujung senja ke bibir malam.. tsahhh…

Berat amat, yak, pendalaman materi untuk sebuah cernak, hahaha..

Ketika anak-anak seumuran kami di jaman itu bertanya kepada orang tua kami, biasalah.. untuk memudahkan jawaban, mereka sering kali mengeluarkan kata-kata pemungkas yang kadang ngak masuk akal.
“Bisi dirawu kelong!”kata mereka 😀

Dalam Bahasa Sunda,
dirawu = diambil dari posisi atas (ngarawu beas = menyiduk beras)
kelong = kelelawar
Jadi dirawu kelong artinya diambil/diculik/ditangkap dari posisi atas oleh kelelawar.
Lah, kelewar kan kecil 😀
Itulah ajaibnya orang tua dulu, kadang pinter menciptakan  tokoh myth.
Kelelawar di sini maksudnya kelelawar raksasa yang menyerupai kelelawarnya perempuan hahaha..
Deuh! orang tua jaman dulu tuh ya.. daya imajinasinya tinggi.
Keren tapi, lebih keren dari JK Rowling.
Kenapa mereka dulu ngak bikin novel fantasi ya? 😀

Saya merasa, ketika pertama kali mendengar kata “kelong atau kelong wewe (kelong awewe), saya punya bayangan tersendiri di otak saya.
Itu mahluk duduk di dahan pohon yang besar, bentuknya menyerupai kelelawar raksana dengan tubuh separuh manusia, perempuan, bentuk dan wajahnya menyeramkan. Duduk sambil ucang angge (mengayun-ayunkan kaki). Saat magrib tiba, ia siap merawu (menerkam, menyulik, menangkap kita) Iyyhhh..

Benar-benar hebatlah orang tua dulu menggambarkan myth ini sehingga saya dan teman lainnya pantang main/keluar magrib. Kecuali pergi ke mesjid untuk mengaji (Ini kali pesan moral yang ingin disampaikan orang tua kami dulu)

Balik lagi ke cerpen dirawu kelong ini, tentunya saya tidak menceritakan tentang tokoh si kelong ini. Sayang, majalahnya baru edar, jadi saya blur bacaannya ya… hehehe..
Buat yang penasaran, merapat aja ke lapak koran terdekat, okeh?

Cernak Dirawu kelong

 

Dukungan BNI Kepada Kami

Jika ditanya apa peran Corporate Social Responsibility BNI terhadap masyarakat luas?
Jawabnya, banyak. Banyak sekali!

Dalam menjalankan bisnisnya bank nasional yang berkemampuan global ini tidak melulu memikirkan keuntungan rupiah semata. BNI berinvestasi dalam bentuk lain.

Dana yang dikeluarkan BNI tidak harus berbalik keuntungan bagi BNI. Lebih dari itu. BNI memberi, lalu melepas keuntungan itu seluas-luasnya bagi masyarakat banyak. Karena kebaikan itu tidak harus menerima. Cukup dengan memberi. Supaya orang yang diberi bisa memberikan kebaikan kepada yang lainnya lagi. Begitu dan terus begitu hingga banyak kebaikan yang bermula dari satu kebaikan.

Program CSR Bina Lingkungan contohnya. Tahun kemarin, BNI berhasil mengucurkan dana sebesar  Rp. 59.133.322.379,-
Nyaris 60 M.
Dana sebesar itu digunakan untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan, pelestarian lingkungan, peningkatan kesehatan, sarana ibadah, pengembangan sarana dan prasarana umum, pengentasan kemiskinan dan korban bencana alam.

Lebih detailnya lagi, untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan, BNI mengucurkan dana 18,5 M. Dengan dana sebesar itu BNI berupaya memfasilitasi lahirnya tunas bangsa yang berpendidikan baik, berkualitas, terampil dan mampu berkarya demi mengangkat taraf hidup dirinya dan keluarganya hingga mencapai kesejahteraan pada umumnya.

Bina Lingkungan hanyalah satu dari sekian banyak program CSR BNI lainnya yang bertujuan: Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas.

Tahukah anda, upaya BNI dalam meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas tersebut tidak hanya dirasakan oleh anak bangsa di tanah air saya. Bagi kami, masyarakat Indonesia yang bermukim di Inggris pun merasakan hal yang sama. Suatu bukti bahwa BNI juga peduli pada komunitas kami.

Banyak gelaran acara yang dilakukan komunitas kami yang mendapat sponsor/dukungan finansial dari BNI London. Salah satunya ialah kegiatan Indofest Nottingham yang telah saya ulas di sini dan di sini. Dalam gelaran tahunan yang digagas oleh PPI Nottingham ini diisi acara talent show. Dimana hadiahnya berupa sejumlah pounsterling yang menggiurkan.

indofest

Tidak hanya sampai di situ. Sebagai bentuk apresiasi yang diberikan BNI London kepada mereka, pengisi acara sekaligus peserta talent show yang merupakan mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang tengah mengambil study di Inggris tersebut diundang ke London untuk mengisi acara ulang tahun BNI yang ke-69.

Menurut Made Ari, yang tempo hari saya wawancarai, ia sangat senang sekali diundang oleh BNI ke London. Padahal ia tinggal di Glasgow, Skotlandia, yang merupakan negara bagian Inggris. Jarak bukanlah masalah, karena akomodasi dan apresiasi yang diberikan BNI membuatnya senang dan bangga bisa tampil pada perayaan ulang tahun BNI ke-69 yang bertajuk London Spectacoolar bersama masyarakat Indonesia lainnya di London.

Acara lainnya yang disponsori oleh BNI London ialah kegiatan Personal Leadership Workshop yang digagas oleh PERIUK (Perhimpunan Rantau Indonesia di UK) bekerja sama dengan University of Westminster. Juga acara Hello Indonesia di Trafalgar Square London tahun lalu. Serta banyak lagi acara komunitas kami lainnya di Inggris yang didukung oleh BNI London.

Kabar terbaru dan masih hangat saya dapatkan dari laman FB KBRI, BNI London juga menjadi salah satu sponsor rangkaian perayaan 17 Agustusan bagi masyarakat Indonesia di Inggris. Mulai dari tanggal 9 Agustus, 15 Agustus, hingga puncaknya pada 17 Agustus 2015.

Selamat ulang tahun Republik Indonesia yang ke 70.
Selamat ulang tahun BNI 46 yang ke 69.

Selisih kalian hanya satu, 11-12. Maka, marilah kita bergandengan tangan menuju masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera, aman, damai dan sentosa.

Salam hangat dari Inggris!

***
Tulisan ini disertakan dalam lomba blogging yang diselenggarakan BNI. Buat yang mau ikutan lombanya silakan kunjungin website BNI berikut ini. Jangan lupa like panpage BNI di Facebook juga follow twitternya BNI.

Kukenal BNI Sejak Kecil

Jika ditanya bank apa yang pertama kali saya kenal? Pertanyaan ini melemparkan ingatan saya ke masa dulu, dulu sekali. Masa era 80’an. Pada masa itu, mama sering mangajak saya ke satu-satunya bank yang ada di lingkungan kami. Bank BNI 46 namanya.

BNI kami terletak di Jalan Jendral Sudirman Bandung. Dari rumah kami yang letaknya di gang, kami hanya tinggal berjalan kaki. Keluar dari gang, melewati Jalan Cibadak, belok ke kiri sedikit, tak jauh dari sana berdirilah sebuah bank yang dikenal masyarakat setempat. Duh, memori saya benar-benar digiring kembali ke masa kecil nan indah.

Lokasi BNI sangat strategis. Kenapa strategis? Karena dekat dengan pasar Andir. Pasar tempat mama berbelanja kebutuhan dapur dan rumah tangga. Sebagai anak paling besar, perempuan pula, saya sering diajak mama ke pasar. Jadi, BNI ini sering kami lewati. Tentulah kami jadi familiar karenanya.

Ketika bapak mendapat proyek yang lumayan besar, untuk pertama kalinya mama membuka deposito di sana, di BNI 46. Saya akan ceritakan lebih lanjut, bagaimana bapak yang hanya pegawai negeri golongan rendah bisa memiliki deposito di BNI. Terlebih dahulu, ijinkan saya berbagi cerita tentang hal lainnya yang terekam kuat di memori tentang BNI ini.

Memori terkuat di ingatan saya adalah.. BNI = membayar listrik.

Loh? Kok!
Iya, bagi kami, waktu itu, BNI sama dengan bayar listrik, 😀
Jadi, kalau ada tetangga yang bertanya,
“Mau kemana?”
“Ke BNI.”
Itu artinya mau membayar listrik.
Atau sebaliknya. Mau membayar listrik? itu artinya ke BNI.
Keren, ya? punya rekening ataupun tidak, tetap, bilangnya mau ke bank, BNI 46.

Jadi, seingat saya, waktu itu, baru diterapkan pembayaran listrik melalui Bank BNI. Atau, entah mama saya yang baru tahu akan hal itu. Yang jelas, sejak itu, mama dan para warga di lingkungan kami selalu membayar listrik di BNI dan saya sering diajaknya.

Biasanya, sehabis membayar listrik, seterusnya mama suka mengajak saya ke pasar. Sering pula mengajak saya makan bakso dan es campur yang letaknya di depan parkiran BNI Sudirman ini. Bakso dan es campur yang juga langganan para karyawan BNI ini rasanya mantap. Duh, semakin terbayang jelas nuansa serta aroma masa itu.

Itulah ingatan terkuat yang saya miliki akan BNI. Bank pertama yang saya kenal dan di sanalah tempat membayar listrik.

Tempat pembayaran listrik tersebut menempati gedung sebelah kiri BNI yang tersekat gedung berkaca lebar. Kami, para pembayar listrik, duduk berjejer memungungi dinding kaca tersebut. Sering kali saya mencuri pandang kegiatan di dalam bank. Pernah terlintas dalam hati, ketika besar, saya ingin bekerja di bank. Sepertinya mengasyikan, setiap hari bersigungan dengan uang.

Entah prosesnya bagaimana, mungkin karena mama sering ke BNI untuk membayar listrik hingga akhirnya ketika mama memiliki uang lebih, mama membuka rekening di sana. Seterusnya, mama juga menyimpan uangnya di deposito BNI seperti yang saya ceritakan di atas.

Bapak saya adalah pegawai negeri, anaknya lima. Kakak saya meninggal usia tujuh tahun karena sakit. Setelah itu, jadilah saya yang paling besar. Sebagai pegawai negeri golongan rendah dengan lima anak dan seorang istri yang full bekerja mengurus keluarga tentunya bapak harus memiliki konsep perencanaan keuangan yang tepat bagi kehidupan dan pendidikan kami.

Gaji pegawai negeri waktu itu tidaklah seberapa. Oleh karena itu, bapak memanfaatkan hobinya untuk mencari uang tambahan. Dengan perangkat fotografi dan ruang cetak foto milik kakek, bapak menerima pesanan jasa pemotretan. Baik untuk acara pernikahan, sunatan dan perayaan lainnya.

Kegigihan bapak dalam mencari nafkah terus berlanjut, beliau menerima pembuatan pas foto untuk sekolah-sekolah dan instansi-instansi. Pas foto tersebut digunakan untuk arsip dan identitas karyawan/siswa.

Uang hasil sampingan itu dipakai untuk mencukupi kebutuhan harian, membeli perlengkapan dan peralatan usaha, sisanya barulah ditabung sedikit demi sedikit. Ada suatu masa, dimana bapak mendapat orderan besar. Keuntungan dari proyek itu bapak mempercayakannya kepada BNI. Bapak menyuruh mama untuk menitipkan uangnya di deposito BNI 46.

Itulah sepenggal kisah pengalaman saya dan keluarga bersama bank nasional yang berkemampuan global, BNI 46. 

Penggalan kisah pengalaman ini disertakan dalam lomba blogging menyambut ulang tahun BNI yang ke-69.

*****

Kini, deposito BNI hanyalah salah satu dari sembilan jenis simpanan yang dimiliki BNI 46. Kedelapan jenis simpanan lainnya ialah: Taplus, Taplus Anak, Taplus Bisnis, Tapenas, Simpanan Haji, BNI dollar, Giro dan Safe Deposit Box.

Apapun jenis simpanannya, BNI yang telah matang di dunia perbankan selalu memberikan pelayanan terbaik bagi nasabahnya. Sesuai dengan salah satu visi misinya, yaitu: Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pilihan utama.

Tak ingin memberi jarak, BNI mendekatkan diri dengan nasabahnya melalui sosial media berikut ini: facebook, twitter dan website. Hingga kita sebagai nasabah bisa lebih akrab dan lebih dekat berinteraksi.

Jika dilihat dari usia manusia, 69 memasuki masa oma-opa yang senantiasa menganyomi anak cucu dalam dunia perbankan Indonesia. Seperti yang termaktub dalam logonya: Melayani Negeri, Kebangaan Bangsa.