Terkena Virus NETCJ

Diawal-awal punya hobi baru bikin NET_CJ saya jalan sendiri. Artinya, saat ada acara gathering ataupun saat berwisata bersama keluarga, saya sok sibuk rekam sana rekam sini. Saat tiba di rumah dan waktunya nongkrong di depan PC berlanjut edit sana edit sini. Seterusnya saya postinglah video NET_CJ tersebut. Jika videonya sudah tayang kadang saya kasih tahu suami. Tapi kadang responnya lempeng aja.

Seiring waktu, jika pas lagi ada event ataupun berwisata n saya sibuk dengan hal lainnya seperti ngobrol-ngobrol sama teman ataupun sibuk makan 😀 kadang saya minta tolong suami untuk ngerekam. Tapi ya itu, hanya selingan aja. Selebihnya saya tuntaskan. Termasuk saat editing, narasi dan aploding.

Lama-kelamaan, saya sering minta tolong doi, dan lama kelamaan pula doi seneng banget dengan hobi barunya ngerekam tersebut. Seperti saat beberapa waktu lalu pas kami ke Bristol untuk menonton Balon Festival. Saya lebih anteng ngobrol dengan yang lainnya sambil duduk-duduk nonton pertunjukan balon udara sambil cemal-cemil makanan. Sedangkan doi sibuk wara-wiri rekam sana-sini.
“Sibuk amat, pa?” 😀

Sesampainya di rumah, doi olahlah itu hasil rekam sana-sininya itu, editing, narasi, aploding. Dan, tara…. videonya itupun mejeng di NET10. Selamat ya, pak 😛

Tayang Senin, 10 Agustus 2015, NET10.

Komen pertama darinya setelah liat tayangan video di atas itu:
“Ya.. ko banyak dipotong?”
Secara, doi udah riweuh wara-wiri plus wawancara, bisa dilihat di sini.

Dari durasi yang nyaris lima menit, jadi tayangnya cuman 1.11 menit doang.
Ya emang begitu pak. Karena NET punya formula sendiri tentang durasi tayang, angle mana yang mau dia ambil, dsb. Jadi, begitu, pak.”  😉

Baiklah.

Rupanya, video pertama itu memicu semangatnya untuk ngeramu NET_CJ lainnya. Dan, video kedua pun tayang selang 3 hari dari video pertamanya.

Loh, kok ada akyunya 😛
Abis itu si bapak belom PD oncam. Terpaksa deh akyu mejeng.
“Lain kali, bapak yang mejeng yaa…,” 😉
*NET_CJ ke-2, tayang Kamis 13 Agustus 2015.

Bapak bener-bener semanget 45 deh, hari ini NET_CJnya tayang lagi. Temanya sesuai banget dengan jiwa tekniknya 😀
Sayang videonya blom tayang di youtube 😉

Video NET10

 

Well done, Pak!

Lomba 17 Agustusan di London

Seperti halnya saudara-saudara kita yang tinggal di tanah air, kami, masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri pun ikut merasakan kemeriahan peringatan HUT RI dengan segala kegiatan lomba khas 17 Agustusan.

Keriaan peringatan HUT RI yang diselenggarakan di luar negeri biasanya dilakukan di kota besar, seperti London. Beruntunglah bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di ibu kota negara yang ditempatinya. Bagi WNI Londoners tinggal gabung dan memeriahkan acaranya. Tapi bagi kami yang tinggal di luar kota, tentunya perlu perjuangan khusus.

Dari Kota Worcester tempat kami tinggal, diperlukan waktu 3 jam perjalanan. Meski demikian, jarak dan waktu tidak mengendurkan kami untuk ikut berpartisipasi dalam memeriahkan HUT RI yang ke-70 kali ini. Apalah artinya 3 jam perjalanan dibanding upaya para pahlawan kita dalam memerdekakan bangsa ini. Kalau dipikir-pikir, enak banget ya kita-kita yang hidup setelah jaman kemerdekaan. Semoga Allah SWT, Tuhan sekalian alam, memuliakan para pejuang negeri ini di alam sana.

Jujur, setelah delapan tahun tinggal di negeri ini, ini kali pertama saya dan suami mengikuti perlombaan 17 Agustusan yang digelar KBRI London dan PPI London. Itu juga karena suami diajak bermain badminton, ganda putra, oleh seorang teman. Sambil nunggu mereka badminton, kenapa enggak saya ikutan perlombaan lainnya.

Dari sekian banyak jenis perlombaan, saya memilih dua diantaranya. Yaitu lomba karaoke dan lomba congklak. Kalau lomba congklak terhenti di urutan ke-4, sedangkan lomba karaoke lumayan jadi juara ketiga. 😀

Perlombaan digelar di dua tempat. Indoor dan outdoor, dimana keduanya masih berada di kompleks yang sama. Jenis perlombaan yang dilakukan di gedung olah raga ialah: badminton, tenis meja, lomba karaoke, lomba congklak, gaple dan catur. Tentunya saya lebih berlama-lama di sini. Saya menuju lapangan outdoor hanya sesekali untuk melihat perlombaan lainnya, dimana beberapa stand makanan/jajanan/indonesian groceries tersedia di sana.

Acara dimulai pada pukul 10 lewat. Perlombaan demi perlombaan terus bergulir. Suami beberapa kali tanding berakhir kemenangan, juara tiga. Mayan lah. Saya peserta pertama lomba karaoke yang dimulai pada pukul satu lewat. Setelah itu, saya ikutan lomba lainnya, congklak, bersama ibu dubes, staf KBRI dan peserta lainnya yang duduk lesehan di atas matras pinggir lapangan.

Enaknya yang sedang tanding congklak, catur, gapleh, tenis meja dan bulu tangkis di GOR tersebut, karena diiringi lagu peserta lomba karaoke yang jumlahnya belasan. Suaranya bagus-bagus, yang atraktif juga banyak. Apalagi yang milih lagu dangdut Jablaynya Titi Kamal. Heboh deh.

Jelang usai perlombaan-perlombaan, saya menuju outdoor untuk ngerekam kegiatan. Setelah itu kembali lagi ke GOR. Ealah… saya disambut seorang teman.
“Mbak, tadi dipanggil tuh! Juara karaoke.
“What? gak salah?” 😛
“Makanya, takutnya saya salah dengar. Sana, tanya mas/mba Juri aja, gih!”
Oh, baiklah…
Dan ternyata, benar 😛
Aneh deh, soalnya suaraku tuh pas-pasan pake banget hehehe..

Dan, penyerahan hadiah untuk semua pertandingan tersebut dilakukan selang seminggu yang bertepatan dengan perayaan HUT RI ke-70 bersama masyarakat Indonesia lainnya di Wisma Nusantara, kediaman Bapak Dubes. Panitia bilang, para pemenang lomba karaoke, musti naik panggung untuk menyanyikan sebuah lagu. Waduh! 😀 Mau mengintip keseruan perayaan HUT RI tersebut, intip aja di sini. Minus akyu yang naik panggung dong ya… 😀 takutnya kalian pada mules liatnya 😀

Nah, kalau perlombaan-perlombaan yang saya ceritakan di atas tadi, berikut ini cuplikan kegiatannya. 

Sayangnya, video durasi 4 menit yang saya buat, jadinya cuman seuprit. Karena digabung dengan kontributor lainnya 😀
Dan inilah penampakkannya. Tapi, kalau mau melihat versi lengkapnya klik aja link yang di atas tadi 😉

Video barjamaah kedua, setelah yang ini video duo, sekarang video trio 😀

*NET_CJ 18, tayang Selasa, 18 Agustus 2015

Tulisan Perjalanan Majalah Paras, Pesona Wales

Wales adalah Negara Bagian Inggris yang memiliki banyak objek wisata nan amat beragam. Wisata alam, wisata sejarah dan budaya, wisata bangunan tua dan masih banyak lagi. Agar keragaman pesona wisata yang terkandung di wilayah seluas 21 ribu km persegi ini terjelajah sempurna, maka tak cukup hanya sekali – dua kali kunjungan saja.

Ini perjalanan saya ke Wales untuk kesekian kalinya. Jika kunjungan pertama tertarik pada Lembah Valley yang eksotik. Kunjungan kedua tertarik akan bangunan sejarah dan kastil-kastilnya. Kunjungan ketiga tertarik Pontcysyllte Aqueduct, alias jembatan airnya. Maka kunjungan keempat ini saya tertarik akan air terjunnya.

Just Pack and Go

Waktu itu Lebaran kedua, si bapak masih ada cuti tersisa. Ketika sarapan, tiba-tiba muncul tanya: “Mau kemana kita hari ini?” Begitulah kami, terkadang muncul ide travel secara spontan.

Target, wisata alam yang tak jauh dari tempat kami tinggal. Setelah browsing dan berunding dengan teman-teman yang akan ikut berwisata bersama. Maka jatuhlah pilihan pada Brecon Beacon National Park. Dengan tujuan utama mengunjungi empat air terjun yang ada di dalamnya.

Setelah rencana matang dan menyiapkan perbekalan serta mencatat post code pada satnav, mobil pun meninggalkan Kota Worcester. Dengan perkiraan waktu tempuh kurang dari dua jam. Sedangkan dua keluarga/dua mobil lainnya berangkat dari Kota Bristol.

Kami janjian di titik henti yang telah ditentukan. Sesuai dengan yang tertera di website Brecon Beacon National Park. Ternyata, kami tiba lebih dahulu. Setelah menunggu beberapa saat, yang ditunggu tak kunjung tiba. Maka, kami, saya, suami beserta dua bujang cilik memutuskan untuk memasuki Taman Nasional tersebut.

Begitu memasuki Taman Nasional Brecon Beacon (TNBB), nyep..  hening, sunyi, dingin terasa. Meski hari itu matahari bersinar terang, namun udara TNBB begitu sejuk. Akibat rimbunnya pepohonan yang memayungi kami.  Sinar mentari tak diberi ruang untuk memasukinya.

Namun, sesekali, ada dedaunan terhampar di tanah yang berkilau keemasan. Itulah dedaunan yang terkena jatuhan sinar mentari yang berhasil menelusup payung pohon yang amat rindang. Indah sekali.

Kami menapakai jalan bebatuan yang lebarnya sekira satu setengah meter. Di sebelah kiri jalan datar tersebut menjulang dinding bebatuan. Plus pepohonan yang lebat dan tinggi pula. Sedang di  sebelah kanan jalan berbatas jurang rendah/lembah yang cukup curam menuju sungai nan elok.

Dikatakan elok, karena sungai berair bening itu bentuknya unik berkelok-kelok tajam dengan apitan bebatuan besar di kiri-kanan lekukan sungainya. Beberapa sisi sungai tersebut berdinding batu yang tinggi. Eksotik sekali. Ada beberapa lekukan sungai yang dalam. Menjorok ke dinding sungai yang gelap, terkesan angker. Seperti menyimpan misteri.

Kicauan burung yang beraneka rupa dan suara, sungai nan elok, airnya nan bening, suasana nan senyap, udara nan segar, bebatuan masiv, pepohonan tinggi dan rimbun, dinding bantuan alam yang gagah, sesekali terdapat gua kecil, membuat langkah kami terhenti-henti. Demi merasakan detail indah KuasaNYA.

Sekitar satu jam langkah perlahan, tak juga terlihat tanda-tanda air terjun di depan sana. Padahal kami sudah membayangkan keindahan air terjun itu sedari tadi. Seperti yang terdapat di papan informasi di muka pintu masuk TNBB tadi.

Bagaimana ini? Tak ada kabar dari dua keluarga lainnya. Karena begitu memasuki kawasan TNBB sinyal ponsel langsung lenyap. Sehingga kami tak bisa bertukar kabar. Akhirnya kami memutuskan untuk berputar balik, kembali ke pintu masuk tadi. Dengan niat menunggu mereka di gerbang masuk TNBB dan untuk mendapatkan sinyal ponsel.

Ditengah gontai perjalanan balik, perut kami mulai keroncongan. Maklumlah sedari pagi baru terisi ketupat sayur.  Akhirnya kami menemukan tempat membuka bekal makan siang di spot yang tepat.  Viewnya indah. Di pinggiran sungai, di sana terdapat sebuah batu besar nan datar yang cukup luas. Saya tertakjub pada batu yang telah mengkilat dimakan waktu. Batu itu bak karpet alam yang disediakan untuk kami yang ingin menikmati indahnya pingiran sungai itu.

Kami membuka bekal makan. Menunya sederhana dan biasa, namun romansanya sungguh luar biasa. Makan dalam keheningan alam. Dimana di hadapan mata tersaji keindahan sungai yang eksotik lengkap dengan aliran airnya yang bening dan tenang. Hingga dasar sungai, lumut-lumut, bebatuan serta ikan-ikan yang tengah berenang terlihat jelas.

Sengaja kami makan sedikit sekali. Karena masih ada sesi makan siang bersama yang lainnya. Setelah cukup menganjal perut dan merekam keindahan alam dalam ingat, segera kami bergegas, tanpa meninggalkan sampah. Malu rasanya jika meninggalkan sampah. Karena sedari gerbang masuk TNBB tak secuil sampahpun kami temukan di sana.

Tiba di muka TNBB, sinyal kembali kuat. Ternyata, benar saja, dua keluarga lainnya terpencar. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya semuanya berkumpul. Meski benar post code menunjuk di titik pintu masuk TNBB, namun ada jalan lain yang lebih pendek menuju air terjun yang kami maksud. Begitu menurut petugas tourist information centre yang berada di sana. Ketiga mobil pun melaju mengitari separuh kawasan TNBB.

Saatnya Makan, Main, Shalat, Bertadabur Alam

Sekira dua puluh menit, tibalah kami di sebuah area parkir plus lapangan piknik yang luas. Hanya ada dua mobil terparkir di sana. Hmm, mungkin bukan akhir pekan. Pantas saja sepi. Kami segera membuka perbekalan makan siang dan bertukar menu di meja piknik yang tersedia di sana.

Sementara itu, bocah-bocah berlarian ke sana kemari sambil menyeprotkan air lewat water gun-nya.  Dimana airnya didapat dari sungai yang berada di tepi area piknik tersebut. Cukup lama kami menghabiskan waktu di sana. Setelah puas, segera kami mengambil air wudhu di sungai jernih yang amat sangat dingin itu. Hingga kaki kami memerah nyaris beku.

Karpet dan sejadah digelar. Kami ber-shaf. Iqomat diperdengarkan. Takbir, lafaz-lafaz, rukuk, sujud, hening, senyap. Hanya suara serangga, desir angin serta gemericik sungai sajalah yang memecah sunyi. Sendu sekali. Rasanya, saat itu, hanya kami, Tuhan dan Alam.

Usai dzuhur dan Ashar yang disatukan, semua barang dimasukan bagasi. Barulah perjalanan menuju empat air terjun kami mulai. Tiga keluarga, dua belas orang. Ayah, bunda dan anak-anak. Riuh sekali perjalanan kami menapaki jalanan bebatuan, sempit, dipeluk alam yang sunyi dan pepohonan lebat. Riuh itupun kemudian tak terdengar lagi setelah lelah datang.

Swing.. swing…

Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun pertama. Segera kami merapat, penuh antusias. Di tepi air terjun tersebut terdapat swing atau gelayutan/ayunan yang terbuat dari seutas tambang nan kuat dengan dudukannya dari kayu melintang.      Kehadiran swing itu menarik perhatian kami. Beberapa dari kami mencobanya. Lumayan ekstrem. Letaknya tinggi, ketika terayun jauh, sejajarlah badan kita di tengah sungai yang curam, beraliran deras dengan bebatuannya yang tajam. Namun demikian, saya menikmati ayunan alam tersebut. Ngeri-ngeri sedap. Semakin terayun jauh, semakin ngeri sedap. Jika tak ingat waktu dan yang lain menunggu, rasanya ingin berlama-lama berayun-ayun liar di swing tersebut.

Lepas dari air terjun pertama, perjalanan dilanjutkan, kembali didekap alam. Jalan yang kami lalui cukup sempit. Sesekali melewati jembatan kecil, di bawahnya mengalir air yang sepertinya dari mata air menuju sungai besar. Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun kedua yang letaknya lagi-lagi di lembah. Segera kami menuruni jalanan yang curam bebatuan penuh antusias. Karena jalanan licin, kami harus berhati-hati  terutama anak-anak.

Setibanya di area air terjun semua langsung melebur. Ayah bunda ada yang duduk-duduk di bebatuan besar di tepian air terjun, sekedar melepas lelah, menikmati polah para bocah yang bermain air sesuka hati. Ada pula yang ikut bermain air bersama anak-anaknya.

Sesekali diantara kami terpeleset. Akibat bebatuan dasar sungai/air terjun yang licin berlumut. Pecah tawa seketika. Sorak ledek pun menggema. Ruih dan hangat sekali suasana air terjun yang hanya milik kami ber-12 sore itu.

Hari kian merambat senja. Mau tak mau, kami harus menyudahi petualangan alam bebas di salah satu sudut alam Wales itu. Terpaksa dua air terjun yang sedianya akan kami singgahi di depan sana harus digagalkan. Tak hanya karena waktu, tapi juga karena tenaga. Biarlah lain kesempatan kami bertandang lagi ke sini. Ke wisata alam yang masih perawan dan sepertinya akan terus perawan. Asri alami. Tanpa tangan-tangan usil yang berniat merusaknya, mengotorinya, mengubahnya.    Benarlah, empat kali mengunjungi setiap sudut wisata di Wales belum cukup sudah.

tulisan perjalanan majalah Paras

Jalan-jalan kami ini telah dimuat di Majalah Paras, Edisi akhir Juli 2015, Rubrik Pesona Wisata.

Cambridge, Kota Pelajar yang Menawan

Sejak kapan waktu, saya pengen banget berwisata ke Kota Cambridge. Dan akhirnya, setelah lama menunggu, kesempatan itu datang juga.

Ketika usai melaksanakan halal bihalal bersama masyarakat Indonesia rumah Pak Dubes pada 17 Juli lalu, kami langsung pergi menuju Utara. Sekitar satu setengah jam perjalanan, tibalah kami di Kota Cambridge.

Kesan pertama yang saya tangkap, ini kota bernuansa kota pelajar merangkap kota Wisata. Jejeran sepeda terparkir di beberapa spot di area parkir sepeda di pusat wisata/kota/gedung universitas. Rombongan tur anak-anak/pelajar bergerombol di sana-sini.

Puluhan bangunan tua, kokoh, klasik berdiri tegak di sana-sini. Dimana bangunan-bangunan itu kebanyakan merupakan college/universitas. Jadi, Cambridge ini merupakan Kota Pelajar-nya Inggris.

Mau tahu seperti apa suasana dan nuansa kota yang melahirkan banyak ilmuwan Inggris ini? Berikut ini saya kasih unjuk penampakkan kotanya.

*NET CJ-17 yang tayang pada Jumat, 31 Juli 2015.