SOCA adalah sebuah nama majalah. Singkatan dua anak bocah laki dan perempuan. Yaitu Soni dan Caca. Tulisan saya pernah dimuat beberapa kali di sana. Untuk genre jalan-jalan, flora, feature, dan liputan khusus. Selengkapnya bisa dilihat di sini. Karena saya penulis kutu loncat, alias penulis segala macam genre, tergantung mood datang, saya pun mencoba mengirimkan cerpen anak ke sana.
Tidak seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, Soca bertransformasi, dari format majalah menjadi format koran, yang menginduk pada Sinar Harapan. Jadi, untuk 4 tulisan saya sebelumnya masuk di Majalah Soca, kalau yang cernak ini masuknya ke koran Sinar Harapan SabtuMinggu. Tapi teuteup dua lembar rubrik anak-anak ini bernama SOCA.
Cerpen anak yang saya kirimkan ke SOCA berjudul Konde Leluhur dan dimuat dengan judul yang sama seperti yang saya kirimkan. Konsep cerita ini muncul ketika saya masuk dalam sebuah kelas cernak yang isinya satu guru keren dan 4 murid yang tak kalah keren 😉
Salah satu murid tersebut ada yang bernama Tary. Nah, saya tuh kadang mengambil nama tokoh cernak yang saya buat dari nama-nama orang terdekat saya. Misalnya, nama anak saya sendiri, nama teman-temannya anaks saya, nama ponakans, nama sepupus, nama temans dan relasi. Dengan catatan, namanya menarik, mudah diingat, mudah dibaca, keren, ngak jadul.
Nah, karena waktu itu saya satu kelas dengan Tary, maka nama itulah yang saya ambil untuk tokoh cernak yang saat itu harus saya selesaikan sebagai PR.
Dan berikut ini cernak saya dalam naskah lengkapnya:
Konde Leluhur (Rosi Meilani)
Beberapa hari lalu, telah terjadi pencurian di istana. Pencuri berhasil mengambil kotak perhiasan Sang Ratu. Beruntung aksi tersebut berhasil digagalkan. Ketika Si Pencuri melewati benteng istana, pengaman istana yang bernama Paman Arya memergokinya. Paman Arya mengejar pencuri yang ternyata Si Codet. Pencuri paling berbahaya di negeri itu. Terjadilah aksi kejar-kejaran.
Si Codet pontang-panting. Ketika akan menyeberangi sungai, ia terpeleset, lalu terjatuh. Berhamburanlah hasil curiannya. Paman Arya mencoba mengejar Si Codet. Namun tak terkejar. Lagi pula Paman Arya harus segera memunguti perhiasan Ratu sebelum terhanyut aliran sungai.
Sesampainya di istana, Paman Arya menyerahkan kotak perhiasan kepada Ratu. Namun wajah Ratu terlihat kuyu
“Mengapa Ratu terlihat sendu?” tanya Paman Arya.
“Terima kasih atas usaha yang paman lakukan. Tapi ada satu barang yang hilang,” jawab Ratu.
“Apakah itu?”
“Konde Leluhur. Konde pemberian leluhurku yang diwariskan secara turun-temurun. Konde itu sangat berharga untukku,” lirih Ratu.
***
Seperti biasanya, sepulang dari hutan untuk mencari kayu bakar, Tary berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba matanya terkena silau sebuah benda. Tary segera menghampiri sumber kilau. Lalu memungut benda yang tersangkut di ranting pohon tepi sungai itu.
“Eh, ini kan konde? Bentuknya indah sekali.” gumannya sambil mengamati konde yang bersemat taburan bebatuan bening nan berkilauan. “Apakah ini yang disebut dengan batuan berlian itu? Ehm, entah lah. Yang jelas, konde ini akan kupakai saat parade besok lusa.” lanjutnya.
Hari dinanti tiba. Tary didandani oleh Ibu. Ia memakai pakaian adat dan diberi riasan sangul di kepalanya. Setelah itu Tary menyelipkan konde di sangulnya, tanpa sepengetahuan Ibu. Lalu Tary diantar Ayah ke istana.
Di halaman istana tengah digelar perayaan ulang tahun Ratu Amira. Acara dimeriahkan parade anak-anak yang berpakaian tradisional. Meski acaranya berlangsung meriah, tapi Ratu Amira terlihat gundah.
***
Ketika iring-iringan parade dimulai, Tary menjadi pusat perhatian. Karena sangulnya memancarkan kilau ketika terkena sinar matahari. Ratu Amira terperanjat . Seketika ia berdiri dari singgasananya di teras istana itu.
“Paman Arya, bawa anak itu kemari!” titah Ratu menunjuk ke arah Tary.
Paman Arya bergegas. Sayang, Paman Arya kalah cepat dengan Si Codet. Tary diculik oleh Si Codet.
Rupanya semenjak pencurian tempo hari ini, Si Codet terus mengintai istana. Ia masih penasaran ingin memiliki konde leluhur yang sangat bernilai tinggi. Ketika menyusup saat parade, ia tahu benar, bahwa konde yang dipakai oleh Tary adalah konde yang diincarnya sedari dulu.
“Tolong … tolong …,” Tari meronta-ronta saat tubuhnya dipikul di pundak Si Codet.
Codet berlari kencang. Paman Arya mengejarnya. Orang-orang yang berada di sana terlihat bengong dan bingung. Apa yang terjadi, pikir mereka. Lalu Paman Arya berteriak.
“Penculik … penculik …,” pekiknya. Serta mertalah orang-orang ikut mengejar Si Codet.
Dasar Si Codet penjahat ulung, ia menyambar kuda istana. Lalu menungganginya. Sedangkan Paman Arya dan yang lainnya hanya bisa mengejarnya dengan berlari saja. Hingga tertinggal.
Melihat situasi tersebut, Tary langsung mencabut kondenya. Lalu ia tusukkan ujung konde yang tajam itu pada punggung Si Codet.
“Awww … ” Si Codet kesakitan, tapi Tary belum juga terlepas dari pundsak Si Codet. Sekali lagi Tary menusuk punggung Si Codet.
“Aww …,” Si Codet kesakitan. Kali ini, terlepaslah Tary.
Tary terpelanting. Untunglah sebelum jatuh ke tanah, badan Tary berhasil ditangkap Paman Arya. Selamatlah Tary.
Kejadian itu membuat heboh pesta ulang tahun Ratu. Namun demikian, Ratu Amira kini berbahagia. Karena Konde Leluhur telah kembali ke tangannya. Karena aksi Tary yang sangat cerdas dan berani, Ratu Amira memberikan hadiah kepada Tary. Berupa konde lainnya. Namun kecil dan mungil. Semungil tubuh Tary.
*****************************************
Demikianlah naskah aslinya yang saya kirimkan ke SOCA. Nah, yang di bawah ini adalah penampakkan cerpennya yang sudah tayang. Ayo pelajari! Bagian mana yang diedit! Dengan begitu, kita jadi tahu dan bisa membandingkan serta mengambil ilmunya.
Cerpen Anak Soca, dimuat 10 Mei 2015
Tips menulis cerpen anak kali ini adalah:
Pilih nama tokoh cernak yang keren, unik, mudah dibaca.
Gunakan kalimat efektif.
Hindari kalimat bersusun. Karena kita sedang menyuguhkan bacaan untuk anak-anak. Jadi buat kalimat sesimple mungkin.
Pesan moral. Ini yang penting!
Hmm.. menurut kalian, pesan moral dari cerpen anak ini, apa ya?…..
Oiya, buat kamu yang mau ngirim cerpen anak ke Soca, catet alamat imel berikut ini: redaksisoca@sinarharapan.co.id
Pada 2-3 Mei 2015 lalu keluarga muslim Indonesia melaksanakan hajat besar berupa kumpul bersama di The Bordesley Centre, Stratford Road, Birmingham, bertajuk KIBAR Spring Gathering 2015.
Acara yang digelar setahun dua kali ini selalu mendatangkan pembicara/penceramah utama dari tanah air. Untuk Kibar Spring Gathering kali ini, panitia KSG mengundang Bapak Habiburrahman El-Shirazy, yang biasa disapa Kang Abik, penulis best seller novel islami. Bagi para pencinta novel islami dan penikmat film islami tentu sudah tak asing dengan nama beliau. Dua novel best sellernya yang juga sukses difilmkan adalah Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.
Seperti Kibar Gathering sebelum-sebelumnya, dihadiri pula Duta Besar Indonesia untuk Irlandia dan Britania Raya, Bapak T.M. Hamzah Thayeb beserta istri dan rombongan dari KBRI London.
KGS yang mengangkat tema “Enriching Civil Society” ini dihadiri sekitar 350 peserta yang datang dari berbagai penjuru Inggris Raya. Dari Skolandia (Aberdeen, glasglow, Dundee, Edinburgh). Dari Belfast Irlandia. Dan peserta terbanyak tentunya berasal dari England, diantaranya dari kota Birmingham sebagai tuan rumah, London, Bristol, Worcester, Manchester, Oxfordshire & Swindon, Leicestershire, Nottinghamshire, Newcastle, Southampton, Sheffield, Leeds, dan kota-kota lainnya.
Kang Abik mengisi dua sesi kajian/ceramah/dialog/diskusi yang berjudul Moeslem Role in Developing Civilization. Sesi lainnya berupa sambutan dari Duta Besar Indonesia untuk Irlandia dan Britania Raya, Bapak T.M. Hamzah Thayeb, Ketua Panitia KSG 2015 dan ketua KIBAR.
Selain acara utama dibuka juga sesi lainnya di ruang terpisah. Diantaranya untuk anak-anak dan muslimah. Untuk kelas muslimah mengambil tema keluarga dan karir.
Hari pertama berlangsung padat, diawali dengan registrasi di jam 9 pagi hingga berakhir pada jam 9 malam. Disambung hari kedua dengan kegiatan olah raga, games, cerdas cermat, dan pertunjukkan anak-anak.
Untuk para pria diadakan tanding fulsal antar lokaliti pengajian. Pengajian Al Hijrah Bristol dan Pengajian Manchester berhasil masuk final yang dimenangkan oleh tim sepak bola Pengajian Manchester. Untuk para ibu dan remaja putri berlangsung olah raga ringan yang lebih ke permainan tradisional berupa gobak sodor.
Acara yang paling dinanti di hari kedua adalah bazaar. Betapa tidak, aneka jajanan, makanan, minuman khas Indonesia tersedia di sini. Gudeg, sate, sate padang, bakso, siomay, bubur ayam, pempek, getuk, onde, es cendol dan masih banyak lagi menjadi obat kangen akan makanan Indonesia.
Liputan acara tersebut telah dimuat di koran Tribun Timur edisi 7 Mei 2015 dan berikut penampakkan artikelnya 😉
Sedangkan berikut ini merupakan penampakkan videonya,
Berbicara wisata belanja London, sering kali dikaitkan dengan Oxford Street dan Harrods. Banyak faktor yang menjadikan Harrods popular di kalangan wisatawan. Diantaranya karena Harrods menyajikan aneka barang branded yang banyak diburu wisatawan berkantong tebal.
Harrods juga sering dikaitkan dengan Dodi Al Fayed dan Putri Diana. Pasangan kasih yang tak mungkin dipersatukan. Hingga berujung tragis di Prancis. Entah untuk menarik pasar ataukah murni penghormatan terakhir dari Harrods. Di lantai dasar gedung berlantai tujuh ini terdapat monumen Dodi dan Lady Di.
Banyak pengunjung berfoto di monumen bermaterialkan marmer coklat berbaur hitam ini. Foto Dodi dan Lady Di berdampingan dalam frame bulat berwarna kuning keemasan. Sepasang merpati keemasan menaungi keduanya. Senada dengan dinding latar belakang monument tersebut.
Sepasang lilin putih berukuran besar, tiga bucket mawar putih, serta kolam kecil berisi koin keberuntungan berserakan, melengkapi monument. Di depan monument terdapat patung Dodi dan Lady Di yang tengah berdiri. Mirip sedang menari. Mereka berpegangan, seekor burung berada di atas tangan mereka. Tertulis dibawah patungnya, innocent victims.
Puluhan hingga ratusan barang branded
Bagi wisatawan yang berkantong tebal Harrods adalah surga wisata belanja. Betapa tidak, ratusan barang bermerek ternama bertenger manis di sana. Parfum, tas, sepatu, pakaian, perhiasan, emas, berlian, jam tangan dan sebagainya mengisi 330 gerai toko.
Harga yang dibantrol mulai dari ratusan, ribuan, belasan ribu, hingga puluhan ribu pounsterling. Sebut saja, untuk sebuah tas wanita ada yang dibandrol £15.000 (sekitar 300.000.000,-)
Harrods memiliki section coklat yang menempati bagian khusus. Seperti bagian lainnya, interior section coklat terlihat mewah. Tata lampunya agak remang. Sama halnya lift yang ada di sana. Tidak seperti mall modern yang terang benderang dan serba simple. Interior lift Harrods lebih ke detail, artistik, remang, kuning keemasan.
Harga coklat yang ditawarkan beragam. Mulai dari sepotong coklat seharga £2,75 hingga sekaleng praline seharga £250 (sekitar lima juta). Di sebelah section coklat terdapat section sea food. Sepertinya tak lumrah menempatkan section seafood di sebuah gedung perbelanjaan luxury. Tapi Harrods lain. Tak ada kesan bau amis, ataupun menurunkan selera belanja. Justru banyak wisatawan berfoto di sini. Seafood yang dijual diantaranya caviar, lobster, udang besar, scallop, filet salmon, tuna dan sebagainya.
Bagi pengunjung cilik, Harrods menyediakan section khusus yang membuat bocah-bocah betah berlama-lama di sana. Section souvenir juga ada. Harrods dijalankan 5 ribu karyawan. Mereka berasal dari 50 kewarganegaraan. Mengingat kepemilikkannya, tak heran jika banyak karyawan ganteng berwajah timur tengah yang melayani ramah. Mengucapkan salam kepada pengunjung muslimah yang jumlahnya cukup banyak.
Bagi penghobi wisata belanja pasti betah berlama-lama di bangunan klasik usia lebih dari seabad yang luas area 90.000 m2 ini.
China Town
Selain berbelanja di Harrods yang terkenal dengan keekslusifannya, kita juga bisa berwisata belanja bernuansa Asia. Tepatnya di China Town. Letaknya dekat Piccadily Circus yang juga masuk dalam list destinasi incaran wisatawan. Enam hal untuk mendeskripsikan Piccadilly Circus adalah: ramai wisatawan, musisi jalanan, Shaftesbury Memorial Fountain, lampu neon/billboard iklan, pusat belanja dan pusat hiburan.
Wisatawan yang lelah berbelanja ataupun mencari hiburan biasanya duduk-duduk di tangga Shaftesbury Memorial Fountain. Bisa sambil makan siang, menikmati musik jalanan, ataupun duduk santai menikmati hiruk-pikuk dan kerlap-kerlip billboard iklan produk ternama yang tersemat di gedung-gedung tinggi.
Lima menit berjalan dari Piccadily Circus kearah Timur Laut, tibalah kita di China Town yang juga banyak diagendakan wisatawan. Kebetulan saya datang di hari kedua Imlek, bertepatan liburan sekolah pula. Lalu lalang orang ramai sekali. Nuansa merah, balon-balon, lampion-lampion dan aksesoris imlek lainnya menambah marak suasana. Rasanya seperti di negeri Tiongkok saja.
Saya jumpai panda. Maksudnya orang berkostum panda yang notabene ikon Negara China. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun banyak yang berfoto bersama si panda yang besar nan lucu. Setelah berfoto, mereka melemparkan koin sekedarnya di box yang tersedia
Banyak wisatawan berselfie ria di gapura China Town. Kawasan ini merupakan surga makanan bagi wisatawan pecinta chinesse cuisine. Harga yang ditawarkan relatif murah. Dengan £8.50 (sekitar 170.000 rupiah) anda sudah bisa makan kenyang ala buffet.
Restoran Halal
Untuk Anda yang muslim, jangan khawatir. Saya merekomendasikan Restoran Rasa Sayang yang beralamat di 5 Macclesfield Street. Tertulis, Malaysia-Singaporean Cuisine. Maka tak heran jika cita rasa makanannya sesuai dengan lidah kita.
Begitu memasukinya, saya temukan kesan sempit. Kursinya penuh. Saya pikir, kami baru bisa duduk setelah pengunjung lain pergi.
“Tunggu,” kata pramusajinya ramah. Tak lama, ia mempersilakan saya menuju lantai bawah.
Tangganya sempit, tapi di luar dugaan, lantai bawah lebih luas dari lantai atas. Harga makanan di restoran berdaya tampung sekitar 80 orang ini relatif murah. Rata-rata per porsinya £7,5 (sekitar 150.000). Ada nasi/mie/bihun goreng, rendang, nasi Hainan, aneka mie dan kwetiau, sate lontong dan masih banyak lagi.
Dari sekian banyak jenis minumannya saya tertarik dengan cincau bandung. Sebagai orang Bandung, rasanya di Bandung sendiri tidak ada jenis minuman seperti itu. Setelah dipesan, datanglah es cincau biasa. Oh, rupanya, bandung itu sebutan untuk evaporated milk yang digodok bersama pandan lalu diberi sirup.
Jika dipukul rata, makan,minum plus pajak, £12 (sekitar 240.000 rupiah). Puas makan, selanjutnya berbelanja di toko groceries. Maklum, Worcester tidak memiliki kawasan seperti ini. Di sini banyak toko yang menjual aneka sayur, buah dan kelontongan khas Asia. Seperti: durian, petai, kangkung, jambu batu dan sebagainya.
Disinipun banyak terdapat toko kue. Dimana dinding toko bermaterialkan kaca lebar tersebut memamerkan kue, roti dan cake yang berpenampilan cantik menarik. Membuat langkah wisatan terhenti. Begitu pun saya. Langkah terhenti ketika sederet cakwe terpajang di sana. Segera saya memasuki tokonya yang ternyata padat. Padat pengunjungnya, padat pula kue-kue yang disajikannya.
Kursi yang tersedia penuh terisi. Terpaksa, pengunjung yang baru datang harus take away. Kue-kue yang dijual di sini cukup familiar di kalangan kita orang Indonesia. Ada cakwe, onde-onde, klepon, aneka roti dan sebagainya. Untuk onde seukuran bola tenis dibandrol £1 (sekitar 20.000,-). Sedangkan cakwe sepanjang 35 centi, dibandrol £1,5 (sekitar 30.000,-)
Oxford Street
Banyak wisatawan mengagendakan Oxford Street sebagai destinasi wisata belanja. Maka tak heran jika ia berjuluk kawasan belanja terpadat di Eropa. Berjalan diantara hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang di kawasan yang memiliki 300 toko ini menjadi sebuah keseruan tersendiri bagi wisatawan.
Di sepanjang jalan ini akan Anda jumpai toko: DEBENHAM, GAP, H&M, House of Fraser, John Lewis, Mark & Spencer, Next, Zara dan masih banyak lagi toko berkelas lainnya. Jika merasa lelah untuk keluar masuk toko-toko tersebut, Anda bisa masuk ke Selfridges, one-stop shopping ikon Oxford Street.
Selfridges menawarkan banyak barang branded tak ubahnya Harrods. Bedanya, meski menempati bangunan berusia lebih dari seabad, seting interiornya dibuat modern dengan lampu terang-benderang layaknya mall kebanyakan. Berbeda dengan interior Harrods yang klasik dengan tata lampu remang-remang.
Fenwick
Kurang dari setengah mile, hitungan menit, dari Selfridges berjalan kaki ke arah Barat, Anda akan temukan Fenwick. Satu lagi one-stop shopping yang bisa Anda jajal selama berwisata belanja di London.
Bangunan yang terletak di Jalan Bond Street ini juga menawarkan barang-barang bermerek. Sepertinya halnya Selfridges, Fenwick menempati bangunan usia tua klasik namun seting interiornya dimuat modern dengan tata lampu yang terang-menderang.
Apapun pilihan tempat wisata belanja yang akan akan kunjungi selama di London, satu hal yang harus diperhatikan: Anda berhak mengklaim pajak pembelian.
Pengembalian Pajak
Anda adalah wisatawan, tidak diwajibkan membayar pajak. Apa yang harus Anda lakukan untuk mencegah membayar pajak atas barang yang anda beli?
Gampang. Ketika Anda membeli barang di sebuah toko/butik/mall/one-stop shopping, mintalah form isian untuk pengembalian pajak. Ketika di Bandara, sebelum Anda pulang ke tanah air, klaimlah atas barang-barang berpajak yang telah anda beli. Lumayan kan? Lumayan banget.
Suvenir
Banyak toko souvenir yang bisa Anda jumpai selama di London. Entah itu di Harrods, di Pecinan, di Oxford Street, Piccadilly Street dan sebagainya. Namun, tip dari saya adalah, belilah suvenir di sekitar China Town. Karena harganya lebih murah.
Untuk sebuah fridge magnet dibandrol 99p, atau £5 untuk setengah lusin. Kartu pos besar model ekslusif £2 per lima lembar. Kartu pos standar £1 per sepuluh lembar. Barang souvenir lainnya berupa: gunting kuku, mug, kaos, bendera, replika Big Ben, dsb.
Menuju arah pulang, saya mampir ke Jalan Charing Cross 57, tempat Warung Padang London berada. Di sepanjang trotoar jalan ini kita jumpai pedagang suvenir. Sedikit tip, jangan terburu-buru membeli souvenir di sini. Karena untuk barang yang sama, harganya bisa berbeda. Seperti scarf bergambar ikon Inggris, harga per helainya £4. Saya membeli 3 helai seharga £10. Hanya beberapa langkah dari sana saya jumpai harga £2,99 per helai atau £10 per empat helai.
Kendaraan
Bus dan kereta bawah tanah adalah alat transportasi yang paling efektif selama di London. Dari rumah saya berkendara bus lalu turun di Victoria Coach Station, stasiun terbesar di Inggris. Selanjutnya menggunakan bus nomor C1 menuju Harrods. Lalu menggunakan bus nomor 14 dari Harrods ke Picadilly Circus yang kemudian berjalan kaki ke Cina Town. Pulangnya, kembali ke Victoria Coach Station menggunakan bus nomor C1.
Dari Victoria Coach Station menuju Oxford Street, Selfridges ataupun Fenwick, Anda tinggal bisa menggunakan bus nomor 73. Kemanapun tujuan anda bepergian, gunakan Google map yang siap memberikan info kendaraan (bus dan underground) yang lewat ke kawasan yang akan Anda tuju.
Saya naik turun kendaraan dengan menggunakan kartu Oyster, atau kartu tiket otomatik. Saya tinggal top up £5 saja. Anda pun bisa melakukan hal yang sama. Belilah kartu Oyster selama traveling di London, karena jatuhnya lebih murah dan praktis. Anda tinggal sentuhkan chip kartu oyster di mesin tiket bus.
Hotel
Bagi Anda yang mengagendakan lebih dari sehari berwisata di London, Anda bisa menginap di hotel yang berdekatan dengan destinasi tujuan anda. Jika ingin menginap di hotel sekitar Harrods setidaknya anda harus menganggarkan £250-£350 (sekitar 5-7 juta) per kamar untuk dua orang. Harga tersebut bisa lebih murah bisa pula lebih mahal. Tergantung waktu (low season/high season), lokasi (tengah kota, pinggir kota), jenis kamar (standar, deluxe, family room dll) serta kelas hotel.
Sale
Inggris memiliki musim sale. Ini berlaku juga di Harrods, toko-toko branded dan one-stop shopping lainnya. Biasanya awal musim panas (sekitar awal Juli), jelang natal dan tahun baru, terutama boxing day (26 Desember). Beruntunglah Anda jika melancong pada musim sale tersebut.
How to get there
Bagi yang terbang dari Jakarta, silakan pilih maskapai penerbangannya, kelas, waktu dan option lainnya. Kesemua itu sangat mempengaruhi harga tiket, lama penerbangan dan kenyamanan yang Anda dapatkan. Sebagai gambaran, Emirats, kelas ekonomi, low season, bisa dapat tiket seharga £600-an (atau sekitar 12 juta). Setidaknya itu harga terendah.
Dari Bandara Heatrow ataupun Gatwick anda bisa menggunakan, mobil sewaan, taksi, bus maupun kereta, dengan plus minusnya. Taksi menguras kocek, tapi menghemat waktu dan tenaga. Sewa mobil, sulit urusan parkirnya. Kebanyakan wisatawan menggunakan bus dan kereta/underground selama bepergian di London. Selain lebih murah, feel dan atmosfir sebagai wisatawannya lebih terasa.
Jangan lupa gunakan Oyster Card, kartu tiket otomatis, disertai chip, sehingga memudahkan anda dalam berkendara umum. Lebih mudah dan murah. Mengenai transportasi umum bisa diliat di website berikut ini: http://www.tfl.gov.uk/
Inggris tidak termasuk dalam visa Schengen. Jadi jika Anda berniat keliling Eropa, buat jugalah Visa Inggris. Untuk mengetahui cara mendapatkan Visa Inggris bisa kunjungi website berikut ini: https://www.gov.uk/government/publications/apply-for-a-uk-visa-in-indonesia.
Tulisan perjalanan ini telah dimuat di Majalah Female edisi April 2015.
Adalah sebuah haru ketika buku yang saya tulis bermanfaat bagi orang lain. Selain Buku Jelajah Inggris dipakai panduan sebuah stasiun TV, ada satu cerita lainnya diantara belasan cerita yang saya terima dari pembaca buku Jelajah Inggris.
Lagi-lagi, semuanya bukan kebetulan, tapi rencana Tuhan yang sempurna. Cerita ini saya dapat dari ketua penyelenggara KIBAR gathering yang saya liput beberapa waktu.
Bayangkan, beliau tinggal di Birminghan, bersama keluarganya hari ini beliau jalan-jalan ke London. Diantara ratusan wisatawan bahkan ribuan orang yang hilir mudik hari ini di London yang padat, kok ya bisa berbetemu dengan seorang ibu yang sedang menenteng buku Jelajah Inggris. Bisa begitu ya?
Ya bisa lah! Karena Tuhan berkehendak. Tuhan berkehendak mempertemukan ibu itu dengan Mas Agus. Kemudian Mas Agus menghubungi saya. Yang pada akhirnya saya bisa berbincang hangat dengan ibu yang ramah itu. Kebetulannya lagi, ibu itu berasal dari Bandung. Wah… benar-benar dunia ini kecil.
Ibu yang darehdeh (artinya ada di kamus Sunda :D) tersebut bernama Ibu Dian. Bersama rombongan dari Indonesia ia keliling Eropa. Sedangkan destinasi terakhirnya ialah London dengan masa wisata sehari saja.
Karena ibu tersebut ingin berlama-lama di London, maka beliau menambah masa wisatanya di London beberapa hari.
“Sejak memutuskan berwisata ke Eropa kemudian ke London, ibu teh sengaja beli buku Jelajah Inggris buat pegangan informasi,” dan seterusnya.. dan seterusnya, kami berbicara lewat handphone Mas Agus.
“Sebentar, ini suami saya ingin bicara juga dengan Rosi,” lanjut Bu Dian. Duh, suatu kehormatan besar bagi saya bisa berbincang dengan beliau-beliau.
Saya saling memberi salam. Bapak yang ramah tersebut bernama Pak Ahmad. Ia senang sekali buku Jelajah Inggris memberikan manfaat bagi ia dan istrinya. Saya apalagi. Saya merasa lebih senang karena mereka senang.
Seperti halnya kepada pembaca Buku Jelajah Inggris lainnya, saya suka minta pendapat, kritik dan masukkannya. Dengan nada ramah dan memakai kata maaf.. maaf.. beliau memberikan masukan untuk buku saya. Ada dua hal. Pertama, sebaiknya disertakan mesjid yang bisa dikunjungi dan jasa pemandu wisata orang Indonesia.
Aha.. benarlah adanya. Terima kasih masukkannya Pak Ahmad Sadikin. Semoga buku Jelajah Inggris laris manis hingga cetak ulang, sehingga saya bisa merevisi buku tersebut dan menambahkan informasi terkait tempat sholat/mesjid seputaran London. Nah, untuk jasa pengantar wisatawan atau guide saya jadi kepikiran juga nih. Kira-kira teman-teman di London, khususnya mahasiswa ada yang bisa diajak kerja sama jadi pemandu wisata gak nih? Hmm…
Dan inilah foto ibu Dian yang sempat diabadikan oleh Mas Agus di London.
Pembaca Buku Jelajah Inggris di London
Terima kasih Bu Dian, Pak Ahmad dan Mas Agus. Tangan Tuhan mengatur silaturahim singkat kami ini.