Jalan-Jalan dapat Uang

Jaman sekarang, rasanya, plesiran bukan lagi masuk kebutuhan tertier (cie.. inget pelajaran SD apa SMP taun 80’an) 😀

Jaman sekarang, jalan-jalan/plesiran/liburan/traveling/backpack, apapun itu sebutannya, rasanya udah masuk ke dalam kebutuhan kedua. Yang bertujuan untuk melepas penat akan rutinitas yang kita lakoni hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, ya gak?

Apapun jenis liburannya, kamu bisa loh menjual cerita perjalananmu itu. Seperti yang saya lalukan, heuheu.. matre.

Dulu, saya kalau jalan, ya jalan aja. Lama-lama, saya pikir, lidah dan otak saya belum tentu mampu menyimpan semua perjalanan saya yang nanti bisa diceritakan kepada anak cucu… ttsaaaahh… panjang amat mikirnya 😛

Etapi, bener kejadian loh, catatan perjalanan saya itu sudah berwujud buku yang bisa saya wariskan ke anak cucu 😀

Kebayang, ntar klo udah jadi nenek, (time flies, init?) saya akan bilang: “Ini loh, cu.. nenek pernah travel ke sini, ke sini, ke sini dst, sambil menunjukkan buku saya 😀

Kembali ke laptop! topik. Jadi, dulu saya suka menuliskannya di blog. Waktu itu masih jaman MP, dengan akun ceuosi. Tapi kemudian MP digusur 🙁 Jadi males ngeblog lagi deh.

Tapi, semua ada hikmahnya. Setelah rumah maya saya digusur, curhatan saya ganti wadah. Yang asalnya di blog, jadi di media cetak. Jatuh bangun saya mengirimkan tulisan ke media (lebayyy…) mulai awal 2012.

Sekalinya mejeng di media senengnya gak ketulungan, jadi tambah semangat deh. Salah satu genre favorit saya adalah tulisan perjalanan. Karena nulisnya ringan. Udah jalan-jalan, otak jadi fresh, nulis jadi semangat, dikirim ke media, eh dapat honor pulak 😉

Sekarang kita hitung, ada berapa puluh media yang betebaran di Indonesia. Baik koran lokal maupun nasional, baik majalah pria, wanita, keluarga, traveling, dll. Ehmm.. lahan yang bagus untuk kita jajal kan?

Makanya, buruan jajal…

Ada yang bilang, tapi kan maen kudu ngemodal duit. Ye… anggap aja kalu kita udah niat maen, itu ga termasuk modal. Kan emang niatnya mau jalan 😀

Beda cerita, kalu emang sengaja travel buat bikin tulper. Etapi, maen/travel/jalan/backpack, apapun itu namanya, gak kudu keluar uang banyak, kok. Asal kamu pintar nyari destinasinya. Gak usah jauh-jauh, asal ada nilai jual wisatanya. Percaya ga? di tulisan saya ini, modalnya cuman urunan 50 rebu doang. Klo gak percaya, tanya aja kang Rudy, ketua KUJnya. 😉

Satu tip lagi, cari destinasi yang ga itu-itu aja. Kebayang ga? udah jauh-jauh ke Bali (dengan niat nyari bahan tulper), maen ke kuta n tempat yang itu-itu aja, trus pas nawarin ke beberapa media, trus editornya bilang: “Maaf destinasi itu udah sering diulas.” Majleb banget kan? sakitnya tuh di sini! nunjuk dompet 😛

Jadi, ya gitu deh. Kesimpulannya:

  • Kalu maen/travel/jalan-jalan/backpack/plesiran, dibikin tulpernya,  kirim ke media.
  • Cari destinasi yang gak itu-itu aja. Etau gak? sy pernah bikin tulper dengan destinasi kuburan? ga percaya? silakan merapat ke sini.
  • Cari destinasi yang dekat tapi bernilai jual tulper.
  • Kalu dimuat di media, kesenangannya jadi dobel. Udah refresing, bersenang-senang, dapet duit pulak 😉

Ini contoh point 3, cari destinasi yang dekat, tapi bernilai jual tulper. Karena waktu itu lagi ada event bagus.
Lokasi: kota sebelah, Kota Tua Tewkesbury.

Dimuat di Koran Republika minggu ke-2 Desember. Lagi-lagi males mosting, baru kali ini dipajang di blog 😉

leisurepublika tewkesbury1

leisurepublika tewkesbury2

 

 

Tulisan Perjalanan Koran Republika, Kemping di Cornwall

Inggris tu ya.. dalam seminggu ini bisa panas, bisa dingin, bisa matahari cerah ceria, bisa ujan seharian. Tapi teuteup disyukuri sih..

Kebetulan hari ini lumayan panas banget (ya iya lah, orang sambil bejemur di balik kaca ruang tengah. Dimana mataharinya full nyorot)

Kalau lagi panas di bulan Maret gini jadi ga sabar pengen segera panas beneran, alias panasnya summer. Yang berarti, waktunya untuk ngelayap bin travel. Biasanya, salah satu tempat incaran kami selama musim panas ialah Cornwall.

Kalau ke Cornwall, rasanya tak cukup sehari dua hari, mengingat banyak banget objek wisata yang harus dijajal. Salah satunya adalah berkemping ria dan mengunjungi St Michael’s Mount, seperti yang kutulis di tulisan perjalanan yang dimuat di Koran Republikabbrp bulan lalu (hehe.. males posting di blog, baru sempet sekarang mostingnya) 😉

Gimana serunya kemping di Cornwall n apa bagusnya St Michael’s Mount?

Silakan baca yang anteng, jangan lupa komen di bawahnya 😀

****

republika, kemping cornwall

kemping cornwall 2014

***

Rasanya sayang jika melewatkan musim panas tanpa kemping. Ya, karena hanya di musim panaslah kami bisa kemping seperti ini. Dan untuk kesekian kalinya kami kemping di Cornwall, sebuah Provinsi yang terletak di Barat Daya Inggris. Meski beberapa kali kemping di Cornwall namun suasananya selalu berbeda

Kemping yang kami lakukan ini banyak dilakukan oleh keluarga Inggris lainnya. Karena animo masyarakat sangat tinggi akan hal ini, Inggris memiliki banyak campsite/bumi perkemahan. Tidaklah heran jika Cornwall memiliki banyak campsite karena pesona alamnya sangat mendukung.

Salah satunya karena posisinya di semenanjung. Tentunya banyak sekali pantai di sana. Seperti diketahui, orang sini senang pantai. Tentu saja, berjemur adalah sebuah luxury bagi negara yang minim pancaran matahari.

Istilah kemping di sini tidaklah sama seperti kemping semasa kita pramuka dulu. Karena campsite di sini dilengkapi penyewaan lodge, boleh membawa mobil caravan, ada fasilitas listrik, internet, laundry, tempat cuci piring dan sebagainya.

Ada juga area yang hanya menyewakan tempat untuk memasang tenda saja. Namun untuk fasilitas umum berlaku sama. Seperti toilet, shower room, tempat cuci piring, tap water(air minum dari keran) dan sebagainya.

Sedari Ramadan, kami mengangankan kemping. Maka, selepas lebaran barulah direalisasikan. Meski campsite di Cornwall jumlahnya banyak sekali, namun kadang fulbook. Maka dari itu, kami memesannya sebelum hari H. Setelah browsing dan memilah milih lokasi, jatuhlah pilihan di Tower Park Caravan and camping.

Untuk satu pitch (lapak tenda) kami membayar £23 atau sekitar Rp.460.000,00. Itu harga termurah untuk satu keluarga yang terdiri dua dewasa, 2 anak, satu lapak tanpa listrik dan internet.

Hari dinanti tiba. Kami meluncur dari Worcester ke Cornwall. Menurut GPS, jarak tempuhnya 250 mil, waktu tempuhnya 4 jam lebih. Tapi, pada kenyataannya, memakan waktu  sekitar 7 jam, karena awalnya terjebak macet di jalan tol. Akhirnya kami memilih country side alias jalan desa. Lebih asik sih, pemandangannya lebih asri dibanding jalan tol. Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat. Sekedar untuk meluruskan punggung, ngopi dan makan.

Tiba di campsite daerah St. Buryan Penzance pukul 7 lebih. Segera kami mendirikan tenda sebelum matahari tenggelam dan semuanya gelap. Sementara itu, mobil teman kami datang menghampiri. Ya, memang kami sudah janjian. Akhirnya dua mobil mengapit dua tenda, sedangkan di tengahnya untuk area barbekiuan, api/unggun merangkap tempat makan, tempat sholat dan tempat bercengkerama.

Tenda telah dipasang, arang sudah dinyalakan, sate sudah dijejerkan, sementara itu makanan dan minuman lainnya dikumpulkan di tengah. Ah, makan malam yang sempurna. Bertemankan lampu berkekuatan baterei. Setelah usai makan malam, karpet dibersihkan dan beralihfungsi menjadi alas sholat. Sholat magrib dan isya yang khusuk dalam hening. Hanya surah-surah agung saja yang terdengar. Suasanapun menjadi syahdu.

Usai sholat jamaah kami melanjutkan cengkerama, duduk mengelilingi bara api sambil menikmati minuman hangat. Menjadikan tubuh sedikit hangat dari terpaan angin dingin malam itu. Sesekali kami tertawa, mengusik penghuni tenda-tenda lainnya yang tak bersuara.

Di malam bertabur bintang itu, rasanya kami enggan menyudahi obrolan. Padahal waktu menunjukkan pukul sebelas. Karena membawa anak-anak, mau tak mau, kami segera memasuki tenda. Dua keluarga, dua tenda. Saya memakai tenda yang cukup besar. Dua ruang yang disekat oleh ruang tengah untuk menyimpan makanan dan barang lainnya.

Karena hanya tersekat kain tenda, obrolan pun berlanjut. Kami saling menimpali, bersahut-sahutan. Sesekali tertawa, sepertinya hanya kami kempinger yang paling heboh.

Meski tidur larut tapi bangun tetap awal, begitu azan terdengar nyaring dari ponsel kami. Setelah sholat subuh sekitar jam 4, kompor fortable mulai dinyalakan dalam ruang tengah tenda. Teh manis, coklat panas, kopi, cereal hangat dalam kemasan, mie instan dalam wadah terus bergantian diseduh. Memenuhi satu-persatu pesanan perut kami bersembilan orang. Empat orang tua, dua remaja dan 3 bocah cilik.

Disela sarapan, kami bergantian mandi pagi. Ah, segar sekali. Di kamar mandi umum yang terdiri dari lima shower room, tujuh toilet dan enam wastafel yang bersih itu masih sepi. Tentu saja, jam segitu orang Inggris masih bergumul dalam sleeping bagnya. Sengaja saya mandi paling awal agar tidak mengantri nantinya. Sepulang mandi saya saksikan matahari mengeliat dari peraduannya mencipta warna nan elok. Siluet jingga itu sungguh memesona. Allahhu Akbar. Sungguh besar kuasaNYA. Sungguh indah ciptaanNYA.

Kami sarapan super santai. Sebagian berbalut sleeping bag. Mengobrol, menyusun rencana, bercanda, saling melempar joke, tawapun menggelegar. Membuat penghuni tenda sebelah berdehem. Mungkin terganggu oleh kami yang tak lumrah sepagi itu sudah riuh, sementara penghuni tenda lainnya masih terlelap dalam hawa yang sangat dingin, sunyi pula.

Tadinya kami akan menambah sehari kemping, tapi cuaca tidak mendukung. Menurut perkiraan cuaca, siang itu hujan akan turun hingga esok hari. Terpaksa kami harus segera melipat tenda untuk seterusnya menuju destinasi lainnya.

St Michael’s Mount

Karena memiliki minat wisata yang beda, selepas dari campsite, dua mobil menuju dua destinasi berlainan. Namun janjian bertemu kembali di St Michael’s Mount, tak lebih dari jam 12 siang.

Karena Cornwall menyimpan pesona alam yang aduhai, sering kali wisatawan terbuai dan tertahan di satu objek wisata. Sehingga janjian di St Michael’s Mount molor berjam-jam, rencanapun berantakan.

Banyak wisatawan memburu St Michael’s Mount di pagi hari atau selambatnya pukul 12 siang. Kenapa? Karena St Michael’s Mount terletak di pulau kecil, terlepas dari pulau utama, England. Meski beda pulau, kita bisa menjangkaunya dengan berjalan kaki.

Berjalan kaki? Iya, berjalan kaki. Itulah uniknya tempat wisata ini. Tentunya dengan catatan, berjalan kaki ketika air laut surut, mulai pagi hingga lepas siang. Bisakah anda bayangkan dua pulau tersambung oleh jalanan bermaterialkan bebatuan yang telah mengkilat dilumat air serta diinjak kaki para wisatawan?

Waktu memasuki pukul tiga, ketika kami memasuki kawasan St Michael’s Mount. Jalanan macet, tempat parkir sulit. Memang tidak mudah mendapatkan tempat  parkir di objek wisata sepopuler ini. Setelah berputar dua kali, barulah kami menemukannya. Walau sangat jauh dari lokasi yang dimaksud.

Hati setengah pesimis. Sepertinya pasang sudah datang. Kami tergesa, memilih jalan pintas, menuju St Michael’s Mount. Langkah terasa berat, karena kaki tenggelam dalam pepasir pantai Mount’s. Hujan pula. Berangin kencang lagi. Ah, sebuah perjuanga

Di pantai itu saya saksikan banyak wisatawan yang sedang asik menikmati wisata paralayang. Hmm, sepertinya seru juga untuk dicoba. Tapi, harus fokus pada tujuan semula. Langkah cepatpun dilanjutkan.

Saya tertegun, dari kejauhan nampak jalan bebatuan itu telah dilumat air.

“Bagaimana? mau terus menerabas?” tanya suami.

Tentu saja ini sebuah tantangan mengasyikan bagi saya dan anak-anak.

“Ayok, siapa takut?” jawab kami dalam rintik hujan serta angin kencang.

Belum setengah perjalanan, atau sekitar 150 meter, nyali kami ciut. Airnya sangat dingin. Kalau hanya semata kaki mungkin tak mengapa. Tapi semakin jauh semakin dalam. Air pasang itupun cepat sekali datangnya. Mungkin setibanya di St Michael’s Mount bisa sebetis, atau mungkin sepaha. Lalu, pulangnya?

Akhirnya kami harus merasa puas hanya dengan berfoto ria. Sementara itu air pasang menjilat-jilat kaki kami, karena terdorong ombak. Terlihat banyak rumput laut yang ikut terbawa. Dalam waktu bersamaan orang-orang lalu lalang, pulang ataupun pergi penuh nyali. Bahkan beberapa diantaranya bocah-bocah dipanggul di pundak bapaknya, hebat.

Seterusnya, kami kembali arah dengan kecewa. Hujan perlahan reda. Matahari perlahan keluar. Sebagai gantinya kami menaiki tebing bebatuan yang ada di pantai itu. Tak lama, teman kami datang bergabung. Kami pun tertahan di sana. Menikmati suasana pantainya. Sambil memandang jelas St Michael’s Mount di depan sana. Apalagi jika menggunakan binocular/teropong, seperti yang dibawa teman saya itu.

Di pintu masuknya yang telah digenangi air laut, hilir mudik boat/perahu kecil. Baik yang mengantar maupun yang menjemput wisatawan. Pulau mungil itu dilingkup benteng. Lalu terlihat rumah-rumah abad pertengahan yang berfungsi sebagai toko suvernir, cafe, dan fasilitas wisata lainnya. Sementara tengah pulaunya meninggi. Seperti tumpeng alami yang ditumbuhi pepohonan menghijau. Di puncaknya terdapat kastil tua nan indah serta kokoh berdiri tegak.

Sebetulnya, tersedia perahu kecil yang memuat 6-10 penumpang untuk bisa menuju  St Michael’s Mounts. Tarif dewasa £4/pp, sedangkan anak-anak £2. Tapi waktu merambat senja, sedangkan pulau dan kastil tertutup bagi wisatawan pukul 5.30. Pastinya pulau seluas 230.000 meter persegi itu tidak akan tereksplor maksimal.

Air laut semakin pasang, langit kembali mendung, awal hitam mengelayut, sepertinya hujan akan turun lagi. Maka, segera kami tinggalkan St Michael’s Mounts di seberang sana. Wahai St Michael’s Mounts, tunggulah, suatu saat saya akan kembali 😉

Tips Menulis, Memilih media

Tips memilih media, gimana? tanya teman saya.

Hmm, baiklah. Ijinkan saya yang sedikit ilmu dan pengalaman ini berbagi.

Setiap yang suka menulis biasanya ada kecenderungan satu tulisan yang paling ia sukai. Misalnya, saya suka menulis segala macam genre tulisan. Cernak, cerpen, resensi, tokoh/profil dll. Tapi saya lebih senang menulis tulisan perjalanan. Apapun jenis tulisan yang kita sukai. Semuanya memiliki chance untuk mejeng di media masa di Indonesia.

Jika ditanya, gimana cara memilih medianya? Saya balikin lagi. Untuk jenis tulisan apa? Untuk koran atau majalah? Mau yang lokal atau nasional?

Untuk tulisan apa?

Rata-rata, semua koran memiliki rubrik opini. Jadi kalau mau menjajal rubrik opini, chancenya sangat luas sekali.

Gimana dengan cerpen, puisi, cerpen anak, tulisan perjalanan, resensi, dll? Biasanya, tulisan bersifat hiburan yang saya sebutkan barusan hanya dapat jatah seminggu sekali. Ibarat kata, pembaca udah disuguhin berita polteksosbud (terutama politik) seminggu 6 hari. Pusing kan? Makanya, redaksi menyajikan berita yang ringan-ringan dan menghibur. Nah, di lahan itulah kamu bisa jajal kemampuan tulisanmu.

Untuk koran atau majalah

Berbeda dengan koran, majalah memiliki sedikit chance untuk penulis luar. Tergantung majalahnya sih. Cuman rata-rata mereka welcome untuk: Tulisan perjalanan, Feature dan cerpen.

Kalau ditanya memilih media mana yang lebih asik? pastinya antara koran dan majalah memiliki plus minusnya. Kita tau, koran terbit tiap hari. Sebanyak itu, sebanyak itu pula tulisan opini yang tayang. Artinya menulis di genre itu lebih banyak kemungkinan dimuatnya. Trus untuk jenis tulisan hiburan seperti tulper, cernak, cerpen, puisi, resensi, chancenya seminggu sekali tayang.

Nah, kalau untuk majalah, rata-tata terbit sebulan sekali. Ada juga sih yang terbit 2 minggu sekali ataupun seminggu sekali. Bisa dibilang, majalah yang terbit mingguan/dua mingguan itu keren. Itu berarti tim redaksinya harus lebih banyak materi untuk menayangkan tulisan. Mana rubriknya kan banyak banget tuh (mudah-mudahan di sini ga ada orang redaksi majalah yang dimaksud) 😀

Ngomongin soal majalah yang terbit mingguan, 2 mingguan dan sebulan sekali, maka bisa disimpulkan 1:2:4. Artinya, kalau kita ngirim ke majalah bulanan, berarti kita harus menunggu 1 bulan 1 tulisan. Kalau kita masuk waiting list urutan 4, itu artinya tulisan kita bakal mejeng 4 bulan yang akan datang.

Kalau di majalah 2 mingguan tulisan kita duduk di urutan 4, itu artinya kita duduk manis nunggu tayang 2 bulan yang akan datang.

Kalau di majalah mingguan, jika tulisan kita duduk di urutan 4, itu artinya kita cuman nunggu kurang sebulan aja. Abis itu senyum-senyum deh tulisannya mejeng manis di sana.
***

Ayo, dipeleh.. dipeleh.. dipeleh…. tulisan kamu mau dimasukin kemana? Jawabannya ada di kamu sendiri. Oiya soal jenis-jenis tulisan n jenis-jenis media ini ada plus minus terkait honornya.  Ah, soal ini mah lain kali aja dibahasnya, biar fokeus 😛

Lokal atau Nasional

Nah, soal tulisan kita dilempar ke media lokal dan nasional, ini juga perlu dipertimbangkan.

Ibarat anak kecil yang sedang meniti tangga, tentulah kita lakukan langkah termudah untuk menguasai medan. Bukan berarti meremehkan kemampuan diri. Tapi cara inilah yang banyak dilakukan orang untuk mengukur kekuatan diri.

Ada sebagian orang yang menjajal koran-koran lokal terlebih dahulu, setelah menguasai medan, barulah PD menjajal koran nasional. Atau, awalnya menjajal majalah yang saingannya tidak terlalu banyak. Setelah PD baru maju ke medan yang lebih berat.

Tapi, yang saya katakan di atas itu bukan sesuatu yang mutlak.

Ibarat kata, kita ingin jadi juara satu. Lalu kita bekerja keras, gigih, pantang menyerah, dll. Ketika hasil akhir hanya jadi juara 2, itu masih memuaskan, kan? Dibanding, sedari awal cuman narget juara harapan doang. Setelah semangat berusaha, nyatanya hanya masuk 10 besar. Rasanya, enak yang mana? juara 2 atau masuk 10 besar doang? Wah analoginya kejauhan ya? hehe..

Jika anda membaca sebuah artikel di sebuah koran/majalah populer lalu terbersit. Hmm, sepertinya saya juga bisa bikin tulisan seperti ini. Maka lalukanlah!

Jadi.. ya gitu deh..
Kalau ditanya gimana cara memilih media yang tepat untuk tulisan kita?
Kembali lagi: jenis tulisannya apa? mau dikirim ke koran apa majalah? mau yang lokal apa nasional? Mau majalah mingguan, 2 mingguan, bulanan? Kita mampunya kemana kira-kira?

Semangat menulis….

keyboard

 

 

 

Tips Menulis: Niat, Mulai, Fokus

Saya sering kali mendapat pertanyaan dari teman-teman.
Pengen dong bisa nulis kayak kamu, dimuat di media. Gimana sih caranya?

Baiklah, saya akan berbagi sedikit pengalaman saya di dunia tulis-menulis. Tapi maaf, saya bukan seseorang yang pintar berteori. Artinya, yang saya sampaikan ini hanya sebatas yang saya tahu setelah saya menjalaninya.

Niat

Niat yang kuat merupakan modal besar untuk melakukan segala hal. Iya dong? Ngak hanya niat bisa nulis aja.

Mulai

Mulailah menulis. Menulis apa saja yang kamu bisa dan kamu sukai. Jika kamu tukang jajan, bisa nulis artikel kuliner. Kalau kamu suka jalan, tulislah tulisan perjalanan. Jika kamu memahami perekonomian, sosial politik, isu terkini, kesehatan, pendidikan dsb, kamu bisa nulis di rubrik opini.

Pokonya, mulailah menulis sesuai dengan bidang yang kamu kuasai dan sukai.

Fokeus.. chyiinnnn…

Adalah sangat penting sekali untuk fokus dalam menulis. Caranya, menulislah tentang sesuatu, harus sampai tamat. Ingat! sampai tamat. Tipsnya adalah, buatlah kisi-kisi. Contohnya, ketika kita akan menulis sebuah opini, buatlah 3 atau 4 bagian penting dalam tulisan kita. Pembuka, permasalahan, pemecahan masalah dan ending. Contohnya bisa dilihat di sini.

Gimana udah kebayang kan? Nah, sekarang, kamu bisa mulai dan fokus untuk sebuah tulisan. Entah itu tulisan  opini, tulisan perjalanan, resensi, cerpen, cerpen anak, tokoh profil dllnya. Kembali harus diingat! Fokus! Tulis sampai tamat!

Saya teringat pertanyaan seorang teman,

“Kenapa ya, kadang di otak saya mau nulis begini.. begini.. Tapi setelah jadi tulisan, malah jadinya kesana, kemari, trus endingnya gak jelas gitu, kurang seru dll…”

Yang perlu kamu lakukan adalah membuat kisi-kisi tulisan kita, lalu membuat benang merahnya. Hubungan tulisan kita mau dibawa kemana? 😀

Misalnya, kita punya pengalaman kemping yang sangat menyeramkan, atau lagi backpack tiduran di pinggir gedung kayak gembel. Lalu kamu dipeluk gembel beneran. Nah itu bisa jadi point lebih untuk tulisan kita.

Kembali lagi, tamatkan tulisanmu. Apa dan bagaimanapun jadinya, lalu simpan. Barang beberapa jam atau sehari saja. Nanti, jika kamu sudah terbiasa menulis, ada yang namanya proses editing. Buka kembali tulisanmu. Baca kembali. Niscaya kamu bakal menemukan kalimat/kata yang kurang pas. Ini hapus ah, ini tambahin ah..  pasti bakal begitu.

Jadi, ingat, Niat, Mulai, Fokeus sampei tamat.

Tips menulis berikutnya bersambung besok ya sob? 😉

republika, gen I, juni
Maaf, potonya ga nyambung, yg jelas di foto itu ada foto sayanyah… hahaha..