Category Archives: NET_CJ

Wisata Gratisan Di London

Tahukah Anda? berwisata ke London tak selalu harus merogoh kocek untuk memasuki sebuah objek wisata. Di London banyak objek wisata gratisan loh! Diantaranya Camdem. Klik deh link ini supaya terbayang seperti apa Camden itu.

Selain Camden ada pula China Town meski awalnya adalah sebuah pusat perbelanjaan bagi migran Chinesse, namun kini telah merangkap fungsi menjadi objek wisata. Di sini kita bisa wisata kuliner makanan asia. Bisa juga berburu suvenir murah.

Selain dua objek wisata di atas tadi, ada lagi nih wisata gratisan yang kalah seru untuk dikunjungi. Namanya Hyde Park, luasnya 142 hektar. Luas banget kan? Taman kota ini ditumbuhi lebih dari 4 ribu pepohonan. Di tengah taman terdapat danau yang cukup luas. Hal ini menjadi tempat yang nyaman dan bersahabat bagi para unggas-unggas yang hidup bebas di sini. Ya, meski tak bisa menghitung tepat, namun setidaknya ada ratusan unggas yang tinggal di habitat yang bersahabat ini.

Intip penampakan videonya di link berikut ini.

Unggas-unggas itu diantaranya: merpati, bebek, angsa, camar dan jenis-jenis burung lainnya yang tidak saya paman jenisnya. Yang  jelas, unggas-unggas itu sangat ramah dan bersahabat kepada pengunjung. Bagaimana tidak, mereka yakin benar kalau yang datang kemari mau memberi makan mereka.

Hyde Park London

Ya, kebiasaan orang sini memang kalau ke taman yang banyak burungnya selalu membawa roti atau biskuit untuk memberi makan mereka. Jadi mereka pasti mendekat pada kita, walapun kita baru membuka kantong makanan biasanya langsung menyerbu. Bahkan kadang agresif jika kita telat memberi makan mereka. Wah, pokonya seru deh.

Yang datang ke Hyde Park ini bukan hanya orang lokal, tapi juga orang luar kota seperti saya, bahkan turis mancanegara. Ya, karena Hyde Park ini termasuk dalam salah satu ikon wisata London.

Meski saya datang di musim dingin, namun keriuhan burung dan keramaian wisatawan cukup banyak. Apalagi kalau saya datang di musim panas, ya? Pastilah terbayang pepohon yang hanya menampakkan ranting-rantingnya itu penuh lebat oleh dedaun nan menghijau, ijo royo-royo. Dipastikan pula bule-bule pada bejemur tetiduran di lapangan rumput menghijau itu.

Oiya, taman luas yang berada di tengah kota ini pun menyediakan trek untuk pesepeda dan trek untuk berkuda. Saat saya ke sana, para penunggang kuda itu nampak santai berjalan-jalan mengitari taman yang sangat luas. Wah, naik kuda, di tengah kota? Asik banget ya London.

Mesin Penukar Receh

Beberapa waktu lalu saya pernah posting tentang mesin penukar receh di sini. Di mesin tersebut remahan uang (1p, 2p, 5p, 10p) yang nyaris tiada arti itu bisa cukup untuk belanja. Yaiyalah, orang recehannya setoples penuh.

Nah, kali ini saya akan kasih unjuk kebalikan dari mesin penukar receh tersebut. Beberapa waktu yang lalu, untuk sebuah keperluan saya dan suami pergi ke London. Pas di Liverpool Street Station kami kebelet pipi*. Penunjuk arah mengarah ke lantai bawah. Di ujung tangga saya liat untuk memasuki area toilet tersebut terdapat palang pembatas. Artinya saya perlu koin untuk menewatinya.

Wah, celaka, mana kebelet, mana gak punya koin pula. Soalnya keping logam terakhir yang saya punya 20p itu dipakai untuk ke toilet  lainnya tadi pagi. Duh, London mah WCnya matre 😛

Sejauh ini, yang saya alami, toilet berbayar di Inggris kisaran 20p-30p. Atau sekitar 4.000 rupiah – 6.000 rupiah. Sejauh ini, selama saya suka jalan-jalan Jelajah Inggris, cuman beberapa tempat aja sih yang WC umunya berbayar. Terutama London. Secara, kota metroplolitan gituloh.

Tapi, ebentar, ketika saya menuruni anak tangga terdengar gemerincing jatuhan suara koin di kotak mesin itu. Ya, mesin yang mirip vending machine itu rupanya mesin penukar uang. Bedanya dengan postingan saya sebelumnya mesin ini kebalikannya. Dari uang gede ke uang receh. Sebelum saya menukar nampak orang-orang menukar uang di sana. Ada yang nukarnya lembar £5. Udah gitu malah gak ke toilet. Oh… kali dia butuh untuk keperluan lainnya. Ya, karena di Inggris banyak fasilitas mandiri (artinya tidak ada petugasnya) yang dioperasikan oleh mesin dengan cara memasukan koin terlebih dahulu. Selain toilet umum, vending machine makanan/minuman, bayar parkir dll.

Saya pun ikut menukarkan di mesin penukar koin tersebut. Karena suami udah nuker uang sendiri, jadi saya cukup menukar £1 aja yang jadi pecahan 10p dan 20p. Mayanlah cukup untuk beberapa kali pipi* 😀 Maklumlah Inggris udah dingin. Bawaannya gampang kebelet ke belakang.

Nah, ini dia penampakkan mentahnya:

Dan ini penampakkan yang tayang di NET12. 10122015. N_34Rosmel

Pemerintah Inggris Permudah Mobilitas Kaum Difabel

Bagi kaum difabel melakukan kegiatan hari-hari tentulah sangat sulit. Oleh karena itu mereka harus dibantu oleh sarana dan prasarana serta sistem yang memudahkan mereka untuk beraktifitas.

Pemerintah Inggris sangat konsen terhadap hal ini. Karena kaum difabel juga memiliki hak yang sama seperti warga normal lainnya. Banyak sarana, prasarana serta sistem yang dibuat pemerintah Inggris agar aktifitas para penyandang disabilitas berjalan mulus. Dari sekian banyak upaya yang dilakukan pemerintah Inggris, diantaranya seperti berikut ini:

  • Jangankan tangga konfensional, letak pintu masuk gedung yang sedikit tinggi saja  adalah sebuah momok bagi kaum difabel. Maka dari itu penyediaan ramp sangat diperhatikan.
  • Banyak pintu masuk gedung yang menyediakan ramp.
  • Ramp banyak terdapat diantara trotoar dan turunan jalan.
  • Ruas ramp cukup lebar.
  • Material ramp dibuat kasar agar tidak licin.
  • Di jalanan, area ramp diberi warna merah bata agar jelas dari kejauhan.
  • Selain ramp, keberadaan lift menggantikan tangga konfensional. Biarpun gedung tersebut hanya satu lantai.
  • Nyaris semua bis kota memiliki pintu lebar agar kursi roda ataupun moped scooter bisa masuk dengan leluasa.
  • Seting pintu bus dibuat serendah mungkin agar sejajar dengan bibir trotoar bahkan beberapa bus dipasang lift lantai agar kursi roda melaju mulus.
  • Jika penyandang difabel akan bepergian jauh dengan menggunakan bus antar kota tidak usah khawatir. Mereka bisa memesan tiket secara online agar kru armada mempersiapkannya khusus. Disamping itu mereka mendapat fasilitas keringanan tarif tiket.

Seperti apa visualnya, cekidot di dua video di bawah ini 😉

NET IMS. N33_Rosmel. 03122015
Kali pertama Video CJ saya tampil di Indonesia Morning show NET TV

NET10. Rosmel.03122015

*Rupanya dikasih kesempatan tayang dua kali sama NET TV 😉

Asiknya Bersepeda di Oxford

Oxford adalah salah satu kota dengan pengguna sepeda terbanyak di Inggris. Maka tak heran jika anda melancong ke Oxford akan disuguhi banyak sepeda yang berseliweran di pusat kotanya yang terkenal akan universitasnya yang melegenda. Para pesepeda itu terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, kaum muda, kaum kantoran ataupun para mahasiswa.

Menurut sensus 2011, 17% kaum pekerja Oxford menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya. Itu menurut sensus tahun 2011, apalagi sekarang dong ya?
Para pekerja yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya itu termasuk mereka yang berada di luar kota Oxford. Oleh karena itu, untuk mendukung kenyamanan warganya dalam bersepeda, Pemerintah Daerah Oxford menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya adalah “Park and Pedal”. Yaitu kawasan/area parkir mobil yang berada di sisi kota Oxford. Dengan membayar parkir 2 pounsterling (sekitar 42 ribu rupiah) selanjutnya pemilik mobil tersebut bersepeda menuju kantor yang terletak di pusat Kota Oxford.

Hal ini sangat efektif, efisien, menyehatkan dan mampu mengatasi kemacetan dan tentunya lebih hemat. Karena, jika kita parkir di pusat kota untuk seharian penuh, bisa bikin jebol dompet. Setidaknya, kita harus membayar £31,5 (sekitar 661.000 rupiah). Sedangkan tarif per-jam antara £3 – £4. Hal itu saya rasakan banget ketika hendak parkir di dekat University of Oxford dalam rangka meliput kegiatan Oxford-Indonesia Forum 2015. 

Dengan banyaknya warga bersepeda lalu lalang, justru membuat pusat kota yang dilingkup oleh bangunan kampus Universitas Oxford yang tua nan klasik ini terlihat khas dan cantik.

Hampir di semua sudut jalan terdapat area parkir sepeda, berderet rapih. Baik itu di pusat perbelanjaan, depan kampus, depan pasar, depan toko dan sebagainya. Saking banyaknya spot parkir sepeda, jangan heran jika kita saksikan banyak sepeda yang parkir disandarkan di dinding bangunan begitu saja. Saking amannya kali itu kota.

Demi kenyamanan pengendara sepeda, jalur sepeda pun dibuat sebaik dan serapih mungkin. Seperti dari jalur park and pedal menuju tengah kota Oxford.

Area Park and Pedal (parkir lalu bersepeda) ini merangkap juga Park and Ride (parkir lalu naik bus). Artinya, setelah memarkirkan mobil  seterusnya silahkan menggunakan bus yang tersedia menuju pusat kota. Parkir di Park and Ride seharga £2, berlaku 24 jam, buka tiap hari pula. Ada 5 park and ride yang berada di sisi kota Oxford bagian Utara – Selatan – Timur – Barat. Sedangkan tiket bus dari park and ride menuju pusat kota Oxford tarifnya £1,8 (sekitar 36 ribu rupiah) sekali jalan.

Apapun pilihannya, mau naik bus ataupun bersepeda (yang tentunya lebih menyehatkan) pilihan ada di tangan anda. Namun, dengan bersepeda, ada sensasi lain saat melancong di Oxford. Seperti yang saya rasakan ketika melancong ke sana beberapa waktu yang lalu. Bersepeda diantara orang-orang lokal itu…  serasa kita menjadi bagian dari mereka. Oiya, untuk para pelancong, tersedia jasa penyewaan sepeda loh.

Sepertinya, sistem Park and Ride dan Park and Pedal ini cocok diterapkan di kota-kota besar di indonesia yang tingkat kemacetannya semakin parah deh kayaknya. Sebut saja Bandung contohnya. Akan lebih indah kan, jika jalan Riau, Gasibu, Cihampelas, Asia Afrika dll, lebih lenggang, lebih segar dan lebih cantik pula kelihatannya.

Sedikit ngayal 😀 Dengan berseliwerannya sepeda-sepeda di Bandung jaman kiwari, mungkin akan tercipta suasana Bandung tempo doeloe 😉