Banyak cara nikmati Kota London saat anda melancong ke Ibu Kota Inggris ini. Salah satunya ialah dengan menikmati sajian musisi jalanan yang mereka tampilkan.
Permainan musik mereka tak asal-asalan. Kepiawaian memainan alat musik, suara bagus, serta alat musik serta pengeras suara yang baik menjadi modal mereka untuk menghibur para pelancong.
Tak hanya di jalanan, para pengamen inipun kerap melakukan aksinya di undergroud station alias stasiun kereta bawah tanah. Hiruk pikuk lalu-lalang orang menjadi lebih dinamis dengan alunan musik yang menggema di lorong bawah tanah ini.
Kebanyakan lagu yang mereka bawakan adalah musik pop terutama lagu-lagu The Beatles yang merupakan band legendaris milik inggris. Ada juga yang mempertontonkan aliran musik jazz bahkan musik klasik.
Musisi-musisi tersebut menggunakan berbagai alat musik. Diantaranya: gitar, celo, saxophone bahkan yangqin (alat musik serupa kecapi tapi membunyikan dawainya dengan cara dipukul).
Beragam genre musik, beragam alat musik, beragam usia musisi, baik saat suhu hangat maupun dingin, mereka tersebar di berbagai titik kawasan wisata London. Seperti di Trafalgar Square alias alun-alunnya kota London (intip videonya di sini) di Greenwich alias titik patokan waktu dunia, di pasar minggu seperti Brick Lane (intip videonya di sini), atau di Camden Market (intip videonya di sini), Covent Garden dan di banyak tempat lainnya. Yang tentunya kesemuanya itu demi menghibur para pelancong yang sengaja bertandang ke kota metropolitan yang terkenal di dunia ini, London.
Selamat menikmati sajian musiknya, jangan lupa lemparkan koin yang telah disediakan oleh mereka.
Bertempat di Leisure Centre Kota Gloucester Inggris, pada Sabtu-Minggu, 8-9 Oktober 2016 berlangsung Comic Convention atau biasa disebut Comic Con.
Ajang ini merupakan tempat yang tepat bagi berkumpulnya para pecinta komik, pecinta film futuristik, pecinta film super hero serta tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.
Tak heran jika pengunjung Comin Con banyak yang menggunakan costume play atau biasa disebut cosplay. Untuk memfasilitasi para pengunjung yang merupakan penggemar tokoh-tokoh tertentu, pihak panitia menyelenggarakan kontes cosplay.
Adapun pengunjung yang jumlahnya ribuan ini tidak hanya berasal dari Kota Gloucester saja tapi juga dari berbagai kota, serta berbagai kalangan dan usia.
Untuk menggunakan cosplay banyak diantara mereka yang harus menyiapkannya berbulan-bulan. Salau demikian, mereka senang-senang saja meski harus datang jauh dari luar kota pulak. Ya, karena Comic Con ini adalah ajang yang paling dinanti oleh mereka.
Gloucester Comic Con dimeriahkan aneka stand bertema pernak-pernik, serba-serbi komik, tokoh karakter film, super hero, kostum, kaos tema dan lain sebagainya. Dijual komik-komik seri lama, actions figures, boneka toko karakter, superhero, boot foto dengan para pemain film Red Dwarf dll.
Dalam kesempatan inipun dihadirkan penggiat komik, ilustrator, penggiat film dsb. Termasuk menghadirkan para pemain film Red Dwarf, film seri Inggris bergenre komedi futuristik. Acara meet and great dengan para pemain Red Dwarf inipun berlangsung seru. Selain sharing kisah-kisah lucu dibalik layar juga ada sesi tanya jawab para pengunjung.
Adapun pemenang utama kontes Cosplay dimenangkan oleh Simon dari Kota Coventry yang menggunakan kostum “undertaker” dalam film WWE (Word Wrestling Entertainment).
Mau lihat keseruan acaranya? Ini dia videonya:
Oiya, lokasi diselenggarakannya Comic con ini tak jauh dari sebuah katedral yang dipakai shooting film Harpot ini loh!
Berselancar air di laut, itu sudah biasa, iya kan?
Tapi, apa jadinya jika berselancar di taman kota?
Hmm, bisa juga kok!
Di Jerman, tepatnya di English Garden yang berlokasi di Kota Munichlah kita bisa berselancar. Iya, berselacar air. Apa sebab?
Karena taman ini dilalui aliran Sungai Eisbach. Di mana di beberapa titiknya memiliki gelombang sungai yang besar.
Kondisi sungai yang bersih dan terjaga kelestariannya serta memiliki gelombang deras di beberapa bagiannya ini menjadikan sungai ini cocok dijadikan tempat untuk berselancar.
Sungai di taman kota ini banyak diburu peselancar profesional maupun peselancar pemula. Di sini banyak titik beselancar, yang gelombangnya besar cocok untuk peselancar profesional. Sedangkan yang gelombangnya tidak begitu kencang cocok bagi peselancar pemula, dimana mereka bisa menggunakan tali pengaman yang dikaitkan pada pagar besi pembatas sungai.
Menariknya, dimanapun titik beselancar yang dipilih peselancar, menjadi objek menarik bagi para pengunjung yang datang ke taman ini. Bergerumul orang-orang menyaksikan atraksi seru para peselancar ini.
Pengunjung yang datang ke taman ini tak hanya bisa menyaksikan kepiawaian para peselancar beraksi tapi juga bisa menikmati keindahan, kenyamanan, ketenangan dan fasilitas lainnya di taman ini. Sehingga cocok dijadikan tempat untuk piknik keluarga dan rekreasi warga.
Meski berlokasi di jerman namun taman ini bernama English Garden karena taman ini dirancang oleh seorang Inggris bernama Sir Benjamin Thompson.
Fakta menarik lainnya dari taman yang berada di tengah Kota Munich ini dibuka untuk umum sejak tahun 1789 alias 227 tahun yang lalu. Wow, berarti usia taman ini sudah lebih dari 2 abad ya?
Satu hal menarik lainnya ialah, bahwa taman kota ini luasnya 3,7 km persegi atau 370 hektar. Dengan demikian English Garden ini merupakan salah satu taman kota terbesar di Eropa.
Mau tahu seperti apa asyiknya berselancar di taman kota ini? Ini dia videonya:
N10. NAdes11102016
Mau lihat keindahan taman kota lainnya di beberapa negara Eropa? Ayo merapat ke sini…
Ada yang tahu lagu Iwan Fals berikut ini?
“Biasanya… kereta terlambat dua jam mungkin biasa!”
Nah, kalau di Inggris, jika kereta terlambat, kita bisa dapatkan voucher belanja dan berhak mengajukan kompensasi 50% hingga 100% dari harga tiket.
Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu ada berita duka. Lalu saya ke Kota Bristol untuk bertakziah. Saat itu suami sedang tidak ada di tempat, maklum dia kuli di negara tetangga. Diantara dua moda transportasi, bus dan kereta, saya pilihlah kereta. Dengan beberapa pertimbangan. Stasiun kereta lebih dekat dari stasiun bus di kota saya. Jadwal keberangkatan kereta lebih banyak ketimbang bus. Waktu tempuhnya pun tentunya lebih cepat pula.
Bergegas saya ke stasiun kereta. Tumben, seumur-umur saya menggunakan moda transportasi ini di Inggris baru kali ini mengalami keterlambatan. Announcement aka halo-halo di stasiun kereta Worcester terus mengapdet keterlambatan kereta kami.
Cukup lama kami menanti, sekitar 15 menit adalah. Setelah itu, datanglah si kereta yang kami nanti sejak tadi. Semua penumpang masuk dengan tertibnya lalu duduk manis dengan posisi yang strategis.
Saya duduk di kursi sebelah kanan lorong. Seperti halnya saya duduk di dekat jendela, saya lihat penumpang lainnya duduk dekat jendela sebelah kiri lorong. Ia sandarkan kepalanya beralaskan bantal khusus untuk traveling. Sementara dua koper besarnya diletakkan di bawah dan di kursi sebelahnya. Sepertinya ia akan melakukan perjalanan jauh. Kereta malaju, iapun terpejam. Mungkin ia berharap sesampai di kota tujuan ia bangun dalam keadaan segar.
Untuk sampai ke Kota Bristol saya harus melewati 6 stasiun kereta terlebih dahulu. Belum lama kereta melaju, tetiba laju kereta melambat, melambat, kian melambat dan akhirnya berhenti. Announcement aka halo-halopun terdengar. Memberitahukan jika kereta yang kami tumpangi ini mengalami kerusakan mesin yang entah apalah itu. Bah!
Si Announcement aka halo-halo terus bilang jika memungkinkan kereta akan diperbaiki di tempat, namun jika sekiranya tak bisa diperbaiki terpaksa kereta kembali ke kandang, ke Worcester Stasiun. Terserah lu deh!
Tapi menurutku, orang Inggris itu banyak yang baik hati dan penyabar. Kesel iya, tapi pada woles aja gitu.
Dan ternyata, teknisi menyerah! Terpaksa kereta balik kandang.
Ya Alloh.. memiliki niat baik untuk bertakziah di luar kotapun masih pula diberikan jalan kerikil-kerikil yang mengemaskan ini. Baiklah. Saya pun mengabari teman yang rencananya akan menjemput saya di stasiun kereta di Bristol sana. Bahwa saya pasti datang terlambat. Dan ternyata, rencana yang telah dirancang teman-teman di Bristol sanapun delay pula, baiklah. Saya pun berpikir, Allah punya rencana, Allah punya kuasa.
Juggijakgijukgijakgijuk (bukan lagu umi Elvi :D) keretapun kembali ke Worcester Stasiun. Announcement aka halo-halo bilang kalau kita musti turun untuk berganti kereta. Semua turun dengan tertib seperti bebek yang manis dan penurut. Saya turun agak belakangan. Penumpang yang berseberangan dengan saya membuka mata, mungkin agak sedikit ribut saat penumpang turun.
“Loh, apaan nih? Udah sampe?” ia celingukan bingung. Melihat pada kami, melihat ke sekitar, melihat ke luar jendela. “Apa? ini masih di Worcester?” bingung dia 😀
Saya bilang, keretanya mogok sis, bukan karena si komo liwat, bukan pula karena ban keretanya gembos, mungkin mesinnya lelah, kurang piknik 😛 😀
Setelah berduyun-duyun turun dan bergerumul beberapa waktu, kami di PHP, antara ganti kereta atau mau diperbaiki bentar itu si kereta. Setelah cukup kesal. Datangnya kereta pengganti. Persis bebek masuk kandang, untuk kedua kalinya kami masuk lagi kereta 😀
Juggijakgijukgijakgijuk.. kereta berangkat.. (lagi).
Setelah beberapa menit. Ealahh…. itu kereta kembali melambat dan terus melambat. Anehnya, posisinya sama persis di tempat yang mogok tadi. Kok bisa sih? seperti ada mistis mistis gitu 😛 Apa perlu dilemparin rokok kayak ditanjakan Emen? 😀
Dalam masa itu, tukang announcement, tukang periksa tiket serta penumpang lainnya becanda-canda tentang melambatnya kereta untuk kedua kalinya ini. Maju.. maju.. maju… heuheu.. udah kayak apaan aja. Setres dibawa happy.
Beneran, sejak menginjak tanah Inggris pada 2007, ini adalah pengalaman pertama saya mengalami keterlambatan naik kereta. Kecewa sih, tapi gak begitu stres, apalagi ketika pihak management memberikan kami selembar kertas yang bertuliskan Compensation for Delay.
Awalnya saya bengong. Eh, apaan nih?
Ternyata di dalamnya ada voucher senilai £5. Oh… uang kecewa… 😀 Baiklah. Terima kasih.
Nah, di Form Compensation for Delay tersebut kita bisa isi data-data keterlambatan kereta, lalu dikembalian ke GWR (Great Western Railway) untuk diproses uang kompensasinya.
Jika keterlambatan kereta satu jam, maka penumpang berhak mendapatkan 50% uang kompensasi untuk jenis tiket return (PP). Sedangkan tiket single aka sekali jalan berhak mendapat kompensasi sebesar 100%.
Sedangkan jika keterbatan kereta memakan waktu 2 jam, apapun jenis tiketnya, penumpang berhak mendapat kompensasi 100% dari harga tiket yang sudah dibeli.
Semakin saya matang (mau bilang tua, takut ada yang manggil oma), semangkin saya matang, semangkin saya yakin Allah selalu berikan yang berbaik buat kita, apapun itu. Termasuk keterlambatan kereta ini.
Gimana tidak, si Compensation for Delay ini bisa mejeng di NET10. Mayan kan? 😉 Alhamdulillah.
N10. NRosmel,05102016
Ngomongin soal Bristol, nih, saya kasih tau beberapa tempat wisata yang keren di Kota Bristol, cekidot!