Inilah Jembatan Besi Pertama di Dunia

Pada abad ke-18 Inggris memasuki era Revolusi Industri dan Kota Telford merupakan salah satu tempat lahirnya revolusi industri di Inggris. Jejak tersebut ditandai dengan berdirinya jembatan besi cor pertama di Inggris. Sekaligus merupakan jembatan besi cor pertama di dunia.

Pembangunan kaki jembatan bermaterialkan batu dimulai pada tahun 1777-1778. Kemudian, pemasangan rusuk besi penyangga jembatan dilakukan pada tahun 1779. Di tahun ini pula jembatan baru inipun membentang di atas sungai.

Setelah sempurna, barulah pada tanggal 1 Januari 1781 jembatan besi ini mulai beroperasi. Awalnya jembatan yang melintasi sungai Savern ini berfungsi sebagai penghubung dua desa yang sibuk di jaman revolusi industri pada waktu itu.

Menurut catatan sejarah, konon pembangunan Iron Bridge menelan biaya lebih dari  £6.000 (Itu tahun 1777-1781. Entah berapa jika dikonversikan ke dalam nilai pounsterling sekarang).

Mau lihat keindahan Sungai Savern disaat banjir? berikut ini artikelnya.

Setelah 169 tahun beroperasi, pada  tahun 1950 jembatan ini ditutup untuk jalur kendaraan dan beralih fungsi menjadi objek wisata. Meski demikian kondisi jembatan ini masih sangat kokoh karena ditopang lima tulang rusuk besi cor yang melengkung sepanjang 30 meter. Kekokohan desain tersebut bisa kita lihat dari dekat, tepat di tepian sungai Savern dimana kedua kaki jembatan ini menancap kuat.

Wisatawan yang datang ke sini tak hanya turis lokal tapi juga mancanegara. Tentu saja mereka ingin melihat salah satu peninggalan sejarah di jaman Revolusi Industri di negeri Ratu Elizabeth ini. Sebuah mahakarya yang masih kokoh berdiri, meski usianya sudah 3 abad.

Area Telford Iron Bridge ini memiliki  pemandangan alam yang memesona karena dilingkup Telford Gorge atau Lembah  Telford. Dimana rumah-rumah klasik berusia lebih dari seabad berjejer rapih di sana. Tentu saja hal ini menjadi nilai tambah bagi objek wisata tak berbayar ini.

Sebagai tempat bersejarah, Telford Iron Bridge masuk dalam daftar situs warisan budaya dunia, UNESCO sejak tahun 1986. Masuk dalam kategori Grade I listed building,

Jembatan Inggris yang fenomenal lainnya, serta masuk dan masuk dalam Daftar Warisan Budaya Dunia, UNESCO, bisa dibaca artikelnya berikut ini.

Sebagai tempat lahirnya Revolusi Industri di Inggris, tentunya tak hanya Iron Bridge saja yang bisa kita temukan di sini. Tapi masih banyak lagi objek wisata bertema Revolusi Industri lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Diantaranya ialah: Museum of The Gorge, Coalbrookdale, Maw Craft Centre dan masih banyak lagi.

Objek-objek wisata tersebut ada yang berbayar ada pula yang gratis. Untuk diketahui, keuntungan dari penjualan tiket tersebut digunakan untuk perawatan situs-situs tersebut dan untuk pembiayaan kegiatan amal, pendidikan, konservasi. Serta membayar karyawan. Sedangkan untuk volunteer alias tenaga sukarela tentunya mereka menyediakan tenaga dan waktunya secara cuma-cuma.

Untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan, di sekitar area Telford Iron Bridge terdapat banyak hotel, restoran. cafe dan toko suvenir. Jadi wisatawan betah berlama-lama menikmati pemandangan alam Telford Gorge dan menyaksikan bukti sejarah Revolusi Industri di Inggris. Sebuah paket wisata yang komplit, bukan?

Dan inilah penampakan visualnya.
Abaikan orang chubby pada penampakan di bawah ini. Fokeus pada jembatannya ya… 😀

Di Inggris, Kemahalan Naik Kereta? Minta Refund Aja!

Bukannya saya mau membanding-bandingkan. Tapi, inilah faktanya. Bahwa, pemerintah Inggris memperhatikan hak konsumen dengan baik.

Banyak contoh yang telah saya rasakan. Misalnya, saya pernah membeli pasta maker alias gilingan cistik di Ar*** (sebuah Toko Serba Ada dengan jaringan retail yang sangat banyak di penjuru Inggris). Setelah saya pakai sekali, saya kurang cocok dengan barang ini. Selang beberapa hari, saya kembalikan barang ini. Alasannya? karena barang ini tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Alasan simple itu diterima petugasnya. Sayapun dapat refund.

Pernah pula, suami membeli kabel untuk smart TV kami secara online. Entah bagaimana, pokonya kabel tersebut tidak sesuai dengan yang dipesan. Walhasil, mereka mengirimkan kabel baru, sedangkan kabel sebelumnya tidak perlu dikembalikan.

Dua contoh di atas hanya sebagian cerita ketidakpuasan kami yang disambut baik. Saya rasa, hampir semua keluarga Inggris pernah mengalami hal ini. Maksudnya, refund/dikembalikan/menukar barang yang sudah dibeli, karena tidak puas ataupun tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Ternyata, perlindungan konsumen tidak hanya berlaku pada barang, tapi juga jasa. Seperti yang kami alami beberapa waktu lalu. Saya pernah cerita, kan? dua minggu lalu saya ke London.

Seperti biasa, jika ke London, kami memarkirkan mobil di pinggiran kota London, seterusnya menggunakan kereta dan underground, dengan alasan praktris dan ekonomis (bisa dibaca di sini).

Nah, waktu itu terjadi perubahan jalur. Dimana Jubilee line yang biasa mengantar kami hingga ke pusat Kota London ditutup. Saya baru sadar kemudian, sepertinya penutupan jalur ini dikarenakan ligt festival yang berlangsung di titik-titik keramaian Kota London.

Well, akhirnya, kereta api berhenti di Harrow on The Hill. Kala itu terjadi penumpukan penumpang. Sumpeh, seumur-umur pake kereta di Inggris, ini kali pertama kami melihat penumpang berjubel. Bahkan kereta yang pertama datang tak mampu mengangkut semua penumpang. Untunglah datang kereta tambahan. Akhirnya, penumpang yang tersisa tersikat habis.

Memasuki kota, terjadi lagi kebingungan jalur. Walhasil kami tap in, tap out, kartu oyster yang kami pegang. Keluar-masuk underground hingga LDR.  Mengenai kartu Oyster bisa dibaca di sini.

Akhirnya…. kamipun sampai di Greenwich. Seperti apa destinasi pertama yang kami jajal? ini dia…

Setelah puas di destinasi pertama, selanjutnya kembali menuju tengah Kota London. Capcusss….

Eit, pas mau tap in  oyster card, pemberitahuan, credit saya udah habis. Lah, padahal sisa travel dulu ada £2,6. Trus pas mau pergi top-up £10. Masa £12,6 ludes sekali jalan?

Baiklah, saya top-up lagi £10 deh. Kamipun naik LDR. Seterusnya naik turun underground dengan rute membingungkan karena beberapa jalur ditutup. Setelah berpusing ria, akhirnya tiba jua di destinasi yang ke-2, yaitu London Light Festival dan jadilah liputan berikut ini.

Bener deh, itu light festival bikin heboh acaranya. Piccadilly Street udah kayak lautan orang. Imbasnya, pintu masuk undergroud di seputar titik pertunjukkan yang tersebar di beberapa tempat ditutup. Akhirnya, gemporlah kami berjalan kaki menuju Green Park Underground Station. Lagi-lagi di sini terjadi penumpukan penumpang. Kendala yang sama terjadi lagi, bingung, banyak jalur ditutup, banyak jalur dipindahkan, naik turun underground bikin kami banyak tap-in, tap-out oyster card.

Akhirnya, tap out terakhir di Hillingdon.
Fiuhhhh….
Selanjutnya, menuju area parkir mobil di bawah stasiun kereta itu pukul satu…. (kyk lagu iwan fals :D)
Tapi ini pukul satu dinihari bok! ckckck…

Sambil ngaso di mobil sebelum meluncur pulang, kepikiran, kenapa perjalanan kita kali ini mahal banget, ya? tanya suami.
Malah, pas tadi tap out terakhir, saldo: -30p. Minus? iya, mineus… ckckck..

Kok semahal itu ya?
Hmm… apakah karena banyak turun naik? banyak tap-in, tap-out? ataukah…
Tau deh, kaka…
Mikirinnya nanti lagi yang penting sekarang cepet pulang n istirahat.

Beberapa hari kemudian, suami cari tahu pasalnya.
Masaiya, keliling London abis £22,9?
Normalnya sih abis £11. Harga tersebut sudah diperhitungkan dinas transportasi London. Karena jika kita membeli tiket untuk seharian penuh keliling London harganya £12.

Jadi jika kita keliling London seharian penuh melebihi harga perkiraan itu, pasti ada kesalahan hitung. Akhirnya, suami menelfon pihak terkait dengan menyebutkan nomor kartu Oyster kami, plus rute yang kemarin kami lalui. Akhirnya, diketahui ada yang tap-in tapi belum tap-out. Entah bagaimana obrol-obralan suami dan petugas di ujung telfon sana. Pokoknya, mereka akan refund £10,60 Ok deh sip…

Eh, sebelum yang £10,60 itu refund. Ada imel masuk menyatakan kami mendapat refund £5,10. Lah, bukannya £10,60? Ternyata eh ternyata… yang £5,10 itu diluar yang dikomplen itu. Mungkin semacam konpensasi karena ada penutupan jalur kemarin itu.

Emmm…. 22,9 – 5,10 – 10,60 = £7,2?
Benar £7,2?
Jadi, keliling London kemarin itu, habisnya £7,2 saja?
Iya, £7,2 aja 😀
Hmm.. sebuah konspensasi dari perubahan jalur 😛

Garis merah: Di Inggris jangan sungkan untuk komplen atau menanyakan hak kita. Karena hak konsumen diperhatikan benar di sini 😉

pelayanan kereta di inggris

Seru dan Haru Perpisahan Dubes RI untuk Inggris

Padahal minggu kemarin, kami (saya dan suami) baru saja dari London. Mayan, dapat dua liputan. Satu light festival, satunya lagi wisata terowongan  Sungai Thames. Eh, beberapa hari berikutnya, dapat undangan terbuka bagi semua masyarakat Indonesia yang ada di Inggris untuk menghadiri silaturahmi perpisahan Bapak Dubes yang berakhir masa tugasnya.

Walaupun rasanya masih capek baru minggu kemarin ke London, tapi untuk acara khusus ini rasanya saya tak ingin melewatinya. Setelah berpikir pergi-enggak… pergi enggak, akhirnya capcus juga.

Setelah memutuskan pergi sehari sebelumnya, saya berpikir, aduh, ngasih kenang-kenangan apa ya?
Akhirnya terlintaslah untuk menyusun cuplikan-cuplikan video beliau yang pernah saya liput dalam beberapa kegiatan beliau ketika menghadiri acara-acara kami.

Untuk diketahui, dalam pembuatan sebuah video CJ itu, tak selalu mulus. Contohnya, kamu bisa liat di sini.
Nah, ketika beberapa kali saya mewawancarai beliau, kadang ada masalah teknis. Seperti pencahayaan yang kurang baik, suasana dan suara sekitar terlalu berisik dan lain sebagainya. Masih ingat postingan saya yang berikut ini, kan?

Ternyata, eh ternyata, banyak juga adegan behind scene yang gagal tayang. Saya pikir-pikir, lucu juga, ya, klo saya susun, lalu kemas dalam sebuah video yang akan saya persembahkan kepada Pa Dubes dan ditonton rame-rame di acara nanti.

 

Sebetulnya banyak sekali scene yang ingin saya masukan, tapi ngak mungkin, karena keterbatasan waktu tentunya. Setelah potong sana-sini, nyaris 4 menit durasinya. Dan inilah penampakkan videonya….

Ketika video ini diputar di hadapan beliau beserta penonton lainnya, mereka tertawa ketika melihat adengan di menit 3.04. Satu kesan yang terekam oleh saya, bahwa, Pak Hamzah dan Bu Lastry itu orangnya asik dan menyenangkan.

Setelah video ini tayang, dengan rasa haru saya tutup obrolan di depan panggung lalu saya hampiri beliau.
“Pak, saya jadi gak bisa lagi ngeliput bapak, deh,” dengan berkaca-kaca.
Kamipun bersalaman.
“Makanya, nulis buku lagi dong, nanti kan saya bisa baca,” ujar beliau hangat.
Wah! saya jadi ingat, draft Buku Jelajah Inggris 2, udah bulukan kali 😀
Baiklah pak, saya jadi ingin segera merampungkan proyek itu.
Lalu kemudian saya menyalami Ibu Lastry yang hangat dan ramah.

Tentang Pak Dubes dan Buku Jelajah Inggris bisa dibaca di sini. Kalau tentang Bu Lastry ada di sini.

Tanpa terasa, nyaris di akhir acara, kami pun berpamit pulang. Akhirnya, perjalanan sekitar 3 jam pun di tempuhlah. Sesampainya di rumah, saya mengerjakan ini itu dulu, lalu mengedit semua video kegiatan tadi, saya kasih narasi, lalu saya kirimkan video tersebut ke NET TV.

Mari kita intip keseruan acara kamarin itu….
Sebetulnya saya ingin tuliskan juga kehobohan sketsa komedi yang merupakan parodi seharian bapak dan ibu dubes kami yang keren ini. Tapi nanti ya… 😀
Bersambung ah….

 

Rubbish Compactor, Si Tempat Sampah Gembul

London dan Birmingham merupakan dua kota terbesar di Inggris. Maka tak heran jika Anda mengunjungi pusat kota ini. Atau wara-wiri di pusat-pusat perbelanjaan yang tersebar di London dan Birmingham. Hilir mudik orang tak terelakan lagi. Apalagi jika di akhir pekan dan hari libur lainnya.

Semakin padat pusat kegiatan warga, tentunya semakin banyak pula sampah yang dihasilkan di tempat tersebut. Hight street di pusat perbelanjaan salah satunya. Untuk menjaga kebersihan tempat umum, salah satunya di kawasan pusat perbelanjaan, Pemerintah Inggris menyediakan banyak tempat sampah di titik-titik keramaian.

Sebelum meneruskan baca, di sini juga ada artikel tentang penggelolaan sampah di Inggris yang diatur dengan baik.

Sayangnya tempat sampah konvensional kadang tak mampu lagi menampung sampah dalam jumlah banyak. Walhasil, sampah-sampah tersebut berjubel di tong sampah hingga meluber, bahkan sampai berjatuhan ke lantai. Tertiup angin, tertendang kaki, belum lagi sisa-sisa makannya berserakan. Dengan kata lain, jijai bajai dan tak sedap dipandang mata.

Dengan begitu, petugas kebersihan  harus sering kali mengepul kantong-kantong sampah yang mudah penuh itu.

Untuk menyiasati timbunan sampah dan efektivitas pekerja kebersihan, Pemerintah Inggris meluncurkan rubbish compactor. Yaitu tempat sampah yang mampu menampung 8 kali lipat dari tempat sampah konvensional.

 

Rubbish compactor memiliki ukuran yang sama seperti halnya tempat sampah konvensional. Bentuknya pun tak jauh beda. Cuman, keistimewaan rubbish compactor ini dilengkapi mesin pengepres.

Ya, cara kerja tempat sampah yang gembul ini dengan cara dipres. Dimana sumber penggerak mesinnya berasal dari tenaga surya. Panel surya tersebut terletak di bagian atas tong sampah modern ini.

Mengenai tenaga surya, kebetulan rumah kami telah  menggunakan tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah kami, bahkan sisa listrik yang dihasilkan bisa menghasilkan uang. Klik aja link ini. 

Kembali ke Rubbish Compactor yang diberi nama Big Belly. Jadi, biar kata alat ini memiliki mesin, tidak lantas, terlihat serabutan kabel-kabel diluarnya, Ya, karena si solar panel tadi itu.

Inovasi ini tentunya menjadi sebuah solusi untuk permasalahan sampah yang sifatnya bulky (banyak makan tempat).

Tak ada lagi sampah berserakan akibat berjejalnya sampah di tong sampah yang sudah penuh. Lokasi sekitarpun jadi lebih rapih, lebih bersih, lebih indah dan tentunya lebih sehat.

Dan lagi, tentunya hal ini lebih meringankan para petugas kebersihan. Karena mereka tidak harus mengangkut sampah-sampah itu lebih sering dari biasanya. Mereka jadi bisa bekerja seminggu sekali untuk mengepul kantong-kantong plastik sampah dari dalam perut si gembul rubbish compactor ini.

Kadang, jika saya melihat yang begini-begini tuh besar harapan saya jika negeriku yang kucinta bisa memiliki alat seperti ini. Bisa gak ya?

Dan inilah penampakkan Rubbish Compactor, si tempat sampah gembul itu.

N10. N26Ades.20012016