Pengumuman Pemenang GA Sejuta Kisah Ibu

Bismillah hirrahman nirrahim.

Pertama-tama, ijinkan saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah berpartisipasi memeriahkan GA Sejuta Kisah Ibu dalam menyambut hari ibu, 22 Desember ini.

Kedua, mohon maaf pengumuman pemenang GA terlambat karena satu dan lain hal seperti yang telah saya posting di sini.

Kisah-kisah yang disertakan dalam GA ini bagus-bagus. Banyak tauladan dan cermin yang bisa kita jadikan contoh dan banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah-kisah yang teman-teman bagikan kepada kita semua. Tentang ibu yang kuat, tangguh, gigih, ibu yang penyabar, penyayang, penuh kasih dan sebagainya.

Jujur, memilih 16 dari 36 cerita itu tidak mudah. Tapi, mau tak mau, kami hanya bisa memilih 16 kisah, sesuai dengan yang diumumkan sebelumnya.

Selamat kepada 16 kisah yang terpilih. Jangan kecewa kepada Anda yang kisahnya tidak masuk dalam daftar 16 ini. Bukan karena kisah anda tidak bagus, tapi karena batas hadiah sponsor yang tersedia. Karena sejatinya semua ibu adalah pahlawan bagi kita, panutan kita, guru, teman, sahabat, contoh terbaik, orang yang penuh kasih, orang yang selalu mendoakan kita, orang yang selalu ada saat kita sedih dan bahagia. Pendek kata, sejuta kisah ibu tak akan pernah cukup untuk diceritakan.

Dan inilah 16 kisah yang kami pilih:

1. Kasih Dari Ibu Yang Tak Pernah Melahirkan Saya
2. Pada Sekaleng Tancho
3. Ibu Tiri Dan Jambu Biji
4.  Teruntuk Putriku, Raisyah
5. Giwang Pemberian Emak
6. Terbang dan Berbahagialah, Ma
7. Kasihnya Sepanjang Usia
8. Kisah Perempuan Yang Telapak Tangannya Menguning
9.  Bulan-bulan Terakhir Bersama Ibu
10.  Doa Ibu Bekerja Padaku
11. Tulisan Untuk Ibu dari Anak Pertama
12. Tentang Sebuah Kenangan
13.  Maafkan Bundamu Yang Pemarah ini, Nak
14. Wanita Berwajah Surga Itu Bernama Ibu
15. Surat-surat Cinta Dari Mama
16. Mama Musuh Terbesar dan Pahlawan Hidupku

Selanjutnya, silakan kirimkan alamat kirim hadiah ke email: meilanirosi@gmail.com

Terakhir, terima kasih kepada Ibu-ibu Juri dan Para Sponsor yang baik hati. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Anda. Semoga usahanya maju terus, sukses selalu.

Sponsor:

  • Kaos Gurita
  • Rossa Florist
  • Rendang Padang Restu Mande
  • Iwan Keripik Jamur Alfian
  • Mba Evia Nugrahani

*Worcester, 20 Desember, nyaris tengah malam seusai chit-chat dengan juri dari Norwegia dan Jakarta (yang sedang begadang karena beda waktu 7 jam ) 😀

Alhamdulillah hirrabil allamiin, tugas saya usai sudah.

Wisata Gratisan Di London

Tahukah Anda? berwisata ke London tak selalu harus merogoh kocek untuk memasuki sebuah objek wisata. Di London banyak objek wisata gratisan loh! Diantaranya Camdem. Klik deh link ini supaya terbayang seperti apa Camden itu.

Selain Camden ada pula China Town meski awalnya adalah sebuah pusat perbelanjaan bagi migran Chinesse, namun kini telah merangkap fungsi menjadi objek wisata. Di sini kita bisa wisata kuliner makanan asia. Bisa juga berburu suvenir murah.

Selain dua objek wisata di atas tadi, ada lagi nih wisata gratisan yang kalah seru untuk dikunjungi. Namanya Hyde Park, luasnya 142 hektar. Luas banget kan? Taman kota ini ditumbuhi lebih dari 4 ribu pepohonan. Di tengah taman terdapat danau yang cukup luas. Hal ini menjadi tempat yang nyaman dan bersahabat bagi para unggas-unggas yang hidup bebas di sini. Ya, meski tak bisa menghitung tepat, namun setidaknya ada ratusan unggas yang tinggal di habitat yang bersahabat ini.

Intip penampakan videonya di link berikut ini.

Unggas-unggas itu diantaranya: merpati, bebek, angsa, camar dan jenis-jenis burung lainnya yang tidak saya paman jenisnya. Yang  jelas, unggas-unggas itu sangat ramah dan bersahabat kepada pengunjung. Bagaimana tidak, mereka yakin benar kalau yang datang kemari mau memberi makan mereka.

Hyde Park London

Ya, kebiasaan orang sini memang kalau ke taman yang banyak burungnya selalu membawa roti atau biskuit untuk memberi makan mereka. Jadi mereka pasti mendekat pada kita, walapun kita baru membuka kantong makanan biasanya langsung menyerbu. Bahkan kadang agresif jika kita telat memberi makan mereka. Wah, pokonya seru deh.

Yang datang ke Hyde Park ini bukan hanya orang lokal, tapi juga orang luar kota seperti saya, bahkan turis mancanegara. Ya, karena Hyde Park ini termasuk dalam salah satu ikon wisata London.

Meski saya datang di musim dingin, namun keriuhan burung dan keramaian wisatawan cukup banyak. Apalagi kalau saya datang di musim panas, ya? Pastilah terbayang pepohon yang hanya menampakkan ranting-rantingnya itu penuh lebat oleh dedaun nan menghijau, ijo royo-royo. Dipastikan pula bule-bule pada bejemur tetiduran di lapangan rumput menghijau itu.

Oiya, taman luas yang berada di tengah kota ini pun menyediakan trek untuk pesepeda dan trek untuk berkuda. Saat saya ke sana, para penunggang kuda itu nampak santai berjalan-jalan mengitari taman yang sangat luas. Wah, naik kuda, di tengah kota? Asik banget ya London.

English Tea VS Teh Indonesia

Bukan karena sok nasionalis ataupun gak mau mengadaptasi cara setempat dalam meminum teh, tapi lebih karena.. apa ya… karena suka aja gitu.

Sampai saat ini saya suka minum teh Indonesia. Bukan teh celup atau tea bag, tapi teh tubruk. Iya, yang teh nya kasar. Yang Kalau diseduh potongan daunnya mengembang, aromanya wangi menyeruak, lalu tehnya mengambang.

Bagi saya, rasa dan aroma teh tubruk itu lebih kuat. Ehm… wanginya ituloh. Apalagi yang aroma melati. Ehmmm lagi deh.
Kebiasaan ini menurun pada suami dan si bungsu.

Setidaknya kebiasaan mewah ini (bagi saya) akan tetap berlangsung hingga bungkus teh terakhir yang kami miliki. Mungkin 2-3 bulan ke depan. Karena teh-teh itu kami dapatkan dari Indonesia ketika mudik tahun kemarin. Berharap teh serupa bisa saya miliki kembali.

Jikapun nanti semua stok teh itu bakal habis juga, terpaksalah saya minum teh Inggris jua (teh seduh buatan Inggris). Tapi tanpa gula, tanpa susu. Ya, ciri khasnya teh Inggris itu dicampur susu. Lagi pula sayang banget rasanya minum teh yang anti oksidan itu harus dimatikan khasiatnya oleh susu.

Beda lagi dengan anak saya yang sulung. Ia juga pecinta teh. Tapi teh Inggris. Plus gula dan susu. Pagi, siang, sore, malam.

Di luar hujan, dingin. Sekarang waktunya tea time.


teh inggris

Kanan teh Indonesia kiri teh Inggris, cemilannya kastengel.
*Cerita Ibu dan Anak

Doa Yang Salah?

Beberapa hari lalu, entah kenapa, selepas magrib badan terasa pegal-pegal lalu menggigil kedinginan. Waktu itu saya minum obat, 2-3 jam kemudian, setelah obat bereaksi, demam saya hilang, tersisa lemas. Saya pun tidur lebih awal.

Keesokan harinya, saya beraktifitas seperti biasa, namun selepas magrib gigil itu datang lagi. Tulang-belulang nyeri sekali. Saya pun melakukan hal yang sama seperi hari sebelumnya. Minum obat warung  lalu tidur berselimut doble duvet, tebal sekali. Sekitar 2 jam kemudian, gigil hilang bersisa lemas.

Keesokannya, semua normal. Saya menyambut pagi dengan riang. Saya berbenah ekstra. Terutama kamar si sulung yang sudah lama kosong. Hari itu saya riang sekali, karena si sulung mau pulang.

Setelah semua beres, saya dan suami pergi ke kota sebelah untuk beberapa urusan. Urusan pertama usai jam 12 siang. Eh, si gigil datang lagi. Mungkin karena cuaca yang sangat dingin, anginnya kencang pulak, ataukah belum makan siang? Terpaksa kami membatalkan beberapa urusan selanjutnya. Segera kami menuju sebuah supermarket. Membeli air minum dan obat. Seterusnya kami makan siang di sebuah fast food dekat supermarket tersebut. Padahal hari itu kami telah mengincar sebuah tempat makan yang telah kami rencanakan beberapa hari lalu. Tapi tak ada waktu. Gigil ini membuatku tak ada pilihan.

Setelah makan dan makan obat, kami cukup lama di sana, kebetulan restonya ada musholanya. Jadi, sementara suami shalat, saya bisa cukup beristirahat di sana. Sementara itu, masuk SMS dari si sulung yang mengabarkan bahwa di perjalanan turun salju. Bus yang ditumpanginya pun tersendat. Kami terus kontak-kontakan. Kabar selanjutnya bus berhenti cukup lama. Kemungkinan waktu tiba akan molor. Entah berapa lama.

Usai shalat, suami tanya, apakah mau melanjutkan rencana hari ini?
Ya, sebetulnya hari itu kami mau ke beberapa tempat. Terakhir akan ke stasiun bus di kota tersebut untuk menjemput si sulung. Tapi cuaca dan kondisi tidak memungkinkan. Akhirnya kami pulang dan melewatkan beberapa rencana yang telah dirancang. Serta disepakati, si sulung nyambung kereta api setelah turun dari bus di kota tersebut.

Sesampainya di rumah saya baik-baik saja. Tapi, lagi-lagi, lepas magrib gigil itu mulai terasa dan makin bertambah parah. Duh, padahal saya pengen jemput si sulung di stasiun kereta yang jaraknya cukup dari rumah. Mana waktunya cuman sekitar sejam lagi. Belum masak pulak. Tapi ya, gimana?

Langkah yang tepat adalah, segera minum obat, tidur, dibalut selimut yang super tebal, lalu berdoa:

“Ya Rabb, terima kasih telah KAU beri aku sakit ini, dingin ini, gigil ini, linu sekujur tulang belulang ini. Alhamdulillah.
Semoga ini menjadi pengugur dosaku yang amat sangat banyak jumlahnya.
Beri aku waktu tidur satu jam, Ya Rabb. Sejam… aja, Ya Rabb.
Lalu bangunkan aku dalam kesembuhan, Ya Rabb.
Oiya, Rabb, jika boleh kupinta, gak apa-apa juga bus atau kereta anakku kasih delay sebentar saja. Agar aku cukup waktu untuk memasak lamb chop kesukaan anak sulungku 😀
Aamiin YRA. Makasih Ya Allah.”

Dan saya pun tidur dalam gigil, lalu blas… tak ingat apa-apa.
Waktu berselang. Kurang dari sejam kemudian, henpon berbunyi,
“Mam, tolong liatin jadwal kereta dari Birmingham ke Worcester adanya jam berapa aja? Jam segini kok belum nyampe juga!” tanya di seberang sana.
“Loh, kamu dimana nih?” saya terheran-heran.

Rupanya, selagi saya tidur, suami sudah pergi ke stasiun kereta, tapi ngak tau si Kuteh (pangilan sayangku pada si sulung) pake kereta nomor berapa dan sampainya jam berapa. Karena terakhir kontak, batrenya lowbat.

Segera saya liat jadwal kedatangan kereta di Shrub Hill stasiun. Suami pun tenang, duduk manis di stasiun menunggu anak gadis kesayangannya.

Saya turun dari kasur. Alhamdulillah badan terasa lebih ringan. Segera saya masuk dapur. Masak nasi. Ambil pan anti lengket. Nyalakan kompor. Letakkan beberapa lamb chop yang sudah di marinade dari kulkas. Sementara itu, nyiapain minum, piring, saos, sambal, kecap, lalapan.

Di saat semua hampir siap, bel berbunyi. Ia tiba dengan selamat. Duh, rindunya… cipika-cipiki. Obrol-obrol melepas kangen. Lalu kami makan bersama. Nampak ia menikmati lamb chop kesukaannya sambil tak henti berucap syukur dan geleng-geleng kepala menikmatinya, ehmm… katanya berulang kali.
Sebuah ekspresi senang tiada tara. Deuh, kasian amat anak kos yang terbatas dana, waktu dan kemampuan masak 😀

***

Saya dan si sulung catch up tiada henti. Tentang kegiatan perkuliahannya, tentang di rumah ini dan sebagainya dan sebagainya. Hingga berlanjut di kasur. Ya, biasanya, jika lama tak jumpa, ia suka nginap di kamar saya. Tidur di kasur saya. Lalu ngobrol-ngobrol sampai larut. Sambil sayang-sayangan, peluk-pelukan, becanda-becandaan juga cela-celaan 😀
Dan suami, tidur di kamar sebelah 🙂

Saat itu saya bilang,
“Teteh tau, gak? tadi mamih sakit, terus mamih berdoa sama Alloh. Beri mamih kesembuhan, ijinkan mamih tidur sebentar. Biar cukup recovery. Trus, mamih juga berdoa: Semoga Alloh kasih delay bus/kereta teteh, biar mamih sempet masak lamb chop kesukaan teteh,” ujar saya cekikikan.

“Ih… mamih mah.. pantesann… ,” sambil pukul-pukul mesra sama saya 😀 “Padahal teteh pengen pulang cepet.”
“Lah, kalau teteh pulang cepet, mungkin mamih belum pulih. Belum tentu bisa masuk dapur, trus masak lamb chop kesukaan teteh. Ya kan?” 😀

Dan kamipun ngobrol segala rupa sampe pada teler kengantukkan lalu ZZZzzzzzz….

Sejuta kisah Ibu

rosi meilani

Kamu punya kisah tentang ibumu? Atau tentangmu sebagai ibu? Atau kisah  ibu-ibu lainnya? Ayo berbagi kisahnya di GA Sejuta Kisah Ibu. Ada banyak hadiah menarik loh. cekidot dimarih.