Mewawancarai Duta Besar RI untuk Inggris (lagi)

Setelah foto-foto dengan teman mayaku yang nginep di rumah beserta gangnya, kami, The Sudayas langsung meluncur ke Nottingham untuk menghadiri Indofest. Rencana awalnya sih kami mau konvoi (heuheu.. 2 mobil doang dibilang konvoi) dengan mobilnya Yu Mala menuju Indofest. Tapi The Bolangers ini mengubah rencana. Mereka travel dulu ke Wolverhampton baru nanti janji ketemuan di Indofest.

Setelah 1,5 jam perjalanan tibalah kami di Nottingham. Waktu menunjukkan kurang dari jam 11. Artinya masih ada waktu beberapa saat sebelum pertandingan badminton dimulai. Jadi ceritanya nih, bapaknya anak-anak mau tanding badminton gitu… Mewakili PPI Bristol. Meski tinggal di Worcester tapi kami tergabung dalam rombongan tagoni komunitas Bristol. Nebeng gitulah. Maklum, di Worcester ini hanya kami orang Indonesianya. Cian ya? ๐Ÿ˜€

Well, pertandingan badminton dimulai. Si Yayang nyuruh saya mendokumentasikan permainannya.
“Deuh, udah kayak Ahsan aja.”ย ๐Ÿ˜€
“Eh.. bukannya gitu. Biar bisa mengamati gerakan sendiri. Terus bla.. bla.. bla…”
“Okedeh kaka…,”
Akhirnya, selama doi tanding, saya nge-shoot di pojokan lapang.

Beres tanding, saya langsung cabut.
“Udah, ya, kaka.. Adik mau ngeliput dulu. Secara, hari makin siang. Takut gak dapat banyak scene n Pa Dubesnya keburu pulang.”
“Baiklah, adik. Pergi sana, gih!”
๐Ÿ˜›

Sebelum menuju lapangan tempat gelaran Indofest, saya mlipir dulu ke lapangan bola. Eh, tenyata, anak PPI Bristol blom maen. Ya udah, cap cus ke lapangan. Ealah, acara udah berlangsung lama dan berlangsung seru. Pertunjukkan demi pertunjukkan berupa tarian dan nyanyian telah berlangsung. Udah deh saya liput sana-sini. Setelah pentas seni usai, Pa Dubes pun bebas tugas ๐Ÿ˜€ Secara, beliau ditunjuk menjadi juri. Keren gak tuh, Dubes jadi juri. Jempol deh buat Pak Hamzah Thayeb, Dubes RI untuk Inggris. Jempolll..
*Sttt…. kira-kira, Pa Dubes baca postingan ini gak, ya? ๐Ÿ˜€

Setelah Pa Dubes meninggalkan kursinya, saya merapat.
“Met siang pa. Saya Rosi.. bla.. bla..bla….”
Belum juga saya menamatkan kalimat, beliau udah nembak.
“Oiya, ini yang mewawancara saya di BIS itu kan? Yang waktu ambil scene itu melawan sinar matahari bla.. bla.. bla….”

Tuing! jangan-jangan, Pak Dubes baca postingan saya ini. Kalau iya. Wah, gaswat ๐Ÿ˜€

“Bapak, mau sampai jam berapa di sini?”
Lagi-lagi, ini pertanyaan kurang ajar saya ๐Ÿ˜€
Maksudnya kali aja bapak cuman hadir sebentar seperti di acara BIS itu.

“Saya sampai sore di sini,” jawab beliau sambil melirik jam tangannya.
“Baiklah, pa. Sebaiknya, kita lakukan wawancara dimana, ya, pa?”
Lagi-lagi, pertanyaan yang sama yang saya lontarkan seperti wawancara pertama kali dulu.

“Ayo, kita ke sana!”
Dan kami bertiga pun menuju pinggiran lapang yang sangat luas di Indofest itu. Bertiga?
Iya, bertiga.
Saya, Bapak Dubes dan Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London.

“Sebaiknya di sini saja. Backgroundnya pas banget deh, tuh,” ucap Pak Atdikbud.
Baiklah, saya pun nge-set HP. Siap-siap mewawancara. Sebelumnya saya lemparkan beberapa pertanyaan kepada Pak Dubes. Pandangan mata Pa Dubes pun langsung tertuju ke arah HP saya.

Sementara itu, Pak Atdikbud berdiri di belakang saya. Tetiba beliau melemparkan pertanyaan kepada Pak Dubes.
“Bagaimana menurut Pak Dubes tentang acara ini… bla.. bla.. bla….”
Weiissstttt… mantappppp…
Serasa diasistenin Pak Atdikbud, heuheuheu…
Duh, jangan-jangan, postingan ini dibaca juga sama beliau.
Pisss… Bos…
N Makasih tentunya ๐Ÿ˜€


I
Dubes RI di Indofestn action, foto taken by Pak Atdikbud. Makasih banyak pa.

“Thank you,” kata saya kepada Pak Dubes seusai diwawancara.
“Terima kasih,” jawab Pak Dubes.
Deuh, malu aku malu, pada semut merah ๐Ÿ˜€

Nah, setelah misi berhasil, kini waktunya sambil berenang minum air ๐Ÿ˜›
Dan saya pun mengeluarkan buku saya “Jelajah Inggris” ๐Ÿ˜€
Modussss…. ๐Ÿ˜›

“Pak, ijinkan saya memberikan buku ini kepada bapak,” ujar saya mesem-mesem.
Dan Pak Dubes pun tersenyum senang (mungkin, entahlah) ๐Ÿ˜›
Hanya beliau dan Tuhan yang tahu ๐Ÿ™‚
Semoga senyuman beliau tidak diiringi ucapan dalam hati, “Eh, apaan nih si ibuk,” ๐Ÿ˜€

Pak Dubes langsung membaca Sinopsis di bagian cover belakang buku Jelajah Inggris tersebut dan berkata,
“Wah, sudah lama sekali saya tidak menemukan kata “pelancong”,” beliau berseloroh ramah.
Dan inilah penampakkannya ketika beliau berseloroh tersebut.

Hamzah Thayeb dan buku jelajah inggris

 

“Semoga buku ini ada manfaatnya,” ucap saya, “Eh, saya ngak yakin juga sih, apakah buku ini akan ada manfaatnya untuk bapak.”
Hahaha… saya ketawa sendiri. Secara, ini kan Dubes RI untuk Inggris gituloh.

“Terima kasih atas waktunya,” ucap saya.ย Kami berjabat tangan, “Selamat ulang tahun ya, pa.”
“Loh, siapa yang ulang tahun?” seloroh Pak Dubes sambil tertawa kecil.
“Udah telat ya, pa,” sambung saya ikut tertawa juga.
Secara, ultah beliau emang minggu yang lalu.

Baiklah, sambil lalu Pak Dubes memasukkan buku Jelajah Inggris ke dalam saku jasnya.
“Eits, bentar pa. Keren nih,” sergah saya. “Ijin foto dulu, ya, pak?” ujar saya.
“Oiya, silakan,” jawab Pa Dubes ramah. “Ebentar, diginiin dulu dong,” lanjut beliau sambil medorong bagian bawah buku, supaya buku Jelajah Inggrisnya lebih jelas terlibat.

Keren deh bapak. Makasih banget pak. Bangga deh punya Dubes kayak Pak Hamzah. Mengerti akan kebutuhan warganya. Butuh promo untuk buku saya ini maksudnya hehehe..

Kapan lagi coba, promo gratisan. Sama Dubes RI untuk Inggris pulak.

Terima kasih bapak. Sukses selalu untuk Pa Dubes.
Terima kasih juga buat Pak Atdikbud. Sukses selalu.

Hamzah Thayeb, Dubes RI untuk Inggris
Buku Jejalah Inggris di dalam saku Dubes RI untuk Inggris

Dan inilah cuplikan hasil wawancara dan liputan tersebut. Tayang di Net10 tanggal 9 Juni 2015.

Kopdar Teman Maya

Saya mulai ngeblog taun 2009. Tapi blogger pasif. Biasalah, emak-emak moody. Kalu lagi pengen mosting, biasa sehari dua postingan. Tapi kalu lagi males, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan gak mosting. Parah ya? ๐Ÿ˜›

Dulu saya pake flatform Multiply. Heuheuheu.. yang pernah pake MP pasti senyum-senyum terkenang kenangan indah sekaligus sedih karena MP kena gusur ๐Ÿ™

Layaknya perumahannya,ย Penduduk Perumahan Maya ini pun berlarian ke komplek perumahan maya lainnya. Ada yang pindah ke Blogspot, WP bahkan pake domain sendiri. Waktu itu, gegara MP digusur saya jadi males ngeblog. Tapi lama-lama tak tahan juga kalu nga nulis. Akhirnya saya harus move on ๐Ÿ˜€

Iya benar,ย MP adalah flatform blog yang paling keren tapi itu masa lalu. Paan sih? ๐Ÿ˜€ kayak ditinggal pacar aja.ย Nah, ngomongin MP dan masa lalu yang penuh kenangan indah itu. Kami sesama Mpers teuteup menjalin silaturahim. Waktu bubaran MP itu banyak yang eksodus ke FB. Padahal waktu itu, MPers ogah banget maen-maen di FB ๐Ÿ˜€

Meski MP udah gak ada, namun MPers masih bersilaturahim. Kebanyakan sih silaturahimnya lewat inet aka maya ๐Ÿ˜› Tapi tak sedikit juga yang melanjutkan silaturahim di dunia nyata aka kopdar.

Di taun 2012, saya kedatangan MPer Jakarta. Capt Dina namanya ๐Ÿ˜‰ Dulu kami sering saling kunjung ke rumah maya kami di kompleks MP. Ngak dinyana, silaturahim itu berlanjut di dunia maya. Kebetulan Dina ada dines di London. Beliau sengaja datang ke Worcester untuk kopdar. Padahal jaraknya cukup jauh 3,5 jam perjalanan. Adalah suatu kehormatan buat saya. Sayang, waktu itu saya baru pindahan rumah. Jadi tidak bisa menjamu beliau dengan baik.

Nah, Saptu kemarin, saya berkesempatan lagi kopdar dengan X MPer. Dulu kami sering saling kunjung di rumah maya. Dan sekarang doi berkunjung ke Worcester. Duh, senengnya… Dulu cuman obrol-obrol di rumah maya. Gak nyangka, sekarang obrol-obrol di rumah nyataku di Worcester.

Sekarang teman mayaku yang orang Bogor ini lagi ambil PhD di Newcastle taun pertama. Kebetulan perkuliahan lagi libur. So Doi n the gang road trip dari Utara Inggris ke Selatan Inggris. N Worcester merupakan jalur pulangnya, maka merapatlah.

Kopi darat anak MP

Makasih atas kunjungannya, ya, Vita n the gang ๐Ÿ˜‰
Kaka Mala, Yunita n Keket.

Ayo, teman mayaku lainnya, kita kopdar di Worcester, yu?

 

Batik Kudus Karya Denny Wirawan Melenggang di Inggris

Pada Minggu 7 Juni 2015, Denny Wirawan, perancang muda Indonesia menggelar peragaan busana di Nottingham Inggris.

Tema Fashion Show Denny kali ini mengangkat tema Batik Kudus. Sebuah motif batik yang kurang mendapat perhatian masyarakat. Oleh karena itu, Denny mengangkat Batik Kudus agar mampu disejajarkan dengan motif batik lainnya yang telah terkenal di Indonesia.

Acara yang digelar diย University Boulevard Lenton, Nottinghamshire ini merupakan rangkaian gelaran Indofest. Yaitu kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh PPI Nottingham, Inggris.

Denny Wirawan mementaskan karyanya di hadapan Duta Besar RI untuk Inggris serta pengunjung lainnya yang terdiri dari masyarakat Indonesia yang bermukim di Inggris serta warga Nottingham itu sendiri.

Denny Wirawan di Inggris
Denny W, Dubes RI, Atiqah Hasiholan

 

Dalam Fashion ย Show ini Denny menampilkan 20 busana yang elegan. Ditampilkan oleh 6 perawagati. Salah satunya adalah Atiqah Hasiholan.

Seperti apa serunya pertunjukkan busana tersebut, silakan ditonton:

Festival Tall Ships Gloucester, Inggris

Senin kemarin adalah Bank Holiday Monday yang bertepatan dengan liburan sekolah. Kebetulan pula si Yayang ngabisin jatah cuti, jadi hari itu kami pergi ke kota sebelah, Gloucester. Ni ya.. orang Inggris tuh kadang hambur kata, itu ditulisnya Gloucester, dibacanya cukup Gloster doang ๐Ÿ˜€

Hari itu cuaca Inggris cepet sekali berubah. Sebentar panas, sebentar mendung. Sebentar angin sepoi, sebentar angin kencang. Tapi okelah, dibandingkan dengan hari sebelumnya yang gerimis seharian.

Dari Worcester (nah ini lagi, dibacanya cukup Wuster aja) ke Gloucester ditempuh dalam waktu 40 menit saja. Untuk memasuki festival tahunan ini kami harus membayar tiket masuk ยฃ2 per orang, sedangkan untuk anak di bawah 16 tahun, gratis. Setelah membeli tiket, kami diberi gelang kertas berwarna hijau. Hal dimaksudkan karena festival ini bertempat di arena terbuka di dermaga. Jadi kita bisa keluar masuk sesuka hati ke banyak area hiburan di tempat itu dengan hanya menunjukkan gelang tersebut.

Festival ini berlangsung diย Gloucester Historic Dock, sebuah dermaga besar yang letaknya dekat pusat Kota Gloucester. Ada belasan kapal yang dipamerkan di sana. Kapal-kapal yang usianya seabad itu masih terawat rapi dan masih beroperasi. Pengunjung boleh menaiki kapal-kapal tersebut, tapi dengan biaya lebih. Untuk menaiki kapal bermaterialkan kayu dan bertiang layar amat tinggi ini tiketnya ยฃ6 yang dibeli ketika memasuki area festival.

Banyak atraksi yang disajikan. Diantaranya ialah Pirate ship battle. Pertunjukkan ini seru sekali. Dimana dua kapal bajak laut berperang hebat. Suara meriam (cannon) berdentum-dentum. Setidaknya masing-masing kapal bajak laut itu melepaskan 5 kali tembakan meriam. Tentu saja meriam yang digunakan bukan meriam sebenarnya yang membahayakan lawan dan penonton festival. Tapi meriam bohongan yang hanya mengepulkan asap dan dentuman suara yang hebat.

Atraksi air yang berlangsung di dermaga Gloucester lainnya adalah flyboarding. Pertunjukan ini tak kalah seru. Dimana seorang atlet flyboarding terbang di udara dengan kekuatan tekanan air dari bawah.

Atraksi lainnya adalah pentas musik. Area panggung diseting sedemikan rupa hingga menarik. Diberi rumput sintesis, diletakkan banyak bangku pula. Jadi yang tidak kebagian tempat duduk, penonton bisa duduk-duduk santai di rumput tersebut sambil menikmati sajian musik dan curahan sinar matahari yang semakin siang semakin hangat.

Area panggung dilingkup stand bazaar aneka makanan dan minuman. Pas benar. Makan minum, duduk-duduk santai, berjemur, menikmati sajian musik.

Di bagian area lainnya masih ada panggung kecil, pameran barang antik, mobil antik, serta puluhan stand bazaar lainnya yang tidak hanya menjual makanan dan minuman tapi juga kerajinan tangan, pernak-pernik, pakaian, tas dsb.

Korsel, bouncy castle, serta permainan anak lainnya ikut memeriahkan suasana. Tukang balon, tukang es krim, permen, cotton candy memberi warna lainnya.

Yang tak lah seru, banyak panitia yang hilir mudik memakai pakaian bajak laut yang heboh. Banyak anak-anak minta berfoto bersama mereka. Sesekali para bajak laut gadungan itu berakting drama di tengah jalan.

Buat yang pengen penasaran seperti apa serunya festival ini silakan intip dimari: