Such a small world

Adalah sebuah haru ketika buku yang saya tulis bermanfaat bagi orang lain. Selain Buku Jelajah Inggris dipakai panduan sebuah stasiun TV, ada satu cerita lainnya diantara belasan cerita yang saya terima dari pembaca buku Jelajah Inggris.

Lagi-lagi, semuanya bukan kebetulan, tapi rencana Tuhan yang sempurna. Cerita ini saya dapat dari ketua penyelenggara KIBAR gathering yang saya liput beberapa waktu.

Bayangkan, beliau tinggal di Birminghan, bersama keluarganya hari ini beliau jalan-jalan ke London. Diantara ratusan  wisatawan bahkan ribuan orang yang hilir mudik hari ini di London yang padat, kok ya bisa berbetemu dengan seorang ibu yang sedang menenteng buku Jelajah Inggris. Bisa begitu ya?

Ya bisa lah! Karena Tuhan berkehendak. Tuhan berkehendak mempertemukan ibu itu dengan Mas Agus. Kemudian Mas Agus menghubungi saya. Yang pada akhirnya saya bisa berbincang hangat dengan ibu yang ramah itu. Kebetulannya lagi, ibu itu berasal dari Bandung. Wah… benar-benar dunia ini kecil.

Ibu yang darehdeh (artinya ada di kamus Sunda :D) tersebut bernama Ibu Dian. Bersama rombongan dari Indonesia ia keliling Eropa. Sedangkan destinasi terakhirnya ialah London dengan masa wisata sehari saja.

Karena ibu tersebut ingin berlama-lama di London, maka beliau menambah masa wisatanya di London beberapa hari.

“Sejak memutuskan berwisata ke Eropa kemudian ke London, ibu teh sengaja beli buku Jelajah Inggris buat pegangan informasi,” dan seterusnya.. dan seterusnya, kami berbicara lewat handphone Mas Agus.

“Sebentar, ini suami saya ingin bicara juga dengan Rosi,” lanjut Bu Dian. Duh, suatu kehormatan besar bagi saya bisa berbincang dengan beliau-beliau.

Saya saling memberi salam. Bapak yang ramah tersebut bernama Pak Ahmad. Ia senang sekali buku Jelajah Inggris memberikan manfaat bagi ia dan istrinya. Saya apalagi. Saya merasa lebih senang karena mereka senang.

Seperti halnya kepada pembaca Buku Jelajah Inggris lainnya, saya suka minta pendapat, kritik dan masukkannya. Dengan nada ramah dan memakai kata maaf.. maaf.. beliau memberikan masukan untuk buku saya. Ada dua hal. Pertama, sebaiknya disertakan mesjid yang bisa dikunjungi dan jasa pemandu wisata orang Indonesia.

Aha.. benarlah adanya. Terima kasih masukkannya Pak Ahmad Sadikin. Semoga buku Jelajah Inggris laris manis hingga cetak ulang, sehingga saya bisa merevisi buku tersebut dan menambahkan informasi terkait tempat sholat/mesjid seputaran London. Nah, untuk jasa pengantar wisatawan atau guide saya jadi kepikiran juga nih. Kira-kira teman-teman di London, khususnya mahasiswa ada yang bisa diajak kerja sama jadi pemandu wisata gak nih? Hmm…

Dan inilah foto ibu Dian yang sempat diabadikan oleh Mas Agus di London.

Wisatawan Indonesia di London
Pembaca Buku Jelajah Inggris di London

Terima kasih Bu Dian, Pak Ahmad dan Mas Agus. Tangan Tuhan mengatur silaturahim singkat kami ini.

Pengalaman (ngekor) Shooting di Coventry Road Birmingham

Lanjutan dari sini

Lepas dini hari,Worcester diguyur hujan. Orang-orang yang kelelahan di hari pertama KSG tertelap dengan mudahnya. Jika lelah, lelap, tidurpun berkualitas. Saya terbangun setelah tiga jam terlelap. Yang ada di otak saya pertama kali adalah, nasi kuning. Ya, nasi kuning! Kebetulan pengajian kami kebagian bikin sarapan untuk KSG yang jumlahnya sekitar 350 itu.

Dengan dibantu dua orang ibu yang jago masak, semerbaklah dapur saya ditengah orang Inggris lainnya terlelap nyenyak. Jika sampai aroma itu sampai ke hidung mereka, ya maap-maap 😀

Setelah maraton bikin naskun, disambi nasgor untuk sarapan, diselang sholat subuh yang bergantian, jam 6 pagi, 12 warga di rumah saya siap berangkat ke lokasi KSG. Tapi hujan masih deras. Walhasil, setelah semua sarapan kami ngupi-ngupi dulu sambil bincang-bincang ringan. Tak lupa saya korek-korek ilmu dari Mas Produser dan Mas Kameramen seputar teknik pembuatan NETCJ. Mayan, dapat ilmu banyak. Rejeki itu banyak bentuknya.

Hujan masih juga tercurah lebat, mau tak mau, teuteup pergi dong ya.. Soalnya itu naskun menyangkut nasib perut orang banyak. Yuk ah, cap cusss.. Ebentar.. foto dulu.. foto dulu..

net tv

Tiba di lokasi, masih sepi, karena hujan terus mengguyur, acara yang semula jalan pagi, terpaksa lewat… Kami langsung set-up table, menyiapkan sarapan pagi untuk semua peserta. Ya Allah… nasi kuningnya tekor! 😀 Segera pasukan piket menuju dapur, gedebrak-gedebruk, grasak-grusuk, beberapa orang mengiris bahan, beberapa orang memegang wajan. Satu wajan besar dipegang dua orang. heboh dan seru pokonya. Kayak dapur jaman perang (sotoy, emang pernah hidup di jaman itu) 😛

Kolaborasi chef Bristol dan chef Birmie kompak banget. Walhasil 4-5 (lupa) babak nasgor  ala kadarnya terhidang sudah. Fiuuhhh… Seperti saya bilang, tidak ada kebetulan, semua rencana Tuhan. Dan akhirnya, nasi dua box besar nasi putih sisa dinner semalam itupun berubah wujud jadi nasi goreng, laku, habis, manfaat tak mubazir, alhamdulillah.

Siang hari, KSG ditutup penuh kesan menyenangkan. Selanjutnya kami kembali ke Coventry Road dan Green Lane Mosque untuk pengambilan scene yang kemarin menggantung. Meski sempat gerimis-gerimis, tapi kemudian terang-benderang, sehingga Mas Kameramen betah berlama-lama mengambil scene dari setiap sudut Coventry Road dan Green lane Mosque.

Kameramen Net TV
Shooting di kawasan Coventry Road

Saya pikir, untuk ambil satu scene paling selesai setengah jam, ternyata .. bisa berjam-jam plus oncam. Pokonya di lokasi itu kami menghabiskan banyak waktu hingga langit Birmingham kembali mendung. Ah, cepat sekali cuaca berubah. Dari gerimis, panas, gerimis, panas lagi, berakhir mendung. Untungnya semua sudah kelar. Sekarang saya jadi tahu, kerjaan orang TV itu gak gampang ternyata. Jika kita menonton satu program jalan-jalan durasi satu jam, bisa jadi itu shootingnya berhari-hari. Sebuah pengalaman baru buat saya.

Sebagai kenang-kenangan, NET ngasih ini:

NET TV
souvenir dari NET TV

Makasih NET ….

 

 

Sekali Kayuh 2-3 Rejeki Terlampaui

Ini cerita sambungan dari sini.

Di chit-chat sebuah sosmed, Sang Produser menanyakan segala hal tentang rencana keberangkatannya ke Inggris untuk meliput sebuah program Ramadhan 2015. Soal transportasi di Inggris, soal tiket pesawat, penginapan, dan sebagainya.. dan sebagainya…

Rencananya mas Produser mau travel ke beberapa kota, Birmingham salah satunya. Sesuai dengan yang diinginkannya mengunjungi kawasan Coventry Road dan Green Lane Mosque yang pernah saya tulis di media masa , yang kemudian saya bukukan di buku Jelajah Inggris.

Seperti yang saya bilang, semua bukan kebetulan, semua rencana Tuhan yang sempurna. Ketika TV tersebut berniat meliput dua objek tadi, pas sekali dengan kegiatan KSG yang lokasinya sangat berdekatan. Bisa begitu ya? rencana dari bulan kapan, terealiasasi bulan kapan dengan objek liputan yang pernah saya tulis tahun kapan.

KSG

“Mba, jadi datang?” tanya Mas Produser lewat WA diantara padatnya tempat duduk peserta KSG yang tengah berlangsung.

Saya tersenyum dan membalas, “Dari tadi, saya sejejeran mas’e,” 😀
Mas Produser yang duduk di belakang Kang Abik celingukan ke kiri, saya pun mengagguk. Hadir!

Sesi pertama Kang Abik usai, acara selanjutnya makan siang dan sholat. Diantara selang waktu tersebut, kami, para peserta, tamu, pembicara, beramah tamah, berfoto bersama. Baik bersama Kang Abik maupun sesama peserta KSG karena memang kami keluarga besar yang tersambung dalam beberapa komunitas pengajian online dan darat. Lagi pula ini bukan kali pertama. Temu kangen ini memang menjadi sarana silaturahim masiv, terstruktur dan… apaan sih? ..:D

Di kesempatan itu pula saya berbincang hangat, ramah dan seru bersama Mas Produser, Kang Abik, Ketua KIBAR baru dan Ketua KIBAR lama.

KSG Birmingham 2015, rosimeilani.com
KSG 2015, Ketua KIBAR 2014-2015, saya, Kang Abik, Ketua KIBAR 2015-2016, NetTV

Usai acara makan siang dan sholat, dilanjut sesi kata sambutan dari Ketua Panita KSG, Ketua KIBAR dan Duta Besar RI Bapak T.M Hamzah Thayeb. Setelah usai memberikan kata sambutan, saya mengekor Mas Produser mewawancarai Pak Dubes. Mayan, dapat bahan buat CJ 😉

Acara selanjutnya yang tidak boleh terlewatkan adalah foto bersama keluarga besar islam Indonesia di Inggris Raya, bersama Duta Besar RI dan rombongan, bersama para pembicara dan bersama pada tamu undangan.

KSG 2015 rosimeilanicom
Kibar Spring Gathering, 2-3 Mei 2015, Birmingham Inggris.

Di sesi berikutnya kami absen karena Mas Produser mau ngejar target shooting di beberapa tempat yang menjadi target hari itu. Setidaknya, kami merencanakan tiga tempat. Syukur-syukur bisa dapat empat tempat. Meluncurlah kami ke tempat yang dipesan Mas Produser sesuai yang saya tulis dalam buku Jelajah Inggris, kawasan coventry Road.

Ya Allah.. ternyata pengambilan gambar untuk satu lokasi saja memakan waktu lama. Apalagi cuaca Birmingham hari itu kurang bersahabat. Gerimis, mendung, ciri khas langit Inggris. Baiklah, pengambilan gambar cukup sekian dan terima gajih kasih.

Kami, saya, suami, Mas Produser dan Mas Kameramen kembali ke lokasi KSG. Di dalam perjalanan kami bincang-bincang ternyata Mbak Produser yang pernah menghubungi saya pertama kali itu pegang acara lain. Sebetulnya masnya ini adalah produsernya NETCJ. Itu sebabnya, di akhir April kemarin, diawal perkenalan kami, Video karya saya nampang di NETCJ karena dikomporin sama beliau. Di sekitar kota mbaknya ada event apa? ayo liput! dan kirimkan ke NETCJ.

Kembali ke lokasi KSG tengah coffe break & snack. Masya Allah, kue-kue yang disajikan enak-enak semua. Semuanya hasil tangan sisters Komunitas Pengajian Asy-Syifa selaku pemangku hajat. Inilah kompaknya kami. Setiap ada acara kumpul-kumpul seperti ini dipastikan makanan/cemilan enak hadir dari tangan-tangan sister yang pandai dalam soal perdapuran. Dan itu juga yang diacungi jempol oleh Kang Abik ketika saya mewawancarai beliau. Beliau salut akan gotong royong, berbagi tugas, kekeluarga dan kebersamaan yang biasa kami lakukan ketika ada event besar ataupun kecil.

Kami mengikuti sesi demi hingga jam sembilan malam. Dari sekitar 350 peserta yang hadiri menginap di berbagai tempat. Ada yang menginap di keluarga yang tinggal di Birmingham. Ada yang menginap di hotel. Ada yang menginap di mesjid. Sedangkan saya kembali ke rumah. Mengingat Birmingham – Worcester berjarak 35 menit perjalanan saja. Yang menginap di rumah kami ada dua keluarga dan Mas Produser beserta Mas Kameramen.

Kami, satu mobil, anak beranak tiga orang dan dua kru TV tiba di rumah terlebih dahulu. Sementara satu mobil lainnya nyasar, sehingga telat tiba. Dan satu mobil lainnya datang lebih telat karena menjemput putrinya di stasiun kereta. Hingga larut malam kami berbincang-bincang hangat. Hanya Mas Produser dan Mas Kameramen yang tepar, tumbeng. Maklum lelah dan penyesuain waktu yang beda 6 jam dengan Jakarta.

Masih ada cerita esok hari, dimana Kang Abik tak kebagian nasi kuning sebagai menu sarapan kami. Bersambung ah…

 

 

Tidak Ada Kebetulan, Semuanya Rencana Tuhan


Selalu saja kepingan kisah saya berjalan runut layaknya puzzle-puzzle yang Tuhan berikan hingga menjadi sebuah kisah utuh. Saya yakin benar, semua ini bukanlah suatu kebetulan, tapi garis Tuhan.

Kepingan kisah saya berawal Desember tahun lalu.

Saat liburan di tanah air, saya dapati sapaan lewat Medsos berlanjut di surel.
“Halo Mba, saya sudah membaca buku Jelajah Inggris. Saya terinspirasi dari buku mba, tentang Birmingham dan mesjid-mesjidnya. Saya berencana akan ke Inggris pada bulan Mei 2015 untuk shooting sebuah program acara TV. Saya harap Mba Rosi berkenan bla.. bla.. bla… ”
Sungguh, sapaan akrab dari seorang produser TV program itu, membuat saya merasa gimanaaa.. gitu..

Pertama. Saya tidak tidak menduga, bahwa buku saya akan bermanfaat bagi khalayak luas, seluas-luasnya, sampai untuk sebuah program acara muslim di sebuah stasiun TV keren. Dan saya sangat bersyukur sekali jika sekiranya buku itu bermanfaat untuk orang banyak. Karena itu pula tujuan awal saya berbagi cerita dan berbagi informasi di buku tersebut.

Kedua. Da aku mah apa atuh? bukan sesiapa, bukan apa-apa, tapi kemudian saya sadar mungkin saja saya bisa membawa manfaat bagi orang lain.

Ketiga. Bahwa internet dan teknologi begitu mudah mengakrabkan satu dengan yang lain. Sekalipun terpisah samudra. Hanya bermodal identitas diri di halaman terakhir buku Jelajah Inggris, saya menerima banyak sapaan dari para pembaca buku saya. Mereka baik hati, ramah, hangat dan sangat menghargai tulisan saya yang sederhana itu. Termasuk mba produser itu.
Dan sebagainya.. dan sebagainya. Cukuplah ungkapan rasa saya itu.

Kembali ke Inggris

Liburan usai, kami kembali ke Inggris, berbulan-bulan lewat. Tetiba beberapa minggu lalu ada yang meng-add di sebuah sosmed yang saya miliki. Namun selama beberapa hari tidak bertegur sapa.

Beberapa hari sebelum KSG gathering digelar, saya temukan logo sebuah statisun TV di pamplet (bener gak nuisnya gini? 😀 KBBI error) lembar kegiatan acara tersebut. Eh, ini kan program acara yang pernah dimention oleh produser itu yang pernah ngimel saya.

KSG birmingham 2015, rosimeilani.com
Kibar Spring Gathering 2015 Birmingham sponsor NET TV

Oiya, beberapa hari lalu, TV itu kan nge-add WA. Baiklah saya sapa mimin yang ada di seberang sana. Mengenai ini, insya Allah saya cerita di lain waktu.

Selanjutnya kami chit-chat di WA dengan seorang mimin. Banyak yang kami bicarakan, mengenai keberangkatan ke Inggris dan seputar tek-tek bengek lainnya. Benar, silaturahim melapangkan rezeki. Chit-chat terus bergulir hingga membahas NetCJ atau Net Citizen Journalist. Paan tuh? Nanti saya jelaskan di lain kesempatan. Insya Allah. Dan akhirnya saya pun bisa mejengin karya di NetCJ berikut ini.

Trus apa hubungannya, chit-chat di WA, NetCJ, Buku Jelajah Inggris, KSG, dan sebagainya.. dan sebagainya…

Nanti nyambung ya.. mau sholat dulu, terus ngopi dulu, rasanya lelah sisa kemarin masih terasa. Padahal cuman jadi peserta 😛 apalagi para panitia. Semoga Allah limpahkan Rahmat dan KaruniaNYA kepada semua pihak yang berpartisipasi meramaikan KSG kemarin, aamiin YRA.

Sambungannya di sini ya….