KIBAR singkatan dari Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya. Diantara kegiatan rutin KIBAR, satu diantaranya adalah KIBAR Gathering yang dilakukan setahun dua kali. Bertepatan dengan hari jadinya yang ke-20 KIBAR Gathering kali ini digelar di tempat yang sama saat pertama kali KIBAR digelar yaitu di Islamic Foundation Markfield Conference Centre Ratby Lane, Markfield, Leicestershire pada Sabtu dan Minggu tanggal 27-28 Oktober 2012. Berita selengkapnya bisa dibaca di sini: http://makassar.tribunnews.com/epaper/tribuntimur-halaman2
Tulisan ini telah dimuat di Koran Tribun Timur tanggal 2 November 2012.
Jujur, di rumah maya sebelumnya, Multiply, jemari saya menjadi jalan interaksi sesama bloger yang kebanyakan wanita dan banyak diantara mereka adalah Ibu Rumah Tangga. Para bloger saling sapa dan saling berbagi cerita di dunia maya. Dengan begitu, tak terasa kegiatan tulis-menulis menjadi sebuah kebiasaaan. Dengan menulis, apa yang ada dalam otak dan benak tersalurkan.
Waktu berselang, FB hadir, banyak pelatihan dan lomba menulis digelar. Mereka yang memeriahkannya kebanyakan wanita, yang kebanyakan IRT. Waktu berselang, hampir semua media cetak dan online di tanah air memberikan ruang bagi penulis lepas dalam konteks citizen journalism. Tak ayal, kesempatan itu dijajal oleh mereka yang biasa menulis, salah satunya adalah para ibu rumah tangga. Fenomena IRT Menulis pun tercipta.
Tulisan Opini ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, tanggal 17 Oktober 2012, hal.7
*****
Berikut ini saya kopas, tulisan mentahnya:
Fenomena IRT Menulis
Rosi Meilani – IRT, Penulis
Saat internet hadir membelalakkan informasi, banyak orang mengambil manfaat positif akan hal ini. Satu diantaranya membuat orang gemar bloging.
Tak hanya bapak-bapak dan anak muda, ibu-ibu pun seolah tak ingin ketinggalan ambil bagian. Bloger di Indonesia terdiri dari berbagai profesi. Dokter, insinyur, mahasiswa, guru, dosen, pekerja kantoran, seniman, wanita karir bahkan ibu rumah tangga sekalipun. Terlebih, IRT lebih banyak waktu mantengin layar komputer.
Semenjak blog mulai meretas dan memasuki ruang ibu-ibu rumah tangga, PC maupun laptop bukan lagi menjadi barang lux. Mungkin fungsi dan keutamaannya setara dengan mesin cuci dan kompor gas.
Berbicara blog, otomatis berbicara internet. Pada dua nama tersebut kadang problematika rumah tangga terpecahkan. Urusan anak, kesehatan, pendidikan, keuangan, kerohanian, dan masih banyak lagi. Mencari penyebab sakit dan obat si anak, mencari resep masakan, konsultasi pasutri dan informasi segala rupa. Pendek kata, berkat internet ibu-ibu rumah tangga menemukan banyak ilmu.
Dalam media itupun, terbentuklah media sosialitas, pertemanan maya, yang terus berkembang hingga bagi sebagian IRT ngeblog merupakan gaya hidup. Dengan ngeblog otomatis ibu tak lepas dari membaca dan menulis. Apapun bacaannya, apapun tulisannya. Baik berkonten berat maupun yang remeh temeh. Sebagaimana sifat lahiriah wanita. Kadang mereka hanya perlu wadah, tempat menumpah keluh-kesah. Sukur-sukur ada pemecahan. Tidak pun tak mengapa. Yang penting, lega.
Selain ibu yang gemar curhat umum. Ada pula sebagian ibu yang sudah memiliki akar seni menulis namun terbonsai oleh waktu dan keadaan. Maka dalam media blog, akar itu mulai merambat, kembali tumbuh secara tak terasa. Pada media ini mereka bisa melepaskan apa yang ada dalam hati, rasa dan isi kepala. Tanpa disadari, sedikit demi sedikit kualitas tulisan pun berkembang.
Maka tak heran saat aneka lomba kepenulisan yang kian marak di dunia maya banyak dimenangkan ibu rumah tangga. Baik itu lomba menulis puisi, Flash Fiction, cerpen bahkan essay sekalipun. Pendek kata, blog merupakan media yang tepat dalam pengembangan minat dan bakat.
Facebook dan Citizen Journalism.
Semenjak karya Mark Zuckerberg menyentuh semua lapisan masyarakat Indonesia, ibu-ibu yang gemar menulis makin tersalurkan. Pasalnya, pada media jejaring sosial tersebut banyak bermunculan grup-grup menulis yang gratis namun syarat ilmu. Tak pelak, geliat tulis-menulispun makin merebak.
Hanya bermodal sebuah gadget, bisa HP, Smart Phone, PC, laptop, tablet, apapun itu, asalkan bisa membaca postingan, ilmu cuma-cuma itupun dengan mudahnya tertransfer.
Ngeblog sudah biasa, kegiatan menulis makin menjadi, ilmu terus bertambah, ajang lomba menulis makin marak, tulisan makin terasah, kepercayaandiripun makin meningkat. Beruntungnya lagi, banyak media massa memberi lahan untuk citizen journalism, atau jurnalisme warga. Tentu saja hal ini makin menjadi angin segar bagi para bloger yang sudah terbiasa menulis. Meski tema dan gaya tulisannya berbeda. Namun tak terlalu sulit menyesuaikan diri.
Seperti yang kita ketahui tema blog segala rupa, gaya tulisan sangat bebas, EYD apa lagi, ancur dan alay pun tak masalah. Sedikit memilah tema yang sedang in, naik daun, hangat dibicarakan, merapikan gaya tulisan dan menertibkan EYD, tulisan pun layak lempar ke citizen journalism.
Sesuai artian Citizen Jurnalism yang dibahasa Indonesiakan berarti jurnalisme warga, sedangkan warga artinya seluruh lapisan masyarakat, siapapun ia. Bisa insinyur, tukang sayur, tukang bubur, penghibur, selama ia bisa menulis, mengapa tidak? Mulai dari pengusaha hingga asisten rumah tangga yang bekerja di Luar Negeri (BMI). Mulai dari pujangga, sampai ibu rumah tangga. Dengan catatan, tentu saja tulisannya harus memenuhi kriteria.
Karena citizen journalism ini ruangnya banyak. Diantarnya: Rubrik guru, Rubrik mahasiswa, Rubrik perempuan berbicara, opini dan lain-lain. Maka, dengan banyak ruang, banyak pula tema yang bisa diangkat. Tentunya makin banyak kesempatan bagi para ibu untuk mengembangkan kemampuan menulisnya baik berdasarkan kepahamannya terhadap suatu bidang, maupun bidang lainnya yang belum dipahami sepenuhnya.
Namun demikian, yang belum paham suatu hal, bukan berarti tidak bisa dipelajari. Bukanlah internet telah membelalakkan ilmu di depan mata. Melalui internet, apapun bisa dibaca dan dikaji. Banyak baca, banyak tahu. Banyak baca, banyak ilmu.
Kini, menulis di media khususnya citizen journalism merupakan gaya hidup terkini di kalangan ibu-ibu rumah tangga.
Saya terlalu yakin jika lebaran taun ini bakal jatuh hari Sabtu. Dan kami tak sabar ingin melewati hari itu. Pasalnya begitu lepas solat Id, kami akan melakukan road trip menuju Scotland yang rencananya akan dilakukan selama 5 hari.
Rencananya, kami akan melakukan solat Id di Birmingham. Mengapa Birmingham? Selain ingin mengunjungi mesjid terbesar di kota itu, Birmingham terletak di bagian utara kota kami. Itu artinya, melewati Birmingham merupakan rangkaian perjalanan kami ke arah utara pulau England ini.
Ternyata, lebaran jatuh hari minggu. Sedangkan 4 penginapan, di beberapa kota yang akan kami lalui telah dibooking. Termasuk tiket masuk Alton Towers theme park. Karena tak mungkin membatalkan semuanya. Maka, road trip pun dilakukan di hari pertama puasa. Di hari itupun kami berlapar-lapar bermain di Alton Tower hingga sore hari lalu terus naik ke utara.
Di Kota Preston, kami menginap. Tentunya jauh meningalkan jauh kota Birmingham dong. Pada malam takbiran, itu kami bingung. Besok solat Id dimana?
Akhirnya saya hubungi seorang teman yang tinggal di kota Stoke in trent, walaupun agak jauh dari penginapan kami, setidaknya mungkin ia tau dimana tempat solat Id terdekat. Sayangnya ia tak tau. Tapi, darinya saya diberi nomor telefon seorang sister yang tinggal di kota Preston.
Begitu dihubungi, ternyata rumahnya tak jauh dari penginapan kami. Di Preston memang ada beberapa tempat sholat Id, tapi sayangnya, tidak tersedia untuk jamaah perempuan. Kemudian ia memberikan post code sebuah tempat Id yang biasa ia kunjungi dari tahun ke tahun. Tepatnya di kota Manchester.
Sebetulnya Manchester cukup jauh. 50 menit perjalanan. Kearah Selatan pula. Itu artinya kami harus berputar balik. Tapi, apa mau dikata?
GPS menuntun kami ke sebuah pintu gerbang bangunan gotik. Saya heran, mesjidnya mana? Secara, bangunan itu bernama British Muslim Heritage Centre. Ternyata BMHC tersebut ya bangunan gotik itu.
Dengan terkagum, saya masuk ke salah satu ruangannya. Telah berjajar ratusan sister disana. Mereka terdiri dari berbagai negara asal. Berbagai warna kulit. Berbagai bahasa dan berbagai gaya pakaiannya. Dari jenis pakaiannya, saya bisa memastikan dari negara mana mereka berasal. Bahasa yang terdengar pun tak hanya bahasa inggris, tapi juga bahasa urdu dan entah bahasa apa lagi yang samar-samar terdengar.
Saya mengambil sebuah shaff dan langsung mengenakan mukena. Sedang yang lainnya tidak. Kerena mereka orang Bangladesh, Pakistan dan muslim Timur Tengah lainnya terbiasa sholat dengan menggunakan pakaian yang ia kenakan.
Sesaat sebelum sholat dimulai, sister Pakistan yang berada di samping kiri saya tiba-tiba pergi entah kemana. Walaupun saya tau di sebelah kiri saya ada sedikit jarak, saya biarkan saja, berharap orang lain mengisinya.
Setelah beberapa saat saya melirik ke sebelah kiri. Ternyata, diantara jarak itu terlihat seorang ibu dan anak gadisnya bermukena. Mukena? pikir saya? Saya melirik pada bagian bawahnya. Sarung? Sarung Bugis? Anak gadisnya memakai mukena yang bahannya sama persis dengan yang saya kenakan. Jangan-jangan.. pikir saya. Setelah beradu pandang kami beradu senyum.
Karena tempat makin memadat dan sister di sebelah kanan saya menyuruh bergeser, entah kenapa, kata-kata saya meluncur begitu saja: “Ini kosong?” tanya saya. Eh? ini kan di Inggris pikir saya kemudian. Setelah sesaat bengong, ibu itupun menjawab, “kosong,” katanya.
Selanjutnya, kami saling melempar tanya, asal dari mana, asli mana, tinggal dimana, dan sebagainya.. dan sebagainya…
Ternyata, ibu itu sedang menengok anaknya yang sedang study S2 di Manchester University. Ia asli Bogor, obrolanpun berlanjut diselingi bahasa daerah kami, Sunda. Tak lupa, diakhir perjumpaan kami, kami sempatkan berfoto di depan bangunan bergaya Gothic tersebut.
Dunia memang sempit, saya dari Worcester, bertemu dengan seorang ibu asal Bogor di Kota Manchester.
Perjalanan kali ini telah dimuat di Koran Republika, Rubrik Wisata Religi.
Cerita lengkapnya bisa dibaca di Buku Jelajah Inggris, terbitan Elexmedia. Harga Rp.39.800. Tersedia di Gramedia, Amazon, Scoop dll.