Pemerintah Inggris Permudah Mobilitas Kaum Difabel

Bagi kaum difabel melakukan kegiatan hari-hari tentulah sangat sulit. Oleh karena itu mereka harus dibantu oleh sarana dan prasarana serta sistem yang memudahkan mereka untuk beraktifitas.

Pemerintah Inggris sangat konsen terhadap hal ini. Karena kaum difabel juga memiliki hak yang sama seperti warga normal lainnya. Banyak sarana, prasarana serta sistem yang dibuat pemerintah Inggris agar aktifitas para penyandang disabilitas berjalan mulus. Dari sekian banyak upaya yang dilakukan pemerintah Inggris, diantaranya seperti berikut ini:

  • Jangankan tangga konfensional, letak pintu masuk gedung yang sedikit tinggi saja  adalah sebuah momok bagi kaum difabel. Maka dari itu penyediaan ramp sangat diperhatikan.
  • Banyak pintu masuk gedung yang menyediakan ramp.
  • Ramp banyak terdapat diantara trotoar dan turunan jalan.
  • Ruas ramp cukup lebar.
  • Material ramp dibuat kasar agar tidak licin.
  • Di jalanan, area ramp diberi warna merah bata agar jelas dari kejauhan.
  • Selain ramp, keberadaan lift menggantikan tangga konfensional. Biarpun gedung tersebut hanya satu lantai.
  • Nyaris semua bis kota memiliki pintu lebar agar kursi roda ataupun moped scooter bisa masuk dengan leluasa.
  • Seting pintu bus dibuat serendah mungkin agar sejajar dengan bibir trotoar bahkan beberapa bus dipasang lift lantai agar kursi roda melaju mulus.
  • Jika penyandang difabel akan bepergian jauh dengan menggunakan bus antar kota tidak usah khawatir. Mereka bisa memesan tiket secara online agar kru armada mempersiapkannya khusus. Disamping itu mereka mendapat fasilitas keringanan tarif tiket.

Seperti apa visualnya, cekidot di dua video di bawah ini 😉

NET IMS. N33_Rosmel. 03122015
Kali pertama Video CJ saya tampil di Indonesia Morning show NET TV

NET10. Rosmel.03122015

*Rupanya dikasih kesempatan tayang dua kali sama NET TV 😉

Kesejahteraan Domestic Worker di Inggris

Jika ke London, kami tak pernah membawa mobil hingga ke dalam kota London. Kecuali jika ada acara di Wisma Nusantara, kediamannya Pak Dubes. Tentu saja karena alasan sulitnya mencari tempat parkir di pusat kota dan mahal pula tarifnya.

Maka dari itu, jika ada urusan ke London sering kali kami memarkirkan mobil di pinggiran Kota London, seterusnya barulah menggunakan kereta. Biasanya di sekitar Wembley gitu deh.

“Eh, Wembley! Itu sih dekat IIC,” ujar teman ODOJ saya. “Daripada parkir di sana, udah, numpang parkir aja di IIC. Pulang jalan-jalan nanti kan bisa ngaso ngopi-ngopi dulu di sini,” lanjut beliau.

Asikkkk…. makasih ummi… emang kalau milik takan kemana 😉

Setingan Google Map pun langsung menuju IIC alias Indonesian Islamic Centre. Seterusnya, dari sana kami menggunakan bus menuju pusat Kota London. Kesana kemari kesana kemari, sekitar jam 8 saya ditelfon Ummi Fadilah, teman ODOJku itu.
“Udah nyampe mana nih?” tanya beliau.

Kebetulan beberapa menit lagi kami tiba di stasiun terakhir.
“Kalo gitu, ummi jemput ya…,”
Wah, milik… milik….
Hari itu saya berlimpah rejeki.

Setelah turun dari kereta saya clingukan, berbarengan dengan itu dari kejauhan ada ibu-ibu paruh baya bergamis dan berkerudung hitam. Ini kayaknya nih, pikir saya sambil senyum.

“Ummi Fadilah!” sapa saya, beliau mengiyakan lalu kami cipika-cipiki penyambutan sambil terus obrol-obrol menuju mobil.
Hehehe… inilah kali pertama kami kopdar setelah sekian lama tertaut di WA grup ODOJ2 cabang UK.

Memasuki mobil.
Wah, sesosok wanita tangguh di belakang kemudi.
Namanya Ibu Ana. Biarpun udah sepuh upss…. senior maksudnya 😀 beliau pengemudi ulung, sering mengetir ke luar kota 😉 keren ya?

Beliau biasa disapa Yu Ana.
Ah, buat saya rasanya kurang tepat memanggil Yu atau Mba dalam Bahasa Plembang.
Saya lebih tepat memanggilnya bunda.
Bayangin, disaat saya masih orok. diawal tahun 70’an, beliau udah jadi penghuni London. Bisa ngira-ngira kan usia beliau berapa 😀
“Saya hijrah ke London turut suami yang berprofesi pengajar, sekaligus juga artis,” lanjutnya.
Sebetulnya sih, ini bukan kali pertama saya ketemu beliau. Beberapa kali saya jajan pempek buatan beliau. Rasanya beuhh… uenak. Ya, disetiap banyak kesempatan kumpul-kumpul WNI di London, beliau sering buka stand pempek.

Setibanya di IIC.
Makasih tumpangannya, Bunda Ana.
Memasuki ruang IIC tetabuh rebana menggema.
Wah, rasanya seperti penyambutan kepala daerah ke sebuah desa. Hahahah..

Ini Inggris loh dan itu musik rebana loh 😀

Oi.. oi.. ada apa nih.
Oh, rupanya saudara-saudara kita sedang berlatih rebana.
Adalah Annisa Rebana. Merupakan kumpulan para domestic worker (saya kurang suka menyebutnya TKW 😉 ) yang tengah berlatih rebana.

kegiatan TKW di London

Lebih lanjut, Ummi Fadilah selaku yang dituakan aka ketua grup Annisa Rebana ini menjelaskan. Salah satu cara untuk mengisi waktu luangnya, para Domestic Worker (DW) ini mengisinya dengan berkegiatan qasidahan/rebanaan.

Awalnya sih iseng-iseng, lama-lama diseriuskan. Bahkan kini sering menerima tawaran tampil di berbagai acara. Entah itu acara keagamaan, acara kumpul-kumpul orang Indonesia, bahkan pernah pula diundang sebuah komunitas pengajian orang Pakistan.
Wah, keren juga ya?

Siapa yang nyangka coba? Rebanaan/Qasidahan yang diangap jadul/kuno/ketinggalan jaman di tanah kelahirannya sendiri, Indonesia, malah teuteup eksis di negara orang, Inggris pula. Eropa gituloh, bukan Timur Tengah.
Hidup rebana! 😀

Ummi Fadillah yang kesehariannya mengajar Quran di London Fatwa Council ini menjelaskan lebih lanjut bahwa Annisa Rebana ini mau rekaman.
Wah, rekaman! (Y)
Ngak ngerti gimana teknis detailnya. Konon katanya take vocal di UK, edar di Indonesia.

Setelah berlatih, sesi istirahat dan makan-makan pun mulailah.
Saya bertanya, “Diantara ibu-ibu, mbak-mbak di sini, siapa yang paling senior?”
Majulah Ibu Kartini. Pas banget ya namanya, seperti ibu kita kartini ikon emansipasi perempuan Indonesia. Ia menuturkan, selama berkarir 20 tahun, nyaris tak ada duka bekerja sebagai TKW di UK. 

“Saya sering jalan-jalan liburan ke luar negeri dengan majikan berserta keluarganya dengan privat jet,” tutur beliau yang sangat kalem penuturannya.
Wow! pesawat jet pribadi bu? Saya mah baru mampu beli tiket Emirats kelas ekonomi pulak 😀
Oiya, kalem-kalem begini juga, Bu Kartini ini lead vocal-nya Annisa Rebana 😉

Obrolan kamipun berlanjut. Menurut Mba Nuriya, beruntung banget ia dan rekan-rekannya bisa bekerja sebagai DW di Inggris. Karena semua aturannya jelas, hukumnya jelas, pengaturan haknya jelas. Jam kerjanya sama dengan jam kantoran. Weekend libur. Jika tidak mendapatkan hak semestinya mereka bisa menuntut majikannya ke ranah hukum. Misalnya tidak mendapatkan upah seharusnya, mengalami kekerasan dan lain sebagainya. Ada sebuah kasus pelanggaran hak yang tidak semestinya diterima oleh DW kita. Lalu maju ke ranah hukum, iapun memenangkan perkara tersebut.  Akhirnya ia menerima konpensasi yang lumayan besar.

Bocoran dari salah seorang DW, konon katanya mereka bisa mengantongi £500 per minggu. Wow, mayan banget kan. Setara berapa coba? itung aja ndiri! kalkulator di rumah rusak nih. 😛

Hmm… £500 seminggu? apa saya daftar jadi DW juga gitu ya?
*Cari tahu gimana caranya 😀

Total penghasilan, kenyamanan kerja, weekend libur, weekend bisa mengisi dengan kegiatan keagamaan, mengisi hobi, shopping, jalan-jalan, apa gak sejahtera tuh saudara-saudara kita ini? 😉

“Ayo… ayo mba Rosi disambi makan ngobrolnya,” ujar Ummi Fadillah dan Bunda Ana yang merupakan duo ketua/pimpinan grup Annisa Rebana ini.

“Iya, mangga… mangga….”
Tuh kan, Sundanya keluarga lagi. 😀
Orang disuruh makan mie goreng dkknya, malah mangga. Ngak ada mangga keleus…. 😀
*Mangga dalam Bahasa Sunda artinya silakan, ayo, mari 😀

Tapi ternyata, mangga saya disambit eh disambut jawab oleh beberapa rekan DW kita.

“Eh.. geuning orang sunda!” 😀
“Timana?”
“Bandung, Cianjur, Sukabumi, bla.. bla.. bla…. ,”
Bahasa ibupun keluarlah sudah 😀
Derrr… ah 😛

Setelah malam makin larut, Pa Djamal selaku Pengurus IIC yang memberikan tempat untuk berkreasi para DW untuk berlatih rebana di IIC ini  memberikan wejangan terkait kiprah Annisa Rebana yang konon katanya mau rekaman ini. Oiya, selain pengurus IIC, Pak Djamal ini juga orang KBRI London.

Setelah itu, acara kumpul-kumpul seminggu sekali itupun bubar jalan. Jika mereka hanya hitungan belasan menit hingga puluhan menit tiba di rumahnya masing-masing, maka saya dan suami setidaknya makan waktu 2 jam untuk bisa tiba di rumah.

Meski hari itu lelah karena padatnya acara dari pagi hingga malam, namun saya senang mendengar cerita-cerita suka duka mereka menjadi DW alias TKW di negeri yang sangat memperhatikan tiap tetes keringat para pencari kerja di negeri ini.

Mau tau bagaimana mereka berlatih rebana? cekidot.. 😉

 

Bumbu Rendang Instan Buatan Inggris

bumbu rendang instan di inggris

Pada sebuah Sabtu saya berkesempatan menjumpai seorang Warga Negara Indonesia yang telah lama tinggal di Inggris. Tepatnya di Kota Birmingham. Sekitar setengah jam perjalanan bertemulah saya dengan dia. Tina namanya. Rupanya kami sama-sama orang Sunda. Obrol-obrolpun berlangsung hangat diselingi berbahasa Sunda tentunya.

Sabtu itu Tina buka stand di sebuah pasar kaget yang digelar tiap akhir pekan. Produk yang ia jual adalah bumbu instan khas Indonesia asli. Ada 9 varian yang ia jual. Yang bikin bangga, ia produksi sendiri kesemua produk tersebut. Dari sekian banyak produk tersebut diantaranya ialah: bumbu rendang, bumbu sate, bumbu kari, sambal padang, bumbu nasi goreng dll. Dan dari sekian banyak itu, bumbu rendang adalah yang paling banyak diminati pembeli.

Itu terbukti, di setiap kesempatan berjualan, Tina selalu menyajikan tester alias icip-icip rendang buat para pembeli. Hal ini tentu saja untuk memberikan pengenalan rasa, dan sedikit pengetahuan pembeli baru bagaimana cara mengolah bumbu yang praktis ini.

Pada kesempatan itu, banyak pembeli baru yang merapat ke stand Tina, mencoba, icip-icip, lalu membelinya. Sesi icip-icip ini tak cuman rendangnya saja, tapi juga plus nasinya yang sangat pulen, hangat pulak. Saat itu cuaca agak dingin lagi. Wah, pas deh. Lucunya dari sekian banyak pembeli yang icip-icip seorang pembeli bule, malah tekor nasinya n nyeletuk,
“Enak banget nih nasi, boleh beli gak?” 😛 😛
Mungkin ini kali pertama dia makan nasi pulen. Soalnya orang Inggris kebanyakan makan nasi basmati yang panjang-panjang dan agak sedikit keras. Biasanya dipadupadankan dengan makanan Asia Selatan (IPB = India, Pakistan, Bangladesh) seperti untuk nasi Biryani, nasi mandi dll.

Gak cuman si bule itu aja sih yang jatuh hati sama kombinasi nasi pulen n rendang sapi buatan suaminya Tina ini. Saya dan suami juga 😀 Apalagi suami saya, doi minta nasinya dibanyakin 😛 Yeee… namanya juga tester, seuprit aja keleuss…
Pinter juga nih Tina, pincuk* piring kertas buat testernya dibikin kecil 😀
Yaelah, klo gede mah sebox nasi plus rendang itu harganya £5 atau sekitar 125 IDR itu harga yang biasa saya temukan saat acara bazaar-bazaar orang Indonesia di Inggris.

Eh, apa, tadi bilang yang bikin rendang itu suaminya Tina? 😀
Iya, Tina bilang, yang biasa dapat tugas bikin rendang untuk sesi icip-icip ini adalah suaminya. Keren ya mas bule 😀
Adalah Jeremy, suaminya Tina, yang juga sama-sama membangun usaha pembuatan bumbu khas indonesia ini.

Disela obrol-obrol kami datanglah Jeremy yang ternyata pintar juga berbahasa Indonesia dan sedikit berbahasa Sunda. Lucu aja denger doi ngomong sunda. Menurut Jeremy yang pernah bermukim di indonesia selama 7 tahun, usahanya ini merupakan bentuk memperkenalkan masakan indonesia pada warga Inggris, agar makanan indonesia lebih go internasional.

Menurut Tina, berawal dari kerinduan akan makanan Indonesia, terutama buatan mamanya yang bernama Mama Eti, akhirnya terciptalah bumbu – bumbu olahan masakan Indonesia ini dari dapurnya di kota Birmingham yang tidak hanya untuk keperluannya sendiri melainkan diproduksi dalam jumlah banyak dan dipasarkan ke pelbagai kota di Inggris.

Sampai saat ini rata-rata per minggunya bisa memproduksi 350 toples. Tidak sulit untuk bisa mendapatkan aneka bumbu berlabel Mama Eti’s ini. Karena Tina dan Jeremy melayani pembelian online. Selain itu, produknya inipun tersebar di beberapa toko yang ada di Inggris seperti berikut ini:

  • Birmingham: Beckets Farm  dan Rositers Butcher
  • Stoke on Trent  Brown And Green
  • Essex:  Food Company
  • North East: Latimers Seafood And Deli
  • London: Eat 17 dan Few High End Butchers
  • Warwickshire: Squisito

Dan masih banyak lagi toko-toko kecil yang ada di seputar West midlands area. Di saat mulai akhir musim semi – musim panas – hingga awal musim gugur, Tina-Jeremy sering kali buka stand di segala acara bertema kulineri di berbagai kota di Inggris. Seperti di NEC Birmingham  dan di Pameran Di London Olympia, beberapa waktu yang lalu.

Oiya, mulai Januari 2016 produk Mama Eti’s juga bakal masuk Harrods, London. Tau Harrods kann… hehehe… Nih, artikel saya tentang Harrods ini pernah dimuat di Majalah Female yang keren itu 😉

Harga produk bumbu Mama Eti’s mulai £2,95 – £3,95 (sekitar 60 ribu – 80 ribu rupiah) per toples.

Oiya, untuk memenuhi kebutuhan pelangan dari berbagai kota dan luar negeri, Mama Eti’s juga bisa dibeli lewat Amazon loh. Kamu bisa intip keterangan lengkapnya di sini : http://www.mamaeti.com/

 

Asiknya Bersepeda di Oxford

Oxford adalah salah satu kota dengan pengguna sepeda terbanyak di Inggris. Maka tak heran jika anda melancong ke Oxford akan disuguhi banyak sepeda yang berseliweran di pusat kotanya yang terkenal akan universitasnya yang melegenda. Para pesepeda itu terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, kaum muda, kaum kantoran ataupun para mahasiswa.

Menurut sensus 2011, 17% kaum pekerja Oxford menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya. Itu menurut sensus tahun 2011, apalagi sekarang dong ya?
Para pekerja yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya itu termasuk mereka yang berada di luar kota Oxford. Oleh karena itu, untuk mendukung kenyamanan warganya dalam bersepeda, Pemerintah Daerah Oxford menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya adalah “Park and Pedal”. Yaitu kawasan/area parkir mobil yang berada di sisi kota Oxford. Dengan membayar parkir 2 pounsterling (sekitar 42 ribu rupiah) selanjutnya pemilik mobil tersebut bersepeda menuju kantor yang terletak di pusat Kota Oxford.

Hal ini sangat efektif, efisien, menyehatkan dan mampu mengatasi kemacetan dan tentunya lebih hemat. Karena, jika kita parkir di pusat kota untuk seharian penuh, bisa bikin jebol dompet. Setidaknya, kita harus membayar £31,5 (sekitar 661.000 rupiah). Sedangkan tarif per-jam antara £3 – £4. Hal itu saya rasakan banget ketika hendak parkir di dekat University of Oxford dalam rangka meliput kegiatan Oxford-Indonesia Forum 2015. 

Dengan banyaknya warga bersepeda lalu lalang, justru membuat pusat kota yang dilingkup oleh bangunan kampus Universitas Oxford yang tua nan klasik ini terlihat khas dan cantik.

Hampir di semua sudut jalan terdapat area parkir sepeda, berderet rapih. Baik itu di pusat perbelanjaan, depan kampus, depan pasar, depan toko dan sebagainya. Saking banyaknya spot parkir sepeda, jangan heran jika kita saksikan banyak sepeda yang parkir disandarkan di dinding bangunan begitu saja. Saking amannya kali itu kota.

Demi kenyamanan pengendara sepeda, jalur sepeda pun dibuat sebaik dan serapih mungkin. Seperti dari jalur park and pedal menuju tengah kota Oxford.

Area Park and Pedal (parkir lalu bersepeda) ini merangkap juga Park and Ride (parkir lalu naik bus). Artinya, setelah memarkirkan mobil  seterusnya silahkan menggunakan bus yang tersedia menuju pusat kota. Parkir di Park and Ride seharga £2, berlaku 24 jam, buka tiap hari pula. Ada 5 park and ride yang berada di sisi kota Oxford bagian Utara – Selatan – Timur – Barat. Sedangkan tiket bus dari park and ride menuju pusat kota Oxford tarifnya £1,8 (sekitar 36 ribu rupiah) sekali jalan.

Apapun pilihannya, mau naik bus ataupun bersepeda (yang tentunya lebih menyehatkan) pilihan ada di tangan anda. Namun, dengan bersepeda, ada sensasi lain saat melancong di Oxford. Seperti yang saya rasakan ketika melancong ke sana beberapa waktu yang lalu. Bersepeda diantara orang-orang lokal itu…  serasa kita menjadi bagian dari mereka. Oiya, untuk para pelancong, tersedia jasa penyewaan sepeda loh.

Sepertinya, sistem Park and Ride dan Park and Pedal ini cocok diterapkan di kota-kota besar di indonesia yang tingkat kemacetannya semakin parah deh kayaknya. Sebut saja Bandung contohnya. Akan lebih indah kan, jika jalan Riau, Gasibu, Cihampelas, Asia Afrika dll, lebih lenggang, lebih segar dan lebih cantik pula kelihatannya.

Sedikit ngayal 😀 Dengan berseliwerannya sepeda-sepeda di Bandung jaman kiwari, mungkin akan tercipta suasana Bandung tempo doeloe 😉