Terapi Gagal Ginjal Kronis, CAPD

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan kondisi gagal ginjal stadium akhir. Sebuah kondisi dimana fungsi dibawah 10% saja. Itu artinya ginjal tidak mampu lagi menjalankan tugasnya sebagai penyaring racun dalam tubuh. Pengobatan bagi mereka penderita GGK ini ada tiga macam. Pertaman, dengan HD kependekan dari Haemodialysis atau istilah umumnya cuci darah. Kedua dengan transplantasi atau istilah umumnya cangkok ginjal. Dan ketiga ada CAPD, kependekan dari continuous ambulatory peritoneal dialysis atau istilah umumnya biasa disebut cuci perut. Yaitu suatu metoda cuci darah yang dilakukan lewat perut.

Penyintas GGK bisa memilih satu dari tiga pilihan terapi gagal ginjal diatas. Bagi Susanto Sandi yang biasa disapa Sandi CAPD alias cuci perut adalah opsi yang ia pilih. Sebelumnya ia pernah melakukan HD (cuci darah) dan juga pernah mencoba untuk melakukan transplantasi alias cangkok ginjal.

PENGALAMAN CANGKOK GINJAL GRATIS DI INDONESIA

Bagi Pak Sandi CAPD jauh lebih baik, ekonomis dan praktis. Yang mana selama HD ia harus melakukannya di Rumah Sakit seminggu dua kali seperti pasien lainnya. Dengan durasi cuci darah sekitar 5 jam. Belum proses tempuhnya, pulang perginya serta lemasnya pasca cuci darah. Berbeda dengan HD alias cuci darah CAPD ini dilakukan sendiri, di rumah, atau dimana saja tempat yang memungkinkan. Misalnya saat travel, bisa melakukannya di mobil, di hotel dll. Kualitas kesehatan juga dirasa Pak Sandi jauh lebih baik dibanding ketika ia masih melakukan cuci darah.

Kisah Inspiratif, Perempuan Kuat Penderita Gagal Ginjal

Kisah Pak Sandi ini dipaparkan pada saya, ia di kediamannya di Bekasi dan saya di Inggris. Pak Sandi bercerita banyak. Awal ini terdeteksi GGK, diketahui secara tidak sengaja karena sebuah kecelakaan kerja. Disaat itulah ia diperiksa general check up dan baru diketahui bahwa ginjalnya sudah tidak berfungsi normal.

Dokter menyarankan untuk segera cuci darah, tapi ia menunda hal itu karena merasa tidak percaya. Seminggu kemudian kondisinya makin parah, mual dan muntah hebat, padangan kabur alias tidak bisa melihat beberapa menit. Setelah dilarikan ke Rumah Sakit saat itulah ia merasakan pertama kalinya cuci darah. Terpuruk sangat pastinya. Itu terjadi selama berbulan-bulan di awal vonis GGK. Beruntung ia menemukan KPCI (Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia). Dari sana ia mencoba penyembuhan dengan transplantasi, tapi gagal.

Akhirnya ia memutuskan untuk CAPD. Selalu ada hikmah dari semua kejadian. Gara-gara CPDA sekarang ia memiliki usaha penyedia perlengkapan/peralatan CAPD.

Video Lengkapnya bisa kamu kepoin disini:
Gara-gara Gagal Ginjal, Bapak Ini Jadi Punya Usaha