All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Seram! Hantu-hantu Bergentayangan di Bandung.

foto seram

Pocong, kuntilanak, genderewo, nenek lampir, valaks dan masih banyak lagi jenis hantu lainnya biasanya hanya kita temukan dalam cerita ataupun film horor. Tapi, di Bandung kita bisa temukan mereka bergentayangannya di jalanan.

Ya, di Jalan Asia Afrika yang terkenal akan sejarahnya, Konferensi Asia Afrika, kita akan banyak temukan hantu berkeliaran di sana. Saat malam hari, antara lampu temaram, lalu lalang orang dan hantu-hantu bergentayangan ada rasa takut tapi juga seru.

Bagi sebagian orang mungkin itu menakutkan. Apalagi ada hantu-hantu yang berdiri di pojokan sudut temaram. Tapi ada juga orang-orang yang merasa senang seru-seruan. Ya, karena berbagai jenis hantu itu bukan hantu betulan. Melainkan hantu-hantuan. Alias para pekerja kreatif yang bisa memanfaatkan moment.

Kerennya, semua hantu tersebut berkostum, berakting dan ber-make up total. Jadi, melihat hantu-hantu tersebut, seremnya dapet, ngerinya berasa.

Sebagai kota yang memiliki banyak objek wisata, wisata hantu di seputaran Jalan Asia Afrika ini bisa dijadikan destinasi kunjungan kamu saat melancong ke Bandung. Biasanya, wisata hantu ini amat ramai di akhir pekan. Bahkan, hingga tengah malam lewat. Namun, buat kamu yang mau menjajal Jalan Asian Afrika selain akhir pekan juga gak papa. Karena aneka jenis hantu tersebut hadir setiap malam demi menghibur para wisatawan.

Tak hanya berbagai jenis hantu, di sinipun kamu bakal temukan banyak  superhero. Batman, Superman, Power Ranger dan masih banyak lagi karakter superhero lainnya. Seperti halnya si hantu-hantuan, superhero ini berkosum total pula, plus masker dan aksesoris pendukun lainnya. Bahkan sampai ada yang kostunya menyala-nyala layaknya robot beneran. Pokoknya, TOP banget buat akang-teteh hantu dan superhero Kota Bandung yang total dalam bekerja. Jempol!

Meski hantunya seram-seram dan superheronya sok gagah dan sok jaim, tapi semuanya ramah dan asik untuk diajak berfoto bersama. Tak lain untuk menyenangkan para pengunjung.

Oiya, untuk mengapresiasi hantu dan superhero yang kita ajak selfie tersebut, jangan lupa isi kotak rupiah yang mereka sediakan. Karena itulah mata pencaharian mereka.

Jalan-jalan pada Sabtu malam ke Jalan Asia Afrika yang saya lakukan ini terjadi tanpa sengaja. Setelah ngupi-ngupi di salah satu cafe Jalan Pasteur Bandung, saya diajak ke sini. Diluar dugaan, ternyata, wisata hantu ini seru juga. Secara, hangout sampai malam, di kota kelahiranku sendiri. Duh, Bandung banyak berubah. Secara, setiap mudik ke Bandung gak pernah kelayapan sampai semalam ini. Soalnya, setiap mudik bawa pasukan lengkap, suami dan anak-anak 😀

Mau lihat seperti apa hantu-hantu Bandung itu bergentayangan? Ini dia liputannya:

Rekor! Perjalanan Indonesia-Inggris 2,5 hari.


Duh, semenjak balik dari tanah air penyakit mualku kambuh berkepanjangan.
Mual?
Iya mual.
Mualles buaget.
Males kutak-ketik, males nulis, sekaligus males ngeblog.
Tapi, mual ini harus kusingkirkan!

Dan akhirnya, kutulis jualah sisa cerita mudik kemarin itu.

Banyak yang ingin kuceritakan keseruan dan keharuan sebulan berada di tanah air, minus di tanah suci kurleb 9 hari.

Tapi, dari sekian banyak cerita seru, haru dan syahdu itu ada cerita yang paling heboh dan drama banget.

Bayangin!
Baru kali Ini saya alami (semoga tak terulang lagi) perjalanan terperpanjang Indonesia-Inggris 2 hari setengah. BTnya..
Tapi, gimana lagi. Bukankah semua ini sudah ada yang mengaturnya, iya kan?

Awal kisah….

Hari terakhir di Tanah air yang sedianya berakhir manis malah dramatis.

Diawali isu penutupan jalan tol Cipularang karena jembatan Cisomang bergeser, maka saya pun memperkirakan Bandung – CGK 10 jam (sesuai info dari perusahaan jasa angkutan).

Ternyata, isu tersebut hanya berlaku bagi kendaraan besar alias bus. Memang, kedatangan saya dari CGK-BDG sebulan lalu pake Bus Prima Jasa. Nah, pulangnya ini BDG-CGK pake Prima Jasa Shuttle. Jadi si mobil isi 8 penumpang ini boleh masuk tol Cipularang. Waktu tempuhnya pun bisa dibilang lancar jaya. Bandung – Bandara Soeta aka CGK hanya 3 jam saja. Walhasil, waktu yang sedianya saya anggarkan 10 jam tersisa 7 jam.

Hmm… ngapain dulu ya?…

Tiktok.. tiktok.. tiktok… 7  jam saya lalui.

Tibalah saatnya check in. Sepertinya saya adalah penumpang yang paling awal check in.

Dan, di sinilah drama dimulai. Eng.. ing.. eng…

Di counter check in…
Dua koper gede udah ditimbang, sambil saya menyerahkan passport pada mas-mas yang baik hati dan ramah. Eh ternyata, doi bilang maksimal 32 kg lebih dikit cingcai lah…
Asik… isi koper kabinpun saya brudulin lalu masukin yang berat-berat ke kedua koper itu.

Saya       : “Wah, totalnya 32 kilo lebih ya mas?” tanya saya.
Petugas: “Iya, bu. Gak papa kok,” ujarnya.
Sejurus itu, saya sodorkan passport lalu kemudian membereskan kembali koper kabin yang berantakan.

Petugas : “Sudah Permanent Resident (penduduk tetap di Inggris), ya bu?”
Saya        : “Iya,” ujar saya sambil lalu karena masih beberes.
P : “Boleh lihat kartu Permanent Residentnya?”
S : PRnya (Permanent Resident ID) tidak berupa kartu mas. Tapi tertempel di passportnya.
Saya masih sibuk beberes sesekali ngeliat si mas petugas yang nampak kebingunggan membolak-balikkan passport ijo saya.

Akhirnya mas petugas nyerah. Sedangkan saya begitu tenang dan PD.
Sekali lagi si mas petugas itu bertanya. Sekali lagi pula saya menjelaskan kalo stiker PR saya ada di sana. Di passport ijo saya tersebut.

Tapi.. sebentar!
Kok, passport saya tipis ya?
Bentar.. bentar… sekarang giliran saya yang binggung pleus panik.

P : “PRnya sebelah mana, buk?”
S : Ya Allah, Ya Rabb, Astagfirullah..
Jantung berdebar, badan memanas, keringetan saya, lutut lemes, bibir pecah-pecah.. lol! yang terakhir mah gak termasuk.

Yang jelas saat itu saya pengen teriak, seteriak-teriaknya. Sempet ajrut-ajrutan dan mengekpesikan kekesalan saya di depan konter check in tersebut. Untung kosong. Dan si mas petugasnya paham betul kondisi saya.
Sekarang saya panik dan bingung, sementara si mas itu tenang dan menenangkan.

Kilas balik…

Jadi, salah satu syarat menjadi Permanent Resident Inggris itu adalah selambat-lambatnya sudah menetap di Inggris selama lima tahun berturut-turut. Nah, di tahun 2011 kami sekeluarga sudah mendapatkan itu. Sebetulnya saya masuk UK tahun 2007, tapi hitungannya mengikuti suami yang masuk UK duluan.

Adapun bentuk PR ID tersebut berupa stiker yang ditempel di passport. PR berlaku tanpa batas. Tapi kalau passport (Indonesia) ada batas waktunya yang tentunya harus terus diganti/diperpanjang.

Nah, selama masa itu, kami beberapa kali ganti/perpanjang passport. Dan selama itu pula jika kami keluar masuk UK-Indonesia, passport terbaru dan passport lama yang ada stiker PRnya selalu bersama bagaikan kembar siam 😀
Tapi karena satu dan lainnya hal (ceritanya panjang) dua kesatuan passport saya itu terlepas satu  sama lain, bagai si kembar yang terpisah 😀 😀

Jadi, PR ID ini ibarat kunci kita masuk kembali ke negara pemberi PR.
Dimana dalam hal ini adalah negara Inggris.
Jika misalnya memaksa tetap berangkat. Dari Indonesia bisa saja memberangkatkan kita. Tapi begitu sampai di Inggris kita gak boleh masuk Inggris.
Lah gimana dong.

Passport
Nah, gara-gara selembar ID ini lah cerita ini berawal 😀
Beginilah penampakkannya Permanent Resident atau Residence Permit.
Foto diambil saat transit di Bandar Abu Dhabi.

Anyway, Sekarang saya harus pegimana?!£$%£
Kembali panik.

Saya       : “Jadi mas, PR saya ada di passport lama saya.”
Petugas : “Lalu, passport lamanya dimana, buk.”
S : “Itu dia!” ehmmm…
P : “Coba ibu ingat-ingat lagi. Dimana ibu menyimpannya?”
Hmmm..
Hmmm..
Saya raba ransel, koper kabin, saku-saku jaket, saku celana (ya gak mungkin laya..)
Hmmm…

P : “Mungkin di koper ini?” Si mas menunjuk koper item, saya menggeleng. Mungkin di koper ini?” dia menunjuk koper merah, saya tetap menggeleng.
Sejurus itu berpikir keras lalu sedikit-sedikit terlintas terang.
S : “Oh… yakin ketinggalan ini mah.”

P : “Ketinggalannya dimana buk?”
S : “Bandung!”
Tepok jidatt!

Sementara itu saya minta waktu untuk berpikir dan menelpon kakak di Bandung memastikan passport saya ada di sana.

Dan, benar adanya.
Duh, rasanya pengen nangis berguling-guling di lantai.

BDG – CGK 3 jam sob. Jadi musti pegimane?

S : “Mas, saya bisa rebook gak? Biar nanti saya bayar biaya rebooknya.”
P : Turkish Airline, penerbangannya hanya sehari sekali dan hanya di jam ini (jam 9 malam). Rebook ganti hari besok mau? Bentar saya ke bagian tiketing dulu.
Dan dua stiker labeling untuk koper bagasi itupun disobek di depan mata.
Itu artinya si mas itupun memberi sinyal gagal terbang saya. Hiks!
Sakitnya tuh di sini!
*nunjuk dompet*

Beberapa menit, diantara bengong, kosong, kesel, BT, bingung gak jelas, si mas nyamperin.
P : “Gak bisa rebook buk. Soalnya ibu beli tiketnya tiket promo.”
S : “Ealah iyah!” saya mangap. “Kalau begitu, alternatif lainnya gimana?”
P : “Ibu beli tiket baru untuk penerbangan hari ini.”
S : “Berapa?”
P : “14 Jeti.”
Lah, tapi kan buat apa juga dong ah.
S : “Kalau untuk besok?”
P : “Kalau untuk keberangkatan besok, 17 jeti.”
S : Hmm.. berikan saya waktu untuk berpikir dan menepi dari kekalutan ini. Eaaa..
(wkwkw.. ini mah drama sinetron indonesia dengan berbisik dalam hati)

Dan akhirnya si mas itu melepaskan dua koperku nan besar. Lalu saya berjalan lunglai menuju pojokan ruang yang amat luas itu. Kemudian saya ndeprok dipojokan sambil buka leptop, hape dan kontak-kontakan suami di seberang sana (cukup drama kah?) 😀

Keriweuhan itu diselingi telpon-telponan dengan saudara/i di Bandung ngomongin teknis pengiriman passportnya. Ralat, WA’an. Beruntung inet bandara gratis dan kenceng.

Jangan tanya betapa serunya perbincangan dan diskusi kami, saya dan suami, saya dan keluarga di Bandung, suami dan keluarga di Bandung. Mulai dari A sampe Z, mulai dari sebab musabab, sibuk mencari tiket murah, membandingan satu maskapai dengan yang lainnya, booking online, minta data ini itu.

Belum lagi masalah bagaimana dan kemana malam ini saya habiskan hari. Beberapa info saya dapatkan, menginap di hotel bandara 750k, di Ibis terdekat 350k, di hotel berjarak 25 menit bermobil dari bandara 290k. Jatuh pilihan, pada penawaran adik ipar.

Dari A sampai Z itupun beres. Tiket didapat. Harganya lebih murah dari yang ditawarkan bagian tiketing. Passport mau dianterin ipar, dari Bandung jam 1 malam, pakai kereta, perkiraan nyampe subuh. Saya akan bermalam di Tangerang.

Asiknya bertaksi ria, 200k kenyang! 😀

Dari Bandara ke rumah emak (tempat saya menginap, mertuanya adik ipar) ada drama lagi. Diajak muter-muter sama tukang taksi. Waktu yang sedianya kata adik ipar sekitar 15 menit menuju rumah emak, jadinya sekitar setengah jam lebih. Entah supir taksinya ngak apal jalan, entah.

Pa supirnya udah tua, taksinya gak dilengkapi GPS, bahkan ia gak tau apa itu GPS. Saya gak pake taksi berbasis aplikasi karena gak punya nomor Indonesia, akibat ketinggalan di hotel waktu ganti nomor Saudi saat umroh lalu.

Oiya, tentang cerita umroh, saya kasih linknya di bawah. Betapa mimpi itu menjadi nyata. Setahun mengumpulkan rupiah, dengan kuasaNYA, Alhamdulillah, saya sekaligus mengumrohkan bapak, Karena Allah  memampukan orang yang terpanggil.

Di dalam perjalanan pa supir tanya-tanya, saya pun tanya-tanya, walhasil malah jadilah curhat-curhatan tentang hidup. Hidup dia berat. Apalagi sejak adanya saingan taksi berbasis aplikasi. Keluarganya kembali ke kampung dan sebagianya dan sebagainya.

Meski hati lagi dongkol tapi saya masih bersyukur. Kami sekeluarga masih bisa berkumpul bersama. Kadang kita merasa susah, padahal banyak orang yang lebih susah. Ngobrol udah ngalor-ngidul tapi ngak nyampe-nyampe juga nih.

“Kok kita ngak nyampe-nyampe ya, pa?” tanya saya.
Si taksi nyasar (mungkin) dan kami 4 kali bertanya pada  pedagang-pedagang pinggir jalan. Hadeuhh… jauh kali perjalanan kita nih!
Tapi, ya, dinikmati aja.

Ini kali kesekian saya ke rumah emak. Terakhir ke sini, waktu anak sulung saya masih kecil, sekarang dia udah mau lulus kuliah 😀
Bayangin, patokannya pesan WA yang terputus dengan info yang gak jelas. Karena ngandelin inet bandara tadi.
Patokan lainnya mesjid. Saya ingat betul dulu pernah sholat di mesjid itu. Hadeuh….
Anehnya meski daerah sana makin padat, malam nan gelap, mesjid kesilep toko-toko, alhamdulillah sampai juga.

Di argo tercetak nyaris 140k, ditambah tol, parkir bandara, saya paskan jadi 200k.
Dan pa supir itupun senang.
Semoga Allah berkahi pa supir yang banting tulang hingga larut malam.
Semoga berkah!

Jakarta panas.
Eh, Tanggerang bukan Jakarta kan ya?
Tapi keluarga kami kalo ke rumah emak  bilangnya Jakarta 😀

Nyampe sudah larut, untung tukang sate depan rumah masih ada. Makan sate kambing (berlemak pula), pake lontong, bumbu kacang, sambil ngobrol segala rupa sama emak, sampe nyaris tengah malam, mandi ah..

Gerahnya minta ampun. Jakarta nyamuknya gendut-gendut. Tidur di kamar pake kipas angin malah tambah enggap. Tidur di kursi ruang tamu diserang nyamuk. Sampe bentol disana sini.
Alhamdulillah udah lama gak digigit nyamuk. Nyaris 10 tahun di UK gak pernah dicium nyamuk.

Pagi hari si passport berPR datang. Alhamdulillah.
Kucium itu passport dan kupastikan ditempelin dengan passport satunya lagi. Kalian bersatu ya.. jangan berpisah lagi, nanti aku susah lagi 😀 😀

Dari pagi hingga siang udah gak sabar pengen pulang. Jam 12 lewat dipesenin taksi berbasis aplikasi. Murah banget. Ke bandara cuman 55k. Mobilnya bagus, ACnya kenceng, mas supirnya ganteng 😀 pake GPS pula, jadi gak musti tanya orang pinggir jalan gitu..

Pamitan sama emak, makasih mak. Kapan-kapan jumpa lagi.
Cuss.. ke bandara.
Kali ini cuman makan waktu sekitar 15 menit doang.

Rasa deg-degan yang kemarin, terasa lagi, pas di konter cek in. Semua koper gak dioprek-oprek lagi semalam. Dua koper masuk bagasi sudah. Cek passport n PR, dikasih tiket boarding. Plong!
Alhamdulillah.

Karena kemarin cari tiket murah, jadilah rute kepulangan sekarang ini muter-muter. Gak papa deh. Yang penting sampai ke rumah dengan selamat.

Adapun rutenya sbb:
CGK – Abu Dhabi
Abu Dhabi – Dublin
Dublin – Birmingham
(Dimana masing-masing trasit waktu tunggunya 2-3 jam. Ehmm..)
Birmingham – Worcester

Perjalanan panjang itu, memerlukan perlengkapan travel yang nyaman.
Sepatu. Biasanya kalo saya traveling jauh seperti ini harus pake sepatu yang empuk dan nyaman.
Celana panjang yang nyaman. Saya sukanya pada celana PDL (apasih nama istilahnya, pokonya bukan celana blue jeans yang ketat, karena bikin sesak) Secara, perjalanan lama gituloh.
Ransel. Kalau traveling saya paling suka pake ransel. Bawanya praktis, gak ribet, bisa muat banyak barang. Banyak bagian-bagian sesuai peruntukannya. Seperti ransel Eiger saya ini. Di bagian dalamnya ada tempat khusus untuk laptop, tempat dokumen, tempat nyimpan barang-barang barang besar dan barang-barang kecil dan masih banyak bagian-bagian lainnya yang di desain sedemikian rupa sesuai kebutuhan kita.
Jaket. Barang yang satu inipun gak boleh ketinggalan saat traveling. Secara, biasanya di bandara dan pesawat itu dingin loh. Pas udah nyampe Dublin apalagi, brrr.. Jaket juga bisa multi fungsi kalo lagi transit gini, mau slonjoran, si jaket bisa dijadiin selimut, bisa juga dijadiin alas kepala klo mau rebahan.

Eh, ransel, jacket, sepatu dan celana Eigerku warnanya senada ya? coklat dan item, warna traveler banget, warna alami 😀
Foto diambil saat transit di Bandara Abu Dhabi, dini hari, ngantuk bok, hoaammm…

Eiger, perlengkapan traveling

Dan, Alhamdulillah, tibalah saya di Worcester, Kamis, siang hari.

Jadi kalau ditotalkan perjalanan saya ini 2,5 hari. Door to door, keluar rumah di Bandung Selasa pagi, tgl 3 Januari.  Nyampe Kamis siang, 5 Januari. Inilah perjalan terpanjang Indonesia – UK yang saya alami. Rekor. Semoga tak terulang lagi.

Pesan moral:
So, buat kamu yang udah dapat PR, jangan sampe ketinggalan passport lamanya ya… 😉

Oiya, dan tentunya, semua yang kita alami ini adalah KuasaNYA. Yakin, pasti ada “sesuatu” yang ingin IA sampaikan kepada kita.

Karena Allah Memampukan Orang Yang Terpanggil

Setiap kali ada teman dan kerabat pergi ke tanah suci, setiap kali itu pula rinduku menuju rumah Allah membuncah. Kapan giliranku?

Setiap kali kudengar kalimat Talbiyah, setiap kali itu pula hatiku bergetar. Kapan giliranku.

Setiap kali musim haji tiba, setiap kali pula hatiku berbisik. Kapan aku bisa merasakan duduk bersimpuh memohon doa dan segala pinta pada Robbiku Yang Maha Agung di Padang Arafah.

Hasrat yang amat sangat itu, rindu yang membuncah itu, keinginan yang tak tertahankan itu kusimpan dalam hati dan kusampaikan pada Robbiku di ujung sholat, diselip doa.

“Rabb, ijinkan aku menapaki tanah harammu. Ijinkan aku melaksanakan rukun islam yang kelima. Jikapun jalan itu masih jauh, umrohpun tak apa YA Rabb. Ijinkan aku pergi bersama keluargaku ke sana. Ke rumahMU Ya Allah. Tapi Rabb, untuk saat ini, aku hanya punya niat, hanya punya keinginan, hanya mimpi, harapan dan cita-cita. Meski rasanya tak mungkin, tapi aku yakin Ya Rabb. Engkau Maha Pemberi. Maha Kaya. Maha Kasih. Maha Penyayang dan ke-Maha-an lainnya ada padaMU. Maka dari itu Ya Rabb, aku yakin benar suatu saat masa itu bakal sampai. Meski entah kapan dan bagaimana cara dan jalannya.”

Waktu itu, aku tak tahu jika pintu itu KAU bukakan. KAU pertemukan aku dengan seseorang, dua orang, tiga orang, dengan hoby baru, melalui sebuah media. Aku menjalaninya dengan suka hati. Kupikir, KAU beri aku kegiatan baru ini hanya sebagai pengisi waktu luang semata. Tapi rupanya KAU punya rencana lain. KAU buka jalan atas segala doa, mimpi dan harapanku.

Satu per satu hobiku berbuah manis. Tak hanya pengalaman, ilmu, pertemanan, networking, silaturahim tapi juga rupiah. 1-2, 3-4, 5-6 semuanya kukumpulkan perlahan. Dan angka-angka itu kian bertambah. Alhamdulillah.

Tak harus menunggu lama (menurut hitunganku). Tak terlalu bersusah payah pula (menurutku) penjemput rezeki itu. Jika semisal harus pergi jam 4 subuh ke London demi mencari bahan liputan itu bukan sebuah perjuangan besar buatku. Karena menurutku itu adalah rangkaian ibadah. Sebuah proses. Begitupun ketika lelah tetapi harus tetap senyum manis di depan kamera, tetap kujalani. Karena aku yakin di sana ada berkah.

1-2, 3-4, 5-6, 7-8 … seterusnya. Kupikir, ini hanya cukup untukku. Tapi KAU beri lebih. 30-40-50 dan seterusya. Ternyata KAU beri kesempatan padaku mengajak lelaki yang membesarkanku, bapak.

Ia yang dulu sering memboncengku dengan motor vespanya. Ia yang dulu sering mengajakku meliput dan memoto kegiatan kantornya. Kadang kupikir, apa yang kulakukan ini, nyaris 11-12 seperti yang dilakukannya dulu. Senang jalan, senang moto, suka meliput, suka silaturahim, suka belajar sesuatu yang baru. Hanya beda waktu, beda media, beda kepentingan. Jika mediaku NET_CJ maka bapakku sebagai HUMAS PEMDA Bandung aka kantornya Kang Emil lebih ke kegiatan Pemerintahan Kota Bandung dengan koran lokalnya.

Anyway, apapun itu, terima kasih Ya Rabb, telah KAU perkenankan aku melakukan perjalanan ini dengan lelaki yang dulu sering memboncengku dengan motor vespanya, insyaAllah.

Terima kasih Ya Rabb telah KAU tebalkan imanku. Semoga nanti, dengan ijinMU dengan kehendakMU, dengan RidhoMU, rukun islam ke-5 bisa kutunaikan bersama keluargaku. Aamiin Ya Rabbalalamin.

Karena “ENGKAU memampukan orang yang terpanggil”

Kisah inspiratif umroh

“Allah Tidak Memanggil Orang Mampu, Tetapi Allah Memampukan Orang Yang Terpanggil”

Hatur nuhun MAZQ, semoga perjalanan kita dimudahkanNYA. Aammin YRA.

Makasih NETMEDIATAMA, Anda adalah media penyambung jalanku ke Tanah Haram.

Sertakan doa dalam setiap harap dan keinginan kita. Karena Allah Maha Mendengar, Maha Pemberi, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan ke-MAHA-an lainnya.