All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Unik, Winter Garden Sajikan Konser Musik Tiap Minggu

Di inggris banyak terdapat ruang terbuka hijau berkonsep taman yang disediakan bagi warga sekitar. Tidak hanya di kota-kota besar, keberadaan taman sebagai tempat berinteraksi warga ini merata hingga ke desa. Seperti di Malvern. Sebuah kota kecil yang penduduknya hanya 30.000 jiwa saja, terletak sebelah Barat Daya Birmingham.

Baca juga tentang Misteri Sumber Mata Air Abadi di Malvern Hills berikut ini.

Dari sekian banyak taman kota di Malvern, Winter Garden salah satunya. Taman kota nan luas ini dilengkapi playground (sarana bermain anak) dan kolam ikan yang banyak dihuni unggas.

Baca juga unggas-unggas korban banjir di Inggris.

Yang unik dari winter garden ini, setiap musim panas selalu menyajikan konser musik yang rutin digelar setiap hari minggu. Dimana band pengisi konser berasal dari berbagai komunitas yang ada di kota Malvern. Baik dari kalangan komunitas anak muda maupun kalangan ibu-bapak. Adapula oma-opa atau kaum pensiunan yang berpartisipasi dalam konser ini. Bahkan sering kali pula, antara kaum muda dan kaum tua berkolaborasi dengan serasi.

Genre musik yang disajikan lebih ke musik yang slow. Diantaranya musik jazz. Adapun pemilihan lagunya kombinasi antara lagu tempo dulu dan lagu kekinian. Walau tetap dipilih yang ritme slow. Tentunya agar bisa dinikmati oleh penonton yang didominasi kaum oma-opa.

Pemain musik beraksi di gazebo yang letaknya di tengah taman. Sementara itu penonton duduk melingkar santai menghadap gazebo. Ada yang duduk-duduk di atas rumput nan hijau. Ada pula yang membawa kursi lipat dari rumah.

Cuaca yang hangat bersahabat serta suasana penuh keakraban bertambah asik ditemani musik. Konser digelar siang hari. Sesi pertama berdurasi sekitar 1-2 jam kemudian istirahat lalu disambung sesi kedua dengan durasi yang tak jauh beda.

Tak lama memang, tapi cukup menghibur warga. Sehingga hari minggu adalah hari yang dinanti untuk berkumpul di sini. Meski konser usai, tak lantas semuanya bubar. Ada yang meneruskan berjemur sambil membaca buku. Ada yang meneruskan piknik sambil gelar kain dan makan siang di sini. Ada pula orang tua yang lantas mengasuh anak-anaknya bermain di playground atau sekadar memberi makan unggas-uggas.

Itulah salah satu fungsi taman di sini. Sebagai sarana hiburan warga, berinteraksi,  bercengkerama sambil menikmati musik.

Satu hal yang paling penting, setiap akhir konser ditutup dengan lagu kebangsaan Inggris “God Save The Queen” Dimana semua pononton langsung berdiri meski tak ada instruksi. Kami berdiri tegak dan khusuk  menyanyikan lagu ini hingga usai.

Oiya, semua pembiayaan konser rutin ini sepenuhnya didanai kas Pemkot Malvern yang tentu saja sumbernya berasal dari pendapatan pajak penduduk Malvern. Sebuah timbal balik yang baik kan? Pemerintahnya baik, warganya happy.

Dan inilah penampakan Winter Garden di sebuah minggu yang cerah musim panas kemarin, ketika kami bernostalgia di kota pertama yang kami tempati, Malvern yang damai.

N10. N43Rosmel14012016.

Banjir Inggris Sajikan Pemandangan Lain

Beberapa hari belakangan, Inggris bercurah hujan tinggi. Hal ini menyebabkan banjir di beberapa daerah. Kota Worcester salah satunya, kota tercinta tempat tinggal saya sekarang ini.

Worcester dilalui Sungai Savern yang merupakan sungai terpanjang di Inggris Raya. Keindahan Sungai Severn yang melintas di tengah kota ini menjadi daya tarik wisata. Sayangnya, jika curah hujan tinggi, sering kali sungai cantik ini meluap. Meski demikian, banjir yang diakibatkan luapan air sungai hanya menggenangi rumah-rumah di sekitaran pinggiran sungai saja.

Dampak lainnya dari banjir ini adalah tak ada lagi tempat yang aman dan nyaman bagi para unggas yang habitatnya di pinggiran Sungai Severn. Akibat luapan banjir, bibir sungai sudah tak terlihat lagi. Bahkan sebagian pagar besi di sepanjang pembatas sungai pun nampak terendam. Ditambah arus sungai yang begitu deras menyebabkan unggas-unggas itu bermigrasi ke tempat-tempat yang lebih aman dan lebih nyaman. Diantaranya menyerbu lapangan cricket dan lapang pacuan kuda yang tak jauh dari Sungai Severn.

Lapang cricket dan lapang pacuan kuda yang semula berupa daratan kering kini tergenang seperti danau buatan. Hal ini menjadi habitat baru bagi unggas-unggas tersebut.

Selain itu, banyak pula unggas (terutama angsa) yang  menepi ke daratan, memenuhi pinggiran jalan. Juga menyerbu taman kampus Worcester College yang letaknya tak jauh dari bibir Sungai Severn.

Selalu ada sisi lain dari sebuah kejadian, bukan? Melihat ratusan unggas merapat ke pinggiran jalan dan memenuhi taman kampus, ternyata menghadirkan pemandangan lain yang asyik untuk disaksikan. Banyak warga yang mengabadikan pemandangan langka ini. Begitupun saya. Saat hari Minggu kemarin, sengaja saya menuju pusat kota yang letaknya tak jauh dari kampus Worcester College. Tak lupa saya membawa bekal makanan untuk unggas-unggas. Berupa roti sisa kemarin 😀

Sesampainya di sana, rupanya sudah ada beberapa orang yang melakukan hal serupa. Ada oma-opa, ada pasangan suami-istri, ada keluarga bersama anak-anaknya. Apa yang mereka lakukan? Tak lain untuk melihat pemandangan langka ini dan tentunya untuk memberi  makan unggas-unggas yang kelaparan dan kedinginan. Terutama Angsa yang tidak bisa terbang. Jika burung dara, masih bisa terbang dan mencari makan di tempat lain. Sedangkan angsa?

Satu hal lain yang bisa digarisbawahi banjir di sini bukan karena penuhnya gorong-gorong oleh sampah yang memadat. Bukan pula karena sungai yang dipenuhi oleh material sampah, tapi karena murni karena curah hujan yang tinggi, sedang sungai pun tak mampu menampung air hujan sebanyak itu.

Karena banjir diakibatkan oleh curah hujan tinggi bukan karena campuran sampah, maka air banjir di sini tidak disertai sampah. Dan tentunya tidak mengganggu pemandangan serta tidak kenyamanan para unggas.

N10. N42Rosmel.12012016

 

Zebra Cross Paling Fenomenal se-Dunia

Gilak! Apa sih hebatnya penyebrangan ini? Nyaris setengah abad, masih aja orang-orang dari seluruh dunia wara-wiri di zebra cross yang terletak di London ini?

Abbey Road Studio London

Sejak awal The Beatles yakin karirnya tak mungkin berkembang pesat jika tinggal di kota kelahirannya, Liverpool. Maka dari itu, mereka sepakat untuk hijrah berkarir di London.

Benar saja, di London The Beatles menapaki karir cemerlang dan meroket cepat. Salah satu saksi kesuksesan The Beatles tak lepas dari peran Abbey Road Studio. Ya, di studio inilah belasan album The Beatles lahir hingga booming.

Keterkenalan The Beatles meluas ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Dari sekian belas album The Beatles, satu diantaranya bertajuk Abbey Road yang berisi 10 lagu. Termasuk yang berjudul “come together” dan “here comes the sun”Tau dong lagu itu.. iya kan?

Yang menarik dari album ini adalah cover albumnya mengambil tempat di penyeberangan jalan perempatan Abbey Road, tak jauh dari Studio Abbey Road berdiri. Album ini rilis pada 26 september 1969 sekaligus merupakan album terakhir yang direkam di Abbey Road Studio hingga akhirnya The Beatles bubar pada tahun 1970.

Meski 45 tahun telah berlalu, eh, 46 ya? wah, nyaris setengah abad, namun magnet The Beatles masih kuat.  Terbukti lagu-lagunya masih banyak dinyanyikan orang. Bahkan Studio Abbey Roadnya itu sendiri plus zebra cross yang ada di sebelahnya itu masih jadi magnet pengikat wisatawan yang bertandang ke London. Mereka datang dari berbagai negara dan berbagai usia. Mulai dari oma opa hingga anak muda. Padahal ketika The Beatles lagi hit-hitnya mereka belum brojol. Mungkin pula, jamannya The Beatles berjaya, mama-papa mereka masih SD. Atau mungkin, Hitnya The Beatles di medio 60-70’am itu jamannya opa oma mereka remaja 😀

Dan, hingga kini penyeberangan jalan abbey road yang pernah ditapaki the beatles ini masih ramai dijadikan spot berfoto para turis. Tidak summer, tidak winter, tidak panas, tidak dingin, mereka rela mendapat giliran berfoto di tengah jalan yang sebetulnya cukup padat. Namun demikian, para pengendara di jalur ini mengerti akan keinginan para turis tersebut. Mereka rela menunggu hinga acara berfoto ria selesai lalu melaju.

Penyebarangan ini tidak ada lampu stopannya namun ada lampu kuning kedip-kedip. Artinya, kapanpun, pejalan kaki diperbolehkan menyeberang di zebra cross ini. Kami menyebutnya pelikan cross, walaupun makna bergeser beda. Hal itulah makanya pengguna kendaraan bermotor yang lalu lalang di sini lebih mengutamakan penyeberang jalan.

Hmm.. seolah penyebrang jalan adalah raja, ya? Oleh karena itu, buat kamu yang nanti mau melancong ke sini, jangan ragu untuk bergaya. Tenang-tenang saja berfoto di sini sampai mendapatkan angle yang cantik dan pas seperti layaknya foto The Beatles untuk covernya yang berjudul Abbey Road itu.

Saat saya ke sana, minggu terakhir tahun 2015 lalu, banyak sekali turis manca negara. salah satunya adalah keluarga Mario dari Jerman yang berhasil saya wawancara. Sayangnya, Bahasa Inggris Pak Mario tidak lancar. Untung saja anaknya yang masih belia bernama Paula itu fasih berbahasa Inggris. Akhirnya microfon mini itupun beralih tangan pada Paula. Mau tau obrol-obrol saya dengan Paula? Intip aja di sini…

Ini adalah salah satu rangkaian video yang tayang di sini. Sepertinya, video inipun tayang terpisah di TV. Tapi belum ada versi youtubenya 😉

Ada Goa Raksasa di Kota Bristol

Banyak sebutan untuk goa yang terletak di Kota Bristol ini. Meski bernama resmi St Vincent’s Cave, Namun ada juga yang menyebutnya Ghyston’s Cave. Namun lebih terkenal dengan sebutan Giant’ Cave alias goa raksasa. Dinamakan demikian karena konon, menurut legenda setempat, goa ini pernah dihuni oleh dua raksasa yang bernama Goram dan Ghyston.

goa raksasa di Inggris

Menurut catatan sejarah, goa ini telah ada sejak tahun 305 Masehi yang berfungsi sebagai chapel dan tempat tinggal para petapa. Hal ini ditandai dengan ditemukannya tembikar bergaya Romawi-Inggris. Selain pernah menjadi tempat tinggal duo raksasa, pernah menjadi chapel dan tempat tinggal  para petapa, goa inipun pernah dijadikan tempat tinggal para pengungsi.

Giant’s Cave terletak di dalam perut batuan berjenis limestone. Untuk memasuki goa raksasa ini kita harus melewati Bristol Observatorium sebagai pintu masuknya. Dimana Bristol Observatorium ini berdiri sejak tahun 1766. Nah, pintu masuk goa ini berada di ruang bawah tanah Bristol Observatorium.

Ukuran lorong goa raksasa sempit sekali, hanya cukup seukuran badan. Maka dari itu, para pengunjung yang masuk dan keluar goa harus antri bergantian dengan tertib. Lorong goa yang sempit dan menukik ini panjangnya 61 meter.  Untunglah ujung goa memiliki area yang sedikit lebih luas.

Untuk kenyamanan pengunjung, goa raksasa dilengkapai lampu penerangan,  tangga yang nyaman serta pegangan tangan dari besi yang kuat. Jalan yang sangat curam pun jadi tidak begitu mencemaskan. Tetesan air dari langit-langit goa menambah kental suasana goa yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan manca negara.

Giant’s Cave dibuka untuk umum sejak tahun 1837. Untuk memasuki goa ini pengunjung dikenakan tiket masuk £2.5 atau sekitar 52.500 rupiah.

Giant’s Cave berada di kedalaman 76 meter Avon Gorge alias Ngarai Avon yang terletak di sebelah Barat Kota Bristol Inggris. Ujung goa berakhir di sebuah balkon bercat kuning. Letaknya tepat di bibir jurang Avon yang sangat curam dan mengerikan. Iyyhh… Tingginya saja 72 meter.

Namun jangan khawatir, balkon bermaterialkan besi ini aman untuk diinjak beramai-ramai. Begitu Anda berdiri di sini, tersaji indahnya pemandangan alam sekitar. Langit lepas, ngarai, tebing, jurang, Sungai Avon, jembatan dan ramainya lalu lintas jalan.

Satu pertanyaan saya, bagaimana bisa Goram dan Ghyston, si duo raksasa  itu bisa tinggal di goa ini? Padahal kan, untuk ukuran raksasa seperti mereka tentulah goa yang kami tapaki ini sangat sempit. Ehm… mungkin, mungkin bagian goa yang pernah mereka tempatin bukan di lorong/jalur goa yang sekarang menjadi objek wisata ini. Maksudnya, Ngarai Avon ini sangat sangat luas sekali. Ya.. kira-kira seluas kelurahanlah 😀 Jadi, mungkin duo raksasa itu tinggal di RT sebelah :v :v Entahlah. Ya… namanya juga legenda 😀

Terlepas dari legenda raksasa itu, yang jelas, goa ini patut Anda kunjungi jika nanti melancong ke Kota Bristol, Inggris. Lelah melewati lorong goa yang menukik tajam akan terbayar oleh pemandangan alam dari atas balkon Ngarai Avon yang indah.

Mau tau seperti apa penampakkan gua raksasa tersebut? Ini dia liputannya…

N5. N40Rosmel, 06012016