All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Menikmati siang nan hangat sambil galang amal

Sebagai negeri yang sering mendung ketimbang bertabur paparan matahari (kecuali summer), Inggris sangat memanfaatkan musim panas untuk acara-acara outdoor. Apa saja temanya, pokonya outdoor. Festival inilah itulah, pameran inilah itulah, kegiatan inilah itulah. Nah, salah satunya acara bertajuk Vintage & Craft Fair Gloucester beberapa waktu yang lalu.

Dengan mengangkat tema pameran barang antik, klasik dan sejenisnya, bertempat di Blackfriars acara amal ini dilangsungkan. Selain pameran juga ada hiburan musik di halaman belakang bangunan yang berdiri pada abad ke 13 ini.

Cuaca hangat, hiburan musik mengasyikan, sambil makan-makan ataupun duduk bersantai, pengunjung menikmati suasana rileks. Acara ini bukan tanpa tujuan, tapi dengan maksud untuk penggalangan dana bagi anak-anak berkebutuhan khusus di bawah Yayasan James Hopskins Trust dan digawangi oleh sebuah butik sebagai EOnya.

Pengunjung dikenakan tarif masuk £1 atau sekitar 21.500 rupiah per orang. Uang yang terkumpul akan disalurkan kepada Yayasan tersebut di atas.

Sambil menikmati suasana, tak lupa liput sana liput sini. Walhasil, mejenglah video misuaku di sini:
😉
*ogahrugimodeon 😀

N10 – NAS 5, 30092015

Orang Inggris Jualan Tempe

Hasil obrolan saya dengan William di sini, selanjutnya saya buat video CJnya. Sebetulnya, saya mewawancara beliau lumayan panjang. Cuman, karena terbentur jatah durasi, jadinya banyak dipotong.

Surprisenya, video CJ saya ini dimuat dua kali di NET TV. Satu di NET 5 (tayangan NET TV jam 5 subuh) dan tayanan NET 10 (jam 10 pagi). Keduanya tayang di hari yang sama. Senin, 21 Sept 2015.

Dan seperti inilah videonya:

*Tayang di N5, N10, N24, 21092015

Diantara wawancara panjang yang dipotong itu, William menjelaskan mengapa warungnya diberi nama Warung Tempeh. Bukan Warung Tempe.

Kata William, kalau ditulis “TEMPE” jatohnya di mulut orang Inggris jadinya “TEMP”. Anehkan?…

Makanya, ia menuliskannya Warung Tempeh. Supaya si “tempeh” keluar dari mulutnya orang Inggris jadi “Tempe” 😀

Satu lagi obrolan seru saya dengan William adalah ketika ia dapati telapak jempol saya berwarna biru bekas tinta.

Ketika diawal obrolan saya bilang, saya baru saja dari KBRI terus ke sini. William langsung bilang,
“Oh, pantesan, telapak jempolmu keliatan biru. Udah cap jempol ya?”
Lah, dianya tau….
Bener-bener deh, Will.
Abis itu dia cerita tentang Pemilu di Indonesia dengan pencelupan kelingking ke tinta biru dan bersambung ke obrolan lainnya lagi.

Ia tanya, “Kamu aslinya mana?”
“Bandung,” jawab saya.
“Wah, Bandung?!”

Seterusnya dengan seru dan antusias beliau menceritakan pengalamannya ketika tinggal di Bandung. Obrolan seru itu bergulir pada masa ia melamar kerja di TBI (The British Institute) dan mengajar di sana.

Hei! Sebentar! Ketika Will menyebut TBI, memori saya ikut terlempar ke masa itu. Sama-sama masa 90’an. Selain tempat kerja saya dekat TBI, saya pernah daftar belajar bahasa Inggris di sana, saya juga punya pengalaman lainnya terkaitTBI yang saat itu masih menempati gedung di jalan Riau.

Waktu itu, ulang tahun TBI kalau gak salah. Trus diadakan panggung hiburan dan bazaar makanan. Waktu itu kami buka stand jualan. Wuih… lakunya minta ampun, sampai diutnya di kresekin, hahaha….
Satu hal lagi, di panggung itu ada Mang Saswi. Kalian kenal Mang Saswi “INI TALK SHOW” gak? 😀
Dia seniman Bandung sejati loh. Aksi panggungnya gilak, seru, heboh dan keren.
Ah, kenangan itu!
Mas Will sih, ngebahas soal TBI. Memori saya jadi jauh terlempar ke masa muda deh 😀

Jl. Riau awal tahun 90’an kala itu masih lengang. Sekarang? wah, jangan tanya! Gila muacet! Penuh berjejal sama Factory outlet n wiskul n jadi tempat jajahannya para wisatawan dari Jakarta, iya ga? 😉

Liburan kemaren, saya udah gak ada napsu lagi buat wisata belanja di Bandung. Mendingan lari ke Garut, Banten, Bali n kemping di Burangrang 😀
Begitupun Will. Saat rangkaian kegiatannya terakhir kali ke Indonesia, ia memilih Ciwidey daripada ngabisin waktu di Bandung yang super macet itu.

Satu lagi obrolan saya dengan produser tempe ini, yaitu tentang tempe mendoan.
“Kenapa ngak jualan tempe mendoan?” tanya saya.

Tentunya kita tahu, tempe mendoan adalah salah satu olahan tempe yang banyak disukai orang Indonesia. William membenarkan. Tapi, buat orang Inggris sendiri, sejenis tempe mendoan itu lebih ke snack alias makanan cemilan. Bukan menu yang tepat untuk lauknya makan siang. Ehm.. bener juga sih.

Kalau kita kan bisa makan tempe mendoan pake nasi doang. Iya gak?
Tapi kalau buat orang Inggris, gak bisa. Orang Inggris tuh lebih senang menu makanannya lebih nyemek-nyemek. Maka dari itu, William menyajikan menu kari tempe kuning dan tempe jinten. Dan menu olahan tempe berbumbu rempah tersebut disukai para pelanggannya. Terbukti dua kuali olahan tempe tersebut ludes terjual pada jam 2 siang.

Sukses selalu ya, Mas Will! (Y)

Bule Jualan Tempe di London

William Mitchel

Setelah beres urusan memperpanjang pasport di KBRI London, saya menuju ke kawasan Leather Lane. Bukan tanpa alasan saya dan suami menuju area ini. Tujuannnya ialah menuju Warung Tempeh.
Warung Tempeh?
Maksudnya, Warung Tempe?
Yups.
Kenapa Tempeh?
Ceritanya ada di sini.

Dari Stasiun Bond Street, kami memakai kereta bawah tanah aka underground menuju arah Timur. Dalam belasan menit, turunlah kami di stasiun Chancery lane. Dibantu Google Map kami menyusuri jalan yang padat oleh area perkantoran ini. Tak berjarak lama, saya temui banyak kaum pekerja kantoran menenteng box/sterofoam makan siang. Ehm, tipikal kota metropolitan. Kaum kantoran yang sibuk. Belakangan saya tau, beberapa yang mereka tenteng itu adalah makanan olahan tempe. Itu terlihat dari kemasan boxnya.

Sementara itu, semilir daging bakar mengusik penciuman saya. Entah jenis makanan apa itu. Entah sate, atau burger, atau daging pagang, atau apalah apalah. Yang  jelas, ini aroma daging yang kena api, arang panas atau apalah apalah. Yang pasti, semilir ini aroma nikmat ini menyimpulkan, bahwa di seputaran area tersebut terdapat kawasan kuliner.

Benar saja, tiba di ujung Leather Lane saya temukan banyak tenda kuliner dengan sajian kuliner yang sangat beragam. Seperti kita tahu, London adalah tempat berkumpulnya para pendatang dari berbagai negara. Baik migran Eropa, Afrika, Asia, Arab dan sebagainya. Pokoknya segala etnik tumplek di London. Hal ini sangat mempengaruhi sajian kuliner yang ada di London.

Dan, hei! di ujung Leather lane tersebut berdiri Warung Tempeh. Semakin penasaran saya. Saya pun mendekat, ingin berbincang dengan si empunya warung. Wah, tapi beliau masih sibuk melayani pelanggannya.

“Bentar ya,” ujar Mas Will dengan ramahnya.
“Baiklah,” balas saya yang waktu itu baru saja makan siang. Jadi ngak sempat mencicipi tempenya Mas Will 😛

Waktu menunjukkan nyaris jam 2 siang. Dua kuali besar berisi olahan tempe Mas Will nyaris habis. Dengan cekatan beliau melayani pembeli sambil sesekali teriak kayak uda-uda Padang yang jualan pinggir jalan. Kurang lebih begini:
“Sapa mau.. sapa mau.. kari tempenya dikit lagi nih.”
Wkwkwkwk… itu terjemahan bebas, pake banget.
Pokoknya, intinya, Mas Will ini pedagang yang atraktif gitulah.

Tak lama saya menunggu, tempe olahan Mas Will benar-benar habis, bis! Ludes. Huffttt… dia narik nafas panjang sebelum saya wawancarai.
Saya sih bilang, “Mas Will makan aja dulu!”
Abis dia keliatannya capek gitu.
“Gak, ngak papa. Kasian kamu udah lama nunggu jawabnya ramah.”

Mulailah saya tanya-tanya beliau. Kenapa tertarik untuk memproduksi sekaligus berjualan tempe dan tanya-tanya hal lainnya.

Jadi, waktu dia muda (doi yang bilang loh ya) :D, pada tahun 1995 alias 20 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya William menginjak tanah air kita. Di saat itulah ia mulai kenal tempe dan suka sekali dengan makanan penuh protein ini.

Setelah berkarir sebagai guru Bahasa Inggris selama tujuh tahun ia kembali ke Inggris. Setelah kembali ke Inggris, seiring berjalannya waktu, ia kangen tempe. Ia rasa, tempe yang ia konsumsi di Inggris tak seenak tempe yang pernah ia makan di Indonesia. Keinginannya untuk menikmati tempe yang sesuai cita rasa tempe asli Indonesia makin menjadi. Akhirnya, seiring berjalannya waktu pula, terlintaslah dalam pikiran Will, “Kenapa saya ngak memproduksi tempe sendiri aja? yang sesuai dengan cita rasa tempe asli Indonesia?”

Untuk mengeksekusi mimpinya, ia sengaja bertandang ke Indonesia dan berguru kepada para pakar tempe 😀 aka bapak/ibu produsen tempe yang ada di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setelah kurang lebih enam bulan di Indonesia, pria yang fasih berbahasa Indonesia ini kembali ke Inggris dan mempraktikkan ilmunya tersebut.

Di setengah tahun pertama, ia jatuh bangun merintis usahanya. Ia memproduksi tempe, sekaligus berjualan olahan tempenya tersebut. Hal terberat dalam merintis karirnya adalah saat memperkenalkan makanan asing ini kepada Londoners. Apa sih tempe? Dari mana itu? rasanya seperti apa?

Namun, lama-kelamaan, tempe olahan William disukai Londoners, terutama mereka yang berada di kawasan perkantoran dekat Leather Lane tersebut.

Dan sekarang? Lewat jam 2 siang, tempe olahan Mas Will udah ludes. Padahal mulai jualannya jam 11. Jadi kalau mau jajan di warungnya Mas Will jangan lewat dari jam 2 ya..

Obrolan saya dengan William kala itu berlangsung lumayan lama. Kami berbincang segala hal. Mulai dari membicangkan pertempean, hingga pengalaman-pengalaman serunya selama berada di Indonesia. Sampai kami ngakak-ngakak karena beberapa hal. Salah satunya ketika saya mencoba mikrofon sebelum mulai mewawancara beliau. Spontan saya bersuara,
” halo.. halo.. tes.. tes ….”
Orang indonesia emang gitu ya? 😀

Diluar perkiraan saya, William ngamber ikutan,
” testing.. testing…,” mulutnya nyosor ke mik saya.
Hahaha.. kami ngakak.
Seterusnya, “Testing … testing… 1 2.. 1 2…” sambil kami ngakak-ngakak.

“Wah, kenangan banget tuh!” papar William yang terus aja testing.. testing.. 1 2.. 1 2.. sambil tangannya dikepal seolah lagi pegang mik. Sambil diketok-ketok pula itu kepalan tangannya menekspresikan seolah lagi pegang mik.

“Apalagi kalau di kampung ya? Satu orang testing.. testing.. yang lain ikut-ikutan naik panggung dan ikut-ikutan testing.. testing juga….,”  ngakak lagi deh.

 

Kalau tak ingat waktu, mungkin obrolan kami semakin panjang lebar. Tapi saya tahu, pastinya William sudah letih karena ia terbiasa bangun di awal hari (begitu katanya). Lagi pula William mulai mengkhawatirkan dengan patner kerjanya yang sedari tadi bebenah tutup warung.
“Liat tuh, dia udah cemberut,”  William menunjuk mitra kerjanya, mas bule yang ganteng 😀

Baiklah, kita sudahi obrolan kita.
“Duh, bertemu dan ngobrol sama kalian sesingkat ini merasa saya kembali ke Indonesia yang penuh kenangan,” ujarnya menutup obrolan.

Ok then, Will, pamit ya…
Dan kami pun berjabat erat.
Sampai jumpa kapan.. kapan..

*Bersambung… 😉

Mejeng di NET 10

Ketika road trip ke Wales kemarin itu, kami menyempatkan diri ke sebuah desa kecil yang unik. Keunikan desa tersebut karena namanya. Terdiri dari 58 huruf, yang terdiri dari 13 huruf vokal dan 45 huruf konsonan.  Llanfair­pwllgwyngyll­gogery­chwyrn­drobwll­llan­tysilio­gogo­goch. TUING! ribet gak tuh bacanya? 😀

Selengkapnya, tentang desa unik ini bisa dibaca di sini.

Seperti biasa, klo jalan-jalan gini kurang afdol kalau ngak dibuat CJnya. Walhasil, video jalan-jalan tersebut dikirimlah ke NET_CJ.

Tunggu punya tunggu, akhirnya kemarin saya dapat kabar dari redaksi NET_CJ.
“Mbak Rosi, besok jam 10.30 waktu Jakarta memungkinkan gak kalau kita Google Hangout?,” ujar yang diseberang sana.

“Wah, apaan nih?”
Setelah chit-chat, kesimpulannya, video CJ saya tersebut mau ditanyangkan dan diakhiri sesi ngobrol-ngobrol. Baiklah. Tapi, masalahnya, acara yang tayang jam 10 pagi waktu Jakarta itu, jatuhnya jam 4 subuh di Inggris. Tapi, buat NET, apa sih yang enggak? 😛
Lagian, kan bakal masup tipi.. masup tipi…
*norak, tukul mode on 😛

Bedak’an jam 3 subuh tuh…

Jam 3 subuh waktu UK, berarti jam 9 waktu Jkt, Tim NET udah ngehubungi saya via WA untuk seting jaringan jam 3.30. Baiklah.

Sekarang waktunya cuci muka n merapikan diri. Plus bedakkan dong ya… Biar gak keliatan baru bangun tidur. Bedak mana.. bedak…
Ehm, bedakan jam 3 subuh tuh, rasanya, gimanaaaa… gitu.
Bentar, saya ingat-ingat, kapan ya, terakhir kali saya bedakan sesubuh ini 😀
Sependek ingatan saya, ini kali pertama bedakan jam 3 subuh deh, hehehe….

Jam 3.30 tim NET ngehubungin saya lagi via Google hangout. Tes.. tes..  satu dua.. satu dua.. cek jaringan, sinyal inet bagus.

*Kalau ngomongin cek sound testing.. testing.. testing.. testing… 1 2 3, 1 2 3 ini jadi ingat William Tempe 😀

Jaringan inet klir, tanpa kendala, kini waktunya ngatur posisi webcam.
BTW, PC ku kan gak pake kamera. Jadinya Google houngoutnya pake smart phone. Nah, supaya si HP bisa sejajar dengan badan, maka di meja komputer tersebut disusunlah dua box. Salah satunya box sepatu. Barulah si HP nongkrong di atasnya.

Udah ya.. semuanya siap! Sekarang tinggal duduk manis n nunggu dicalling 😀
Sambil duduk manis, kini saatnya nonton NET10 deh. Seumur-umur jadi Citizen Journalist untuk video-video yang dikirimkan ke NET, baru kali ini saya nongkrongin NET10 dari awal sampe akhir. Biasanya nonton versi youtubenya aja.

Dan, di segmen terakhir Tim Net kembali calling saya via Google Hangout. Eh, ternyata, TV streaming yang saya tonton berjarak sekian menit dari livenya. Maksudnya, di PC saya tonton baru iklan, tapi via Google Hangout, udah ada tayangan lainnya. Daripada bingung liatnya, ya sudah TV streamingnya saya matiin n konsen ke HP.

Dan, tak lama, eh penampakkanku ada di layar NET10 😀
“Halo, mba Rosi,” ujar Mas Vico n non Angie di seberang sana.

Wah, rasanya gimanaaa… gitu. Kalau dihitung-hitung entah berapa kali video CJ saya dibacain sama Host Uda Vico dan non Angie, dan sekarang berbincang langsung.

Seperti apa video NET_CJku dan bincang-bincang super singkat dengan host Vico n non Angie, cekidot dimarih:

*N10-25, 02012015