Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.
View all posts by Rosi →
Satu tema beda format, begitu kira-kira untuk mendeskripsikan tulisan saya ini. Mungkin Anda pernah membaca artikel saya berikut ini, dimana tulisan tersebut telah saya bukukan dalam buku Jelajah Inggris. Atau, tentang hal inipun telah saya tuliskan dalam bentuk cerpen anak yang dimuat di Majalah Ummi berikut ini.
Nah, jika dua tulisan saya di atas bentuknya narasi. Sekarang saya kasih unjuk tayangan visualnya. Berikut ini:
Menjadi kaum difabel sering kali mengalami banyak kesulitan. Baik dalam berkegiatan harian maupun ketika mereka berinteraksi dengan dunia luar. Difabel adalah sebuah kondisi yang bukan pilihan, tapi takdir Tuhan. Maka dari itu, seharusnya menyandang difabel memeliki kesempatan yang sama layaknya orang normal. Janganlah memarjinalkan mereka. Bisa jadi ia hanya memiliki keterbatasan fisik, tapi tidak dengan kecerdasannya. Bisa jadi kemampuan mereka melebihi orang normal. Lihat saja Stephen Hawking, Nick Vujicic dan masih banyak lagi kaum difabel yang memiliki segudang prestasi.
Di negara-negara maju, Inggris contohnya, pemerintah dan dinas-dinas terkait memberikan kemudahan dan keleluasaan bagi warganya yang mengalami keterbatasan fisik ini. Beberapa upaya yang dilakukan pemerintah Inggris dalam memberikan kenyamanan kepada para penyandang difabel tersebut diantaranya ialah tempat parkir khusus. Oiya, tempat parkir khusus ini tidak hanya bagi mereka kaum difable tapi juga berlaku bagi oma-opa atau siapa saya yang berkursi roda.
Mengingat sulitnya gerak langkah mereka, maka, posisi tempat parkir khusus difabel harus paling dekat dengan pintu masuk gedung perkantoran, kampus, supermarket, toko dan tempat-tempat lainnya, bahkan di area tempat wisata sekalipun. Tempat parkir khusus ini ditandai dengan garis batas dan tanda yang jelas, berupa gambar orang berkursi roda.
Tak hanya tempat parkir khusus, toilet umum pun harus dirancang sedemikian rupa demi kenyamanan para penderita difabel. Baik di supermarket, mall, tempat wisata dan lain sebagainya.
Mengingat banyak gedung bertingkat baik di mall, supermarket, toko, kampus, perkantoran, tempat wisata dan lain sebagainya, maka keberadaan lift ataupun tangga khusus untuk difabel tentulah harus tersedia untuk memudahkan mereka.
Begitupun dengan trotoar. Di sini ramp (turunan/naikan) dari trotoar ke jalan ataupun sebaliknya, diperhatikan benar. Semuanya harus lancar. Tidak boleh ada yang menghalangi. Jika ada sembarang orang yang parkir dekat ramp tersebut, siap-siap kena tilang. Di Birmingham, kelalaian seperti ini bisa mengakibatkan £30 melayang, atau sekitar 630 ribu rupiah.
Mengenai transportasi umum, Inggris pun sangat ramah terhadap kaum difabel. Baik di Bis maupun kereta, ada posisi khusus untuk penyandang difabel. Naik turunnya pun dimudahkan. Pendek kata, semuanya sudah diperhitungkan.
Mau tahu seperti apa kemudahan-kemudahan sarana prasana lainnya bagi kaum difabel di Inggris, tonton aja tayangan di bawah ini:
N10, NAdes8. 12102015
Dan alhamdulillah liputan ini jadi sebagai Best video in the week. Congrats hun! 😀
Klo kepanjangan, skip aja hingga menit ke 1.27 😉
Sebagai negara besar, kuliner inggris dipengaruhi banyak cita rasa makanan yang berasal dari berbagai negara. Diantaranya ialah peri-peri chiken (dibaca: piri-piri). Ada dua versi yang menyebutkan asal makanan ini. Konon katanya berasal dari Portugis. Ada pula yang bilang dari Afrika Selatan. Terlepas dari asal muasal resep aslinya, yang jelas rasa piri-piri chiken ini enak sekali. Perpaduan antara pedas dan asam.
Bahan dasar bumbu ini adalah cabe rawit. Itu sebabnya dinamakan piri-piri. Karena menurut bahasa Malawi (Afrika Selatan) piri-piri artinya cabe rawit. Yang menjadikan olahan ayam ini terasa nikmat karena proses perendam bumbu piri-pirinya itu sendiri. Sedangkan proses pemasakannya sangat sederhana. Hanya dibakar saja. Makin lama direndam, makin enak, karena bumbunya makin menyerap. Proses pembakaran juga mempengaruhi hasil akhir.
Meski resep awalnya adalah piri-piri ayam, namun banyak restoran di Inggris yang mengkombinasikan bumbu rendaman ini pada jenis daging lainnya. Seperti pada steak sapi ataupun lamb chop. Apapun dagingnya, hasil akhirnya, sama enaknya.
Cara penyajiannya seperti biasa, ayam piri-piri, kentang goreng, salad. Berlaku juga bagi olahan daging lainnya. Ayam piri-piri sangat digemari, selain karena rasanya, juga karena harganya. Kalau lagi malas masak, saya tinggal beli satu ekor ayam piri-piri saja. Cukup membayar £8.99, udah kenyang deh makan sekeluarga 😀
Harga segitu itu harga di Worcester ya… Maklum, kota kecil, jadi lebih mahal. Kalau di Birmingham ataupun di Bristol, harganya bisa lebih murah dari itu.
Kalau makan di tempat, kita bisa memesan porsi satuan, alias sepiring seorang. Bisa juga seporsi rame-rame. Untuk satu porsi ayam piri-piri seharga £4 ( sekitar 84 ribu), lamb chop piri-piri seharga £7 (sekitar 150 ribu).
Nah, kalau porsi rame-rame lebih murah lagi. Makannya pun lebih seru. Wadahnya satu, ukurannya gede. Semuanya tumplek di sana. Trus kita comot rame-rame deh dari alas yang gede itu. Harganya pun lebih murah dibanding harga per porsi/ per orang.
Untuk paket keluarga, cukup untuk 4-5 orang, harganya £17 (sekitar 360 ribu). Harga tersebut sudah termasuk ayam piri-piri satu ekor, lima potong sayap ayam, lima potong dada ayam tanpa tulang, nasi berbumbu (kayak nasi goreng gitu), kentang goreng dan salad.
Restoran ayam piri-piri ini banyak terdapat di kota-kota besar, juga kota kecil di Inggris. Sepertinya, pelopor ayam piri-piri di Inggris ini adalah jaringan Resto Na***s. Soal kehalalan, di kota-kota besar jaringan resto N***** itu bersertifikat halal.
Selain jaringan resto N*****, sekarang resto ayam piri-piri lainnya lumayan menjamur dan banyak terdapat di setiap sudut kota. Termasuk di Worcester sekalipun, walaupun kota kecil pake banget 😀
Selama ini, sebanyak resto ayam piri-piri yang saya ketahui dan pernah saya jajal, bersertifikat halal. Penjualnya rata-rata orang Asia Pakistan.