All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Sebagai sang pengembara, saya emang kudet lagu-lagu Indonesia terbaru. Banyak faktornya. Selain emang terbatas media. Satunya lagi karena saya rasa lagu Indonesia yang baru-baru ini,  kontennya/liriknya/jenisnya gitu-gitu mulu. Datang dan pergi dengan cepatnya.

Oleh karena itu, saya lebih seneng dengerin lagu lama. Misal Kahitna, Katara (wadau tua amat) n lagu 80-90’an baik dalam maupun luar negeri. Nah, kemaren-kemaren itu, sambil bebenah rumah nyambung nyuci piring plus ngegiling baju, biasalah saya setel-setel lagu gitu…

Karena Youtubenya seting playlist entah kenapa dari Kahitnya nyambung ke Kunto Aji trusnya Tulus.

Jangan Cintai Aku Apa Adanya? Hei! lagu apa ini? Lagu yang aneh! Lagu yang tak biasa! Kuping saya langsung tertawan. Saya ulang lagi, lagi, dan lagi, lagu itu. Mayan juga! eh, tepatnya, keren!

Sumpeh, lagunya catchy banget.
Kata-katanya sederhana. Tak begitu puitis. Apa adanya tapi ngena!
Biarpun catchy, tapi pemilihan kata-katanya gak alay dan lebay.

Aransemen musiknya juga sederhana. Tapi sangat enak didengar. Apalagi intro pianonya itu loh! Mungkin karena kualitas vokalnya juga kali ya?

Jadi udah sepaket, klop gitu. Pemilihan kata, aransemen musiknya, vokal yang gahud. Jempol deh pokoknya.

Sambil denger youtubenya saya cari liriknya.

Hmmm.. entah apa yang ada dipikiran si Tulus ini.
Setelah saya ulang, ulang dan ulang lagi, saya bayangkan tokoh si lagu ini adalah seseorang yang memiliki pasangan hidup yang sangat nrimo.

Emang ada ya? pasangan hidup yang seperti ini?
Ya ada lah!
Liat kanan-kirimu!
Atau, mungkin, lihat di sebelahmu! 😉

*ikutan lirik sebelah ah…. 😀

Entah mengapa, saat itu tetiba saya melo.  Saya langsung pilih-pilih foto lama yang lagi beduaan. Agak sulit sih nyarinya. Karena kami jarang-jarang sengaja difoto beduaan. Ini aja semenjak pindah ke UK ada beberapa foto berduaan saat travel. Itupun kadang saya paksa :P. Maklum doi benci kamera, sedangkan saya banci kamera 😉 Malah, saktu jaman di Bandung, nyaris ga ada foto beduaan.

Setelah pilih-plih foto, disusun, dikasih musik Tulus. Tara…. Jadilah sebuah video ini 😉

Duhai yang di sebelahku, ini lagu buat kamyu 😉

Tak sulit mendapatkan mu
Karena sejak lama kau pun mengincarku

Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah

Kau trima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Engkau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Reff:
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Engkau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Reff:
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Aku ingin lama jadi petamu
aku ingin jadi jagoan mu

Reff: 2x
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

 

Tips Menulis Cerita Anak, Dimuat di Bobo

 

Dari kemaren-kemaren kebanyakan posting tips menulis tulisan pejalanan. Sekali-kali posting genre tulisan yang berbeda ah…

Yang saya rasakan, kalau terlalu lama menulis di satu genre terus-menerus kadang bosan juga. Untuk menyiasatinya, saya suka selingkuh genre. Entah itu menulis resensi ataupun menulis cerpen. Atau nulis apa aja deh. Yang penting bisa ngilangin kejenuhan sama si tulper.

Nah, genre tulisan kedua yang paling saya sukai setelah tulper, adalah cernak a.k.a cerita anak.

Kenapa saya suka nulis cernak? Alasannya banyak. Diantaranya:

Pertama. Karena saya, kamu, kita semua pernah ngejamanin masa kanak-kanak.
Masa kanak-kanak saya sangat indah. Kalau kamu?
Kadang saya ingin kembali ke masa kanak-kanak. Tapi mana mungkin? (membaca saja sulit 😛 Anak 80’an pasti apal sama jargon layanan masyarakat itu) :v :v :v

Kedua, lewat cernak saya bisa berimajinasi tanpa batas. Namanya juga pikiran anak-anak 😉 Saya pernah bikin cernak berjudul Janji Salju, dimuat di Bobo. Kadang, cernak tak perlu pake nalar normal, termasuk hadirnya peri-perian. Tapi ending ceritanya bernilai sebuah moral. Itu yang penting.

Ketiga, dengan menulis cernak, kita bisa jadi lebih bijak. Bisa menyelami pemikiran dan perasaan anak-anak. Karena dengan nulis cernak, kita melebur menjadi anak-anak.

Keempat, menulis cernak tuh bisa sebagai sarana jalan-jalan ke masa lalu.

Bayangkan, umur saya udah kepala 4 (sstt… jangan bilang-bilang yang lain ya…) 😛
Diumur semuda itu 😀 saya suka kangen masa kecil. Maka, cara saya kembali ke masa kecil itu, dengan cara menulis cernak. Banyak ide cernak saya diambil dari masa kecil saya sendiri. Bersyukur Allah memberikan ingatan yang kuat.

Misalnya tentang cernak yang satu ini. Judulnya: Pohon Payung Untuk Sarah. Telah dimuat di Majalah Bobo edisi akhir September 2014.
pohon payung bobo
Waktu ini, saya ingat betul. Sebagai kakak saya biasa main sama adik-adik (ga bisa dibilang ngasuh juga sih, soalnya saya kakak yang nga ngemong 😀 Dulu tapiii… 😉

Nah, ujung dari bermain-main itu adik saya tertabrak becak.
Ehmm.. pokonya ceritanya panjang. Nanti saya kasih bocoran mentahnya.
(maksudnya naskah asli sebelum diedit sama Mba V, si editor yang baik hati. ting! 😉

Balik lagi ke soal tips menulis cerita anak.
Jadi, buat kamu yang mau nyoba-nyoba nulis cerita anak, buruan dieksekusi. Jangan kelamaan mikir. Kamu kan pernah jadi anak-anak. Masa sih ga ada cerita yang seru dimasa kecilmu? Cerita yang sendu-sendu juga boleh. Tapi jangan lebay. Karena editor kurang suka sama cernak yang menampilkan kesedihan melulu. Kasih aura ceria, semangat, manfaat dan ending pesan moral yang baik kepada pembaca cilik kita.

Dan terakhir, berikut ini saya sertakan naskah mentahnya, semoga bermanfaat.

Pohon Payung Untuk Sarah
Oleh: Rosi Meilani

            “Kakak, aku ingin payung-payungan seperti itu,” Sarah menunjuk pada Lea yang menyandarkan sebatang tanaman di bahunya.

Oh, Cyperus alternifolius, ujarku dalam hati. Aku tahu nama latinnya, karena minggu lalu mempelajarinya. Tanaman tersebut sejenis rumput-rumputan. Tapi ukurannya lebih besar dan tinggi. Batangnya saja bisa seukuran kelingking. Malah tingginya ada yang sampai satu meter. Ujung batangnya ditumbuhi belasan daun. Daun-daunnya kurus melengkung ke bawah, mirip sebuah payung.

“Nanti, ya, Sar? Kakak ganti baju dan menyimpan tas dulu,” jawabku yang kala itu dicegat Sarah sepulang sekolah.

“Ya … ka, sekarang aja, Ka. Plis….,” rayuan Sarah membuatku iba.

“Lea, dimana kamu mendapatkan payung-payungan itu?” tanyaku.

“Di rumah kosong, Jalan Pelangi, itu loh. Aku dikasih sama kak Luna,” Lea menyebutkan nama kakaknya

“Ayo, aku tahu tempatnya, kak,” Sarah menarik tanganku. Tak lama, “Tuh, lihat kak!” Sarah menunjuk rumah besar di seberang jalan.

“Tunggu di sini, ya! Jangan ikut menyeberang!” ujarku, Sarah mengangguk.

Jalanan padat oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Sebetulnya aku bisa menyeberang di penyeberangan jalan (zebra cross), tapi jauh. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah lengang, barulah menyeberang.

Kudorong pintu gerbang rumah kosong itu, tapi terkunci. Untunglah rumpun tanaman payung-payungan itu menjulur keluar pagar besinya. Kurogohkan tangan untuk memetiknya. Setelah berhasil, kutunjukkan pada Sarah yang berada di seberang jalan.  Sarah berjingkrak senang.

Karena jalanan sangat ramai,  aku harus menunggunya hingga lengang. Tapi Sarah tak sabar. Di luar dugaanku, kakinya melangkah. Sepertinya ia akan menyeberang jalan.

“Sarah, jangan!” berteriaku. Tapi telat. Dalam waktu yang bersamaan  sebuah becak melintas dengan cepatnya. Dan dalam waktu yang bersamaan pula aku langsung menutup mata.

BRAK! Terdengar suara benturan yang amat kencang. Aku langsung membalikkan badan dan berlari tanpa tujuan hingga masuk ke sebuah gang. Sambil berlari aku bingung. Apa yang telah kulakukan? Aku kaget dan merasa bersalah. Aku takut dimarahi Mama.

Perasaanku gundah. Terbayang Sarah terkapar di tengah jalan, berdarah-darah. Aku takut pulang. Aku takut Mama Papa memarahiku habis-habisan. Hingga akhirnya aku terduduk di sudut teras sebuah rumah kosong.

Aku terduduk lama di sana. Jantungku terus berdebar. Pikiranku bingung. Apakah aku harus pulang? ataukah tetap bersembunyi di sini. Mana aku lapar lagi. Karena sedari pagi belum bertemu nasi. Setelah beberapa lama, dari kejauhan terdengar suara yang kukenal memanggil namaku berulang-ulang.

“Tiara… Tiara…,” ujarnya.

Jantungku makin berdebar. Aku menciutkan badan.

“Kemana ya, anak itu?” lanjutnya, tepat dibalik tembok tempatku bersembunyi.

Aku tak bergeming. Tapi perutku yang kosong berontak. Ia ingin mengeluarkan anginnya. Meski kutahan, tapi ia memaksa juga. Akhirnya, duuttt… suara itu keluar kencang beserta wanginya.

“Nah, loh! Ketahuan!,” ujar tanteku memasang wajah yang lucu. “Ayo pulang!” ujarnya.

“Aku takut pulang, Tan. Takut dimarahi mama,” ujarku bertahan, tapi Tante Silvi menyakinkan bahwa Mama tidak akan marah padaku. Akhirnya, aku pun menuruti bujukkan Tante Sivi.

Selama perjalanan pulang aku terus-terusan membayangkan Mama dengan wajahnya yang marah. Tapi ketakutanku bertolak belakang. Mama menyambutku dengan pelukan.

“Tiara, Mama mengkhawatirkanmu. Kamu dari mana saja? Ayo makan nak! Kamu pasti lapar.”

“Mama ngak marah?” tanyaku heran.

“Kenapa harus marah?”

“Bukannya Sarah…,” aku celingukan ke setiap sudut rumah.

“Sarah ngak apa-apa kok,”  ujar Mama yang menarik kursi makan.

“Hah? Lalu, suara itu?”

“Suara apa?”

“Suara kencang itu? seperti suara tabrakan?”

“Oh itu. Gara-gara si abang becak kaget melihat Sarah bergerak maju. Spontan ia menginjak rem, lalu becaknya oleng dan menabrak pagar rumah orang lain.”

“Jadi?” aku ternganga.

“Jadi, Sarah baik-baik saja,” ujar Mama. “Lain kali, kamu ngak boleh ninggalin Sarah begitu saja, ya? Untung waktu itu Tante Silvi lewat di tempat kejadian. Lalu Sarah diantar pulang,” lanjut Mama.

Ah, akhirnya aku merasa lega. Perasaan bersalahku hilang sudah. “Iya, Ma,” jawabku.

Dalam waktu bersamaan Sarah datang.

“Kakak! Kakak abis dari mana?”

“Maapin kakak, ya, Sarah. Nih!” kuberikan sebatang Cyperus alternifolius yang sedari tadi kupegang.

“Asikkk… Makasih kakak.” Sarah memelukku erat lalu berlengak-lengok menyandarkan sebatang Cyperus alternifolius di bahunya seolah sedang kehujanan.

****

Sampai jumpa di postingan tips menulis cernak berikutnya.. 😉

Tips Promosi Buku

Saya pernah baca status Bu Linda, Editor Elexmedia. Dalam setiap bulannya Gramedia menerima 2.500 judul buku baru. Berarti 400 – 500 judul per minggunya. Gila ya? banyak amat…

Jumlah buku sebanyak itu berbanding minat baca orang kita yang rendah, bikin penulis ketar-ketir. Takut bukunya gak berumur panjang aka dalam hitungan sekian bulan ditarik dari peredaran. Padahal lahirnya sebuah buku itu melalui proses yang sangat panjang dan melelahkan.

Mulai dari menyusun ide/konsep buku. Mengetiknya, self editing yang berulang kali. Dikirim ke penerbit. Ditaksir, ditimbang-timbang, dirapatkan, diputuskan. Setelah acc pun perlu proses dan waktu pula. Diedit lagi, kirim balik ke penulis, proof reading, desain cover dan sebagainya dan sebagainya.

Satu buku melibatkan kerja keras penulis, editor juga. Banyak waktu dan banyak tenaga. Kebayang gak sih, setelah buku lahir lewat proses berbulan-bulan (bahkan ada yang lebih dari setahun) menguap cepat dipasaran. Akibat apa? Bisa jadi akibat kurang promo.

Makanya, sebagai penulis, kita harus bantu usaha penerbit untuk mempromosikan buku kita sendiri. Gak rugi kan? orang buku, buku kita juga. Kalau laku ya kita juga yang kecipratan untungnya, ya kan?

Ini jamannya sosmed. Promo yang kamu lakukan ga susah-susah amat. Gunakan aja semua sosmed yang kamu punya. Promonya bisa dimulai saat buku mau lahiran. Jadi, begitu penerbit bilang buku kita bakal segera keluar. Udah deh, promosi dimulai.

Pas terbit pas hangat-hangatnya, promosilah di semua sosmed Anda. Asal jangan terlalu keseringan. Sehari cukup satu kali. Atau dua hari sekali. Biar teman maya kita gak jengah liatnya. Trus pemilihan kata promonya yang asik. Pake kata pembuka dulu kek. Atau cuplik sedikit apa yang ada di dalam buku kita.

Klo saya, karena buku saya buku traveling. Saya posting aja destinasi-destinasi yang kece. Baru deh ditulis dibawahnya.
Misal, lokasi: Bourton On The Water.
Untuk lebih jelasnya, bagaimana indahnya desa tercantik di Inggris ini, silakan baca di Buku Jelajah Inggris.
Tersedia di Gramedia, harga Rp.39.800,-
Tersedia E-booknya juga di Scoop.
Juga bisa dibeli di Amazon dan seterusnya.. dan seterusnya…

Selain promo di Sosmed, ada cara lainnya. Begitu kamu dapat surat kontrak dari penerbit, liat pasal-pasalnya secara detil. Kalau di surat kontrak saya, ada satu pasal yang menyebutkan cetak buku dilebihin 5%. Dengan keterangan untuk bukter, promosi, resensi, buku rusak dan hilang (kurleb isinya gitu deh).
Nah, dari 5 % itulah kita bisa diskusikan ke penerbit. Waktu itu saya kirim imel kepada beliau yang isinya kurleb:
“Pak/Bu, saya mau bikin GA nih, hadiahnya dari Anda ya… :”
“Pak/Bu, saya ada kenalan resensor n orang media, saya kasih alamatnya ya, pak/bu?..”
Gitu kira-kira. Etapi harus pake kalimat yang halus, sopan, baik dan benar ya.. 😉

Yaudah, gitu aja. Kita mah gak usah repot-repot ngirim hadiah kepada para pemenangnya. Penerbit kita yang melakukan semua itu. Makanya, satu tips buat Anda, pilihlah penerbit besar yang sistemnya sudah baik dan menguntungkan bagi kita penulis.

Trus beberapa resensor yang saya sebut di atas tadi, ada orang media, ada resensor freelance. Yang freelance berikut ini, ini,  ini (pemenang GA), dll.

Untuk yang media, berikut ini:

CIA
M
ajalah Anak CIA

bukuji resen summi
Majalah Ummi, Edisi November 2014.

resensi JI di Republika
Koran Republika, edisi 13 Januari 2015

Nah, klo yang dua ini benar-benar surprise. Nga nyangka gitu… Dikasih taunya sama editornya Ummi lagi. Bahwa resensi saya dimuat di Majalah Femina. Dan satunya lagi, dikasih tau sama Katerina. Bahwa buku saya diresensi Majalah Plesir.

resensi JI di Femina
Sayang, penampakkan cover Femina edisi awal November ini gak ada penampakkannya. Guys, klo ada yang punya edisi ini, colek” eike ye.. 🙂

photo 1
Majalah Plesir edisi Desember kayaknya, soalnya dikasih tau sama Rien pas lagi liburan di Bali.

Jadi, ayolah, teman, bantu penerbit nge-promoin buku kita sendiri. Klo laku banyak, kan kita juga yang untung. Oiya, terbukti udah dua kali Elex transfer saya 😉

Oiya, buat kamu yang pengen tau seperti apa desa-desa di Inggris dan keseruan wisata lainnya, beli aja buku Jelajah Inggris 😉

Ada desa penghasil keju, asal-muasal keju Cheddar gitu…
Ada desa Bourton on The Water yang cantik.
Ada desa abad Victoria. Masuk ke sana, seolah membali ke masa dua abad ke belakang. Kita bisa pake baju di abad itu loh.
Ada Malvern hill, tempat tinggal saya dulu. Sebuah desa perbukitan yang menginspirasi penulis Narnia dan Hobbit.

Nga percaya? beli aja bukunya… 😀

 

Keliling London £11

Judulnya mendadak London.

Sebetulnya jauh-jauh hari kami udah menjadwalkan ke London tanggal 6-7 April. Seperti biasa, berazaskan sambil menyelam minum air. Sekali kayuh 3 urusan terlampaui. Perpanjang passport, ngangon bocah liburan, emak nyari bahan. 😀

Ternyata, Yang Kuasa berkehendak lain. Tetiba suami musti dinas ke seberang sana, ASAP. ASAP pulalah perpanjangan passportnya. Setelah timbang-timbang badan diakhir pekan, pas senin langsung ditembak si bos. Buruan perpanjang passportnya! Doi pun langsung telpon rumah, “besok jadi ke London!”

Wah, kan hari kerja? Pegimane nih?
“De, mamih-papih mau ke London ya besok?” tanyaku pada si bungsu.
Kirain bakal keberatan. Taunya enjoy aja dia mah. Sok aja, katanya. Ntar mau ngajakin temennya maen di rumah. Yaudah..

Kami pergi pagi banget. Kurang dari jam enam. Dengan target nyampe kedutaan jam 10. Untuk yang kesekian kalinya, kami jiper n ribeut klo bawa mobil masuk ke tengah kota London. Udah macet, bingung jalannya, parkirnya sulit minta ampun. Jadi, seperti biasanya, kami memarkirkan mobil di zona tube terluar.

Kami memarkirkan mobil di stasiun kereta Canons Park. Bayar parkir seharian (sampe jam 3 subuh) seharga £5. Sebelum naik kereta bawah tanah, kami cek kartu Oyster (penjelasan lebih lanjut). Saldo 5,60. Baiklah, kami top up £5 saja. Mengingat, tujuannya mau jalan-jalan di Zona 1 aja (central London).

Dari sini, kereta bablas terus, turun di Bond Street. Jalan kaki sekitar 7 menit, nyampe kedutaan jam 10 lewat dikit. Sebelumnya mlipir ke tukang foto langganan, kehalangin satu blok di belakang kedutaan RI. Saya udah bilang sama si Yayang, terakhir difoto di sana di komplen petugas pembuat passport, katanya kualitasnya jelek apa.. apa.. gitu..

Eh, bener aja, udah ngantri lama-lama, udah ngisi formulir yang juga makan waktu, pas ngasiin foto, ditolak. Alasannya, latar belakang merahnya terlalu menyala, antara ukuran wajah dan latar belakang kurang proporsional. Trus petugasnya ngasih tau tempat ambil foto lainnya yang mayan jauh juga klo jalan kaki mah.

“Yaudah, sana gih!” kubilang, hehe.. si Yayang pun jalan kaki ke sana. Sementara itu saya ngobrol-ngobrol sama seorang domestik worker yang bernasip naas. Konon sembilan bulan gak digaji sama majikannya yang orang Quwait. Emas, uangnya dan pasportnya dirampas. Mana sering dihardik pula.

Cukup lama si Yayang difotonya. Abis itu ngantri lagi. Btw, ngurus yang gituan aja makan waktu 1,5 jam. Petugasnya cuman seorang diri sih. Jam 12 kurang 20 menit. perut keroncongan. Ketika mau ke kantin KBRI (soal kantin KBRI bisa liat di buku saya “Jelajah Inggris”) eh ternyata, blom buka. Jam 12 teng, katanya dua ibu yang standby di resepsionis kedutaan, tanpa kami tengok dulu ke TKP. Baiklah…

Tadinya sih mau langsung meluncur maksi di Edgware Road. Kawasan muslim London gitu.. Di sini banyak makanan halal. Kalo Birmingham punya Coventry Road, nah klo London.. ya kawasan ini.

Tapiii…. daripada berlama-lama, akhirnya kami duduk di taman depan kedutaan RI. Buka bekal makan siang. Sttt.. plis jangan dibully kenoraan kami. Tau nga bekal makan siangnya apa? leupeut/lontong oncom plus rempeyeknya 😀

Biar kata makannya leupeut oncom tapi pemandangannya Inggris, hahaha.. plus, itu burung-burung ngerubunin kami. Heran deh, di bangku-bangku sana orang-orang makan sandwich n crips gak dirubungin. Kali itu burung” dara udah pada bosan makan roti, jadi begitu kulempar leupeut riuhlah mereka berebut.

Well, abis ngisi perut. Kami memutuskan ke North Greenwich menuju The O2. Itu loh, buat yang suka nonton East Enders, pasti tau hehe.. Ketauan deh, si emak suka nonton drama BBC one ini. Nyampe di sana, foto-foto sambi ngupi-ngupi. Mayan banyak juga cafe n restonya.

Abis dari sini, selanjutnya ke Greenwich observatory, naik bus nomor 188.

greenwich park london

Cukup lama di kawasan ini, selanjutnya kembali menggunakan bus nomor 188. Eh, kebablasan, harusnya turun di Canada Water. Jadi aja turunnya di Bermondsey. Trus ganti pake tube (kereta bawah tanah atau biasa disebut underground).

Pas mau tap oyster, si kartu ajaib, pintunya ga mau ngebuka. Mlipirlah kami ke mesin di dekatnya. Liat saldo, ternyata saldonya minim. Baiklah, kami top up £10. Perjalanan blablas terus, turun di Baker Street. Ganti tube menuju Edgware Road. Kami makan di kawasan ini.

Sesudah puas blanja-blanji kembali menaiki tube menuju kawasan Queensway untuk blanja-blanji oleh-oleh suvenir. Waktu menunjukkan nyaris jam 7. Pulang deh ah! kasian si bungsu.

Dari sini kembali menaiki tube menuju Canon Park. Sebelum meninggalkan stasiun saya cek kartu Oyster saya. Saldo, £9.60. Jadi, 2 kali naik bus, 6 kali naik tube (zona 1-5), abis £11.

Seterusnya, ambil mobil n meluncur pulang. Nyampe rumah jam setengah sebelas malem. Hufffttt… cape sih.. tapi asik juga 😉

Apa itu Oyster sauce Card?

Oyster card adalah kartu ajaib segala akses kendaraan umum di London. Jika naik bus, tinggal tap (sentuhkan kartunya di mesin otomatis dekat pa supir). Klo naik kereta tap saat membuka pintu masuk area underground dan tap lagi ketika keluar underground.

Tentang Oyster Card ini, saya jelaskan pula di Buku Jelajah Inggris. Terbitan Elexmedia. Tersedia di Gramedia. Harga Rp. 39.800,- Buat yang di luar negeri, Anda bisa membelinya lewat Amazon. Atau beli versi digital/E-book di Scoop.