All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Tips Menulis, Memilih media

Tips memilih media, gimana? tanya teman saya.

Hmm, baiklah. Ijinkan saya yang sedikit ilmu dan pengalaman ini berbagi.

Setiap yang suka menulis biasanya ada kecenderungan satu tulisan yang paling ia sukai. Misalnya, saya suka menulis segala macam genre tulisan. Cernak, cerpen, resensi, tokoh/profil dll. Tapi saya lebih senang menulis tulisan perjalanan. Apapun jenis tulisan yang kita sukai. Semuanya memiliki chance untuk mejeng di media masa di Indonesia.

Jika ditanya, gimana cara memilih medianya? Saya balikin lagi. Untuk jenis tulisan apa? Untuk koran atau majalah? Mau yang lokal atau nasional?

Untuk tulisan apa?

Rata-rata, semua koran memiliki rubrik opini. Jadi kalau mau menjajal rubrik opini, chancenya sangat luas sekali.

Gimana dengan cerpen, puisi, cerpen anak, tulisan perjalanan, resensi, dll? Biasanya, tulisan bersifat hiburan yang saya sebutkan barusan hanya dapat jatah seminggu sekali. Ibarat kata, pembaca udah disuguhin berita polteksosbud (terutama politik) seminggu 6 hari. Pusing kan? Makanya, redaksi menyajikan berita yang ringan-ringan dan menghibur. Nah, di lahan itulah kamu bisa jajal kemampuan tulisanmu.

Untuk koran atau majalah

Berbeda dengan koran, majalah memiliki sedikit chance untuk penulis luar. Tergantung majalahnya sih. Cuman rata-rata mereka welcome untuk: Tulisan perjalanan, Feature dan cerpen.

Kalau ditanya memilih media mana yang lebih asik? pastinya antara koran dan majalah memiliki plus minusnya. Kita tau, koran terbit tiap hari. Sebanyak itu, sebanyak itu pula tulisan opini yang tayang. Artinya menulis di genre itu lebih banyak kemungkinan dimuatnya. Trus untuk jenis tulisan hiburan seperti tulper, cernak, cerpen, puisi, resensi, chancenya seminggu sekali tayang.

Nah, kalau untuk majalah, rata-tata terbit sebulan sekali. Ada juga sih yang terbit 2 minggu sekali ataupun seminggu sekali. Bisa dibilang, majalah yang terbit mingguan/dua mingguan itu keren. Itu berarti tim redaksinya harus lebih banyak materi untuk menayangkan tulisan. Mana rubriknya kan banyak banget tuh (mudah-mudahan di sini ga ada orang redaksi majalah yang dimaksud) 😀

Ngomongin soal majalah yang terbit mingguan, 2 mingguan dan sebulan sekali, maka bisa disimpulkan 1:2:4. Artinya, kalau kita ngirim ke majalah bulanan, berarti kita harus menunggu 1 bulan 1 tulisan. Kalau kita masuk waiting list urutan 4, itu artinya tulisan kita bakal mejeng 4 bulan yang akan datang.

Kalau di majalah 2 mingguan tulisan kita duduk di urutan 4, itu artinya kita duduk manis nunggu tayang 2 bulan yang akan datang.

Kalau di majalah mingguan, jika tulisan kita duduk di urutan 4, itu artinya kita cuman nunggu kurang sebulan aja. Abis itu senyum-senyum deh tulisannya mejeng manis di sana.
***

Ayo, dipeleh.. dipeleh.. dipeleh…. tulisan kamu mau dimasukin kemana? Jawabannya ada di kamu sendiri. Oiya soal jenis-jenis tulisan n jenis-jenis media ini ada plus minus terkait honornya.  Ah, soal ini mah lain kali aja dibahasnya, biar fokeus 😛

Lokal atau Nasional

Nah, soal tulisan kita dilempar ke media lokal dan nasional, ini juga perlu dipertimbangkan.

Ibarat anak kecil yang sedang meniti tangga, tentulah kita lakukan langkah termudah untuk menguasai medan. Bukan berarti meremehkan kemampuan diri. Tapi cara inilah yang banyak dilakukan orang untuk mengukur kekuatan diri.

Ada sebagian orang yang menjajal koran-koran lokal terlebih dahulu, setelah menguasai medan, barulah PD menjajal koran nasional. Atau, awalnya menjajal majalah yang saingannya tidak terlalu banyak. Setelah PD baru maju ke medan yang lebih berat.

Tapi, yang saya katakan di atas itu bukan sesuatu yang mutlak.

Ibarat kata, kita ingin jadi juara satu. Lalu kita bekerja keras, gigih, pantang menyerah, dll. Ketika hasil akhir hanya jadi juara 2, itu masih memuaskan, kan? Dibanding, sedari awal cuman narget juara harapan doang. Setelah semangat berusaha, nyatanya hanya masuk 10 besar. Rasanya, enak yang mana? juara 2 atau masuk 10 besar doang? Wah analoginya kejauhan ya? hehe..

Jika anda membaca sebuah artikel di sebuah koran/majalah populer lalu terbersit. Hmm, sepertinya saya juga bisa bikin tulisan seperti ini. Maka lalukanlah!

Jadi.. ya gitu deh..
Kalau ditanya gimana cara memilih media yang tepat untuk tulisan kita?
Kembali lagi: jenis tulisannya apa? mau dikirim ke koran apa majalah? mau yang lokal apa nasional? Mau majalah mingguan, 2 mingguan, bulanan? Kita mampunya kemana kira-kira?

Semangat menulis….

keyboard

 

 

 

Tips Menulis: Niat, Mulai, Fokus

Saya sering kali mendapat pertanyaan dari teman-teman.
Pengen dong bisa nulis kayak kamu, dimuat di media. Gimana sih caranya?

Baiklah, saya akan berbagi sedikit pengalaman saya di dunia tulis-menulis. Tapi maaf, saya bukan seseorang yang pintar berteori. Artinya, yang saya sampaikan ini hanya sebatas yang saya tahu setelah saya menjalaninya.

Niat

Niat yang kuat merupakan modal besar untuk melakukan segala hal. Iya dong? Ngak hanya niat bisa nulis aja.

Mulai

Mulailah menulis. Menulis apa saja yang kamu bisa dan kamu sukai. Jika kamu tukang jajan, bisa nulis artikel kuliner. Kalau kamu suka jalan, tulislah tulisan perjalanan. Jika kamu memahami perekonomian, sosial politik, isu terkini, kesehatan, pendidikan dsb, kamu bisa nulis di rubrik opini.

Pokonya, mulailah menulis sesuai dengan bidang yang kamu kuasai dan sukai.

Fokeus.. chyiinnnn…

Adalah sangat penting sekali untuk fokus dalam menulis. Caranya, menulislah tentang sesuatu, harus sampai tamat. Ingat! sampai tamat. Tipsnya adalah, buatlah kisi-kisi. Contohnya, ketika kita akan menulis sebuah opini, buatlah 3 atau 4 bagian penting dalam tulisan kita. Pembuka, permasalahan, pemecahan masalah dan ending. Contohnya bisa dilihat di sini.

Gimana udah kebayang kan? Nah, sekarang, kamu bisa mulai dan fokus untuk sebuah tulisan. Entah itu tulisan  opini, tulisan perjalanan, resensi, cerpen, cerpen anak, tokoh profil dllnya. Kembali harus diingat! Fokus! Tulis sampai tamat!

Saya teringat pertanyaan seorang teman,

“Kenapa ya, kadang di otak saya mau nulis begini.. begini.. Tapi setelah jadi tulisan, malah jadinya kesana, kemari, trus endingnya gak jelas gitu, kurang seru dll…”

Yang perlu kamu lakukan adalah membuat kisi-kisi tulisan kita, lalu membuat benang merahnya. Hubungan tulisan kita mau dibawa kemana? 😀

Misalnya, kita punya pengalaman kemping yang sangat menyeramkan, atau lagi backpack tiduran di pinggir gedung kayak gembel. Lalu kamu dipeluk gembel beneran. Nah itu bisa jadi point lebih untuk tulisan kita.

Kembali lagi, tamatkan tulisanmu. Apa dan bagaimanapun jadinya, lalu simpan. Barang beberapa jam atau sehari saja. Nanti, jika kamu sudah terbiasa menulis, ada yang namanya proses editing. Buka kembali tulisanmu. Baca kembali. Niscaya kamu bakal menemukan kalimat/kata yang kurang pas. Ini hapus ah, ini tambahin ah..  pasti bakal begitu.

Jadi, ingat, Niat, Mulai, Fokeus sampei tamat.

Tips menulis berikutnya bersambung besok ya sob? 😉

republika, gen I, juni
Maaf, potonya ga nyambung, yg jelas di foto itu ada foto sayanyah… hahaha..

Tips Menulis, Foto Untuk Tulisan Perjalanan

Menulis tulisan perjalanan yang akan dikirimkan ke media pastinya sangat berhubungan erat dengan foto. Foto adalah bentuk visual dari apa yang kita deskripsikan dalam narasi. Jadi tulisan perjalanan itu akan bernilai plus jika didukung oleh kualitas foto yang baik.

Sebelum sedikit berbagi tentang foto untuk tulisan perjalanan, saya kilas balik. Dulu saya sangat awam dalam tulisan perjalanan. Ketika membaca rubrik tulisan perjalanan sebuah koran, terbersit, ah, saya juga bisa menulis seperti ini mah. Lalu, saya kirimlah tulisan perjalanan tersebut.

Tunggu punya tunggu, tulisan itu tak muncul juga. Bertanyalah saya kepada editornya. Beliaupun membalas kemudian. “Tulisannya sudah okey. Tapi maaf, fotonya pendukungnya tidak ada yang sesuai. Kalau bisa tolong kirimkan lagi foto-foto destinasi/objek wisata, minus penulisnya. 😀

Olala, itulah pelajaran pertama otodidak yang saya dapatkan dalam menulis tulisan perjalan. Saya liat lagi attach email yang saya kirimkan. Benar saja, dari sekian foto yang saya kirimkan semua ada foto sayanya yang lagi mejeng. Heuheu.. jadi malu, kenarsisan. Baiklah.

Untungnya, lokasi destinasi itu tidak jauh dari rumah saya. Di lain kesempatan, saya kembali ke sana hanya untuk mengambil foto. Dikirimlah foto tersebut. Dan tak lama, tulisan pertama di itu pun mejeng di sini.

Kesimpulan 1:

Kurangilah kenarsisan anda. Yang dibutuhkan adalah foto destinasinya/objek wisatanya, bukan andanya 😀

***

Sejak itu, saya mengurangi kenarsisan saya. Bahkan, sekarang saya lebih senang memotret teman seperjalanan. Terbukti waktu ke London kemarin. Perbandingan foto saya dan teman-teman, mungkin ada 1:12 😀

Pelajaran otodidak kedua, setelah re-take foto untuk koran SM di atas. Saya juga re-take foto untuk sebuah majalah keren. Dimana foto-foto yang mejeng di sana hasil jepretan para fotografer andal.

Re-take ini bukan karena ada sayanya. Tapi karena kualitas gambarnya. Maklumlah, saya kan cuman emak-emak yang asal jepret kalo lagi motret. 😀

Demi sebuah kebaikan dan ilmu yang bermanfaat, akhirnya saya re-take foto untuk artikel ini (untung lokasinya gak begitu jauh). Sedikit bocoran, seorang fotografer majalah ini sangat baik sekali mau mengajari saya gimana cara ngambil gambar yang baik. Makasih mas. Makasih juga Bu Pemred yang baik hati 😉

Kesimpulan 2:

Kualitas foto harus diperhatikan.

Rasanya ada kepuasan tersendiri ketika foto kita berhasil nampang dengan kualitas yang memuaskan.

Itulah pelajaran yang saya dapatkan, selalu ada ilmu baru.

Bagi saya, setiap media yang saya jajal, ada ceritanya masing-masing.

Dan ini adalah artikel kelima di Majalah tersebut (tulisan lama sih) 😀

Griya asri 1

griya asri 2

Lake Distric Captured

Tips Menulis, Membuat liputan untuk Majalah Anak

Bagi saya, dunia tulis-menulis sangat luas lahannya. Kadang saya menulis cerita anak, kadang menulis profil bisnis, kadang nulis resensi, kadang bikin cerpen, dll. Tapi kebanyakan nulis tulisan perjalanan. Kayak kutu loncat aja ya menclak-menclok di berbagai genre 😀

Yang saya rasakan, jika terus-terusan menulis di satu genre disitu kadang saya merasa sedih bosan 😛 . Selang-seling menulis berbagai genre tersebut bisa dijadikan obat pengusir kejenuhan.

Kelebihan menjadi penulis kutu loncat adalah, kita jadi banyak belajar. Begitupun yang saya rasakan. Waktu itu saya lagi jenuh-jenuhnya nulis tulisan perjalanan. Maka saya mencari celah lain, sesuatu yang baru.

Waktu itu, Inggris punya hajat tahunan. All England. Ehm, apa nih kira-kira yang bisa saya tulis dari event ini. Akhirnya, saya mengajukan sebuah liputan olah raga untuk sebuah Majalah Anak. Dan inilah tulisan lengkapnya:

…….

Adik-adik, diantara kalian ada yang suka Badminton, ngak? Kalau kalian suka, pastinya kalian tahu dong, Maret kemarin ada sebuah kejuaraaan Badminton tingkat dunia yang diselenggarakan di Inggris. All England namanya. Jangan-jangan, kalian menyaksikannya di layar TV?

Bagi kalian yang menonton, ada perasaan haru ngak? ketika tim Indonesia memenangkan pertandingan final All England? Pasti dong, ya?  Haru yang bangga. Begitupun yang kakak rasakan. Apalagi kakak sengaja menonton kejuaraan tersebut langsung dari arena pertandingannya di Birmingham, Inggris.

Rasa ke-Indonesia-an kakak meluap dan berkobar atlet Indonesia berlaga di sana. Kakak tidak sendiri, karena ternyata di sana sudah berdatangan pendukung tim Indonesia. Mereka adalah orang Indonesia yang tinggal di Inggris. Kebanyakan mereka yang tinggal di Kota Birmingham. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang kuliah di Birmingham.

Walaupun sebelumnya tidak saling kenal, namun karena kami saudara sebangsa dan setanah air, akhirnya kami bersatu memberikan dukungan kepada tim Indonesia yang sedang berlaga.

Tepuk tangan, teriakan, dan yel-yel penyemangat kami berikan kepada mereka agar terus bersemangat saat tanding. Rasanya, hanya suporter Indonesia saja yang paling heboh memberikan dukungan. Seru juga rasanya. Rasa ke-Indonesiaan kami turut berkobar.

Dalam satu harinya mulai dari babak penyisihan sampai babak final ada 8-3 pertandingan yang dilakukan tim Indonesia. Terbayang kan, suara pun bisa jadi serak akibat kebanyakan teriak. Meski demikian, kami senang-senang saja. Apalagi ketika tim kita menang.

Saat tim kita menang, suporter Indonesia langsung meminta tanda tangan dan bersalaman dengan atlet jagoannya. Tentu saja sang atlet yang menghampiri suporter. Bukan suporter yang menghampiri atlet. Karena kursi penonton dan arena pertandingan terhalang pemisah.

Beruntung waktu itu kakak duduk dibagian paling depan. Jadi, kakak dan suporter Indonesia lainnya dengan mudah mendapatkan tanda tangan mereka. Diantaranya: Hendra Aksan, Angga-Ryan.

Oiya, para atlet Indonesia menginap di hotel sekitar NIA (National Indoor Arena) Birmingham. Ketika kakak sedang duduk di teras kafe seputar hotel tersebut, tiba-tiba melintas tiga orang yang sering kakak lihat.

“Loh, Gideon? Kido?” seru kakak kaget. Mereka pun tersenyum ramah.

Tak lain, mereka adalah salah satu tim Ganda Putra Indonesia yang sangat andal, beserta pelatihnya. Permainan mereka hebat. Ternyata, saat di luar arena, Kak Gideon ini sangat pemalu. Di taman kota itupun kami berbintang sebentar kemudin berfoto bersama.

……….

Gimana gampang banget kan bikinnya?
Tipsnya adalah:

  • Cari Majalah anak/koran anak yang menerima tulisan dari luar.
  • Tulisan tidak terlalu panjang. Cukup 1-2 halaman saja.
  • Pilih bahasa yang sederhana.

Dan inilah penampakan tulisan saya yang telah dimuat tersebut.

soca all england (2)

Tulisan ini dibuat dalam rangka nunggu suami siap nyupirin ke Birmingham untuk nonton All England 2015. Berarti itu tulisan diatas umurnya dah setaun ya? hehe.. rasanya baru kemarin 😀

Cap cus ah….

DSC_0131

 

Keterangan foto: Barclaycard Arena (Formerly The NIA), Lokasi All England 2014, bersama student yang ambil Master n PhD. Foto diambil diakhir pertunjukan, sampe tuh kursi pada kosong. Penonton ogah rugi, nontonnya sampe tutup pintu gedung 😀