All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Tersesat di Gunung Burangrang (2)

Seperti yang saya janjikan kemarin, di sini
Inilah sambungan ceritanya:

Awalnya kami turun bersamaan. Tapi kemudian terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama bergerak cepat mengikuti langkah dua bocah ajaib. Akmal dan Fikri. Kakak beradik kelas 1 SMP dan 3 SD, anaknya Mang Epul.

Saya masuk kelompok dua, bersama 4 orang lainnya. Maklum, faktor usia. Selambat-lambatnya saya berjalan, masih ada peserta lainnya yang lebih lambat. Itu karena ia mengalami cedera. Mungkin di sini Tuhan mengajari saya tentang arti kesabaran dan kesetiakawanan. Merasa kesal dan sok berani, akhirnya saya memutuskan diri bergerak cepat menyusul kelompok pertama.

Sayang, meski saya mengejar tanpa henti, sekuat tenaga dan penuh keberanian, kelompok satu tak terkejar. Sedang kelompok dua ditinggalkan jauh di belakang. Lebih dari satu jam saya berjalan sendiran dengan medan yang ekstrim dan dalam hening.

Saya rasa, saya salah arah. Tersesat. Saya dilanda ketakutan. Di sepanjang jalan tak henti berdoa. Rasanya mencekam sekali. Apalagi kabut mulai turun. Kini saatnya saya untuk berteriak. Berharap ada manusia lain selain saya di sana. Panik mulai melanda. Rasanya ingin menangis kencang.

Setelah beberapa kali berteriak, akhinya ada sahutan. Bulu kuduk saya berdiri. Antara senang, lega, tapi juga was-was. Takut ia orang asing, atau mungkin mahluk asing, semacam mahluk astral sebangsa dedemit atau apalah itu.

Dengan hati berkecamuk dan diiringin doa sekencang mungkin di dalam hati, segera saya ikuti arah suara. Dari kejauhan, terlihat seseorang duduk membelakangi saya. Lelaki berjaket hitam, berpenutup kepala itu menantap jurang di depannya. Serta merta saya utarakan ketersesatan saya. Rupanya, ia pun sama. Tersesat. Tertinggal dari kelompok pertama.

Anehnya, orang itu tak juga melirik pada saya. Hingga terlintas dalam benak saya. Apakah ia mahluk lain yang menyerupai salah satu peserta hiking? Saya terus mengajaknya berbicara agar ia mau menatap saya. Dalam pikiran saya, jika ia melirik dan saya dapati wajahnya seseram yang saya bayangkan, tongkat yang berada di tangan ini siap dilayangkan. Atau, saya akan menghujani dengan doa-doa sebisa-bisanya.

Ketika doa-doa dilafalkan dalam hati, orang itu melirik kepada saya. Alhamdulillah, ternyata benar dia Ek Ing yang tersesat. Rasanya, tersesat berdua lebih melegakan dibanding tersesat sendiri. Sayangnya, dua orang yang tersesat ini makin tersesat. Kami makin menjauh dari basecamp.

Disela itu hati saya masih menyimpan rasa was-was. Bagaimana jika diakhir cerita Ek Ing ini tiba-tiba berubah jelma. Iyyhh…

Hari makin sore. Entah jam berapa. Tak ada jam tangan, karena ini jamannya Hp. Sialnya, HP kami mati. Kabut turun, angin bertiup dingin, lamat-lamat terdengar suara mengaji yang entah dari mana.

Kami memutuskan untuk terus turun. Kemana pun arahnya, jika terus turun dipastikan tiba juga di perkampungan. Dalam pada itu saya terus mengajak Ek Ing berbincang, memastikan kalau ia bukan mahluk jadi-jadinya. Semakin lama saya semakin yakin dan percaya ia Ek Ing yang sebenarnya.

Kami melewati jalanan sempit yang menghimpit badan. Sebentar! Ini benar. Benar-benar salah jalan! Turun tak menemukan jalan, naik sudah tak memungkinkan. Mengingat lutut Ek Ing yang melemah.

“Masih kuat jalan, Ek?” Sering kali saya tanyakan itu. Lenguh lelah dibalas anggukkan. Dua kali naik, dua kali pula turun lagi. Tapi titik terang tak dijumpai pula.

Dalam frustasi, terjadi kesepakatan. Jika kondisi memaksa, kami akan bermalam di sebuah tegalan yang cukup aman. Meskipun tanpa tenda. Hanya berbekal jas hujan. Dalam renung, kami melepas lelas, sesekali kami berteriak, namun tak ada sahutan di sana.

Tak putus asa, selang beberapa saat saya berteriak-teriak lagi. Alhamdulillah, Allah menakdirkan kami bertemu dengan kelompok dua yang juga sama-sama tersesat.

Ah.. akhirnya. Tersesat berenam jauh melegakan dibandingkan tersesat berdua. Apalagi tersesat sendiri. Walhasil kami tiba di basecamp magrib. Sungguh pengalaman tak terlupakan dalam dekapan Burangrang.

Bagaimana mencapainya?

Untuk bisa menuju puncak Gunung Burangrang ada beberapa titik start pendakian. Bisa dari lembang. Bisa juga dari Cimahi seperti yang kami lakukan. Jalan yang mudah di tempuh, patokan pertamanya adalah menuju kota Cimahi, Kabupaten Bandung.

Dengan menggunakan angkot Cimahi turunlah di perempatan kolonel Masturi. Selanjutnya menuju arah Kampung Nyalindung. Sayangnya, tak ada angkutan umum untuk menuju ke sana. Alternatifnya, Anda bisa memakai ojek atau sewa angkot. Kalau mau ekstrim tanpa mengeluarkan uang, atau memberi sekedarnya, Anda bisa naik mobil bak milik petani sayuran yang sering naik turun ke kawasan itu.

Turun dari Kampung Nyalindung, tanyakan saja daerah Tanah Mati, warga setempat siap memberikan informasi/rute bagaimana cara mencapai puncak Gunung Burangrang.

Masih bersambung…

****
Saya senang sekali tulisan sederhana ini dimuat di Koran PR, Rubrik Backpaker, Edisi 1 Maret 2015. Tapi ada yang kurang senengnya, ituloh masalah fotonya, hahaha…
Dari sekian foto yang saya kirimkan banyak foto yang lagi pose sebelum naik gunung. Wajah dan pakaian masih enak diliat. Ada formasi ladies lengkap, ada foto ketua KUJ, tapi yang tayang ko malah Kang Koces (kuncen G Burangrang :D) dan kastrolnya, serta peserta yang tepar bobok siang di bawah tugu Gunung Burangrang 😀
Barangkali, justru disitu kadang saya merasa sedih seni fotonya 😉

PR- burangrang

gunung-burangrang

Tersesat di Gunung Burangrang (1)

Bagi saya, bertemu dengan orang-orang baru dan lingkungan baru, memiliki keseruan tersendiri. Ketika mudik yang tak seberapa lama itu, saya beruntung bisa bergabung di Komunitas Ulin Jarambah yang kukenal sebelumnya di sosmed.

Seperti yang telah saya ceritakan di sini dan diabadikan di sini, inilah kisah lengkapnya…

Dalam Dekapan Burangrang

Saya tak ingat pasti, kapan terakhir kemping di tanah air, mungkin sekitar 25 tahun lalu. Memang di Inggris, tempat kini bermukim, setiap musim panas saya menyempatkan kemping bersama keluarga. Tapi, kondisi dan suasananya berbeda. Kemping di camp site. Dimana listrik, internet dan fasilitas lainnya tersedia.

Maka, ketika mudik kemarin, saat Komunitas Ulin Jarambah (KUJ) mengajak saya kemping dan mendaki  Gunung Burangrang, saya langsung ambil kesempatan itu.

Kini Bandung super macet. Berkendara umum dari Kiaracondong – Cimahi, memakan waktu 2,5 jam. Ah, perjalanan ini melempar saya ke masa belasan tahun lalu. Apalagi saat tiba di meeting point, perempatan Kolonel Masturi. Saya pernah tinggal di daerah ini.

Nyaris jam 8 malam, dalam hujan, di meeting point saya jumpai 15 peserta lainnya, beragam usia. Mulai dari bocah 3 SD, remaja unyu-unyu, sampai emak-emak usia kepala 4 seperti saya.

Usia bukan halangan yang penting petualangan. Terbukti, penyambutan pertama, kami disediakan mobil bak terbuka menuju lokasi. Ah, lagi-lagi kenangan menghampiri saya.  Bahkan jaman kemping Pramuka dan PMR dulu saya terbiasa naik truk tentara.

Menuju Kampung Nyalindung jantung saya dibuat deg-degan terus. Pasalnya, jalan terus menanjak, kondisi jalan kurang bagus, malam, gelap, hujan rintik pula. Saya takut mobil tergelincir lalu masuk jurang. Atau, mobil mundur karena tak ada daya mengangkut kami.

“Tenang saja, kata supirnya, mobil bak ini pernah mengangkut dua ekor sapi perah ke lokasi yang sama,” begitu kata Mang Epul. Masih menurut Mang Epul, jika ditambah dua penumpang lagi, ekuivalen dengan berat dua sapi tersebut.

Akhirnya, kami tiba selamat di Kampung Nyalindung. Dari sana kami masih harus jalan menanjak dalam gelap dan dingin, melalui pekuburan, menuju Tanah Mati, basecamp. Sesuai namanya, tempat itu didekap pemakaman umum. Konon, setiap warga Nyalindung yang meninggal dimakamkan di sana.

Dalam gelap, tenda dipasang, api unggun dinyalakan, nasi liwet ditanak. Tanpa intruksi, tangan-tangan anak alam bergerak cepat. Tenda berdiri, api unggun menyala, makan malam ala kadarnya pun disantap.

Gelegar dan gemerecak kembang api yang mungkin berasal dari Lembang, lamat-lamat terdengar dan terlihat dari kejauhan. Di sana mereka riuh merayakan pergantian tahun 2014-2015. Sedang kami menikmatinya dalam hening dan kesahajaan.

Pagi menjelang, melipat tenda, sarapan nasi liwet sekedarnya, mulailah kami naik gunung. Menurut Kang Rudy, ketua KUJ, diperkirakan kami sampai di puncak jam 12 siang. Atau, 3 jam perjalanan. Setidaknya itu menurut pengalaman dia.

Jujur, buat emak-emak seperti saya dan anak muda yang lebih suka jalan di mall, naik Gunung Burangrang itu diluar perkiraan. Medannya sulit. Tajakannya curam, licin pula. Karena tersiram hujan beberapa hari belakangan.

Jalannya sempit. Bahkan ada yang hanya setapak kaki. Kiri kanannya jurang. Banyak pohon tumbang menghalangi jalan. Akar-akar pohon yang mungkin usianya lebih dari seabad menjadi pijakan kami. Di tengah perjalan, satu peserta cidera. Terpaksa 2 lainnya menemani turun.

Walhasil, setelah 4 jam melewati medan hebat tibalah kami di puncak Burangrang. Di ketinggian 2050 mpdl semua lelah terbayar sudah. Nampak cakrawala Bandung dari ketinggian. Terlihat petak-petak sawah menghijau, gurat-gurat jalan. Langit, awan, pepohon, elang beterbangan, udara segar. Kami bertafakur atas KuasaNYA yang sempurna.

Sejauh mata memandang, tak henti ketertakjuban. Terlihat Gunung Tangkuban perahu berselimut awan. Terlihat juga Situ Lembang yang menenangkan. Bak mangkuk alam. Dimana dinding melengkung yang mengelilingi situ itu adalah dinding dalam dari kaldera Gunung Sunda, begitu menurut Bapak Bachtiar.

Dalam naungan sejuknya puncak Burangrang kami beristirahat hanya satu jam saja. Bukan tak ingin berlama-lama di sana. Menikmati suasananya, menghirup udara segarnya, mentafakuri KuasaNYA. Ini hanya masalah waktu. Kami takut, kabut menghalau sebelum tiba di basecamp nanti.

Tersesat

Perjuangan belum usai. Naiknya penuh perjuagan, turunnya apalagi. Diperlukan ekstra tenaga dan lutut yang kuat. Apalagi kontur tanahnya menukik, menyempit, berkelok serta diapit jurang. Belum lagi jenis tanah merah seperti ini jika terguyur air menjadi sangat licin sekali. Sungguh berbahaya dan diperlukan ekstra kehati-hatian.

Saya jatuh dan tergelincir lebih dari 15 kali. Celana dan kemeja bagian pantat sudah tak jelas rupa. Telapak tangan saya yang bertugas menyangga badan saat terjatuh telah memar kebiruan. Bahkan belakangan saya sadari kuku jempol kaki kanan saya nyaris terlepas. Hingga kini berbekas biru kehitaman. Saking beratnya menahan beban badan yang terus turun menukik lima jam lamanya. Tak apalah anggap saja ini sebuah tanda mata yang manis untuk dikenang.

Menghitung jatuh dan tergelincir merupakan hiburan dan keseruan tersendiri diantara kami. Jika saya kurang dari 20 kali, teman saya ada yang lebih dari 20 kali jatuh tergelincir.

Awalnya kami turun bersamaan. Tapi kemudian terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama bergerak cepat mengikuti langkah dua bocah ajaib. Akmal dan Fikri. Kakak beradik kelas 1 SMP dan 3 SD, anaknya Mang Epul.

Saya masuk kelompok dua, bersama 4 orang lainnya. Maklum, faktor usia. Selambat-lambatnya saya berjalan, masih ada peserta lainnya yang lebih lambat. Itu karena ia mengalami cedera. Mungkin di sini Tuhan mengajari saya tentang arti kesabaran dan kesetiakawanan. Merasa kesal dan sok berani, akhirnya saya memutuskan diri bergerak cepat menyusul kelompok pertama.

Sayang, meski saya mengejar tanpa henti, sekuat tenaga dan penuh keberanian, kelompok satu tak terkejar. Sedang kelompok dua ditinggalkan jauh di belakang. Lebih dari satu jam saya berjalan sendiran dengan medan yang ekstrim dan dalam hening.

Saya rasa, saya salah arah. Tersesat. Saya dilanda ketakutan. Di sepanjang jalan tak henti berdoa. Rasanya mencekam sekali. Apalagi kabut mulai turun. Kini saatnya saya untuk berteriak. Berharap ada manusia lain selain saya di sana. Panik mulai melanda. Rasanya ingin menangis kencang.

Setelah beberapa kali berteriak, akhinya ada sahutan. Bulu kuduk saya berdiri. Antara senang, lega, tapi juga was-was. Takut ia orang asing, atau mungkin mahluk asing, semacam mahluk astral sebangsa dedemit atau apalah itu.

Dengan hati berkecamuk dan diiringin doa sekencang mungkin di dalam hati, segera saya ikuti arah suara. Dari kejauhan, terlihat seseorang duduk membelakangi saya. Lelaki berjaket hitam, berpenutup kepala itu menantap jurang di depannya. Serta merta saya utarakan ketersesatan saya. Rupanya, ia pun sama. Tersesat. Tertinggal dari kelompok pertama.

Anehnya, orang itu tak juga melirik pada saya. Hingga terlintas dalam benak saya. Apakah ia mahluk lain yang menyerupai salah satu peserta hiking? Saya terus mengajaknya berbicara agar ia mau menatap saya. Dalam pikiran saya, jika ia melirik dan saya dapati wajahnya seseram yang saya bayangkan, tongkat yang berada di tangan ini siap dilayangkan. Atau, saya akan menghujani dengan doa-doa sebisa-bisanya?….

Bagaimana kelanjutan ceritanya? sy lanjutkan, silakan merapat.
Telah dimuat di Koran Pikiran Rakyat, Rubrik Backpaker, terbit hari ini 1 Maret 2015.

PR- burangrang

 

Trauma Penipuan Lewat SMS, berakhir konyol

Bertahun lalu, sebuah SMS masuk ke HP teman saya. Mengabarkan hadiah 50 juta rupiah. Syaratnya, transfer hadiah dilakukan via ATM. Karena tidak memiliki rekening yang disyaratkan, ia meminta tolong saya. Meski riskan, iming-iming rupiah membuat saya mengalah.

Kami hubungi si pengirim SMS. Ia berbicara cepat sekali, menyuruh saya menekan tombol ini-itu, transfer pulsa dan entah apa lagi, saya tak ingat, saking kedernya.

Terakhir, ketika ia meminta nomor pin ATM, saya terhenyak. Jantung berdebar cepat. Wah, penipuan ini! Saya ditampar kesadaran. Ponsel langsung dimatikan lalu keluar dari ATM sambil mengomeli teman, “ini penipuan, tau!”

Selang seminggu, saya ke ATM. Heran, ATM menolak mengeluarkan uang. Lalu saya mengecek saldo. Lutut saya lemas, keringat dingin pun keluar saat melihat saldo yang semula tiga jutaan, menjadi tiga digit saja. Sialan! SMS berhadiah itu ….

Orang Bank bilang, pembobolan rekening lewat internet diluar kuasanya. Ia angkat tangan. Kesal! Geraammm…

Sejak itu, saya trauma dengan apa-apa yang namanya hadiah yang to good to be true.

***

Waktu berselang. Beberapa bulan kemudian, di sebuah siang telefone rumah berdering.

“Ini dengan Ibu Ade?”

“Betul.”

“Bu, saya akan mengirimkan barang, cuma kesulitan menemukan rumah ibu. Posisi saya ada di wartel Z, dekat mesjid M. Tolong ibu beri alamat lengkapnya, ya?” ujar di seberang sana.

Barang? Heran. Saya tidak merasa memesan barang apapun. Mungkin suami saya memberi surprise. Saya menyuruh si kurir untuk menelefon beberapa menit lagi. Segera saya menelefon suami di kantor. Ternyata, dia tidak memesan barang apapun.

Hmm, saya curiga. Modus ini pernah saya dengar. Alih-alih mendapat barang gratisan,  malah rumah kita digasak mereka yang biasanya membawa mobil van.

Telephone berdering lagi, kurir itu mendesak meminta alamat rumah. Saya keukeuh tidak memberitahukannya.

“Pokoknya, saya tidak mau menerima barang yang bukan hak saya!”

“Bu, saya cuma disuruh bos untuk mengirimkan Mini Compo yang telah dibeli, telah dibayar. Ibu tinggal terima saja. Saya sudah berputar-putar dari tadi, pekerjaan saya masih banyak,” omelnya.

Saya emosi, “Kalau begitu, saya harus cek dulu, tokonya apa? alamatnya dimana? pemilik tokonya siapa?”

Sayangnya, ia tidak menjawab dengan jelas siapa nama pemilik toko bosnya itu. Dia cuman bilang Engko dan Enci. Ya sudah, tidak saya ladeni. Apalagi ia malah bersungut-sungut, keukeuh memaksa alamat saya. Telefon pun saya matikan.

***

Lepas isya, seorang anak kos bertanya.

“Teh, apakah ada titipan barang untuk saya?”

“Barang apa ya?”

“Mini Compo.”

“Hah?” perasaan bersalah mendera.

“Mbak ini siapa namanya?” tanya saya yang baru sebulan tinggal di rumah mertua yang memiliki 10 kamar kos.

“Ade,” jawabnya. Saya merasa makin bersalah.

Saya meminta maaf pada gadis itu. Lalu saya ceritakan kejadian tadi siang. Ia menatap kosong.

“Makanya De, lain kali kalau beli barang seperti itu, beri tahu orang rumah (ibu kos, termasuk saya),” saya mencari alasan.

Wajahnya kecut. Pikirnya, tak yakin si kurir mau datang kembali.  Lalu ia berinisiatif untuk mengambilnya sendiri ke toko tsb. Dalam tatap nanar yang hambar ia bertanya,

“Jadi, teteh namanya Ade juga, ya?”

“Bukan.”

Ia melongo.

“Teteh namanya siapa?

“Nama saya Rosi.”

Ia ternganga.

“Suami saya namanya Ade. Jadi, di perumahan tempat kami tinggal dulu, saya dipanggil Bu Ade.”

“?!….” alis gadis itu berkerut. Heran dengan kekonyolan saya.

***

Pesan moral:

  • Waspada boleh, parno jangan! 😀
  • Ingat sama nama anda sendiri 😛
  • Buat yang punya kos-kosan kenalin nama anak-anak kos anda 🙂

Tulisan konyol ini telah dimuat di Majalah Ummi Edisi 9, 2014 dengan judul “Karena Sebuah Nama” yang covernya ustad Reza 😉

ummi senyum simpul

Penipuan lewat Facebook

Pesan Ari Lasso kepada para pria, bagaimana cara menjebol hati wanita: “Sentuhlah ia tepat di hatinya, buatlah dia terbang melayang…” sangat tepat.

Sayangnya pesan Ari Lasso itu banyak dimanfaatkan oleh lelaki jahat. Setelah hati digenggam, akal sehat tenggelam, nalar pun tak lagi berfungsi ketika ia “terbang melayang”, seperti yang Ari Lasso bilang.

Fakta mudah lelehnya hati perempuan melahirkan fenomena tipu daya lelaki jahat di dunia maya. Sebenarnya ini lagu lama. Tapi herannya, sampai detik ini, masih saja banyak wanita yang termakan tipu rayu lelaki. Ironis memang.

Senjata apa sih yang digunakan lelaki jahat dalam merampok hati wanita? Sepele, hanya kata-kata. Kata-kata cinta, kata-kata harapan dan masa depan dan tentunya dibumbui drama fiksi belaka.

Kisah sedih istrinya yang meninggal karena kanker, menjadi single parent lalu mencari pengganti istrinya, ia memiliki karir bagus dan seterusnya. Modal kata-kata seperti itu mampu membuat banyak perempuan masuk dalam kisahnya yang seolah nyata. Tak lupa kata-kata manis diumbar. Babe, love, honey dan seterusnya. Membuat si perempuan tersanjung dan terperangkap dalam romantisma.

Tak usah menunggu lama untuk sampai perempuan itu terbuai dan klepek-klepek dibuatnya. Dalam hitungan beberapa minggu, dipastikan si perempuan merasa klik. Klop. Dan berkesimpulan, inilah tambatan hati yang selama ini dinanti.

Facebook, perempuan Indonesia yang lugu, dan lelaki bule yang lihai merayu, itulah fenomena scam cinta dunia maya. Saat si perempuan telah melayang, termakan kata-kata, hatinya jebol, nalar pun mengikuti kata hati, jebol pula. Maka, ketika si belahan jiwa yang (katanya) terpisah benua itu berada dalam kesulitan, tentunya si perempuan tak sungkan untuk menolongnya. Bahkan untuk urusan yang sangat sensitiv sekalipun. Uang.

Meski beresiko, toh banyak juga perempuan Indonesia yang melakukan hal ini. Mengirimkan uang kepada seseorang yang belum pernah ia jumpai di dunia nyata. Dengan asumsi, semua yang kirimkan pasti kembali dengan hitungan yang berkali lipat, sesuai janji si bule. Tak hanya itu iming-iming perhiasan pun melengkapi kepercayaan si perempuan.

Tidak disangkal, bagi sebagian perempuan Indonesia mendapatkan pasangan hidup seorang bule adalah nilai lebih. Mereka berpikir lelaki bule lebih romantis, bisa mempebaiki keturunan, bisa hidup “wah” dan memperlakukan perempuan dengan baik dan istimewa. Padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Baik-buruk, hitam-putih, selalu ada di setiap tempat, setiap negara. Begitu pun dengan laki-laki.

Mengenai scam cinta dunia maya ini, penulis pernah bersigungan langsung. Adalah seorang teman lama, sebut saja Bunga 😀 yang terkait kembali di jejaring sosial, setelah ia mengetahui bahwa penulis bertempat tinggal di Inggris. Bunga yang memiliki kekasih orang London, meminta bantuan untuk menelurusi keberadaan kekasihnya, sebut saja ia bernama X.

Pasalnya, dalam sebulan terakhir X sangat sulit dihubungi. Padahal sebelumnya mereka intens bertemu di media chat room Facebook. Bahkan mereka telah mereka-reka rencana masa depan berdua. Bunga memberikan alamat rumah dan nomor telefon X.

Sebenarnya, bagi penulis yang tinggal di kota Worcester, sangat mudah mengecek keberadaan alamat rumah X di London, yang berjarak 137 mile dan harus ditempuh sekitar 3 jam. Tinggal klik Google Map, semuanya terlihat di sana dalam hitungan detik. Setelah di klik, cukup mencengangkan. Sebab alamat rumah X itu adalah sebuah gedung perkantoran yang baru dibangun.

Lalu, mengenai nomor telefon. Penulis lebih tercengang lagi. Bunga menyebutkan nomor ponsel X adalah +447012946054. Kesan pertama setelah telefon tersambung,  suaranya di seberang sana terdengar kurang jelas. Kesan kedua, si penerima telefon tidak beraksen Inggris British, lebih ke aksen orang kulit hitam. Kesan ketiga, ia tercengang ketika saya katakan, saya temannya Bunga dari Indonesia. Seterusnya ia menjadi sulit diajak komunikasi dengan alasan sinyal tidak bagus. Ia memberi saran agar meng-SMS alamat email saya kepadanya. Ia berjanji akan menjelaskannya semuanya melalui email.

Anehnya, berulang kali SMS dikirimkan selalu gagal. Kembali Google menjadi tempat untuk bertanya. Kesimpulannya adalah: nomor +4470xxxx tersebut bisa dibeli dari dua perusahaan di UK yang menyediakan service telefon internet. Biasanya nomor ini dipakai oleh pebisnis yang sering wara-wiri lintas negara. Tapi kemudian, nomor ini banyak digunakan oleh para scamer karena pendaftarannya tidak ketat dan murah. Scamer juga mendapatkan bagian uang dari setiap telefon yang masuk ke nomor +4470xxxx ini. Jadi, telephone dengan nomor awal +44xx tersebut belum tentu berlokasi di UK, bisa di Nigeria, bisa di Malaysia, bisa pula di Indonesia

Kecurigaan pun semakin bulat. Sebab, penulis menggunakan paket telefon sekian pounsterling untuk penggunaan sepuasnya (free) ke handphone seluruh UK. Tapi ketika mengontak nomor telefon X di nomor +4470xx tadi, sekitar satu menit penulis kena biaya sebesar £ 4,5.

Mencengangkannya lagi, ketika Bunga makin terbuka. Ia katakan, bahwa sebelum X menggunakan nomor +4470xx ini, Bunga biasa menghubungi X di nomor +2347060516686. Surprise, karena menurut Google +23470 adalah nomor handphone Nigeria dan nomor scam ini sudah terkenal di jagat maya.

Setelah fakta-fakta terbuka jelas, lemaslah Bunga yang sudah empat kali mengirimkan uang kepada X, mulai dari Bulan Mei hingga Agustus. Dan satu persatu kekukuhan Bunga terbantahkan, berguguran. Tapi X bilang, ia lulusan Universitas A dan bisnis perhiasannya cukup sukses. Hei, bukankah lidah tak bertulang? Siapapun bisa mengatakan ini dan itu, A, B, hingga Z?

Lalu, dengan PPnya di FB itu? Hei, bukankah kita hidup di jaman internet? Berapa miliar wajah-wajah manusia di dunia ini nampang di internet? Milyaran. Tinggal pilih, dalam hitungan detik, kopas, lalu masukkan dalam akun Facebook yang baru dibuat, jadilah sosok baru. No wonder, jika si X ingin akunya diseting privat, tanpa teman lainnya. Hanya kalian berdua. Terlebih koleksi fotonya hanya satu-dua saja, buram pula.

Jadi, wahai perempuan Indonesia, berhati-hatilah akan ucapan lelaki yang baru dijumpai. Jangan mudah percaya. Apalagi jika menyangkut hal yang paling sensitive, uang. Juga, selain menggunakkan hati, gunakan pulalah nalar yang sehat ketika seorang lelaki mengumbar kata-kata. Bukankah lidah tak bertulang? Tak terbatas kata-kata.

Dan yang tak kalah penting, wahai perempuan Indonesia, gunakanlah smart phone dan gadget yang anda miliki untuk mengakses internet dan menjawaban tindakan-tindakan yang mencurigakan. Sebelum anda terjatuh dalam lubang scam asmara yang membutakan nalar dan menguras rekening isi rekening.

******

Sebuah tulisan lama yang ingin dishare, karena sampai saat ini masih saja ada yang termakan rayuan gombal yang jijai bajai.

Opini tribun