Udah lama banget nih ngak ngirim tulisan ke media cetak. Sebagai obat kangen, minggu kemarin saya menuliskan pengalaman saya ngabuburit di Kota Birmingham. Dan alhamdulillah dimuat di Koran Pikiran Rakyat, Edisi 12 Juli 2015, Rubrik Backpacker.
Category Archives: inggris dan ceritanya
Villa Park, Kandang Aston Villa
Buat anda penggemar Aston Villa, jika ke Inggris, jangan lupa mampir ke kandang Aston Villa yang bertempat di Kota Birmingham. Klub sepak bola yang berdiri sejak 1874 ini merupakan salah satu pendiri Football League pada 1888.
Hampir semua klub sepak bola Inggris memiliki nama untuk kandang berlatihnya. Jika kandang MU bernama Old Traffordnya, kandang Aston Villa bernama Villa Park. Villa Park merupakan stadion terbesar di Midland Inggris. Sekaligus menduduki urutan ke-delapan terbesar se-Inggris.
Kesan pertama ketika saya tiba di Villa Park, saya temukan nuansa bangunan tua di bagian atas stadionnya yang didomonasi warna merah bata karena memang materialnya didominasi bata merah, seperti terakota.
Untuk bisa mengunjungi klub yang bermain di Liga Utama Inggris ini Anda bisa menggunakan bus, kereta ataupun menyewa mobil. Jika menyewa mobil, tinggal ketikkan kode pos berikut ini: Villa Park, Trinity Road Birmingham, B6 6HE pada GPS Anda. GPS pun dengan setia mengantar Anda ke stadion sepak bola terbesar di Midland Inggris ini.
Jika hendak menggunakan kereta api, Anda bisa turun di Aston Station atau di Witton Station. Sedangkan jika menggunakan bus, bisa menggunakan bus nomor 7 dan 11.
Sayang, waktu saya berandang ke sana sedang tidak ada pertandingan, sudah sore pula. Dimana Villa Park sudah tutup. Jadi saya tidak melihat bagian dalam stadion yang berusia nyaris 150 tahun alias satu setengah abad ini.
Jika Anda akan bertandang ke sana, perhatikan waktunya. Atmosfernya akan lain, tambah seru, jika sedang ada pertandingan pada saat itu. Jikapun tidak sempat menonton pertandingannya, anda bisa mengikuti tur menjelajahi setiap sudut stadionnya.
Namun, perhatikan pula jadwal turnya. Untuk saat ini tur dibuka di hari Rabu, Jumat dan Minggu. Harga tiket tur di hari kerja dan hari minggu beda. Dua kali lipat. Di hari kerja, tiket dewasa £15 (sekitar Rp. 300.000,-) dan anak di bawah 18 tahun £10 (sekitar Rp. 200.000,-). Sedangkan di akhir pekan, dewasa £30 dan anak di bawah 18 tahun £20. Bedanya, tur diakhir pekan itu plus makan siang dengan sajian tiga menu.
Mahakarya Indonesia Menggema di Luar Nusantara
Mahakarya Indonesia, persembahan anak bangsa.
Meski tak besar, tapi ini jati diri kami.
Rasa bangga kami.
Pada negeri nan elok.
Pada tumpah darah yang selalu dirindukan.
Meski jauh dari ibu pertiwi, Indonesia selalu di hati.
*****
Siang nan hangat di sebuah bagian negeri Inggris berkumpul warga Indonesia dari berbagai wilayah asal. Meski acara digagas PPI setempat namun pengunjung yang hadir tidak hanya para mahasiswa tapi juga dari latar belakang profesi yang beragam dan dari suku yang bermacam-macam pula. Meski beda, meski beragam, satu yang menyatukan kami, Indonesia.
Ya, karena kami, satu bangsa, satu bahasa dan satu budaya. Budaya yang amat kaya. Budaya yang harus tetap dipegang oleh masing-masing kita, anak bangsa. Salah satunya budaya tari.
Musik gamelan menggema diiringi tepukan tangan nan riuh menyambut hadirnya seorang penari Bali yang pentas di panggung sederhana, namun kaya nuansa. Riuhnya tepuk tangan itu seolah mencerminkan hausnya segala sesuatu yang berbau “Indonesia”.
Tepuk riuhpun diberikan warga asing yang turut hadir disana, dimana jumlahnya sangat banyak. Tepukan riuh mereka bagaikan bentuk ketertakjuban. Hei, inilah Mahakarya Indonesia itu!
Sejak diawal pertunjukan tari, saya tertegun, begitupun penonton lainnya. Kami tersirap tariannya. Termasuk bapak Hamzah Thayeb selaku Duta Besar RI untuk Inggris. Kami hidmat menikmati gerakan demi gerakan tariannya yang melebur kental bersama iringan musik gamelan yang melingkup kami di area terbuka Nottingham kala itu. Benar-benar merasa dalam dekapan Indonesia. Suasananya, nuansanya, rasanya.
Adalah Made Ari Mahadi, seorang mahasiswa S2 University of Glasgow, yang mempersembahkan tari Bali dengan penuh penjiwaan. Bukan hanya penyatuan olah tubuh dan iringan musik gamelan. Tapi lebih dari itu. Ia memainkan tariannya sepenuh ruh.
Menurut Made Ari, yang menjadikan tarian Bali itu bernyawa adalah taksu. Taksu itu sendiri merupakan tingkat spiritual tertinggi yang hadir dari dalam jiwa seorang Hindu yang erat kaitannya dengan peribadatan.
Sedangkan taksu yang dimaksud Made di sini adalah taksu dalam hal berkesenian. Seni tari salah satunya. Taksu memberikan energi, kehalusan jiwa, dan kemurnian pikiran yang mampu menggerakkan setiap gerak para penari. Sehingga tarian yang tersaji terlihat memesona dan berkharisma. Hingga mampu membuat penonton terkesima.
Masih menurut Made Ari, Taksu itu ada dua macam, yaitu Taksu bawaan lahir dan taksu yang digali sendiri. Menurutnya ia tidak memiliki taksu bawaan. Meski demikian, taksu bisa diciptakan dalam jiwa seseorang. Caranya adalah dengan kegigihan, kesabaran dan kerendahan hati.
Dengan banyak berlatih tari, aura-aura taksu akan tercipta dengan sendirinya. Tidak mudah memang. Itu memerlukan waktu. Bisa bertahun-tahun, mungkin pula berbelas tahun. Namun bisa pula berproses cepat. Tergantung sebesar apa kegigihan, kesabaran dan kerendahan hati seorang penari saat berlatih tari dan ketika ia menari di depan umum. Kuncinya adalah menari dari hati. Bukan hanya Wiraga (olah tubuh) dan wirama (menyelaraskan irama gamelan) tapi juga wirasa, ini yang penting.
Wirasa adalah kemampuan untuk menghayati tarian yang dimanifestasikan dalam bentuk ekspresi wajah dan pengaturan emosi diri. Hidupnya suatu tarian sangat dipengaruhi oleh penjiwaan sang penari dalam memerankan karakter yang dibawakannya.
Jika wirasa selalu dihadirkan dalam setiap tarian yang dipentaskan, lama kelamaan taksu itu akan hadir melekat dalam diri penari tersebut.
Niat Kuat dan Kegigihan Kunci Keberhasilan
I Made Ari Mahadi nama lengkapnya. Made panggilannya. Pertama kali belajar menari Bali ketika memasuki SMP Negeri. Jika saja waktu itu ia bersekolah di SD Negeri, pastinya ia sudah mendapatkan pelajaran menari Bali sejak usia 6 tahun. Sayangnya, waktu itu Made bersekolah di SD Swasta yang tidak menerapkan kurikulum menari Bali sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal.
Menurut Made, sebagai orang Bali, menari Bali adalah sesuatu yang ingin ia pelajari dan kuasai. Diawal-awal, Made merasakan kesulitan mempelajari tarian Bali. Ia harus mempelajari gerakan-gerakan dasar selama satu semester. Selama itu, belum diperkenalkan dengan irama gamelan. Sementara teman-teman lainnya yang dulu bersekolah di SDN sudah menguasai tari Bali.
Meski diawal terasa sulit, namun berkat kegigihannya, seiring waktu Made bisa menari Bali dan ia sangat menikmatinya. Progres cepat yang didapat Made tidak berlaku untuk semua temannya. Tergantung seberapa gigih, seberapa ulet dan seberapa besar kecintaan seseorang terhadap. Ada juga teman Made yang tidak juga bisa menari Bali. Karena ia beranggapan, untuk apa belajar tari Bali sebegitu seriusnya. Toh hal tersebut tidak akan terpakai saat seseorang memasuki dunia kerja.
Benar memang, tapi Made memiliki pemikiran lain. Biarpun menari tidak akan dijadikan profesinya di kemudian hari, namun ia tetap mempelajarinya. Selain karena kecintaanya pada tari Bali ia memiliki pemikiran lain. Baginya, mampu menari Bali adalah sebuah bentuk identitas diri. Karena semenjak SMP ia sudah mematri diri. Suatu saat, saya akan bersekolah di luar Bali, ujar anak Kabupaten Tabanan ini. Malah kemudian seiring waktu, niatnya bertambah kuat. Bahwa, suatu saat saya akan pergi (entah itu sekolah ataupun bekerja) ke luar negeri.
Dan pada akhirnya, niatnya yang kuat tersebut benar-benar membawanya ke luar Bali. Selepas kuliah, ia berkarir di Jakarta selama dua tahun sebagai seorang marketing. Mimpinya untuk bisa ke Luar Negeri masih terpatri. Dengan kegigihannya, akhirnya ia berkesempatan mendapatkan beasiswa S2 di University of Glasgow.
Sebagai orang Bali yang didekap dunia pariwisata, Sarjana Ekonomi ini kemudian memilih jurusan Tourism. Seperti halnya menari, memberikan sajian seni yang bisa dinikmati khalayak ramai, dunia pariwisata pun demikian adanya. Bali dan penduduknya yang memiliki budaya gotong-royong memiliki jiwa melayani, hospitality.
Apapun Profesinya, Menari Adalah Bagian dari Identitas Diri
Sedari awal, tujuan Made ingin menguasai tari Bali ada dua. Yang pertama, karena ia menyukai dan menikmatinya. Tidak terlintas dalam benaknya jika suatu saat bisa tampil di hadapan khalayak ramai. Jika kemudian ia didampuk untuk menari di lingkungan kampusnya, maka itu adalah sebuah bonus. Made beberapa kali tampil di Britania Raya. Diantaranya di Glasgow, Skotlandia, di Nottingham dan di London pada 14 Juni 2015 kemarin.
Tujuan kedua adalah sebagai identitas diri. Dan itu terbukti sudah. Ketika ia berkuliah di negeri orang ia mampu menjadi duta Bali, duta Indonesia, lewat tariannya itu. Ia mempersembahkan tarian Mahaharya yang dimiliki Indonesia tersebut di hadapatan warga asing. Sehingga mereka membuka mata dunia Inilah Mahakarya Indonesia itu.
Dimana untuk bisa tampil dengan sesempurna itu Made harus mempelajarinya bertahun-tahun, melatih dirinya dengan penuh kegigihan, kesabaran dan kerendah hati. Semua usaha yang dilakukan Made membuahkan hasil berupa apresiasi dari penonton. Dan yang paling penting adalah kepuasan hati yang dirasakan Made Ari.
Betapa, apa yang dicitakannya sedari dulu tercapai sudah. Bahwa ia memiliki jati diri sebagai bangsa Indonesia, sebagai putra daerah Bali.
Apapun profesinya nanti, menari Bali akan tetap ia tekuni.
Indonesia…
Bangsa yang rekat.
Walau ribuan pulau memisahkan yang satu mimpi.
Walau terbagi beribu suku, kita membuka telinga untuk semua teladan.
Kita akan senantiasa merunduk dan mengasah sebuah keaslian rasa.
Kita merendahkan hati.
Kita tak melompat atau terbang.
Kita melangkah mantap.
Satu, demi satu, demi satu.
Setiap helai benang dan torehan.
Setiap tetes dan gerakan.
Untuk nikmati aroma keberhasilan.
Kita bersabar.
Kita menempa kualitas diri dan menjaganya agar tak pernah berubah.
Dan saat sesuatu berjalan selayaknya, kita setia, patuh pada tata cara.
Kita lupakan satu, sampingkan sendiri.
Lalu memupuk kesempurnaan bersama.
Karena kapal ini butuh semua tenaga.
Kita bergotongroyong.
Lihatlah, sesuatu yang dimulai dari dalam tak akan runtuh terkikis waktu.
Inilah jiwa Indonesia.
Jiwa yang menciptakan mahakarya
(234 Mahakarya Indonesia)
Duh, dalam banget. Narasi di atas merupakan pesan sponsor yang saya kopas dari blognya Katerina.
Sumber tambahan
- https://ngurahpandu4mgg.wordpress.com/2012/11/14/menghidupkan-tari-dengan-wiraga-wirama-dan-wirasa/
- http://belajarbudbali.blogspot.co.uk/2012/10/taksu.html
Sumber informasi lomba dari blognya Katerina, thanks ya, jeng 😉
Dapatkan barang murah, jelang tutup toko
Meski biaya hidup di Inggris amat tinggi, namun kita bisa mencermatinya dengan berbagai cara. Seperti, berbelanja beberapa barang sesuai keperluannya di charity shop ataupun di car boot sale. Satu cara lainnya yang ingin saya bagikan adalah berbelanja jelang tutup toko.
Untuk diketahui, hampir semua jaringan supermarket besar (milik) Inggris, seperti ASDA, Morrison, Tesco dll, memiliki produk makanan yang diproduksi harian. Seperti aneka roti dan aneka makanan jadi (ayam panggang, pie, pasta, dll). Menurut standar penjualan, makanan-makanan tersebut tidak layak dijual esok hari.
Seperti cerita anak saya yang diberi sekantung produk harian suatu cafe (carrot cake, lemon cake, cheese sandwich dan dua scone ukuran jumbo) saat sebelum cafe tersebut tutup. Kemungkinan besar karena makanan-makanan tersebut tidak memakai pengawet dan untuk menjaga kualitas juga tentunya.
Sama halnya cafe, supermarket yang saya sebutkan di atas tadi itupun memiliki standar penjualan yang sama. Dimana semua roti/cake dan makanan olahan harian itu harus terjual/keluar di hari yang sama saat diproduksi.
Jika roti dan makanan olahan tersebut terjual tiga jam sebelum toko tutup tentulah tak ada masalah. Namun setelahnya, produk makanan tersebut mulai dibandrol miring. Setiap supermarket memiliki hitungan waktu yang berbeda, namun rata-rata, produk makanan tersebut dibandrol miring, tiga jam sebelum tutup toko.
Jika setelah dibandrol miringpun belum terjual, maka di satu jam terakhir toko tutup, harga itupun diturunkan lagi. Jika dikira-kita, potongan harga pertama sekitar 70%, potongan harga kedua sekitar 40%. Persentasi itu tentulah tidak mutlak. Tergantung jenis produknya, tergantung supermarketnya, dll.
Sebagai contoh, harga roti tawar satu loaf 80p, diskon pertama jadi 54p, diskon kedua jadi 35p. Contoh lainnya, ikan salmon, harga awal £5,20, diskon pertama jadi £3,69, diskon kedua jadi £2,80. Mayan banget kan bedanya? Tapi jangan salah ya, meski makanan ini dibandrol murah, namun kualitasnya masih bagus. Rotinya masih empuk, begitupun produk makanan jadi lainnya.
Selain produk harian: roti/cake, makanan olahan yang disebut diatas, produk lainnya yang mengalami potongan harga adalah produk fresh, seperti: sayuran kemasan, daging kemasan, ikan kemasan, makanan instan, dll. Produk-produk makanan yang terakhir ini memiliki masa pajang/masa kadaluarsa. Meski tertera tanggal kadaluarsa namun kualitas produknya kadang masih bagus. Tanggal kadaluarga bukan tanggal terakhir konsumsi. Meski demikian, sebaiknya Anda tidak menyimpan lama barang-barang yang sudah dibeli ini. Dikonsumsi di hari yang sama, atau paling tidak keesokan harinya.
Sama halnya seperti grup makanan pertama, grup makanan kedua inipun mengalami dua kali potongan harga sebelum tutup toko.
Mengenai display tempat, Anda bisa perhatikan di beberapa spot, tergantung supermatketnya sih. Saya ambil contoh, ASDA. Biasanya ASDA meletakkan roti diskonan di rak besi beroda yang bisa dipindah-pindah (apalah namanya itu) dekat pintu masuk. Sehingga langsung tertangkap mata oleh para konsumen.
Untuk display makanan segar biasanya diletakkan di ujung lorong/chiller (apalah namanya itu) dengan strip warna tertentu (biasanya merah) dan bacaan jelas “still fresh – reduced price”
Sedangkan untuk produk daging/makanan olahan harian seperti ayam panggang, pie, pasta dll, menempati tempatnya semula di konter khusus. Sekali lagi, tentunya mengenai spot pojok diskon itu tidak mutlak, tergantung supermarketnya.
Namun demikian, di manapun letaknya barang-barang diskonan ini, ada saya ciri khusus. Ialah lebelnya. Untuk ASDA dan untuk beberapa supermarket, mereka memakai lebel harga berwarna kuning. Mungkin supaya lebih kentara/mencolok.
Setelah tahu hal ini, gimana? apakah Anda akan berbelanja di akhir tutup toko? 😀
Semoga informasi ini bisa berguna bagi emak irits ataupun para mahasiswa yang akan/sedang berkuliah di Inggris.
Kalau bisa mendapatkan harga murah, kenapa juga harus keluar uang lebih? Iya ngak? 😉
Selamat belanja bijak!


