Category Archives: inggris dan ceritanya

NET_CJ Bistrol Indonesian Society

Ini adalah debut pertama saya dalam membuat video Citizen Journalist.
Lokasi : Bristol, Sabtu 25 April 2015

Link tulisannya bisa dibaca di sini: Mewawancara Dubes RI untuk Inggris itu…

Juga bisa di baca di link berikut ini http://www.penulisgoabroad.com/community/bristol-indonesian-society-gathering.

acara bristol indonesian society

 

 

Car Boot Sale, Inggris

Selain toko charity, ada sebuah tempat lainnya di Inggris yang menjual barang bekas. Namanya car boot sale. Berbeda dengan toko charity, car boot sale  tidak menempati toko tapi digelar di lapangan terbuka.

Dinamakan car boot sale karena sejarahnya. Konon, diawal tahun 1970’an seorang pastor berinisiatif menjual barang-barang bekas di car boot atau di bagasi mobilnya. Dimana keuntungan dari penjualan barang-barang tersebut digunakan untuk charity/disumbangkan.

Diawal-awal tahun tersebut banyak orang mengelar acara serupa dengan tujuan non komersil. Namun seiring waktu, konsep berjualan dengan menggelar lapak di bagasi mobil tersebut dikoordinir hingga meluas dengan tujuan komersil.

Sedikit bernostalgia, ajang serupa inipun pernah saya rasakan di tanah air. Bagi ABG Bandung angkatan 45 80’an, nuansa ini bisa dirasakan di kawasan Gasibu/Gedung Sate saat minggu pagi. Duh, tua amat ya yang nulis 😀
Tentu saja Gasibu waktu itu masih lengang tidak segila sekarang macetnya.
Pada saat itu anak-anak mahasiswa berjualan di bagasi mobil mereka. Selain menjadi ajang bisnis, juga sebagai ajang mejeng-mejeng dan ngeceng-ngeceng gitu deh.

Balik lagi ke car boot sale Inggris. Kini, para penjual tersebut tidak lagi memajang barang dagangannya di boot/bagasi mereka. Tapi ditata di meja pajang atau di rumput yang sebelumnya diberi alas. Tentunya, keuntungan dagangannya bukan untuk charity tapi masuk kantong pribadi. Namun ada juga satu dua yang berjualan untuk charity.

Untuk bisa berjualan di sini, para pedagang harus membayar sewa lapak ke pemilik tanah seharga £5. Sedangkan untuk truk diharuskan membayar £7-10 tergantung besarnya kendaraan. Dengan durasi berjualan mulai dari jam 7 hingga jam 2. Di beberapa tempat ada juga yang menggelar car boot sale hingga sore hari. Kebanyakan car boot sale digelar di hari minggu, namun ada juga digelar di hari Sabtu atau hari libur lainnya.

Adapun barang yang dijual di car boot sale ini sangat beragam, sama halnya dengan barang-barang yang dijual di toko charity. Namun harganya lebih murah lagi. Seperti pakaian, perkakas, barang elektronik, bahkan laptop dan lain sebagainya.

car boot sale inggris

Aneka laptop second

Jika dipersentasikan, antara pedagang barang bekas dan baru, sekitar 70-30. 70% berjualan barang second, 30% barang baru. Seperti pakaian, tas, perkakas/perabotan rumah tangga dan lain sebagainya.

car boot sale inggris

Berbeda dengan toko charity, nuansa car boot sale lebih meriah. Selain karena digelar dilapangan terbuka, pembelinya ramai mondar-mandir, juga dimeriahkan para pedagang makanan/minuman, pedagang tanaman, kadang ada pertunjukkan musik indian. Bahkan  di car boot sale skala besar, seperti di Kota Worcester, tempat kami tinggal, dimeriah oleh bouncy castle, agar anak-anak betah berlama-lama. Ada juga penyewaan kuda tugang. Kuda poni maksudnya, alias kuda mini.

Sebetulnya car boot sale dimulai sejak musim semi. Namun puncak ramainya saat musim panas. Tentulah dengan alasan, waktu yang tepat untuk menikmati hangatnya matahari yang sangat dinanti.

Jadi, kadang, ada atau tiada barang yang ditargetkan, pokonya ngarbut aja. Dapat barang syukur, gak dapat juga gak apa-apa. Yang penting bisa berjemur sambil cuci mata.

Charity Shop di Inggris

Toko Charity

Jika Anda jalan-jalan ke Inggris, Anda akan menemukan Charity Shop atau Toko Charity sejejeran dengan toko-toko lainnya. Dinamakan toko charity, karena keuntungan dari penjualan barang-barang tersebut sepenuhnya diperuntukkan bagi kegiatan amal. Bahkan, karyawannya itu sendiri tidak dibayar alias pekerja sukarela. Kecuali level manager saja yang menerima upah. Tentulah sepadan, karena ia yang bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan toko yang bergerak di bidang kemanusiaan ini.

Lalu, dari manakah sumber barang-barang yang dijual di toko charity ini berasal? Tidak lain adalah dari sumbangan warga. Jadi memang 95% barang-barang yang dijual di toko ini second hand. Tapi jangan salah, meski demikian, kualitas barang-barang tersebut masih bagus. Karena banyak para donatur ini menghibahkan barangnya dikarenakan bebenah rumah dan mengeluarkan sebagian barang yang sudah tidak diinginkannya, lalu diberikan ke toko charity.

Sedangkan 5%nya lagi merupakan sumbangan dari toko/perusahaan yang gulung tikar. Maka jangan heran jika sekiranya ketika Anda melancong ke Inggris dan menemukan barang-barang 100% baru, bisa jadi barang-barang tersebut hasil hibah dari toko/perusaahaan yang gulung tikar.

Barang apa saja yang dijual di toko charity ini?
Banyak banget ragamnya. Mulai dari pakaian bayi sampai pakaian oma opa. Mulai dari pakaian musim panas yang irit bahan, sampai pakaian musim dingin yang super tebal. Mulai dari barang-barang kecil semisal: buku, mainan, hiasan/pajangan rumah, aksesoris, tas, sepatu, sampai barang-barang ukuran besar seperti satu set meja makan, lemari pakaian, spring bed, kulkas dua pintu, TV dan lain sebagainya.

Sekilas, tidak nampak perbedaan antara toko charity dan toko lainnya. Sama-sama menata barangnya serapi dan semenarik mungkin. Etalase-etalase tokonya terlihat kiclong. Penataan apik menekin, tas, sepatu dan aksesoris lainnya mampu menarik kaki untuk memasuki tokonya.

Mengenai harga, tentu saja barang-barang tersebut dibandrol dengan harga super murah.

Soal kemanusiaan, Inggris memang memiliki rasa berbagi dan kepedulian yang tinggi. Maka tak heran ratusan yayasan kemanusiaan tumbuh subur di negeri ini. Banyak dari yayasan-yayasan tersebut mencari sumber pendapatannya dari toko charity. Strategi yang bagus, kan?

Banyak yang diuntungkan dalam hal ini. Para donatur tidak sulit menyingkirkan barang-barang yang sudah tidak diinginkannya. Toko charity bersenang hati menampungnya. Pembeli senang mendapatkan barang bagus dengan harga murah. Dan yang paling merasakan manfaatnya ialah orang-orang di luar sana yang menerima bantuan/sumbangan dari yayasan-yayasan yang menaungi toko-toko charity tersebut.

Entah itu digunakan untuk mensuport para penderita penyakit tertentu, seperti yang terkena cancer, penyakit jantung, dimensia dan lain sebagainya. Hingga sumbangan ke luar negeri. Seperti ke negara-negara Afrika yang mengalami krisis air, gizi buruk, serta negara-negara yang terkena bencana dan lain sebagainya.

Jadi, charity shop ini adalah sebuah konsep belanja sambil beramal. Semoga di negara kita juga bisa diterapkan, ya? Atau mungkin sudah?

Selain toko charity, ada satu lagi tempat jualan barang yang super murah, di sini.

Juru Bangun

Heuheu..  judulnya aneh banget, ya? 😛

Menurut KBBI sih “juru” itu artinya orang yang pandai dalam satu pekerjaan. Juru masak, juru tulis dll..

Trus, juru bangun, paan?
Itu mah istilah saya aja yang artinya tukang bangunin orang.
Orang siapa?
Orang di rumah.
Rumah sapa?
Rumah saya 😛

Jadi, memasuki puasa ke lima ini, so far kami tidak/belum mengunakan alarm sebagai alat bantu dengar bangun. Kami mengandalkan salah satu diantara kami (emak, bapak, adik, kakak) sebagai tukang jaga.

Abisnya, jarak antara selesai terawih dan sahur deket banget. Hanya 1,5 jam doang. Kalau semuanya tidur takutnya blas.. sampe pagi. Itungan 1,5 jam itu belum termasuk ritual-ritual kecil tetek bengek lainnya. Di satu jam pertama tidur, itu lagi asik-asiknya lelap loh. Menurut pengalamanku, biasanya di satu jam pertama itu susah banget bangun dengan sendirinya. Bahkan alarm sering kali gak mempan. Maka dari itulah perlunya juru bangun.

Bayangkan, biasanya kami kelar shalat terawih berjamaah di ruang tengah itu jam 23.30 – jam 12 malam. Tergantung mulainya dan tergantung bacaan shalatnya. Baru juga naik kamar, pukul 1.30 udah masuk dapur lagi. Nanggung banget kan tidur 1,5.

Karena takut kebablasan. Maka sedari hari pertama puasa, tanpa perencanaan, tercipta aja pembagian waktu jaga diantara kami.

Awalnya, di hari pertama teraweh usai pukul 11.30. Sementara yang lain udah pada teler, si sulung masih seger aja tuh. Emang lagi ngerjain sebuah projek juga sih. Sebagai tukang begadang, diapun bilang, kalian semua tidur, nanti teteh yang bangunin. Oke deh kaka…
Pukul 01.00 aka sejam setengah kemudian, doi bangunin saya. Saya pun masuk dapur deh..
Sahur pertama.

Hari kedua sahur, setelah usai shalat teraweh nyaris tengah malam, semua tumbang. Ngejoprak di kasurnya masing-masing. Apalagi si kuteh yang kecapean jalan seharian di hari pertama puasa. Kebetulan malam itu saya belum ada rasa kantuk. Jadinya kutak-ketik n ngeblog. Jam satu ngeposting, lalu masuk dapur deh. Setelah siap, baru ngebangunin pasukan. Sahur… sahur…

Hari ketiga dan keempat sahur, weekend, kan? Tanpa ada pengaturan jaga, giliran si bapak yang kebetulan begadang. Dua hari berturut-turut kami dibangunin si bapak.

Hari kelima puasa, giliran dua anakku yang begadang. Kebetulan si adik menghadapi ulangan umum mulai hari Senin. Jadi si kakak nemenim dia belajar dengan cara melempar pertanyaan, si adik menjawab, terus dan terus begitu. Keduanya terjaga untuk belajar. Sedangkan saya tidak masuk kamar. Tapi tidur di sofa menemani mereka yang belajar di ruang tengah. Pukul satu lewat, saya dibangunkan oleh keduanya. Sahur…

travelodge hotel

Setelah shalat subuh, seperti biasanya, semua tumbeng, ngejoprak di kasurnya masing-masing.
Paginya saya bangun duluan, seperti biasa. Disusul di bungsu dan bapaknya. Tak lama, keduanya merapikan diri, selanjutnya pergi beriringan, yang satu sekolah yang satu ngantor.

Tadi pagi si bungsu sempat khawatir. Duh, kayaknya ulangan kali ini bakal berat. Puasa pula, Dede takut gak kuat, mam.

Jangan khawatir, nak. Teriring doa mamih buat kamu. Semoga Allah SWTmemberikan kekuatan. Aamiin YRA.

*Cerita biasa, Ramadan hari kelima.