Category Archives: inggris dan ceritanya

Ini Dia Pria Inggris, Guru Gamelan yang Fasih Berbahasa Jawa Itu

Minggu lalu, sebuah gelaran bertema Indonesia Regal Heritage digelar di salah satu kampus Oxford yang terkenal itu. Atas undangan ketua penyelenggara dari Gapura Ltd, Ibu Beth dan undangan dari President PPI Oxford, Sandoko Kosen merapatlah saya ke TKP di hari Jumat.

Worcester-Oxford ditempuh 1,5 jam dalam cuaca yang cukup bersahabat. Tiba di TKP kami langsung memasuki  ruang MBI Al Jaber Auditorium, Corpus Christi College, Oxford.

Acara demi acara berlangsung cepat, dimulai Pembukaan oleh Ketua Penyelenggara Acara, Ibu Beth lalu disambung Transforming Indonesian Craftsmanship from Traditional to Contemporary by Benny Adrianto. Dilanjut Translating Indonesian Fashion and Heritage into Modern Fashion by Ghea Panggabean. Kemudian The Art of Indonesian Flavor by Petty Elliott dan ditutup The Exotic Sound of Saluang by Otti Jamalus sebelum akhirnya kami nikmati makan siang.

Acara makan siang, kami menempati dinning hall yang ada di campus tersebut. Tau dong, dinning hallnya Campus Oxford seperti apa? Yap, seperti dinning hallnya di film Harry Potter.

Dinning Hall kampus oxford

Untuk mengetahui segala sesuatu tentang Oxford yang telah saya lipu bisa diintip di serba-serbi Oxford berikut ini.

Usai makan siang, kami kembali ke ruang MBI Al Jaber Auditorium. Hmm,  ada satu tanya tentang nama ruangan ini karena cukup menarik bagi saya. Nanti saya cari tahu deh. Kembali kami duduk manis dan menyimak presentasi dari Pa Sonny Tjahya dari Rumah Pesona Kain Ike Bakrie tentang kain ikat Geringsing.

Disela itu, mata saya menemukan sesuatu yang menarik di pojokan ruang. Sesosok bule, berpakain jawa, berblangkon, duduk bersila di depan perangkat gamelan. Eh, itu Pak Parto kah? Bisik-bisik.. ternyata betul. Beliau adalah guru gamelan yang sudah berkecimpung dengan gamelan lebih dari 20 tahun lamanya.

Beberapa waktu lalu, saya cuman bisa lihat liputannya di video BBC Indonesia yang durasinya sangat pendek namun viral itu. Setelah makin viral, saya pernah tonton lagi wawancara beliau bersama Mba Endang dan Mas Susilo di laman Facebook live. Betapa orangnya asik diajak ngobrol.

Acara berlanjut presentasi Era Soekamto dari Iwan Tirta Private Collection yang diakhiri pagelaran busana yang “wah” banget. Lebih “wah” lagi karena iringan musiknya bukan iringan musik modern, bukan dari CD pula. Melainkan live gamelan.  Dimana Happy Salma ikut berlenggak-lenggok bersama peragawati lainnya.

Di acara puncak, kami terpukau penampilan sendra tari Matah Ati  kreasi seniman besar ibu Atilah Soeryadjaya. Sendra tari lebih hidup dan berjiwa tak lepas dari iringan live gamelan dari tangan Pak Peter n crew tentunya. Pertunjukan haru seru ditutup aplaus yang sangat meriah luar biasa.

Usai pertunjukkan, saya hampiri Pak Pete untuk sekadar obrol-obrol sebentar. Beliau menyambut ramah ajakan saya dengan bahasa jawanya yang sangat kental, waduh… kamus mana kamusss….. (bukan kamus inggris, kamu jawa) 😀
Kurang lebih beliau bilang, bentar ya, saya ganti baju dulu. Anda dari mana? namanya siapa dan bla bla bla dalam bahasa jawa (terjemahan ngira-ngira) 😀

Saya jawab, ngak usah ganti baju dulu pa, biar keliatan jawanya, hehehe..
Lagi-lagi beliau menimpali guyonan dengan bahasa jawa (kamus…. ) 😛

Singkat kata, setelah Pak Pete terhenti-henti karena sapa-sapa dengan yang lain akhirnya kami bisa duduk manis di depan pelataran gedung pertunjukkan.
Ah, hangattt…. tumben-tumbenan hari itu matahari bersinar terang. Alhamdulillah.

Disela obrol-obrol kerap kali Pa Pete menjawabnya dalam bahasa jawa, meski saya tak paham tapi saya menikmatinya 😀
Jadi serasa ngobol sama mbah-mbah di Solo 😀
Pendek kata, Pa Pete ini orangnya nyenengin, asik diajak ngobrol ngaler ngidul 🙂
Asli, Pa Pete ini ramah banget orangnya.

Usai wawancara obrolan berlanjut santai. Dan ternyata permisah.. rumah bapaknya Pak Pete gak jauh dari kampung saya. Saya di Worcester bapane Pa Pete di Hereford. Yo wis pa, klo sampeyan sowan ke rumah bapane mampir wuster ngih pa? 😉

Bule yang cinta indonesia

Dan liputan saya itupun tayang di NET TV program berita NET12 kemarin. Berikut ini youtubenya. Eh, maap ya.. mimin IT NET typo, mustinya Peter Smith 😉

Nah, kalau yang ini, versi uncut-nya.

Rekor! Perjalanan Indonesia-Inggris 2,5 hari.


Duh, semenjak balik dari tanah air penyakit mualku kambuh berkepanjangan.
Mual?
Iya mual.
Mualles buaget.
Males kutak-ketik, males nulis, sekaligus males ngeblog.
Tapi, mual ini harus kusingkirkan!

Dan akhirnya, kutulis jualah sisa cerita mudik kemarin itu.

Banyak yang ingin kuceritakan keseruan dan keharuan sebulan berada di tanah air, minus di tanah suci kurleb 9 hari.

Tapi, dari sekian banyak cerita seru, haru dan syahdu itu ada cerita yang paling heboh dan drama banget.

Bayangin!
Baru kali Ini saya alami (semoga tak terulang lagi) perjalanan terperpanjang Indonesia-Inggris 2 hari setengah. BTnya..
Tapi, gimana lagi. Bukankah semua ini sudah ada yang mengaturnya, iya kan?

Awal kisah….

Hari terakhir di Tanah air yang sedianya berakhir manis malah dramatis.

Diawali isu penutupan jalan tol Cipularang karena jembatan Cisomang bergeser, maka saya pun memperkirakan Bandung – CGK 10 jam (sesuai info dari perusahaan jasa angkutan).

Ternyata, isu tersebut hanya berlaku bagi kendaraan besar alias bus. Memang, kedatangan saya dari CGK-BDG sebulan lalu pake Bus Prima Jasa. Nah, pulangnya ini BDG-CGK pake Prima Jasa Shuttle. Jadi si mobil isi 8 penumpang ini boleh masuk tol Cipularang. Waktu tempuhnya pun bisa dibilang lancar jaya. Bandung – Bandara Soeta aka CGK hanya 3 jam saja. Walhasil, waktu yang sedianya saya anggarkan 10 jam tersisa 7 jam.

Hmm… ngapain dulu ya?…

Tiktok.. tiktok.. tiktok… 7  jam saya lalui.

Tibalah saatnya check in. Sepertinya saya adalah penumpang yang paling awal check in.

Dan, di sinilah drama dimulai. Eng.. ing.. eng…

Di counter check in…
Dua koper gede udah ditimbang, sambil saya menyerahkan passport pada mas-mas yang baik hati dan ramah. Eh ternyata, doi bilang maksimal 32 kg lebih dikit cingcai lah…
Asik… isi koper kabinpun saya brudulin lalu masukin yang berat-berat ke kedua koper itu.

Saya       : “Wah, totalnya 32 kilo lebih ya mas?” tanya saya.
Petugas: “Iya, bu. Gak papa kok,” ujarnya.
Sejurus itu, saya sodorkan passport lalu kemudian membereskan kembali koper kabin yang berantakan.

Petugas : “Sudah Permanent Resident (penduduk tetap di Inggris), ya bu?”
Saya        : “Iya,” ujar saya sambil lalu karena masih beberes.
P : “Boleh lihat kartu Permanent Residentnya?”
S : PRnya (Permanent Resident ID) tidak berupa kartu mas. Tapi tertempel di passportnya.
Saya masih sibuk beberes sesekali ngeliat si mas petugas yang nampak kebingunggan membolak-balikkan passport ijo saya.

Akhirnya mas petugas nyerah. Sedangkan saya begitu tenang dan PD.
Sekali lagi si mas petugas itu bertanya. Sekali lagi pula saya menjelaskan kalo stiker PR saya ada di sana. Di passport ijo saya tersebut.

Tapi.. sebentar!
Kok, passport saya tipis ya?
Bentar.. bentar… sekarang giliran saya yang binggung pleus panik.

P : “PRnya sebelah mana, buk?”
S : Ya Allah, Ya Rabb, Astagfirullah..
Jantung berdebar, badan memanas, keringetan saya, lutut lemes, bibir pecah-pecah.. lol! yang terakhir mah gak termasuk.

Yang jelas saat itu saya pengen teriak, seteriak-teriaknya. Sempet ajrut-ajrutan dan mengekpesikan kekesalan saya di depan konter check in tersebut. Untung kosong. Dan si mas petugasnya paham betul kondisi saya.
Sekarang saya panik dan bingung, sementara si mas itu tenang dan menenangkan.

Kilas balik…

Jadi, salah satu syarat menjadi Permanent Resident Inggris itu adalah selambat-lambatnya sudah menetap di Inggris selama lima tahun berturut-turut. Nah, di tahun 2011 kami sekeluarga sudah mendapatkan itu. Sebetulnya saya masuk UK tahun 2007, tapi hitungannya mengikuti suami yang masuk UK duluan.

Adapun bentuk PR ID tersebut berupa stiker yang ditempel di passport. PR berlaku tanpa batas. Tapi kalau passport (Indonesia) ada batas waktunya yang tentunya harus terus diganti/diperpanjang.

Nah, selama masa itu, kami beberapa kali ganti/perpanjang passport. Dan selama itu pula jika kami keluar masuk UK-Indonesia, passport terbaru dan passport lama yang ada stiker PRnya selalu bersama bagaikan kembar siam 😀
Tapi karena satu dan lainnya hal (ceritanya panjang) dua kesatuan passport saya itu terlepas satu  sama lain, bagai si kembar yang terpisah 😀 😀

Jadi, PR ID ini ibarat kunci kita masuk kembali ke negara pemberi PR.
Dimana dalam hal ini adalah negara Inggris.
Jika misalnya memaksa tetap berangkat. Dari Indonesia bisa saja memberangkatkan kita. Tapi begitu sampai di Inggris kita gak boleh masuk Inggris.
Lah gimana dong.

Passport
Nah, gara-gara selembar ID ini lah cerita ini berawal 😀
Beginilah penampakkannya Permanent Resident atau Residence Permit.
Foto diambil saat transit di Bandar Abu Dhabi.

Anyway, Sekarang saya harus pegimana?!£$%£
Kembali panik.

Saya       : “Jadi mas, PR saya ada di passport lama saya.”
Petugas : “Lalu, passport lamanya dimana, buk.”
S : “Itu dia!” ehmmm…
P : “Coba ibu ingat-ingat lagi. Dimana ibu menyimpannya?”
Hmmm..
Hmmm..
Saya raba ransel, koper kabin, saku-saku jaket, saku celana (ya gak mungkin laya..)
Hmmm…

P : “Mungkin di koper ini?” Si mas menunjuk koper item, saya menggeleng. Mungkin di koper ini?” dia menunjuk koper merah, saya tetap menggeleng.
Sejurus itu berpikir keras lalu sedikit-sedikit terlintas terang.
S : “Oh… yakin ketinggalan ini mah.”

P : “Ketinggalannya dimana buk?”
S : “Bandung!”
Tepok jidatt!

Sementara itu saya minta waktu untuk berpikir dan menelpon kakak di Bandung memastikan passport saya ada di sana.

Dan, benar adanya.
Duh, rasanya pengen nangis berguling-guling di lantai.

BDG – CGK 3 jam sob. Jadi musti pegimane?

S : “Mas, saya bisa rebook gak? Biar nanti saya bayar biaya rebooknya.”
P : Turkish Airline, penerbangannya hanya sehari sekali dan hanya di jam ini (jam 9 malam). Rebook ganti hari besok mau? Bentar saya ke bagian tiketing dulu.
Dan dua stiker labeling untuk koper bagasi itupun disobek di depan mata.
Itu artinya si mas itupun memberi sinyal gagal terbang saya. Hiks!
Sakitnya tuh di sini!
*nunjuk dompet*

Beberapa menit, diantara bengong, kosong, kesel, BT, bingung gak jelas, si mas nyamperin.
P : “Gak bisa rebook buk. Soalnya ibu beli tiketnya tiket promo.”
S : “Ealah iyah!” saya mangap. “Kalau begitu, alternatif lainnya gimana?”
P : “Ibu beli tiket baru untuk penerbangan hari ini.”
S : “Berapa?”
P : “14 Jeti.”
Lah, tapi kan buat apa juga dong ah.
S : “Kalau untuk besok?”
P : “Kalau untuk keberangkatan besok, 17 jeti.”
S : Hmm.. berikan saya waktu untuk berpikir dan menepi dari kekalutan ini. Eaaa..
(wkwkw.. ini mah drama sinetron indonesia dengan berbisik dalam hati)

Dan akhirnya si mas itu melepaskan dua koperku nan besar. Lalu saya berjalan lunglai menuju pojokan ruang yang amat luas itu. Kemudian saya ndeprok dipojokan sambil buka leptop, hape dan kontak-kontakan suami di seberang sana (cukup drama kah?) 😀

Keriweuhan itu diselingi telpon-telponan dengan saudara/i di Bandung ngomongin teknis pengiriman passportnya. Ralat, WA’an. Beruntung inet bandara gratis dan kenceng.

Jangan tanya betapa serunya perbincangan dan diskusi kami, saya dan suami, saya dan keluarga di Bandung, suami dan keluarga di Bandung. Mulai dari A sampe Z, mulai dari sebab musabab, sibuk mencari tiket murah, membandingan satu maskapai dengan yang lainnya, booking online, minta data ini itu.

Belum lagi masalah bagaimana dan kemana malam ini saya habiskan hari. Beberapa info saya dapatkan, menginap di hotel bandara 750k, di Ibis terdekat 350k, di hotel berjarak 25 menit bermobil dari bandara 290k. Jatuh pilihan, pada penawaran adik ipar.

Dari A sampai Z itupun beres. Tiket didapat. Harganya lebih murah dari yang ditawarkan bagian tiketing. Passport mau dianterin ipar, dari Bandung jam 1 malam, pakai kereta, perkiraan nyampe subuh. Saya akan bermalam di Tangerang.

Asiknya bertaksi ria, 200k kenyang! 😀

Dari Bandara ke rumah emak (tempat saya menginap, mertuanya adik ipar) ada drama lagi. Diajak muter-muter sama tukang taksi. Waktu yang sedianya kata adik ipar sekitar 15 menit menuju rumah emak, jadinya sekitar setengah jam lebih. Entah supir taksinya ngak apal jalan, entah.

Pa supirnya udah tua, taksinya gak dilengkapi GPS, bahkan ia gak tau apa itu GPS. Saya gak pake taksi berbasis aplikasi karena gak punya nomor Indonesia, akibat ketinggalan di hotel waktu ganti nomor Saudi saat umroh lalu.

Oiya, tentang cerita umroh, saya kasih linknya di bawah. Betapa mimpi itu menjadi nyata. Setahun mengumpulkan rupiah, dengan kuasaNYA, Alhamdulillah, saya sekaligus mengumrohkan bapak, Karena Allah  memampukan orang yang terpanggil.

Di dalam perjalanan pa supir tanya-tanya, saya pun tanya-tanya, walhasil malah jadilah curhat-curhatan tentang hidup. Hidup dia berat. Apalagi sejak adanya saingan taksi berbasis aplikasi. Keluarganya kembali ke kampung dan sebagianya dan sebagainya.

Meski hati lagi dongkol tapi saya masih bersyukur. Kami sekeluarga masih bisa berkumpul bersama. Kadang kita merasa susah, padahal banyak orang yang lebih susah. Ngobrol udah ngalor-ngidul tapi ngak nyampe-nyampe juga nih.

“Kok kita ngak nyampe-nyampe ya, pa?” tanya saya.
Si taksi nyasar (mungkin) dan kami 4 kali bertanya pada  pedagang-pedagang pinggir jalan. Hadeuhh… jauh kali perjalanan kita nih!
Tapi, ya, dinikmati aja.

Ini kali kesekian saya ke rumah emak. Terakhir ke sini, waktu anak sulung saya masih kecil, sekarang dia udah mau lulus kuliah 😀
Bayangin, patokannya pesan WA yang terputus dengan info yang gak jelas. Karena ngandelin inet bandara tadi.
Patokan lainnya mesjid. Saya ingat betul dulu pernah sholat di mesjid itu. Hadeuh….
Anehnya meski daerah sana makin padat, malam nan gelap, mesjid kesilep toko-toko, alhamdulillah sampai juga.

Di argo tercetak nyaris 140k, ditambah tol, parkir bandara, saya paskan jadi 200k.
Dan pa supir itupun senang.
Semoga Allah berkahi pa supir yang banting tulang hingga larut malam.
Semoga berkah!

Jakarta panas.
Eh, Tanggerang bukan Jakarta kan ya?
Tapi keluarga kami kalo ke rumah emak  bilangnya Jakarta 😀

Nyampe sudah larut, untung tukang sate depan rumah masih ada. Makan sate kambing (berlemak pula), pake lontong, bumbu kacang, sambil ngobrol segala rupa sama emak, sampe nyaris tengah malam, mandi ah..

Gerahnya minta ampun. Jakarta nyamuknya gendut-gendut. Tidur di kamar pake kipas angin malah tambah enggap. Tidur di kursi ruang tamu diserang nyamuk. Sampe bentol disana sini.
Alhamdulillah udah lama gak digigit nyamuk. Nyaris 10 tahun di UK gak pernah dicium nyamuk.

Pagi hari si passport berPR datang. Alhamdulillah.
Kucium itu passport dan kupastikan ditempelin dengan passport satunya lagi. Kalian bersatu ya.. jangan berpisah lagi, nanti aku susah lagi 😀 😀

Dari pagi hingga siang udah gak sabar pengen pulang. Jam 12 lewat dipesenin taksi berbasis aplikasi. Murah banget. Ke bandara cuman 55k. Mobilnya bagus, ACnya kenceng, mas supirnya ganteng 😀 pake GPS pula, jadi gak musti tanya orang pinggir jalan gitu..

Pamitan sama emak, makasih mak. Kapan-kapan jumpa lagi.
Cuss.. ke bandara.
Kali ini cuman makan waktu sekitar 15 menit doang.

Rasa deg-degan yang kemarin, terasa lagi, pas di konter cek in. Semua koper gak dioprek-oprek lagi semalam. Dua koper masuk bagasi sudah. Cek passport n PR, dikasih tiket boarding. Plong!
Alhamdulillah.

Karena kemarin cari tiket murah, jadilah rute kepulangan sekarang ini muter-muter. Gak papa deh. Yang penting sampai ke rumah dengan selamat.

Adapun rutenya sbb:
CGK – Abu Dhabi
Abu Dhabi – Dublin
Dublin – Birmingham
(Dimana masing-masing trasit waktu tunggunya 2-3 jam. Ehmm..)
Birmingham – Worcester

Perjalanan panjang itu, memerlukan perlengkapan travel yang nyaman.
Sepatu. Biasanya kalo saya traveling jauh seperti ini harus pake sepatu yang empuk dan nyaman.
Celana panjang yang nyaman. Saya sukanya pada celana PDL (apasih nama istilahnya, pokonya bukan celana blue jeans yang ketat, karena bikin sesak) Secara, perjalanan lama gituloh.
Ransel. Kalau traveling saya paling suka pake ransel. Bawanya praktis, gak ribet, bisa muat banyak barang. Banyak bagian-bagian sesuai peruntukannya. Seperti ransel Eiger saya ini. Di bagian dalamnya ada tempat khusus untuk laptop, tempat dokumen, tempat nyimpan barang-barang barang besar dan barang-barang kecil dan masih banyak bagian-bagian lainnya yang di desain sedemikian rupa sesuai kebutuhan kita.
Jaket. Barang yang satu inipun gak boleh ketinggalan saat traveling. Secara, biasanya di bandara dan pesawat itu dingin loh. Pas udah nyampe Dublin apalagi, brrr.. Jaket juga bisa multi fungsi kalo lagi transit gini, mau slonjoran, si jaket bisa dijadiin selimut, bisa juga dijadiin alas kepala klo mau rebahan.

Eh, ransel, jacket, sepatu dan celana Eigerku warnanya senada ya? coklat dan item, warna traveler banget, warna alami 😀
Foto diambil saat transit di Bandara Abu Dhabi, dini hari, ngantuk bok, hoaammm…

Eiger, perlengkapan traveling

Dan, Alhamdulillah, tibalah saya di Worcester, Kamis, siang hari.

Jadi kalau ditotalkan perjalanan saya ini 2,5 hari. Door to door, keluar rumah di Bandung Selasa pagi, tgl 3 Januari.  Nyampe Kamis siang, 5 Januari. Inilah perjalan terpanjang Indonesia – UK yang saya alami. Rekor. Semoga tak terulang lagi.

Pesan moral:
So, buat kamu yang udah dapat PR, jangan sampe ketinggalan passport lamanya ya… 😉

Oiya, dan tentunya, semua yang kita alami ini adalah KuasaNYA. Yakin, pasti ada “sesuatu” yang ingin IA sampaikan kepada kita.

Di Inggris Juga Bisa Nikmati Duren loh!

Dengan semakin banyaknya migran dari berbagai negara ke Inggris termasuk dari Asia, maka kini mie instan dari Indonesia, beras, aneka bumbu, rempah, sayuran juga buah-buahan khas Asia makin mudah ditemui di Inggris. Bahkan di sebuah kota kecil seperti Worcester saja kini tersedia toko asia yang cukup lengkap.

Mulai dari umbi-umbian seperti singkong, ubi, talas, aneka terong, aneka labu, aneka sayur, kangkung, hingga lalapan seperti kecipir juga ada. Pare, kelapa segar, lengkuas, kunyit, serai, kunci dan tektek bengek  bumbu masak lainnya lengkap sudah.

Begitupun dengan buah-buahan khas asia seperti jeruk bali, nangka, manggis, delima juga tersedia. Bahkan batang tebupun ada. Yang tak kalah asik, durian pun tersedia.

Kadang kala nangka dan durian fresh juga ada. Namun tiap kali durian dan nangka segar datang, cepat habis diburu pembeli. Terutama pembeli asal Asia Tenggara seperti orang Thailand, Filipina, Malaysia, Indonesia dll.

Namun demikian, jangan khawatir karena di toko ini, juga di banyak toko-toko asia lainnya, dengan mudah kita bisa temukan durian frozen. Meski frozen, kelezatannya tidak berkurang.

Untuk sekotak durian beku dibandrol £5 (sekitar 80-90 ribu rupiah) yang beratnya 400 gram, berisi 2 pcs buah daging duren.

duren di inggris

Sedikit ya? Iya sih. Tapi, biar sedikit tapi isinya memuaskan. Dijamin tidak gagal. Rasa duriannya sangat legit, manis sekali. Daging buahnya tebal, tentu saja. Karena jenis duriannya durian montong gituloh. Seperti kebanyakan makanan frozen lainnya yang beredar di UK merupakan Produk Thailand. Hmm.. Indonesia kapan ya? 😉

£5 mahak gak? relatif mungkin ya? biarpun dibilang mahal tapi lumayanlah sebagai pengobat rasa kangen pada buah eksotis khas Asia ini.

Makanya, buat kamu yang tinggal di tanah air, puas-puasinlah makan duren sepuas hati. Apalagi saat musim duren seperti ini, iya kan?

Duren? sikattt…. 😉

N10.NRosmel.27092016

FYI, untuk sebuah Video CJ yang saya buat tidak semua scene ditayangkan, dan ternyata, sesi pas lagi makan durennya ga kebagian durasi. Padahal itu bagian yang paling lazizzzz.. Yasud, kuposting aja di IG berikut ini 😉

Soal makanan, ikutin wisata kuliner saya ke Restoran Halal di Kota Birmingham dan Bristol berikut ini, yuk!

Kuliner Libanon di Bristol Inggris, Round Four, Cukup Untuk 7 Perut

Enaknya Peri-peri Chiken

Ana & Fia BGT  Meriahkan Perayaan HUT RI di London

Masih ingat dengan ana dan Fia yang masuk 10 besar Britain’s Got Talent 2016?
Pasti inget dong ya..
Nah, mereka menghibur masyarakat indonesia di Wisma Nusantara London, pada 7 Agustus 2016. Acara tersebut dalam rangka memperingati HUT RI yang ke-71.

Bertempat di kediaman Dubes RI untuk Inggris dan Irlandia perayaan HUT RI ini berlangsung meriah. Dihadiri ratusan masyarakat indonesia yang diramaikan lomba ala 17 Agustusa, seperti balap karung, tarik tambang dll.

30 stan meriahkan acara yang dimulai pukul 11 siang hingga 5 sore. Diantaranya sajian aneka kuliner Indonesia hingga batik dan kerajinan tangan. Pagelaran busana batik, tarian dan nyanyian menyita perhatian para penonton yang tak hanya masyarakat Indonesia tapi juga para bule.

Dari sekian penampilan yang disuguhkan, permainan angklung dari Bandung terasa lebih Indonesia. Selain menampilkan beberapa lagu daerah, tarian serta tembang sunda, grup angklung yang terdiri dari 40 orang yang tour selama 40 hari di Eropa inipun memainkan lagu barat seperti “Mama Mia” menambah hangat suasana.

Yang tak kalah menarik ialah penampilan Ana dan Fia. Dari sekian banyak lagu yang mereka bawakan “Tell Him” lagu andalan mereka di Birtain’s Got Talent dinyanyikan kembali di perayaan HUT RI yang ke-71 ini. Hal tersebut berhasil memukau penonton.

Setelah menyanyikan beberapa lagu Barat, pop dan rock, puncaknya, duo ibu anak yang serba bisa membawakan aneka genre musik ini pun menyanyikan berberapa lagu dangdut. Diantaranya Terajananya Oma Irama dan Alamat Palsunya Ayu Tingting yang bikin penonton bergoyang seru dan menambah hangat suasana London yang kala itu cukup panas.

Tak pelak sajian hiburan, jajanan kuliner Indonesia dan perlombaan ala 17’an ini mampu mengobati kerinduan para perantau akan tanah air.

Sama halnya dengan masyarakat Indonesia lainnya yang bermukim di Inggris, Ana dan Fia menuturkan selalu kangen dengan suasana 17’an di tanah air. Apalagi Fia yang 7 tahun lalu masih mengikuti upacara 17’an serta memeriahkan lomba-lomba ala 17’an di tempat tinggalnya dulu, Bekasi. Balap karung, lomba makan krupuk dan perlombaan lainnya adalah yang selalu ia kangenin dalam perayaan 17 agustusan di tanah air.

Mau lihat penampilan Ana & Fia nyari Alamat Palsunya Ayu Ting Ting?
Ini dia!

Mau intip keseruan acara 17 Agustusan kami di Wisma Nusantara London? Ini dia!

Tayang hari ini di Net12. NRosmel12082016

Sepulang dari Wisma Nusantara, saya langsung meluncur ke beberapa ikon London lainnya. Ikuti jalan-jalan saya yang berjudul:

Romantisme London Eye Kala Senja