Rekor! Perjalanan Indonesia-Inggris 2,5 hari.


Duh, semenjak balik dari tanah air penyakit mualku kambuh berkepanjangan.
Mual?
Iya mual.
Mualles buaget.
Males kutak-ketik, males nulis, sekaligus males ngeblog.
Tapi, mual ini harus kusingkirkan!

Dan akhirnya, kutulis jualah sisa cerita mudik kemarin itu.

Banyak yang ingin kuceritakan keseruan dan keharuan sebulan berada di tanah air, minus di tanah suci kurleb 9 hari.

Tapi, dari sekian banyak cerita seru, haru dan syahdu itu ada cerita yang paling heboh dan drama banget.

Bayangin!
Baru kali Ini saya alami (semoga tak terulang lagi) perjalanan terperpanjang Indonesia-Inggris 2 hari setengah. BTnya..
Tapi, gimana lagi. Bukankah semua ini sudah ada yang mengaturnya, iya kan?

Awal kisah….

Hari terakhir di Tanah air yang sedianya berakhir manis malah dramatis.

Diawali isu penutupan jalan tol Cipularang karena jembatan Cisomang bergeser, maka saya pun memperkirakan Bandung – CGK 10 jam (sesuai info dari perusahaan jasa angkutan).

Ternyata, isu tersebut hanya berlaku bagi kendaraan besar alias bus. Memang, kedatangan saya dari CGK-BDG sebulan lalu pake Bus Prima Jasa. Nah, pulangnya ini BDG-CGK pake Prima Jasa Shuttle. Jadi si mobil isi 8 penumpang ini boleh masuk tol Cipularang. Waktu tempuhnya pun bisa dibilang lancar jaya. Bandung – Bandara Soeta aka CGK hanya 3 jam saja. Walhasil, waktu yang sedianya saya anggarkan 10 jam tersisa 7 jam.

Hmm… ngapain dulu ya?…

Tiktok.. tiktok.. tiktok… 7  jam saya lalui.

Tibalah saatnya check in. Sepertinya saya adalah penumpang yang paling awal check in.

Dan, di sinilah drama dimulai. Eng.. ing.. eng…

Di counter check in…
Dua koper gede udah ditimbang, sambil saya menyerahkan passport pada mas-mas yang baik hati dan ramah. Eh ternyata, doi bilang maksimal 32 kg lebih dikit cingcai lah…
Asik… isi koper kabinpun saya brudulin lalu masukin yang berat-berat ke kedua koper itu.

Saya       : “Wah, totalnya 32 kilo lebih ya mas?” tanya saya.
Petugas: “Iya, bu. Gak papa kok,” ujarnya.
Sejurus itu, saya sodorkan passport lalu kemudian membereskan kembali koper kabin yang berantakan.

Petugas : “Sudah Permanent Resident (penduduk tetap di Inggris), ya bu?”
Saya        : “Iya,” ujar saya sambil lalu karena masih beberes.
P : “Boleh lihat kartu Permanent Residentnya?”
S : PRnya (Permanent Resident ID) tidak berupa kartu mas. Tapi tertempel di passportnya.
Saya masih sibuk beberes sesekali ngeliat si mas petugas yang nampak kebingunggan membolak-balikkan passport ijo saya.

Akhirnya mas petugas nyerah. Sedangkan saya begitu tenang dan PD.
Sekali lagi si mas petugas itu bertanya. Sekali lagi pula saya menjelaskan kalo stiker PR saya ada di sana. Di passport ijo saya tersebut.

Tapi.. sebentar!
Kok, passport saya tipis ya?
Bentar.. bentar… sekarang giliran saya yang binggung pleus panik.

P : “PRnya sebelah mana, buk?”
S : Ya Allah, Ya Rabb, Astagfirullah..
Jantung berdebar, badan memanas, keringetan saya, lutut lemes, bibir pecah-pecah.. lol! yang terakhir mah gak termasuk.

Yang jelas saat itu saya pengen teriak, seteriak-teriaknya. Sempet ajrut-ajrutan dan mengekpesikan kekesalan saya di depan konter check in tersebut. Untung kosong. Dan si mas petugasnya paham betul kondisi saya.
Sekarang saya panik dan bingung, sementara si mas itu tenang dan menenangkan.

Kilas balik…

Jadi, salah satu syarat menjadi Permanent Resident Inggris itu adalah selambat-lambatnya sudah menetap di Inggris selama lima tahun berturut-turut. Nah, di tahun 2011 kami sekeluarga sudah mendapatkan itu. Sebetulnya saya masuk UK tahun 2007, tapi hitungannya mengikuti suami yang masuk UK duluan.

Adapun bentuk PR ID tersebut berupa stiker yang ditempel di passport. PR berlaku tanpa batas. Tapi kalau passport (Indonesia) ada batas waktunya yang tentunya harus terus diganti/diperpanjang.

Nah, selama masa itu, kami beberapa kali ganti/perpanjang passport. Dan selama itu pula jika kami keluar masuk UK-Indonesia, passport terbaru dan passport lama yang ada stiker PRnya selalu bersama bagaikan kembar siam 😀
Tapi karena satu dan lainnya hal (ceritanya panjang) dua kesatuan passport saya itu terlepas satu  sama lain, bagai si kembar yang terpisah 😀 😀

Jadi, PR ID ini ibarat kunci kita masuk kembali ke negara pemberi PR.
Dimana dalam hal ini adalah negara Inggris.
Jika misalnya memaksa tetap berangkat. Dari Indonesia bisa saja memberangkatkan kita. Tapi begitu sampai di Inggris kita gak boleh masuk Inggris.
Lah gimana dong.

Passport
Nah, gara-gara selembar ID ini lah cerita ini berawal 😀
Beginilah penampakkannya Permanent Resident atau Residence Permit.
Foto diambil saat transit di Bandar Abu Dhabi.

Anyway, Sekarang saya harus pegimana?!£$%£
Kembali panik.

Saya       : “Jadi mas, PR saya ada di passport lama saya.”
Petugas : “Lalu, passport lamanya dimana, buk.”
S : “Itu dia!” ehmmm…
P : “Coba ibu ingat-ingat lagi. Dimana ibu menyimpannya?”
Hmmm..
Hmmm..
Saya raba ransel, koper kabin, saku-saku jaket, saku celana (ya gak mungkin laya..)
Hmmm…

P : “Mungkin di koper ini?” Si mas menunjuk koper item, saya menggeleng. Mungkin di koper ini?” dia menunjuk koper merah, saya tetap menggeleng.
Sejurus itu berpikir keras lalu sedikit-sedikit terlintas terang.
S : “Oh… yakin ketinggalan ini mah.”

P : “Ketinggalannya dimana buk?”
S : “Bandung!”
Tepok jidatt!

Sementara itu saya minta waktu untuk berpikir dan menelpon kakak di Bandung memastikan passport saya ada di sana.

Dan, benar adanya.
Duh, rasanya pengen nangis berguling-guling di lantai.

BDG – CGK 3 jam sob. Jadi musti pegimane?

S : “Mas, saya bisa rebook gak? Biar nanti saya bayar biaya rebooknya.”
P : Turkish Airline, penerbangannya hanya sehari sekali dan hanya di jam ini (jam 9 malam). Rebook ganti hari besok mau? Bentar saya ke bagian tiketing dulu.
Dan dua stiker labeling untuk koper bagasi itupun disobek di depan mata.
Itu artinya si mas itupun memberi sinyal gagal terbang saya. Hiks!
Sakitnya tuh di sini!
*nunjuk dompet*

Beberapa menit, diantara bengong, kosong, kesel, BT, bingung gak jelas, si mas nyamperin.
P : “Gak bisa rebook buk. Soalnya ibu beli tiketnya tiket promo.”
S : “Ealah iyah!” saya mangap. “Kalau begitu, alternatif lainnya gimana?”
P : “Ibu beli tiket baru untuk penerbangan hari ini.”
S : “Berapa?”
P : “14 Jeti.”
Lah, tapi kan buat apa juga dong ah.
S : “Kalau untuk besok?”
P : “Kalau untuk keberangkatan besok, 17 jeti.”
S : Hmm.. berikan saya waktu untuk berpikir dan menepi dari kekalutan ini. Eaaa..
(wkwkw.. ini mah drama sinetron indonesia dengan berbisik dalam hati)

Dan akhirnya si mas itu melepaskan dua koperku nan besar. Lalu saya berjalan lunglai menuju pojokan ruang yang amat luas itu. Kemudian saya ndeprok dipojokan sambil buka leptop, hape dan kontak-kontakan suami di seberang sana (cukup drama kah?) 😀

Keriweuhan itu diselingi telpon-telponan dengan saudara/i di Bandung ngomongin teknis pengiriman passportnya. Ralat, WA’an. Beruntung inet bandara gratis dan kenceng.

Jangan tanya betapa serunya perbincangan dan diskusi kami, saya dan suami, saya dan keluarga di Bandung, suami dan keluarga di Bandung. Mulai dari A sampe Z, mulai dari sebab musabab, sibuk mencari tiket murah, membandingan satu maskapai dengan yang lainnya, booking online, minta data ini itu.

Belum lagi masalah bagaimana dan kemana malam ini saya habiskan hari. Beberapa info saya dapatkan, menginap di hotel bandara 750k, di Ibis terdekat 350k, di hotel berjarak 25 menit bermobil dari bandara 290k. Jatuh pilihan, pada penawaran adik ipar.

Dari A sampai Z itupun beres. Tiket didapat. Harganya lebih murah dari yang ditawarkan bagian tiketing. Passport mau dianterin ipar, dari Bandung jam 1 malam, pakai kereta, perkiraan nyampe subuh. Saya akan bermalam di Tangerang.

Asiknya bertaksi ria, 200k kenyang! 😀

Dari Bandara ke rumah emak (tempat saya menginap, mertuanya adik ipar) ada drama lagi. Diajak muter-muter sama tukang taksi. Waktu yang sedianya kata adik ipar sekitar 15 menit menuju rumah emak, jadinya sekitar setengah jam lebih. Entah supir taksinya ngak apal jalan, entah.

Pa supirnya udah tua, taksinya gak dilengkapi GPS, bahkan ia gak tau apa itu GPS. Saya gak pake taksi berbasis aplikasi karena gak punya nomor Indonesia, akibat ketinggalan di hotel waktu ganti nomor Saudi saat umroh lalu.

Oiya, tentang cerita umroh, saya kasih linknya di bawah. Betapa mimpi itu menjadi nyata. Setahun mengumpulkan rupiah, dengan kuasaNYA, Alhamdulillah, saya sekaligus mengumrohkan bapak, Karena Allah  memampukan orang yang terpanggil.

Di dalam perjalanan pa supir tanya-tanya, saya pun tanya-tanya, walhasil malah jadilah curhat-curhatan tentang hidup. Hidup dia berat. Apalagi sejak adanya saingan taksi berbasis aplikasi. Keluarganya kembali ke kampung dan sebagianya dan sebagainya.

Meski hati lagi dongkol tapi saya masih bersyukur. Kami sekeluarga masih bisa berkumpul bersama. Kadang kita merasa susah, padahal banyak orang yang lebih susah. Ngobrol udah ngalor-ngidul tapi ngak nyampe-nyampe juga nih.

“Kok kita ngak nyampe-nyampe ya, pa?” tanya saya.
Si taksi nyasar (mungkin) dan kami 4 kali bertanya pada  pedagang-pedagang pinggir jalan. Hadeuhh… jauh kali perjalanan kita nih!
Tapi, ya, dinikmati aja.

Ini kali kesekian saya ke rumah emak. Terakhir ke sini, waktu anak sulung saya masih kecil, sekarang dia udah mau lulus kuliah 😀
Bayangin, patokannya pesan WA yang terputus dengan info yang gak jelas. Karena ngandelin inet bandara tadi.
Patokan lainnya mesjid. Saya ingat betul dulu pernah sholat di mesjid itu. Hadeuh….
Anehnya meski daerah sana makin padat, malam nan gelap, mesjid kesilep toko-toko, alhamdulillah sampai juga.

Di argo tercetak nyaris 140k, ditambah tol, parkir bandara, saya paskan jadi 200k.
Dan pa supir itupun senang.
Semoga Allah berkahi pa supir yang banting tulang hingga larut malam.
Semoga berkah!

Jakarta panas.
Eh, Tanggerang bukan Jakarta kan ya?
Tapi keluarga kami kalo ke rumah emak  bilangnya Jakarta 😀

Nyampe sudah larut, untung tukang sate depan rumah masih ada. Makan sate kambing (berlemak pula), pake lontong, bumbu kacang, sambil ngobrol segala rupa sama emak, sampe nyaris tengah malam, mandi ah..

Gerahnya minta ampun. Jakarta nyamuknya gendut-gendut. Tidur di kamar pake kipas angin malah tambah enggap. Tidur di kursi ruang tamu diserang nyamuk. Sampe bentol disana sini.
Alhamdulillah udah lama gak digigit nyamuk. Nyaris 10 tahun di UK gak pernah dicium nyamuk.

Pagi hari si passport berPR datang. Alhamdulillah.
Kucium itu passport dan kupastikan ditempelin dengan passport satunya lagi. Kalian bersatu ya.. jangan berpisah lagi, nanti aku susah lagi 😀 😀

Dari pagi hingga siang udah gak sabar pengen pulang. Jam 12 lewat dipesenin taksi berbasis aplikasi. Murah banget. Ke bandara cuman 55k. Mobilnya bagus, ACnya kenceng, mas supirnya ganteng 😀 pake GPS pula, jadi gak musti tanya orang pinggir jalan gitu..

Pamitan sama emak, makasih mak. Kapan-kapan jumpa lagi.
Cuss.. ke bandara.
Kali ini cuman makan waktu sekitar 15 menit doang.

Rasa deg-degan yang kemarin, terasa lagi, pas di konter cek in. Semua koper gak dioprek-oprek lagi semalam. Dua koper masuk bagasi sudah. Cek passport n PR, dikasih tiket boarding. Plong!
Alhamdulillah.

Karena kemarin cari tiket murah, jadilah rute kepulangan sekarang ini muter-muter. Gak papa deh. Yang penting sampai ke rumah dengan selamat.

Adapun rutenya sbb:
CGK – Abu Dhabi
Abu Dhabi – Dublin
Dublin – Birmingham
(Dimana masing-masing trasit waktu tunggunya 2-3 jam. Ehmm..)
Birmingham – Worcester

Perjalanan panjang itu, memerlukan perlengkapan travel yang nyaman.
Sepatu. Biasanya kalo saya traveling jauh seperti ini harus pake sepatu yang empuk dan nyaman.
Celana panjang yang nyaman. Saya sukanya pada celana PDL (apasih nama istilahnya, pokonya bukan celana blue jeans yang ketat, karena bikin sesak) Secara, perjalanan lama gituloh.
Ransel. Kalau traveling saya paling suka pake ransel. Bawanya praktis, gak ribet, bisa muat banyak barang. Banyak bagian-bagian sesuai peruntukannya. Seperti ransel Eiger saya ini. Di bagian dalamnya ada tempat khusus untuk laptop, tempat dokumen, tempat nyimpan barang-barang barang besar dan barang-barang kecil dan masih banyak bagian-bagian lainnya yang di desain sedemikian rupa sesuai kebutuhan kita.
Jaket. Barang yang satu inipun gak boleh ketinggalan saat traveling. Secara, biasanya di bandara dan pesawat itu dingin loh. Pas udah nyampe Dublin apalagi, brrr.. Jaket juga bisa multi fungsi kalo lagi transit gini, mau slonjoran, si jaket bisa dijadiin selimut, bisa juga dijadiin alas kepala klo mau rebahan.

Eh, ransel, jacket, sepatu dan celana Eigerku warnanya senada ya? coklat dan item, warna traveler banget, warna alami 😀
Foto diambil saat transit di Bandara Abu Dhabi, dini hari, ngantuk bok, hoaammm…

Eiger, perlengkapan traveling

Dan, Alhamdulillah, tibalah saya di Worcester, Kamis, siang hari.

Jadi kalau ditotalkan perjalanan saya ini 2,5 hari. Door to door, keluar rumah di Bandung Selasa pagi, tgl 3 Januari.  Nyampe Kamis siang, 5 Januari. Inilah perjalan terpanjang Indonesia – UK yang saya alami. Rekor. Semoga tak terulang lagi.

Pesan moral:
So, buat kamu yang udah dapat PR, jangan sampe ketinggalan passport lamanya ya… 😉

Oiya, dan tentunya, semua yang kita alami ini adalah KuasaNYA. Yakin, pasti ada “sesuatu” yang ingin IA sampaikan kepada kita.

Kawasan Belanja Oxford Street London, Bertabur Xmas Light

Oxford street adalah salah satu pusat wisata belanja yang banyak diserbu wisatawan yang melancong ke london. Terutama wisatawan manca negara. Bagi pecinta wisata belanja, tak lengkap rasanya bila ke London tak menjajal kawasan yang berada di jantung Kota London ini.

Oxford Street diklaim sebagai kawasan belanja tersibuk se-Inggris sekaligus se-Eropa. diperkirakan per harinya dijajal setengah juta orang pengunjung.

Di kawasan yang tak pernah sepi hingga malam hari ini terdapat sekitar 300 toko yang kebanyakan menjual barang-barang bermerk. Mulai dari toko pakaian, tas, sepatu,  perhiasan dan lain sebagainya.

Oxford Street London

Di sinipun kita akan jumpai pertunjukan artis jalanan (penari/penyanyi) yang membuat semarak suasana apalagi kala malam menjelang. Belum lagi kios-kios souvenir yang terdapat di pinggir-pinggir jalan tak luput dari incaran para pelancong yang memburu oleh-oleh khas london. Catatan: harga suvenir di kawasan ini lebih mahal dibanding di kawasan Camden ataupun di kawasan Queensway.

Kalau mau beli suvenir dengan harga miring, bisa diintip di sini:

Camden, Wisata Belanja Serba Ada

Kembali ke OXford Street! 😀

Khusus menyambut natal. Oxford street tampak indah dengan bertaburnya lampu-lampu natal atau christmas light yang menghiasi langit-langit sepanjang jalan Oxford Street. Christmas light ini pun tampak menghiasi jejeran pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang jalan Oxford Street.

Tak ingin ketinggalan, toko-toko yang berada di sepanjang jalan inipun ikut menghiasi gedungnya dengan christmas light pula.

Kawasan belanja yang padat dan ramai, bertambah semarak dengan berhiasnya christmas light serta penampilan penari jalanan. Bahkan sampai larut malam sekalipun, terutama di akhir pekan.

Mau tahu kawasan belanja lainnya di jantung Kota London?

Ayo merapat kemari! 😉

Wisata Belanja London

Jika Anda melancong ke London pastinya Anda akan banyak temui musisi jalanan yang keren-keren di kota ini. Intip liputanku tentang musisi jalanan di Kota London berikut ini:

Nikmati Aksi Musisi Jalanan London, yuk!

Inilah Museum Kereta Kerajaan Terbesar di Dunia

Perkeretaapian Inggris memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak abad ke-19.

Kereta api merupakan alat transportasi yang sangat efektif dan efesien karena mampu mengangkut orang dan barang lebih banyak dari moda transportasi apapun pada masa itu.

Dengan adanya kereta api, laju perekonomian,  informasi dan perjalanan warga Inggris menjadi lebih mudah. Segala informasi mengenai perkeretaapian Inggris tersebut tersimpan di National Railway Museum yang berada di Kota York. Museum yang dibuka pada 1975 ini menyimpan banyak koleksi.

Selain berbagai jenis kereta yang mengangkut penumpang dari masa ke masa, dipamerkan pula banyak gerbong perniagaan. Seperti gerbong pengangkut barang, bahan makanan, sayur,  ikan dari satu kota ke kota lainnya.

Juga dipamerkan gerbong khusus paket dan pos. Di gerbong tersebut kita bisa melihat tayangan TV yang memaparkan cara kerja lalu lintas pos, surat, paket barang antar kota di seluruh Inggris.

Di sini dipamerkan gerbong-gerbong kereta di abad 19 dan 20 yang terbagi dalam tiga kelas. Dimana masing-masing kelas memiliki sofa dan toilet yang berbeda jenisnya. Konsep museum kereta ini dibuat sangat menarik. Interior dan eksteriornya dibuat sama persis seperti stasiun kereta api sungguhan seperti di masa lampau.

Satu yang menarik di sini dipamerkan banyak gerbong kereta milik kerajaan inggris. Gerbong-gerbong yang didesain khusus layaknya istana berjalan ini merupakan gerbong pribadi raja dan ratu inggris yang pernah bertahta.

Diantaranya gerbong kereta Ratu Victoria, gerbong kereta Raja Edward VII, gerbong kereta ibunda Ratu Elizabeth dan masih banyak lagi. Saking banyaknya koleksi gerbong kereta Kerajaan Inggris maka tak heran jika museum ini diberi gelar museum kereta kerajaan terbesar di dunia.

Istana berjalan ini terlihat sangat mewah. Yang dibagi dalam beberapa bagian. Diantaranya ruang tamu, ruang santai, ruang makan, ruang kerja, kamar tidur, toilet yang lengkap dengan bath tubenya. Dan tentunya perabotan begitu lux bin mewah.

Mau lihat salah satu penampakkan ruang kerja Raja/Ratu Inggris di gerbong keretanya yang ekslusif itu? Ini dia!

Gerbong kereta milik Raja Ratu Inggris

Hmm, terbayang betapa nyamannya berada dalam kereta ekslusif itu, ya?

Untuk memasuki museum ini tidak dipungut biaya alias gratis. Namun jika Anda ingin memberikan donasi tentu saja Management Museum lebih menyukainya.

Jadi, buat kamu yang nanti akan melancong ke Inggris, jangan lupa kunjungi museum ini.

Tayang di NET10. NRosmel31052016

Ngomongin soal kereta di Inggris, saya punya pengalaman menarik di sini.

Di Inggris,  kemahalan naik kereta? minta refund aja!

Masih tentang kereta api dan stasiunnya, artikel ini tak kalah  menarik. Karena stasiun kereta ini beken gegara si Harry Potter 😉

Magnet Harry Potter di Platform 9 3/4 London

Tersesat di Scotland, Jadilah Cernak di Bobo

Beberapa tahun lalu saat road trip ke Scotland, kami tersesat. Tepatnya di pusat kota Edinburgh, yang artikel perjalanannya mejeng di sini.

Jadi ceritanya begini, waktu itu parkiran di tengah kota Edinburgh waduh.. susyahnya minta ampyun. Dua kali muter city center gak dapat tempat parkir (maksudnya nyari gedung parkir gitu). Di sini kan gak bisa parkir di pinggir jalan sembarangan. Kalau bandel parkir sembarang siap-siap aja £60 melayang ;).

Ketika itu kami masih suka jalan dengan pasukan komplit. Papi, mami, teteh, dede 😀 Baiklah, akhirnya pasukan dipecah dua 😉 Saya dengan si sulung, papinya dengan si bungsu. Cewek dengan cewek, cowok sama cowok dong ya… haha..

Saya dan si teteh turun duluan, sementara itu pa supir masih kebingungan nyari tempat parkir yang rencananya bersama si dede bakal nyusul kami di tempat yang telah dijanjikan.

Akhirnya, saya jalan duluan bersama si sulung di tengah kota Edinburgh yang kala itu sedang ada festival yang ramenya minta ampyun. Nonton festival, jalan, jajan, poto-poto, berburu suvenir dll. Sementara itu, pasukan cowok dengan acaranya masing-masing.   Diantara waktu itu kami telpon-telponan mau janjian dimana.

Karena sibuk dengan acara masing-masing sedangkan jatah parkir (berbayar, di pinggir jalan) sebentar lagi habis, maka suami memutuskan janjian di tempat parkir saja. Untuk menuju destinasi berikutnya sebelum malam menjelang.

Via telpon Pa Suami memandu dimana letak parkir itu. Karena gak hapal areanya, walhasil kami (saya dan si sulung) malah nyasar kemana-mana, mana waktu parkir habis lagi (padahal udah diperpanjang bayarnya).

Waktu makin mepet, takut kemalaman tiba di kota berikutnya, capek, hujan, nyasar lagi, jatah parkir habis, pa supir cabut, marah-marah ia. Oiya, untung si pa supir ini melek tekno, doi bilang suruh buka App “Find Friend” di smart phone saya. Hayah! Hpnya mati akibat dipake telponan mandu jalan dari tadi. Untunglah HP si kuteh masih bisa dipake, meski lowbat. Akhirnya, tersambunglah kami (dua grup ini) dengan App “Find Friend” tsb. Oh, syukurlah..

Waktu itu hujan gerimis. Duh, Scotland! (boleh intip artikel yang ini :D) kamu emang gitu deh. Bentar panas, bentar hujan. Bentar gelap, bentar terang. Akhirnya, pa supir nyuruh kami nunggu di satu tempat. Yasud, saya dan si kuteh nunggu di pelataran sebuah gedung tua di Kota Edinburgh yang cantik.

Di App tersebut titik merah terus bergerak-gerak menghampiri kami. Ehm.. semakin dekat nih, saya tengok ke arah kanan sesuai titik merah di Smart Phone si kuteh. Dan, tak lama, berkat titik koordinat yang diberikan satelit, memandu pa sopir menghampiri kami. Alhamdulillah… tersesat di kota cantik inipun menjadi kenangan tersendiri buat saya.

Dan ketika saya ingin membuat cerpen anak, saya angkatlah tema ini. Tapi, tentunya ubah seting tempat, ganti penokohan, ganti alur dsb. Cuman idenya saja yang saya ambil.

Jadi, masih bingung nyari ide untuk sebuah cernak? plis deh! ide itu bisa kita dapat di sejuta tempat, sejuta kenangan, sejuta kejadian kita sehari-hari 😉 Seperti ide-ide cernak saya lainnya yang nyaris 90% merupakan pengalaman pribadi.

Dan, cerita beride awal tersesat di Scotland itupun jadilah cernak yang dimuat di Majalah Bobo edisi 6 yang terbit tanggal 19 Mei 2016 berikut ini:

Majalah bobo rosimeilani.com

Buat yang masih bingung nyari ide untuk cerpen anak, bisa diintip pengalaman konyol bapak saya yang berhasil saya buatkan cerpen anaknya berikut ini.