Category Archives: NET_CJ

Mesin Penukar Uang Receh di Inggris

Seperti halnya di Indonesia di Inggris pun pelabelan harga makanan/barang biasanya dibuat tanggung. Misalnya, 99p. Kenapa ngak £1 saja sih. Biar pas begitu. Efek dari harga nanggung tersebut, konsumen sering kali mengantongi uang receh mulai dari pecahan 1p, 2p, 5p, 10p. Sampai batas receh tersebut, rasanya menganggu sekali. Bawanya berat, nilainya tak seberapa. Lain hal kalau 20p ke atas.

Jika diambil mudahnya, 1 pounsterling sama dengan Rp. 20.000,- maka pecahan penny terkecil 1p = Rp. 200,- 2p = Rp. 400,- 5p = Rp. 1.000,- 10 = Rp. 20.000.- Uang pecahan tersebut tidaklah seberapa nilainya. Saya ambil contoh, sebungkus permen jelly campur-campur dibandrol 99p. Jika ingin mengunakan uang receh pecahan di 10p ke bawah repot banget kan ngitungnya? Apalagi kalau barang belanjaannya banyak.

Setiap saya menerima uang kembalian berupa receh-receh tersebut saya kumpulkan ke dalam sebuah toples. Biarpun hanya 1p-2p, itu uang loh, masa mau dibuang atau digeletakin begitu aja. Tidak hanya saya, semua anggota keluarga pun begitu. Jika dompetnya mulai berat oleh uang penny, mereka memasukkannya ke dalam toples tersebut.

Seperti kata pepatah jadul namun syarat makna “sehari selembat benang, lama-lama jadi kain,” toples berisi kepingan-kepingan uang yang nyaris tak bernilai itupun bisa jadi beberapa pounsterling.

Jika sudah lumayan banyak, saya membawanya ke mesin penukar uang koin yang ada di supermarket yang dekat dari tempat tinggal kami. Caranya, masukan saja kesemua koin tersebut ke dalamnya. Si mesin akan menghitung kemudian. 1p-2p ada berapa ratus keping, 5p-10p ada berapa puluh keping dan seterusnya. Setelah ditotal, mesin mengeluarkan selembar kertas berisi rincian uang yang kita masukkan tadi dan jumlah totalnya.

Setelah itu, struk tersebut bisa digunakan sebagai alat pembayaran dari transaksi pembelian kita di supermarket dimana mesin penukar koin receh tersebut berada. Tentunya, sejumlah yang tertera di kertas tersebut. Jika total belanjaan kita £20 dan struk penukaran uang receh kita £10 misalnya, maka kita tinggal menambahnya £10 saja. Lumayan, kan?

Jadi, jangan anggap remeh uang penny sekecil apapun, jika dikumpulkan, lumayan juga kan?

N-21, 31082015

Eksistensi Mesin Uap di Inggris

Pada suatu masa di abad ke-18 Inggris mengalami Revolusi Industri yang mengubah tatanan perekonomian Inggris menjadi semakin maju. Perubahan sistem di bidang pertanian, industri, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi lainnya mengalami perubahan besar-besaran.

Di masa itu produksi batu bara Inggris melimpah ruah. Maka tak heran jika pada masa kejayaan tersebut banyak terdapat tambang batu bara di Inggris. Diantaranya di Cornwall, seperti yang telah saya tulis di buku Jelajah Inggris. Dan terciptalah cornish pasty alias kue pastel ala Inggris yang dilatarbekangi kisah para penambang baru bara tersebut.

Melimpahnya batu bara dimanfaatkan untuk mesin uap. Apapun itu mesinnya. Entah untuk kereta api, mesin-mesin industri, mesin-mesin pertanian, traktor pembajak ladang, traktor pengangkut hasil pertanian, mesin uap pengepak jerami, mesin pengupas gandum, mesin pemotong kayu dan masih banyak lagi mesin-mesin bertenaga uap yang menggunakan bahan bakar batu bara pada saat itu.

Seiring waktu, diawal awal abad 20 persediaan batu bara di perut bumi Inggris makin menipis. Dalam waktu bersamaan, keberadaan batu bara tergantikan oleh bensin dan solar. Mulai saat itulah kepopuleran mesin uap mulai memudar, perlahan tergantikan oleh mesin-mesin berbahan bakar bensin, solar, bahkan kini merambah dengan mesin bertenaga listrik juga mesin bertenaga surga.

Meski jaman semakin canggih dan batu bara beserta mesin uapnya adalah cerita lama, namun masih banyak orang Inggris pecinta mesin uap. Bahkan mereka membentuk klub-klub pecinta dan perakit mesin uap. Kebanyakan, anggota klub tersebut adalah opa-opa yang mungkin pada masa itu mengalami ataupun saksi sejarah jaman kejayaannya mesin uap. Meski demikian, ada juga kaum muda pecinta mesin uap di klub tersebut. Intinya ialah mereka itu adalah pecinta seni otomotif klasik. Kalau tak cinta, mana mungkin mereka menghabiskan waktunya untuk hobi tersebut.

Mereka penyuka mesin uap tersebut merakit mesin uap dalam ukuran kecil. Mulai dari skala 1 banding 3, hingga 1 banding 10. Bahkan lebih. Kesemua mesin replika tersebut disesuaikan dengan bentuk aslinya. Baik ukuran, sistem mesinnya juga interiornya.

Pada sebuah kesempatan di akhir pekan dua minggu lalu, saya diajak oleh seorang teman ke Thornbury untuk melihat pameran bertajuk: Bristol Model Engineering & Hobbies Exhibition 2015 yang kebetulan salah satu peserta pameran tersebut adalah seorang Indonesia. Tapi beliau bukan pecinta/pembuat replika mesin uap, melainkan penghobi pesawat remot kontrol.

Dari sekian banyak atraksi pamer yang berhubungan erat mesin, engineering, moda transportasi ukuran kecil, mesin-mesin, dan tektek bengek lainnya, saya lebih tertarik dengan replika mesin uap yang ruang pamernya berada out door, sedangkan stand lainnya berada di dalam sebuah aula yang sangat besar.

Saya bukan penghobi dan penikmat mesin/otomotif apalagi seperti mesin uap yang sangat lawas, namun saya cukup terhibur oleh kendaraan bermesin uap yang ada di pameran tersebut.

Satu hal yang bisa saya pelajari, betapa sebuah kesukaan atau hobi bisa membuat orang sebegitu sangat kreatif dan total melakukannya, membuatnya dengan sepenuh hati. Demi sebuah kepuasan batin, bukan materi.

Seperti apa yang dilakukan oleh opa-opa yang ada di pameran tersebut. Salah satunya adalah seorang opa yang membuat mesin uapa pengepak jerami, pemotong kayu dll. Dengan detail ia merakit mesin uapnya yang sangat super kecil tersebut.

Untuk melihat seperti apa replika mesin uap tersebut bisa dilihat di sini.

N-20, 28082015

 

Ke Rumah Shakespeare, Berdua Aja

Menurut prakiraan cuaca, Inggris bakal mendung dalam seminggu ke depan. Kecuali hari Sabtu, cerah dari pagi hingga sore, selebihnya hujan.

Ya gitu deh, buat kami yang tinggal di Inggris, prakiraan cuaca pegang peranan dalam menentukan sebuah rencana. Hari ini bakal ujan apa cerah, bakal gede angin apa enggak, cocoknya pake baju apa, enaknya dengan cuaca begini ngapain, pergi kemana dll.

Melihat kondisi cuaca yang bakal mendung seminggu ini, langsung deh, ngak pengen buang waktu untuk menikmati matahari.

“Jalan, yuk!” kata sang mantan 😀 “Tapi kemana ya….”
“Kemanapun itu, aku akan senang pergi bersamamuh.”
Eaaaaa…. 😛

Akhirnya, disimpulkan, destinasinya dekat, bisa menikmati matahari sambil duduk-duduk di taman (lagaknya.. kayak bule aja deh) 😀 Dan tentunya bernilai lebih, hahaha… teuteupppp…
Moto kami: Boleh Maen Ogah Rugi 😛

Jadi, maen kemana kita?..
Ke Rumah Shakespeare!
*Dora the explorer mode on

Ini bukan kali pertama kami ke sini. Meski demikian, kami belum bosan maen ke daerah kelahirannya Shakespeare ini. Setiap sudutnya ada kenangan tersendiri. Saya masih ingat waktu bawa anak-anak kemari. Saat itu mereka masih bocah-bocah menggemaskan. Piknik, lari berkejaran, ngasih makan bebek dll.

Sekarang, apa kabarnya anak-anak?
Si sulung lagi liburan ke Indonesia. Saya paksa si bungsu untuk ikut, tapi dia lebih memilih bermain skateboard bersama teman-temannya. Diiming-imingi apapun gak mempan.

Gitu deh, ada masa dimana anak-anak tak mau lepas dari kita. Dan akan tiba masa anak-anak gak mau lagi ikut emaknya, meski dipaksa.
So, buat emak-emak yang masih kerepotan bawa pasukan krucil, nikmatilah masa-masa itu. Karena akan ada masa, dimana kita sebagai emak merindukan hal itu, sedangkan anak-anak lebih asik dengan teman-temannya, dengan dunianya.

“Jadi, kita pergi berdua aja nih,” tanya sang mantan.
Ya udah, just the two of us (jadul amat nih lagu) 😀

Empat puluh menit perjalanan di cuaca Inggris yang hangat cenderung panas, tibalah kami di daerah tempat kelahirannya Shakespeare. Siapa yang tak kenal Shakespeare? Kalau masih ada yang belum tahu siapa Shakekpeare itu? sungguh ter.. la.. lu..  baca aja buku Jelajah Inggris halaman 115.
Eaaa… promosi terselebung nih 😀

Setelah mobil terparkir mulailah kami berjalan menyusuri area wisata tempat kelahirannya Shakespeare. Sambil menikmati suasana, rekam sana-sini tentunya. Sesudah dirasa cukup, kami duduk-duduk di taman, makan es krim dan bersantai berduaan aja, serasa jaman pacaran 😀

Dan hasil jalan-jalan tersebut diramu kemudian tayanglah di NET12 hari ini.

Selasa, 25 Agustus 2015. N-19.

 

 

Terkena Virus NETCJ

Diawal-awal punya hobi baru bikin NET_CJ saya jalan sendiri. Artinya, saat ada acara gathering ataupun saat berwisata bersama keluarga, saya sok sibuk rekam sana rekam sini. Saat tiba di rumah dan waktunya nongkrong di depan PC berlanjut edit sana edit sini. Seterusnya saya postinglah video NET_CJ tersebut. Jika videonya sudah tayang kadang saya kasih tahu suami. Tapi kadang responnya lempeng aja.

Seiring waktu, jika pas lagi ada event ataupun berwisata n saya sibuk dengan hal lainnya seperti ngobrol-ngobrol sama teman ataupun sibuk makan 😀 kadang saya minta tolong suami untuk ngerekam. Tapi ya itu, hanya selingan aja. Selebihnya saya tuntaskan. Termasuk saat editing, narasi dan aploding.

Lama-kelamaan, saya sering minta tolong doi, dan lama kelamaan pula doi seneng banget dengan hobi barunya ngerekam tersebut. Seperti saat beberapa waktu lalu pas kami ke Bristol untuk menonton Balon Festival. Saya lebih anteng ngobrol dengan yang lainnya sambil duduk-duduk nonton pertunjukan balon udara sambil cemal-cemil makanan. Sedangkan doi sibuk wara-wiri rekam sana-sini.
“Sibuk amat, pa?” 😀

Sesampainya di rumah, doi olahlah itu hasil rekam sana-sininya itu, editing, narasi, aploding. Dan, tara…. videonya itupun mejeng di NET10. Selamat ya, pak 😛

Tayang Senin, 10 Agustus 2015, NET10.

Komen pertama darinya setelah liat tayangan video di atas itu:
“Ya.. ko banyak dipotong?”
Secara, doi udah riweuh wara-wiri plus wawancara, bisa dilihat di sini.

Dari durasi yang nyaris lima menit, jadi tayangnya cuman 1.11 menit doang.
Ya emang begitu pak. Karena NET punya formula sendiri tentang durasi tayang, angle mana yang mau dia ambil, dsb. Jadi, begitu, pak.”  😉

Baiklah.

Rupanya, video pertama itu memicu semangatnya untuk ngeramu NET_CJ lainnya. Dan, video kedua pun tayang selang 3 hari dari video pertamanya.

Loh, kok ada akyunya 😛
Abis itu si bapak belom PD oncam. Terpaksa deh akyu mejeng.
“Lain kali, bapak yang mejeng yaa…,” 😉
*NET_CJ ke-2, tayang Kamis 13 Agustus 2015.

Bapak bener-bener semanget 45 deh, hari ini NET_CJnya tayang lagi. Temanya sesuai banget dengan jiwa tekniknya 😀
Sayang videonya blom tayang di youtube 😉

Video NET10

 

Well done, Pak!