All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Daftar Peserta GA Sejuta Kisah Ibu

Terima kasih saya ucapkan kepada para peserta GA Sejuta Kisah Ibu. Inilah nama-nama peserta dan link URLnya.

  1. Ina Tanaya. Judul: Kearifan Seorang Ibu.
  2. Rinrin Sjafriani. Judul: Kasih dari Ibu yang tak pernah melahirkan saya.
  3. Nda Syahdu/Vina Maysari. Judul: Sepenggal kisahku bersama ibu.
  4. Irhayati Harun. Judul: Wanita Berwajah Surga Itu Bernama Ibu.
  5. Jampang. Judul: Kisah Perempuan yang telapak tangannya menguning.
  6. Yasinta Astuti. Doa Ibu Bekerja Padaku.
  7. DNZ. Judul: Lidah Kucing Kesukaan Ibu.
  8. Hikmawati Cahyaning Tyas. Judul: Kisah perempuan sederhana yang kupanggil ibuk.
  9. Tarry KittyHolic. Judul: Giwang Pemberian Emak.
  10. Hastira. Judul: Surat-surat Cinta Dari Mama.
  11. Een Endah. Judul: Kasihnya Sepanjang Usia.
  12. Shiq4. Judul: Kasih Sayang Seorang Ibu.
  13. Dessy Natalia. Judul: Mama: Musuh Terbesar dan Pahlawan Hidupku.
  14. Nur Annisa. Judul: Tak Ada Kata Memaksakan Diri. 
  15. Tri Wahyuni. Judul: Teruntuk Putriku Raisyah.
  16. Kania. Judul: Kontak Batin Dengan Ibu.
  17. Arni. Judul: Tentang Sebuah Kenangan.
  18. Sri Efriyanti Harahap. Judul: Guru Kehidupan.
  19. Afin Yulia. Judul: Bulan-bulan Terakhir Bersama Ibu.
  20. Inda Chakim. Judul: Tulisan untuk Ibu dari Anak Pertama.
  21. Dian Onasis. Judul: Maafkan Bundamu Yang Pemarah Ini, Ya, Nak.
  22. Melati. Judul: Terbang Dan Berbahagialah, Ma.
  23. Dian Farida Ismyana. Judul: Anakku, Bila Kelak Engkau Menjadi Ibu.
  24. Ernawati Lilys. Judul: Menjadi cermin yang baik untuk anak-anak.
  25. Sri izawati. Judul: Sulaman Terakhir.
  26. Khoirur Rohmah. Judul: Potret Malaikat Tanpa Sayapku.
  27. Yervi Hesna. Judul: Surat Untuk Mama.
  28. Wahyu Triyani. Judul:  Tentang Aku dan Ibu.
  29. Yun Mintarsih. Judul: Simbok … Begitu Saya Memanggilnya.
  30. Gilang Maulani. Judul: Tentang Mama.
  31. sheieka. Judul: menaikan level kesabaran bersama ibu.
  32. Wiwik. Judul: Pada Sekaleng Tancho.
  33. Izzah Annisa. Judul: Ibu Tiri dan Jambu Biji
  34. Dwi Murniati. Judul: Cerita Tentang Ibu. 
  35. Ayunda Slamet. Judul: Berdamai dengan Mama.
  36. Fitri Restiana. Judul: Ibu, Tolong Ajari aku Menjadi Imam.

_______________________________________________________________________

Alhamdulillah dengan ini GA Sejuta Kisah Ibu telah ditutup.
Worcester, 18 Desember 2015. Pukul 17.00 GMT

Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman yang telah meramaikan GA menyambut hari ibu pada tanggal 22 Desember ini.

Selanjutnya tahapan penilaian yang dilakukan oleh dua juri kita yang baik hati berkenan meluangkan waktunya. Mba Maya dan Kak Icha. Rupanya, bu juri yang satu ini terkena virus menulis tentang ibu. Judul: Ibu Mungil Nan Tanguh. 

Alhamdulillah, kita dapat sponsor tambahan dari Mba Evia yang baik hati, berupa tiga buah kalender keren. Selanjutnya hadiah ini akan dijadikan hadiah tambahan bagi pemenang 1, 2 dan 3.

Dengan demikian, berikut ini urutan hadiah yang disediakan oleh para sponsor yang baik hati.

Pemenang pertama: 1 bouquet dan 1 kalender.
Pemenang ke-2    : 1 kaos gurita dan 1 kalender.
Pemenang ke-3   : 1 kaos gurita dan 1 kalender.
Pemenang ke-4    : 1 kaos gurita.
Pemenang ke-5    : 1 kaos gurita.
Pemenang ke-6    : 1 kaos gurita.
Pemenang ke-7    : 1 kaos gurita.
Pemenang ke-8    : 1 kaos gurita.
Pemenang ke-9    : 1 kaos gurita.
Pemenang ke-10    : 1 paket cake (isi 2 box)
Pemenang ke-11    : 1 paket cake (isi 2 box)
Pemenang ke-12    : 1 paket keripik jamur Alfian (isi 5 bungkus).
Pemenang ke-13    : 1 paket keripik jamur Alfian (isi 5 bungkus).
Pemenang ke-14    : 1 paket keripik jamur Alfian (isi 5 bungkus).
Pemenang ke-15    : 1 paket bingkisan dari Restu Mande (rendang kemasan dan bumbu rendang).
Pemenang ke-16    : 1 paket bingkisan dari Restu Mande (rendang kemasan dan bumbu rendang).

 

GA Sejuta Kisah Ibu

Hari ini, tanpa sengaja saya menonton iklan Thailand bertema ibu yang nongol di FB. Video singkat itu berhasil membuat saya mewek. Udah tau gitu, saya mengulang lagi nontonnya. Iklan Thailand emang sering kali merobek-robek perasaan trus bikin mewek termehek-mehek.

Video yang hanya beberapa menit itu menceritakan seorang anak lelaki bernama Nat yang hendak melepas lajang. Waktu bergerak begitu cepat, ujar si ibu. Ibu memberi restu. Dalam kesempatan itu ia memberikan buku catatan tumbuh kembang anaknya kepada calon menantunya. Mulai kisah saat Nat dilahirkan. Ia suka makanan apa, ia tak suka makanan apa dan sebagainya. Lembar demi lembar diary tersebut dibuka Nat di mobil menuju pulang. Nat terkenang semua kisah itu sampai terhenti di satu kalimat:
“Nat suka makan kepala ikan. Sama seperti aku,” tutur si ibu.

Nat tertegun.
Tertegun pada kalimat terakhir.
Apa iya?
Apa iya ibunya suka kepala ikan.
Iyalah.
Lalu kenapa, jika iya, saat makan tadi ibu menyerahkan kepala ikan kepada si Nat dan berkata,”Nih, kesukaanmu.”
“It’s ok, bu. Buat ibu aja,” kata Si Nat.
“Ngak, ibu suka ekornya,” ucap si ibu ikhlas.
Suami si ibu alias bapaknya si Nat melirik penuh arti pada istrinya. Mungkin ia tahu benar bahwa istrinya itu suka kepala ikan.

Berarti ibu itu bohong dong?
Bukan bohong, tapi menyembunyikan hal yang sebenarnya.
Itulah ibu, demi kesukaan anaknya, demi kebahagian, demi kebutuhan anaknya, kadang ia mengalah.

Kisah Si Nat mungkin pula teralami kita. Tanpa kita tahu, tanpa kita sadar. Mungkin pula saat kita minta sesuatu sejak kecil hingga besar saya ia kobarkan apa yang menjadi kebutuhannya.

Kisah Si Nat hanya secuplik kecil kehidupan kita. Antar ibu dan anak. Pada kenyataannya, puluhan bahkan mungkin ratusan cuplik perjuangan, perhatian, kasih sayang, mengalah dan segala upaya yang ibu kita lakukan menjadi rahasia mereka yang dipendamnya sendiri. Tanpa kita mengetahuinya, tanpa kita menyadarinya. Atau mungkin kita tak mempedulikannya.

Saya sudah setua ini, tapi ibu saya tidak pernah lepas mendoakan saya. Ketika saya susah ataupun bahagia. Ketika beberapa waktu lalu ada kedukaan, saya menelfon ibu mohon doa dan restunya. Ibu saya bilang, “Tak usah dimintapun mamah selalu mendoakanmu dan keluargamu. Ihikkss…

Ibu saya figur ibu ideal bagi saya. Memiliki lima anak perempuan yang umurnya berjarak 1-2 tahun. Kami tidak pernah memiliki pembantu rumah tangga. Tapi ibu saya melakukan semua pekerjaannya dengan baik, tanpa keluh. Pekerjaan rumah, urusan dapur bahkan urusan pakaianpun beliau menjahit sendiri untuk semua anak-anaknya. Ibu saya tipe orang yang selalu happy. Cara berpikirnya sederhana. Tidak pernah menyimpan dendam dan sakit sakit. Maka terlihat hidupnya nyantai-nyantai saja dan lempeng-lempeng saja di usianya yang kini seumur dengan NKRI, 70 tahun.

Ibu saya tipe orang yang suka berbagi. Jika seorang anak memberi sesuatu, ia akan membagikannya kembali kepada anak lainnya, kepada cucunya, saudaranya, bahkan tetangganya. Misalnya, ketika saya pulang mudik kemarin membawa coklat, biar kata cuman kebagian sedikit tapi semuanya terbagi, anak, cucu, saudara, tetangga. Atau ketika saya memberikan kue ini, ia membaginya kepada anak, cucu dan saudaranya. Begitulah ibu saya.

Setelah menikah, ibu saya jadi dua. Ya, mertua. Ini kisah tentang ibu mertua. Kembali ke kisah Nat dan Ibunya, kisah inipun kurang lebih sama benang merahnya. Bapak mertua saya seorang pegawai negeri, bekerja di perkebunan. Tentu saja kerjanya di perkebunan. Kalimantan, pangalengan dsb. Sementara mereka berdua tinggal di perkebunan, anak-anaknya bersekolah di Bandung. Untuk menambah keuangan keluarga, ibu mertua rajin mencari uang tambahan. Salah satunya, pernah bertaman kentang. Sebelum masa panen, ibu sudah mengancang-ancang peruntukan uang dari penjualan kentang tersebut. Ia bermaksud membeli beberapa barang yang diinginkannya sedari dulu. Ketika keuntungan panen diterima, beliau datang ke Bandung untuk menengok anaknya. Uang yang ia pegang lepas dengan mudahnya ketika seorang minta dibelikan komputer untuk keperluan kuliahnya. Ya, begitulah ibu. Dan anaknya itu adalah suami saya.

Saya yakin, setiap ibu memiliki segudang kisah. Terhadap anaknya, terhadap keluarganya, lingkungannya. Kisah haru, kisah sendu, kisah tawa. Kisah yang dibagikan maupun yang disembunyikan.

Kapan terakhir kali kamu memberi sesuatu kepada ibu? kapan terakhir kali kamu memeluknya, kapan terakhir kali kamu melihat tawanya?
Saya, terakhir kali memeluknya dan terakhir kali tertawa bersama tepat setahun yang lalu, ketika saya mudik tahun lalu. Tak sabar ingin segera memeluk dan bercanda tawa lagi bersama beliau.

Buat kamu yang fisikmu dekat dengan ibu, peluklah ia, gembirakan ia, bahagiakan ia. Karena membagiakan mereka tak sulit. Kata ibu saya, mamah senang kalau liat kalian (anak-anaknya) senang. Kalau kata mamah Dedeh, nyenengin ibu itu gampang, kasih makanan yang ia sukai. Episode berapa tuh ya, saya lupa – curhat dong mah… ya donggg 😀

Sebentar lagi hari ibu, apa yang paling kamu ingat tentang ibumu. Boleh kisah haru biru, boleh kisah kocak jenaka, boleh kisah seru. Pokoknya kisah tentang ibu. Boleh ibu kita sendiri, boleh ibu mertua, ataupun kisah kamu sendiri selaku ibu. Karena temanya ibu, boleh juga kisah ibunya orang lain 😀

Saya kan nonton video si Nat tuh tadi siang. Trus tercetuslah ide bikin GA yang saya tulis di FB. Trus saya cari sponsor. Alhamdulilah, dalam hitungan jam terkumpul 5 sponsor yang ditotalnya akan memberikan 16 hadiah kepada 16 pemenang GA.

Syarat ketentuan GA

  1. Tulis kisah tentang ibu (seperti yang sudah saya ulas di atas).
  2. Panjang tulisan minimal 200 kata.
  3. Tulisan ditulis di blog ataupun di note FB.
  4. Dibawah tulisan cantumkan kalimat “Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Sejuta Kisah Ibu dengan back link URL ini.
  5. Sertakan link tulisan tersebut ke kolom komentar postingan ini.
  6. Share postingan lomba ini ke sosial media yang Anda punya (FB/Twitter)
  7. Peserta wajib me-like https://www.facebook.com/rosimeilanidotcom/?fref=ts
  8. DL tanggal 18 Desember 2015 pukul 23.59 WIB
  9. Pengumuman pemenang tanggal 20 Desember 2015.
  10. Akan dipilih 16 pemenang oleh dua orang juri, yang tentunya bukan saya, supaya lebih objektif 😉
  11. Karena hadiah bouguet cantik riskan dikirim lewat jasa paket (harus kurir pribadi), maka hanya bisa diantar ke tujuan Kota Bandung dskt, jika ternyata pemenang di luar kota Bandung, maka hadiahnya bisa ditukar dengan pemenang lainnya dengan alamat kirim Bandung dskt.
  12. Begitupun dengan hadiah cake, karena alasan riskan rusak, ancur dan basi, maka berlaku bagi pemenang di Bandung-Jabodetabek. Jika ternyata pemenang berada di luar kota yang disebutkan di atas, maka bisa bertukar hadiah dengan pemenang lainnya.

Dan inilah 16 hadiah yang sementara ini terkumpul dari 5 orang sponsor yang baik hati.

  1. 1 bouquet cantik senilai Rp. 250.000,- persembahan Rossaflorist Jl. Wastukencana 43B 4 Bandung. Hadiah ini cocok dipersembahkan untuk ibunda tercinta. Alamat kirim hanya berlaku untuk daerah Bandung dskt.
  2. 2 paket cake persembahan Nhie Kitchenette. Masing-masing berisi 2 bolu keju gondrong rasa lemon dan green tea. Cocok untuk diberikan kepada ibu, ibu mertua, ataupun ibu lainnya yang bakal happy menerima hadiah ini. Alamat kirim Bandung-Jabodetabek 😀
  3. 2 paket Bumbu Padang Restu Mande persembahan RM Restu Mande. Masing-masing berisi 3 varian rasa yang berbeda.
  4. 3 paket kripik jamur persembahan dari Iwan Keripik Jamur Alfian. Masing-masing berisi 5 bungkus dengan varian rasa yang berbeda.
  5. 8 kaos keren bertema super emak persembahan Kaos Gurita.

Saya ucapkan banyak terima kasih kepada para sponsor yang terdiri dari 3 ibu superb yang mengawali karirnya dengan gigih hingga sekarang terus berjaya. Satu bapak yang cinta istri dan hormat ibunya 😀 dan satu bujang yang sayang sama ibunya.
Hidup ibu-ibu! 😉

Apdet nama-nama peserta silakan intip di sini

Pemerintah Inggris Permudah Mobilitas Kaum Difabel

Bagi kaum difabel melakukan kegiatan hari-hari tentulah sangat sulit. Oleh karena itu mereka harus dibantu oleh sarana dan prasarana serta sistem yang memudahkan mereka untuk beraktifitas.

Pemerintah Inggris sangat konsen terhadap hal ini. Karena kaum difabel juga memiliki hak yang sama seperti warga normal lainnya. Banyak sarana, prasarana serta sistem yang dibuat pemerintah Inggris agar aktifitas para penyandang disabilitas berjalan mulus. Dari sekian banyak upaya yang dilakukan pemerintah Inggris, diantaranya seperti berikut ini:

  • Jangankan tangga konfensional, letak pintu masuk gedung yang sedikit tinggi saja  adalah sebuah momok bagi kaum difabel. Maka dari itu penyediaan ramp sangat diperhatikan.
  • Banyak pintu masuk gedung yang menyediakan ramp.
  • Ramp banyak terdapat diantara trotoar dan turunan jalan.
  • Ruas ramp cukup lebar.
  • Material ramp dibuat kasar agar tidak licin.
  • Di jalanan, area ramp diberi warna merah bata agar jelas dari kejauhan.
  • Selain ramp, keberadaan lift menggantikan tangga konfensional. Biarpun gedung tersebut hanya satu lantai.
  • Nyaris semua bis kota memiliki pintu lebar agar kursi roda ataupun moped scooter bisa masuk dengan leluasa.
  • Seting pintu bus dibuat serendah mungkin agar sejajar dengan bibir trotoar bahkan beberapa bus dipasang lift lantai agar kursi roda melaju mulus.
  • Jika penyandang difabel akan bepergian jauh dengan menggunakan bus antar kota tidak usah khawatir. Mereka bisa memesan tiket secara online agar kru armada mempersiapkannya khusus. Disamping itu mereka mendapat fasilitas keringanan tarif tiket.

Seperti apa visualnya, cekidot di dua video di bawah ini 😉

NET IMS. N33_Rosmel. 03122015
Kali pertama Video CJ saya tampil di Indonesia Morning show NET TV

NET10. Rosmel.03122015

*Rupanya dikasih kesempatan tayang dua kali sama NET TV 😉

Kesejahteraan Domestic Worker di Inggris

Jika ke London, kami tak pernah membawa mobil hingga ke dalam kota London. Kecuali jika ada acara di Wisma Nusantara, kediamannya Pak Dubes. Tentu saja karena alasan sulitnya mencari tempat parkir di pusat kota dan mahal pula tarifnya.

Maka dari itu, jika ada urusan ke London sering kali kami memarkirkan mobil di pinggiran Kota London, seterusnya barulah menggunakan kereta. Biasanya di sekitar Wembley gitu deh.

“Eh, Wembley! Itu sih dekat IIC,” ujar teman ODOJ saya. “Daripada parkir di sana, udah, numpang parkir aja di IIC. Pulang jalan-jalan nanti kan bisa ngaso ngopi-ngopi dulu di sini,” lanjut beliau.

Asikkkk…. makasih ummi… emang kalau milik takan kemana 😉

Setingan Google Map pun langsung menuju IIC alias Indonesian Islamic Centre. Seterusnya, dari sana kami menggunakan bus menuju pusat Kota London. Kesana kemari kesana kemari, sekitar jam 8 saya ditelfon Ummi Fadilah, teman ODOJku itu.
“Udah nyampe mana nih?” tanya beliau.

Kebetulan beberapa menit lagi kami tiba di stasiun terakhir.
“Kalo gitu, ummi jemput ya…,”
Wah, milik… milik….
Hari itu saya berlimpah rejeki.

Setelah turun dari kereta saya clingukan, berbarengan dengan itu dari kejauhan ada ibu-ibu paruh baya bergamis dan berkerudung hitam. Ini kayaknya nih, pikir saya sambil senyum.

“Ummi Fadilah!” sapa saya, beliau mengiyakan lalu kami cipika-cipiki penyambutan sambil terus obrol-obrol menuju mobil.
Hehehe… inilah kali pertama kami kopdar setelah sekian lama tertaut di WA grup ODOJ2 cabang UK.

Memasuki mobil.
Wah, sesosok wanita tangguh di belakang kemudi.
Namanya Ibu Ana. Biarpun udah sepuh upss…. senior maksudnya 😀 beliau pengemudi ulung, sering mengetir ke luar kota 😉 keren ya?

Beliau biasa disapa Yu Ana.
Ah, buat saya rasanya kurang tepat memanggil Yu atau Mba dalam Bahasa Plembang.
Saya lebih tepat memanggilnya bunda.
Bayangin, disaat saya masih orok. diawal tahun 70’an, beliau udah jadi penghuni London. Bisa ngira-ngira kan usia beliau berapa 😀
“Saya hijrah ke London turut suami yang berprofesi pengajar, sekaligus juga artis,” lanjutnya.
Sebetulnya sih, ini bukan kali pertama saya ketemu beliau. Beberapa kali saya jajan pempek buatan beliau. Rasanya beuhh… uenak. Ya, disetiap banyak kesempatan kumpul-kumpul WNI di London, beliau sering buka stand pempek.

Setibanya di IIC.
Makasih tumpangannya, Bunda Ana.
Memasuki ruang IIC tetabuh rebana menggema.
Wah, rasanya seperti penyambutan kepala daerah ke sebuah desa. Hahahah..

Ini Inggris loh dan itu musik rebana loh 😀

Oi.. oi.. ada apa nih.
Oh, rupanya saudara-saudara kita sedang berlatih rebana.
Adalah Annisa Rebana. Merupakan kumpulan para domestic worker (saya kurang suka menyebutnya TKW 😉 ) yang tengah berlatih rebana.

kegiatan TKW di London

Lebih lanjut, Ummi Fadilah selaku yang dituakan aka ketua grup Annisa Rebana ini menjelaskan. Salah satu cara untuk mengisi waktu luangnya, para Domestic Worker (DW) ini mengisinya dengan berkegiatan qasidahan/rebanaan.

Awalnya sih iseng-iseng, lama-lama diseriuskan. Bahkan kini sering menerima tawaran tampil di berbagai acara. Entah itu acara keagamaan, acara kumpul-kumpul orang Indonesia, bahkan pernah pula diundang sebuah komunitas pengajian orang Pakistan.
Wah, keren juga ya?

Siapa yang nyangka coba? Rebanaan/Qasidahan yang diangap jadul/kuno/ketinggalan jaman di tanah kelahirannya sendiri, Indonesia, malah teuteup eksis di negara orang, Inggris pula. Eropa gituloh, bukan Timur Tengah.
Hidup rebana! 😀

Ummi Fadillah yang kesehariannya mengajar Quran di London Fatwa Council ini menjelaskan lebih lanjut bahwa Annisa Rebana ini mau rekaman.
Wah, rekaman! (Y)
Ngak ngerti gimana teknis detailnya. Konon katanya take vocal di UK, edar di Indonesia.

Setelah berlatih, sesi istirahat dan makan-makan pun mulailah.
Saya bertanya, “Diantara ibu-ibu, mbak-mbak di sini, siapa yang paling senior?”
Majulah Ibu Kartini. Pas banget ya namanya, seperti ibu kita kartini ikon emansipasi perempuan Indonesia. Ia menuturkan, selama berkarir 20 tahun, nyaris tak ada duka bekerja sebagai TKW di UK. 

“Saya sering jalan-jalan liburan ke luar negeri dengan majikan berserta keluarganya dengan privat jet,” tutur beliau yang sangat kalem penuturannya.
Wow! pesawat jet pribadi bu? Saya mah baru mampu beli tiket Emirats kelas ekonomi pulak 😀
Oiya, kalem-kalem begini juga, Bu Kartini ini lead vocal-nya Annisa Rebana 😉

Obrolan kamipun berlanjut. Menurut Mba Nuriya, beruntung banget ia dan rekan-rekannya bisa bekerja sebagai DW di Inggris. Karena semua aturannya jelas, hukumnya jelas, pengaturan haknya jelas. Jam kerjanya sama dengan jam kantoran. Weekend libur. Jika tidak mendapatkan hak semestinya mereka bisa menuntut majikannya ke ranah hukum. Misalnya tidak mendapatkan upah seharusnya, mengalami kekerasan dan lain sebagainya. Ada sebuah kasus pelanggaran hak yang tidak semestinya diterima oleh DW kita. Lalu maju ke ranah hukum, iapun memenangkan perkara tersebut.  Akhirnya ia menerima konpensasi yang lumayan besar.

Bocoran dari salah seorang DW, konon katanya mereka bisa mengantongi £500 per minggu. Wow, mayan banget kan. Setara berapa coba? itung aja ndiri! kalkulator di rumah rusak nih. 😛

Hmm… £500 seminggu? apa saya daftar jadi DW juga gitu ya?
*Cari tahu gimana caranya 😀

Total penghasilan, kenyamanan kerja, weekend libur, weekend bisa mengisi dengan kegiatan keagamaan, mengisi hobi, shopping, jalan-jalan, apa gak sejahtera tuh saudara-saudara kita ini? 😉

“Ayo… ayo mba Rosi disambi makan ngobrolnya,” ujar Ummi Fadillah dan Bunda Ana yang merupakan duo ketua/pimpinan grup Annisa Rebana ini.

“Iya, mangga… mangga….”
Tuh kan, Sundanya keluarga lagi. 😀
Orang disuruh makan mie goreng dkknya, malah mangga. Ngak ada mangga keleus…. 😀
*Mangga dalam Bahasa Sunda artinya silakan, ayo, mari 😀

Tapi ternyata, mangga saya disambit eh disambut jawab oleh beberapa rekan DW kita.

“Eh.. geuning orang sunda!” 😀
“Timana?”
“Bandung, Cianjur, Sukabumi, bla.. bla.. bla…. ,”
Bahasa ibupun keluarlah sudah 😀
Derrr… ah 😛

Setelah malam makin larut, Pa Djamal selaku Pengurus IIC yang memberikan tempat untuk berkreasi para DW untuk berlatih rebana di IIC ini  memberikan wejangan terkait kiprah Annisa Rebana yang konon katanya mau rekaman ini. Oiya, selain pengurus IIC, Pak Djamal ini juga orang KBRI London.

Setelah itu, acara kumpul-kumpul seminggu sekali itupun bubar jalan. Jika mereka hanya hitungan belasan menit hingga puluhan menit tiba di rumahnya masing-masing, maka saya dan suami setidaknya makan waktu 2 jam untuk bisa tiba di rumah.

Meski hari itu lelah karena padatnya acara dari pagi hingga malam, namun saya senang mendengar cerita-cerita suka duka mereka menjadi DW alias TKW di negeri yang sangat memperhatikan tiap tetes keringat para pencari kerja di negeri ini.

Mau tau bagaimana mereka berlatih rebana? cekidot.. 😉