All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

English Tea VS Teh Indonesia

Bukan karena sok nasionalis ataupun gak mau mengadaptasi cara setempat dalam meminum teh, tapi lebih karena.. apa ya… karena suka aja gitu.

Sampai saat ini saya suka minum teh Indonesia. Bukan teh celup atau tea bag, tapi teh tubruk. Iya, yang teh nya kasar. Yang Kalau diseduh potongan daunnya mengembang, aromanya wangi menyeruak, lalu tehnya mengambang.

Bagi saya, rasa dan aroma teh tubruk itu lebih kuat. Ehm… wanginya ituloh. Apalagi yang aroma melati. Ehmmm lagi deh.
Kebiasaan ini menurun pada suami dan si bungsu.

Setidaknya kebiasaan mewah ini (bagi saya) akan tetap berlangsung hingga bungkus teh terakhir yang kami miliki. Mungkin 2-3 bulan ke depan. Karena teh-teh itu kami dapatkan dari Indonesia ketika mudik tahun kemarin. Berharap teh serupa bisa saya miliki kembali.

Jikapun nanti semua stok teh itu bakal habis juga, terpaksalah saya minum teh Inggris jua (teh seduh buatan Inggris). Tapi tanpa gula, tanpa susu. Ya, ciri khasnya teh Inggris itu dicampur susu. Lagi pula sayang banget rasanya minum teh yang anti oksidan itu harus dimatikan khasiatnya oleh susu.

Beda lagi dengan anak saya yang sulung. Ia juga pecinta teh. Tapi teh Inggris. Plus gula dan susu. Pagi, siang, sore, malam.

Di luar hujan, dingin. Sekarang waktunya tea time.


teh inggris

Kanan teh Indonesia kiri teh Inggris, cemilannya kastengel.
*Cerita Ibu dan Anak

Doa Yang Salah?

Beberapa hari lalu, entah kenapa, selepas magrib badan terasa pegal-pegal lalu menggigil kedinginan. Waktu itu saya minum obat, 2-3 jam kemudian, setelah obat bereaksi, demam saya hilang, tersisa lemas. Saya pun tidur lebih awal.

Keesokan harinya, saya beraktifitas seperti biasa, namun selepas magrib gigil itu datang lagi. Tulang-belulang nyeri sekali. Saya pun melakukan hal yang sama seperi hari sebelumnya. Minum obat warung  lalu tidur berselimut doble duvet, tebal sekali. Sekitar 2 jam kemudian, gigil hilang bersisa lemas.

Keesokannya, semua normal. Saya menyambut pagi dengan riang. Saya berbenah ekstra. Terutama kamar si sulung yang sudah lama kosong. Hari itu saya riang sekali, karena si sulung mau pulang.

Setelah semua beres, saya dan suami pergi ke kota sebelah untuk beberapa urusan. Urusan pertama usai jam 12 siang. Eh, si gigil datang lagi. Mungkin karena cuaca yang sangat dingin, anginnya kencang pulak, ataukah belum makan siang? Terpaksa kami membatalkan beberapa urusan selanjutnya. Segera kami menuju sebuah supermarket. Membeli air minum dan obat. Seterusnya kami makan siang di sebuah fast food dekat supermarket tersebut. Padahal hari itu kami telah mengincar sebuah tempat makan yang telah kami rencanakan beberapa hari lalu. Tapi tak ada waktu. Gigil ini membuatku tak ada pilihan.

Setelah makan dan makan obat, kami cukup lama di sana, kebetulan restonya ada musholanya. Jadi, sementara suami shalat, saya bisa cukup beristirahat di sana. Sementara itu, masuk SMS dari si sulung yang mengabarkan bahwa di perjalanan turun salju. Bus yang ditumpanginya pun tersendat. Kami terus kontak-kontakan. Kabar selanjutnya bus berhenti cukup lama. Kemungkinan waktu tiba akan molor. Entah berapa lama.

Usai shalat, suami tanya, apakah mau melanjutkan rencana hari ini?
Ya, sebetulnya hari itu kami mau ke beberapa tempat. Terakhir akan ke stasiun bus di kota tersebut untuk menjemput si sulung. Tapi cuaca dan kondisi tidak memungkinkan. Akhirnya kami pulang dan melewatkan beberapa rencana yang telah dirancang. Serta disepakati, si sulung nyambung kereta api setelah turun dari bus di kota tersebut.

Sesampainya di rumah saya baik-baik saja. Tapi, lagi-lagi, lepas magrib gigil itu mulai terasa dan makin bertambah parah. Duh, padahal saya pengen jemput si sulung di stasiun kereta yang jaraknya cukup dari rumah. Mana waktunya cuman sekitar sejam lagi. Belum masak pulak. Tapi ya, gimana?

Langkah yang tepat adalah, segera minum obat, tidur, dibalut selimut yang super tebal, lalu berdoa:

“Ya Rabb, terima kasih telah KAU beri aku sakit ini, dingin ini, gigil ini, linu sekujur tulang belulang ini. Alhamdulillah.
Semoga ini menjadi pengugur dosaku yang amat sangat banyak jumlahnya.
Beri aku waktu tidur satu jam, Ya Rabb. Sejam… aja, Ya Rabb.
Lalu bangunkan aku dalam kesembuhan, Ya Rabb.
Oiya, Rabb, jika boleh kupinta, gak apa-apa juga bus atau kereta anakku kasih delay sebentar saja. Agar aku cukup waktu untuk memasak lamb chop kesukaan anak sulungku 😀
Aamiin YRA. Makasih Ya Allah.”

Dan saya pun tidur dalam gigil, lalu blas… tak ingat apa-apa.
Waktu berselang. Kurang dari sejam kemudian, henpon berbunyi,
“Mam, tolong liatin jadwal kereta dari Birmingham ke Worcester adanya jam berapa aja? Jam segini kok belum nyampe juga!” tanya di seberang sana.
“Loh, kamu dimana nih?” saya terheran-heran.

Rupanya, selagi saya tidur, suami sudah pergi ke stasiun kereta, tapi ngak tau si Kuteh (pangilan sayangku pada si sulung) pake kereta nomor berapa dan sampainya jam berapa. Karena terakhir kontak, batrenya lowbat.

Segera saya liat jadwal kedatangan kereta di Shrub Hill stasiun. Suami pun tenang, duduk manis di stasiun menunggu anak gadis kesayangannya.

Saya turun dari kasur. Alhamdulillah badan terasa lebih ringan. Segera saya masuk dapur. Masak nasi. Ambil pan anti lengket. Nyalakan kompor. Letakkan beberapa lamb chop yang sudah di marinade dari kulkas. Sementara itu, nyiapain minum, piring, saos, sambal, kecap, lalapan.

Di saat semua hampir siap, bel berbunyi. Ia tiba dengan selamat. Duh, rindunya… cipika-cipiki. Obrol-obrol melepas kangen. Lalu kami makan bersama. Nampak ia menikmati lamb chop kesukaannya sambil tak henti berucap syukur dan geleng-geleng kepala menikmatinya, ehmm… katanya berulang kali.
Sebuah ekspresi senang tiada tara. Deuh, kasian amat anak kos yang terbatas dana, waktu dan kemampuan masak 😀

***

Saya dan si sulung catch up tiada henti. Tentang kegiatan perkuliahannya, tentang di rumah ini dan sebagainya dan sebagainya. Hingga berlanjut di kasur. Ya, biasanya, jika lama tak jumpa, ia suka nginap di kamar saya. Tidur di kasur saya. Lalu ngobrol-ngobrol sampai larut. Sambil sayang-sayangan, peluk-pelukan, becanda-becandaan juga cela-celaan 😀
Dan suami, tidur di kamar sebelah 🙂

Saat itu saya bilang,
“Teteh tau, gak? tadi mamih sakit, terus mamih berdoa sama Alloh. Beri mamih kesembuhan, ijinkan mamih tidur sebentar. Biar cukup recovery. Trus, mamih juga berdoa: Semoga Alloh kasih delay bus/kereta teteh, biar mamih sempet masak lamb chop kesukaan teteh,” ujar saya cekikikan.

“Ih… mamih mah.. pantesann… ,” sambil pukul-pukul mesra sama saya 😀 “Padahal teteh pengen pulang cepet.”
“Lah, kalau teteh pulang cepet, mungkin mamih belum pulih. Belum tentu bisa masuk dapur, trus masak lamb chop kesukaan teteh. Ya kan?” 😀

Dan kamipun ngobrol segala rupa sampe pada teler kengantukkan lalu ZZZzzzzzz….

Sejuta kisah Ibu

rosi meilani

Kamu punya kisah tentang ibumu? Atau tentangmu sebagai ibu? Atau kisah  ibu-ibu lainnya? Ayo berbagi kisahnya di GA Sejuta Kisah Ibu. Ada banyak hadiah menarik loh. cekidot dimarih.

 

Mesin Penukar Receh

Beberapa waktu lalu saya pernah posting tentang mesin penukar receh di sini. Di mesin tersebut remahan uang (1p, 2p, 5p, 10p) yang nyaris tiada arti itu bisa cukup untuk belanja. Yaiyalah, orang recehannya setoples penuh.

Nah, kali ini saya akan kasih unjuk kebalikan dari mesin penukar receh tersebut. Beberapa waktu yang lalu, untuk sebuah keperluan saya dan suami pergi ke London. Pas di Liverpool Street Station kami kebelet pipi*. Penunjuk arah mengarah ke lantai bawah. Di ujung tangga saya liat untuk memasuki area toilet tersebut terdapat palang pembatas. Artinya saya perlu koin untuk menewatinya.

Wah, celaka, mana kebelet, mana gak punya koin pula. Soalnya keping logam terakhir yang saya punya 20p itu dipakai untuk ke toilet  lainnya tadi pagi. Duh, London mah WCnya matre 😛

Sejauh ini, yang saya alami, toilet berbayar di Inggris kisaran 20p-30p. Atau sekitar 4.000 rupiah – 6.000 rupiah. Sejauh ini, selama saya suka jalan-jalan Jelajah Inggris, cuman beberapa tempat aja sih yang WC umunya berbayar. Terutama London. Secara, kota metroplolitan gituloh.

Tapi, ebentar, ketika saya menuruni anak tangga terdengar gemerincing jatuhan suara koin di kotak mesin itu. Ya, mesin yang mirip vending machine itu rupanya mesin penukar uang. Bedanya dengan postingan saya sebelumnya mesin ini kebalikannya. Dari uang gede ke uang receh. Sebelum saya menukar nampak orang-orang menukar uang di sana. Ada yang nukarnya lembar £5. Udah gitu malah gak ke toilet. Oh… kali dia butuh untuk keperluan lainnya. Ya, karena di Inggris banyak fasilitas mandiri (artinya tidak ada petugasnya) yang dioperasikan oleh mesin dengan cara memasukan koin terlebih dahulu. Selain toilet umum, vending machine makanan/minuman, bayar parkir dll.

Saya pun ikut menukarkan di mesin penukar koin tersebut. Karena suami udah nuker uang sendiri, jadi saya cukup menukar £1 aja yang jadi pecahan 10p dan 20p. Mayanlah cukup untuk beberapa kali pipi* 😀 Maklumlah Inggris udah dingin. Bawaannya gampang kebelet ke belakang.

Nah, ini dia penampakkan mentahnya:

Dan ini penampakkan yang tayang di NET12. 10122015. N_34Rosmel

Gurita, Kaos Kece, Harga Cepek

Bandung tuh ya.. tempat lahirnya para kreator muda. Emang orang Bandung itu pada kreatip. Apapun itu usahanya, mereka selalu berinovasi dalam mengembangkan usahanya. Entah itu industri makanan, industri hiburan, industri pakaian dan sebagainya.

Dulu, cireng ya cireng aja. Sekarang… beuhh… itu cireng udah dikolaborasi dengan kejulah, kornetlah, sosislah, rasa rujak lah dan sebagainya sebagainya lah. Hingga akhirnya cireng menglobal. Terkenal di Indonesia, bahkan luar negeri. Ya, temen saya yang tinggal di Inggris juga ngejual cireng yang didatangkan dari Indonesia. Hidup cireng! hidup Bandung! Orang Bandung tea.. atuh.. kreatip, segala diulik.

Begitupun dengan kaos oblong. Ditangan Eka dan Adrian yang sama-sama lulusan ITB, pake kaos jadi terasa keren. Kenapa? Karena kaos yang diberi label Kaos Gurita ini bertuliskan kata-kata yang keren bin kece.

Nih, Kang Emil juga pake Kaos Gurita. Kamu? 😉
kang emil Ridwan Kamil Walikota Bandung

Jadi, kalau kamu ke Bandung, ngak cuman oleh-oleh makanan aja yang bisa kamu bawa pulang, Kaos Gurita juga cucok buat dijadiin oleh-oleh Bandung. Karena Kaos Gurita blom buka outlet di luar Kota Bandung.

Kalau mau lebih jelas lagi ada kaos keren apa aja yang cocok buat kamu, nih, saya kasih linknya berikut ini. Banyak banget kan koleksinya? Kata-katanya pun keren. Ada yang kocak, ada yang nyunda abis, ada yang buat nu geulis (yang cantik), nu kasep (yang cakep), super emak, super bapak dan lain sebagainya. Liat aja detail foto yang saya kasih linknya di atas. Kali aja kamu tertarik membelinya. Tuh, ada yang bacaannya Gendut? #AKURAPOPO  😀 upss… maap 😉

Eh, bentar, tadi bilang ada yang tulisannya SUPER EMAK?
Iya, ada. Kamu super emak juga kan?
Jika iya, kamu berhak mendapatkan kaos ini secara gratis 😉
Tapi, tapi harus ikutan lombanya dulu di sini.
T
ersedia 8 Kaos Gurita bagi 8 orang pemenang.

Tapi, tapi itu juga kalau Anda beruntung memenangkan hadiahnya. Jikapun enggak. Tenang aja, kamu tinggal buka websitenya Kaos Gurita. Pilih kaosnya, order via sms, bayar, lalu duduk manis. Tunggu aja besok atau lusa pintu hati rumahmu diketuk abang kurir 😀  Simple banget kan?

Mengenai harga, relatif murah. Untuk ukuran dewasa rata-rata harganya cuman cepe ceng  aka 100k. Trus, buat para bocah harganya mulai dari 65k. Untuk lebih jelasnya mampir aja ke websitenya Kaos Gurita. Tadi di atas udah saya kasih linknya kan?

Kalau buat orang Bandung sih, atau kalau kamu lagi ke Bandung mendingan langsung kunjungin aja ouletnya yang tersebar di Kota Bandung. Sekalian jelong-jelong gitu…. Kali aja nanti ketemu ownernya trus minta foto bareng sama Teh Eka. Eh? 😀

Inga.. inga… (hanya orang jadul yang tau jargon layanan masyarakat ini ) 😀

Ini dia outlet alamat outlet Kaos Gurita di Kota Bandung:

  • Toko Kaos Gurita – Piset square (samping Hotel Horison)
    JL. Pelajar pejuang 45 No. 119 Bandung.
  • Toko Kaos Gurita – Hotel De Barata
    JL. Cihampelas 112 Bandung.
  • Kios Kaos Gurita – Young Street – Cihampelas Walk Bandung.
    Kios Gurita – Trans Studio Mall Lt.2 Bandung.
  • Kios Gurita – Toko Kartika Sari Dago Lt.2 Bandung.
    JL.Ir.H Djuanda No.85-87 Bandung (Lantai 2).

Phone: 081321130020, 0818432300, 081321130020 , PIN BB 2BD8EEA7
Email: guritaindonesia@gmail.com
kaosgurita@gmail.com
Toko online: kaosgurita.com