All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Batik Kudus Karya Denny Wirawan Melenggang di Inggris

Pada Minggu 7 Juni 2015, Denny Wirawan, perancang muda Indonesia menggelar peragaan busana di Nottingham Inggris.

Tema Fashion Show Denny kali ini mengangkat tema Batik Kudus. Sebuah motif batik yang kurang mendapat perhatian masyarakat. Oleh karena itu, Denny mengangkat Batik Kudus agar mampu disejajarkan dengan motif batik lainnya yang telah terkenal di Indonesia.

Acara yang digelar di University Boulevard Lenton, Nottinghamshire ini merupakan rangkaian gelaran Indofest. Yaitu kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh PPI Nottingham, Inggris.

Denny Wirawan mementaskan karyanya di hadapan Duta Besar RI untuk Inggris serta pengunjung lainnya yang terdiri dari masyarakat Indonesia yang bermukim di Inggris serta warga Nottingham itu sendiri.

Denny Wirawan di Inggris
Denny W, Dubes RI, Atiqah Hasiholan

 

Dalam Fashion  Show ini Denny menampilkan 20 busana yang elegan. Ditampilkan oleh 6 perawagati. Salah satunya adalah Atiqah Hasiholan.

Seperti apa serunya pertunjukkan busana tersebut, silakan ditonton:

Festival Tall Ships Gloucester, Inggris

Senin kemarin adalah Bank Holiday Monday yang bertepatan dengan liburan sekolah. Kebetulan pula si Yayang ngabisin jatah cuti, jadi hari itu kami pergi ke kota sebelah, Gloucester. Ni ya.. orang Inggris tuh kadang hambur kata, itu ditulisnya Gloucester, dibacanya cukup Gloster doang 😀

Hari itu cuaca Inggris cepet sekali berubah. Sebentar panas, sebentar mendung. Sebentar angin sepoi, sebentar angin kencang. Tapi okelah, dibandingkan dengan hari sebelumnya yang gerimis seharian.

Dari Worcester (nah ini lagi, dibacanya cukup Wuster aja) ke Gloucester ditempuh dalam waktu 40 menit saja. Untuk memasuki festival tahunan ini kami harus membayar tiket masuk £2 per orang, sedangkan untuk anak di bawah 16 tahun, gratis. Setelah membeli tiket, kami diberi gelang kertas berwarna hijau. Hal dimaksudkan karena festival ini bertempat di arena terbuka di dermaga. Jadi kita bisa keluar masuk sesuka hati ke banyak area hiburan di tempat itu dengan hanya menunjukkan gelang tersebut.

Festival ini berlangsung di Gloucester Historic Dock, sebuah dermaga besar yang letaknya dekat pusat Kota Gloucester. Ada belasan kapal yang dipamerkan di sana. Kapal-kapal yang usianya seabad itu masih terawat rapi dan masih beroperasi. Pengunjung boleh menaiki kapal-kapal tersebut, tapi dengan biaya lebih. Untuk menaiki kapal bermaterialkan kayu dan bertiang layar amat tinggi ini tiketnya £6 yang dibeli ketika memasuki area festival.

Banyak atraksi yang disajikan. Diantaranya ialah Pirate ship battle. Pertunjukkan ini seru sekali. Dimana dua kapal bajak laut berperang hebat. Suara meriam (cannon) berdentum-dentum. Setidaknya masing-masing kapal bajak laut itu melepaskan 5 kali tembakan meriam. Tentu saja meriam yang digunakan bukan meriam sebenarnya yang membahayakan lawan dan penonton festival. Tapi meriam bohongan yang hanya mengepulkan asap dan dentuman suara yang hebat.

Atraksi air yang berlangsung di dermaga Gloucester lainnya adalah flyboarding. Pertunjukan ini tak kalah seru. Dimana seorang atlet flyboarding terbang di udara dengan kekuatan tekanan air dari bawah.

Atraksi lainnya adalah pentas musik. Area panggung diseting sedemikan rupa hingga menarik. Diberi rumput sintesis, diletakkan banyak bangku pula. Jadi yang tidak kebagian tempat duduk, penonton bisa duduk-duduk santai di rumput tersebut sambil menikmati sajian musik dan curahan sinar matahari yang semakin siang semakin hangat.

Area panggung dilingkup stand bazaar aneka makanan dan minuman. Pas benar. Makan minum, duduk-duduk santai, berjemur, menikmati sajian musik.

Di bagian area lainnya masih ada panggung kecil, pameran barang antik, mobil antik, serta puluhan stand bazaar lainnya yang tidak hanya menjual makanan dan minuman tapi juga kerajinan tangan, pernak-pernik, pakaian, tas dsb.

Korsel, bouncy castle, serta permainan anak lainnya ikut memeriahkan suasana. Tukang balon, tukang es krim, permen, cotton candy memberi warna lainnya.

Yang tak lah seru, banyak panitia yang hilir mudik memakai pakaian bajak laut yang heboh. Banyak anak-anak minta berfoto bersama mereka. Sesekali para bajak laut gadungan itu berakting drama di tengah jalan.

Buat yang pengen penasaran seperti apa serunya festival ini silakan intip dimari:

 

Tips Nulis Cernak, Bobo, Dramatisasi

Cernak Bobo

Cernak Bobo Edisi 28 Mei 2015

Alhamdulillah pagi ini, lewat FB saya mendapat kiriman foto yang bikin hati senang. Ya, beginilah. Setiap kali karya saya mejeng di Majalah Bobo, Majalah anak yang keren ini, saya baru bisa membacanya jika ada teman yang kirim penampakkan gambarnya.

Ya nasip.. ya nasip… mengapa begini.. baru pertama bercinta sudah menderita. Cukup sekali…  STOP! Lebay ah! Drama banget sih! Lagian itu lagu mana ada yang tau! Secara, pembaca Bobo kan bocah yang masih unyu-unyu. Iya lebay, didramatisasi ah! 😛

Eh, ngomongin soal dramatisasi, cocok banget dengan tema postingan yang ingin saya sampaikan kali ini. Apa itu dramatisasi? menurut buku karangan Tatang Subrata 😀  KBBI daring:
dramatisasi/dra·ma·ti·sa·si/ n 1 penyesuaian cerita untuk pertunjukan sandiwara; pendramaan; 2 hal membuat suatu peristiwa menjadi mengesankan atau mengharukan.

Ide, pesan moral, seting, tokoh, alur dramatisasi

Awal mula ketika akan membuat cernak tentulah harus ada ide awal. Cernak apa nih yang akan kita angkat? Ide itu bertebaran di mana-mana, seperti yang telah saya ulas di sini, contohnya. Nah, untuk kali ini, saya akan mengangkat tema cernak tentang cucu dan nenek.

Jujur, ide awal cernak ini saya dapat ketika anak saya liburan ke tanah air tahun lalu. Dengan modal ide itu, jadilah cernak ini. Tapi, tentunya, ide saja tidak cukup, pesan moral itu penting. Seperti yang telah saya ulas di sini.

Ide sudah ada, pesan moral sudah didapat. Kini waktunya bikin alur cerita, ditambah seting tempat dan tokoh/penokohan.

Cernak berjudul “Dapur Nenek” ini sejujurnya berawal dari curhatan anak saya. Waktu itu dia bilang, “Ma, kondisi dapur nenek, bla.. bla.. bla..
Dari situlah saya mulai membuat cernak ini.

Agar cernak terasa hidup saya harus mendramatisasi kondisi yang ada dengan cara:

  • Saya mengubah tokoh. Anak saya kan udah ABG. So tokoh ini dibuat jadi anak SD. Namanya Amel.
  • Seting tempat, ini udah pas bener. Rumah ibu saya di pinggiran Kota Bandung. Dekat SD, buka warung pula. Yang diubah, UK-Bandung, jadi Bali-Bandung.
  • Alur, dibikin sedramatis mungkin. Tapi tidak lebay dan masuk akal yang penting pesan moral sampai.

Sebagai bocoran, saya kasih sinopsisnya, ya. Selanjutnya pada pegi beli BOBO gih! hehehe..

Adalah Amel, anak SD, liburan ke rumah Nenek. Dapur nenek tidak terawat, karena nenek sibuk di warung miliknya. Amel ada ide merapikan semua itu. Tapi perlu biaya. Nah, di sinilah peran Si Amel menyelesaikan semua permasalahan tersebut.

Kita sedang membuat cernak, jadi usahakan si tokoh anak inilah yang lebih banyak mengambil peran dengan cara dirinya sendiri. Bukan neneknya, ataupun orang dewasa yang ada disekitarnya. Karena pembaca cilik akan lebih senang jika si tokoh anak ini yang berperan. Pengalaman saya dulu, ketika membaca cernak BOBO, sambil membaca, kadang saya memposisikan/membayangkan tokoh itu adalah saya sendiri. Kalo kamu gitu gak, sih 😉

Balik ke bahasan Cernak, bagaimana Si Amel berusaha memecahkan masalah? Si Amel berjualan brownis dengan tujuan, keuntungan dari jualannya itu bisa dipakai untuk mempercantik dapur nenek. Bagaimana ia bersusah payah membuat brownis, menjualnya dan sebagainya dan sebagainya. Di sini lah adegan dramatitasi berperan menghidupkan cerita.

Karena akan sangat gak seru sekali jika penyelesaian masalah dilakukan dengan cara cepat tanpa dramatisasi. Misal, Amel liburan ke rumah nenek. Dapur nenek perlu perbaikan. Amel menelfon Mama. Mama memberikan bantuan. Dapur nenek terlihat bagus lagi. Ya.. mana seruuuu 😀

Bagaimana alur dari pemecahan masalah, klimaks, anti klimaks dan ditutup dengan ending yang baik? Nah, disinilah perlu bumbu-bumbu yang bikin seru cerita. Dramatisasi salah satunya. Lalu ditambah bumbu-bumbu cerita. Lalu ditambah sedikit sentuhan/bantuan para orang dewasa yang ada di sekitarnya. Jangan lupa bikin ending yang bagus, menarik atau bahkan bikin haru.

Sayang, saya belum bisa kasih unjuk naskah mentahnya. Soalnya, kan, Bobonya masih edar. Baru edar hari ini loh, 28 Mei 2015. So, kalo mau baca cerita lengkapnya buruan ke lapak koran terdekat 😀

Gimana, udah terbayang kan, cara mendramatisasi sebuah cernak dari kisah keseharian kita?

Graduation Cookies

Hari kelulusan adalah hari yang paling dinanti oleh para siswa/siswi, mahasiswa/mahasiswa. Iya dong, ya? Hari yang dinanti gitu loh.

Yang namanya hari bahagia sering kali dirayakan dengan sesuatu yang bikin hati happy. Entah itu abis kelulusan makan-makan, foto-foto dan sebagainya.

Selain acara foto-foto dan makan-makan, acara kelulusan sekarang  ini banyak pernak-perniknya, ya?
Eh, ngak sekarang-sekarang ini, sih. Tapi udah berlangsung beberapa tahun lalu. Maklum udah lama jadi kaum perantau, jadi kurang memantau 😀 Saya pernah lihat foto kelulusan seorang ponakan, pegang boneka apalah itu yang pake toga. Ada juga anak kerabat yang foto kelulusannya pada pegang setangkai bunga mawar.

Jaman kami dulu, kelulusan gak pake pernak-pernik begituan. Bungalah, bonekalah, souvenirlah atau apalah. Tapi jaman kan berubah ya… Bagus juga sih pernak-pernik kelulusan dengan yang begini-beginian. Selain lebih seru dan berkesan juga membuka rejeki bagi para pedagang bunga dan pengrajin souvenir kelulusan.

Nah ini ada satu lagi pernik kelulusan lainnya. Namanya graduation cookies. Dinamakan graduation cookies, pastinya berupa sekeping cookies cantik yang diberikan ketika kelulusan. Kelulusan apa aja. Mulai dari PAUD hingga pasca sarjana pun bisa 😉

Celebration cookies
Graduation Cookies

 

Anda bisa pesan graduation cookies ini di “THE VALE COOKIES”
Menurut ownernya, kata “vale” diambil dari bahasa Latin yang artinya artinya farewell. Jadi,  anggap aja cookies ini sebagai farewell/perpisahan/pamitan setelah sekian lama menyelesaikan study. Gitulah kira-kira… 😉

Cookies produk “THE VALE COOKIES” ini bentuknya lucu-lucu, keren n colourful. Rasanya juga enak. Dibuat dari bahan berkualitas. Cookiesnya gak terlalu manis. Karena manisnya didapat dari icing penghias cookiesnya itu sendiri.

vale diambil dari Bahasa Latin yang

Bentuk sesuai pesanan

“THE VALE COOKIES” melayani pesanan cookies dengan bentuk  sesuai dengan yang Anda inginkan . Biar sesuai tema, gituu… Untuk  graduation cookies PAUD dengan S1 pastilah beda desainnya 😉
Dan inilah beberapa contoh penampakan  graduation cookiesnya.

Harga dan pemesanan

Harga yang ditawarkan bervariasi. Ada paket-paketnya gitu, bo. Mulai paket VICI seharga 25.000 IDR untuk 3 Pcs cookies. Paket Veni 150.000 IDR untuk 24 cookies. Paket Vidi 180.000 IDR untuk 30 cookies.

Karena cookies berbentuk keren ini dibuat secara home made, jadi Anda harus pesan jauh-jauh hari. Untuk alamat pemesanan bisa hubungi nomor berikut ini: 085711882889.

Celebration Cookies

Awalnya, “THE VALE COOKIES” memang memproduksi  graduation cookies. Tapi lama kelamaan banyak yang order untuk celebration lainnya. Oleh karena itu, sekarang “THE VALE COOKIES” menerima aneka celebration cookies. Entah itu untuk birthday, wedding, baby born, anniversary, souvenir dsb.

Pokoknya “THE VALE COOKIES”  menerima pesanan cookies sesuai dengan yang Anda inginkan.

So, dalam waktu dekat ini ada event apa, bro n sis? Nikahan? ultah? sunatan, kelulusan dan lain sebagainya, pesan aja celebration/souvenir cookiesnya di “THE VALE COOKIES” di nomor berikut ini  085711882889 (SMS/WA).

Eh, buat souvenir lebaran yang bisa dibagiin ke bocah-bocah/ponakan seru juga kayaknya,  ya? ehmm..