Category Archives: cerita biasa

Cornish Pasty, kue pastel ala Inggris

Cafe Land's End
Cornish Pasty Cafe Land’s End

Cornwall adalah sebuah provinsi di Barat Daya England. Karena posisinya di semenanjung, ia menyimpan pesona pesisir pantai yang indah. Tak heran,  Cornwall diburu pelancong. Tak heran pula, seperempat pendapatan daerahnya didapat dari bidang pariwisata. Kali ini saya tidak akan membahas wisata alamnya, tapi akan membahas makanan khasnya.

Pastel ala Inggris

Tentunya kita sudah tahu dan biasa makan kue pastel, kan, ya?

Eternyata… setelah saya pindah ke Inggris, saya menemukan kue yang mirip dengan kue pastel. Namanya Cornish Pasty. Tapi, kue pastel Inggris ini ukurannya lebih besar. Kira-kira seukuran telapak tangan orang dewasa. Kulit pastynya lebih tebal hingga mengenyangkan. Isiannya terdiri dari daging cincang, kentang, wortel, swede, daun bawang dll.

Kalau buat kami sekeluarga, kami biasa membeli isian cheese & onion dengan pertimbangan kehalalannya tentunya. Kami punya toko kue langganan. Biasanya kami membeli di akhir pekan sambil belanja mingguan. Jika membeli Cornish Pasty sekitar jam 10 pagi, hmmm.. wangi aromanya bikin air liur netes. Masih hangat pula.

Di sebuah musim panas, kami travel ke Cornwall. Dari sekian titik destinasi wisata kami, Land’s End adalah salah satunya. Di titik terujung Barat Daya Inggris inilah saya baru tahu, bahwa Cornish Pasty ini adalah makanan khas orang Cornwall. Untuk artinya, Cornish itu sebutan bagi orang Cornwall. Sedangkan Pasty adalah sebutan untuk jenis kue yang bentuknya dibalut adonan terigu.

Land's End
Land’s End Pulau Terujung Inggris

Dari sinilah kisah pastel Inggris itu bermula

Di abad pertenggahan Cornwall terkenal sebagai daerah penghasil barang tambang. Para penambang bekerja dari pagi hingga sore di dalam perut bumi. Bekal makan siang mereka haruslah yang praktis, padat, mengenyangkan dan tidak mudah basi. Mengandung karbohidrat, sayur dan daging, maka terciptalah Cornish Pasty.

Sejak itulah Cornish pasty lahir di tanah Cornwall yang kemudian menyebar ke suluruh negara bagian Inggris lainnya. Tidak hanya para penambang di jaman dulu, kini, karena, enak, padat, praktis dan bergizi, para pekerja kantoran biasa makan siang dengan si Cornish pasty ini.

Makan cornish pasty enaknya selagi panas. Seperti waktu kami di Land’s End tempo hari itu. Untuk menikmati cita rasa Cornish Pasty yang otentik kami membelinya di sebuah cafe yang menawarkan aneka varian isian. Kami membeli beberapa Cornish Pasty rasa Cheese and Onion seharga £ 3,90 per buah. Sengaja kami membelinya take away. Seterusnya kami duduk-duduk di tepian tanjung sambil menikmati chesse onion pasty yang masih hangat sehangat mentari siang itu. Hmm … lezat.

Imaniar, Artis legendaris yang ngak sok ngartis

Buat ABG/remaja dekade 80’an seperti saya, siapa sih yang ngak kenal duo Lidya Imaniar. Duo sister yang cantik dan kompak. Memang keluarga Noorsaid ini keren banget. Boleh dibilang The Jacksonnya Indonesia gitulah. Darah seni mengalir kuat di tubuh mereka.

Jujur ni ya.. sampe sekarang teman musik di dapur saya ngak jauh-jauh dari lagu Indonesia yang nge-hits dekade 80-90’an. Lidya Imaniar salah satunya. Ketika masih duo, kebanyakan lagu-lagu yang mereka suguhkan lebih selow. Sebut saja diantaranya: “Dan” juga “Ironi“. Kalaupun ada yang agak nge-beat, paling “Prahara Cinta

Berbeda dengan kakaknya yang terlihat kalem, si adik lebih atraktif dan energik, pemilihan lagunya pun ketika bersolo karier lebih ngebeat. Dan saya suka itu. Sebut saja diantaranya “Hasratku“. Apalagi “Kacau” itu lebih heboh lagi. Dan aksi panggungnya itu loh, mak 😉

Saking atraktifnya doi sempet diberi gelar Janet Jacksonnya Indonesia. Selain aksi panggungnya, mungkin karena ia salah satu anak perempuannya Noorsaid, seperti halnya Janet, hehehe… sotoy deh gwe 😛
Klo The Jacksons anak ceweknya Janet doang. Nah, klo The Noorsaids anak ceweknya duo tadi itu.
CMIIW. Corect me if i’m wrong, ya, kaka… (heuheu.. sok yakin Imaniar baca postingan ini).

Waktu berlalu dengan cepat, teknologi mendukungnya. Imaniar dan pengemar yang dulu terpisah jarak. Kini bisa bercengkerama akrab lewat salah satu jejaring sosial media.

Duh, penyanyi yang satu ini, bener-bener down to earth banget deh. Ramah dan salihah. Baginya, di laman FBnya itu friend ya friend. Ngak menempatkan diri “nih, gwe penyanyi gituloh…”

Itu terlihat dari keramahannya membalas komen-komen yang masuk. Bayangin dari sekian puluh yang komen (kadang lebih), doi sempet-sempetnya mention nama-nama yang komen, termasuk saya salah satunya, Padahal, siapalah gwe…

Imaniar artis
Dimention artis pavorit

 

Kalau doi lagi sibuk, biasanya doi setor jempol, nge-like-in komen yang bejibun itu. Selain ramah, doi juga sering menginggatkan pada kebaikan, postingannya suka menyejukkan, orangnya apa adanya.

Layaknya ibu-ibu seperti saya, doi ngerjain kerjaan domestik, kayak: masak, ngurus anak, terakhir, doi unggah saat belanja di pasar tradisional. Ngak make-up an, pakai sandal jepit pula. Udah gitu duduk-duduk sama ibu-ibu lainnya yang ada di pasar itu.

“Alhmdulillah.. mengasiķkan duduk bareng mbok2 sayur.. mrk polos, simpel n sll ceria 🙂 :)”
Begitu katanya, ketika ia mengomentari komen saya.

imaniar noor said
Imaniar, artis yang gak sok nyartis

Artis lainnya mah, kan, biasanya dengan bangga berpamer ria. “Ini loh tas yang saya pake, her*es.”  Itu tanda bintang jangan diisi pake huruf “p” ya… 😛
Lah, kalau Kak Imaniar yang bersahaja ini malah bangga berpamer ria dengan kresek hitamnya itu (Y) Top deh kaka….
Coba, sekilas orang lewat, mana ia tau itu Janet Jacksonnya Indonesia 😉

Pssttt… jika sekiranya Ka Imaniar keberatan fotonya mejeng dimari. Sori mori ya.. klo nantinya foto/postingan ini dihapus, hahaha..
Tadi udah minta ijin sih, send message, tapi blom dibalas. Doi sibuk kali ye.. soalnya lagi ngerjain proyek besar, album barunya mau launching bulan depan. Stt.. tadi saya liat secuplik materi lagunya dari IG via FB, dan itu adalah lagu pavorit saya. Lagu itu dulu dinyanyiin Januari Christy. Duh, ketauan deh angkatan tempoe doeloenya eike.. (hehehe… ngikutin doi yang suka bilang eike ) 😛

Ternyata, ijin saya di inbox FB dibalas keesokan harinya via timeline, dimention, dikomentarin, dibilang tulisannya keren, malah postingan ini di share, dan woow.. viewer blog saya mbrudul 😉

Imaniar noorsaid
Imaniar di pasar tradisional

Kaka Imaniar tanpa polesan wajah, teuteup… cantikk..
Bukankah cantik itu datangnya dari hati? dari ucapan dan tindakan?
Jadi kakak, meski tanpa make-eup, teuteup cantik 😉

Lain di pasar, lain di panggung. Doi mah bener-bener bisa menempatkan diri pada tempatnya. Nah, kalu yang ini fotonya doi sebagai artes.. 😉

Imaniar artis
Cantiknya Imaniar Noorsaid

Kalu misal, mudik kelak, pengenlah nyanyi bareng sama Ka Imaniar, heuheuheu… ngimpi! Oyyy.. bangun.. bangun…. 😛

Like father like son, Like Mother like daughter

Buat Anda yang sudah menjadi ayah-bunda, apakah anak Anda cerminan Anda di masa muda? Entah itu secara fisik, rupa, karakter ataupun kebiasan-kebiasannya?

Ada banyak hal yang tanpa kita sadari, apa yang dulu pernah kita lakukan, kini dilakukan oleh anak kita. Ini seperti siklus berulang. Dulu kita anak-anak, kini punya anak. Dulu saya remaja, kini, saya punya anak remaja.

Apa yang dulu saya lakukan ketika remaja, kini berulang kepada anak saya. Apakah Anda yang memiliki remaja putri sama seperti yang terjadi dalam siklus keluarga kami? Ibu saya – saya – anak gadis saya.

Dulu, saya melakukan hal-hal dibawah ini. Sekarang, anak gadis saya melakukan hal yang sama pula.  Apa sajakah  tingkah polah anak-mama dalam siklusnya berulang itu?

  • Memilih baju mama

Dulu, ketika saya beranjak remaja-dewasa, ada saat-saat dimana saya suka “ngobrak-ngabrik” lemari pakaian mama. Mode itu berulang. Maka, dari sekian baju mama ada beberapa yang cocok di badan saya. Dan cocok pula modelnya dipakai pada jaman itu. Jaman mama dan jaman saya.

Sekarang, anak saya pun demikian. Dia menganggap lemari-lemari saya adalah harta karun. Dimana dia sering berharap menemukan 1-2 atau 5-10 potong pakaian yang cocok ukuran dan modelnya. Acara obrak-obrik berkala ini biasa terjadi ketika pergantian musim (cuaca) dan ketika ia datang dari luar kota (kuliah).

Dan inilah penampakkan kami dalam balutan sweater yang sama. Ia menemukan sweater ini ketika liburan ke tanah air dan “mengobrak-abrik” lemari pakaian mamanya dulu 😉

 

Mama dan anak gadisnya
Like mother like daughter.
  • Ngerecokin alat make up mama

Seperti halnya pakaian, alat make up pun demikian. Meski jarang dandan berlebihan, alat make up mama saya lengkap. Pembersih wajah, tonic water, pelembab, alas bedak, bedak, lipstik, eye liner, shadow, blash on dan kuasnya pun lengkap. Maka, ketika saya memasuki masa remaja, barang-barang tersebut dijadikan alat percobaan di paras saya. Seterusnya, liptisk dan bedak mama itupun berpindah tangan kepada saya.

Waktu berlalu. Dulu, posisi saya sebagai anak. Kini, sebagai ibu. Dan kejadian itu berulang. Beberapa alat make-up saya berpindah tangan kepada si gadis. Ya, siklus itu berulang.

  • Memiliki hobi yang sama

Dulu, saya suka berpetualang. Selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Selalu mudah beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru. Sejak SD saya sering pergi berwisata tanpa orang tua. Saya pernah diajak ke Bogor, Garut, Tasik oleh anak kost yang kost di rumah orang tua saya. Saat SMP saya pernah ikut uwa berlibur ke Cirebon dan kuningan. SMA kelas satu, saya pernah ikut bus rombongan jemaah haji PEMDA Bandung, lalu diturunkan di Puncak, menuju rumah paman dan bibi saya 😀

Kini, anak saya memiliki hobi dan karakter yang sama seperti saya. Ketika meninggalkan sarang untuk menuntut ilmu nun jauh di sana. Tak ada keraguan, ketakutan ataupun kekangengan pada orang rumah. Bahkan selepas SMA ia berani travel ke Indonesia seorang diri.

  • Curhat pada mama

Ada suatu masa, ketika saya muda, saya curhat pada mama. Kini, siklus berjalan. Saya dicurhati oleh anak gadis saya.

Tak hanya mama dan anak gadisnya. Papa dengan bujang cilik pun memiliki siklus yang berulang. Beberapa diantaranya ialah:

  • Karakter

Coba perhatikan. Apakah karakter anak Anda sama seperti yang pernah anda lakukan di usia muda? Kalau di rumah saya begitu. Menurut mertua, suami saya ketika ABG biasa pegang perkakas. Diantaranya pernah bikin go kart kayu sendiri. Kini, anak saya melakukan hal yang sama seperti bapaknya dulu. Salah satunya ia memodifikasi beberapa koleksi skate boardnya. Maka perkakas-perkakas seperti gerjagi manual/listrik, amplas manual/listrik, obeng listrik, dsb itu sudah biasa ia gunakan.

  • Style

Style atau gaya/cara/kelakuan itu cakupannya luas. Gaya/cara bicara, gaya berinteraksi, gaya berjalan, gaya berpakaian, cara mengerjakan suatu pekerjaan, cara menyelesaikan masalah dan sebagainya.

Diantara banyak kesamaan antara bujang cilik saya dan bapaknya, satu diantaranya, ialah ulet dan gigih. Terutama saat mengerjakan PR ataupun saat menyelesaikan suatu projek. Dan inilah penampakan bapak – anak. Dua generasi berbeda, kondisi berbeda, jaman berbeda, tahun berbeda (1983 – 2013), tapi style sama.

Papa dan anak bujangnya
Like Father Like Son

Begitulah siklus berulang.

6 hal yang dilakukan perantau di luar negeri

Sebagai Warga Negara Indonesia yang merantau di Luar Negeri, ada beberapa hal yang tetap dilakukan oleh kami, para perantau. 6  Diantaranya ialah:

1. Makan Nasi

Beruntung saya hijrah ke Inggris tahun 2007. Dimana beras sangat mudah didapat di supermarket. Saya ingat, harga satu kilo beras long grain (beras yang jika ditanak menghasilkan nasi yang agak keras, butirannya panjang, warnanya agak kusam) 60p atau sekitar 12.000 rupiah. Sekarang, dengan jenis yang sama, harganya 40p atau sekitar 8.000 rupiah. Sedangkan untuk beras pulen setara kualitas beras pandan wangi atau jasmine rice harganya £1,1-1,2 per kilo (sekitar 22.000 – 24.000). Itu suatu pertanda, semakin kesini pasokan beras semakin banyak. Tentunya karena permintaan pasar yang juga semakin banyak.

Tidaklah mengherankan jika permintaan pasar akan beras di Inggris makin tinggi. Karena yang mengkonsumsi nasi tidak hanya orang Asia saja tapi orang Inggrispun kini menyukai nasi sebagai karbohidrat santapannya. Entah itu nasi putih ataupun rasi berempah seperti halnya makanan India yang makin familiar di lidah orang Inggris.

Efek dari itu semua, bagi kami WNI perantau, tak ada lagi kendala untuk bisa makan nasi setiap hari. Ternyata, hadirnya nasi setiap hari, tidak hanya di meja makan kami, pasangan Indonesia, tapi juga di meja makan pasangan campur, Indonesia-Inggris. Menurut teman saya yang bersuamikan bule, ia harus makan nasi setiap hari. Bahkan suaminya jadi terbawa makan nasi setiap hari.

2.Lauk yang Indonesia

Membicarakan nasi, tentunya berteman akrab dengan lauknya yang juga bercita rasa Indonesia. Oseng-oseng, sayur asem, ayam rica-rica, pepes ayam, sambal lalap, ikan asin, krupuk dan sebagainya bukan lagi perkara sulit. Semuanya itu bisa didapat di toko Asia.

Bagi saya yang tinggal di kota kecil saja bisa mendapatkan tempe, daun pisang, kangkung, nangka muda, kacang panjang, paria dan lain sebagainya. Apalagi bumbu rempah, jangan ditanya lagi lengkapnya kayak apa.

3. Berbicara bahasa daerah

Ini satu lagi identitas diri bangsa Indonesia. Jika kami bertemu dalam satu kumpulan besar, kami berbahasa Indonesia. Namun dalam kumpulan besar itu, terdiri dari suku yang berbeda. Dan jika kami bertemu dengan teman satu daerah, biasanya bahasa daerah kami keluar begitu saja. Dan itu yang jadi saling merekatkan persaudaraan. Contohnya saja, ketika kami berkumpul dalam satu komunitas besar, beberapa orang Surabaya berbicara dengan bahasa Jawa Surabayaan. Dan saya berbicara bahasa Sunda dengan orang Sunda lainnya.

4. Cara bicara

“Kenapa sih, kalian bicaranya kencang sekali?” tanya seorang teman bule kepada istrinya yang Indonesia ketika berbincang dengan saya. Kami tertawa.

Kami juga baru sadar, kenapa kami berbicara kencang sekali diantara orang-orang Inggris yang bicaranya pelan. Setelah diingatkan kami berbicara pelan, tapi kenapa semakin obrolan seru nada suara kami kencang kembali? hahaha..

Mungkin, karena nenek moyang kita dulu jarak rumahnya berjauhan satu sama lain, sehingga untuk bertegur sapa harus berteriak/bersuara kencang. Entahlah, yang jelas, jika kami ada kumpul-kumpul, riuh sangat! Dan akan terdengar sedikit quiet ketika acara makan tiba 😀

5. Gotong-royong

Dimanapun kita tinggal, kita tetap orang Indonesia yang memiliki rasa kegotongroyongan yang tinggi. Salah satu contohnya, jika komunitas kami mengadakan kumpul-kumpul, soal makanan hidangan bukan suatu hal yang memberatkan. Misalnya si A ketempatan acara, tapi soal makanan menjadi tanggung jawab bersama. Kami bergerak begitu saja mengatur semuanya, tanpa komando semuanya berdasarkan kesadaran masing-masing. Tiba hari H, semua hidangan tersaji di meja makan hasil olahan tangan si A, si B, si C dan seterusnya.

6. Arisan

Ya, arisan! sepertinya arisan hanya milik Indonesia, semoga tetangga sebelah ngak ikut ngaku 😀 Kenapa ya? Ada yang tahu sejarahnya?

Arisan itu Indonesia banget! Di komunitas saya juga ada arisan. Dulu saya ikutan, satu nomor saja. Eh, teman saya lainnya ada yang ikutan dua nomor bahkan lebih. Wah! Motivasi arisan macam-macam. Ada yang untuk bersosialisasi, ada yang tujuannya nabung, apapun itu, Arisan mencirikan kita orang Indonesia. Satahu saya, di Kota tempat komunitas saya berada ada dua komunitas arisan.

Lucunya, di salah satu komunitas arisan di Inggris ini ada WNA yang ikutan arisan. Meski awalnya agak binggung dengan aturan mainnya tapi akhirnya dia senang juga karena kebersamaannya, karena kumpul-kumpulnya, karena keseruannya, dan karena hidangan makanannya 😀

Inilah 6 hal yang  sangat Indonesia yang masih kami lakukan, meski tinggal di luar negeri. Kalau kamu?

arisan di luar negeri
horeee… akyu menang…. seneng deh pegang segepok £ 😉