Sebagai negeri yang sering mendung ketimbang bertabur paparan matahari (kecuali summer), Inggris sangat memanfaatkan musim panas untuk acara-acara outdoor. Apa saja temanya, pokonya outdoor. Festival inilah itulah, pameran inilah itulah, kegiatan inilah itulah. Nah, salah satunya acara bertajuk Vintage & Craft Fair Gloucester beberapa waktu yang lalu.
Dengan mengangkat tema pameran barang antik, klasik dan sejenisnya, bertempat di Blackfriars acara amal ini dilangsungkan. Selain pameran juga ada hiburan musik di halaman belakang bangunan yang berdiri pada abad ke 13 ini.
Cuaca hangat, hiburan musik mengasyikan, sambil makan-makan ataupun duduk bersantai, pengunjung menikmati suasana rileks. Acara ini bukan tanpa tujuan, tapi dengan maksud untuk penggalangan dana bagi anak-anak berkebutuhan khusus di bawah Yayasan James Hopskins Trust dan digawangi oleh sebuah butik sebagai EOnya.
Pengunjung dikenakan tarif masuk £1 atau sekitar 21.500 rupiah per orang. Uang yang terkumpul akan disalurkan kepada Yayasan tersebut di atas.
Sambil menikmati suasana, tak lupa liput sana liput sini. Walhasil, mejenglah video misuaku di sini:
😉
*ogahrugimodeon 😀
kali ini saya akan mengajak Anda mengunjungi sebuah desa dengan predikat desa terpanjang namanya se-Inggris Raya bahkan se-Eropa. Letak desa ini ada di Wales yang merupakan Negara Bagian Inggris.
Dari serangkaian road trip musim panas kemarin itu, saya sengaja memasukan destinasi desa ini. Ada yang bisa melafalkan nama desa berikut ini gak? Llanfairpwllgwyngyllgogerychwyrndrobwllllantysiliogogogoch. Ehmm.. belibet pake banget ya? Begitu pun saya. Cuman, kata orang lokal di sana, kalau tidak bisa melafalkan sepanjang itu, sebut saja desa ini Llanfair yang diambil dari kata terdepannya saja.
Keribetan nama desa ini diambil dari bahasa setempat yaitu Bahasa Wales yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia kurang lebih artinya Gereja Santa Maria di lembah pohon hazel putih, dekat pusaran berair deras dan gereja Santa Tysilio dari gua merah.
Kebayang ngak sih, jika penduduk setempat di pergi ke luar kota lalu ada orang yang bertanya: “Ibu tinggalnya dimana?”
Terus orang Wales tersebut menjawab: “Saya berasal dari Desa Gereja Santa Maria di lembah pohon hazel putih, dekat pusaran berair deras dan gereja Santa Tysilio dari gua merah.”
Ribet banget ya? 😀
Pemberian nama desa tersebut didasarkan pada ikon-ikon desa yang ada di sana. Sampai kini, kita bisa melihat ikon-ikon tersebut. Diantaranya Gereja Santa Maria dan sebuah muara sungai. Itu sebabnya dari sepanjang nama desa tersebut disebutkan berpusaran deras. Artinya merujuk pada sebuah muara yang pusaran airnya cukup deras.
Kenapa sih desa tersebut dinamakan demikian?
Awalnya, desa ini berjuluk Desa Llanfairpwllgwyngyll. Kemudian pada abad ke-19 desa nan sejuk, indah serta damai ini berganti nama seperti sekarang ini. Pergantian nama desa ini tentunya menjadi daya tarik wisata. Tidak hanya turis lokal yang berasal dari Inggris saja yang sengaja mengagendakan destinasi kunjungan mereka ketika ke Wales. Tapi juga banyak wisatawan manca negara yang sengaja bertandang ke sini.
Waktu itu road trip hari kedua kami ke Wales. Kami tiba terlalu sore, hingga kemudian saya dan keluarga harus bermalam tak jauh dari desa unik ini. Meski tiba terlalu sore, namun masih banyak turis berseliweran. Diantaranya turis Jerman.
Penasaran saya menanyakan hal ini kepada pasangan Jerman paruh baya tersebut. Menurut mereka, keunikan nama desa inilah yang menarik minat mereka sengaja bertandang ke sini. Selama beberapa hari melancong ke Inggris, ia masukan destinasi ini, katanya.
Masih menurut mereka, meskipun Bahasa Jerman terkenal lebih sulit dilafalkan, pelafalan desa ini lebih sulit lagi. Sampai mereka geleng-geleng kepala ketika mencoba membacanya. Ya begitulah Bahasa Wales. Hambur konsonan, pelit vokal. Coba perhatikan rangkaian huruf nama desa tersebut. Bahkan ada 12 konsonan berderetan. Gimana gak sulit melafalkannya, coba?Llanfairpwllgwyngyllgogerychwyrndrobwllllantysiliogogogoch
Kami tertawa-tawa kecil ketika mencoba untuk membaca deretan huruf yang terpampang di sebuah bangunan di dekat stasiun kereta desa tersebut. Karena nama desa ini terdiri dari 58 huruf, maka berhasil tercatat di Guiness Book of Record sebagai desa dengan nama terpanjang di Eropa.
Sesama pelancong biasanya suka ngobrol-ngobrol, setelah mereka tahu kami orang Indonesia, seterusnya mereka menceritakan pengalaman perjalanan wisata mereka ke Indonesia. Dengan serunya ia bercerita panjang lebar tentang Borobudur, kerajian perak Kota Gede dan masih banyak lagi destinasi wisata Indonesia yang meninggalkan kesan indah tentang Indonesia dalam kenangan mereka.
Setelah puas ngobrol-ngobrol dengan mereka, kami pun sama-sama meninggalkan Desa Gereja Santa Maria di lembah pohon hazel putih, dekat pusaran berair deras dan gereja Santa Tysilio dari gua merah
Pemerintah Inggris mengangkut sampah warga dengan jatah seminggu sekali. Dimana sampah yang diangkut oleh petugas sampah itu berupa sampah rumah tangga (non daur ulang) dan sampah daur ulang. Adapun jenis sampah daur ulang tersebut berupa berbahan kertas (koran, buku, kardus kemasan bekas makanan, junk mail/brosur dll), berbahan kaleng (bekas makanan/minuman kaleng), berbahan plastik (bekas botol minuman).
Pengambilan sampah itu dilakukan bergilir. Jika minggu ini jatahnya pengambilan sampah rumah tangga non daur ulang. Maka minggu depannya jatah pengambilan sampah daur ulang. Jadi sebetulnya masing-masing jenis sampah tersebut mendapat jatah pengambilan dua minggu sekali.
Kedua tempat sampah itu dicirikan dengan warna yang berbeda. Jika sampah rumah tangga non daur ulang berwarna hitam, maka tempat sampah daur ulang berwarna hijau. Saya rasa, dengan jatah mingguan seperti itu menjadi hemat waktu, hemat tenaga dan hemat biaya bagi pengeluaran pemerintah daerah setempat.
Lalu, bagaimana dengan nasib barang-barang lainnya yang sudah tidak kita inginkan/perlukan lagi?
TPS Mandiri
Di setiap daerah/wilayah di Inggris tersedia Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Kenapa dinamakan TPS Mandiri? Karena kita membuangnya sendiri. Di TPS (kami menyebutnya TIP) ini semua sampah/barang yang sudah tidak kita inginkan dibuang berdasarkan jenisnya dan berdasarkan material bahannya.
Mengapa demikian? tentu saja untuk memudahkan proses selanjutnya. Entah itu yang akan didaur ulang ataupun tidak.
Sampah daur ulang terbagi dalam beberapa jenis. Misalnya, berbahan/bermaterialkan kain, gelas/kaca, plastik, metal, kayu, kimia, elektronik dll. Kesemuanya itu dibuang ke dalam kontainer terpisah. Kenapa wadah sampahnya berupa kontainer? Tentu saja untuk memudahnya proses pengangkutan ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir/TPA ataupun ke tempat pendaurulangan sampah. Jadi, tidak ada sampah yang berserakan. Tidak pula berantakan. Semuanya tertata rapi, bersih dan tak berbau.
Minggu lalu, saya bongkar-bongkar lemari dan menyingkirkan beberapa pakaian yang sudah tidak terpakai, gorden-gorden tua, sepatu dll. Selain itu, stok sampah beling berupa gelas retak, botol bekas kecap dan saos sudah menumpuk pula. Olie bekas pun ada sejerigen penuh. Nah, sampah-sampah seperti inilah yang harus dibawa ke TIP. Seterusnya, barang tak terpakai berbahan kain masuk ke dalam kontainer khusus, botol/gelas beling serta olie pun dibuang berdasarkan wadahnya masing-masing.
Jika musim panas, biasanya orang ramai membuang sampah hijau (sampah pemotongan rumput, dahan, pohon). Selanjutnya sampah-sampah tersebut dijadikan pupuk.
Lalu bagaimana dengan sampah non daur ulang?
Sampah non daur ulang yang dibuang ke sini adalah sampah-sampah dalam ukuran besar. Karena sampah kecil kan bisa masuk tempat sampah hitam yang biasa diambil dua minggu sekali itu. Adapun yang dibuang di TIP ini diantaranya ialah kasur, ranjang, lemari, karpet dan lain sebagainya. Untuk memadatkan sampah-sampah tersebut. Sampah yang masuk ke dalam mesin masif itu ditekan/dipres/dipadatkan. Selanjutnya didorong ke dalam kontiner besar hingga padat dan mampu menampung banyak sampah. Selengkapnya bisa dilihat di sini.
Yang menarik perhatian saya adalah, ituloh, ngejogroknya kulkas dua pintu, mesin pengering baju, mesin pencuci pakaian, mesin cuci piring, dan penuhnya kontainer berisi setumpuk PC juga TV layar datar mana ukuran gede-gede lagi.
Kulkas dua pintu itu sepertinya masih bagus, ya?
Coba kalau Indonesia, masih bisa diakalin nih sama tukang servis TV, servis PC, servis kulkas dan servis barang elektronik lainnya. Di sini mah, rusak dikit buang! Bahkan ada yang dibuang dengan alasan udah gak suka, udah punya yang baru, udah ketinggalan jaman. Salah satu contohnya adalah TV-TV layar cembung yang ngejokrok di kontainer itu.
Sepertinya ada kesalahan narasi yang dibacakan oleh mbak voice over 😉
Semua yang “ter” biasanya menarik perhatian. Tercantik, terganteng, terpintar, termegah, terkaya, terimut, dan ter ter lainnya. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang rumah terkecil di Inggris. Inggris di sini maksudnya Great Britain alias Britania Raya atau kerennya kita menyebut UK aka United Kindom dimana Wales masuk di dalamnya.
Dalam rangka mengisi liburan musim panas, saya, suami dan si bungsu merancang road trip menyusur Wales, negara bagian UK. Dari sekian destinasi wisata yang menarik di Wales, rumah terkecil di UK ini salah satunya. Setelah berjam-jam melakukan perjalanan tibalah kami di desa kecil bernama Conwy. Desa yang terletak di pesisir pantai ini memiliki keindahan alam yang memesona.
Rumah terkecil seInggris ini letaknya tak jauh dari bibir pantai. Saking banyaknya wisatawan yang tertarik pada rumah mungil ini, kami harus mengantri panjang sekali. Meski lumayan pegal mengantri lama, tak surut niat kami demi rasa penasaran. Seperti apakah isi rumah yang berukuran 3,1 meter kali 1,8 meter dengan tinggi 3 meter tersebut.
Meski tingginya hanya 3 meter, rumah ini terbagi dua lantai. Lantai bawah terdiri dari ruang duduk dan tempat masak. Lantai atas ruang tidur. Uniknya, rumah yang dibangun pada abad 16 ini pernah dihuni oleh seorang nelayan yang memiliki tinggi badan 1,9 meter.
Ingin tahu seperti apa uniknya rumah tersebut, klik aja videonya.