Category Archives: inggris dan ceritanya

Dukungan PPI UK untuk Mahasiswa Baru

Liburan musim panas sebentar lagi usai, tahun ajaran baru pun dimulai.  Baik anak TK maupun mahasiswa, di tahun ajaran pertama tentulah perlu persiapan ekstra. Terutama persiapan mental, mengingat memasuki lingkungan baru, teman baru, aturan baru, penyesuaian baru dsb.

Hal yang serba baru terkadang menimbulkan keresahan. Terutama bagi mahasiswa baru. Khususnya mahasiswa Indonesia yang mengambil study di Inggris. Suasana kampusnya seperti apa? Kosannya dimana? Lingkungannya bagaimana? Ada teman senegara atau tidak? Mengenai makanan susah ngak ya? dan sejumlah pertanyaan lainnya. Untuk semua mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan di luar negeri, keresahan itu pastilah pernah melintas dalam diri.

Suport yang dilakukan orang tua mengantarkan anaknya di hari pertama Sekolah Dasar ataupun TK, mampu mengurangi sedikit keresahan si anak akan lingkungan barunya, begitupun yang dilakukan oleh PPI UK (Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom).

PPI UK memberikan suport kepada mahasiswa Indonesia yang akan study di Inggris. Diharapkan, suport yang diberikan oleh PPI UK ini bisa mengurangi sedikit keresahan mereka dan memberikan banyak informasi yang mereka butuhkan.

Bentuk dukungan dan perhatian kepada mahasiswa Indonesia yang diberikan oleh PPI UK tersebut berupa program bertajuk: Oi, Mate! Airport Collection. Dimana tim PPI UK yang bekerja sama dengan PPI Cabang melakukan penjemputan di bandara dan jika memungkinkan mengantar mereka hingga ke tempat kosnya.

Selain apa yang dilakukan oleh PPI UK ini bisa mengikis keresahan setibanya di tanah Inggris, juga membuka tangan selebar-lebarnya dari mahasiswa Indonesia yang telah dahulu study di sini. Bahwa: hei! ada kami di sini. Bahwa kamu tidak sendiri. Kita saudara sebangsa setanah air.

Program Oi, Mate! Airport Collection ini lahir dari gagasan ketua PPI UK,  Aldo Marchiano Kaligis. Dalam pelaksanaannya, program ini bekerja sama dengan tiga PPI Cabang. Yaitu PPI London, PPI Birmingham dan PPI Manchester.

Adapun penjemputan mahasiswa baru tersebut hanya berlaku bagi mereka yang mendarat di bandara yang ada di tiga kota di atas. Yaitu Heathrow Airport (London), Gatwick Airport (London), Birmingham Airport dan Manchester Airport.

Jika mahasiswa baru tersebut tinggal di kota London, Birmingham dan Manchester, kemungkinan besar tim penjemput mengantarkan mereka hingga ke tempat kos. Karena keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, untuk saat itu, tim penjemput hanya bisa mengantarkan mahasiswa baru di tiga kota yang disebutkan di atas.

Meski demikian, bagi mahasiswa baru yang mengambil study di luar tiga kota yang disebutkan di atas tadi, tim penjemput bisa mengantarkan mereka hingga ke stasiun kereta api. Membantu mereka mencarikan tiket, memberitahukan mereka turun dimana dan memberikan informasi-informasi lainnya.

Bagaimana teknis program Oi, Mate! Airport Collection ini?
Mahasiswa Baru yang hendak study di Inggris tersebut hanya tinggal mengisi formulir penjemputan berikut ini. Seterusnya akan dikontak oleh tim penjemput PPI Cabang.

Catatan:

  • Semua jasa yang dilakukan oleh tim penjemput, gratis. Mahasiswa Baru hanya mengeluarkan uang untuk transportasi hingga ke tempat kos masing-masing.
  • Menurut Koordinator Kemahasiswan PPI UK, Brigita Darminto, sampai saat ini, sudah banyak pendaftar. Jika melebihi kuota karena keterbatasan waktu dan tenaga, maka tidak semua pendaftar bisa dijemput. Penjemputan diprioritas dari urutan teratas pendaftar. So, buat kamu yang memerlukan jasa penjemputan dari PPI UK yang baik hati ini, buruan daftar!

PPI UK

 

Eksistensi Mesin Uap di Inggris

Pada suatu masa di abad ke-18 Inggris mengalami Revolusi Industri yang mengubah tatanan perekonomian Inggris menjadi semakin maju. Perubahan sistem di bidang pertanian, industri, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi lainnya mengalami perubahan besar-besaran.

Di masa itu produksi batu bara Inggris melimpah ruah. Maka tak heran jika pada masa kejayaan tersebut banyak terdapat tambang batu bara di Inggris. Diantaranya di Cornwall, seperti yang telah saya tulis di buku Jelajah Inggris. Dan terciptalah cornish pasty alias kue pastel ala Inggris yang dilatarbekangi kisah para penambang baru bara tersebut.

Melimpahnya batu bara dimanfaatkan untuk mesin uap. Apapun itu mesinnya. Entah untuk kereta api, mesin-mesin industri, mesin-mesin pertanian, traktor pembajak ladang, traktor pengangkut hasil pertanian, mesin uap pengepak jerami, mesin pengupas gandum, mesin pemotong kayu dan masih banyak lagi mesin-mesin bertenaga uap yang menggunakan bahan bakar batu bara pada saat itu.

Seiring waktu, diawal awal abad 20 persediaan batu bara di perut bumi Inggris makin menipis. Dalam waktu bersamaan, keberadaan batu bara tergantikan oleh bensin dan solar. Mulai saat itulah kepopuleran mesin uap mulai memudar, perlahan tergantikan oleh mesin-mesin berbahan bakar bensin, solar, bahkan kini merambah dengan mesin bertenaga listrik juga mesin bertenaga surga.

Meski jaman semakin canggih dan batu bara beserta mesin uapnya adalah cerita lama, namun masih banyak orang Inggris pecinta mesin uap. Bahkan mereka membentuk klub-klub pecinta dan perakit mesin uap. Kebanyakan, anggota klub tersebut adalah opa-opa yang mungkin pada masa itu mengalami ataupun saksi sejarah jaman kejayaannya mesin uap. Meski demikian, ada juga kaum muda pecinta mesin uap di klub tersebut. Intinya ialah mereka itu adalah pecinta seni otomotif klasik. Kalau tak cinta, mana mungkin mereka menghabiskan waktunya untuk hobi tersebut.

Mereka penyuka mesin uap tersebut merakit mesin uap dalam ukuran kecil. Mulai dari skala 1 banding 3, hingga 1 banding 10. Bahkan lebih. Kesemua mesin replika tersebut disesuaikan dengan bentuk aslinya. Baik ukuran, sistem mesinnya juga interiornya.

Pada sebuah kesempatan di akhir pekan dua minggu lalu, saya diajak oleh seorang teman ke Thornbury untuk melihat pameran bertajuk: Bristol Model Engineering & Hobbies Exhibition 2015 yang kebetulan salah satu peserta pameran tersebut adalah seorang Indonesia. Tapi beliau bukan pecinta/pembuat replika mesin uap, melainkan penghobi pesawat remot kontrol.

Dari sekian banyak atraksi pamer yang berhubungan erat mesin, engineering, moda transportasi ukuran kecil, mesin-mesin, dan tektek bengek lainnya, saya lebih tertarik dengan replika mesin uap yang ruang pamernya berada out door, sedangkan stand lainnya berada di dalam sebuah aula yang sangat besar.

Saya bukan penghobi dan penikmat mesin/otomotif apalagi seperti mesin uap yang sangat lawas, namun saya cukup terhibur oleh kendaraan bermesin uap yang ada di pameran tersebut.

Satu hal yang bisa saya pelajari, betapa sebuah kesukaan atau hobi bisa membuat orang sebegitu sangat kreatif dan total melakukannya, membuatnya dengan sepenuh hati. Demi sebuah kepuasan batin, bukan materi.

Seperti apa yang dilakukan oleh opa-opa yang ada di pameran tersebut. Salah satunya adalah seorang opa yang membuat mesin uapa pengepak jerami, pemotong kayu dll. Dengan detail ia merakit mesin uapnya yang sangat super kecil tersebut.

Untuk melihat seperti apa replika mesin uap tersebut bisa dilihat di sini.

N-20, 28082015

 

Ke Rumah Shakespeare, Berdua Aja

Menurut prakiraan cuaca, Inggris bakal mendung dalam seminggu ke depan. Kecuali hari Sabtu, cerah dari pagi hingga sore, selebihnya hujan.

Ya gitu deh, buat kami yang tinggal di Inggris, prakiraan cuaca pegang peranan dalam menentukan sebuah rencana. Hari ini bakal ujan apa cerah, bakal gede angin apa enggak, cocoknya pake baju apa, enaknya dengan cuaca begini ngapain, pergi kemana dll.

Melihat kondisi cuaca yang bakal mendung seminggu ini, langsung deh, ngak pengen buang waktu untuk menikmati matahari.

“Jalan, yuk!” kata sang mantan 😀 “Tapi kemana ya….”
“Kemanapun itu, aku akan senang pergi bersamamuh.”
Eaaaaa…. 😛

Akhirnya, disimpulkan, destinasinya dekat, bisa menikmati matahari sambil duduk-duduk di taman (lagaknya.. kayak bule aja deh) 😀 Dan tentunya bernilai lebih, hahaha… teuteupppp…
Moto kami: Boleh Maen Ogah Rugi 😛

Jadi, maen kemana kita?..
Ke Rumah Shakespeare!
*Dora the explorer mode on

Ini bukan kali pertama kami ke sini. Meski demikian, kami belum bosan maen ke daerah kelahirannya Shakespeare ini. Setiap sudutnya ada kenangan tersendiri. Saya masih ingat waktu bawa anak-anak kemari. Saat itu mereka masih bocah-bocah menggemaskan. Piknik, lari berkejaran, ngasih makan bebek dll.

Sekarang, apa kabarnya anak-anak?
Si sulung lagi liburan ke Indonesia. Saya paksa si bungsu untuk ikut, tapi dia lebih memilih bermain skateboard bersama teman-temannya. Diiming-imingi apapun gak mempan.

Gitu deh, ada masa dimana anak-anak tak mau lepas dari kita. Dan akan tiba masa anak-anak gak mau lagi ikut emaknya, meski dipaksa.
So, buat emak-emak yang masih kerepotan bawa pasukan krucil, nikmatilah masa-masa itu. Karena akan ada masa, dimana kita sebagai emak merindukan hal itu, sedangkan anak-anak lebih asik dengan teman-temannya, dengan dunianya.

“Jadi, kita pergi berdua aja nih,” tanya sang mantan.
Ya udah, just the two of us (jadul amat nih lagu) 😀

Empat puluh menit perjalanan di cuaca Inggris yang hangat cenderung panas, tibalah kami di daerah tempat kelahirannya Shakespeare. Siapa yang tak kenal Shakespeare? Kalau masih ada yang belum tahu siapa Shakekpeare itu? sungguh ter.. la.. lu..  baca aja buku Jelajah Inggris halaman 115.
Eaaa… promosi terselebung nih 😀

Setelah mobil terparkir mulailah kami berjalan menyusuri area wisata tempat kelahirannya Shakespeare. Sambil menikmati suasana, rekam sana-sini tentunya. Sesudah dirasa cukup, kami duduk-duduk di taman, makan es krim dan bersantai berduaan aja, serasa jaman pacaran 😀

Dan hasil jalan-jalan tersebut diramu kemudian tayanglah di NET12 hari ini.

Selasa, 25 Agustus 2015. N-19.

 

 

Resensi Buku Jelajah Inggris

Inggris selalu menjadi salah satu pilihan para pelancong untuk dikunjungi. Tidak hanya karena mercusuar gaya hidup internasional, tetapi juga karena kaya akan budaya. Tidak heran banyak penulis lahir dari negeri Ratu Elizabeth ini. Seperti Arthur Conan Doyle yang terkenal dengan tokoh detektifnya, Sherlock Holmes.

Tokoh detektif Sherlock Holmes lebih terkenal ketimbang penulis novelnya. Ada 56 cerpen dan 4 novel yang fenomenal, kesemuanya telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa dan tersebar ke seluruh dunia. Selain itu Sherlock Holmes telah dijadikan dalam film, mulai klasik hingga yang modern dan juga dijadikan serial. Karena, fenomenalnya Sherlock Holmes pula, maka dibuatlah museum Sherlock Holmes.

Museum Sherlock Holmes adalah kantor atau rumah Sherlock dan temanya Dr. Watson yang dipakai dalam film klasiknya. Letaknya hanya berjarak satu blok dengan Museum Madame Tussaud, tepatnya di Baker Street No. 211b. Di depan pintu museum ada pegawai museum yang memakai seragam polisi. Sebelum masuk ke museum, harus membeli tiket dulu di toko suvenir sebelah museum.

Buku Jelajah Inggris
Resensi Jelajah Inggris dimuat di Koran Radar Sampit,16 Agustus 2015

Selengkapnya silakan baca di sini.