Category Archives: travel

Layang-Layang 3D Menari di Langit London

london light festival 2016

Selama 4 hari berturut-turut mulai tanggal 14 hingga 17 januari 2016 kota london dimeriahkan light festival yang bertajuk Lumiere London.

Festival yang merupakan karya seni instalasi ini terdiri dari berbagai macam tema dan bentuk. Adapun lokasi Lumiere ini tersebar di banyak titik ikon kota london. Salah satunya di Piccadilly Street yang terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan ternama di London.

Mau tahu tentang wisata London lainnya? Silakan merapat ke sini 😉

Atau, mau tau cara keliling London dengan modal £11? temukan jawabannya di sini 🙂

Untuk pertunjukan light festival di area Piccadilly mengambil tema Les Lumineoles. Yaitu berupa pertunjukkan layang-layang tiga dimensi. Dimana bentuk layang-layangnya menyerupai ikan. Si layang-layang ikan 3 dimensi ini menari dengan luwes dan tenang di lautan langit london nan gelap.

Tata lampu serta tata musik mengiringi liukan si layang-layang ikan menjadi terasa lebih dramatis dan cantik. Tentu saja pertunjukkan ini berhasil menyedot perhatian penonton yang berbondong-bondong memenuhi Jalan Piccadilly.

Di sepanjang area ini terdapat beberapa layangan ikan 3 dimensi yang masing-masing dikendalikan oleh satu orang dengan seutas tali pengontrol. Kerennya, diantara pengotrol layang-layang masif itu dikendalikan oleh seorang wanita.

Mbak bule yang cantik ini tampak anteng menikmati pekerjaannya mengontrol layang-layang jumbo agar tetap stabil menari di udara. Sepertinya terlihat ringan, tapi belum tentu jika kita yang mengendalikannya. Sepertinya Mbak Bule ini sudah terlatih mengendalikan layangan 3D berukuran besar.

Penonton tak hanya tertarik dengan liukkan si layangan ikan jumbo tapi juga tertarik memerhatikan mbak pengontrol layangan. Agar ia bisa bekerja dengan tenang, disediakan penjaga di dekatnya. Sempat terlihat mbaknya kewalahan, kami yang berkerumun dekat dengan mbak pemain layangan itupun diusir mundur secara harus oleh penjaganya. Baiklah, dan kamipun mundur menjauh.

Layangan 3D nan jumbo ini terus berganti-ganti warna mengikuti alunan musik, sehingga tidak membosankan untuk dilihat, biarpun pertunjukkannya berlangsung lama.

Pertunjukan dimulai mulai pukul 6.30 malam hingga pukul 10.30 malam. Meski cuaca dingin, namun tidak menyurutkan para penonton untuk menikmati pertunjukan ini. Terlebih di akhir pekan, penonton lebih membludak.

Saking  membludaknya penonton, stasiun bawah tanah yang berada di kawasan sekitar ditutup hingga waktu entah kapan. Karena ketika kami meninggalkan pertunjukkan ini stasiun bawah tanah tersebut masih ditutup. Hingga kami harus berjalan jauh sekali menuju stasiun bawah tanah “Green Park”. Pegal juga.

Gelaran akbar yang digagas Pemkot London ini tak hanya diserbu warga lokal londoners saja. Tapi juga mereka yang berasal dari luar kota seperti saya. Bahkan juga menyedot turis mancanegara.

Berbekal brosur dari panitia Event Organiser para pengunjung menyusuri satu titik pertunjukan ke titik pertunjukkan light festival cahaya yang tersebar di banyak tempat di Kota London. Tak pelak, pusat Kota London penuh sesak di beberapa tempat.

Oiya, asiknya lagi, semua pertunjukan light festival ini tidak dipungut biaya alias gratis.

Mau tahu keseruan salah satu pertunjukkan light festival tersebut, ini dia..

N10 dan N12. N45Rosmel18012016

Pesona Caban Coch, si Air Terjun Buatan

Akhir pekan kemarin saya jalan ke Wales. Meski sudah tak terhitung entah berapa kali kami berwisata ke Wales selalu saja tak pernah membuat saya bosan pada Negara Bagian Inggris yang kaya akan pesona alamnya yang indah ini.

Untuk kesempatan kali ini kami berwisata ke Elan Valley atau Lembah Elan yang cantik pemandanganya. Lembah ini bagai ceruk raksasa. Ceruk alami yang dilingkup oleh tebing bebatuan. Dari Worcester, tempat tinggal kami, memakan waktu tempuh selama 2 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi, dengan jarak tempuh 70 mil.

Bagi Anda yang akan melancong ke sini, kendaraan yang dibawa sendiri adalah kendaraan yang paling efektif dan efesien. Karena lokasi Elan Valley tidak terjamah jalur kendaraan umum. Bagi Anda pelancong dari Indonesia, tak usah khawatir, banyak tersedia penyewaan mobil di bandara-bandara saat anda mendarat di kota manapun. Harganya sewanya pun relatif murah. Tentang penyewaan mobil selama melancong di Inggris bisa Anda baca di Buku Traveling Jelajah Inggris berikut ini.

Elan Valley dilalui oleh dua sungai besar yaitu Sungai Elan dan Sungai Claerwen. Sumber daya alam ini dimanfaatkan pemerintah Inggris untuk berbagai keperluan. Diantaranya sebagai sumber suplai air bersih, pembangkit tenaga listrik juga sebagai tempat wisata.

Elan Valley memiliki 4 reservoir alias dam aka waduk bin bendungan. Karena area Elan Valley luas sekali, maka pada kesempatan ini kami hanya sampai di Caban Coch Reservoir saja. Yang merupakan bendungan terendah/terwabah di antara bendungan lainnya yang ada di lembah memesona ini.

Caban Coch Reservoir dibangun pada tahun 1893. Wah,  sudah lebih dari satu abad, ya? Tepatnya berusia 123 tahun. Wow… Meski usia dam ini begitu uzur namun kekokohan  bangunannya tidak diragukan. Bayangkan, selama satu seperempat abad ia mampu menahan arus air yang sangat deras, dengan daya tampung air sebanyak 8 milyar galon.

Arus air yang yang tumpah dari waduk terhempas mengenai dinding waduk setinggi 37 meter. Aarus air yang deras dan jatuh dari ketinggian menciptakan sensasi keindahan air terjun yang sangat cantik. Ditambah, panjang air terjun Caban Coch sepanjang 186 meter. Wah makin terlihat cantik saja air terjun yang suaranya bergemuruh dahsyat ini.

Makanya tak heran jika Caban Coch patut dijadikan destinasi wisata andalan Wales. Wisatawan yang datang ke sini tidak hanya wisatawan dalam negeri, tapi juga wisatawan manca negara. Banyak wisatawan yang mengabadikan diri dengan berfoto berlatar belakang air terjun Caban Coch yan cantik.

Volume air yang melimpah, arus yang deras  dan angin yang kencang menciptakan hempasan butiran air nan halus hingga kejauhan. Hal itu terasa manakala kita berdiri di atas jembatan sungai berjarak sekitar 25 meter dari air terjun yang memesona ini. Brrr…. duinginnn….

Oiya, untuk berwisata di sini tidak dikenai biaya alias gratis, tis…

Pengen tahu tempat wisata cantik lainnya di Wales? silakan intip Gwynedd, Desa Terpencil yang Cantik di Inggris

N10. N44Rosmel.14012016

Zebra Cross Paling Fenomenal se-Dunia

Gilak! Apa sih hebatnya penyebrangan ini? Nyaris setengah abad, masih aja orang-orang dari seluruh dunia wara-wiri di zebra cross yang terletak di London ini?

Abbey Road Studio London

Sejak awal The Beatles yakin karirnya tak mungkin berkembang pesat jika tinggal di kota kelahirannya, Liverpool. Maka dari itu, mereka sepakat untuk hijrah berkarir di London.

Benar saja, di London The Beatles menapaki karir cemerlang dan meroket cepat. Salah satu saksi kesuksesan The Beatles tak lepas dari peran Abbey Road Studio. Ya, di studio inilah belasan album The Beatles lahir hingga booming.

Keterkenalan The Beatles meluas ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Dari sekian belas album The Beatles, satu diantaranya bertajuk Abbey Road yang berisi 10 lagu. Termasuk yang berjudul “come together” dan “here comes the sun”. Tau dong lagu itu.. iya kan?

Yang menarik dari album ini adalah cover albumnya mengambil tempat di penyeberangan jalan perempatan Abbey Road, tak jauh dari Studio Abbey Road berdiri. Album ini rilis pada 26 september 1969 sekaligus merupakan album terakhir yang direkam di Abbey Road Studio hingga akhirnya The Beatles bubar pada tahun 1970.

Meski 45 tahun telah berlalu, eh, 46 ya? wah, nyaris setengah abad, namun magnet The Beatles masih kuat.  Terbukti lagu-lagunya masih banyak dinyanyikan orang. Bahkan Studio Abbey Roadnya itu sendiri plus zebra cross yang ada di sebelahnya itu masih jadi magnet pengikat wisatawan yang bertandang ke London. Mereka datang dari berbagai negara dan berbagai usia. Mulai dari oma opa hingga anak muda. Padahal ketika The Beatles lagi hit-hitnya mereka belum brojol. Mungkin pula, jamannya The Beatles berjaya, mama-papa mereka masih SD. Atau mungkin, Hitnya The Beatles di medio 60-70’am itu jamannya opa oma mereka remaja 😀

Dan, hingga kini penyeberangan jalan abbey road yang pernah ditapaki the beatles ini masih ramai dijadikan spot berfoto para turis. Tidak summer, tidak winter, tidak panas, tidak dingin, mereka rela mendapat giliran berfoto di tengah jalan yang sebetulnya cukup padat. Namun demikian, para pengendara di jalur ini mengerti akan keinginan para turis tersebut. Mereka rela menunggu hinga acara berfoto ria selesai lalu melaju.

Penyebarangan ini tidak ada lampu stopannya namun ada lampu kuning kedip-kedip. Artinya, kapanpun, pejalan kaki diperbolehkan menyeberang di zebra cross ini. Kami menyebutnya pelikan cross, walaupun makna bergeser beda. Hal itulah makanya pengguna kendaraan bermotor yang lalu lalang di sini lebih mengutamakan penyeberang jalan.

Hmm.. seolah penyebrang jalan adalah raja, ya? Oleh karena itu, buat kamu yang nanti mau melancong ke sini, jangan ragu untuk bergaya. Tenang-tenang saja berfoto di sini sampai mendapatkan angle yang cantik dan pas seperti layaknya foto The Beatles untuk covernya yang berjudul Abbey Road itu.

Saat saya ke sana, minggu terakhir tahun 2015 lalu, banyak sekali turis manca negara. salah satunya adalah keluarga Mario dari Jerman yang berhasil saya wawancara. Sayangnya, Bahasa Inggris Pak Mario tidak lancar. Untung saja anaknya yang masih belia bernama Paula itu fasih berbahasa Inggris. Akhirnya microfon mini itupun beralih tangan pada Paula. Mau tau obrol-obrol saya dengan Paula? Intip aja di sini…

Ini adalah salah satu rangkaian video yang tayang di sini. Sepertinya, video inipun tayang terpisah di TV. Tapi belum ada versi youtubenya 😉

Ada Goa Raksasa di Kota Bristol

Banyak sebutan untuk goa yang terletak di Kota Bristol ini. Meski bernama resmi St Vincent’s Cave, Namun ada juga yang menyebutnya Ghyston’s Cave. Namun lebih terkenal dengan sebutan Giant’ Cave alias goa raksasa. Dinamakan demikian karena konon, menurut legenda setempat, goa ini pernah dihuni oleh dua raksasa yang bernama Goram dan Ghyston.

goa raksasa di Inggris

Menurut catatan sejarah, goa ini telah ada sejak tahun 305 Masehi yang berfungsi sebagai chapel dan tempat tinggal para petapa. Hal ini ditandai dengan ditemukannya tembikar bergaya Romawi-Inggris. Selain pernah menjadi tempat tinggal duo raksasa, pernah menjadi chapel dan tempat tinggal  para petapa, goa inipun pernah dijadikan tempat tinggal para pengungsi.

Giant’s Cave terletak di dalam perut batuan berjenis limestone. Untuk memasuki goa raksasa ini kita harus melewati Bristol Observatorium sebagai pintu masuknya. Dimana Bristol Observatorium ini berdiri sejak tahun 1766. Nah, pintu masuk goa ini berada di ruang bawah tanah Bristol Observatorium.

Ukuran lorong goa raksasa sempit sekali, hanya cukup seukuran badan. Maka dari itu, para pengunjung yang masuk dan keluar goa harus antri bergantian dengan tertib. Lorong goa yang sempit dan menukik ini panjangnya 61 meter.  Untunglah ujung goa memiliki area yang sedikit lebih luas.

Untuk kenyamanan pengunjung, goa raksasa dilengkapai lampu penerangan,  tangga yang nyaman serta pegangan tangan dari besi yang kuat. Jalan yang sangat curam pun jadi tidak begitu mencemaskan. Tetesan air dari langit-langit goa menambah kental suasana goa yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan manca negara.

Giant’s Cave dibuka untuk umum sejak tahun 1837. Untuk memasuki goa ini pengunjung dikenakan tiket masuk £2.5 atau sekitar 52.500 rupiah.

Giant’s Cave berada di kedalaman 76 meter Avon Gorge alias Ngarai Avon yang terletak di sebelah Barat Kota Bristol Inggris. Ujung goa berakhir di sebuah balkon bercat kuning. Letaknya tepat di bibir jurang Avon yang sangat curam dan mengerikan. Iyyhh… Tingginya saja 72 meter.

Namun jangan khawatir, balkon bermaterialkan besi ini aman untuk diinjak beramai-ramai. Begitu Anda berdiri di sini, tersaji indahnya pemandangan alam sekitar. Langit lepas, ngarai, tebing, jurang, Sungai Avon, jembatan dan ramainya lalu lintas jalan.

Satu pertanyaan saya, bagaimana bisa Goram dan Ghyston, si duo raksasa  itu bisa tinggal di goa ini? Padahal kan, untuk ukuran raksasa seperti mereka tentulah goa yang kami tapaki ini sangat sempit. Ehm… mungkin, mungkin bagian goa yang pernah mereka tempatin bukan di lorong/jalur goa yang sekarang menjadi objek wisata ini. Maksudnya, Ngarai Avon ini sangat sangat luas sekali. Ya.. kira-kira seluas kelurahanlah 😀 Jadi, mungkin duo raksasa itu tinggal di RT sebelah :v :v Entahlah. Ya… namanya juga legenda 😀

Terlepas dari legenda raksasa itu, yang jelas, goa ini patut Anda kunjungi jika nanti melancong ke Kota Bristol, Inggris. Lelah melewati lorong goa yang menukik tajam akan terbayar oleh pemandangan alam dari atas balkon Ngarai Avon yang indah.

Mau tau seperti apa penampakkan gua raksasa tersebut? Ini dia liputannya…

N5. N40Rosmel, 06012016